Angel and Devil
In The Orange Sunset Version
Hi, long time no greet :D
Masih ada yang minat baca fic ini, ya? Terharu loh ketika fic ini udah menjamur selama hampir setahun di sini ternyata ada yang review lagi. Jadi semangat buat lanjut. Arigatou, ne~
Yuki kineshi : Entah kamu masih tetep nungguin fic ini atau nggak, yang penting thanks for your review
Anezakibeech : Mmm, di-chan is okay :D Soal Fransisca suka Hiruma atau nggak... diliat ntar aja deh #maunya Thanks for your review, yeah! And sorry to keep you waiting so long. Kalo kamu baca, silahkan review lagi ya! :D
And big thanks too to Mitama31773, Natsu Hiru Chan, Hikari Kou Minami, undine-yaha, Iin cka you-nii and Kiyone Hiruma.Udah dibalas via PM, ya~
. . .
Title : Angel and Devil – In The Orange Sunset Version
Chapter 6 : That Loneliness
Disclaimer : Eyeshield 21 Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata
Story by : "Are" Diangel
Idea by : "Are" Diangel
Genre : Romance
Rated : T
Pairing : Youichi Hiruma X Mamori Anezaki
Warning : AR (maybe), OC, OOC, gaje, typo(s), misstypo(s)
Saran : Siapkan mental Anda. Setelah membaca fic ini, saya tidak akan mencegah Anda ketika Anda berniat membanting laptop, ponsel, ataupun komputer Anda yang Anda gunakan untuk membaca fic ini. Bila sudah kehilangan minat membaca fic ini, silahkan tekan tombol 'Back' untuk kembali ke halaman sebelumnya.
Pesan : Semoga Anda suka
Don't Like? Don't Read!
-oOo-
Angel and Devil – In The Orange Sunset Version
Bola itu menggambarkan warna
Menggambarkan kecerahan, dan keceriaan
Menggambarkan kebahagiaan, dan semangat
Menggambarkan waktu aku dilahirkan
Menggambarkan saat itu...
Seketika bola itu pulang,
Setelah bola itu tersesat,
Di ujung senja yang tersesat
Youichi Hiruma's POV
Jingga?
Seringai mulai terukir di bibirku. Seringai, bukan senyum. Aku melanjutkan pekerjaanku tadi, memoles laras senjata kesayanganku sambil ditemani warna cerah itu.
Beruntung tidak ada seorangpun yang tau kebiasaanku ini. Tch! Kebiasaan sentimentil sialan yang tak bisa kuhilangkan semudah menembaki orang-orang sialan dengan senjata-senjata favoritku.
Aku mendesah. Perlahan, kuletakkan AK-47 milikku di lantai, bersandar pada dinding.
Kuberitahu, setan berotak jenius seperti diriku-pun punya pertanyaan tanpa jawab. Dimana kiranya aku bisa menemukan jawaban itu?
Jingga?
End of Youichi Hiruma's POV
=oOo=
"Shizu-chan, kau ini dari mana saja?" ujar Mami Anezaki tepat ketika kedua anaknya melewati ambang pintu masuk.
"Dari restoran cepat saji, memutari Tokyo, mampir sebentar untuk membeli cream-puff kemudian menjemput kakakku," jawab Fransisca sepolos mungkin. "Memangnya kenapa, Kaa-san?"
"Kau itu hanya beberapa minggu di rumah ini," ujar Mami. "Apa kau tidak merindukanku?"
"Masih ada banyak waktu," gumam Fransisca pelan. "Bagaimana kalau besok aku menemani Kaa-san seharian?" lanjutnya.
"Baiklah," kata Sang Ibu. "Ah, Mamo-chan, cepatlah ganti baju."
"Ya, Kaa-san."
=oOo=
Mamori mengganti baju seragamnya dengan baju kesehariannya. Usai melakukan itu, ia berbaring mengadah ke langit-langit kamarnya.
Perasaan ini... gelisah?
=oOo=
"Memangnya kau disini berapa minggu?" tanya Mamori pada adiknya saat mereka berdua duduk di atap—bukan balkon—kediaman Anezaki.
"Sekitar tujuh hingga delapan minggu lagi mungkin." Fransisca mengangkat bahu. "Memangnya kenapa?"
"Hanya bertanya."
Hening. Keduanya menikmati kehangatan yang terpancar dari bola jingga di hadapan mereka.
"Hei, sista," panggil Fransisca. "Kau sedang mencintai seseorang ya?"
"Eh?" Mamori terkejut. "Kenapa kau bicara seperti itu, Shizu-chan?"
Fransisca terdiam sesaat, namun ketika ia berbicara lagi, nada suaranya telah berubah. "Hanya terpikir saja olehku," katanya sambil terus tersenyum. Mamori menghela napas.
=oOo=
Youichi Hiruma's POV
Pagi ini, aku melihat cewek sialan itu lagi. Dalam keadaan seperti biasa, tentu, bertugas pada Komite sialan itu. Heran, apa dia benar-benar membenci orang-orang yang melanggar peraturan? Pikiran ini membuatku tanpa sadar menyeringai.
Aku mengeluarkan salah satu ponselku yang pernah kugunakan untuk mengiriminya e-mail. Kuketikkan sebaris kalimat yang pasti akan langsung membuatnya celingukan mencariku. Yeah, bukankah aku hebat, karena sudah bisa menebak reaksi seperti itu?
Tidak sulit. Biasanya semua orang juga seperti itu. Melihat sekeliling dengan mimik waspada dan sedikit ngeri. Kutekan tombol 'send' dan menyeringai lagi melewati bahuku.
Kali ini dia mengeluarkan kartu kuning. Bukan kartu merah.
End of Youichi Hiruma's POV
Ponsel Mamori bergetar. Dibiarkannya Sara menulis pelanggar tadi dan jenis pelanggarannya. Ia juga membiarkan Ako melanjutkan nasihatnya yang lebih pantas disebut omelan.
Mamori melihat layar ponselnya. Sebuah pesan dari... tanpa nama? Kening gadis itu mengerut seketika. Dibukanya pesan itu. Kini di layar nampak sebaris kalimat singkat, hanya delapan kata, namun membaca kalimat tersebut Mamori langsung menoleh melalui bahunya.
"Dia melihatku, kan?" gumamnya tidak jelas. Kembali dibacanya sebaris kalimat itu.
Mana kartu merah untukku hari ini, cewek sialan?
=oOo=
Mamori Anezaki's POV
Siang hampir berakhir dan aku masih di sekolah. Tugasku sebagai ketua itu memang tidak ringan. Tidak sedikit pelanggar peraturan tiap harinya. Namun, kali ini masih lumayan sedikit apabila dibandingkan dengan waktu-waktu lampau itu. Hanya ada satu nama yang menjadi juara bertahan di buku catatan hitam Komite Kedisiplinan.
Ya, benar. Youichi Hiruma. Seperti akan ada yang menggantikan posisinya saja. Hal itu tidak mungkin terjadi.
Kemarin aku sudah menghabiskan soreku dengan Shizuka, dan aku yakin bahwa kini dia sedang bersenang-senang dengan Kaa-san. Aku tersenyum. Aku menyayanginya, kau tau? Tapi aku tak habis merasa heran pada adikku itu. Aku sudah pernah mengatakannya belum?
"Mamo-chan, aku pulang duluan, ya?" ujar Ako. "Kau benar-benar tidak keberatan sendirian di sini?" Sara mengangguk, mengukuhkan petanyaan Ako.
"Tidak apa-apa. Aku ingin membiarkan adikku berdua dengan ibuku dulu," sahutku. "Kalian pulang saja."
"Baiklah." Ako masih enggan mempercayai alasanku. "Kami duluan kalau begitu."
"Ya, hati-hati." Pintu ruangan tertutup.
Baiklah, aku jujur. Alasan yang kusampaikan kepada kedua sahabatku tadi ada benarnya. Aku ingin membiarkan Kaa-san menghabiskan waktu dengan Shizuka. Adikku itu memilih tinggal di Amerika sana, padahal aku dan Kaa-san ada di Jepang. Memangnya seberapa sering Tou-san tinggal dan menemaninya di rumah?
Alasan kedua. Bila aku pulang sekarang, aku tidak bisa mengejar waktu melihat, kau tau kan, senja.
Usai membereskan beberapa arsip yang tidak banyak, aku mengambil tas sekolahku dan pergi ke atap. Menurutku, bila sedang melihat langit atau mengamati benda-benda di atas sana, akan terasa lebih nyaman bila beratapkan langit itu langsung daripada dibatasi oleh kaca bening sekalipun.
Pintu menuju atap kubuka. Ada sosok lain yang berdiri dua meter jauhnya dari tepi atap.
Aku mengedip. Sosok itu tidak hilang. Berarti dia memang di sini.
"Kau mengantar kartu itu, ya?" ucapnya tanpa menoleh.
"Youichi Hiruma," kataku lamat-lambat. "Sedang apa lagi kau di sini?"
"Keh, bagaimanapun juga, sekolah sialan ini sekolahku juga, cewek bodoh Aku juga berhak ada di sini."
Aku berbalik. Sayang sekali melewatkan warna langit saat ini. Tapi—entah kenapa—aku merasa tidak nyaman menyaksikan momen indah itu dengan lelaki pirang itu di dekatku.
"Hei, cewek sialan," panggil cowok itu. "Kau ke sini untuk melihat matahari sialan itu lagi, kan? Mau kemana kau?"
"Itu," sahutku kembali berbalik menghadapnya, "aku mau pulang. Adikku yang waktu itu tidak akan lama berada di Jepang. Aku masih ingin menghabiskan waktu dengannya." Tidak bohong.
"Bukankah adik sialanmu itu sekarang sedang berduaan dengan ibumu?" tanyanya. "Kau sendiri yang bilang kalau kau ingin membiarkan mereka berdua dulu. Jangan jadi pengganggu, cewek sialan."
Aku melongo. Hah? Dari mana dia tau aku berkata seperti itu?
Baiklah, tidak heran. Dia adalah Youichi Hiruma.
Dia berbalik dan menatapku. Bibirnya menyeringai. "Kau tak suka membagi matahari sialanmu ini dengan aku, heh?"
Aku tidak berusaha menjawab. Aku juga tidak berusaha mengingat bahwa aku pernah berbagi matahari yang sama di tempat yang sama—dengan lelaki ini—walaupun tidak dalam waktu yang lama. Aku mengabaikan siluet wajah cowok itu yang tengah menatapku.
Dan hal itu—sungguh—membuatku hampir kehilangan fokus. Warna jingga yang selalu kunanti itu justru membuat keadaan semakin buruk untukku karena warna itu begitu menyatu dengan profilnya.
Baiklah, Mamori, abaikan itu! Aku berkedip.
"Sepertinya saat ini kau sedang sulit untuk konsentrasi," katanya dengan seringai masih ada di wajahnya. Aku membuang muka sembari berharap warna wajahku tidak berubah sedikitpun.
"Aku hanya sedikit lelah," sahutku masih tidak menatapnya.
"Kau pasti jatuh cinta setengah mati pada komite sialanmu itu hingga jadi seperti ini," Dan tidak lupa, "cewek bodoh."
Aku tidak menyahuti perkataannya.
"Jadi, cewek sialan," katanya lagi, "sudah kau putuskan akan tetap di sini atau mengganggu kencan adik sialanmu dengan ibumu?"
Dengan sedikit ragu aku menghampirinya yang ada di tepi atap. Ia terkekeh.
Baiklah, aku bukannya mengambil kesempatan mendekati cowok dengan predikat 'Komandan dari Neraka' ini. Lagipula, untuk apa aku dekat-dekat dengannya? Aku hanya ingin membiarkan waktu Ibu dan anak antara ibuku dan Shizuka sendiri. Tidak setiap waktu adikku itu punya waktu dengan Kaa-san.
Dengan mencoba mengabaikan lelaki berambut pirang yang duduk tidak jauh dariku itu—yang kini, entah kenapa, terlihat serius mengamati langit barat—aku berkonsentrasi dengan sapuan warna menakjubkan di hadapanku.
End of Mamori Anezaki's POV
=oOo=
Fransisca mengumpat pelan. Punggungnya sudah pegal bersandar pada dinding pagar sekolah di belakangnya. Berkali-kali sepasang matanya yang berwarna biru shappire melirik ke jam tangan yang melilit pergelangan tangan kirinya.
Pukul 05.10 p.m.
Seharusnya kakaknya sudah keluar gerbang ini sejak tadi, bukannya membiarkannya menunggu selama dua jam seperti ini. Gadis berambut hitam pekat itu mengumpat lagi.
Ia merutuki kesialannya hari ini—walaupun ini bukan yang pertama.
Bukan yang pertama, Ibunya cenderung menyamakan Fransisca dengan kakaknya, Mamori, dalam segala hal seakan ia adalah Mamori kedua. Hingga detik inipun rambut hitam Fransisca yang dari dulu hampir tidak pernah rapi kini menjadi sangat halus, lembut dan berkilau serta lebih pendek dan lebih rapi—hasil ajakan ibunya ke salon. Padahal berkali-kali Fransisca mengatakan ketidaksukaannya pada tempat itu.
Bukan yang pertama, kebersamaan yang sebenarnya tidak membuatnya nyaman itu—walaupun sangat ia hargai—tiba-tiba berakhir dengan kepergian sang Ibu yang mengurusi hal lain. Kali ini, misalnya, Ibunya harus memenuhi panggilan temannya yang dalam kesusahan yang jarak rumahnya lumayan jauh dari rumah Ibunya sendiri.
Bukan yang pertama, ia selalu menjadi yang kedua. Bukankah ia memang putri kedua?
Fransisca mengacak rambutnya, walaupun gerakan itu tidak memberikan hasil seperti yang ia harapkan.
Bukan yang pertama, ia hampir selalu sendirian.
"Maaf," Telinga Fransisca menangkap sebuah suara, "bukankah kau adiknya Mamori Anezaki?"
Gadis itu menoleh, dan mendapati sesosok lelaki berambut acak-acakan yang ditemuinya tempo hari kini tengah berdiri di hadapannya.
"Ya," balas Fransisca sambil membuang muka. "Sedang apa kau di sini?"
"Ah," desah pemuda itu. "Sedari tadi aku menunggunya di stasiun, tapi dia tidak datang. Akhirnya aku memutuskan untuk kemari."
"Dan," ucap Fransisca lagi, "untuk apa kau menunggunya di stasiun?" Ia tergerak untuk menatap pemuda yang lebih tinggi darinya itu.
Pemuda itu tersenyum ramah. "Ada beberapa hal yang perlu kubicarakan." Ia menatap gadis di hadapannya. "Namaku Takeru Yamato."
"Hai," tanggap Fransisca singkat. "Dan apa yang kau maksud 'beberapa hal' itu?"
"Hanya urusan kecil antara kami berdua," sahut Yamato ringan dan masih dengan senyum yang sama.
Fransisca menatapnya—menatap langsung ke mata Yamato tanpa berkedip sementara cowok itupun membalas tatapan Fransisca.
"Jadi," Nada suara Fransisca berubah jadi lebih lembut dan manis, "mungkin kau bisa menemuinya lain kali." Gadis itu tersenyum. "Atau kau bisa menitipkan 'beberapa hal' itu padaku. Akan kusampaikan, tentu saja."
Yamato tertawa. "Sebaiknya aku sendiri yang menyampaikannya," tolaknya halus.
"Kalau begitu mungkin lain kali," ujar Fransisca masih dengan nada yang sama dan senyum yang sama. "Carilah saat yang tepat untuk mengatakannya pada kakakku bila aku tidak sedang ada dengannya." Senyumnya semakin lebar. "Atau bila tidak ada lelaki pirang itu di sampingnya."
=oOo=
"Astaga, Shizu-chan!" pekik Mamori. "Sejak kapan kau ada di sini?"
"Tidak sopan memekik seperti itu ketika kau melihat adikmu sendiri, sista," ucap Fransisca ketus sembari berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang celana jeans-nya. "Apalagi sebelum kau menyapanya."
"Maaf," kata Mamori seketika. "Aku terkejut."
"Dari ekspresimu, aku sudah tau kau terkejut."
Hiruma—yang berdiri di belakang Mamori—menyeringai.
"Oh, ya, dan untukmu," ujar Fransisca pada Hiruma. "Setelah menghabiskan satu senja dengan kakakku, kurasa kau senang sekali."
Wajah Mamori sedikit bersemu. Sedikit, karena ia langsung memfokuskan diri untuk menyergah ucapan adiknya itu.
"Shizu-chan!"
"Aku jadi ingin tau," kata Hiruma dengan nada datar yang sedikit berbahaya, "apa kau itu memang ingin coba mencari keributan denganku, adik cewek sialan."
"Bukan," bantah Fransisca. "Lebih tepat disebut 'mencoba mengatakan kebenaran', mungkin."
"Shizu-chan," ucap Mamori mencoba menghentikan keributan antara dua orang di hadapannya ini sebelum keributan itu dimulai, "kupikir kau sedang menghabiskan sore dengan Kaa-san."
"Kupikir kau lupa bahwa bukan pertama kalinya aku menghabiskan soreku sendiri, sista," sahut Fransisca. "Dengan Kaa-san yang tengah berkunjung ke rumah temannya dan kau yang ada di sekolah sepanjang sore, itu tidak mustahil."
"Cih," Hiruma berjalan melewati Fransisca tanpa menghiraukan gadis itu. "Kesepian, ternyata."
"Yeah." Fransisca mengangkat bahu. "Menurutmu begitu?"
"Tertulis jelas di kepalamu."
"Begitu?" Alis Fransisca terangkat. "Bila setiap orang yang kesepian bisa terbaca dengan jelas olehmu, tidakkah sebaiknya kau mempertemukan mereka agar mereka saling mengisi?" ujarnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis. "Atau kau salah satunya?"
"Kau benar-benar mencari keributan denganku, ya!" Entah darimana munculnya, yang jelas kini senapan kesayangan setan itu sudah ada di tangan pemiliknya.
"Seperti yang kukatakan tadi," sambut Fransisca tenang. "Hanya mencoba mengungkapkan kebenaran."
"Shizu-chan, berhenti mencari masalah dengannya," kata Mamori sementara dengan cepat ia menarik adiknya pergi dari hadapan Hiruma. "Tidak bisakah kau menjadi dirimu yang satunya ketika berhadapan dengan orang itu?"
"Aku bersikap sesuai kemauanku."
"Kau tidak mau memenuhi permintaanku?"
"Menurutmu, itu permintaan?" Fransisca melirik kakaknya. Mamori menyerah.
Ketika disadarinya Hiruma mengikutinya dari belakang dalam jarak yang dijaga, gadis berambut auburn itu menghela napas. Entah kenapa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Sesuatu yang membuatnya merasakan nyeri, walaupun ia harus mengakui, entah kenapa, nyeri itu terasa menyenangkan.
Entah kenapa.
=oOo=
"Shizu-chan." Mamori menghampiri adiknya yang tengah berada di tepi balkon rumah mereka. Fransisca menoleh dan tersenyum. Pada detik itu, Mamori yakin sedang dalam pribadi apa adiknya tersebut. "Apa ada bintang di sana?" Ia mendongak.
Fransisca ikut mendongak. "Seperti yang kau lihat, sista," sahutnya. "Sepertinya kota ini sudah ada terlalu banyak lampu."
"Aku tidak tau kau suka melihat bintang juga," kata Mamori. "Bukannya dua tahun yang lalu, kau hanya menyukai satu hal?"
Fransisca tersenyum tipis. "Aku tidak bilang aku suka melihat bintang," katanya. "Kau sendiri?"
"Aku tidak bisa bilang menyukainya, karena aku hampir tidak pernah melihatnya," sahut Mamori. "Lagipula, bintang hanya terlihat seperti titik di langit. Bukan begitu?"
Adiknya menarik napas. "Oke, kalau begitu, aku akan masuk." Ia membalikkan tubuh.
"Kenapa tiba-tiba sekali?" tanya Mamori heran. Ia ikut berbalik.
"Kau tahu, aku hanya mencari momen yang bisa kubagi dengan orang yang dekat denganku," ujar Fransisca sambil menatap lurus pada mata kakaknya. Di kedua pasang mata itu, pada saat yang sama, ada kehangatan untuk measing-masing. "Tapi aku rasa momen itu memang hanya ada satu."
Mamori tersenyum. "Shizu-chan," katanya. "Kenapa menjadi jujur seperti ini?" Gadis itu sedikit merasa geli mendengar pernyataan itu. Namun ia juga senang melihat adiknya seperti itu karena bagaimanapun ia tau bahwa itu jujur. Kata-kata itu juga berarti bahwa walaupun tidak terucapkan, sebenarnya adiknya itu menyayanginya—membalas rasa sayang Mamori padanya.
"Lupakan." Nada Fransisca tiba-tiba menjadi ketus. "Sepertinya aku terlalu menyenangkan dirimu."
Mamori tertawa pelan. "Bagaimana Amerika?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak lebih baik."
"Kupikir kau akan berkata 'Lebih buruk'."
"Kenapa aku harus berkata seperti itu?" tanya Fransisca setelah diam beberapa saat.
"Aku hanya memikirkan percakapanmu dengan Hiruma tadi," jawab Mamori ragu-ragu melanjutkan topik ini. "Baiklah, sebaiknya kau tidur sekarang, Shizu-chan."
"Cih, aku bukan balita yang biasa disuruh tidur pada jam tertentu," ucap Fransisca sembari berjalan masuk ke dalam rumah. "Lebih baik kau sendiri yang beristirahat." Kening Mamori berkerut. Tidak biasanya pada pribadi ini, adiknya masih tetap terlihat berkepribadian perduli seperti ini. "Pasti melelahkan menghadapi orang-orang yang bersandiwara sesore tadi, ya?" lanjut Fransisca.
"Apa maksudmu, Shizu-chan?" tanya Mamori spontan. Kerutan di keningnya semakin banyak.
Fransisca berbalik lagi menghadap ke arah kakaknya tersebut. "Astaga, sista, apa kau masih tidak menyadarinya? Bahkan setelah aku ungkapkan tadi?" Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan tanpa menunggu reaksi selanjutnya dari sang kakak, Fransisca masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Mamori yang termenung dibuatnya.
Sesore tadi? Apakah maksudnya Hiruma... dan ia sendiri? batin Mamori.
=oOo=
Youichi Hiruma berbaring terlentang di atas tempat tidurnya. Kedua matanya menatap lurus pada langit-langit kamar yang ditempatinya sejak beberapa tahun itu. Otak jeniusnya kali ini disibukkan oleh hal-hal yang sebenarnya sepele, namun tidak mudah ia abaikan begitu saja.
Tentang kedua kakak beradik Anezaki itu. Itu yang pertama dan yang utama menyibukkan pikirannya.
Seperti yang terjadi pada umumnya, kedua Anezaki itu juga memilik kesamaan. Walaupun perbedaan itu begitu mencolok di antara keduanya, namun tetap saja masih tersisa kemiripan di sana.
Hiruma mendecih pelan. Baik kakak maupun adik, keduanya sama-sama ahli membuatnya kesal. Itu poin utamanya. Perbedaannya adalah, Mamori Anezaki, si kakak, cenderung bisa juga membuatnya menyeringai—jenis seringai yang selalu ditampakkannya usai menggoda gadis berhati malaikat itu. Terkadang, itu menyenangkan. Sementara si adik, Fransisca Anezaki, selalu membuatnya kesal karena tiba-tiba saja gadis aneh itu mengungkapkan fakta-fakta menyebalkan tentang dirinya. Seakan dirinya begitu mudah dibaca.
Itu fakta, benar. Bukan penyataan-pernyataan kosong sekaligus sok tau yang diungkapkan oleh orang yang mencoba mengerti Hiruma.
Poin kedua : kedua pasang mata itu begitu serupa. Poin kali ini sama menyebalkannya serta sama sialannya bagi seorang Youichi Hiruma, karena Hiruma pernah melihat sepasang mata beriris biru shappire selembut milik Mamori, sekaligus sedalam iris mata Fransisca Anezaki bertahun-tahun yang lalu.
"Tch." Hiruma memejamkan matanya, mencoba untuk tidur. "Itu sudah lama sekali."
Satu fakta lagi. Namun setelah sekian lama, bayangan sepasang mata itu belum juga sirna. Apalagi kini setiap hari ia akan selalu diingatkan pada sepasang mata itu.
=oOo=
Apa benar dia kesepian?
Satu kalimat itu menghalangi Mamori untuk terlelap. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, namun otaknya masih tetap terus berputar. Memikirkan dua orang dalam satu waktu memang melelahkan.
Sungguh, apakah peristiwa sore tadi akan menambah kenyataan bahwa adiknya begitu serupa dengan seorang Youichi Hiruma?
Mamori tidak mengenal Hiruma, kecuali karena rekor pelanggaran cowok itu yang sudah melebihi batasnya. Serta kegemarannya bersantai di atap sekolah ketika hari sore, mungkin. Karena kenyataan kedua itulah yang ia dapatkan akhir-akhir ini. Entahlah. Itu terlalu membingungkan dan beralur cepat bagi gadis yang mendapat julukan 'malaikat' tersebut.
Namun, dengan dua fakta itu, apakah terlalu dini untuk berasumsi bahwa memang adiknya dan lelaki setan itu begitu serupa?
Apakah benar dia—mereka—sama-sama kesepian?
Tapi, pikir Mamori, yang aku tau, seorang Hiruma tidak mengenal profil sebuah keluarga—keluarganya, sedangkan Shizu mengenal, memiliki, dan berada di dalam sebuah keluarga. Ada perbedaan mendasar pada 'kesepian' mereka.
Namun, sepertinya benar. Mereka kesepian.
Mamori bergelung di tempat tidurnya, mencoba tidak memikirkan asumsinya itu. Namun ia tidak bisa. Bagaimana mungkin adiknya merasa kesepian? Bukankah Fransisca memilikinya?
Setidaknya, bukankah seharusnya Fransisca mengingat fakta bahwa ada kakak yang selalu menyayanginya?
=oOo=
"Kau bicara terlalu banyak, Frans," ucap gadis itu. "Dan seperti biasa, bicara banyak juga berarti banyak mengungkapkan fakta." Fransisca mengacak rambutnya. Jam yang berdentang dua belas kali itu tidak bisa membuatnya mencoba tidur.
Sialan! umpat gadis itu. Sedari tadi ia menyesali kelancangannya ketika ia dengan ceroboh mengabaikan susunan kalimat yang keluar dari mulutnya hanya untuk meladeni ejekan seorang lelaki setan.
"Yang benar saja. Aku kan tidak perlu mengkonfirmasi pernyataan ketika cowok sialan itu mengatakan bahwa aku kesepian," gumam Fransisca pelan. Ia tidak ingin mengambil resiko kakaknya mendengar kata-katanya walaupun kemungkinan besar sang kakak sudah terlelap. "Sial!"
Gadis itu hanya mencemaskan satu hal. Ia tidak ingin dirinya menjadi beban bagi kakaknya. Apabila Mamori mengambil keputusan untuk menganggap asumsi 'Fransisca kesepian' sebagai fakta, gadis berambut hitam pekat itu pasti akan dianggap rapuh.
Dia benci dianggap seperti itu.
Ia hanya tidak ingin merepotkan kakaknya. Sejauh yang bisa diingatnya, kakaknya itu selalu mencoba untuk ada di sampingnya. Kecuali pada saat-saat ia di Amerika, tentu saja. Ia sendiri yang memilih untuk menemani sang Ayah di sana.
Semuanya bermula ketika ia menemukan kenyataan yang sama pada sesosok lelaki setan penyandang julukan 'Komandan dari Neraka'. Ya, seorang Youichi Hiruma. Kedua mata Fransisca yang berwarna biru shappire bisa menangkap arti di balik iris mata cowok itu. Kenyataan konyol bahwa lelaki itu sedang berpura-pura kuat tersebut mengusiknya. Entah kenapa ia merasa seperti melihat cerminan dirinya sendiri.
Memangnya dirinya sekonyol itu? Fransisca mendengus.
=oOo=
"Gadis itu menyebalkan."
Yamato mengungkapkan pernyataan itu lambat-lambat. Rencananya terancam gagal hanya karena kehadiran seorang gadis yang tiba-tiba bertingkah seperti bodyguard kakaknya.
Seharusnya, gadis itu tidak perlu bertingkah berlebihan seperti itu. Lagipula, Yamato hanya butuh sedikit waktu dan ketika 'pion' itu ia anggap sudah menyelesaikan tugasnya, ia akan berhenti mengusik kehidupan Anezaki Mamori.
Bagaimanapun, seorang Takeru Yamato tidak akan menyerah dengan mudah.
Itu pasti. Air mata seseorang yang ia sayangi tidak akan bisa dihargai sebegitu mudah. Hiruma pasti akan merasakan perasaan yang sama sepertinya dulu ketika waktu itu tiba.
To Be Continued
Semoga cukup memuaskan ya kali ini~
Nggak bisa berharap banyak sih, soalnya fic ini memang lama banget menjamur di sini. Cuma berharap biar masih ada review yang mampir ke fic ini dan banyak readers yang nungguin dan baca fic ini.
Nggak kebanyakan, kan? ;D
Well, mind to review?
