Angel and Devil

In The Orange Sunset Version

I'm back! And the third chapter has been update!

Gomen, saya updatenya lama. Sebebnya, saya terkena writer's block lamaaaa sekali, jadilah baru saya update sekarang. Gomen ne...

Buat yang udah ngereview chapter sebelumnya : Mitama134666, Mayou Fietry, 00 Ayuzawa. 00, Iin cka you-nii, dan undine-yaha, udah aku balas lewat PM.

Sedangkan buat yang nggak log in :

Hikari Kou Minami : Kau sendiri juga sutradara, Hikari-chan. Arigatou, selamat menikmati chapter 3 ini ^^

Okay, enjoy this third chapter! Tapi, jangan meremehkan hal-hal remeh dalam fic ini ya!

. . .

Title : Angel and Devil – In The Orange Sunset Version

Chapter 3 : 'YOU' Your Poker Face

Disclaimer : Eyeshield 21 Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata

Story by : "Are" Diangel

Idea by : "Are" Diangel

Genre : Romance

Rated : T

Pairing : Youichi Hiruma X Mamori Anezaki

Warning : AR (maybe), OC, OOC (maybe), gaje, typo (maybe), misstypo (buat jaga-jaga), OOS (Out Of Story ^^'), masih acak-acakkan (author pemula), bahasa tingkat tinggi (takut jatuh), bahasa santai (awal di POV),

Author's Alert : Yamato Takeru di fic saya ini akan menjadi sangat OOC, habisnya saya bingung siapa lagi tokoh yang 'pas' untuk karakter ini. Buat pecinta Yamato, gomen ne ^^

Saran : Siapkan mental Anda. Setelah membaca fic ini, saya tidak akan mencegah Anda ketika Anda berniat membanting laptop, ponsel, ataupun komputer Anda yang Anda gunakan untuk membaca fic ini. Bila sudah kehilangan minat membaca fic ini, silahkan tekan tombol 'Back' untuk kembali ke halaman sebelumnya.

Pesan : Semoga Anda suka

Don't Like, Don't Read!

-oOo-

Angel and Devil – In The Orange Sunset Version

Bola itu menggambarkan warna

Menggambarkan kecerahan, dan keceriaan

Menggambarkan kebahagiaan, dan semangat

Menggambarkan waktu aku dilahirkan

Menggambarkan saat itu...

Seketika bola itu pulang,

Setelah bola itu tersesat,

Di ujung senja yang tersesat

Gadis itu berusaha memusatkan pikirannya di satu titik yang benar, tapi sedikit dari konsentrasinya terpecah, rusak hanya karena sebuah nama.

Youichi Hiruma.

"Oke, mungkin aku memang seharusnya tidak terus menerus mendendangkan nama itu di telingaku tadi. Aku juga mungkin seharusnya tidak bertanya tentangnya. Dan yang paling penting saat ini, aku MUNGKIN harus BERUSAHA KERAS untuk KONSENTASI," kata Mamori tegas.

Ia kini sedang di kamarnya, menghadapi buku dan tangannya menggengam pensil. Belajar. Tapi sedari tadi yang dilakukannya hanya mencoret-coret kertas di hadapannya. Terkadang ia mengetuk-ngetukkan pensilnya ke dahi, berpikir. Kemudian ia akan kembali mencoret-coret kertas dihadapannya. Menuliskan angka-angka matematika. Tapi tiga detik kemudian, dia selalu, hampir selalu lebih tepatnya, melemparkan pensilnya ke meja atau berdecak kesal karena konsentrasinya terpecah oleh satu pikiran tentang lelaki setan itu.

Usaha Mamori berikutnya berhasil. Hampir. Selama beberapa menit berikutnya, ia bisa berkonsentrasi penuh tanpa adanya interupsi dari pikirannya yang kini lebih mempertimbangkan hati daripada pikiran. Hati? Oh, oke, itu akan membuat Mamori tertegun selama beberapa jam penuh memikirkan logika yang tepat untuk 'hati' itu.

Mamori mengutak-atik soal matematika di hadapannya. Detik berikutnya, pikiran itu kembali menyusup. Pikiran tentang satu adegan ia dan setan itu di atap sekolah. Berdua. Baiklah, kata ini membuat Mamori hampir berteriak.

Ia terus mencoba memfokuskan pikirannya. Mencoba melupakan sumua kata yang berhubungan dengan satu nama yang terus menyusup ke dalam pikirannya.

Mamori Anezaki's POV

Aaarrrhhggg! Hei, Youichi Hiruma! Berhentilah memasuki pikiranku!

Lelucon. Tapi aku memang tidak bisa mengenyahkan nama cowok setan itu dari pikiranku. Aku berdua di atap sekolah bersama Youichi Hiruma, cowok yang selalu mendapatkan kartu merah dariku. Cowok yang cuek terhadap sekitarnya. Cowok yang memiliki rahasia semua orang di Jepang. Cowok dengan rambut bercat pirang, baju dikeluarkan, cowok yang memakai tindikan di daun telinganya. Cowok yang... Oke, hentikan. Bahkan aku bisa bertarung di pikiranku sendiri karena cowok itu. Hentikan segala pikiran dan kalimat-kalimat tentang Youichi Hiruma!

Baiklah, satu kalimat lagi.

Cowok yang misterius.

Oke, aku puas. Cowok itu memang misterius. Mau tau alasanku?

Pertama, bagaimana bisa, ia masuk ke dalam kepalaku sejak dia pergi dari atap sekolah setelah melihat matahari sore itu. Kedua, bagaimana caranya ia mendapatkan semua rahasia orang-orang Jepang. Dan alasan terakhir yang akan aku ungkapkan dari sekian banyak alasan lain adalah, bagaimana semua orang tidak tau keluarganya? Ralat, tidak tau secara khusus, maksudku. Bahkan di berkas-berkas sekolahpun hanya ada nama keluarganya, nama orang tua, dan satu orang adik perempuan. Tidak ada alamat. Yang benar saja!

Baiklah, Mamori Anezaki, tenangkan pikiranmu dan pergilah tidur. Pasti kau akan merasa lebih baik besok. Dan jangan membawa pikiran ini dalam tidurmu. Selamat malam!

End of Mamori Anezaki's POV

Malam semakin larut. Mamori akhirnya tertidur karena kelelahan akibat kerja penuh yang diambilnya hari ini. Dan, bisa dipastikan, besok pagi ia akan bersyukur karena malam ini ia sama sekali tidak bermimpi.

-oOo-

Koridor Deimon's High School

Seperti biasa, pagi ini Mamori melaksanakan tugasnya, berpatroli untuk Komite Kedisiplinan bersama kedua temannya, Ako dan Sara.

"Umm, Mamori?"

"Ya?"

"Kau masih ingin tau tentang, ehem, Youichi Hiruma?" tanya Sara.

"Kenapa kau bertanya begitu, Sara?" Mamori balik bertanya.

"Eh, tidak, Mamori, hanya ingin tau," sahut Sara.

"Memangnya kenapa?"

"Aku dapat sedikit informasi tentangnya," kata Sara ragu-ragu.

"Kau dapat darimana?" tanya Ako heran.

"Jangan tanya asalnya," kata Sara.

"Baiklah," kata Mamori. "Jadi, apa informasinya, Sara? Tapi katanya tidak ada yang tau tentang Hiruma itu."

"Tidak ada, memang," kata Sara. "Jadi, Hiruma itu tinggal bersama keluarganya di Jepang, tapi sering ayah dan saudaranya pergi ke luar negeri."

"Lalu? Berarti dia tinggal bersama ibunya?"

"Itulah," kata Sara nyengir. "Sumber tidak mau mengatakannya."

"Kau itu," kata Mamori gemas.

"Hei, Mamori, kau ambil jadwal penuh atau tidak hari ini?" tanya Ako.

"Kurasa tidak," jawab Mamori. "Kaa-san menyuruhku pulang cepat hari ini."

"Oh, baiklah."

-oOo-

Teng... Teng... Teng...

"Psstt, Ako," panggil Mamori pada Ako yang duduk di depannya.

"Ya?"

Kala itu usai bel makan siang berakhir dan kelas akan dimulai lagi. Ako memutar posisinya sembilan puluh derajad.

"Kau lihat setan itu tidak?"

"Hah? Mamori, kau ini, kupikir kau mau bertanya apa," kata Ako.

"Sudahlah, bagaimana?" kata Mamori.

"Bukankah tadi ia terlambat masuk? Tapi aku lihat tadi dia ke kafetaria," kata Ako.

"Oh,"

"Kau suka, ya, Mamori?" tanya Ako jail. Kini ia menghadap Mamori langsung.

"Eh? Apa?" kata Mamori kaget membuat Ako terkikik.

"Tidak apa-apa, lupakan," kata Ako, karena guru sudah datang.

-oOo-

Pukul 04.17 p.m., Deimon's High School

"Kalian mau mengambil jadwal penuh lagi?"

"Ya," sahut Ako dan Sara kompak.

"Oh, baiklah, aku pulang dulu kalau begitu," kata Mamori.

"Hati-hati, Mamo-chan,"

Mamori berjalan keluar gerbang Deimon's High dengan santai. Matahari tidak terbenam pukul empat sore, katanya dalam hati. Mamori menyusuri jalan menuju stasiun. Baru tiga puluh meter meninggalkan Deimon's High, Mamori mendengar ada keributan. Ya, keributan!

Uh, apa mereka tidak sadar kalo suara mereka mengganggu sore ini yang seharusnya tenang? gerutu Mamori dalam hati. Mamori berbelok, hampir berbelok, dan akan berbelok jika tidak dilihatnya segerombolan siswa sekolah Teikoku Gakuen tengah menggerombol di sisi jalan yang akan dilewatinya.

Mereka membawa senjata!, pekik Mamori dalam hati. Ia segera menutup mulutnya. Lamat-lamat didengarnya percakapan mereka. Mamori bukannya menguping, ia hanya tidak sengaja mendengar percakapan itu, ia tak bisa berbalik ataupun terus karena jalan terdekat ke stasiun adalah jalan yang kini tengah dipenuhi anak-anak Teikoku Gakuen itu.

"Bagaimana? Apa sekarang saja?" kata sebuah suara.

"Sebaiknya kita menunggu orang itu terlebih dahulu," sahut suara lainnya.

"Kau tau, Takeru? Aku sudah bosan menunggu lelaki setan itu," kata sebuah suara lainnya dengan kasar.

Lelaki setan? Apakah...? Mamori semakin menekankan tangannya ke mulutnya. Mencegah keluarnya suara sedikitpun.

"Aku tau," sebuah suara menyahut. Suara yang tadi mengatakan agar mereka menunggu. "hanya saja kita tidak mungkin menemuinya di sekolahnya itu."

"Sudahlah, Takeru! Lagipula sekolah sudah selesai, tidak masalah!" bantah suara kasar tadi.

Mamori masih mendengarkan dalam diam. Kakinya mendadak lemas. Tiba-tiba terdengar suara-suara langkah kaki mendekat. Beberapa pasang kaki! Mamori berfikir cepat, melihat sekelilingnya. Ada satu jalan tikus di sebelah kiri belakangnya. Dengan cepat Mamori berlari kesana. Bukan apa-apa, hanya saja bila kepergok bahwa Mamori mendengarkan percakapan mereka, urusannya akan menjadi panjang, dan Mamori tidak menginginkannya.

"Semoga mereka tidak melihatku," harap Mamori cemas.

Gerombolan Teikoku Gakuen itu melewati muka jalan tikus itu. Satu... dua... tiga..emp—banyak sekali, Mamori tidak sempat menghitung lantaran ia sibuk berharap agar gerombolan itu tidak meelihatnya di jalan sempit ini. Sayangnya...

Lelaki yang berjalan paling belakang gerombolan itu melihatnya! Entah dapat pencerahan apa agar melirik ke arah gang sempit dan kotor tempat Mamori bersembunyi itu. Lelaki itu melihat kearah teman-temannya yang sudah terlebih dahulu berjalan menuju Deimin's High School, kemudian ia menyelinap menghampiri Mamori di gang kecil itu.

Mamori langsung pucat!

"Sstt, jangan bersuara," kata lelaki itu pelan. "nanti teman-temanku curiga dan mungkin akan kesini."

Lelaki itu sebenarnya berniat menolong Mamori agar tidak perlu berurusan dengan kelompok Teikoku Gakuen itu. Sayangnya, Mamori terlanjur panik mendengar kata-kata lelaki itu. Mamori meraba-raba dalam tasnya dan mendapatkan payungnya. Dikeluarkannya benda itu sebagai senjata.

"Hei, aku, kan, tidak berbuat ja—auch!" Lelaki berambut liar itu telah menjadi sasaran pukulan payung Mamori.

"Hei, berhenti!" kata lelaki itu tertahan karena pukulan-pukulan dari payung Mamori cukup menyakitkan.

Mamori tidak perduli. Ia sudah terlanjur panik dan ketakutan karena ia tadi juga melihat bahwa cowok ini menggenggam senjata berupa alat pukul. Itu membuat Mamori gugup.

"Hentikan!" kata lelaki berambut liar itu.

"Cukup," kata sebuah suara di belakang Mamori yang langsung membuat Mamori membeku. Ada tangan yang terulur dari belakang Mamori dan mencekal kedua tangan Mamori, menghentikan gerakan tangan Mamori memukuli cowok Teikoku Gakuen itu.

Mamori memutar kepalanya, menoleh, dan mendapati Youichi Hiruma tengah mencengkram lengannya. Membuat wajah Mamori menghangat dan merah.

Tanpa sadar Mamori menjatuhkan payungnya. Bukan hanya karena kaget akan siapa yang ada di belakangnya, tapi juga karena genggaman kedua tangan lelaki setan itu yang semakin lama semakin erat. Serta, posisi mereka saat ini. Yang semakin membuat Mamori memerah adalah ketika disadari posisi Hiruma seperti merengkuhnya. Benar! Mamori bisa merasakan tubuh cowok itu menempel di punggungnya. Posisi itu juga membuat tatapan cowok berambut liar itu menajam.

Hiruma menatap cowok Teikoku Gakuen itu dingin, sama seperti tatapan cowok yang lain itu. Ada dendam di sana. Ada sakit hati. Mamori merasakannya karena ruang disekitarnya terasa semakin sempit dan sesak. Dan panas.

Hiruma mematahkan kontak mata itu. Diliriknya cewek yang ada dalam lingkup kedua lengannya. Ia berdecak. Ia sadar, pertarungan sudah dimulai di luar sana. Perkelahian bukan barang baru baginya. Ia sudah sering berbaur di antara pukulan-pukulan yang ada, tapi saat ini ada cewek bersamanya. Ia tidak bisa begitu saja melibatkan cewek ini. Membaurkannya bersama yang lain.

"Ayo pergi, cewek sialan!" desisnya. Cowok setan itu menguraikan rengkuhannya.

Mamori menurut. Lebih karena pasrah. Gadis berambut auburn itu mencoba menyamai langkah-langkah Youichi Hiruma yang lebar dan tergesa. Hiruma menggenggam pergelangan tangan kiri Mamori, setengah menariknya untuk berlari.

Empat puluh meter berlari, Mamori tersadar. Ditariknya tangan yang ada dalam genggaman Hiruma, memaksanya berhenti.

"Apa lagi, cewek sialan?"

"Umm, Youichi, bisakah kita kembali? Tadi cowok itu aku pukuli, sepertinya sakit," Mata biru shappire Mamori menatap Hiruma ketakutan.

"Tch!" decak Hiruma. "Jika kau tau bahwa pukulanmu itu menyakitkan, kenapa kau lalukan, cewek bodoh?"

"Ha, habis, a, aku tadi," kata Mamori terbata-bata.

"Sudahlah, cewek bodoh, tenanglah, aku tau pukulanmu tadi tidak akan melukainya," kata Hiruma, kemudian ia terkekeh.

"Benarkan?" Mata Mamori membulat.

"Ralat, tidak secara parah,"

"Mou, Youichi," kata Mamori menggembungkan kedua pipinya, membuat cowok setan itu terkekeh lagi.

"Lagipula," Hiruma kini penuh menghadap Mamori. "jika kau kembali, apa tidak akan apa-apa? Kau lihat tatapan rambut liar sialan tadi padaku? Aku ragu kau akan baik-baik saja jika kembali menemuinya."

Mamori mengerjapkan matanya. "Oh," hanya 'oh' saja yang keluar dari mulutnya.

Hiruma berdecak lagi. "Ayo, cewek sialan, ku antar pulang," katanya cuek.

"Eh?" Mamori terkejut. "Kau mau apa?"

"Mengantarmu pulang," ulang Hiruma sambil berjalan ke arah stasiun. "Ayo, bukannya hari ini ada yang menyuruhmu pulang cepat hari ini, cewek sialan?"

"Bagaimana—"

"Kau sedang bicara dengan siapa sekarang, cewek bodoh?"

Mamori sadar dengan siapa dia bicara. Kemudian gadis itu mengikuti langkah lelaki setan di didepannya. Ke arah Stasiun.

-oOo-

"Baiklah, Sara, selamat malam," Mamori memutus sambungan telepon. Kemudian ia naik ke atas, ke kamarnya.

Mamori berbaring, menatap ke langit-langit kamarnya. Ia tadi mendapat telepon dari Sara, temannya, yang mengabarkan bahwa tadi ada perkelahian di depan Deimon's High. Dipastikan bahwa kedua pelah pihak berasal dari sekolah mereka sendiri, Deimon's High School, dan sekolah lain Teikoku Gakuen. Dan dari keterangan Sara, perkelahian itu, menurut sumber, dipimpin oleh Youichi Hiruma. Pimpinan segala macam perkelahian yang terjadi antara kedua sekolah itu.

Hanya saja, dari dalam gedung, Sara mengatakan bahwa baik ia ataupun Ako tidak melihat lelaki yang disebut Komandan dari Neraka itu dimanapun, bahkan ketika perkelahian selesai, lebih tepatnya dibubarkan, mereka juga tidak melihat pimpinan itu. Tentu saja.

Karena, waktu penyerangan itu Youichi Hiruma ada dengannya di jalan tikus itu. Dan mengantarnya pulang.

Tentu saja ia tidak mengatakannya pada Sara. Tidak akan! Alasannya? Lebih karena ia tidak yakin bahwa orang yang bersamanya tadi benar-benar Youichi Hiruma. Bagaimana mungkin, lelaki yang selalu dilihatnya dengan seringai setan terstempel di wajahnya, atau dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi, bisa seperti itu? Logika yang selalu bekerja.

Dan, ekspresi tadi, nyaris menenangkan, hampir membuat Mamori melupakan apapun. Jika Youichi Hiruma adalah orang yang sama dengan orang yang ditemuinya tadi sore, apa yang dilakukan cowok itu sehingga, bila benar yang ditemui Mamori tadi adalah dia, membungkus perasaannya dengan baik. Adakah orang seperti itu?

-oOo-

Jika ada yang menanyakan kapan terakhir kali aku menanggalkan topeng sialan ini di hadapan orang lain, maka jawabannya adalah lima tahun lalu. Setidaknya, sebelum sore ini.

Biasanya aku bisa membungkus rasa yang ada di hatiku dengan baik. Tapi, entah kenapa sore ini, di hadapan cewek berambut auburn, aku menanggalkan topeng ini. Bukan apa-apa. Dia tidak akan menyadarinya. Aku masih bisa menyembunyikan emosiku. Lagipula, cewek itu tidak mengenalku. Dia hanya mengenalku saat ia memberi kartu merah atau saat dia mengusulkan untuk memberiku detensi. Heran, cewek yang biasa disebut dengan kata 'itu' bisa menjadi seganas itu ketika berhadapan denganku.

Satu lagi. Tidak kusangka ia seganas itu memukuli cowok sialan dari Teikoku Gakuen itu. Bisa kupastikan pukulannya menyakitkan.

Semoga dia tidak menyadari saat terbukanya wajah asliku.

-oOo-

Info yang kudengar tentang cowok berambut spike bercat pirang itu serba gelap, hitam, kelam, dan entah apa lagi. Buruk. Tapi, mungkin ini memang perasaanku saja. Tapi bila memang bukan, cowok yang biasa aku temui dengan seringai setan itu sebenarnya baik. Bukan apa-apa.

Hanya karena aku sempat merasakannya, ketika sisi baiknya menyeruak di antara sisi-sisi buruknya yang lebih dominan. Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja. Mungkin karena aku sempat merasakan pertolongannya, merasakan perlindungannya. Merasakan rengkuhannya, genggaman tangannya. Merasakan rasa khawatir yang tersembunyi di antara desakan-desakannya. Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja.

Tapi, entah kenapa, semakin aku menyangkal bahwa itu hanya perasaanku saja, aku semakin yakin bahwa orang yang disebut sebagai Komandan dari Neraka itu baik.

-oOo-

Di sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat satu tempat tidur, lemari, dan meja belajar, cowok itu termenung. Pikirannya sibuk melayang pada kejadian sore tadi.

Lelaki yang menjadi rivalnya mau menjemput cewek itu, cewek yang saat itu ada bersamanya. Bukan apa-apa. Hanya sebuah keanehan, lelaki setan itu mau melakukan tindakan tersebut. Karena sampai saat inipun, seingatnya, lelaki itu tak mau melakukan apapun untuk orang lain.

Semua pasti ada alasan. Pasti ada sebab.

Mungkinkah karena cewek itu? Cewek berambut coklat kemerahan itu? Cewek yang sekilas dilihatnya memiliki mata biru shappire itu?

Lelaki berambut liar itu mengacak rambutnya. Menatap langit-langit putih di atas kamarnya tanpa fokus.

"Mungkin," gumamnya sambil tersenyum kecil beberapa saat kemudian. Ia lalu bangkit duduk dan berjalan ke mejanya. Menyentuh sebuah payung berwarna biru. "Bisa atau tidak, ya, kalau cewek itu jadi pion?"

To Be Continued

Yosh, akhirnya bisa update juga ^_^ Gomen, lama.

Sekedar memberi tau, kalo chap depan mungkin ada tambahan karakter yang sama sekali nggak ada di komik ataupun animenya. Namanya juga "Out Of Story"

Maaf juga ya *minta maaf trus, dah berapa kali sih loe minta maaf* kalo chapter ini jelek. Habisnya penyakit writer's block saya kambuh.

Seperti biasa, aaya menerima berbagai kritik, saran, flame (sertakan alasan yang jelas), dan anonymouse juga boleh.

And for the last,

Review, please

R

E

V

I

E

W

P L E A S E