HAPPY GRIMMICHI DAY, FOLKS! \( ^ A ^ )/

A/N: Akhirnyaaa... Akhirnyaaa apa yg beberapa hari ini jadi perhatian utama saya selesai juga! YAY! Sekarang saya bisa kembali berkonsentrasi penuh pada fic ini :9 Gomen na, udah bikin kalian nunggu lama untuk update ^^; Tapi, mungkin kalian bakalan suka dengan apa yang saya rekomendasiin. Kalau ingin tahu, jangan lupa baca A/N di akhir chapter ini :3

Sesi curhat: Sebenernyaa... Saya tuh lagi agak-agak bete sama FFn. Beberapa dari kalian mungkin ada yg sadar kalo fanfic saya yg berjudul "Ichigo" itu ngilang. Itu bukan saya yg hapus, tapi admin FFn dan saya sempet di-banned selama beberapa waktu. Hauu... Untungnya cuma di-banned dari upload cerita sihh, ga sampe di-banned as member. Saya denger di fandom luaran ada yg di-banned keanggotaannya. Kayaknya FFn jadi "strictly" banget ya... Padahal yg lalu-lalu ga pernah sampe besar-besaran kayak begini. Aih, sempet terpikir untuk pindah ke tempat lain, tapi tampilannya ga ada yg senyaman di sini. AO3 sebenernya oke sih, tapi sering bermasalah sama refresh. Bikin males. *swt* Mungkin... Kalo sampe sekali lagi saya kena banned, saya bakalan totally pindah dari sini ==a

Terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia mereview pada chapter sebelumnya ^^

surreaLife: Ah, halo, Neyuu, salam kenal~ Aih aihhh seneng deh kalo fans GrimmIchi bertambah, itu udah jadi harapan saya semenjak memulai bikin fanfic GrimmIchi di sini :) Baguslah kalau niatan saya itu terjawab dgn positif. Mengenai judul fanfic yg kamu bilang itu... aduh, saya ga tau ya. Itu dari fandom Bleach Indonesia kah? Kalo iya, saya sendiri sebenernya kalo baca itu di fandom Bleach Inggris. Baca di FBI itu baru kalo diminta aja... *swt*

anon: Yepp... Ichi hamilnya cuma seumur jagung~ 70 hari kayak waktu kehamilan kucing. Anggep aja karena ressureccion-nya Grimm kayak... "begitu", makanya saya pake teori yg ini ^^;

D: Muhuhuhu... Biar Grimm kaget pas dia ngerebut lagi Ichi, udah ada tambahan beberapa lagi ;)

chy karin: Ehee... Makasih, say~ :) Saya ga akan ninggalin ini cerita n pasti jalan sampe tamat kok. Tenang aja ;)

GheeNa Black: Muhuhuhu... Kita liat aja jawaban pertanyaan kamu di sini yaa~ ;) Semoga suka~

Kei: Eh, halo saudara senama! 'A')/ *apeu* Tebakan kamu... 100 deh ;)

F . Freyja: Ah, WCMTP yaa... Itu bakalan di-update setelah SBB ini selesai kok~ Harusnya sih ga lama lagi kalo saya bisa update dengan cepet. Doakan aja~ ;D

zen hikari: Wkwkwk... Selamat datang kembali kalo begitu~ ;)

iztha dark neko: Hmm... kita liat aja ya, bisa lebih panjang atau ga. Sesuai kebutuhan juga sih soalnya :9

Luciffer: Iyaahh, begitulah... Lahirannya prematur. Kalo diitung umur kehamilan manusia, jatohnya tuh di bulan ke-8. Mengenai Ulquiorra, kita liat nanti aja ya dia nasib akhirnya bakalan gimana :)

anon_2: Hmm... Kan udah saya bilang di awal2, kalo untuk cerita ini per chapter-nya emang lebih pendek dari fanfic saya yg lain =)) Untuk semacem stabilisasi. Keder soalnya kalo panjang2 semua =))" *bletakk*

Tia Hanasaki: Jawaban dari pertanyaan kamu, bisa ditemukan nanti kok. Tunggu aja ya ;)a

Terima kasih juga untuk yang sudah login dulu sebelum mereview: Arya Angevin / Aoi LawLight / chiisana yume / widi orihara / Zanpaku Nightfall Akenomyosei / jigoku no hime / nanao yumi / D-N-D Mozaik / iztha dark neko / UchiKaze No SasuNaru / DeVIL MaGNAe RIn / Minami Riru


Sweet Baby Berry

Chapter 14


Sebagaimana layaknya seorang ayah, Isshin mondar-mandir dengan tidak tenang di ruang tamu rumahnya. Tidak ada lagi kekonyolan yang sengaja ia keluarkan untuk mengurai rasa khawatir yang ada pada dua orang putrinya yang kini juga duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri. Yuzu, dengan kepalanya yang menunduk, menggigiti bibir bawahnya sembari memainkan ujung terusan yang tengah dikenakannya. Sementara Karin mengerutkan dahi dan menatap sebal ke arah sang ayah yang tidak juga mau diam padahal sudah ia katakan kalau kelakuannya itu tidak akan membawa Ichigo pulang lebih cepat.

Mereka sudah mendengar kabar beritanya dari Rukia, mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Ichigo. Berbeda dengan dirinya dan sang ayah yang memang sudah benar-benar tahu mengenai apa itu Shinigami dan Soul Society, Yuzu masih terus beranggapan kalau ada seseorang yang menculik sang kakak. Tidak sepenuhnya salah sih, hanya tanpa kata "Arrancar" dan "Hueco Mundo" yang menyertai peristiwa penculikan itu.

Tidak asingnya reiatsu yang memasuki kediaman Kurosaki dikemudian, membuat Isshin menghentikan langkahnya, menolehkan kepalanya untuk kemudian bertemu pandang dengan Renji yang menatapnya dengan ekspresi masam. Mendapati ekspresi yang memiliki arti tidak baik itu, kedua pundak Isshin terasa kaku, bahkan Karin dan Yuzu pun berdiri dari tempat mereka duduk dan berjalan mendekat.

Hening.

Renji tidak juga kunjung mengatakan sesuatu dan perlahan-lahan kesunyian yang ada semakin membuat tidak nyaman Isshin. Pria itu menelan ludah, dan dengan wajah seriusnya yang jarang sekali ia gunakan, bertanya lebih dulu, "... Bagaimana? Bagaimana dengan Ichigo?" Suaranya saat itu agak bergetar akibat kekhawatiran mendalam yang sudah wajar dirasakan oleh seorang ayah yang kehilangan kabar berita anaknya selama hampir 3 bulan.

Mengalihkan pandangan kedua bola matanya, Renji mulai terlihat grogi. Ia menggaruk tengkuknya, memikirkan apa yang sebaiknya ia katakan... karena sejujurnya ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia katakan.

Isshin yang sudah tidak sabar lagi untuk segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, meraih kerah shikakusho Renji dengan kasar dan mengadu kening mereka berdua. Ia menggeram, "CEPAT. KATAKAN. DI MANA. ICHIGO?"

Tidak pernah sebelumnya melihat Isshin yang begitu marah, Renji jadi tergagap-gagap menjawab. Dan ketika kerahnya semakin ditarik, Shinigami bersurai merah itu pun meninggikan suaranya, "Aaah! Iya! Iyaa! Ichigo saat ini tengah ditangani oleh Urahara karena dia mau melahirkaaaan!" Tidak menyadari kebisuan yang melanda tiga Kurosaki di dekatnya, Renji terus saja melanjutkan perkataannya, "La-lalu, Urahara bilang dia membutuhkanmu karena kemungkinan bayi Ichigo... lebih dari... satu... Euh... Kurosaki-san?" Ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Isshin yang nampak begitu shock dan... putih.

Sweatdropped, Renji menyadari kalo Isshin saat itu pingsan sambil berdiri.

Yah, siapa yang tidak akan?


Sakit.

Tidak ada yang lain yang bisa ia rasakan selain satu hal itu. Ia terus mengerang, dan terkadang memekik saat merasakan sakit yang luar biasa dari dalam perutnya. Entah sudah berapa lama berlalu semenjak Urahara memindahkannya ke dalam ruangan di dalam Shoten. Mungkin baru beberapa menit, tapi rasanya seperti yang sudah berhari-hari.

Kedua tangannya menggenggam kuat seprai yang berada di dekat kepalanya, berharap apa yang digenggamnya adalah hal yang lain. Yang lebih kuat. Yang lebih... hangat.

"... Grimm... jow...! Nggh! ... S-Shit ...!"

Ia butuh keberadaan sang Alpha. Setidaknya dengan begitu, ia bisa merasakan ketenangan, karena Grimmjow pastinya tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.

Terengah-engah, Ichigo membuka kedua matanya. Bisa ia rasakan peluh menetes tepat menuruni dahi, "Ngg—AAAHHH! Fuck! Haa—Ura... hara...! JANGAN DIAM SAJA, SIALAAAANN! La-... lakukan... sesuatu!" Tidak tahan. Rasa sakit yang ia rasakan sangatlah tidak tertahankan. Ia melempar tatapan penuh nafsu membunuh ketika mendengar suara tawa kecil dari sang shopkeeper yang saat ini tengah berdiri di dekat pintu masuk ruangan, menutupi sebagian wajah dengan kipas sialan yang ingin sekali ia hancurkan saat ini.

"Maa... Maa... Kurosaki-san, sabarlah sebentar. Aku masih menunggu kedatangan ayahmu. Lagipula, masih ada beberapa waktu lagi hingga waktunya bayimu keluar."

Wajah Ichigo langsung memucat mendengar jawaban Urahara.

"A-a-apa... D-dad—"

"OH, ICHIGO MY BEAUTIFUL SOOOOOOOOOOONN~!" Suara nyaring dengan nada lebay semacam itu sudah tidak lagi diragukan milik Kurosaki Isshin yang kini tengah berlari masuk ke dalam ruangan dengan membanting pintu, membuat Urahara yang berada di baliknya tergencet. Rasakan. Ketika kedua iris gelap sang kepala keluarga Kurosaki itu mendarat pada sosok sang anak lelaki—ah, tunggu, sepertinya mulai saat ini Isshin akan menganggap anak sulungnya itu sebagai seorang perempuan—air mata langsung mengalir deras bagaikan air terjun. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun melompat dan mendekap tubuh Ichigo erat-erat. Kelihatannya ia tidak menyadari kalau tindakannya itu membuat Ichigo semakin kesakitan dan wajahnya semakin terlihat pucat. "AKU AKAN MENJADI SEORANG KAKEEEKK~! OOOH! BETAPA BAHAGIANYA HIDUPKU SAAT INI~! MASAKIIIIIII~!" Isshin kembali melompat keluar ruangan setelah melepaskan dekapannya pada Ichigo—yang terlihat seperti kekurangan oksigen—tapi, sebelum ia benar-benar sempat keluar ruangan, sepasang kaki mendarat keras di wajahnya, membuat tubuhnya terpental ke sisi seberang ruangan.

Karin, dengan wajah penuh urat bertonjolan, mendaratkan kembali tubuhnya di lantai setelah memberikan flying kick kepada Isshin. "DAMNIT, GOAT-FACE! YANG SERIUS! KAU HAMPIR SAJA MEMBUNUH ICHI-NII!"

Urahara yang akhirnya berhasil mengembalikan bentuk tubuhnya seperti semula setelah gepeng karena tergencet, memutuskan sudah saatnya ia menengahi sebelum terjadi keributan yang lebih lagi dan membuat Ichigo semakin stress. "Baiklah~ Kurasa itu sudah cu—" Apa pun yang ingin pria bertopi itu katakan saat itu, langsung terhenti ketika sebuah jeritan membuat siapa pun yang berada di dalam shoten tersentak bangun. Sementara Isshin menyuruh Karin keluar ruangan dan menutup pintu kembali, Urahara memperhatikan reiatsu yang berhamburan keluar dari Ichigo yang nampak lebih kesakitan daripada sebelumnya.

"Ayo, Isshin. Kurasa sudah waktunya." Menyimpan kipasnya, Urahara kemudian menggulung lengan haori yang dikenakannya. Ia menggangguk ke arah Isshin, yang berbalaskan sebuah anggukan juga. Ini pertama kalinya mereka membantu proses persalinan Hollow—atau begitulah yang mereka kira, mengingat Ichigo memiliki darah Hollow, dan yang menjadi pasangannya pun sudah dipastikan seorang Hollow, atau lebih tepatnya; Arrancar.

Tubuh remaja bersurai oranye itu menghentak-hentak, berbagai umpatan keluar dari mulutnya yang menganga. Salah satu umpatan yang paling jelas, bisa didengar oleh siapa saja yang ada di dalam shoten, berbunyi seperti ini:

"FUCK YOU, GRIMMJOW JAEGERJAQUEZ! I SWEAR I'LL FUCKING KILL YOU AFTER THIS! ! ! !"

Membuat Grimmjow yang baru saja melangkah masuk ke dalam Garganta merasa merinding luar biasa.


Ia sudah bisa menggambarkan apa yang akan terjadi ketika dirinya menyentuhkan kaki kembali di dunia manusia. Dan perkiraannya itu dengan segera menjadi kenyataan. Ketika kakinya menyentuh tanah halaman tempat yang ia yakini sebagai Urahara Shoten, diikuti oleh tiga orang lagi di belakangnya, para Shinigami dan beberapa manusia sudah bersiaga di depan pintu dengan zanpakutou yang teracungkan.

Ia pun bisa merasakan reiatsu Ichigo yang berhamburan tidak terkendali.

"Arrancar... Apa yang kau inginkan?" salah satu dari Shinigami mendesis, tapi Grimmjow tidak punya waktu untuk meladeninya. Ia melakukan sonido, dengan cepat muncul di samping para Shinigami, membuat salah satu dari mereka langsung melayangkan zanpakutou-nya ke arah sang Arrancar bersurai biru. Tapi, tanpa perlu Grimmjow melakukan pertahanan, sebuah cahara oranye berbentuk oval menghadang laju zanpakutou, membuat Grimmjow bisa terus melangkah masuk ke dalam shoten.

Tersadar dari keterkejutannya karena laju zanpakutou-nya tertahan, Renji menoleh ke arah orang yang ia yakini sebagai pemilik kekkai, "Inoue, apa maksudmu? ! Kenapa kau menghentikanku? ? !"

"Maafkan aku, Abarai-san!" cepat-cepat gadis bersurai oranye kecoklatan itu membungkuk, tidak ingin membiarkan kesalah-pahaman terjadi, "Tapi, Grimmjow-san harus berada di dekat Kurosaki -kun saat ini. Kumohon, mengertilah!"

"Dan kami memiliki penawaran kepada kalian, Shinigami."

Ishida yang semenjak tadi merasa penasaran dengan siapa yang berada di belakang Inoue, kini membelalakkan kedua matanya, akhirnya mengingat siapa sosok yang ia rasa tidak asing lagi, "Kau... Ulquiorra? Ba-bagaimana bisa?" Ia yakin bahwa dirinya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana tubuh Arrancar bernomor 4 itu menjadi abu, tapi kenyatannya, sekarang ia berada di sini, berdiri dengan wajah dinginnya, dengan tubuhnya yang utuh seolah tidak pernah dihancurkan.

Walau pun Ulquiorra termasuk Arrancar yang tidak bisa mati karena kemampuan re-generasi-nya yang super cepat, tetapi kalau tubuhnya sudah menjadi abu, seharusnya tetap saja... "...!" Menangkap apa yang sebenarnya terjadi, Ishida kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada Inoue yang membalas tatapannya dengan sebuah senyum gugup.


Masih dengan menggunakan sonido, Grimmjow melangkah mendekati sebuah fusume di mana terdapat seorang pria bertubuh besar mengenakan kacamata yang tengah membawa baskom di depannya. Pria itu sama sekali tidak nampak terkejut melihat kedatangan dirinya, dan malah membukakan pintu, menyuruhnya masuk terlebih dahulu. Melihat peluang tanpa perlu mengeluarkan tenaga untuk melawan, Grimmjow melangkah masuk. Untuk beberapa saat pertama, kedua iris azure-nya mendarat pada dua sosok pria lain, di mana salah seorangnya yang berambut gelap mengangguk ke arah dirinya dan menunjuk ke arah Ichigo yang terbaring sambil terus mengerang.

Mendapati situasi semacam apa yang tengah dihadapi oleh Betanya, Grimmjow langsung bergegas mendekat dan menggenggam lengan Ichigo, "Ichi... Ichi, aku sudah di sini. Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." Kedua mata Grimmjow membalalak lebar bersamaan dengan bunyi tulang yang retak. Tidak salah lagi. Dari rasa sakit yang dirasakannya, tangannya yang digenggam balik oleh Ichigo kini retak akibat besarnya tenaga genggaman sang Beta.

Keringat dinginnnya mengucur. Tidak seperti tadi di mana ia begitu ingin berada di dekat Ichigo, sekarang ia rasanya ingin sekali berada begitu jauh darinya.

Apalagi ketika ditatap dengan sepasang iris emas yang dikelilingi hitam.

Padahal ia yakin Ichigo masih berada di dalam tubuh manusianya.

Lalu kenapa...

Beberapa erangan, dan suara tulang retak, serta gumaman Isshin yang mengatakan kepadanya untuk bersabar, Grimmjow kemudian mendengar suara tangisan bayi. Bukan hanya satu, karena suara tangisan bayi itu terdengar seperti paduan suara.

Grimmjow kemudian menghela nafas dengan lega karena genggaman yang membuat tulang tangannya retak itu terlepas. Ia melihat ketika Urahara memberikan salah satu bayi kepada Tessai untuk dibersihkan, di sebelahnya, Isshin tengah menggendong seorang bayi lagi... Lalu Urahara mengangkat seorang lagi... Dengan begitu, jumlah bayi yang ada adalah tiga, dengan salah satunya nampak albino seperti Shiro. Kelihatannya sang Horse sempat bermain-main dengan gen Ichigo sebelum memutuskan untuk keluar.

Walau pun pada awalnya Grimmjow menyangka dirinya hanya akan mendapatkan satu, ia tidak merasa masalah dengan jumlah bayinya sekarang. Justru sebaliknya. Ini berarti dirinya tidak perlu terlalu khawatir mengenai keturunan selama beberapa tahun ke depan. Ia kembali menatap ke arah sang Beta dengan cengiran lebarnya yang khas, "Hei, kitten, kau lihat..." kata-katanya berlanjut mengambang. Kali itu, untuk pertama kalinya semenjak beberapa menit terakhir, Grimmjow menyadari kalau Ichigo hanya diam saja.

Kedua mata sang Beta tertutup.

Cengiran di wajah Grimmjow menghilang.

Ia bahkan tidak yakin dirinya merasakan nafas keluar dari Ichigo...


TBC


Iyah, chapter ini pendek emang u_u" Tapi, beberapa bagian ga seharusnya muncul di sini. Karena kalau sampe muncul di sini, chapter terakhir bakalan super pendek *swt* Ah ya, 2 chapter lagi SBB akan tamat :3

A/N: Saya pernah bilang ke beberapa readers yg biasa suka PM-PMan kalo saya punya semacem proyek yg berhubungan dgn GrimmIchi, dan proyek itu sekarang udah selesai. Bagi yg tertarik untuk tahu, silakan cek link berikut ini: fav. me/d536gfm (hilangkan spasi). Untuk yg suka mantau DA saya sih, kemungkinan udah tau ya? :"|a