Terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia mereview pada chapter sebelumnya ^^
Aoi Namikaze: Ohohoho. Namanya juga udah dipatenkan :"| *plak* Chapter ini kayaknya lebih panjang dari sebelumnya deh ' 'a
Chiisana yume: Sankyuu~ Semoga yg ini juga masih bisa dibilang seru ya~ ;)
nanao yumi: Jawaban pertanyaanmu semuanya ada di sini ;)
Ryuu: Nasib Kon? Dia tetep diserahin ke Yuzu karena ga mau ngomong lebih cepet lagi :)) Sekarang lagi didandanin jadi Marie Anntoinette~ Reiatsu kan bisa disembunyiin, jadi ga akan kelacak dgn mudah kok :)
kuro-usagi: Siiip. Sekarang sudah update ya :)
D: Ngga ngga~ =)) Karena emang Shiro yang lebih pinter daripada Grimmy, makanya Shiro lebih tau. Grimmy care kok, cuma kadang bingung cara nunjukinnya :)
Terima kasih juga untuk yang sudah login dulu sebelum mereview: Arya Angevin / Zanpaku nee / ukaacchi / iztha dark neko / Shirouta Tsuki / Ivera Jeagerjaques / Kazugami Saichi Hakuraichi / astia aoi / archelaine / Chibi Dan / nanao yumi / F . Freyja / Aoi LawLight / seakey07 / CCloveRuki
Sweet Baby Berry
Chapter 10
Ia selalu berpikir kalau kehadiran hollow itu tidak pernah merupakan sebuah pertanda baik.
Apalagi dengan sosok Hollow dominan berwarna putih yang kini tengah berdiri di hadapannya, mengatakan kalau kehadiran ia dan teman-temannya tidaklah diharapkan. Selama masa hidupnya sebagai seorang Shinigami, Kuchiki Rukia baru kali ini merasakan keinginannya untuk melenyapkan sesuatu begitu besar.
Bagaimana Hollow itu mengatakan kalau Ichigo tidak ingin bertemu dengan teman-temannya? Belum pernah sebelumnya Ichigo mengesampingkan orang-orang yang ia pedulikan begitu saja. Sebelum ini tidak ada tanda-tanda Ichigo akan bersikap begitu, lalu apakah sang hollow berharap dirinya akan percaya dengan kata-katanya?
Tidak mungkin.
Apa yang Kon ceritakan itu pastilah salah sangka belaka. Tidak mungkin benar-benar terjadi. Ichigo tidak mungkin ikut sang Arrancar ke Hueco Mundo dengan senang hati.
Tidak mungkin.
Ichigo dan Arrancar bersurai biru itu adalah musuh besar. Mereka sering kali terlihat ingin saling membunuh satu sama lain. Lagi pula, Arrancar itu telah melukainya, hampir membunuhnya. Ichigo tidak mungkin memaafkannya begitu saja bukan?
Tidak mungkin...
Kon hanya sesumbar omong kosong agar ia selamat dari tangan Yuzu.
Ichigo tidak mungkin memiliki hubungan khusus dengan sang Arrancar seperti yang Gikongan itu katakan.
... Tidak mungkin... 'kan?
Sebab...
Ichigo pastinya sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh para Shinigami Soul Society kalau mereka sampai tahu mengenai ini.
Tersentak sadar dari lamunannya sendiri, Rukia membelalakkan kedua iris violetnya ke arah sang Hollow. Benar. Bagaimana bisa ia mengesampingkan hal itu? Mengesampingkan kalau... "Kau... Bagaimana bisa kau berada di luar inner worldnya Ichigo?" Ia menggeramkan suaranya ketika pikiran jelek terlintas di benaknya, "Apa yang kau lakukan padanya?" Tidak pernah sebelumnya ia melihat dengan jelas bentuk hollow yang selama ini berdiam diri di dalam tubuh Ichigo selama ini. Ia hanya tahu bahwa hollow ini merupakan hollow yang biasa berdiam di dalam tubuh Ichigo karena memiliki reiatsu yang serupa. Lagipula, wujudnya mirip dengan Ichigo, hanya saja tidak memiliki warna.
Hitam dan putih bukanlah warna. *
Decakan terdengar, dan dengan segera Rukia kembali kepada kuda-kudanya yang sebelumnya. Tanpa perlu melihat, ia pun bisa tahu kalau Renji dan Ishida berada dalam kondisi yang sama dengannya. Sedangkan Sado sudah siap untuk melindungi Orihime yang siap kapan pun dengan pelindungnya.
"Bagaimana kalau kau tanyakan saja hal itu kepada Grimmjow? Apa yang sudah ia lakukan sehingga membuat Queen sampai ada di Hueco Mundo ini." jawab Shiro dengan enteng dan seringai lebar khasnya tetap berada di wajah. Ia terkekeh-kekeh saat merasakan reiatsu yang begitu ia kenal melangkah mendekat. Yeah, about damn time he finally come home.
Rukia merasakan dahinya mengernyit ketika mendengar kata-kata sang Hollow yang terdengar aneh di telinganya. Queen? Siapa yang Hollow itu maksudkan dengan Queen? Terlalu memikirkan hal yang (kelihatannya) tidak penting, selain Rukia, yang lainnya kini menoleh ke arah sesosok figur yang nampak dari balik garganta yang terbuka.
Renji sempat sweatdrop saat melihat seonggok pohon sakura yang mulai rontok, digotong-gotong oleh sosok yang kelihatannya tidak asing.
"Apanya yang ditanyakan padaku?"
Mendengar suara yang rasanya tidak akan pernah ia lupakan, karena itu merupakan suara orang yang hampir saja membuatnya mati terbunuh, sontak Rukia menolehkan kepalanya.
Grimmjow Jaegerjaquez berdiri tidak begitu jauh dari posisinya yang berada di samping Renji, satu tangan berada di saku hakama, sementara satu tangan lainnya memboyong pohon sakura yang tersemat di antara pundak.
... Apa-apaan...?
Arrancar bukan makhluk herbivora kan?
Semenjak melangkahkan kaki di dalam garganta, Grimmjow tidak bisa menyingkirkan perasaan was-was yang mendadak menyerangnya. Ia tidak mengerti apa alasannya, tetapi instingnya mengatakan kalau ia harus cepat-cepat kembali ke Las Noches. Dan ia yang memang sudah terbiasa hidup berdasarkan insting, dengan segera menurutinya dan dengan menggunakan sonido hingga akhirnya kedua kakinya menginjak kembali pasir Hueco Mundo—tepat pada saat Shiro mengatakan sesuatu untuk bertanya kepada dirinya.
Well, dia yang baru datang tentu saja tidak mengerti, makanya ia bertanya.
Dan Grimmjow merasakan kedua alisnya terangkat tinggi sebelum kemudian mengerut saat melihat sekelompok Shinigami dan manusia yang berdiri di dekat gerbang Las Noches.
Apakah mereka yang membuatnya merasa was-was?
Menggelengkan kepala menyanggah pernyataannya sendiri karena ia tidak pernah merasa khawatir dengan kehadiran Shinigami apalagi manusia, Grimmjow menghela nafas, "Apa yang kalian—" Perkataannya terputus saat melihat cahaya dari cero yang diarahkan padanya. Ia baru bisa menghindari cero tersebut di detik-detik terakhir yang membuatnya terpaksa melepaskan batang pohon sakura di tangannya. "AGH! APA-APAAN KAU, SHIRO? ! AKU SUDAH SUSAH PAYAH MENDAPATKANNYA TAHU!" sahutnya geram sembari menatap kesal ke arah sang Hollow yang nampak begitu marah.
Oke. Kelihatannya ia ketinggalan berita di sini.
Karena setahu dirinya, ia tidak pernah melakukan kesalahan, kecuali kalau mereka menyalahkannya kembali.
Secara tidak disengaja, Grimmjow mendengking kaget karena Shiro berlanjut menyerangnya dengan menggunakan zanpakutou, hampir membelahnya menjadi dua. Dasar Hollow sialan. Shiro memang selalu lebih cepat daripada dirinya. Tanpa mengerti apa alasan Shiro mendadak menyerangnya terus-menerus, Grimmjow hanya bisa menghindar dan menepis. Inginnya melawan, tapi ia yakin Ichigo pasti akan mengomel kalau sesuatu terjadi kepada Shiro. Dan melihat Harribel yang hanya menonton, membiarkan Shiro menyerangnya tanpa alasan pasti, membuat Grimmjow semakin kesal.
"Brengsek!" Grimmjow menepis Zangetsu yang mengarah padanya, dan ketika melihat celah, dengan cepat ia mencengkeram leher sang Hollow cukup kuat. Tidak sampai membuat tercekik, tetapi lebih dari cukup untuk menghentikan gerakan Shiro—selama beberapa detik. "Kau... Sogokan macam apa yang kau terima dari para Shinigami sehingga mau melawanku, hah? !"
Shiro mendecak. Kelihatannya cukup kesal karena dianggap dirinya bisa disogok begitu saja. "Aku tahu kalau kau tidak pernah menggunakan otakmu, Grimmjow. Tapi tidak kusangka kalau alasanmu tidak menggunakannya bukan karena tidak mau, tetapi memang tidak bisa." Ia menyeringai lebar ketika cengkeram di lehernya mengeras, "Kau pasti tidak tahu hal bodoh apa yang sudah kau lakukan bukan? Mengira-ngira apa yang membuatku mendadak menyerangmu begini. Well, King of Hueco Mundo, cek laboratorium Szayel dan kau akan tahu apa jawabannya." Dengan sengaja ia meludah ketika mengatakan kalimat 'King of Hueco Mundo', bagaikan kata-kaya itu merupakan makanan paling menjijikan yang pernah memasuki mulutnya.
Selama Hueco Mundo menjadi miliknya, dan ia dinobatkan menjadi raja karena memang dirinyalah yang paling kuat, Grimmjow selalu menyerahkan urusan yang memeras otak kepada Tesra—yang secara diam-diam ia akui, lebih pintar darinya. Jadi, untuk beberapa saat ia hanya diam menatap bingung ke arah Shiro sampai Harribel ikut membuka suara, "Pergilah, Grimmjow. Ichigo membutuhkanmu." Harribel yang sudah sempat diberitahu oleh Shiro beberapa saat lalu, memutuskan hanya cukup dengan mengatakan 'Ichigo', maka Grimmjow akan mengetahui apa yang sebenarnya salah di sini.
Dan perkiraan Arrancar wanita bersurai blondie itu tepat, karena kedua mata Grimmjow langsung membelalak. Dan setelah mengumpat, ia langsung melesat menuju laboratorium Szayel.
"Tu-tunggu! Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Rukia yang semenjak tadi keberadaannya nampak tidak dianggap, semakin merasa tidak tahan untuk diam saja ketika mendengar nama Ichigo disebutkan. Apalagi ketika dikatakan kalau pemuda bersurai oranye itu membutuhkan Grimmjow, musuhnya. "Kenapa kau katakan Ichigo membutuhkan Arrancar itu? !" Nonsense. Ichigo dan Grimmjow adalah musuh. Musuh yang sudah sering kali hampir membunuh satu sama lain. Kenapa di sini seolah dikatakan Ichigo membutuhkan keberadaan Grimmjow, dan Grimmjow sendiri pun langsung sepanik itu ketika dikatakan Ichigo membutuhkannya?
Kemungkinan yang berputar-putar di kepalanya, membuat Rukia menggertakkan gigi. Renji yang menyadari kondisi temannya itu langsung berdiri di hadapannya, seolah menjadi tameng. Sang Shinigami bersurai merah itu pun memiliki banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan, tetapi ia tidak masalah menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu untuk nanti. Dan berbeda dengan Sado serta Ishida yang benar-benar clueless, Orihime nampak membelalakkan mata sementara mulutnya menganga. Gestur ketika ia seolah tengah mengadari sesuatu. Gadis itu menggerakkan kedua iris gelapnya ke arah Harribel, dan mereka saling menatap selama beberapa saat.
Menelan ludah dan merilekskan tubuhnya, Orihime kemudian berkata, "Kita harus kembali." Perkataannya itu sontak saja membuat keempat teman-temannya yang lain terkaget-kaget.
"Inoue-san?" ujar Ishida.
"Hoo? Kau mengerti, Princess?" Shiro yang hendak menyusul Grimmjow akhirnya memutuskan untuk mendekati kembali para Shinigami. Seringai di wajahnya melebar saat melihat Orihime mengangguk, dan dengan segera ia mengulurkan tangannya, membuka garganta. "Sesuai kata-kata Tuan Putri, kalian harus pulang."
Rukia, Renji, Ishida, dan Sado yang sebelumnya terlalu kaget dengan kata-kata Orihime sama sekali tidak menyadari Harribel yang mendadak muncul di belakang mereka, dan mendorong semuanya sekaligus ke dalam garganta. Shiro bereaksi cepat dengan segera menutup garganta, dan juga menguncinya agar tidak ada lagi Shinigami yang bisa seenaknya memasuki Hueco Mundo.
"Nah, sebaiknya kita ke tempat Ichigo sekarang, Princess."
Orihime mengangguk menanggapi perkataan Shiro, dan dibuat terlonjak kaget karena sang Hollow mendadak membopongnya sebelum kemudian berlari dengan menggunakan sonido menuju tempat di mana Ichigo berada sekarang. Harribel berada tidak jauh di belakang mereka.
"Bagaimana kondisi Ichigo?" Shiro bertanya sembari mendekati posisi di mana Grimmjow kini duduk di sebelah ranjang Ichigo. Orihime mengikuti tidak jauh di belakang.
Grimmjow menghela nafas. Tangannya tidak berhenti membelai surai oranye sang Beta. Walau tidak terlalu terlihat karena kedua alisnya berkerut seperti biasanya, tetapi tersirat keterkhawatiran di wajah Grimmjow. "Szayel sudah menjelaskan apa yang salah pada kondisi Ichigo. Haah... Ini pertama kalinya aku mengawini seorang Beta, jadi aku tidak tahu kalau selain memberikan reiatsu untuk menandai teritori pada tubuh Ichigo, aku pun diharuskan untuk memberikan reiatsu secara berkala." Untuk kali ini Grimmjow sama sekali tidak merasa risih untuk mengakui kesalahannya karena ia sendiri merasa bodoh karena hal itu.
Dan tanpa ia sadari, pengakuannya itu menghilangkan nafsu marah-marah Shiro. Sebab, saat ini sang Hollow hanya bisa terperangah menatap Grimmjow yang terkenal akan kepala batu dan harga dirinya yang tinggi. Kalau saja Nelliel, Harribel, dan Szayel tidak menunggu di luar ruangan, mereka pasti berekspresi sama dengan Shiro.
Dijamin.
Berdehem pelan, Shiro kemudian berkata, "Kalau begitu... Kau menyingkirlah dulu sana. Aku sudah bawa si Princess untuk menyadarkan Ichi." Perkataannya ini membuat Grimmjow menoleh ke arahnya dan memandangnya dengan pandangan bingung. "Dengar. Kondisi inner world Ichi saat ini sangat sensitif. Aku tidak bisa seenaknya masuk ke dalam sana walau pun mengetahui sekarang ini bisa saja ia berada di sana, tidak bisa keluar karena tidak memiliki tenaga. Yang bisa menarik Ichi keluar saat ini hanya dia." jelasnya sembari menunjuk ke arah Orihime. Mau tidak mau, mereka memang membutuhkan kemampuan sang gadis. Karena Grimmjow tidak akan bisa menyalurkan reiatsunya jika Ichigo tidak ada dalam keadaan sadar.
Yah... Karena caranya 'begitu' sih...
"Hmph. Terserah..." Sambil mendengus, Grimmjow beranjak dari posisinya demi memberikan ruang bagi Orihime untuk melakukan tugasnya. Dengan melingkarkan kedua lengan kekarnya di dadanya, kedua iris biru tajam Grimmjow tidak kunjung lepas dalam mengamati mimik wajah Ichigo. Kedua sudut bibirnya semakin turun ketika ia kembali mengingat kalau kondisi Betanya saat itu adalah gara-gara dirinya. Tepat pada saat Grimmjow mendecak dan menyandarkan tubuhnya ke tembok, cahaya berwarna kekuningan melingkari tubuh Ichigo.
Yang bisa ia lakukan sekarang hanya menunggu.
Dengan tubuh yang terlentang di atas jendela-jendela bangunan di dalam inner worldnya, kedua iris coklat Ichigo menatap awan-awan yang bergerak di langit. Pikirannya yang semenjak tadi bekerja untuk mencari cara agar ia bisa keluar dari sana—karena kali ini tumben-tumbenan ia tidak bisa keluar dengan keinginannya sendiri—kini sudah berhenti karena rasa lelah yang ada. Ia sekarang ini hanya bisa pasrah, tidak bergerak, menunggu Shiro atau Grimmjow melakukan sesuatu untuk menariknya keluar.
Belakangan ini ia memang merasakan lelah yang tidak biasa, tapi ia pikir mungkin itu juga merupakan efek samping kehamilannya. Akan tetapi, ketika ia tidak bisa bergerak apalagi keluar dari dalam inner worldnya sendiri, Ichigo tahu ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Ia hanya bisa menggerakkan tangannya yang kini membelai perutnya pelan. Bisa ia rasakan tonjolan yang ada di sana lebih besar daripada sebelumnya.
Padahal ia yakin ketika memegangnya pagi tadi, tonjolan itu tidak sebesar sekarang.
Dan itu membuatnya cukup takut.
Langit biru di atasnya yang perlahan-lahan berubah menjadi kekuningan, membuat Ichigo terperangah. Warna kuning itu berasal dari suatu horizon di ujung sana, yang perlahan-lahan menyebar, menutupi birunya langit yang ada. Mengumpat di dalam hati dalam kepanikan karena lagi-lagi ia tidak tahu apa yang tengah terjadi pada dirinya, Ichigo terlonjak kaget saat mendengar suara yang sangat ia kenal memanggil namanya.
"Kurosaki-kun."
"I, Inoue? !"
Kalau saja saat itu ia bisa bergerak dengan mudah, saat ini pasti dirinya sudah berdiri dan celingukan kesana-kemari mencari asal sumber suara. Tapi, suara itu kalau didengar, nampak bergema dari segala penjuru.
"Yokatta ne, Kurosaki-kun... Tunggulah, aku akan mengeluarkanmu dari sana. Jangan terlalu banyak bergerak ya?"
"Oke..." Akhirnya bisa juga ia menghela nafas lega. Walau mungkin nanti ia diharuskan bertanya bagaimana bisa gadis itu berada di sini, tapi saat ini ia ingin menikmati kelegaannya karena Orihime akan bisa membantunya keluar dari sini. Ia yakin itu. Merilekskan tubuhnya, Ichigo membiarkan kedua kelopak matanya terpejam, merasakan kehangatan cahaya kuning yang semakin lama menariknya semakin keluar dari dalam inner worldnya.
Ichigo perlahan kembali membuka kedua matanya ketika penciumannya menerima aroma tubuh yang begitu ia kenali. Warna biru yang langsung menyerang pandangannya kini membuatnya tersenyum, "Grimm." Bisa ia lihat kerutan di dahi sang Alpha menghilang saat mendengar panggilannya.
"Hei, Kitten." Grimmjow menghela nafas panjang, merasa lega karena Orihime berhasil menarik Ichigo kembali. Dan jika dilihat dari wajahnya, walau pun masih agak pucat, tapi Ichigo nampak baik-baik saja. "Bagaimana perasaanmu?" Ia kemudian menunduk dan membenamkan hidungnya di pipi Ichigo yang kini gantian menghela nafas juga.
"Rasanya lelah..."
"Aku tahu. Akan segera kuberikan reiatsuku padamu." Membelai surai oranye Ichigo, Grimmjow kemudian menegakkan kembali tubuhnya dan untuk beberapa saat hanya saling bertatapan mata dengan sang Beta.
"Kalau mau memberikan reiatsumu pada Ichi sekarang, pergi ke kamarmu sana!" seru Shiro sambil meneplak kepala Grimmjow yang semanjak tadi malah diam saja dan nampak mengulur-ulur waktu. Tatapan kesal sekaligus bingung yang Grimmjow lemparkan padanya membuat Shiro mendengus, "Jangan katakan kalau kau berpikiran untuk mentransfer reiatsumu dengan cara biasa."
Grimmjow mengerutkan dahi, "Urusai!" Kerutan di wajahnya kini menjadi semakin dalam ketika Shiro mencibir ke arahnya. "Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, Snowflake? !" Geraman tertahan keluar dari sela-sela kata-kata Grimmjow sementara kedua tangannya mengepal, menahan diri untuk tidak menembakkan cero begitu saja ke kepala sang Hollow.
"Kau ini bodoh atau memang tolol? Satu-satunya cara untuk mentransfer reiatsu pada Beta itu hanya dengan seks!" sentak Shiro yang menusukkan telunjuknya di dada Grimmjow dengan keras karena kesal dipanggil dengan sebutan 'Snowflake'. Kalau saja urusan ini tidak menyangkut nyawa Ichigo, ia tidak akan mau mengatakan kepada Alpha tidak berpengalaman semacam Arrancar bersurai biru di hadapannya ini setelah dikata-katai begitu.
Sementara Ichigo yang merasa malu berteriak, "Shiro!" dan wajah Orihime merona matang, Grimmjow nampak kaget dengan jawaban yang diberikan oleh Shiro. Jujur saja, ia kaget karena ia memang berpikiran kalau dirinya hanya cukup menyelimuti reiatsu Ichigo dengan reiatsu miliknya dan meninggalkan reiatsunya itu di sana begitu saja.
Tapi lama-kelamaan, seringai khas seorang Grimmjow Jaegerjaquez kembali terpatri di wajahnya, dan membuat Ichigo yang melihatnya menelan ludah. "Jadi maksudmu, aku masih bisa melakukannya walau pun Ichi sedang hamil begini?"
Shiro membalas seringai Grimmjow dengan seringainya yang tidak kalah lebar—membuat siapa pun yang melihat jadi menyangka kalau saat ini mereka sedang menggelar kontes mirip Joker, "Sebanyak-banyaknya." jawab Shiro mantap diiringi dengan kekehan renyah.
Saat itu Ichigo berpikir kalau kelihatannya akan lebih baik jika ia terjebak di dalam inner worldnya lebih lama lagi.
TBC
Yap. Dokter Boyke bilang, semakin banyak suami memberikan sperma pada istri yang sedang hamil, semakin kuat kandungannya. Prinsip mengenai kehamilan Ichigo, saya ambil dari situ ;")
* Hitam dan putih bukanlah warna; Sebenarnya ini perdebatan tanpa ujung karena penilaian seniman dengan ilmuwan mengenai warna itu berbeda. Tapi, saya ambil kesimpulan seperti ini sesuai dengan apa yang saya pelajari di matkul Teori Warna dulu.
