Terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia mereview pada chapter sebelumnya ^^
AngeLEviL: Gomen... Gomen... ^^' Kayak yg saya bilang sebelumnya, lagi banyak kerjaan, tapi sekarang mendingan kok. Pertanyaan kamu, terjawab di chapter ini ya~
D: Ohohoho... Begitulah~ Orihime punya rencana sendiri kenapa dia ga ngerasa was2 pas ga dipulangin bareng Rukia dkk sama Shiro :) Kalo Grimmy ada bareng Ichi terus, Byakuya ga bakalan bisa nyuliiikk~ XD
GheeNa Black: Iya dong~ Kan ga bakalan dihentikan di tengah jalan ini cerita. Apalagi banyak yg support kayak gini :"| Iyep. Chapter lalu itu emang pendek, soalnya emang sebage chapter pembuka ke puncak cerita sih XD" Chapter sekarang ini agak panjang kok.
D-N-D Mozaik: Gomen... Gomen... ^^' Baru bisa selesai sihh. Ini saya usahakan ga selama kemarin sih :D
Grazee: Yep. GrimmIchi-nya dipuasakan dulu ya sampe 1 atau 2 chapter ke depan~ Setelahnya bakalan full GrimmIchi lagi kok. Sekarang kan waktunya mendrama dulu ^o^ *plak*
seishi: Oh, halo, Seishi~ Salam kenal :) Hehehe... Baguslah kalau virus saya bisa menyebar sampe ke kamu juga. Seneng deh ada GrimmIchi lover lagi :") Kuterima semangatmu dengan penuh bara api! ^o^)9 *plak*
Nara Hikari: Ini saya usahakan update secepat yg saya bisa n ga selama yg kemarin ini XD"
seishi: Hehehe... Halo, Seishi, salam kenal ;) Sankyuu atas semangatnya, saya bakalan ngusahain yg terbaik deh~
Black angle: Yaaay! Selamat, tebakanmu bener! Tapi mana yg benernya, liat di chapter ini aja ya ;)
kamizuru: Kalo ditanya kemana... ya namanya juga kemarin lagi kerja jadi agak berat ngebagi waktunya. Tapi, akan saya usahakan seminggu sekali deh~ ;)
Aoi Namikaze: ...hah? 'A' Grimmy ga lagi dihadang siapa2 koook. Hayooo, salah inget~ XD
Terima kasih juga untuk yang sudah login dulu sebelum mereview: nanao yumi / Zanpaku Nightfall Akenomyosei / Aoi LawLight / chiisana yume / ori tsuki / jigoku no hime / himemiku / UchiKaze No SasuNaru / Mizuki Rara Chessie juga yang sudah menambahkan fic ini ke daftar alert dan fave kalian~ Kalau ada nama yg tertinggal, silakan bunuh aja saya (TT_TT) Tapi, itu artinya jadi ga bakalan ada update lagi! MUAHAHAHAHA! *dibuang ke laut*
Sweet Baby Berry
Chapter 13
Yang ia tahu betul adalah bahwa dirinya tengah berjalan di bagian luar Las Noches sembari memperhatikan pasir putih Hueco Mundo yang mengingatkannya kepada salah satu pantai di Karuizawa yang pernah ia kunjungi ketika masih kecil dulu. Ia juga ingat tengah berbincang dengan Shiro... dan bersungut-sungut karena Grimmjow lagi-lagi dibuat membatalkan janji dikarenakan pekerjaannya sebagai seorang raja.
Tapi, sekarang...
"LEPASKAN AKU!"
Sambil berjalan—atau lebih tepatnya, ditarik-tarik—keluar dari Senkaimon, Ichigo terus berusaha melepaskan diri dari genggaman sang kapten divisi 6 yang nampak mulai kesal karena pemberontakannya.
Jika dikatakan kaget, sebenarnya lebih daripada itu. Ichigo sama sekali tidak menyangka kalau tadi Byakuya akan mendadak muncul dan menyerang Shiro begitu saja. Ia memang sudah pernah mengira kalau teman-temannya akan menyusulnya kembali ke Hueco Mundo, mengingat percobaan pertama mereka gagal dan malah membuat Orihime 'menetap' di sana. Tapi, keterlibatan seorang Kuchiki Byakuya sama sekali tidak pernah terlintas di benaknya.
Dan bahkan pria itu berhasil menyelinap seorang diri, tanpa diketahui oleh siapa pun.
... Mengalahkan Shiro dalam dua kali serangan.
Ichigo menggertakkan gigi. Ia cemas. Saat dirinya dibawa pergi, pemandangan yang terakhir kali ia lihat adalah tubuh mantan Hollow-nya yang tergeletak di antara puing-puing bangunan, bersimbah darah. Entah masih hidup atau tidak... Ringisan pelan ia keluarkan. Tidak bisa ia bayangkan kalau Shiro mati begitu saja. Mereka sudah bersama-sama sejak lama, dan walau pun awalnya sering berselisih, tetapi tidak ada yang lebih mengerti dirinya dibandingkan sang Hollow.
Shiro adalah dirinya. Dan dirinya adalah Shiro.
Kalau Shiro mati, sama saja dengan setengah dari dirinya mati.
Kami-sama... Semoga Nel atau Hal mengetahui keadaan Shiro tepat pada waktunya.
Hampir saja terjatuh karena tersandung sesuatu, Ichigo menengadahkan kepalanya untuk menatap ke arah wajah Byakuya. Kedua alisnya berkerut tajam karena kentara sekali pria itu tidak akan mau mendengarkan apa pun yang ia katakan. Mengalihkan pandangan kepada tangan yang menggenggam erat tangannya, namun baru saja Ichigo membuka mulut dengan niatan menggigit, mendadak tangan Byakuya yang lain menutupi mulutnya.
"Kau bodoh kalau beranggapan seorang kapten akan langsung kalah dengan gigitan saja, Kurosaki."
Mengerutkan dahi semakin dalam, Ichigo hanya membalas perkataan itu dengan tatapan marah saja. Ia mendengus kesal ketika akhirnya tangan Byakuya menyingkir dari mulutnya.
Akhirnya, mau tidak mau ia pun berjalan mengikuti langkah sang Shinigami walau masih bersungut-sungut di dalam hati.
... Hanya sampai ketika kakinya menginjak tanah tepat di depan Urahara Shoten.
Ichigo bahkan tersentak kaget ketika Senkaimon di belakangnya kembali tertutup, membuatnya menoleh ke belakang dan hanya mendapati pemandangan dunianya yang biasanya. Tetapi, walau pun saat ini ia tengah berada di dunia yang merupakan dunia aslinya, entah mengapa ia merasa tidak tenang. Bisa ia rasakan debaran jantungnya yang perlahan semakin bertambah cepat.
Ia bahkan seolah merasa sulit bernafas ketika seseorang memanggil namanya.
"Ichigo!"
Ia lihat seorang gadis bertubuh mungil dan bersurai hitam berlari ke arahnya, "Nii-sama, kau berhasil!" Rukia. Juga beberapa orang lainnya, yang bisa dengan mudah langsung ia kenali.
Renji, Chad, Uryuu, Yoruichi, dan Urahara.
Ketika kedua iris violet Rukia beradu pandang dengan kedua iris cinnamon -nya, secara refleks Ichigo meraih punggungnya, dengan maksud mengambil Zangetsu... hanya untuk menemukan kalau Zangetsu tidak ada di sana.
Dan ketika itulah ia kembali ingat, kalau dirinya selama ini terus berada dalam wujud manusianya.
"Ichigo, syukurlah, kau baik-baik saja? Bagaimana Orihi—" perkataan Rukia langsung terputus saat tangannya yang terjulur ke arah Ichigo ditepis. Dengan kedua mata membelalak, gadis bertubuh mungil itu menatap penuh keheranan ke arah sang pemuda berambut oranye... yang menatapnya dengan pandangan... apa itu rasa takut yang dilihatnya? "... Ichigo?"
Seolah baru saja menyadari apa yang dilakukannya, kedua mata Ichigo pun membelalak. Dengan kedua pandangannya itu, bisa ia tangkap ekspresi kaget dan bingung dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Kecuali ekspresi Urahara yang sebagian wajahnya tertutupi oleh bayangan topi dan sebagian lainnya tertutup oleh kipas yang dipegangnya.
Apakah Urahara tahu?
Pria mantan Shinigami itu biasanya selalu mengetahui hal yang tidak diketahui orang lain, jadi ia pun tidak akan kaget jika pada kenyataannya Urahara sudah mengetahui kondisinya saat ini. Walau pun ia berharap penuh kalau pria itu tidak akan pernah tahu.
Ia sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh para Shinigami jika sampai tahu mengenai dirinya yang menjadi pasangan seorang Arrancar, terlebih memiliki anak dari makhluk yang seharusnya adalah musuh.
Dihabisi.
Bukan hanya dirinya, tetapi juga bayi-bayinya.
Ia tidak mau itu...
Membuang muka, Ichigo perlahan memeluk perutnya sendiri dengan kedua lengannya. Bisa ia rasakan dengan mudah bulatan yang menonjol di perutnya, lebih besar daripada sebelum-sebelumnya. Kalau saja, ia masih mengenakan bajunya yang dulu, dan bukan mode kebesaran seperti sekarang ini, pastinya bentuk perutnya itu akan langsung terlihat.
Dan semuanya akan langsung ketahuan.
Karena saat itu Ichigo agak menunduk, ia sama sekali tidak menyadari kalau Urahara menatap ke arahnya dengan tatapan penuh selidik, begitu pula dengan Chad dan Byakuya. Ia bahkan tidak menyadari Renji yang sudah berada tepat di hadapannya. Kedua iris sang Shinigami bersurai merah itu memicing, merasakan ada sesuatu yang ganjil pada sang Shinigami daikou di hadapannya itu.
"Ichigo... Kau masih teman kami, 'kan?" tanyanya. Saat itu Ichigo nampak tersentak kecil, dan Renji semakin mengernyitkan dahi. Ia yakin Ichigo mengerti maksud dari perkataannya. Dan kalau sampai remaja itu bersikap seperti yang tertangkap tangan melakukan hal yang tidak boleh dilakukan, maka... tidak akan aneh kalau asumsinya jadi buruk bukan? Memikirkannya, tanpa disadari, Renji jadi menggeram hingga membuat Ichigo mengambil langkah mundur. "Jangan-jangan apa yang dikatakan Kon itu benar?"
"Renji..." Tidak ingin mendengarkan keributan yang tidak perlu, Rukia menarik lengan shikakusho Renji. Tapi, yang bersangkutan sama sekali tidak bergeming.
"... Apa benar... Kau menghampiri Arrancar berambut biru itu dengan sukarela?"
Ichigo tersentak kaget mendengar nada kasar yang dikeluarkan oleh sahabat bersurai merahnya itu. Ia memang sering mendengar Renji yang kesal dan berbicara dengan kata-kata kasar, tapi tidak pernah semua itu diarahkan kepadanya kecuali ketika dirinya lagi-lagi "memaksakan diri" seperti apa yang pria itu pernah katakan.
Tidak sabar mendengar jawaban Ichigo, Renji mengambil langkah maju semakin mendekati sang pemuda yang hanya diam tertunduk, "Ichigo... Jawab." Suara yang ia keluarkan kala itu menggambarkan sebuah perintah, tidak mau ia tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Kedua telinganya mendengar bisikan keluar dari sela-sela mulut Ichigo, "... Apa? Katakan lebih jelas lagi." Sayangnya ia sama sekali tidak menyangka jawaban yang diberikan oleh Ichigo selanjutnya, sehingga kedua matanya langsung terbelalak lebar dan mulutnya menganga. Ia juga tidak begitu yakin, tapi ia yakin mendengar tarikan nafas kaget dari Rukia.
Sang Shinigami daikou saat itu tidak lagi menunduk, sepasang iris cinnamon miliknya menatap lurus kepada kedua iris russet Renji. Dan pria bersurai merah yang lebih tinggi darinya itu bisa melihat ketegasan dan kebenaran dari apa yang ia utarakan.
"Iya."
Satu kata.
Hanya satu kata, tetapi sanggup mengubah suasana di sekitarnya dalam sekejap. Mengubah tatapan, dan pandangan orang-orang yang ada di sana terhadapnya.
Ichigo bahkan tidak akan kaget jika pada kenyataannya, salah satu dari mereka akan membenci dirinya.
Yang ia khawatirkan hanyalah nasib dari bayinya dan Grimmjow. Karena itu, ia akan lakukan apa pun agar tidak terjadi hal buruk terhadap keduanya.
Yeah, apa pun akan ia lakukan.
Termasuk mengorbankan dirinya sendiri, asalkan orang-orang yang—entah sejak kapan—ia cintai itu bisa terus hidup.
Membuka mulutnya, Ichigo bermaksud menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada teman-temannya, "Dengar, Renji... Aku—Argh!" Namun, rasa sakit yang mendadak terasa di daerah perutnya membuatnya memutuskan apa pun yang hendak dikatakannya. Ichigo membungkuk, kedua tangannya secara otomatis langsung memeluk kembali perutnya. Kedengarannya mengerikan, tetapi rasanya ia bisa merasakan 'sesuatu' di dalam perutnya itu bergerak, seolah mencari jalan keluar.
Dan tanpa perlu mengandalkan insting Hollow-nya, Ichigo bisa langsung tahu apa artinya.
Walau waktunya salah, karena ini terlalu cepat.
"ICHIGO!" Rukia memekik saat melihat Ichigo yang mendadak tersungkur ke depan. Beruntung Byakuya yang ada di sebelahnya bereaksi cepat dengan menangkap tubuh sang remaja. Bisa ia lihat wajah Ichigo yang pucat, namun keringat bercucuran dari keningnya, sementara lengan kanannya memegang erat haori yang dikenakan oleh Byakuya, dan lengan kirinya memegang... perut? Kedua mata membelalak lebar, Rukia akhirnya melihat dengan jelas kalau perut Ichigo saat itu jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Tapi, belum sempat pikiran gadis Shinigami itu bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi, suara tepukan terdengar, memancing perhatian semua orang yang ada kepada sesosok pria bertopi hijau garis putih yang tersenyum sangat lebar.
"Jangan khawatir, Kurosaki-san~! Aku bisa membantu proses persalinanmu dengan mudah~!"
Grimmjow tersentak bangun dari duduknya, membuat kursi yang tengah didudukinya jatuh terguling, menarik perhatian Nelliel yang tengah membantu Szayel membalutkan perban pada luka yang diderita Shiro. "Grimm?" wanita bersurai hijau itu menghentikan aktifitasnya dan melangkah mendekati sang Arrancar bersurai biru, "Grimm, ada apa?" tanyanya dengan penuh perhatian.
Tidak yakin dengan apa yang tengah dirasakannya, kedua iris azure Grimmjow berkeliaran di dalam ruangan laboratorium. Entah apa yang sebenarnya tengah ia rasakan, ia hanya merasakan kalau dirinya tidak seharusnya berada di sini, dan keinginannya untuk pergi begitu saja begitu besar, sampai-sampai ia tidak sadar kalau dirinya sudah berlari keluar ruangan dan Harribel menyengkat salah satu kakinya.
Mengerang kesakitan saat wajahnya berbenturan dengan lantai batu Las Noches, Grimmjow mendongakkan kepala demi melemparkan tatapan 'annoyed' ke arah sang mantan Espada nomor 3 yang tengah menyilangkan kedua lengannya di bawah dada besarnya sembari menatap tajam ke arahnya.
"The fuck yer problem, Hal?"
Harribel menghela nafas pendek. Dengan penuh tenaga ia hantamkan kakinya ke punggung Grimmjow yang berusaha berdiri untuk melanjutkan larinya, "Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu, Grimmjow," utaranya dengan nada tenang seperti biasanya, "Kau tiba-tiba berlari keluar ruangan tanpa mengatakan apa pun, bahkan ekspresimu nampak seperti wajahmu tengah ditempeli kotoran."
"Fucking funny, Harribel." Grimmjow mendengus. Ia kembali memberontak, berusaha menyingkirkan kaki Harribel yang masih terus menekannya. Sialnya, wanita itu bisa menjadi kuat ketika diinginkan, dan entah kenapa ia selalu kalah kuat. Ia menggeram, "Singkirkan kakimu, Hal. Aku harus ke tempat Ichigo." Walau ia yakin saat ini para Shinigami tidak berbuat macam-macam kepada sang Beta, tetapi Grimmjow tidak bisa menyingkirkan perasaan kalau Ichigo saat ini membutuhkan kehadirannya.
Menambahkan tenaga pada kakinya, Harribel memicingkan kedua matanya saat menatap ke arah kedua mata Grimmjow yang juga menatap ke arahnya dengan penuh tantangan. Ia tahu Grimmjow serius, ia juga tahu kalau pria itu tengah merasakan sesuatu—yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain—yang berhubungan dengan Ichigo, tetapi ia juga tahu kalau mereka tidak bisa bergerak seenaknya. Mengingat jumlah mereka jelas-jelas kalah jauh dengan jumlah para Shinigami yang ada.
Winter War sudah menghabiskan sebagian besar Arrancar yang ada.
Ketika ia menemukan Shiro tergeletak penuh darah di halaman luar Las Noches, dan tidak bisa menemukan Ichigo di mana pun, walau awalnya ia sempat menyangka Yammy yang mendadak hilang dari selnya-lah yang menjadi penyebabnya, tetapi pikiran itu langsung terbantahkan ketika ia bisa merasakan reiatsu yang rasanya sudah tidak asing lagi, walau tipis, terasa di sekitarnya, ia sudah bisa menarik kesimpulan dengan apa yang baru saja terjadi.
Walau hal itu tetap tidak menjawab pertanyaan Nelliel yang tengah bingung mencari Orihime.
"Kita sudah sepakat untuk menyusun rencana damai dengan para Shinigami, bukan, Grimmjow?" Jawaban dari perkataan Harribel itu hanyalah sebuah geraman, dan pria itu lagi-lagi berusaha bangkit dari posisinya. "Aizen sudah tidak ada, tidak ada gunanya kita terus bersitegang dengan para Shinigami. Lagipula..." jeda sejenak, "... Perjanjian damai itu akan membantu hubunganmu dan Ichigo."
Sayangnya, yang menjadi masalah sekarang adalah siapa yang akan mereka gunakan sebagai perantaranya.
Grimmjow dan Nelliel sudah jelas tidak mungkin karena sifat mereka yang cenderung mudah terprovokasi. Tesra memang merupakan orang yang berkepribadian tenang, tetapi sayangnya ia mudah merasa terintimidasi, apalagi dengan lawan yang diketahui lebih kuat darinya. Szayel, jelas tidak mungkin. Sifat narsis Arrancar bersurai pink itu akan menjadi penghalang tertebal. Sedangkan dirinya sendiri... Ia tipe yang akan langsung melangkah pergi kalau memang sudah merasa percuma. Dan jika melihat masa lalu, para Shinigami selalu merasa merekalah yang paling benar, dan hal itu sudah cukup untuk membuat dirinya merasa 'percuma'. Tapi, tetap mereka memerlukan angkat senjata ini.
Seperti yang ia katakan tadi, demi kebaikan Ichigo dan juga Grimmjow.
Kumpulan reiatsu yang mendadak memasuki Las Noches membuat Grimmjow dan juga Harribel langsung berada dalam mode siaga. Keduanya sama-sama bisa mendengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat. Dan ketika pandangan mereka mulai bisa menangkap siapa yang sebenarnya sudah seenaknya menerobos masuk, mata keduanya melebar, dan Grimmjow yakin saat ini rahangnya menyentuh tanah.
"Harribel-san, Grimmjow-san, tadaima~!" Dengan penuh semangat dan wajah yang berseri-seri, Inoue Orihime melambai ke arah kedua Arrancar yang hanya bisa berdiri membatu.
Oh, bukan. Grimmjow dan Harribel nampak shock bukan karena kehadiran Orihime yang tiba-tiba setelah menghilang selama semalaman, bukan juga karena kenyataan bahwa gadis itu tengah duduk dengan tenang di atas pundak Yammy yang sebelumnya diyakini telah melarikan diri, tetapi karena keberadaan sesosok pria berkulit pucat yang sepasang iris emerald-nya tengah menatap mereka dengan tatapan seolah mereka adalah orang-orang yang tidak pantas untuknya membuang waktu.
Tatapan yang tidak asing lagi, yang sebenarnya sudah akrab mereka terima beberapa tahun yang lalu.
"Kalian sama sekali tidak berubah, Trash."
TBC
Eng ing eng~ Pemain baru muncuuuuul~ XDDD
