Angel and Devil
In The Orange Sunset Version
Hi, saya kembali lagi!
Lama banget, ya, saya updatenya? Satu bulan lebih!
Baiklah, pertama, supaya kalian, para readers, tidak marah terlebih dahulu kepada saya, apalagi sebelum kalian membaca cerita di bawah ini, saya akan memberi tau sebab-sebab mengapa saya (sangat) terlambat update cerita ini.
Pertama, karena sistem KBM siswa sudah di mulai full sejak terakhir kali saya update, saya jadi mempunyai banyak tugas, pekerjaan rumah, dan kegiatan-kegiatan sekolah lainnya. Kedua, ternyata ikut organisasi itu melelahkan juga. Ketiga, awal saya menulis chappie ini, pikiran saya sempat 'diracuni' oleh teman saya dengan cerita kematian. Saya jadi bad mood.
Soal yang udah review, makasih banyak, arigatou gozaimasu, Mitama134666, Natsuno Yurie Uchiha, Iin cka you-nii, Mayou Fietry, dan undine-yaha sudah saya balas lewat media PM. Serta buat yang nggak log in :
Hikari Kou Minami : Hi, Hikari-chan! Hmmm, kurasa aku tau siapa 'seseorang' itu. Kau itu teliti sekali sih, saya, kan, waktu itu sedang tergesa-gesa karena di kejar-kejar oleh 'seseorang' lainnya. Eh, chap kemarin itu emang aku sengaja nggak ngasih "Hiruma's POV" ataupun "Mamori's POV", dan yang lainnya. Eh, sori aku nggak bisa update killat.
DarkAngelYouichi : Ah, nggak masalah, emm, aku panggil kamu siapa yah? Binung. EH, sekali lagi, permintaan maaf khusus untuk kamu karena saya nggak bisa update killat.
Okelah, nggak usah banyak kata lagi, silahkan baca chapter ini Semoga memuaskan ^_^
Selamat Membaca!
. . .
Title : Angel and Devil – In The Orange Sunset Version
Chapter 4 : Just Be His 'PION'
Disclaimer : Eyeshield 21 Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata
Story by : "Are" Diangel
Idea by : "Are" Diangel
Genre : Romance
Rated : T
Pairing : Youichi Hiruma X Mamori Anezaki
Warning : AR (maybe), OC, OOC (maybe), gaje, typo (maybe), misstypo (buat jaga-jaga), OOS (Out Of Story ^^'), masih acak-acakkan (author pemula), bahasa tingkat tinggi (takut jatuh), bahasa santai (awal di POV),
Author's Alert : Yamato Takeru di fic saya ini akan menjadi sangat OOC, habisnya saya bingung siapa lagi tokoh yang 'pas' untuk karakter ini. Buat pecinta Yamato, gomen ne ^^
Saran : Siapkan mental Anda. Setelah membaca fic ini, saya tidak akan mencegah Anda ketika Anda berniat membanting laptop, ponsel, ataupun komputer Anda yang Anda gunakan untuk membaca fic ini. Bila sudah kehilangan minat membaca fic ini, silahkan tekan tombol 'Back' untuk kembali ke halaman sebelumnya.
Pesan : Semoga Anda suka
Don't Like, Don't Read!
-oOo-
Angel and Devil – In The Orange Sunset Version
Bola itu menggambarkan warna
Menggambarkan kecerahan, dan keceriaan
Menggambarkan kebahagiaan, dan semangat
Menggambarkan waktu aku dilahirkan
Menggambarkan saat itu...
Seketika bola itu pulang,
Setelah bola itu tersesat,
Di ujung senja yang tersesat
"Mungkin," gumamnya sambil tersenyum kecil beberapa saat kemudian. Ia lalu bangkit duduk dan berjalan ke mejanya. Menyentuh sebuah payung berwarna biru. "Bisa atau tidak, ya, kalau cewek itu jadi pion?"
-oOo-
"Ako, Sara,"
"Ya, Mamori?" sahut kedua sahabatnya.
Mamori Anezaki baru tiba di sekolahnya, Deimon's High School pagi ini. Lebih lambat dari biasanya. Dia juga terlihat lebih berantakan dari biasanya, mengingat gadis itu selalu tampil sempurna, rapi. Dia terlihat berantakan bila dibandingkan dengan penampilannya yang biasanya. Entah apa, tidak bisa dijelaskan. Bila dilihat dari pakaiannya, mulai dari seragam, dasi, hingga sepatunya, akan terlihat normal, biasa saja. Namun, entah apa yang berbeda, sungguh-sungguh tak bisa di jelaskan.
"Kau lihat Youichi Hiruma, tidak?"
Bahkan ketika ia menyebut nama setan itu, itu belum mampu menjelaskan. Setidaknya, semuanya.
"Memangnya kenapa, Mamori?"
"Ah, tidak," sahut Mamori. "Hanya saja, kudengar kemarin ada keributan lagi."
Sudah lewat dua hari setelah Hiruma, lelaki setan itu, mengantar Mamori pulang. Tidak ada yang mengetahui hal tersebut. Hanya Hiruma, Mamori sendiri, dan satu saksi lagi, yaitu ibu Mamori, Mami Anezaki, yang menatap dengan heran ketika Mamori diantar pulang oleh lelaki yang—tidak perlu ketelitian khusus untuk melihat hal ini—terlihat nakal. Sedangkan Mamori dikenal sebagai anggota dari sebuah Komite Sekolah yang bertugas mendisiplinkan serta menjaga kedisiplinan para siswa.
"Oh," komentar kedua orang sahabatnya.
"Kalian tau dimana dia?" tanya Mamori lagi.
"Tidak," sahut kedua sahabatnya kompak, lalu tersenyum.
"Kalian kenapa?" tanya Mamori heran.
"Tidak," kata Ako dan Sara. Mamori, yang walaupun heran melihat tingkah kedua sahabatnya tadi, tetap melangkah meninggalkan mereka berdua.
Dimana dia, ya? Kata Mamori dalam hati. Selama ini mereka hanya berpapasan di koridor, di ruang kelas. Karena Mamori tidak mengenalnya, mengenal secara khusus, mengenalnya secara normal, seperti seorang teman.
Mamori tidak mengenalnya.
Gadis itu hanya mengerti namanya, hanya karena cowok itu kerap ia tegur karena tingkah lakunya. Karena cara berpakaiannya, ketidak-rapiannya. Karena sifat kesetanannya, ketidakperduliannya. Ia tidak mengenal laki-laki itu.
Jadi, wajar bila Mamori tidak tahu menahu tentang tempat dimana cowok itu berada sekarang. Ia hanya pernah bertemu cowok itu di kelas, tapi lelaki itu tidak berada di sana, dan Mamori pasti tidak punya kesempatan untuk bicara lantaran sebuah kebiasaan bahwa Youichi Hiruma selalu tidak tepat waktu saat memasuki kelas. Hampir selalu. Dan cowok itu tidak akan berlama-lama berada di kelas ketika break hour. Jadi, percuma menunggunya di kelas.
Koridor. Mamori tidak mungkin berjalan mondar-mandir menelusuri koridor Deimon's High School hanya untuk mencari lelaki bersifat setan itu. Lagipula, ia mencari lelaki itu karena ia ingin bertanya. Hanya ingin bertanya.
Mamori tersentak. Satu tempat lagi. Atap!
Mamori Anezaki's POV
Dimana dia? Setidaknya aku harus bertemu dengannya. Aku ingin bertanya tentang keributan kemarin. Apakah ia turut ambil bagian dalam peristiwa itu. Sayangnya peristiwa itu terjadi sepulang sekolah lagi, dan aku sudah pulang karena memang aku tidak sedang bertugas,
Bodoh. Seharusnya aku di sini terlebih dahulu. Tapi untuk apa?
Itu bukan urusanku, kan? Oke, baiklah, jangan berkelahi dengan dirimu sendiri, Mamori.
Aku harus bertemu dengannya! Aku HANYA ingin bertanya! Itu saja. Berlebihan? Yah, bila hanya itu alasanku aku mencarinya, bisa kupastikan Ako dan Sara akan menggodaku. Tapi, aku memang tidak punya alasan lain yang lebih baik.
Kelas 2-1. Tidak mungkin ia ada di sana. Mustahil! Dia tidak akan ada di sana sekarang. Menunggu sekitar setengah hingga satu jam setelah bel masuk berbunyi, dia baru akan ada di kelas.
Koridor. Apa aku harus berkeliling? Mencarinya di jalan koridor Deimon's High hanya untuk bertanya padanya. Kuulang. BERTANYA! Ayolah, jangan bercanda.
Tempat lain. Tempat lain dimana aku pernah bertemu Youichi Hiruma. Tempat dimana aku pernah bertemu dengannya selain kedua tempat itu. Tempat... Atap!
End Of Mamori Anezaki POV
Gadis itu terlihat sedang berjalan santai ke arah tangga menuju atap Deimon's High. Tenang.
Ia membuka pintu penghubung ke atap sekolah.
"Youichi Hiruma!"
Ada sesosok pria di depannya. Berada dalam jarak satu setengah meter dari tepi atap yang datar itu. Pria itu menoleh.
"Tch! Apa cewek sialan?" katanya.
"Aku mencarimu," kata Mamori berjalan mendekat.
"Mau apa? Aku dapat kartu merah lagi?" tanya Hiruma tenang.
Mamori diam. Bukan hanya mulutnya, tapi juga kakinya. Gadis itu berhenti dalam jarak tiga meter dari lelaki setan itu.
"Mmm, Hiruma, kau ikut keributan kemarin sore?" tanya Mamori.
"Ya! Kaupikir bagaimana?" jawab Hiruma. "Kenapa, cewek sialan?"
"Oh," kata Mamori. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu. "Kau ikut andil dalam membuat keributan itu, kan? Kau dapat kartu merah!"
Hiruma meliriknya, lalu terkekeh. "Cewek sialan, kau bercanda?" katanya. Tapi sedetik kemudian ia membantah perkataannya sendiri. "Tentu saja tidak. Mana? Berikan kartunya!"
"Ini," kata Mamori sambil menyerahkan selembar kartu merah. "Tapi kupikir percuma menyerahkannya padamu. Kau tidak akan menggubrisnya."
"Memang," kata Hiruma santai sambil mengeluarkan sebuah flamethrower entah dapat darimana, dan kemudian membakar kartu merah itu. "Bila kau memberiku kartu merah seperti ini terus, cewek sialan, kau akan kehabisan kartu merahmu!"
Mamori mendekat satu langkah ke arah Hiruma. "Eh, Hiruma," mata shappire gadis itu menyiratkan keraguan. "kau tidak apa-apa?"
Pertanyaan bodoh! Rutuk Mamori dalam hati kemudian.
"Menurutmu, cewek bodoh?" sahut Hiruma.
"Ta, tapi, keributan kemarin, anak-anak sekolah itu, kau dengan siapa? Mereka membawa senjata? Lalu bagaimana?," tanya Mamori beruntun.
"Kalau kau mau tau, cari tau sendiri cewek bodoh!" kata Hiruma, seperti biasa, singkat.
"Mou, Hiruma," kata Mamori menggembungkan kedua pipinya.
Aku ingin melihatnya tertawa. Sedikit saja. Agar aku bisa yakin bahwa dia baik-baik saja.
Hiruma melirik gadis berambut auburn itu di belakangnya, lalu melihat arloji yang melilit tangan kirinya. Seringai tipis perlahan menghiasi wajahnya.
"Hei, cewek sialan! Kau tidak masuk kelas?" katanya.
"Memangnya sudah bel?" tanya Mamori heran.
Tiga detik. Tiga... Dua... Satu...
Teng... Teng... Teng...
"Sekarang sudah. Kekekeke," kekeh Hiruma.
Mamori terdiam sedetik. "Ayo, Hiruma, masuk kelas," katanya.
"Keh! Aku bisa mengalahkan siapapun tanpa mengikuti pelajaran bodoh itu!" sahut Hiruma.
"Uh, kau ini," kata Mamori terhenti. Gadis itu segera berlari menuruni tangga ke kelasnya.
Setan itu terkekeh lagi. Cukup panjang. Tapi ketika kekehannya itu berhenti, keheningan mulai mendominasi lagi.
Gadis itu, tampil selayaknya orang sialan biasanya. Seperti biasa. Namun, tadi, ia tampil seperti orang sialan yang hingga saat inipun masih mendiami ingatannya. Orang itu...
-oOo-
Cewek itu tidak ada di sana saat aku dan teman-temanku mendatangi sekolah itu. Sehari setelah aku memutuskan menjadikannya pion, dia selalu dalam daftar orang penting untukku.
Menurut nama yang tertulis di payung biru itu, gadis itu bernama Mamori Anezaki, kelas 2-1 di Deimon's High School, satu kelas dengan setan itu.
Pantas.
Setan itu selalu berwajah dingin, tanpa ekspresi. Tapi ketika kulihat dia kemarin saat gadis itu berada bersamaku, satu ekspresi tertangkap olehku. Samar. Sangat, tapi bukan disembunyikan. Hanya masih tampak samar. Satu ekspresi yang apabila diketahui oleh semua orang, pasti akan dapat langsung disimpulkan bahwa lelaki setan itu ada 'sesuatu' pada gadis berambut auburn itu.
Sesuatu yang dapat aku gunakan.
Yang dapat aku gunakan untuk berbalik menyerang cowok itu. Cowok setan yang sudah membuat orang itu mengeluarkan embun itu dari matanya.
Dua tahun lalu...
Gadis itu, Mamori Anezaki, akan kugunakan dia sebagai pion, yang kemudian akan berbalik menyerang setan itu.
Ya!
-oOo-
"Permisi," kata sebuah suara.
Mamori berpaling. Dan matanya langsung membulat maksimal. Dihadapannya kini berdiri cowok yang ada bersamanya saat 'itu'. Lelaki berambut liar yang kini terlihat berantakan. Mamori pernah mendengar teman cowok ini memanggilnya 'Takeru'.
"Oh, hai," kata cowok itu.
Ingatan Mamori berputar.
"Sstt, jangan bersuara," kata lelaki itu pelan. "nanti teman-temanku curiga dan mungkin akan kesini."
Ia tidak memperdulikan kalimat itu. Belakangan, baru ia menyadari adanya kalimat itu. Waktu itu ia segera mengambil payung yang ia temukan dalam tasnya, dan menggunakannya untuk memukuli cowok itu. Mamori ingat pukulannya itu, walaupun dengan mata tertutup, tapi ayunan tangannya cukup kuat. Mamori sadar pukulannya itu menyakitkan.
"Hei, Hentikan!"
Dan Mamori tetap memukulinya saat cowok berambut liar itu memintanya berhenti. Perlahan-lahan, pipi gadis itu dirambati warna merah jambu.
"Ha, hai," sahut Mamori tersenyum. Tapi detik berikutnya otaknya berputar lagi. Dan kali ini bukan pikiran positif.
Cowok ini, desisnya dalam hati.
Bila dia ada di sini, mana teman-temannya? Saat ini juga masih pulang sekolah dan ada di tempat belokan yang sama saat aku melihat mereka pertama kali. Mamori mulai cemas.
"Kau tenang saja, aku datang sendiri, sembunyi-sembunyi sebenarnya," kata lelaki itu.
"Kau, apa?" kata Mamori bingung. "Sembunyi-sembunyi bagaimana? Kenapa kau ada di sini?"
"Aku datang sembunyi-sembunyi. Teman-temanku tidak tau kalau aku datang ke sini. Bila mereka tau, aku akan ada dalam masalah," sahut lelaki itu merogoh sesuatu di dalam tasnya. "apalagi karena aku ke sini untuk ini." Ia mengeluarkan payung warna biru mini dari tasnya.
"Apa?"
"Mau kembalikan payungmu," kata lelaki berambut liar itu. "Kau menjatuhkannya, errr, waktu itu."
"Soal yang itu," Mamori menatap lelaki tadi dengan rasa bersalah. "maaf ya. Maaf banget."
"Bukan masalah. Aku ngerti itu pasti refleks, kan? Bukan apa-apa," kata lelaki itu.
"Oh, ya, aku Takeru Yamato. Siapa kau?" lanjut lelaki itu.
"Aku Mamori Anezaki. Maaf, ya, aku permisi dulu. Aku mau pulang," kata Mamori tersenyum manis.
"Tunggu, Anezaki, kau mau ke stasiun, kan? Mari kuantar," tawar Yamato.
"Kau, mau, kau, antar, kau mau meng—apa?" kata Mamori terbata.
"Aku antar ke stasiun," kata Yamato. "Kau keberatan?"
"Aku keberatan? Tidak juga," kata Mamori. "Hanya saja, apa tidak akan merepotkan?"
"Tidak," kata Yamato. "Untukmu," tanmbahnya lirih.
Mereka berdua berjalan ke arah stasiun tanpa menyadari seraut wajah menatap mereka dari balik bayangan pohon. Selangkah sepasang makhluk hidup itu melangkahkan kaki menjauh dari garbang, sosok ini meletupkan permen karet mint-nya. Seirama menjauhnya kedua orang tadi, tatapannya menajam. Perlahan, sosoknya mundur dan menghilang.
-oOo-
Lelaki itu berjalan santai ke arah atap sekolah. Santai, perlahan dan tenang. Tapi, khusus bagi cowok ini, bila ketiga hal tersebut dipastikan, satu yang dapat dipastikan.
Cowok itu tengah dalam kebimbangan.
Sikap santainya membungkus prasangka bahwa ia tengah tergesa, entah untuk apa. Langkah kakinya yang perlahan menjadi tirai yang menutupi kecepatan detak jantungnya, yang bahkan ia sampai lupa kapan jantung ini pernah berdetak secepat ini. Wajahnya yang tenang, nyaris tanpa ekspresi menyembunyikan rasa gelisahnya, ketakutannya, kekalutannya dengan baik. Teramat sangat baik.
-oOo-
"Hei, anak bodoh!"
"Ada apa, orang tua sialan?"
Musashi duduk di samping cowok berambut spike pirang itu. Tak tampak getar takut di mata Musashi. Lagipula, untuk apa? Mereka berdua diam, mengamati awan yang diarak dengan latar belakang langit yang mulai menjadi jingga.
"Kau tadi melihatnya?" tanya Musashi.
"Kaupikir?" kata Hiruma, berusaha bersikap tak peduli, tidak langsung memberikan jawaban.
"Aku pikir, melihatmu disini dengan keadaan begini berarti jawabannya 'ya'," kata Musashi.
"Kau, kan, tidak sedang coba mengatakan padaku kalo aku merasakan 'hal itu', kan?" nada Hiruma meninggi.
"Kau sendiri yang mengusir keraguan itu," sahut Musashi.
Hiruma kembali pada wajah tanpa ekspresinya. "Kau tau apa yang kupikirkan, orang tua sialan? Si rambut liar sialan dari Teikoku Gakuen itu hanya menjadikan cewek sialan sebagai umpan!"
"Darimana kau tau?" tanya Musashi.
"Jawaban sialan yang tak perlu kau pertanyakan!" kata Hiruma.
Musashi berdeham. "Kau harus menjaganya bila kau menginginkannya, anak bodoh."
"Aku tidak menginginkannya," kata Hiruma tegas.
"Terserah padamu," kata Musashi, lalu meninggalkan Hiruma di atap sekolah.
Cowok setan itu tetap memandang lurus ke depan. Ke langit yang tengah berwarna jingga. Matahari mulai kempali temaram. Jingga.
Mulai waktu itu, warna ini lebih sering mengunjungi pikirannya. Dan ia tak suka itu.
-oOo-
Ah, senja...
Mamori menggumam dalam perjalanannya dari stasiun menuju rumahnya. Takeru Yamato memang benar-benar mengantarnya sampai stasiun. Ulangi. Sampai stasiun.
Sedangkan kemarin cowok setan itu, Youichi Hiruma, mengantarnya hingga depan rumahnya, bahkan sampai membuat ibunya heran.
Perbandingan.
Mamori sudah sampai di depan pintu rumahnya, kemudian membukanya.
"Aku pulang," kata Mamori.
Sepi, batin Mamori.
Gadis berambut auburn itu berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Pukul lima sore. Ayahnya bila waktu ini masih bekerja. Bila ibunya, mungkin sedang berbelanja ke swalayan terdekat. Jam-jam seperti ini biasanya ia gunakan menyendiri di atap. Itupun bila tidak terpergok ibu atau ayahnya. Karena mereka tidak akan menginjinkannya menaiki atap rumah ini. Atap rumah ini tidak datar. Kemiringannya juga lumayan menakutkan.
Mamori memiliki seorang adik. Perempuan. Sebenarnya bila adiknya itu tidak sedang berada di Amerika untuk sekolah, dan memilih untuk menemani kakaknya sekolah di Jepang, serta tinggal bersama ayah dan ibunya, pasti Mamori setidaknya bisa mendapat teman sekadar bicara.
Mamori sampai di ujung tangga, tepat di depan tangga adalah kamar tidurnya. Mengingat adik perempuannya, kamar adiknya terletak te[at di samping ujung tangga. Kamar ini sepi.
Mamori melanjutkan tangga.
Tiba-tiba pintu kamar adik perempuannya itu berderit terbuka. Mamori menoleh.
"Hai, sista!" sapa seorang remaja perempuan dari balik pintu itu. Rambutnya yang berwarna hitam sepunggung terlihat acak-acakan. Ia memakai celana panjang jeans dan kemeja kotak-kotak warna merah marun. Sangat berantakan untuk seorang perempuan. Di telinganya tergantung sebuah headset.
Mamori tertegun. "Hai, Shizuka, kapan kau pulang?" tanya Mamori heran.
Gadis itu langsung cemberut. Suarannya berubah menjadi agak ketus. "Namaku Fransisca."
"Aku tau," kata Mamori.
"Ya, aku tau kau tau. Aku tau kau berlidah Jepang. Tidak bisa berkata Sisca saja," kata gadis tadi.
"Maaf," kata Mamori singkat. "Hanya saja kau terlalu lama di Amerika sehingga lidahmu bergeser mejadi lebih baik."
"Sudahlah," kata Fransisca. "Kaa-san sedang ke swalayan, belanja untuk makan malam."
"Aku sudah menduga," kata Mamori, mulai membuka pintu kamarnya.
"Oh, ya, sista!" kata Fransisca. Heran, kali ini suara manis dan ramah itu kembali pada pita suara gadis berambut hitam itu. Mamori menoleh. "Selagi Kaa-san dan Otou-san tidak ada di rumah, bagaimana kalau kita buka tinggkap di atas dan melihat senja bersama-sama?"
Mamori langsung bersemangat. Ia segera masuk ke kamarnya dan berganti baju. "Baiklah. Eh, apakah di Amerika juga ada?"
"Yaaahhh, tentu," sahut Fransisca.
-oOo-
Mamori Anezaki's POV
Fransisca Anezaki.
Heran, kenapa aku bisa punya adik perempuan seperti itu. Bila bukan karena secara fisik ia mirip ayahku, aku pasti akan merasa ragu bahwa aku memiliki adik seperti itu. Bukannya aku jahat atau bagaimana, tapi coba lihat dia.
Pertama, dia sama sekali tidak mirip denganku. Ralat, hampir tidak mirip denganku. Kalau kupikir, kemiripan adikku denganku ada di bagian mata biru kami. Dan satu lagi. Kami sama-sama suka melihat senja yang jingga. Kalau boleh kukatakan, aku senang melihat gadis yang berselisih umur setahun denganku itu menyaksikan senja sore bersamaku, karena sungguh, dia benar-benar menyenangkan pada saat-saat itu.
Masih tentang kemiripannya denganku. Lihat pakaiannya! Ia selalu memakai celana jeans dan kemeja, kadang kaos dengan jaket. Rambutnya selalu berantakan. Setidaknya, bisakah rapi sedikit?
Satu hal lagi. Dapat dari mana sih sifatnya itu. Ganda. Kadang baik dan terlihat sangat akrab denganku, hingga Kaa-san dan Otou-san heran bila kami terlihat akrab seperti itu. Tapi terkadang dia berubah seratus delapan puluh derajat. Sifat tidak baik muncul darinya. Untungnya, ini tidak lama. Namun tetap saja.
Tatapannya tidak lagi ramah, tapi tajam, menyelidik, dan menusuk. Senyum manisnya berganti dengan senyum sinis yang agak miring, terkadang seringai. Lidahnyapun menjadi tajam, kata-katanya sinis, ketus, menyinggung perasaan. Mengingatkanku pada...
Mengingatkanku pada seorang setan. Setan. Hah? Kata itu terlintas begitu saja.
Yah, pasti bila adikku sedang bersikap tidak menyenangkan, ia pasti mirip sekali dengan Youichi Hiruma.
End Of Mamori Anezaki's POV
"Tadi kau memanggilku apa? Sista? Kakak?" tanya Mamori. Kini mereka ada di atap rumah yang miring.
"Ya, kau tau, kan?" jawab Fransisca. "Mana kertas gambarku?"
"Ini," Mamori menyerahkan selembar kertas gambar ukuran A3 ke tangan Fransisca. Mudah membawanya kemari. Itu, kan, hanya selembar kertas.
Satu lagi perbedaan, batin Mamori.
Memang, Mamori paling lemah dalam mata pelajaran menggambar. Berbeda dengan mata pelajaran lainnya, mata pelajaran itu selalu berada dalam posisi terakhir dalam urutan daftar nilai-nilai sekolahnya. Sedangkan adiknya?
"Mamori! Shizuka!"
"Kaudengar? Kaa-san memanggil," kata Mamori.
"Ya. Kurasa aku harus mulai terbiasa dipanggil 'Shizuka' lagi di sini," sahut Fransisca sedikit menggerutu. Tatapannya tidak beralih dari kertas gambarnya. Gaya bicaranya kali ini ketus, pertanyaan kakaknya-pun dijawabnya dengan singkat. Aneh gadis ini!
"Kau tidak turun?" tanya Mamori.
"Nanti, kalau kau mau, kau bisa turun lebih dulu," jawab Fransisca. "dan melewatkan senja ini."
"Tidak," kata Mamori. Entah kenapa bila berhadapan dengan adiknya, Mamori selalu kehilangan kata-kata. "Oh, ya, kapan kau pulang?"
"Tadi siang. Pukul dua kalau tidak salah," kata Fransisca.
"Lalu apa yang kau lakukan dari tadi? Tidur?" Mamori heran melihat adiknya ini. Melihat cara berpakaian Fransisca yang acak-acakan. Rambutnyapun kusut.
"Tidur," kata Fransisca. "Sambil mendengarkan musik." Tangannya masih menggores-gores kertas dengan pensil.
Mamori menghela nafas. Seharusnya ia sadar, memang seperti itulah Fransisca. Fransisca mengangkat muka. Wajahnya berubah cerah. Senyum ramah menghiasi wajahnya. Ia berganti pribadi lagi.
"Hei, sista," panggilnya halus. "Lihat ini." Mamori menoleh pada kertas gambar itu.
Di atasnya ada gambaran senja yang belum berwarna jingga karena memang belum di beri warna, matahari yang mulai temaram. Gambar itu di gambar melalui sudut pandang tempat mereka duduk saat ini. Lagipula tak perlu bukti lain. Ada dua sosok membelakangi mereka di gambar itu. Satu dengan kemeja sekolah warna putih dan rok yang diberi arsiran pensil tipis, satunya digambar dengan kemeja kotak-kotak yang terlihat kusut.
Andai saja saat ini terus ada...
-oOo-
Saat yang sama, atap sekolah Deimon's High School.
Youichi Hiruma's POV
Kuulang, aku tidak menginginkannya.
Dasar orang tua sialan! Seenaknya saja menjebakku seperti tadi! Aku tidak menginginkannya!
Kuharap kata-kata itu tadi terdengar lebih tegas daripada yang kurasakan dan kupikirkan. Perhatikan! Aku tidak mengatakan bahwa aku meragukannya, aku hanya berharap kalau kata-kata tadi terdengar tegas di telinga orang tua sialan tadi.
Lagipula, apa mungkin aku menginginkan cewek sialan itu?
Aku tau semua tentangnya, tapi itu bukan hal baru. Sejak kapan aku tidak tau tentang orang-orang di pulau ini? Kelemahanku akan hal ini hanya satu.
Aku tidak tau rahasia hati orang-orang sialan itu.
Tapi aku cukup tau, bila 'sesuatu' memasuki 'sesuatu yang lain' itu, sesuatu yang dipanggil 'perasaan' dan 'hati'. Hebat! Aku bisa berkata itu dengan lancar! Yah, hanya dalam pikiranku. Kembali, aku cukup tau karena itu terlintas di wajah sialan mereka. Dasar orang-orang bodoh! Seharusnya mereka mengikuti ajaran 'wajah tanpa ekspresi' ku. Seandainya mereka tau apa kegunaan ekspresi tanpa ekspresi itu, pasti mereka akan mengikuti.
Terutama bila orang sialan itu mengikuti caraku ini. Tapi, dia tidak tau. Itulah sebabnya aku tau, dan aku yakin bahwa aku tidak salah mengartikan kilatan di matanya.
Cowok rambut liar sialan itu!
Aku tau alasan dia mendekati cewek sialan itu. Cewek bodoh! Bisa-bisanya dia dengan mudah masuk ke dalam jebakan orang sialan tadi! Jebakan? Ya! Tentu saja!
Tujuannya mendekati cewek bodoh itu hanya untuk menjadikannya umpan, kan? Supaya aku memakan umpan itu? Dia pikir cewek sialan itu ada hubungan apa denganku? Jangan harap!
Tapi rencana itu kupikir cukup matang, untuk cowok sialan itu. Aku belum tau apa yang akan dia lakukan pada cewek bodoh sialan itu. Tapi, pasti ini bukan main-main.
Aku, dan orang tua sialan tau bahwa si rambut liar sialan itu menginginkanku, bukan cewek bodoh tadi. Dendam masa lalu.
Amarah kulihat hadir saat lelaki Teikoku sialan itu menatap ke arahku. Amarah itu mematikan hati. Dan melukai. Menutup maaf, dan menciptakan benci.
Hah!
Siapa yang mengajariku kata-kata itu? Jawabannya, aku sendiri. Karena kebencianku pada sosok itu kini semakin menguat. Karena ia-lah yang membuatku menjadi seperti ini. Aku tidak menyalahkannya, memang itu salahnya. Orang itu mendidikku dengan cara yang tak akan aku lupakan! Karena metode itu menciptakan kebencian. Dan dendam.
Coba kupikir, apa yang bisa membuatku menghilangkan kebencianku padanya. Karena lampau lalu hingga saat ini, tidak ada yang bisa membuatku memaafkannya.
To Be Continued
Akhirnya saya bisa nyelesein dan update cerita ini!
Lama, ya? Maaf.
Semoga chappie ini memuaskannya. Yaah, untuk lama waktu satu bulan lebih saya akui ini memang kurang. Dan kata-kata "Amarah itu mematikan hati. Dan melukai. Menutup maaf, dan menciptakan benci" saya ambil dari sebuah novel.
Bagaimana menurut kalian tentang Fransisca Anezaki? Dia itu sebenarnya mau saya buat berkepribadian angel and devil, tapi jadinya malah gaje begitu
Udah, ah, nggak usah ngomong macem-macem lagi. Yang penting, chapter ini buat temen saya, Ardha-kun yang berulang tahun hari ini. Juga buat temen-temen saya yang lain. Firmant-kun. Nindy-chan selalu sama Vishnu-kun. Semoga. Juga buat Imei-chan semoga tercapai keinginannya bersama 'someone who look very handsome'. Specialy for 'YOU'.
Seperti biasa, saya menerima berbagai kritik, saran, flame (sertakan alasan yang jelas), dan anonymouse.
And for the last but i think not least,
Review, please
R
E
V
I
E
W
P L E A S E
