Angel and Devil
In The Orange Sunset Version
YA~HA~! The second chapter has been update!
Buat yang udah nge-review fic ini, Iin cka you-nii , Mayou Fietry , Uchiha Sakura97 , Hikari Kou Minami, Mitama134666, danundine-yaha, sudah saya balas lewat PM!
Dan buat yang nggak log in :
cleaning servis surga numpang liwat : makasi dah review. Mari lanjutkan
Untuk yang sudah review, ARIGATOU GOZAIMASU!
Baiklah, selamat menikmati chapter 2 ini.
. . .
Title : Angel and Devil – In The Orange Sunset Version
Chapter 2 : Orange On The Rooftop
Disclaimer : Eyeshield 21 Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata
Story by : "Are" Diangel
Idea by : "Are" Diangel
Genre : Romance
Rated : T
Pairing : Youichi Hiruma X Mamori Anezaki
Warning : AR (maybe), OC, OOC (maybe), gaje, misstypo (buat jaga-jaga), OOS (Out Of Story), masih acak-acakkan (author pemula), bahasa tingkat tinggi (takut jatuh, ada di akhir)
Saran : Siapkan mental Anda. Setelah membaca fic ini, saya tidak akan mencegah Anda ketika Anda berniat membanting laptop, ponsel, ataupun komputer Anda yang Anda gunakan untuk membaca fic ini. Bila sudah kehilangan minat membaca fic ini, silahkan tekan tombol 'Back' untuk kembali ke halaman sebelumnya.
Pesan : Semoga Anda suka
Don't Like, Don't Read!
-oOo-
Angel and Devil – In The Orange Sunset Version
Bola itu menggambarkan warna
Menggambarkan kecerahan, dan keceriaan
Menggambarkan kebahagiaan, dan semangat
Menggambarkan waktu aku dilahirkan
Menggambarkan saat itu...
Seketika bola itu pulang,
Setelah bola itu tersesat,
Di ujung senja yang tersesat
Pagi itu, seorang gadis berambut coklat kemerahan baru saja membuka matanya yang berwarna biru shappire. Ia melirik weker kecil di samping tempat ridurnya. Pukul 05.46 pagi. Bagus! Mamori bangun dari posisi berbaringnya dan duduk.
Hari ini adalah jadwalnya tugas pagi. Berpatroli di koridor Deimon's High School sebelum bel masuk berbunyi. Tidak hanya itu sebenarnya. Hari ini dia akan bertugas penuh sebagai Petugas dari Komite Kedisiplinan Deimon's High School, yang artinya, dia akan di sekolah itu hingga sore, bahkan mungkin hingga matahari terbenam.
"Hingga matahari terbenam," desah Mamori pelan. "Aku harus atur jadwalku bertemu dengannya ketika matahari mau terbenam. Yang benar saja."
Tanpa membuang waktu lagi, gadis itu bersiap-siap pergi ke sekolahnya, Deimon High. Ia mandi, kemudian memakai seragam sekolahnya, blazer hijau, kemeja putih, dasi merah dan rok hijau. Baiklah, sekarang ia siap!
"Aku berangkat dulu, Kaa-san," pamit Mamori.
"Ya, hati-hati," sahut Mami Anezaki.
-oOo-
Di Deimon's High School.
"Ohayou, Mamo-chan!"
"Ohayou mo, Ako, Sara," sahut Mamori.
"Mamo-chan hari ini ada tugas penuh, ya kan?" kata Ako.
"Begitulah," sahut Mamori. "Bukankah kalian berdua juga?"
"Benar," kata Sara. "Jadi, ayo mulai."
"Tunggu sebentar."
Mereka bertiga tidak menyadari bahwa terlindung di balik bayangan hitam di samping loker, ada satu sosok yang tengah menggelembungkan permen karet free-sugar. Gelembung itu meletus kecil. "Cih, cewek sialan dari Komite sialan pula. Tch!"
-oOo-
Pukul 07.03 a.m., Koridor Deimon's High School.
"Kau, kan, sudah kami beri peringatan sekali, masih saja kau ulangi," kata Ako.
"Coba ulangi apa kesalahanmu dulu," sambung Mamori.
"Hn? Entah, itu, kan, tidak penting," kata si Pelanggar.
"Tidak penting? Maksudmu?" tanya Sara sedikit galak. "Kau tidak menghargai kami, ya?"
"Hei, aku tau kalian adalah petugas dari Komite Kedisiplinan Deimon's High School. Aku juga tau apa kesalahanku, tidak perlu kalian mengeroyokku begini,"kata si Pelanggar.
"Lalu, apa kesalahanmu?" desak Mamori.
"Kesalahan kecil yang selalu di besar-besarkan oleh kalian, tidak memakai dasi!" kata Pelanggar dengan nada yang sedikit tinggi.
"Bagus. Jangan kau ulangi," tanggap Mamori sambil menyerahkan kartu kuning pada si Pelanggar. "Aku sudah menulis kesalahanmu. Besok, datanglah ke kantor pengurus dan berikan kartu kuning itu, beserta penampilanmu memakai dasi Deimon's High. Sekarang, pergilah."
Sepagian itu, mereka bertiga, Mamori, Ako, dan Sara, telah berpatroli di koridor sekolah. Memergoki beberapa anak melanggar peraturan. Menegur, dan mencatat mereka di buku pelanggaran. Serta memperingatkan mereka agar tidak melakukan hal itu lagi. Sebagai tambahan, para anggota Komite Kedisiplinan akan menerima nada-nada tinggi tak percaya dari para pelanggar. Sebuah kebiasaan bukan?
Mamori menghela nafas lega. Puas. Biasanya para pelanggar akan datang di keesokan harinya, rapi, memberi kesan tidak melanggar tata tertib sekolah lagi sambil menyerahkan kartu peringatan.
Sedangkan mereka yang telah mendapat kartu merah akan menghadap Kepala Sekolah, atau guru yang berpengaruh lebih tinggi dan lebih besar dalam masalah penertiban siswa-siswa Deimon's High School. Tidak banyak yang telah mendapat kartu merah. Kecuali...
Youichi Hiruma's POV
Hhh, cewek itu! Beberapa hal yang membuatku ingin, ralat, terpaksa mengakui keadaannya adalah keganasannya. Oke, kebanyakan orang menyebutnya dengan kata 'itu', jadi kusangka cewek itu tenang-tenang saja, dan selalu tenang. Ternyata...
Walaupun, 'keganasan' cewek itu hanya terlihat saat ia menjalankan tugas dari Komite sialan itu, ternyata banyak yang terjebak dengan sikap perilakunya yang 'tenang' itu. Aku tidak akan mengatakan bahwa aku salah satunya, sampai kapanpun, walaup—sudahlah! Aku tetap akan tidak mau mengatakannya.
Hal kedua yang membuatku terpaksa mengakui keadaannya adalah adu argumen yang menurutku tidak terlalu penting yang sering terjadi. Tapi, karena kelicikanku, tentu saja aku yang memenangkannya.
Salah satu hal lainnya yang memaksaku menyadari keberadaannya adalah, kata 'itu', namanya, dan sesuatu hal yang tidak nyaman didengar oleh telingaku, seperti :
"Kau tau? Kemarin aku melihat Mamori Anezaki di taman! Sayang, aku tidak bisa mengajaknya mengobrol."
Lain?
"Anezaki itu selalu memberi bantuan kalo dia bisa. Kurasa kebiasaannya adalah berbuat kebaikkan." Oke, itu membuat telingaku tidak nyaman.
Terakhir?
"Oh, dia memang benar-benar malaikat!"
Semua bisik-bisik itu terkadang membuatku melepaskan tembakan dari AK-47 kesayanganku.
Malaikat, ya? Tapi tetap saja, gelar yang akan aku berikan padanya adalah 'cewek sialan'.
End of Youichi Hiruma's POV
Bel berbunyi. Siswa-siswi Deimon's High School segera memasuki kelas masing-masing. Pelajaran dimulai.
Pelajaran sudah berlangsung, ibaratnya, setengah perjalanan, tapi sosok itu baru memasuki kelas. Dan Mamori jelas heran melihat Hiruma Youichi baru memasuki kelas.
Mamori Anezaki's POV
Aku heran melihatnya baru memasuki kelas seterlambat ini. Aku heran guru tak pernah menegurnya karena ini. Aku heran melihat wajahnya yang datar, tapi bukankah wajahnya selalu seperti itu? Pernyataan salah. Sebenarnya ekspresi wajah Youichi yang sering kulihat adalah datar, menyeringai persis seperti setan, dan tersenyum licik atau meremehkan.
Youichi Hiruma. Orang yang kukenal sering mendapatkan kartu merah. Dariku—tentu saja! Aku juga heran kenapa tak ada yang berani menegurnya. Bahkan Kepala Sekolah. Kata Ako dan Sara, dia memiliki catatan rahasia seluruh penduduk Tokyo, errr, Jepang mungkin. Yang benar saja?
Itulah sebabnya Ako dan Sara kaget ketika melihatku menegurnya. Youichi itu! Aku sebagai anggota Komite Kedisipilinan jelas tersinggung melihat penampilannya. Penampilan yang seharusnya rapi dan bersih. Tapi, coba lihat dia. Tidak pakai dasi, baju dikeluarkan, memakai piercing, rambut di cat pirang! Oh, ayolah. Dialah mimpi buruk.
Aku pernah mendengar, dia dipanggil 'The Commander of Hell'. Cocok menurutku.
End of Mamori Anezaki's POV
-oOo-
Pukul 04.15 p.m.
Bel pulang sudah berbunyi. Semua siswa Deimon's High School segera pulang ke rumah masing-masing.
Mamori belum pulang, tentu saja. Ia bersama kedua temannya, Ako dan Sara, menawarkan diri untuk membereskan berkas-berkas di kantor Komite Kedisiplinan. Inilah yang disebut jadwal penuh.
"Berkas-berkasnya banyak sekali, Mamo-chan," kata Sara.
"Dan aku menjamin akan membuat bosan selama kurang lebih beberapa jam ini," sambung Ako.
"Ayo kita mulai saja," kata Mamori.
Mereka memilah-milah berkas-berkas, mengelompokannya, dan menumpukannya dalam satu golongan lagi. Diurutkan dan dimasukkan kembali ke dalam sebuah laci. Begitu seterusnya.
Hingga...
Mamori merasakan ada sinar jingga masuk ke dalam ruangan itu. Ia mengalihkan tatapannya dari tumpukan berkas-berkas dihadapannya. Jendela ruangan ini menghadap ke barat daya. Ya! Warna langit kini telah menjadi jingga. Sudah waktunya.
"Emm, Ako, Sara, aku mau permisi dulu. Maaf," kata Mamori.
"Eh?"
"Ah, ya, Mamo-chan, tidak apa-apa," sahut Ako.
Mamori segera berlari ke koridor.
Jika aku ke tempat yang lebih tinggi, aku akan bisa melihatnya lewat jendela. Ia mencoba melihat bola jingga itu dari balik jendela yang menghadap ke barat. Tidak bisa! Ada kaca di sini. Ia jadi merasa seperti dihalangi untuk bertemu dengan matahari sore itu.
Mamori lari lagi. Tujuannya sekarang adalah atap gedung sekolah. Atap itu datar, Mamori yakin ia bisa bertemu dengannya di sana.
Mamori menaiki tangga menuju atap, dan membuka pintunya. Sebenarnya, lebih tepat dikatakan mendobrak dengan tenaga kecil.
BRAK!
Pintu terbuka.
Gadis bermata biru shappire itu melihat sesosok tubuh tinggi ramping dengan rambut berwarna pirang tengah duduk santai di atap ini. Ada yang mendahuluinya.
"Hei, cewek sialan! Seenaknya saja mengganggu privasi orang," kata sosok itu.
"Kau sendiri untuk apa di sini, Youichi Hiruma?" tanya Mamori.
"Tch. Kau sendiri mengapa di sini? Mau memberiku kartu merah lagi?" balas Hiruma ketus.
"Kalaupun kuberi kartu itu, tidak ada pengaruhnya bagimu," sahut Mamori kesal.
"Lalu? Mengapa kau disini?"
"Aku ingin melihat matahari sore ini," kata Mamori.
Hiruma meliriknya sekilas. "Kekeke. Katamu mau melihat matahari sialan itu, mengapa kau melihatku, cewek jelek?"
Mamori tergeragap. "Eh, karena bila kita sedang berbicara dengan seseorang, kita harus melihat orang itu. Sebenarnya, melihat matanya. Tidak sepertimu yang berbicara padaku dengan posisi membelakangiku begitu. Kau memang tak tau sopan santun, ya?"
"Tch. Memang aku tak tau, cewek bodoh!" sahut Hiruma.
"Begitu, ya? Kupikir kau sangat pintar," kata Mamori.
"Memang, cewek bodoh. Aku lebih pintar darimu, tentu saja," kata Hiruma.
"Namaku bukan cewek bodoh! Atau cewek sialan. Aku, kan, punya nama, Youichi Hiruma," kata Mamori kesal.
"Yayaya, cewek-pintar-tapi-tidak-melebihi-aku," kata Hiruma tak acuh.
"Youichi Hiruma!"
"Apa? Aku memanggilmu sesuai keinginanku, cewek sialan," Hiruma menoleh sekilas pada cewek di belakangnya. Jauh di belakangnya, kemudian ia terkekeh.
Mamori yang dari tadi masih berdiri di dekat pintu, kini mulai mendekat. Berhenti ketika jaraknya dengan cowok setan ini tersisa lima meter.
"Kenapa kau di situ, cewek bodoh? Kalau kau ingin melihat matahari konyol ini, seharusnya kau duduk di depanku, bukan di sana," kata Hiruma tanpa menoleh.
Mamori bergeming.
"Kau takut, ya, cewek sialan? Terhadapku?" kata Hiruma.
"Tidak!" bantah Mamori.
"Kekekeke, kalau kau tidak takut, kenapa kau tidak di sini. Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Setidaknya," Hiruma melirik arlojinya, "selama sepuluh menit ini."
Mamori mendekat, kemudian duduk di samping Hiruma, hanya saja
terpisahkan jarak sejauh satu meter.
"Kau sendiri, kenapa di sini?" tanya Mamori.
"Kau tak tau apa yang namanya privasi," sahut Hiruma.
"Mou," Mamori mengembungkan kedua pipinya. "Aku, kan, hanya bertanya."
Hening.
"Kau tak pulang, Hiruma?" tanya Mamori memecah diam.
"Memangnya kau tau rumahku hingga bertanya seperti itu?" tanggap Hiruma.
"Itu, kan, biasa," kata Mamori memperhatikan kata-kata Hiruma. "Kita tak perlu tau dimana rumah lawan bicaramu yang kau beri pertanyaan ini, kan?"
"Kau memang berbeda denganku, cewek sialan," kata Hiruma.
"Lagipula, memangnya kau tau rumahku?" tanya Mamori.
"Rumah bercat putih dengan arsitektur Amerika yang harus kau datangi dengan naik kereta, kan?"
Mamori kaget. "Ken—"
"Apa tidak ada yang memberitaumu kalau aku memegang semua rahasia orang-orang di Tokyo ini? Dan mungkin saja Jepang," kata Hiruma.
"Itu benar?" tanya Mamori tak percaya.
"Ya, kalau kau ingin tau,"
"Aku tidak ingin tau, aku—"
"Kau bertanya," potong Hiruma. "Jangan berisik, cewek sialan. Kau akan kehilangan matahari konyolmu nanti."
Menit-menit itu terus bergulir. Kecerahan sinar jingga itu belum memudar, sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Saat ada sepasang tangan yang masih membelai lembut. Saat mata yang ada di wajah ini belum mampu melihat lukisan lati orang-orang itu. Hiruma berdiri.
"Eh, kau mau kemana?" tanya Mamori.
"Kenapa? Kau ingin aku di sini?" sahut Hiruma membuat pipi Mamori memerah. "Ingat? Ini sudah sepuluh menit. Kau tidak takut aku melakukan sesuatu padamu?"
Kemudian cowok setan itu berbalik. Mamori menatap punggungnya sesaat sebelum mengalihkan tatapannya pada langit.
"Hai, Senja. Maaf aku terlambat, ya?"
Selang beberapa menit kemudian, ponsel Mamori bergetar. Ada pesan singkat masuk dari nomor yangbtidak dikenal.
'Hei, cewek sialan, kau tidak perduli pada teman-teman sialanmu,ya? Mereka sedang kebingungan dimana kau'
Mamori tidak perlu ragu lagi siapa yang mengiriminya pesan singkat itu. Mamori juga tidak perlu bertanya, darimana setan itu mendapatkan nomor ponselnya.
-oOo-
"Namanya Youichi Hiruma, berasal dari keluarga Hiruma, ya?", gumam Mamori membaca kertas di sebuah map warna merah. Ia kini telah kembali ke ruang Komite Kedisiplinan, tentu saja, karena pesan singkat yang diterimanya itu.
"Kenapa, Mamo-chan?" kata Ako.
"Ah, tidak apa-apa. Tapi, apa kau tau tentang keluarga Youichi Hiruma?" kata Mamori.
"Oh, Youichi Hiruma, ya?" sahut Ako. "Aku belum pernah mendengar tentang keadaan keluarganya karena tidak ada seorangpun yang berani berbicara tentangnya. Kau tau, kan, maksudku. Kenapa kau bertanya?"
" Tidak apa-apa," sahut Mamori agak kaget. "hanya ingin tau."
" Hmm, Mamo-chan, kau tertarik pada setan itu, ya?" tanya Sara ingin tau.
-oOo-
Cowok itu berdiri menghadap sebuah jendela. Ia mengambil ponselnya, mengetikkan sebuah pesan singkat dan mengirimnya. Kemudian ia terkekeh sebelum akhirnya...
"Hei, Jingga, aku akan memberimu pertanyaan. Dua pentanyaan. Cukup kau dengarkan saja, tak perlu kau jawab. Diam saja seperti ketika aku mengajukan ratusan pertanyaanku dulu. Diam saja!" kata sosok berambut spike pirang itu. Mata hijau toskanya menatap nanar.
"Pertama, apakan mereka merindukanku?" tanyanya lirih.
"Kedua, kapan aku dapat berhenti bersandiwara dan melepaskan topengku?"
To Be Continued
Akhirnya, selesai juga chapter kedua fic saya!
Ini udah saya usahain update kilat ditengah tekanan nilai-nilai rapor yang saya dapatkan. Semoga nilai itu menjadi penambah semangat saya. Sebenarnya, chap ini udah selesai tiga-empat hari setelah chap pertama saya update, tapi karena modem saya yang ngambek karena bahan bakarnya habis, jadilah baru saya update sekarang. Gomen ne.
Kali ini saya juga ngucapin makasiiihh banget buat Hikari-chan, yang sekarang, udah mulai banyak mengeluarkan sifat angel-nya dan lingkaran malaikat di atas kepalanya mulai terlihat. Yay! Buat Nindy-chan dan Vishnu-kun, makasih atas dukungannya. Juga buat yang udah review chap sebelumnya.
Saya menerima berbagai kritik dan saran, flame juga boleh (sertakan alasan yang jelas), dan boleh juga anonymouse. ^_^
And for the last,
Review, please
R
E
V
I
E
W
P L E A S E
