A/N: Rasanya, ga ingin ngomong... Tapi... Harus ya? *swt* Kalau dilihat dari review2 yg ada, ketahuan banget kalau saya udah lama lama banget banget BANGET untuk update ini. Hahahaha... *dobelswt* Gomen na. Yg kemarin2 itu saya ga bisa update karena pekerjaan yg menumpuk. Wajar, saya anak baru, jadi masih dibabuin (-_-") Tapi, sekarang saya usahakan untuk update secara berkala deh. Hanya saja... Cuma untuk SBB ini dulu, yg WCMTP di-hold dulu ya :)" Lagipula, kelihatannya peminat SBB jauh lebih banyak daripada WCMTP, jadi saya memutuskan untuk fokus di cerita ini dulu.

Terima kasih untuk kalian yg sudah bersedia mereview pada chapter sebelumnya. Gomen saya ga bisa membalas sekarang karena harus segera pergi ^^; All thanks to: AngeLEviL / chiisana yume / Vipris / iztha dark neko / Dongdonghae / Aoi LawLight / D / astia aoi / Zanpaku Nightfall Akenomyosei / Chibi Dan / Aoi Namikaze / NamikazeNoah / nagi / CCloveRuki / F . Freyja / nanao yumi / D-N-D Mozaik / KhansaRiku / himemiku / Dark Yunjae / snowdiamond / key-kouru / Haru-QiRin / anon


Sweet Baby Berry

Chapter 12


Dia membenci pemuda itu.

He's fucking hate him.

Kebencian yang sampai pada tahap merobek kulit dan memisahkan lapisan-lapisan daging milik tubuh sang pemuda saja tidak cukup. Melihat pemuda itu mati begitu saja pun sangat tidak cukup.

Ia menggeram. Geraman bagai seekor binatang buas yang kelaparan.

Ia genggam lengan kanannya yang tidak lagi 'berlengan', kuat-kuat. Rasa sakitnya ada, tetapi tidak ia pedulikan.

Aizen bilang Hollow tidak memiliki perasaan. Espada adalah Arrancar. Arrancar adalah Hollow. Lalu kenapa? Kenapa ia merasakan kebencian yang begitu mendalam kepada seseorang di saat seharusnya ia sama sekali tidak memiliki perasaan sama sekali? Tidak memiliki hati. Tidak tahu apa itu hati. Tapi, pada kenyataannya, di sini ia duduk, di dalam penjara dingin berlapiskan metal yang tidak bisa dengan mudahnya ditembus—penjara yang dikhususkan hanya untuk dirinya. Dirinya yang seorang Zero Espada—bertekad akan membalaskan dendam orang yang sudah ia anggap comrade.

Kawan.

Menggelikan.

Padahal biasanya ia hanya respect kepada orang yang lebih kuat darinya. Jauh lebih kuat darinya. Seperti misalnya Aizen. Dan berdasarkan ranking, Ulquiorra Cifer berada di bawahnya. Bahkan Espada nomor 4 itu kalah oleh lawan yang lemah. Oleh seorang manusia yang mengaku-aku memiliki jabatan sebagai seorang Shinigami daikou.

Kurosaki—fucking—Ichigo.

Dia membencinya.

Benci karena seorang manusialah yang berhasil mengalahkan sang stoic Espada. Benci karena Ulquiorra terlalu mudah kalah. Benci karena ia menyadari dirinya tetap tidak bisa membenci Ulquiorra. Tidak bisa ia membenci orang yang untuk pertama kalinya tidak menganggap dirinya bodoh.

Walau pun sesekali dirinya dipanggil dengan sebutan 'trash', tetapi tidak pernah sekali pun sepasang iris hijau zambrud itu menatap rendah kepadanya.

Seolah panggilan itu hanya sekedar formalitas biasa.

GREEEEEK!

Yammy mengeluarkan geraman saat mendengar pintu sel terbuka. Jarangnya pintu itu terbuka, membuat suara derikan yang diciptakan besi karatan itu lebih membahana di tengah sunyinya malam. Suara langkah ringan serta gemerisik kain terdengar berikutnya. Ia membalikkan tubuhnya, tidak mau bertemu dengan siapa pun yang bermaksud menemuinya. Ia yakin tamunya malam itu bukanlah Kurosaki, atau pun Arrancar lain yang sudah membuangnya ketepian seperti ini.

Seseorang yang lain.

Yang dari reiatsunya sudah bisa ia tebak sebagai siapa.

Manusia.

"Selamat malam, Yammy-san." Suara lembut seorang gadis muda terdengar begitu dekat. Refleks Yammy mendengus mendengar perubahan suara dari sang gadis. Ia yakin saat pertama bertemu dengan sang gadis, dulu suaranya begitu menyebalkan. Begitu terkesan lemah. Tapi, sekarang terdengar begitu berbeda.

Terkesan... kuat.

"Apa yang kau inginkan, Onna?"

Orihime menelan ludah, tetapi ia sudah bertekad untuk tidak takut. Sempat berada cukup lama diantara lingkaran para Espada membuatnya cukup bisa bertindak, mengetahui bagaimana cara terbaik baginya untuk berhadapan terhadap setiap personil.

Lagipula, ia membutuhkan bantuan sang Zero Espada untuk apa yang ingin ia lakukan saat ini.

Ia tidak akan mundur begitu saja, apa pun yang Yammy lakukan padanya.

Tarikan nafas pelan, "Yammy-san... Aku ingin mengajukan kesepakatan padamu."


"... Kenapa lagi-lagi harus aku yang turun tangan?"

Wajah Grimmjow tertekuk. Pandangan kesal ia lemparkan pada wanita Arrancar bersurai hijau yang duduk berseberangan dengannya. Ia mendengus, dan berlanjut membuang muka. Ia yakin kalau Nelliel pun termasuk Arrancar yang kuat, begitu juga Harribel, tetapi entah kenapa selalu saja pekerjaan semacam keributan antar Hollow yang saling berebut Beta pada saat musim kawin seperti sekarang ini diberikan kepada dirinya.

Dia yang seorang raja.

Yang seharusnya memerintahkan, bukan diperintah.

Bukannya ia merasa pekerjaan yang diberikan kepadanya itu merupakan pekerjaan yang berat, bukan pula karena ia merasa dirinya tidak mampu—yang benar saja. Dia? Grimmjow Jaegerjaquez, Raja Hueco Mundo, merasa takut menghadapi Hollow liar? Hell no—Tapi hari ini ia sudah berjanji pada Ichigo untuk menemaninya keliling Las Noches.

Yah, walaupun sudah hampir 2 bulan Ichigo berada di sini, tapi sang Beta masih juga belum bisa mengingat seluk-beluk Las Noches secara keseluruhan.

Grimmjow tidak menyalahkannya.

Benar kok.

Dengan semua tempat serba putih dan tidak ada penanda, atau pun hiasan, sudah pasti akan memudahkan seseorang untuk tersesat. Tapi, kelihatannya memang hal itulah yang menjadi tujuan Aizen untuk membangun tempat ini menjadi seperti sekarang ini. Agar musuh-musuhnya yang berhasil menyerbu masuk, merasakan kebingungan dan membutuhkan waktu lama mencapai throne room.

Fucking genius.

"Hmm... Coba kuingat-ingat..."

Grimmjow bisa merasakan denyut kekesalan di keningnya berdenyut saat mendengar kata-kata Nelliel. Wanita itu kini mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu, seolah memang benar-benar berpikir.

"Aku dan Tesra tidak bisa karena masih harus membersihkan perpustakaan yang—kau ingat tentunya gara-gara siapa benda itu berantakan bukan?"

Tentu saja.

Grimmjow tidak mungkin lupa karena dirinyalah yang membuat tempat itu berantakan ketika bertengkar hebat dengan Shiro. Kalau tidak salah, sekitar kurang-lebih dua hari yang lalu.

Melihat Grimmjow yang nampak mulai memikirkan kata-katanya, Nelliel melanjutkan, "Harribel hari ini mendapat tugas untuk melatih para Arrancar agar mereka siap dengan apa pun yang datang nanti. Aku tidak akan pernah mengizinkan Szayel menjauh sedikit pun dari Las Noches karena kita jelas-jelas membutuhkan kemampuannya kalau-kalau terjadi sesuatu pada Ichigo, atau pada kandungannya." berhenti sejenak, "Dan Shiro... Well, katakanlah, harus antara kau atau Shiro yang ada disebelah Ichigo. In case, Ichigo membutuhkan sesuatu dari Alphanya—percuma saja kau mau melempar kursi itu padaku, Grimmy, kau sendiri tahu kalau Shiro yang merupakan bagian dari Ichigo pun merupakan Alpha dari Ichigo."

Geraman penuh kekesalan kembali keluar dari sela-sela bibir Grimmjow saat mendengar kata "Shiro" dan "Alpha" serta "Ichigo" digabungkan menjadi satu. Ia tahu apa yang dikatakan Nelliel adalah benar, tetapi sisi dirinya yang posesif tetap tidak bisa terima kalau Betanya itu memang ditakdirkan untuk memiliki dua Alpha.

Kekesalannya itu tidak membuncah karena ia juga menyadari, kalau Shiro tidak pernah memikirkan hal yang berbau seksual kepada Ichigo, begitu pun sebaliknya.

Kalau sampai hal itu terjadi...

Dengan enggan Grimmjow menurunkan kursi ruang pertemuan yang ia maksudkan untuk dilempar ke arah mulut Nelliel. Helaan nafas panjang keluar dari mulutnya, bersamaan ketika ia mendudukkan kembali dirinya di kursinya. "Grr... Di saat seperti ini, aku berharap si Emo masih ada di sini dan menghandle semuanya seperti biasanya."

Kata-kata Grimmjow itu hanya menadapatkan balasan singkat dari Nelliel yang juga ikut menghela nafas, "Kau benar."

Kalau dia, pasti bisa mengatasi masalah kekurangan orang di Las Noches ini.


Jika dikatakan kesal, memang benar sih... Tapi, juga lebih dari itu.

Menendang batu dihadapannya hingga terpental beberapa meter darinya, Ichigo menatap pasir di bawahnya seolah pasir tersebut merupakan pelaku utama yang sudah membuatnya merasa ingin menggunduli seluruh sisi Menos forest. Hanya saja di sisi lain, ia juga tahu kalau bukan keinginan Grimmjow untuk mengingkari janji. Kewajiban sang Alpha sebagai Raja itulah yang mengharuskannya sibuk kesana-kemari.

Kenapa Grimmjow harus menjadi Raja segala? Kenapa tidak Harribel saja yang juga kuat?

Sementara Shiro yang hanya bisa memandang Ichigo beberapa langkah di belakang, sama sekali tidak berani maju mendekat selangkah pun. Sebab aura yang memancar keluar dari tubuh sang Beta itu beracun. Ia yakin itu. Rasanya seperti yang kalau ia melangkah dua langkah lagi saja, maka tubuhnya akan meleleh dan menyatu dengan air sungai Feritas. Perbatasan antara neraka dan surga.

Beta yang moodnya naik-turun karena kehamilan itu jauh lebih mengerikan daripada melihat Yamamoto Genryuusai mengagumi ototnya sendiri di cermin.

"Hei, Quee—m, maksudku... K, King..." Dengan sigap Shiro mengkoreksi kata-katanya ketika Ichigo mendadak menatapnya dengan pandangan siap meleburkan dirinya menjadi abu. No, thanks! Satu-satunya yang ia inginkan di dunia ini adalah tidak berakhir seperti Ulquiorra! Shiro berdehem, bermaksud melanjutkan perkataannya kembali, "Bagaimana kalau aku saja yang menemanimu keliling Las Noches? Aku sudah hafal tempat ini lho."

Ichigo menghela nafas, "Tidak mau. Grimmjow yang sudah berjanji itu lebih dulu."

Kalau boleh jujur dikatakan, sebenarnya Shiro merasa Ichigo itu imut ketika dengan polosnya bersikap manja kepada sang Alpha. Tapi, ia tidak berani mengatakannya terus-terang. Tahu kalau sampai Ichigo mendengarnya, ia akan dijadikan pakan burung.

Jauh lebih buruk daripada dijadikan makanan Hollow.

Shiro menghela nafas pendek dan menyilangkan kedua lengannya di belakang kepala. Karena Ichigo tidak mau keliling Las Noches jika tidak bersama Grimmjow, jadi dirinya akan membiarkan saja Ichigo jalan-jalan di luar Las Noches sekarang ini. Ia cukup mengawasi saja dari belakang. Walau pun sebenarnya, Grimmjow sampai sekarang ini masih melarang Ichigo untuk keluar dari Las Noches, tapi Shiro merasa sudah waktunya sang Beta merasakan udara segar di luar agar tidak terlalu suntuk.

Nanti Grimmjow mau marah atau tidak, ia sama sekali tidak peduli.

Karena dirinya tidak pernah terpikirkan untuk berlutut kepada sang Arrancar bersurai biru. Walau secara tidak langsung, Grimmjow juga memang merupakan rajanya.

Ia Hollow, ingat?

Yah... Walau sekarang sudah bukan lagi—

Cepat.

Di dunia ini akan selalu ada yang lebih cepat dari yang tercepat, dan akan selalu ada yang lebih baik dari yang terbaik. Shiro sama sekali tidak merasakan kehadirannya. Yang ia tahu adalah ketika ia mendengar suara yang berdesir keras, menghantam kepadanya, membuat tubuhnya terpental jauh.

Dan ia juga bisa mendengar teriakan Ichigo yang memanggil namanya.

"SHIRO!"

Yeah, seperti itu.

"Gah! —AHAK!" Pukulannya telak, membuatnya merasakan sakit pada sekujur tubuhnya. Ia gelengkan kepala, bermaksud memperbaiki pandangannya yang terasa berputar. Tangannya bergerak, berusaha menyingkirkan puing-puing batu besar yang menimpanya ketika tubuhnya secara tidak sengaja menabrak salah satu sisi dinding Las Noches hingga berlubang. Darah segar yang menuruni kepala, benar-benar mengganggu penglihatan Shiro.

"SHIRO! SHIROO!"

"Gh—" Tidak yakin bisa berteriak dengan jarak yang ada, dan tubuh yang sakit di sana-sini, Shiro melambaikan tangannya, memberikan tanda pada Ichigo kalau ia masih hidup. Shiro kemudian mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menyingkirkan darah dari ruang penglihatannya. Ketika penglihatannya sudah membaik, ia langsung menatap ke arah di mana ia yakini Ichigo berada. Gigi-giginya menggeretak ketika akhirnya bisa mengetahui siapa yang barusan menyerangnya.

Yang lengan ber-haori putihnya tengah melingkar di pinggang Ichigo, menahan agar pemuda bersurai oranye itu tidak bisa lepas sekeras apa pun memberontak.

"Kau...!" geram Shiro.

"Scatter, Senbonzakura Kageyoshi."

Yang Shiro ingat adalah ekspresi horor Ichigo dan teriakan yang memanggil namanya berkali-kali, sebelum kemudian gelap.

Shit.

Grimmjow pasti akan mengamuk.


TBC


Oh, sekalian ingin mempromosikan cerita milik senpai saya yang baru bergabung dengan FFn. Saya jamin, kalian ga akan dikecewakan dengan drama yg dia suguhkan ;) ht tp :/ /www. fanfiction. net/s/8109058/1/Every_Little_Thing