Angel and Devil
In The Orange Sunset Version
Ehm, *gx berani ngomong 'Hai'*
Maafkan daku karena baru publish! #nundukinkepala
Baiklah, pertama, supaya kalian, para readers, tidak marah terlebih dahulu kepada saya, apalagi sebelum kalian membaca cerita di bawah ini, saya akan memberi tau sebab-sebab mengapa saya (amat, sangat) terlambat update cerita ini.
Pertama, di chappie sebelumnya sudah saya katakan kalau saya banyak ikut kegiatan yang sangat melelahkan, sehingga #hitung satu bulan setelah update fic kemarin baru bisa ngetik. Kemudian, karena saya juga banyak berutang cerita pada banyak tempat, jadi saya tidak bisa fokus hanya ke fic ini, jadinya dua minggu baru selesai #tambahduaminggu. Nah, setelah itu, saya sudah niatin banget mau update, eh, harus nunggu beberapa hari karena nggak ada koneksi Internet.
Baiklah, kita tiba di sebab yang paling menyebalkan. FFn error! Susah banget tuh #curcol udah selesai bikin fic, eh, malah error. Akhirnya karena nggak sempet bikin Xovers, saya memutuskan menunggu FFn bener lagi. NAH~! Setelah FFn bener seperti sedia kala, fic yang saya ketik dengan perjuangan itu HILANG~ Ulangi, HILANG! Coba bayangkan perasaan saya waktu itu! #lebay #abaikan
Para readers sudah tau, kan, kenapa saya baru update fic lagi. Eits, jangan salah dulu, ya, yang diatas tadi bukanlah 'alasan' tapi sebab-sebab yang jelas. Karena alasan dengan sebab itu berbeda, jauh banget!
Baiklah, terima kasih untuk semua reviewnya, Hikari Kou Minami, Mitama134666, Iin cka you-nii, undine-yaha, Mayou Fietry, dan karin-mikkadhira- serta buat :
DarkAngelYouichi : Oke, Tiwi, kali ini telat update-nya paling lama nih! Maaf menunggu. Yah, kurang lebih begitu lah. Baca aja #maunya XD
Oke, langsung aja. Selamat Membaca!
. . .
Title : Angel and Devil – In The Orange Sunset Version
Chapter 5 : It's Strange
Disclaimer : Eyeshield 21 Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata
Story by : "Are" Diangel
Idea by : "Are" Diangel
Genre : Romance
Rated : T
Pairing : Youichi Hiruma X Mamori Anezaki
Warning : AR (maybe), OC, OOC (maybe), gaje, typo (maybe), misstypo (buat jaga-jaga), OOS (Out Of Story ^^'), masih acak-acakkan (author pemula), bahasa tingkat tinggi (takut jatuh), harap tidak meremehkan hal-hal sepele.
Author's Alert : Yamato Takeru di fic saya ini akan menjadi sangat OOC, habisnya saya bingung siapa lagi tokoh yang 'pas' untuk karakter ini. Buat pecinta Yamato, gomen ne ^^
Saran : Siapkan mental Anda. Setelah membaca fic ini, saya tidak akan mencegah Anda ketika Anda berniat membanting laptop, ponsel, ataupun komputer Anda yang Anda gunakan untuk membaca fic ini. Bila sudah kehilangan minat membaca fic ini, silahkan tekan tombol 'Back' untuk kembali ke halaman sebelumnya.
Pesan : Semoga Anda suka
Don't Like, Don't Read!
-oOo-
Angel and Devil – In The Orange Sunset Version
Bola itu menggambarkan warna
Menggambarkan kecerahan, dan keceriaan
Menggambarkan kebahagiaan, dan semangat
Menggambarkan waktu aku dilahirkan
Menggambarkan saat itu...
Seketika bola itu pulang,
Setelah bola itu tersesat,
Di ujung senja yang tersesat
"Kaa-san, aku berangkat," pamit gadis berambut auburn itu.
"Ya, Mamo-chan. Hati-hati!" sahut Mami Anezaki dari arah balakang rumah.
Mamori berjalan kaki menuju stasiun. Sayang sekali adiknya tidak bersekolah di Jepang saja. Bila Fransisca bersekolah di Jepang, minimal ia akan pergi bersama-sama dengannya menuju stasiun. Mamori melamun seiring langkahnya menuju stasiun.
-oOo-
Rumah berasitektur Amerika warna putih, pukul 07.01 a.m.
"Pagi, Kaa-san," sapa Fransisca.
"Pagi! Baru bangun?" tanya Mami.
"Ya," sahut gadis itu sambil mengacak rambutnya yang sudah acak-acakan.
"Seharusnya kau lebih rajin, seperti Mamo-chan itu," kata Mami sambil mencuci piring bekas sarapan. "Kau ketinggalan sarapan."
Fransisca meringis. "Aku tidak akan bisa seperti Mamori. Dan untuk sarapan, itu mudah, aku bisa mencari sendiri. Untungnya aku tidak terlalu lapar."
"Jangan seperti itu," tegur Mami. "Ada sarapan untukmu di rumah. Kau tidak perlu berusaha sendiri disini, Shizu-chan."
"Aku sudah terbiasa, Kaa-san,"
"Tidak di sini," Mami berbalik, menatap putri keduanya itu. "Selama kau di sini, aku ingin memanjakanmu, Shizu-chan."
"Aku tidak suka dimanja," gumam Fransisca tidak jelas.
"Apa?"
Fransisca mendongak.
"Tidak apa-apa," kata Fransisca. "Terima kasih, Kaa-san."
"Sekarang pergilah mandi," kata Mami.
Fransisca pergi ke kamarnya. Usai mandi, ia berganti baju. Kali ini celana jeans dan kaos warna putih polos. Rambutnya yang lumayan panjang itu diikat ekor kuda. Saat ini suasana hatinya sedang baik. Biasanya, dulu sebelum Fransisca bersekolah di Amerika, Ayahnya sering pergi ke negara tersebut, sekarangpun masih, apabila Ayahnya itu pulang, Ibunya pasti menyiapkan makanan kegemaran Sang Ayah.
Kali ini Fransisca yang pulang. Menurut pengalaman itu, Ibunya pasti menyiapkan makanan kesukaannya. Itulah yang membuat perasaannya baik. Ia tersenyum dan menuruni tangga.
Di meja makan kini telah terhidang sarapan untuk Fransisca. Mami tersenyum.
Tetapi senyum yang sedari tadi ada di bibir Fransisca menghilang. Bibirnya tertarik ke bawah.
"Kaa-san, itu untukku?" tanyanya.
"Tentu saja, Shizu-chan. Selamat menikmati!" Mami tersenyum lagi.
Fransisca masih diam, meyakinkan penglihatannya. Makanan itu! Ia membenci makanan itu. Apa Kaa-san melupakan kebenciannya pada makanan itu?
"Kaa-san, aku tidak suka makanan itu." Ralat. Membenci makanan itu.
"Wah, kupikir kau menyukainya. Mamori menyukainya, setelah kue cream-puff," Mami terlihat terkejut.
Bibir Fransisca tertarik lebih ke bawah. Ia melirik jam dapur. Pukul 07.47 a.m.. Masih terlalu pagi untuknya. Tapi...
"Emm, Kaa-san, aku mau cari makan keluar saja," ia ingat menyelampirkan jaket hitamnya di gantungan mantel di ruang tamu. Menyambar jaket itu dan keluar. "Sampai nanti, Kaa-san."
Gadis itu tidak menghiraukan panggilan Ibunya lagi. Mungkin ia memang kurang ajar dan tak tau sopan santun. Tapi itulah dirinya. Dirinya dalam sisi lain, bila ada orang yang tidak bisa menerima bahwa itu memang dirinya. Tapi dirinya memang tidak mirip dengan Mamori Anezaki. Siapa yang harus disalahkan?
-oOo-
Youichi Hiruma mengamati gadis auburn itu secara tak kentara. Malam sebelumnya ia telah membulatkan tekad, sebenarnya hal itu diakibatkan sangakalan-sangkalan—yang sayangnya—masuk akal.
Dia bersedia membatasi hubungan antara Mamori dan lelaki dari Teikoku itu. Membatasi. Karena ia belum sepenuhnya yakin bahwa ia bisa lebih dari sekedar membatasi.
Hiruma menyeringai ketika dari kejauhan ia melihat Mamori berubah seratus delapan puluh derajat dari sikap kesehariannya. Kartu kuning dikeluarkan. Lalu pergi. Hiruma menghilang di balik bayangan.
-oOo-
Pukul 04.19 p.m.
Mamori berjalan menuruni tangga sekolahnya. Ia ingin cepat-cepat pulang. Ia ingin segera tiba di rumahnya dan bersantai dengan resiko di marahi Ibunya karena memanjat atap lagi.
Saat yang sama...
Gadis berambut hitam itu menyandarkan punggungnya ke pagar Deimon's High. Menunggu. Empat menit lalu, bel pulang berbunyi. Di tangannya ada sebuah kantung plastik berisi makanan ringan kegemarannya. Rencananya ia akan mengajak kakaknya menikmati makanan ini di balkon—kurang menantang, baiklah—atap rumah mereka berdua. Menikmati disini menurut Fransisca adalah makan secara perlahan, berbeda dengan Mamori yang berarti makan banyak-banyak. Walaupun hal itu dilakukan hanya pada makanan ini. Ah, perbedaan.
Seorang gadis berambut auburn berjalan tergesa tanpa memperhatikan sekelilingnya melintas. Fransisca tersadar.
"Hei, Sista!" panggilnya.
Mamori tersandung kakinya sendiri. Untungnya tidak jatuh terjerembab. Ia menoleh buru-buru.
"Shizuka!" Mamori menghampiri adiknya. Agak heran.
"Hai, sista, ayo pulang," ajak Fransisca tersenyum manis.
"Sedang apa kau disini?" Mamori heran.
"Menjemputmu." Bila sedang dalam kepribadian baik, Fransisca tidak segan-segan memberitau apa yang dilakukannya dengan jujur. Bahkan perbuatan jahat sekalipun.
"Menjemputku? Dari rumah?" tanya Memori . Matanya melebar.
"Tidak juga. Tadi pagi Kaa-san menyuruhku sarapan di rumah, tapi aku tidak suka makanannya, jadi aku pergi mencari makanan. Setelah itu aku jalan-jalan. Makan siang. Setelah itu jalan-jalan lagi," kata Fransisca lancar. "Kemudian aku dapat ini." Fransisca mengangkat kantong plastik bawaannya.
"Cream-puff!" pekik Mamori. "Boleh aku minta satu?"
Fransisca menggeleng. "Nanti."
"Kekekeke, para penggemar kue menjijikan!" kata sebuah suara.
"Youichi Hiruma!" Mamori menoleh dan mendapati setan itu tengah berdiri di belakangnya.
Hiruma terkekeh.
"Oh, halo, namamu Youichi Hiruma? Kenalkan aku Fransisca Anezaki," kata Fransisca ramah disertai senyum.
Hiruma membuang muka, tidak menerima sodoran tangan Fransisca.
"Hei, sista, dia siapa?" tanya Fransisca dengan suara rendah.
"Salah satu murid Deimon's High," jawab Mamori. "Tentu."
Fransisca mengamati Hiruma di hadapannya.
"Hei, cewek sialan, dia adik sialanmu ya?" tanya Hiruma.
Fransisca merasakan telinganya gatal mendengar panggilan tidak menyenangkan tadi.
"Siapa tadi yang kau sebut sialan?" Mamori memperhatikan sorot mata Fransisca mulai berubah. Ah, sore ini akan kacau, batinnya.
"Apa telingamu kurang berfungsi baik, adik cewek sialan?" kata Hiruma, menyeringai.
"Ah, mungkin telingaku memang tidak berfungsi maksimal," kata Fransisca tersenyum miring. "Mungkin juga sama seperti pikiranmu yang kurang berfungsi."
Wah, aku tidak tau gadis ini dapat disebut berani atau kurang waras karena berkata seperti itu pada lelaki setan itu, batin semua orang yang mendengar perkataan Fransisca tadi.
"Keh, mungkin aku bisa disebut kurang waras, tapi otakku ini masih berfungsi baik, cewek sialan!" Kedua, lanjut Hiruma.
"Kau mengaku juga kalau kau kurang waras. Setidaknya, kau tidak menunggu orang lain untuk mengatakannya," kata Fransisca.
Hiruma terkekeh. "Kau sudah bosan hidup, ya?" Hiruma mengeluarkan AK-47-nya entah dari mana dan mengerahkannya ke arah Fransisca.
Wow, keren! Pikir Fransisca. Entah darimana ia mendapatkan kata itu dari otaknya yang sedang keruh itu.
"Mau coba tendangan Tae-Kwon-Do-ku?" Fransisca mengambil ancang-ancang. "Lumayan, aku pemegang sabuk merah."
"Cukup!" lerai Mamori. Sedari tadi ia seakan menjadi sosok yang tidak terlihat dan dianggap tidak ada. Tapi melihat dua orang yang bertingkah layaknya akan perang, ia tidak bisa tinggal diam.
"Apa kau, cewek sialan?" kata Hiruma, tidak perduli pada sekeliling.
"Berhenti menyebut kata itu!" kata Fransisca.
Hiruma menodongkan AK-47-nya. Fransisca kembali bersiap-siap.
"Cukup kataku!" kata Mamori. "Hiruma, turunkan senjatamu dari adikku, dan Shizuka, berhenti membalas kata-katanya."
"Lalu kenapa aku harus menuruti kata-katamu?" balas keduanya.
Hah? Mamori terkejut. Ternyata dugaannya benar bahwa Fransisca bila sedang dalam kepribadian ini memang mirip sekali dengan Youichi Hiruma.
"Karena kau memang harus, Shizuka," perintah Mamori tegas.
Fransisca mendengus kesal. "Kalau begitu ayo pulang," ajak gadis berkepribadian ganda itu.
Mamori tersenyum. "Sampai jumpa," katanya pada Hiruma.
"Hei, dua cewek sialan! Aku akan mengantar kalian hingga stasiun!" kata Hiruma.
"Tidak perlu, terima kasih," kata Mamori menolak halus.
"Itu bukan tawaran, cewek bodoh! Itu pernyataan!" kata Hiruma, kemudian ia berjalan di belakang kedua cewek itu.
"Bagaimana dia bisa mengenalmu sih?" tanya Fransisca lirih, kembali pada pribadi tenangnya.
"Aku itu Ketua, kau ingat?" sahut Mamori.
"Oh!"
"Bicara apa kalian, cewek-cewek sialan?"
"Membicarakan dirimu," kata Fransisca polos. Sebenarnya gaya bicara gadis itu lebih kearah bodoh daripada polos.
"Keh, cewek-cewek sialan tukang gosip!" kata Hiruma.
"Mou, Hiruma, kami bukan tukang gosip!" kata Mamori.
"Kata adik sialanmu, kalian membicarakanku,"
"Kami tidak membicarakanmu, Shizuka bertanya tentang dirimu, makanya aku jawab,"
"Tch, tak perlu berkelit!"
"Aku memang tidak berkelit! Aku bicara benar kok! Memangnya aku pembohong?"
"Menurutmu sendiri bagaimana, cewek bodoh?" kata Hiruma menggantung jawaban.
Baru saja Mamori akan meladeni Hiruma, Fransisca menariknya pergi. "Tadi kau yang melarangku berkelahi, tapi kau sendiri?"
Mamori diam saja, membiarkan tangannya ditarik oleh adiknya menjauh. Walaupun ia tau betul bahwa mereka tidak benar-benar menjauh dari sosok setan yang berjalan ringan di belakang mereka sambil menenteng senjata AK-47-nya.
"Kekekeke, kan sudah kubilang, kalian akan kuantar hingga stasiun!"
Sekilas terlihat kilatan bayangan dari sebuah gang tikus di belakang Hiruma, tapi ia tidak ambil pusing. Ia sudah tau siapa 'kilatan bayangan' itu. Sosok yang menginginkan sosok berambut auburn yang berjalan di depannya, yang melangkah berselisih 5 meter di depannya.
=oOo=
Fransisca menoleh, melihat sekelilingnya. Sebenarnya gadis itu mencari seseorang. Youichi Hiruma. Sejak dia dan kakaknya sampai di stasiun, lelaki setan itu benar-benar menghilang. Hiruma benar-benar menepati janjinya, sesuai yang ia katakan, bahwa setan itu akan mengantar hingga stasiun, dan itu benar. Ia langsung menghilang saat Fransisca memutuskan untuk menoleh ke belakang. Cowok aneh!
"Hei, sista," panggil Fransisca. "Dia sudah pergi." Mamori langsung mendesah lega, membuat adiknya kembali berpaling padanya dan berkata, "Kau suka padanya?"
"Kau ini bicara apa?" tukas Mamori. "Mana mungkin aku menyukainya." Ia berpaling.
"Jadi jawabannya tidak, kan?" ujar Fransisca. "Aku cuma butuh satu kata, sist."
"Untuk apa kau menanyakan hal itu tadi?" tanya Mamori sedikit curiga.
"Tidakkah kau pikir dia itu sedikit menakutkan?" balas Fransisca. "Aku benar, kan?"
"Tidak juga. Bagi sebagian orang, dia sangat menakutkan," bantah Mamori. "Dan kejam, jahat, tidak berperikemanusiaan..."
"Menyeramkan, seenaknya sendiri," sambung sebuah suara dari belakang keduanya. "Halo, Anezaki."
Kedua gadis itu menoleh ke belakang dan menangkap sosok Takeru Yamato berdiri di belakang mereka. Mamori berkedip sekali, kemudian tersenyum. Fransisca memutar bola matanya.
"Halo," sapa Mamori. "Sedang apa kau di sini?"
"Menurutmu apa yang dilakukan seseorang di stasiun?" balas Yamato. "Oh, itu adikmu ya?"
"Yeah, aku adiknya," sergah Fransisca cepat. "Dengar, kami harus segera pulang. Tau, kan? Kami punya Ibu di rumah yang harus ditemani karena Ayah kami sudah kembali ke Amerika. Jadi, sampai jumpa lain kali!" Ia menarik tangan kakaknya menjauh dari pemuda itu. "Kuharap tak ada lagi lain kali," gumamnya tidak jelas.
"Shizu," bisik Mamori setelah sedikit lebih jauh dari Yamato. "Kau tidak sedang mengatakan bahwa ia tidak punya Ibu untuk ditemani, kan?" Nadanya menyiratkan ketidaksukaan.
"Oke, baiklah." Fransisca melepaskan cekalannya pada Mamori. "Kita satu Ibu dan Ayah, oke? Jadi seharusnya aku tidak heran bahwa kita memiliki kesamaan. Tapi kenapa aku heran juga, ya?" ucapnya. "Darimana kau tau bahasaku yang berbelit itu?"
"Dari nada bicaramu saat mengatakannya," sahut Mamori. "Lembut tapi tajam. Apa aku pernah bilang padamu bahwa setengah kepribadianmu mirip Youichi Hiruma?"
"Belum," kata Fransisca. "Terima kasih," gumamnya.
"Apa?"
"Belum."
"Tadi sepertinya aku mendengar kalimat lain."
"Ini stasiun, sista. Menurutmu berapa banyak kalimat yang kau dengar di sini?"
=oOo=
Mamori menatap langit-langit kamarnya. Sesekali matanya mengedip. Batinnya bertanya-tanya, apa yang salah? Menurutnya semuanya normal, kecuali satu hal.
Kenapa gadis beriris biru shappire itu gelisah?
To Be Continued
Pemberitahuan (?) :
Menerima berbagai kritik, saran, flame (sertakan alasan yang jelas), dan anonymouse.
And for the last but i think not least,
Review, please
R
E
V
I
E
W
P L E A S E
