A/N: Ahahaha... Haha... Ha... Err... Masih adakah yang bersama saya di sini? Gomen na... Saya tau ini chapter keluarnya lama banget. Silakan, kalian mau timpuk saya dengan tomat, semangka, bahkan durian sekali pun, saya terima *gemetaran* Sebab, walau pun ingin OL, tapi saya bener2 ga bisa. Salahkan modem yg mendadak error dan nendang saya keluar terus dari jaringan koneksi internet ( TT ^ TT ) Makanya saya cuma bisa pakai modem punya adik, dan waktu berinternet jadi terbatas banget. Jadi, untuk beberapa waktu ke depan, saya bisa OL cuma seminggu atau 2 minggu sekali *ORZ* Mohon pengertiannya aja ya... Setiap OL saya bakalan langsung upload update-an semuanya. Tolong sabar ya, cuma sampai saya dapet modem lagi kok ( TT ^ TT ) Duh, lagi galau, jadi tambah galau gara2 ini *plak* Padahal kalo bisa upload melalui hape, enak sih... Tapi, ga mungkin... *swt*

Dan... Saya juga akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah, jadi ya... Haha. Gomen na... Ramblingnya kepanjangan *swt*

Terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia mereview pada chapter sebelumnya ^^

uta: Ehee... Jawaban itu bakalan nongol nanti kok, tunggu aja ya~ Pasti keluar XD

D: Sip sip sip. Gomen lama ya (^_^; )

Aoi Namikaze: Yep. Bener. Ada lemonan di sini walau ga panjang2 amat sih XD

ukaacchi: Ah, gomen... baru bisa update sekarang (^_^; ) Mengenai Orihime, nanti bakalan ketahuan kenapa dia bisa tau kok. Tunggu aja~

Iztha dark neko: Aih, sankyuu, chuyuuunk~! Chapter ini emang bener ada lemon kok~ ;)

nanao yumi: Nah... Semua jawabanmu bakalan ada kok nanti. Saya ingin bikin kamu nebak2 dulu aja deh sekarang ini sih ( ^ u ^ ) *bletakk*

nagi: Sudah update sekarang, gomen lama (^_^; )

Dark Yunjae: Halo juga, Dark ( ^_^ ) Yep. Emang dalam beberapa kondisi Grimm dan Ichi bakalan OOC di sini. Yah... mau gimana lagi sih, soalnya dalam Bleach yg asli ga ada cerita yg seperti di SBB ini. Jadi, kita cuma bisa nebak2 reaksi masing2nya aja *taps own chin thoughtfully*

via-sasunaru: Ooh, jangan salah... Ichi bakalan menderita banget pas mendekati masa2 melahirkan lho~ ;) Muahahaha *plak*

D-N-D Mozaik: Ehehe... Gomen na, chapter ini lambat banget. Tapi, akhirnya saya bisa upload juga nih... Seneng rasanya ( TT ^ TT )

AngeLEviL: Gomeeeeennn chapter ini lama banget... *ORZ* Hnn... Saya sempet kepikiran dia balik ke dunianya sih, tapi masih ditimang2 karena ada rencana lain juga... Hnn... *mikir*

Terima kasih juga untuk yang sudah login dulu sebelum mereview: Aoi LawLight / chiisana yume / Zanpaku nee / CCloveRuki / F . Freyja / astia aoi / Ivera Jeagerjaques / Vipris / Chibi Dan / Arya Angevin


Sweet Baby Berry

Chapter 11


"Hei, Grimm. Aku lapar."

"Hnn..."

"Aku ingin sekali memakan pancake pagi ini..."

"Hn."

"Tapi aku ingin ada es krim coklat sebagai toping-nya."

"Mhmm..."

"Apa di sini ada es krim? Kulihat kelihatannya kalian bahkan tidak tahu apa itu kulkas."

Menarik nafas dengan tajam, Grimmjow menggeram dan mengeratkan genggamannya hingga membuat Ichigo tersentak sambil mengerang kaget. "What the fuck? Kau bermaksud menghancurkanku, Grimm! ?" Sentak Ichigo dengan tepian matanya mengeluarkan setetes air mata karena yang barusan itu sungguh sangat benar-benar menyakitkan. Ingin rasanya ia menendang Grimmjow dengan sangat keras, tetapi apa daya, kedua kakinya saat ini tengah terbuka lebar dengan Grimmjow berada di tengah-tengahnya jadi tidak bisa digerakkan seenaknya.

"Seharusnya aku yang mengatakan 'what the fuck', Ichi! Bisa-bisanya kau membicarakan mengenai sarapan ketika aku sedang memberikan blow job padamu!" Menegakkan tubuhnya dan tanpa melepaskan genggaman tangannya di pangkal kejantanan Ichigo, Grimmjow menatap antara heran dan kesal ke arah Betanya itu. Padahal ia yakin tadi itu Ichigo sudah mendesah dan mengerang merasakan lidahnya bermain dengan puncak kejantanannya, tapi Grimmjow tidak habis pikir dari mana datangnya pikiran mengenai menu sarapan yang diinginkan untuk pagi itu.

Benar-benar merusak mood yang ada saja.

"Habisnya aku lapar, Grimm..."

Secara refleks Grimmjow mengerang bete ketika mendengar nada bicara berupa rengekan yang dikeluarkan oleh Ichigo. Great. Ichigo saat ini sedang berubah menjadi whiny-pansy-bitch lagi gara-gara mood masa kehamilannya. Aah... Betapa ia merindukan kekeras-kepalaan dan semangat yang sering kali berkobar dari Ichigo. Kalau saja ia tahu mengenai perubahan kepribadian pada masa kehamilan begini, rasanya Grimmjow tidak akan pernah mau memiliki anak lagi.

Yeah, cukup kali ini saja. Sikap Ichigo yang mendadak seperti cewek ini mulai terasa menyebalkan.

Menghela nafas, Grimmjow terdiam sejenak sebelum kemudian seringai lebar kembali menghiasi wajahnya ketika sebuah pemikiran (yang menurutnya) jenius melintas di benaknya, "Semenjak bangun sudah 2 kali aku memberimu makan 'kan, Kitten? Kalau kau masih belum kenyang, itu artinya aku masih harus memberikanmu lebih banyak lagi. Begitu bukan?" ujarnya dengan suara yang direndahkan beberapa oktaf hingga secara tidak disadari membuat tubuh Ichigo bergetar.

Rona merah di wajahnya menandakan kalau Ichigo mengerti betul dengan apa yang dimaksudkan sebagai 'makan' oleh Grimmjow. Tapi, pribadinya yang tidak pernah mau kalah, membuatnya berpikiran untuk membalas kata-kata sang Alpha. Ingin agar Grimmjow merasakan efek yang sama dengan yang dirinya rasakan barusan, sekuat tenaga Ichigo mendorong tubuh Grimmjow dan menduduki pinggang sang Alpha yang nampak kaget dengan tindakannya barusan.

Sekarang posisi mereka jadi berbalik. Ichigo berada di atas sedangkan Grimmjow di bawah, merebahkan diri di atas permukaan ranjang.

Sebenarnya, semenjak awal hari ini dimulai, Ichigo berniat untuk tidak melakukan seks lagi dengan Grimmjow. Yah, selama beberapa hari ke depan. Hal itu karena semenjak Shiro memberitahukan mengenai cara transfer reiatsu 'yang tepat', Grimmjow mengurung dirinya di kamar dan terus melakukan seks selama seminggu terakhir ini.

Rasanya seperti menjadi kelinci yang terus ketagihan.

Dan selama seminggu itu, hanya dirinya saja yang dibuat menerima, sedangkan Grimmjow selalu menolak jika dirinya mulai ingin memberikan sesuatu juga untuk sang Alpha.

Menyebalkan.

Apalagi ketika ia mulai bisa menebak kenapa Grimmjow nampak begitu berhati-hati dan tidak mau membuatnya melakukan 'sesuatu'. Sesuatu yang... yah, apa pun. "Aku bukan perempuan, Grimmjow." Ichigo menggeram, "Aku bukan orang yang setiap saat harus kau lindungi dan awasi. Aku bisa menjaga diriku sendiri, dan aku tahu kemampuan diriku sendiri. Aku tidak pernah memaksakan diri jika aku memang tidak bisa." Dengan kedua tangan menumpu tubuhnya di dada Grimmjow, Ichigo menatap ke arah sepasang iris biru laut dengan sepasang iris coklatnya yang memandang dengan intens. Menunjukkan keseriusan, dan kekesalannya karena diremehkan.

Terlalu dilindungi.

Ia menyadari kalau belakangan ini Grimmjow nampak bersikap penuh kehati-hatian padanya. Seolah dirinya akan remuk jika sampai salah bergerak sedikit saja.

"I'm not your woman." geram Ichigo kesal sambil mencakarkan kukunya di salah satu pundak sang Alpha.

Meski pun cakaran Ichigo membuat pundaknya berdarah, tidak terlalu banyak, tapi tidak sekali pun Grimmjow nampak meringis. Wajahnya datar, seolah tidak merasakan sakit sama sekali. Kedua iris birunya menatap dalam kepada kedua iris sang Beta yang menolak untuk melihat ke arah lain selain ke arah matanya. Ingin rasanya ia menampik perkataan Ichigo barusan. Heh, memangnya siapa dia yang bisa dibodohi? Ia tidak buta untuk tidak mengetahui kalau Ichigo memaksakan diri melebihi batas kemampuan ketika memutuskan untuk melompat ke Hueco Mundo pertama kalinya untuk menolong gadis itu. Menantang Aizen yang jelas-jelas memiliki kekuatan lebih tinggi berkali-kali lipat di atasnya.

Dan ketika mereka pertama kali saling berhadapan satu sama lain. Ichigo saat itu sudah jelas jauh lebih lemah daripada dirinya, tetapi terus memaksa maju dan melawannya tanpa takut mati sekali pun.

Padahal saat itu ia bisa dengan mudah melubangi tubuh sang remaja seperti gadis Shinigami itu, tetapi anehnya tidak ia lakukan.

Heh, kelihatannya saat itu ia sudah menandai Ichigo untuk menjadi pasangannya, hanya saja dirinya tidak sadar, eh?

Dan Grimmjow juga tidak berniat untuk menampik kalau beberapa hari terakhir ini ia bersikap begitu hati-hati terhadap Ichigo. Tidak mau ia akui kepada orang lain kalau melihat wajah Ichigo begitu pucat saat ia tahu reiatsu sang Beta sangat tipis, untuk pertama kalinya ia merasakan rasa takut yang tidak pernah ia rasakan selama ini.

He's Grimmjow-fucking-Jaegerjaquez for God's sake!

Dan seorang Grimmjow Jaegerjaquez, King of Hueco Mundo, tidak pernah takut akan apa pun.

... Fuck. Tidak pernah ia bayangkan dirinya akan menjadi seperti ini. Memalukan. Tapi... "Kau mungkin tidak tahu, Ichi. Tapi, seorang Alpha akan menomor-satukan Betanya melebihi apa pun juga. Mereka bahkan akan memakan anak mereka sendiri jika memang hal itu bisa menolong Betanya." Grimmjow menghela nafas, "Aku pun tidak berbeda." Kembali ia tatap Ichigo dan bisa ia lihat dengan jelas kalau Ichigo agak mengernyit mendengar kata-katanya. Kelihatannya remaja itu membayangkan perkataannya barusan.

Mendengar ucapan Grimmjow itu, Ichigo hanya bisa terdiam dan menunduk. Secara refleks ia menjauhkan pandangannya dari wajah Grimmjow. Dan tanpa disadarinya ia jadi memegangi perutnya sendiri, membayangkan Grimmjow memakan anak-anaknya bukanlah hal yang menyenangkan. Tetapi imajinasinya yang terkadang luas, membuatnya tidak bisa untuk tidak membayangkan.

Selama membelai perutnya yang tidak tertutupi selembar pun kain, Ichigo tidak bisa berhenti mendesis. Walau awalnya ia tidak menginginkan anak di dalam perutnya, tetapi setelah sebulan lebih merasakan kehidupan lain di dalam dirinya, mau tidak mau ia jadi merasakan sebuah ikatan yang membuatnya ingin melindungi apa yang tengah ia miliki sekarang ini. Walau kehamilannya itu membuatnya kehilangan otot perut yang (secara diam-diam) ia banggakan karena tidak terdapat sedikit pun lemak yang tidak berarti.

Dan sungguh ia bersyukur karena ukuran kehamilannya tidak sama dengan para wanita di mana pun berada. Karena walau untuk ukuran waktu kehamilan manusia dirinya saat ini tengah menginjak bulan kelima, secara ukuran hollow saat ini dirinya tengah menginjak usia kehamilan yang ke-38 hari, dengan kata lain hanya 32 hari lagi mendekati waktu kelahiran. Dan tidak seperti Beta-female lainnya, para Beta-male memiliki ukuran perut yang lebih kecil ketika hamil, jadi ukuran perut paling besar yang akan mereka tanggung paling hanya seukuran perut kehamilan bulan ke-6.

Yah, setidaknya ia hanya akan terlihat seperti orang yang kebanyakan makan hingga perutnya membuncit. Tidak akan membuatnya sampai berteriak histeris ketika melihat pantulannya di cermin.

Karena membayangkan perut hamil dengan benda yang menggantung di antara kaki sangatlah tidak serasi.

Menanggapi kebisuan Ichigo, Grimmjow menarik tubuh sang Beta hingga benar-benar tertelungkup di atas tubuhnya (sementara Ichigo sendiri secara insting agak menaikkan perutnya agar tidak terlalu tertekan), kedua tangan ia lingkarkan di pinggang Ichigo sembari memberikan belaian ringan di sana. "Aku serius, Ichi." Ia dengar Ichigo menghela nafas pendek, yang kemudian membuat Grimmjow membenamkan hidungnya di antara surai oranye Ichigo dan dengan tamak ia menghirup aroma khas sang Beta. Aroma strawberry dan coklat yang menyerang indera penciumannya selalu berhasil membuatnya bergairah kembali. Karenanya, ia menggerakkan kedua tengannya lebih ke bawah lagi dan meremas dua gumpalan pangkal tubuh Ichigo, yang tentu saja sontak langsung memekik kaget.

"Grimm!" Menaikkan tubuhnya hingga bisa melihat Grimmjow dengan jelas, Ichigo mencubit keras hidung sang Alpha sementara kerutan kekesalan di dahinya sama sekali kehilangan keampuhannya karena wajahnya yang merona merah. "Bukankah tadi kita sedang bicara serius? Kau malah main-main lagi!"

Terkekeh-kekeh Grimmjow menjawab, "Habis, aku sudah tidak bisa mencueki si Grimm kecil lebih lama lagi." Untuk beberapa saat, Ichigo nampak bingung dan tidak mengerti dengan kata-katanya, karena itu dengan sengaja Grimmjow menghentakkan pinggulnya hingga kejantanannya yang sudah menegang dan tidak tertutupi apa pun itu bergesekan dengan pangkal tubuh Ichigo. Pemuda bersurai oranye itu langsung merona merah menyadari apa maksud dari kata-kata Grimmjow, hingga membuat sang Alpha terpingkal-pingkal... dan mendapatkan geplakan keras di kepala. Walau geplakan tersebut tetap tidak bisa menghentikan tawanya.

Ichigo mengerutkan dahi dan menatap sinis ke arah sang bluenette, tapi sayang, kadar intensitas kekesalannya itu berkurang karena rona merah yang menolak untuk pergi. Sekarang, bukan karena malu, tetapi karena ia bisa kembali merasakan gairahnya. Kelihatannya, instingnya sebagai seorang Beta mulai mengambil alih lagi, membuatnya berpikir untuk menampung banyak reiatsu dari Grimmjow sehingga beberapa waktu ke depan nanti, ia akan bisa benar-benar istirahat.

Yah, istirahat dari berbagai macam kegiatan, termasuk 'ini'.

Menyeringai kecil, Ichigo memanfaatkan kesempatan di saat Grimmjow masih terus tertawa sehingga tidak menyadari perubahan ekspresinya, ia menaikkan tubuhnya sementara salah satu tangannya menggenggam kejantanan sang Alpha. Dengan penuh kehati-hatian dan keakuratan, Ichigo memposisikan kejantanan Grimmjow pada pintu masuk rectumnya dan tanpa menunggu lama lagi menghujamkan tubuhnya ke bawah, hingga kejantanan Alphanya itu masuk secara penuh, langsung mengenai prostatnya dengan telak, membuat dirinya dan juga Grimmjow mengerang.

"Shit, Ichi... Warn me next time, would ya?" Grimmjow mendesis dengan kedua tangannya secara refleks menggenggam pinggang Ichigo. Ia sama sekali tidak menyangka sang remaja akan melakukan hal barusan, jadi ia lumayan cukup kaget dengan impact yang ada.

Meski pun ia sendiri yang menghujamkan kejantanan Grimmjow ke dalam dirinya, Ichigo cukup merasakan ketidak-nyamanan, dan walau pun prostatnya kena dalam sekali hentak, tetap saja rasa sakitnya ada. Karenanya, untuk beberapa saat pertama ia hanya diam dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Ia tidak habis pikir, entah kapan ia akan terbiasa dengan ukuran yang dimiliki oleh Grimmjow. Memang, di antara mereka berdua terdapat perbedaan tinggi badan hingga 10 sentimeter, tetapi tidak pernah ia bayangkan sebelumnya kalau perbedaan tinggi badan yang lumayan jauh itu pun akan berdampak sampai kepada ukuran benda pribadi yang berbeda juga.

Ia tidak pernah mengatakannya secara terang-terangan, tetapi Ichigo selalu berkomentar dalam hati kalau milik Grimmjow sangat besar. Lebih besar daripada miliknya.

Dan walau pun ia ingin merasa iri, tetapi ia tidak bisa.

Apalagi karena ia bisa bermain sesukanya dengan milik Grimmjow itu.

...

...

Shit.

Memang sudah semenjak awal ia gay, heh?

"So big, Grimmy~ Me... so... -full... hhhaaahnn~"

Kalau saja saat itu benak Ichigo sedang tidak berkabut karena nafsu, ia pasti bisa melihat warna pink tercetak tipis di kedua pipi Grimmjow. Baru kali ini Grimmjow mendengar suara dan kata-kata Ichigo yang begitu penuh gairah dan terdengar cabul. Biasanya, remaja bersurai oranye itu begitu pemalu dan jarang sekali berkomentar setiap kali mereka melakukan seks. Tapi, hari ini kelihatannya Ichigo lebih berani. Dan hal itu membuat debaran di dada Grimmjow tidak bisa mereda, dan malah sebaliknya, semakin cepat.

Apa yang Ichigo katakan itu membuat rasa percaya diri dan nafsu birahi di dalam diri Grimmjow semakin meninggi. "Ayo, Kitten... Kau tidak berniat terus diam saja seharian seperti ini, bukan?" Sebagai tanda dari ucapannya, Grimmjow menggerakkan pinggulnya sedikit hingga miliknya bergesekkan dengan dinding rectum Ichigo.

Dengan tarikan nafas yang goyah, dan kedua tangan yang bertumpuan pada dada Grimmjow, Ichigo menaikkan tubuhnya hingga hanya tersisa ujung kejantanan Grimmjow saja di dalamnya dan menghantamkan tubuhnya kembali ke bawah sekuat tenaga. Menghajar prostatnya sendiri dengan kasar sehingga membuat tubuhnya tersentak keras, kepalanya menengadah dengan mulut dan kedua mata yang terbuka lebar, "Nyaaaaaahhh~!" Apa yang ia rasakan saat itu benar-benar luar biasa. Berbeda dengan biasanya. Sebab dalam posisinya saat ini—dirinya berada di atas, menunggangi Grimmjow—secara tidak langsung membuat kejantanan Grimmjow berada dangat dalam di dalam dirinya. Bahkan gesekannya seolah bisa ia rasakan di antara perutnya.

Ichigo tidak berhenti bergerak begitu saja. Ia terus menaikkan dan menurunkan tubuhnya, membenturkan dinding prostatnya kepada kejantanan Grimmjow yang mulai membasahi dinding rectumnya dengan precum. Grimmjow yang juga menggerakkan pinggulnya, memberikan impact yang lebih lagi, terus membuat erangan dan desahan Ichigo semakin lama semakin keras.

Membuatnya yakin seluruh Hueco Mundo bisa mendengar suara sang Beta yang tengah diselimuti ekstasi.

"Nnnggggaaaahhh~! G-Grimm... AH! AAHH! Nyaaaaahhh~! More... Grimmyyy... MORE! Aaangghh...!"

Grimmjow menyeringai.

Yeah, ia begitu mencintai erangan Ichigo, dan akan ia lakukan apa pun demi mendengarkannya lebih keras lagi. Biar makhluk lain merasa iri karena ia mendapatkan Beta yang sangat ekslusif (baginya).

Pada detik ini, Grimmjow meng-shutdown-kan benaknya, dan lebih menaruh perhatian terhadap aktifitas yang tengah dijalaninya. Dan walau sebesar apa pun ia menyukai pemandangannya di bawah dengan Ichigo di atasnya—bergerak begitu liar, wajah merah, dan liur yang menetes di tepian bibir, serta kedua bola mata coklat yang memandang ke arahnya yang terlihat begitu... glassy... erotis—ia lebih suka menjadi yang "mengendalikan", karenanya ia dorong tubuh Ichigo hingga posisi mereka berganti.

Menyandarkan kedua kaki jenjang sang remaja di kedua pundak lebarnya , Grimmjow membungkukkan diri—sehingga Ichigo melengkungkan setengah tubuhnya. Dalam hati, sang bluenette bersorak akan kelenturan yang dimiliki pasangannya, sebelum kemudian melahap bibir Ichigo, memberikan open mouthed kiss yang begitu panas, meredamkan erangan serta desahan yang dikeluarkan keduanya.

Melingkarkan kedua lengannya di leher Grimmjow, Ichigo membiarkan jemarinya bermain dengan helaian surai biru sang Alpha, menekankan kepalanya agar ciuman yang mereka lakukan menjadi lebih dalam. Rasa panas di sekitar perutnya yang ia rasakan di kemudian, membuat Ichigo melepaskan ciumannya untuk mengambil banyak oksigen, "I, I'm cl-close... Nnyyaaah~ Grimmyyy~" Ia menarik segumpalan helaian rambut Grimmjow dengan agak kasar, membuat yang bersangkutan menggerung, menghantamkan kejantanannya dengan tenaga yang lebih lagi mengenai prostat Ichigo.

Dan hal itu menjadi titik terakhir ketahanan sang Beta.

"GRIMMMJJAAAAAAWWHHH~~!"

xxxxxxxxxx

Benturan keras terdengar menggema di dalam ruang makan sehingga membuat beberapa Arrancar yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara dengan heran. Dan mereka tambah heran lagi ketika melihat sosok bersurai putih dengan kepala mencium meja yang retak di bawahnya. Suara geraman bisa terdengar di dalam ruangan yang sempat sunyi sebelum kemudian orang-orang yang ada di sana memutuskan untuk menyibukkan diri kembali dengan urusan masing-masing, dan tidak sedikit dari mereka berharap menjadi tuli saat itu.

Shiro pun merupakan salah satu di antara sekian banyak orang yang ingin menjadi tuli barang sejenak saja. Ia memutuskan untuk berhenti menertawakan Orihime yang akhirnya pingsan dengan darah keluar dari hidungnya di kursi yang berada di sebelahnya, ketika suara berdebam dan erangan yang erotis semakin terdengar menggema.

Walau pun hollow, telinganya tetap saja memiliki batas kemampuannya sendiri.

Apalagi ketika mendengar suara sang King-berubah-Queen saat sedang melakukan aktifitas seksual seperti saat ini.

Ia bahkan tidak yakin lagi berapa banyaknya darah yang tersisa di tubuhnya. Shiro menggeram, menutupi hidung dengan telapak tangannya, "Kenapa tidak mereka pasang peredam suara di kamar mereka saja sih?" gerutunya yang kemudian membuat Nelliel yang duduk di sisi lainnya terkikik-kikik.

"Urusai...!"

Sebagai balasan atas 'tenda' yang terbangun di antara selangkangannya, akan ia goda Ichigo habis-habisan nantinya.

Menyeringai lebar dengan pikirannya sendiri, mendadak Shiro tidak sabar menantikan kemunculan Ichigo nanti.

Oh yeah, akan ia nikmati. Tentu.

TBC