A/N: Hauuu... Udah aman kan ya? Udah lewat dari tanggal 24 kan di waktu GMT? *swt* Bakalan saya kutuk FFN sampe mampus kalo sampe ini cerita dihapus T^T Karena review2 keren kalian ga akan bisa saya liat lagi kalo sampe itu terjadi. Hauu... *menggelinding* Ah, ini dia... Satu chapter mendekati chapter terakhir dari Sweet Baby Berry. Aih... Ga nyangka udah sampe ke sini lagi. Jadi ingin bikin seri yang lebih panjang dari ini :"| Ide udah ada n cukup mateng, tinggal dituangin aja... *menerawang* *ditimpuk* Ah, sebelumya, makasih banget ya untuk kalian yang udah mau mengisi petisi yang saya beritahukan di chapter Notice kemarin ini :"D Semoga kalian menikmati chapter ini~
Terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia mereview pada chapter sebelumnya ^^
Ri-Chan: Halooo, Ri-chaaan! Sankyuu banget udah mutusin untuk akhirnya ikut mereview jugaa XDD/ Ehehehee... Liat genre cerita ini kan? Bukan tragedy lhoo, jadi kamu bisa tenang 8D Gomeeen. Tadinya niatan update kilat, tapi ternyata minggu ini jadwal penuh banget karena ada temen deket yg mau nikanan. Tau kenapa jadi ikut sibuk begini T^T Jadinya telat ini update... Huhuu... ;w;
nanao yumi: Rencananya sih itu fic "ichigo" sekalian mau saya revisi aja, baru publish ulang sihh... Semoga nanti bisa u_u Oho! Jawaban pertanyaan kamu semoga ada di sini ya~ n gomen makan waktu agak lama lagi ;w; Nyampe seminggu... Uhuu...
kouyuki: Ehehehe... Makasih, chuyunk~ X"3 Tenang aja, ini bukan fic tragedy n bukan juga fic yg ada chara death-nya~ Semoga Ichi ga mati yaa~ *eh*
Tia Hanasaki: Wakakak. Tak apalaah Grimmy jadi duda, yg penting masih keren~ 8D *digampar* Auuh, aduuh... Senengnya ada penggemar GrimmIchi lagi :"| Jawaban pertanyaan kamu ada di sini yaa (sebagian)~
Uta: Temukanlah jawabannya di episode ini! ;)
surreaLife: Aih aihhh... Siniii biar saya peluk eret dirimuu duluu XDDD *kesenengan karena ketemu lagi sama penggemar GrimmIchi yg laen* Sankyuu n gomen lama ini updateee... ;;w;;
narunaru: Oke deh, sankyuuu X"DDD
Jigoku no Hime: Karena banyak yg nanya pertanyaan soal tata cara ngelahirinnya Ichi, ntar saya kasih sekilas gambarannya di chapter ini deh =)) Semoga cukup menjelaskan. Saya coba panjangin deehh, mumpung ini spesial 2 chapter terakhir ;)
GheeNa: Banyak banget T^T FFn koplak nih ahh... Bukannya kasih peringatan dulu, tapi langsung apus gitu aja T^T Muohohoho... Jenis kelamin anaknya si Ichi, ntar bakalan dikasih tau kok, tunggu aja 8D Kalo pindah... Mungkin ke AFN atau LJ yak? ==a Soalnya kalo di DA, rencananya cuma isi gambar2 aja sih... Soalnya kabar terakhir yg didenger dari salah satu author FBE, yg jadi sasaran utama admin FFN itu cerita2 yg mengandung unsur yaoi, yuri, lemon. Hauuu... Doakan aja saya ga perlu pindah :'( Udah betah di sini soalnya :'(
namikaze noah: Wkwkwk. Ini saya usahakan panjang ya, walo ga panjang2 amat sih ._."
grimmichi: Ah, halooo, salam kenal n selamat datang kalo gitu~ XD Sankyuu udah menyukai cerita ini~ Seneng banget rasanyaa ./.
Terima kasih juga untuk yang sudah login dulu sebelum mereview: iztha dark neko / BlackMagician12 / widi orihara / Zanpaku Nightfall Akenomyosei / chiisana yume / DeVIL MaGNAe RIn / SimbaRella / Mayumi Fujika / seakey07 / Minami Riru / UchiKaze No SasuNaru / katskrom / key-kouru / Arya Angevin / D-N-D Mozaik / F . Freyja
Sweet Baby Berry
Chapter 15
Langit biru yang indah, awan putih yang melambai, terhampar luas sejauh matanya memandang.
Cantik.
Warna yang mengingatkannya akan seseorang yang sudah mengubah hidupnya 180 derajat dari membosankan menjadi mendebarkan setiap harinya. Walau debaran itu tidak selalu bertanda baik, tetapi ia bersyukur. Karena akhirnya, setelah sekian lama merasa sepi, kosong, dirinya kembali terisi. Content. Bahagia. Dan tenang.
Hangat.
Seluruh tubuhnya terasa begitu hangat, padahal tidak sampai lima detik lalu ia merasa begitu kedinginan.
Tiga bola-bola reiatsu yang berputaran di dekatnya, memanggil-manggil namanya tanpa lelah, membuatnya tersenyum. Sebuah senyum yang tulus dan penuh kasih sayang. Ia menyadari siapa pemilik dari ketiga reiatsu itu. Reiatsu yang terus membantunya untuk bertahan hidup. Reiatsu yang terus mengingatkannya kalau ia tidak bisa menyerah sesakit apa pun, tidak mengizinkannya pergi jauh meninggalkan mereka yang menunggunya kembali.
Menyulutkan kembali api perjuangannya yang hampir padam.
"Sleep, Ichigo."
Dari tepian sudut matanya, ia melihat zanpakutou-nya menatap ke arahnya dari ketinggian. Zangetsu yang sudah beberapa bulan ini selalu diam, memandang penuh kelembutan dengan senyum tipis terukir di wajahnya.
Ichigo menghela nafas. Ia memang merasa sangat lelah, karenanya tanpa membantah ia menuruti apa kata Zangetsu. Perlahan ia membiarkan kelopak matanya yang terasa berat itu turun, menutupi pandangannya dari inner world yang sudah lama tidak ia kunjungi. Semakin kehilangan kesadaran, suara di sekitarnya semakin terasa bergema.
"Kami akan menunggumu bersama Papa, Mama."
Dan Ichigo pun tersenyum.
"... Jadi, kau ingin mengajukan perdamaian dengan kami, menyudahi ketegangan di antara kita, demi Kurosaki Ichigo dan Grimmjow Jaegerjaquez?"
Wajah dingin Ulquiorra tidak terlihat berubah, tetapi di dalam ia sekuat tenaga menahan keinginannya untuk menghela nafas panjang. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan otak seorang Yamamoto Genryuusai sehingga mengharuskannya untuk terus mengulang dan mengopi kalimatnya semenjak tadi. Ini sudah yang kesekian kalinya, dan pria tua itu masih belum juga memberikan jawaban yang jelas. Masih nampak terus berpikir. Memikirkan sisi baik dan buruknya satu-persatu, menimangnya.
Benar-benar orang tua yang terlalu banyak pertimbangan dan tidak mau menerima kerugian sedikit pun.
Tidak heran jika banyak Arrancar lain menolak sebagai pembicara dalam perundingan gencatan senjata ini. Bahkan Tesra yang bersamanya pun hanya diam, menolak untuk mengeluarkan suara.
"Aku menolak." adalah jawaban yang akhirnya diberikan oleh Yamamoto setelah bergumam cukup panjang.
"Sotaichou—!" Renji yang sudah tidak tahan lagi menahan emosinya dan bermaksud untuk menyeruak maju, tertahan oleh Byakuya yang langsung meraih pundaknya dan menggesernya ke belakang. Hanya dengan lirikan yang memperingatkan dari kaptennya itu, Renji langsung diam. Ia tidak lagi bergerak. Hanya mendesis kesal dan mendecak. Walau awalnya ia tidak percaya ketika para Arrancar menyatakan kalau mereka ingin mengajukan perdamaian, pada akhirnya ia dibuat tidak sabar juga mengingat apa yang diinginkan para Arrancar bukanlah hal yang buruk. Malah sebaliknya. Apalagi jika hal ini menyangkut perasaan Ichigo—yang setelah susah payah ia putar otaknya, akhirnya ia terima kenyataan bahwa kawan bersurai oranyenya itu telah menjalin hubungan dengan seorang King of Hueco Mundo, dan... memiliki anak dari Raja tersebut.
Bagaimana bisa hal itu terjadi, Renji tidak berniat untuk mencari tahu karena ia yakin otaknya akan meledak ketika tahu nanti.
Mengepalkan kedua tangannya, Renji membiarkan kedua iris russet-nya berkeliling ruang pertemuan. Bisa ia lihat beberapa kapten mengerutkan dahi mendengar jawaban yang diberikan oleh Yamamoto. Kelihatannya mereka pun sudah lelah terhadap permusuhan percuma dengan para Arrancar dan berharap kejadian kali ini bisa membuat beban di pundak mereka lebih meringan. Tapi, ada beberapa juga yang nampak begitu puas dengan jawaban yang diberikan oleh Yamamoto, kebanyakan adalah mereka yang memang membenci Hollow hingga ke akar-akarnya, seperti Soi Fon dan anggota divisinya.
Ketika pandangannya sampai pada Ukitake yang nampak ingin mengatakan sesuatu, kepalan tangan Renji melunak. Ia menghela nafas mengingat Rukia menolak keras untuk datang ke pertemuan ini, padahal posisi gadis itu sudah sebagai seorang Fuku-taichou. Renji tahu seperti apa hubungan yang dimiliki Rukia dengan Ichigo, karenanya, kalau boleh jujur, sebenarnya ia khawatir dengan apa yang tengah berkeliaran di benak Rukia ketika menghadapi permasalahan ini.
Menggelengkan kepala, Renji mengembalikan perhatiannya kepada Ulquiorra yang masih berdiri tegak beberapa meter di depan Yamamoto.
Well, sekarang ini ia hanya bisa berharap Ulquiorra terpikirkan sesuatu untuk mencairkan Yamamoto.
Karena sungguh, ia tidak tega jika sampai nanti ia harus menyampaikan pada Ichigo bahwa para Shinigami memutuskan untuk melenyapkan anak-anaknya, dan juga dirinya.
Ia tidak akan pernah tahan membayangkan wajah sahabatnya jika sampai hal itu benar terjadi.
Untuk beberapa saat lebih lama lagi, Ulquiorra hanya diam menatap ke arah Yamamoto tanpa bergeming. Seolah keduanya tengah adu ketahanan untuk melotot paling lama. Tapi, akhirnya Ulquiorra memejamkan matanya, menghela nafas panjang sembari mengangkat bahu, "Aku tidak pernah berniat memaksa kalian untuk menyetujui, tapi aku juga tidak pernah menyangka kalau kalian akan membuang Kurosaki begitu saja setelah apa yang ia lakukan untuk kalian," dengan sengaja ia berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya merasuki benak para Shinigami, "Aku dengar katanya dia sudah berkali-kali berjuang di depan kalian, hampir mati demi kalian... Sekali pun begitu, dari apa yang kulihat, sepertinya kalian belum pernah bisa memberikan sesuatu kembali padanya selain hanya mengekangnya dengan peraturan." Ulquiorra mengakhiri perkataannya dengan pandangan yang menunjukkan rasa jijik ke arah para Shinigami yang tanpa sadar mengambil langkah mundur akibat besarnya reiatsu yang dikeluarkannya.
Di saat itulah, Mayuri merasa kalau dirinya harus menengahi, "Kurasa tidak ada ruginya kita berdamai dengan para Arrancar." Perkataannya itu mengundang beragam pandangan ke arahnya, tetapi tidak sekali pun ia merasa terintimidasi, "Coba kalian pikirkan, dengan keberadaan para Arrancar, Hollow bisa lebih terkendali dan tidak seenaknya keluar-masuk ke dunia manusia. Anggaplah Soul Society adalah surga, sementara Hueco Mundo adalah neraka. Kita bisa berbagi tugas, dan kurasa keberadaan Arrancar pun bisa menyeimbangkan ketiga dunia dengan lebih baik lagi." —dan dirinya mungkin bisa meminta satu Arrancar untuk dijadikan bahan percobaannya. Kalimat terakhir barusan itu tentu tidak ia katakan terang-terangan. Tapi, dari ekspresi wajahnya yang mencurigakan, para kapten yang ada di ruangan sudah bisa menebak pikiran spesifiknya itu.
Mendengar pernyataan satu-satunya ilmuwan yang ada itu, Yamamoto kembali berpikir. Ia mengelus janggut panjangnya, lalu kembali menatap ke arah dua Arrancar yang masih menunggu keputusan final. "Baiklah," ucapnya sembari menghela nafas, yang membuat Renji langsung sumringah mendengarnya, "Aku akan menyetuji perjanjian damai ini demi kebaikan Soul Society dan dunia manusia, juga demi Kurosaki Ichigo. Tapi dengan syarat, beberapa bulan pertama, Arrancar yang mengunjungi dunia manusia diharuskan mengenakan reiatsu suppressor yang hanya bisa dikendalikan oleh Shinigami, selain harus mengenakan gigai. Anggaplah bulan-bulan itu sebagai masa percobaan kalian. Keputusan ke belakangnya nanti apakah kita akan terus berdamai atau tidak, tergantung dari kalian juga." dengan itu, Yamamoto membenturkan tongkat kayunya dengan keras ke lantai, tidak lagi mempedulikan luapan keberatan yang dilontarkan oleh Soi Fon sehingga Shinigami wanita itu akhirnya diam dan hanya bisa menggigit jari.
"Very well." Ulquiorra dan Tesra membungkuk.
Sebelum mereka bisa benar-benar berbalik dan pergi, Mayuri berseru dengan wajah yang penuh antusias ke arah keduanya, "Sebelum itu, bagaimana kalau aku—"
"Kurotsuchi Mayuri." mengetahui dengan benar apa yang diinginkan oleh ilmuwan gila itu, Yamamoto dengan cepat memotong sebelum membuat perjanjian ini menjadi hal yang percuma. Nada penuh otoritas yang tidak bisa disanggah yang dikeluarkan olehnya itu langsung membuat Mayuri bungkam dan... katakanlah, manyun di pojokan.
Orihime menghela nafas, ia mengambil tempat duduk tepat di sebelah ranjang di mana Ichigo masih terus terbaring tidak sadarkan diri. Wajah gadis itu nampak khawatir walau ia sendiri tahu bahwa Ichigo baik-baik saja. Tetapi, siapa pula yang tidak akan khawatir jika salah seorang sahabatnya tidak sadarkan diri selama dua minggu, apalagi kalau memang tidak ada kesalahan apa pun di tubuhnya. Kembali ia menghela nafas, mengalihkan pandangannya kepada jam dinding yang terletak di belakangnya.
13.40 PM.
Sudah berlalu satu jam semenjak Grimmjow membawa ketiga anaknya pergi menemui Unohana untuk pemeriksaan kesehatan bersama Urahara dan Chad. Saat ini di shoten hanya ada dirinya, Tessai, Ururu, Jinta, dan Ishida. Para Arrancar sudah kembali ke Hueco Mundo untuk mengurus beragam hal di sana, termasuk mengawasi Shiro yang kabarnya masih dikejar-kejar oleh Yammy.
Ngomong-ngomong soal Shiro, Orihime sendiri sebenarnya cukup merasa bersalah karena menggunakan Hollow serba putih itu demi meyakinkan Yammy untuk mau membantunya mencari tempat di mana reiatsu Ulquiorra terkumpul paling dominan dan mengembalikan tubuh sang stoic Arrancar menjadi utuh. Tapi, bagaimana pun juga, setiap kali ia memikirkan ke depan mengenai nasib Ichigo, ia pun tidak bisa berhenti berpikir bahwa hanya Ulquiorra-lah yang akan bisa meyakinkan para Shinigami untuk mau menjalin perdamaian dengan penghuni Hueco Mundo.
Dan ia sangat senang karena teorinya mengenai Ulquiorra terbukti benar adanya.
Sang Espada bernomor 4 itu tidak mati, hanya kehilangan tubuhnya. Selama penahanannya di Las Noches dulu, Orihime sudah merasa cukup mengenal Ulquiorra untuk tahu bahwa pria itu tidak akan bisa mati. Apalagi setelah ia melihat Ulquiorra yang bisa menumbuhkan kembali tangannya hanya dalam hitungan detik setelah terpotong.
Lamunan Orihime buyar ketika sebuah erangan kecil terdengar.
Dengan wajah yang seperti manahan rasa sakit, Ichigo perlahan membuka kedua matanya. Melihat ke sekelilingnya dan menyadari dirinya saat ini tengah berada di dalam salah satu kamar di Urahara Shoten, dengan Orihime yang berwajah lega menatapnya. "Kurosaki-kun, bagaimana perasaanmu?" Gadis itu bertanya dengan nada yang begitu lembut, sampai-sampai terasa asing di telinganya. Karena selama mengenal seorang Inoue Orihime bertahun-tahun ini, ia selalu beranggapan gadis itu adalah gadis kekanakan bersuara cempreng yang tidak pernah bisa serius. Mendengarnya mengeluarkan suara yang begitu lembut dan nampak dewasa seperti ini, rasanya seperti yang melihat Unohana masuk ke dalam tubuh Orihime.
Tidak. Hal itu tidak mungkin.
"... Rasanya seperti yang kebas..." perlahan Ichigo mencoba menggelengkan kepala. Susah payah. Tubuhnya terasa jauh lebih berat daripada biasanya, entah kenapa. "Kau punya sesuatu untukku minum, Inoue?" Ketika benar-benar ia mencoba merasakan seluruh tubuhnya, bisa ia rasakan tenggorokannya seolah baru saja menelan berton-ton pasir. Kesat. Kering.
Orihime mengangguk, "Tentu. Tunggu sebentar," ia berjalan mendekati meja yang terletak di pojok ruangan, menuangkan air dari poci yang ada di sana kepada gelas yang ia genggam. Ia kemudian membantu Ichigo untuk duduk sebelum memberikan gelas itu secara perlahan kepada sang pemuda. Selama Ichigo meminum airnya, Orihime memberikan belaian pelan di punggung sang pemuda. Secara diam memberikan sinyal bahwa Ichigo harus meminum airnya perlahan-lahan. "Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya gadis itu sembari meraih gelas yang diarahkan kembali padanya, "Tubuhmu terasa kebas karena sudah dua minggu kau tidak sadarkan diri."
Ichigo membelalakkan kedua matanya, "Dua minggu?" Well, ia sama sekali tidak menyangka kalau ia tidak sadarkan diri sampai selama itu. Damn, Zangetsu. Orang tua itu selalu menahannya ketika ia bermaksud pergi dari inner world-nya. Mengatakan kalau tubuhnya masih terlalu lemah untuk beraktifitas. "Ke mana yang lain?" Ia baru menyadari kondisi shoten yang nampak terlalu sepi, tidak seperti biasanya.
"Ayahmu di rumah sakit, bertugas seperti biasanya sementara Karin dan Yuzu sekolah. Grimmjow pergi ke Soul Society bersama Urahara dan Chad untuk memeriksakan kondisi anak-anakmu kepada Unohana—"
"Bayiku? ! Mereka baik-baik saja, 'kan? !"
Selama beberapa saat, Orihime hanya diam menatap ke arah Ichigo yang berekspresi sangat khawatir... juga bingung, karena baru mengingat bahwa ia tidak sadarkan diri adalah karena ia baru saja melahirkan beberapa minggu lalu. Orihime tertawa kecil, "Aku tidak akan pernah percaya anakmu kenapa-kenapa jika mengingat kau ibunya dan Grimmjow-san ayahnya, Kurosaki-kun." Melihat wajah Ichigo yang memerah dan kelabakan karena dikatakan sebagai seorang 'ibu', Orihime langsung sumringah. Dengan penuh semangat ia menjatuhkan diri di atas kursi yang tadi ia letakkan di samping kasur, menatap penuh antusiasme ke arah Ichigo. "Coba ceritakan padaku bagaimana rasanya hamil, melahirkan, dan akhirnya memiliki anakmu sendiri, Kurosaki-kun? Setiap kali melihatmu dan Grimmjow, sejujurnya aku selalu merasa iri! Aku juga ingin memiliki anakku sendiri, tapi aku tidak tahu kapan bisanya. Memikirkan bagaimana rupa anakku nanti, rasanya benar-benar menyenangkan!" Kembali pada sifatnya yang biasanya, Orihime dengan mata berbinar-binar kini menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Euh... I-Inoue..." Tidak tahu harus menanggapi bagaimana, Ichigo berakhir hanya menggaruk tengkuknya dengan semburat pink menghiasi pipinya yang ranum.
Sadar dari fantasinya sendiri, kali ini giliran Orihime yang merasakan kedua pipinya panas. Wajahnya merah matang. "A-aah... Ma-maaf, Kurosaki-kun, padahal aku berniat bertanya padamu tapi malah jadi curhat mengenai keinginanku sendiri... Hehe..." Gadis bersurai oranye-kecoklatan panjang itu membuat gestur seperti memukul kepalanya sendiri. "Tapi, aku benar-benar senang... Apalagi untuk Grimmjow-san."
Kata-kata terakhir Orihime itu menangkap rasa ingin tahu Ichigo, "Grimmjow? Maksudmu?"
"Hmm... Kurasa Grimmjow-san sendiri pun tidak sadar, tapi waktu aku menjadi tahanan di Las Noches dulu, ia sering sekali mendatangiku setiap habis bertarung denganmu, Kurosaki-kun. Dan dia selalu bercerita mengenaimu, seolah-olah ia curhat mengenai perasaannya," jawab Orihime, menatap langsung kepada kedua pasang iris cinnamon Ichigo dengan sebuah senyum lebar di wajahnya. "Makanya ketika aku melihat Grimmjow nampak khawatir saat Shiro-kun mengatakan sesuatu terjadi padamu dulu itu, aku langsung tahu kalau kalian memang benar sudah 'bersama'."
Ichigo tidak yakin seberapa merah wajahnya saat ini, tetapi ia bisa merasakan panas yang menjalar di wajahnya itu.
"Walau pun saat itu Grimmjow-san mengatakannya sambil marah-marah, bilang kalau ia jengkel karena kau tidak mau menyerah begitu saja untuk mengalahkannya, aku bisa lihat kalau ia benar-benar peduli padamu. Sinar matanya mengatakan sesuatu yang tidak pernah kusangka akan ada di dalam diri Hollow, dan membuatku berpikir kalau Hollow tidak jauh berbeda dengan kita manusia... dan juga Shinigami. Mereka hidup, dan masih memiliki hati. Hanya saja mereka tidak tahu bagaimana menggunakannya..."
Saat itu, Ichigo tidak bisa tidak setuju dengan Orihime. Ia juga merasakan yang sama dengan apa yang gadis itu rasakan. Karenanya ia juga tidak sembarangan membenci Hollow, tidak seperti para Shinigami yang langsung melihat dengan pandangan jijik.
Ichigo menggelengkan kepala, mencoba mengusir suasana masam yang mendadak tercipta, "... Kapan Grimm kembali?" Ia tidak bisa menahan pertanyaan itu lebih lama lagi. Semenjak ia mendengar kalau Grimmjow dulu pun kemungkinan sudah menyimpan perasaan kepadanya—walau yang bersangkutan sendiri tidak menyadarinya—ia jadi begitu ingin bertemu dengan sang Alpha.
Maybe he will kiss him stupid, too.
Orihime tidak perlu menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ichigo, karena tidak sampai lima detik kemudian, pintu kamar terbuka lebar, menampakkan Grimmjow yang langsung berlari mendekati Betanya... dan tanpa mempedulikan keberadaan sang gadis, mencium Ichigo di bibir. Buat sekedar kecupan atau ciuman yang ringan. Lebih needy, lebih kuat, membuat Ichigo mengerang dan tidak sempat merasa malu walau ada yang menonton. Dan membuat Orihime yang sudah terbubuhi warna merah bagaikan kepiting rebus hingga ke leher, keluar ruangan, gelagapan.
Baru lima menit kemudian setelah ciuman panas yang membuat perasaan Grimmjow lega, ia menarik diri, menyisakan helaian tipis saliva yang menyambungkan lidahnya dengan lidah Ichigo. Pria bersurai biru itu menghela nafas panjang, dan sebelum menempelkan keningnya dengan kening sang Beta, ia memberikan jilatan terakhir di tepian bibir Ichigo.
"Damnit, Ichi... Tidak ada hamil-hamilan, dan anak lagi. Kau membuatku takut..."
Mendengar bisikan pernyataan Grimmjow, Ichigo membelalakkan mata. Tidak pernah sebelumnya ia terpikirkan kalau Grimmjow akan mengatakan hal seperti itu. Takut. Grimmjow takut kehilangan dirinya. Dan kenyataan itu membuat rasa bersalah menggumpal di hati sang remaja bersurai oranye, "Maafkan aku, Grimm... Aku—"
"Shush! Sudah tidak apa-apa, Kitten. Apa kau ingin bertemu dengan anak-anak kita sekarang? Kurasa mereka masih bersama Urahara di ruang tengah." Cengiran lebar serta wajah bersemangat Grimmjow saat itu membuat Ichigo juga tertular. Dengan penuh semangat dan perasaan berdebar-debar, ia mengangguk...
... bersamaan dengan perutnya yang berbunyi.
Grimmjow tertawa terbahak-bahak, membuat Ichigo mendorong wajah Alphanya itu menjauh dengan kasar. "Baiklah. Baiklah... Akan sekalian kuambilkan makanan untukmu, Kitten." mengedipkan sebelah matanya, Grimmjow pun keluar ruangan untuk mengambil makanan dan ketiga anaknya, meninggalkan Ichigo yang diam-diam tersenyum simpul. Tapi, dengan segera senyumnya itu terhapus ketika ia melihat seseorang berdiri di pintu masuk.
Bisa ia rasakan tubuhnya kaku ketika menyadari siapa orang itu.
"Bisa kita bicara sebentar, Ichigo?"
Shit.
Ia benar-benar lupa mengenai Rukia.
TBC
