Disclaimer :

Detective Conan adalah milik Aoyama Gosho

Balasan Untuk Reviewers:

Maru-Chan: Oh. Bingung karena Conan udah jadi anak SMP kah? Jadi, Conan kan butuh waktu tiga tahun buat ngungkap BO. Nah, kejadian itu terjadi tiga tahun lalu di sini. Jadi di sini usianya 13 tahun. Terima Kasih review-mu. :)

Ryuuta Kagami: Hmm... Kita lihat saja nanti bagaimana akhirnya ya? Apa satu minggu terlalu lama? Maaf ya. Soalnya Author sedang sibuk belajar dan bekerja. Jadi mungkin sampai waktu yang belum ditentukan, akan tetap seperti ini.

Edogawa Sora: Conan milih Ran ya? Tetap baca ya, supaya tahu bagaimana ini berakhir. ^^

Zetwelvesi: Iya. Ceritanya langsung tertangkap. Soalnya mau fokus sama masalah baru Conan. Takutnya kalau dijabarkan juga, akan tambah panjang lagi. Terima Kasih. Ini update-nya! ^^

Akaito53: Kalau menurut Author, Conan biasanya berlaku baik, karena dia butuh informasi buat memecahkan kasus tertentu. Nah, jika sudah tahu berhasil, sombongnya keluar. Apalagi anggota FBI udah tahu siapa dia sebenarnya. Dan keinginan FBI bertentangan dnegan keinginannya. Jadi dia agak 'ngambek' gitu. Mengenai Sera dan Kaito, Author tidak yakin bisa memunculkannya, tapi mungkin bisa dimasukkan meskipun sedikit. Terima Kasih usulmu. ^^

Dark terror: Conan dan Ai? Bisa jadi. :P Sengaja kutekankan pada Conan dan Ai karena cerita 'mesra' mereka sedikit. Jadi ini dibutuhkan untuk membuat Conan makin bingung.

Catatan Penulis:

Author sekarang ingin menambah kegalauan pada Conan dan Ai. Terlebih pada Ai yang akhirnya mengetahui jawaban Conan. Tapi seperti kata pepatah, masa depan bisa berubah. Bagi penggemar ConAi, jangan putus asa. bujuklah Author dengan review kalian. :P

Author akan mencoba update rutin tiap satu minggu. Jadi, mohon review kalian.

Sekarang, kupersembahkan kisah ini pada para readers dan reviewers.


Three Wishes

By Byzan

Pagi hari ini, Conan bangun pagi seperti biasa. Kebiasaannya sebagai Shinichi yang sering bangun siang memang sudah benar-benar hilang sejak tinggal bersama Ran yang selalu membangunkannya.

Sengaja dia bangun lebih pagi hari ini, karena dia sudah lama tidak memakai seragam. Bukannya norak kegirangan seperti anak yang baru masuk SMP, tapi dia harus mengatur waktu sekali lagi untuk membiasakan diri dengan sosok SMP yang diharuskan berseragam. Tidak seperti anak SD yang dibebaskan dari seragam.

Lalu dia masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian keluar untuk memakai seragam yang masih 'bau baru' tersebut. Setelah siap, dia mengambil tasnya dan melangkah ke ruang makan.

Dia tidur nyenyak seperti biasanya. Kalau dulu dia selalu terganggu oleh suara berisik tidur Kogoro, dia tidak merasakan itu lagi sekarang. Karena Kogoro telah banyak berubah, sama seperti banyak orang disekitarnya.

Semenjak Ran menangis di depan Conan ketika curhat tentang kondisi Ayahnya-yang buruk, juga kebiasaan dan sifatnya yang tidak jauh beda buruknya-yang tidak sengaja didengar oleh Kogoro, dan melihat kondisi Ran yang pernah sampai sakit karena beban pikiran, dia mencoba hidup sehat, dan mencoba merubah perilaku menjadi tidak terlalu kasar-yang tidak begitu berhasil-dan tidak melirik wanita lagi.

Conan sampai terkejut sendiri dengan kemajuannya yang sangat pesat untuk orang yang terbilang sudah candu itu. Sepertinya kasih sayangnya pada Ran lebih besar. Atas kerja kerasnya menghentikan kebiasaan itu, otaknya menjadi lebih jernih. Dia sudah sering memecahkan kasus sendiri. Bisa dibilang, kemampuannya dalam memecahkan kasus juga meningkat.

Dia mulai mengijinkan Conan membantunya. Dia menyadari potensi Conan dan tidak menyia-nyiakannya. Sungguh berubah sifatnya itu. Caranya berpikir, juga sifatnya berubah total-meskipun sifat kasarnya kadang kerap keluar. Sampai Conan kadang hampir merasa rindu dengan sifat konyol Ayah Ran tersebut.

Kogoro telah rapi, dia duduk membaca koran di sekitar meja makan sambil menunggu makanan yang sedang disiapkan Ran. Ran yang melihat Conan yang sudah siap dan menghamipiri meja makan, menyapanya.

"Ohayo, Conan-kun. Begitu semangat masuk SMP ya? Pagi sekali bangunmu hari ini," sapa Ran agak menggoda. Ran sudah biasa menggoda Conan bersamaan dengan usia Conan dimatanya yang mulai dewasa. Jadi Conan pasti sudah mulai mengerti mana yang bercanda dan serius.

"Ohayo, Ran-neechan. Tidak juga. Hanya saja aku mulai ingin membiasakan diri karena aku sekarang harus memakai seragam. Memakai seragam kan lebih repot dari pada memakai pakaian bebas," katanya berdalih dengan suaranya yang mulai berat. Dengan sosok SMP seperti ini, Conan sudah bisa mengeluarkan kata-kata 'cerdas'. Setidaknya dia tidak harus selalu berpura-pura seperti dulu yang sangat polos.

"Memang harusnya begitu. Kalau tidak, percuma saja kau kuberi makan tiap hari," ujar Kogoro ikut merespon. "Apa kata orang kalau melihat orang yang sering membantuku memecahkan kasus begitu malas?" lanjutnya.

"Oi. Oi. Siapa yang dulu seperti itu?" batin Conan sembari menunjukkan wajah 'oi-oi' khas miliknya.

Ran yang melihat hubungan Ayahnya dengan Conan semakin akrab, mulai senyum-senyum saja. Dia merasa senang karena seperti memiliki keluarga lagi. "Berarti tinggal satu orang lagi yang kurang di sini," batin Ran.

"Nah, makanan sudah siap. Ayo kita makan!" seru Ran sambil menghidangkan makanan di atas meja.

Setelah semua duduk, mereka mulai makan sambil diselingi candaan dan obrolan. Sampai akhirnya makan mereka selesai, Conan mulai membantu Ran membereskan piring-piring. Sementara Kogoro sudah pamit menuju Kantornya.

Dalam acara membersihkan alat makan tersebut, Conan mulai berbicara kepada Ran.

"Ah, Ran-neechan?" panggil Conan.

"Hm?" jawab Ran tanpa mengalihkan perhatian kepada Conan.

"Sebentar lagi hari ulang tahun Neechan kan?" tanya Conan.

"Iya. Lalu?" tanya Ran, mulai menengok ke arah Conan, jelas masih bingung kemana arah pembicaraan ini.

"Apa hadiah yang Neechan inginkan? Aku akan mencoba mencarinya," jawab Conan tersenyum. Ran jadi ikut tersenyum.

"Kau tidak perlu repot-repot membelikanku hadiah, Conan-kun," jawab Ran masih dengan senyumnya.

"Tapi… aku sudah menyiapkan uang untuk hari itu," jawab Conan cemberut. Membuat Ran menyesal mengatakan hal tadi.

"Haah… baiklah kalau Conan-kun memaksa," jawab Ran sambil merenungkan pilihannya.

"Aku memang memaksa," ujar Conan. "Jadi, apa yang Neechan inginkan?" tanya Conan antusias. Perlahan senyumnya melebar. Tidak percuma dia memasang wajah tadi. Enam tahun tinggal bersama Ran, membuat Conan hampir benar-benar merasa bahwa dia adalah adik Ran. Di sisi lain, Conan memang ingin membuat Ran-yang masih sering memikirkan dirinya sebagai Shinichi-terhibur. Memberikan hadiah sebagai adiknya sepertinya bukan ide jelek. Bagus malahan.

Setelah hening dalam pemikirannya sendiri, Ran membuka mulut dan menoleh pada Conan.

"Karena Conan-kun telah menyiapkan uang, boleh Aku mengatakan tiga hal yang paling kuinginkan? Bagaimana? Terlalu berat kah?" tanya Ran. Dia terlebih dulu ingin melihat reaksi Conan. "Conan-kun bisa memberikanku salah satu diantaranya jika terlalu berat," lanjut Ran meringankan permintaannya pada adiknya itu sambil tersenyum.

"Hai! Tidak masalah," ucap Conan. Dia memikirkan banyak hal sebagai hadiahnya untuk Ran. Jadi kalau dipangkas menjadi tiga pilihan, rasanya tidak terlalu sulit untuk memilih. Tapi melihat senyum Ran, dia bertekad untuk memenuhi semuanya. Mungkin Ran akan lebih senang. Begitu pikirnya.

"Pertama, Conan-kun bisa membantuku mendatangkan Shinichi untuk datang ke acara ulang tahunku," ucap Ran mengatakan permintaan pertama.

DEG!

Conan terkejut mendengar permintaan pertama Ran. Itu artinya, paling tidak penawar permanen harus selesai dalam waktu seminggu. Dia tidak bisa minum penawar sementara lagi. Belum lama ini, Conan diperingatkan oleh Ai untuk tidak meminum penawar sementara lagi. Ai khawatir Conan yang sudah minum terlalu banyak obat sementara itu, tidak bisa kembali ke wujud sejatinya meski nanti dia menemukan obat penawar permanen. Permintaan Ran lebih sulit bagi Conan daripada perkiraan Ran.

"Kedua," lanjut Ran. "Aku minta Conan-kun, apapun yang terjadi, jangan menghilang dari kehidupanku ya?" Ran mengucapkan pemintaan keduanya sambil tersenyum. Manis sekali.

DEG!

Conan lagi-lagi terkejut. Jika dia kembali menjadi Shinichi, artinya, Conan tidak akan pernah muncul lagi dihadapannya. Lagi-lagi permintaan yang sulit.

"Terakhir," lanjut Ran lagi. "Aku suka dengan apapun yang Conan berikan," kata Ran akhirnya. "Tapi jangan barang yang terlalu cowok atau membosankan buatku ya? Shinichi dulu sering kali memberikan hadiah berupa novel Sherlock Holmes yang tidak kumengerti. Meski Aku tetap senang. Jangan bilang-bilang Shinichi ya, Conan-kun? Bagaimana permintaanku itu?" tambahnya lagi diakhiri dengan pertanyaan.

Kali ini Conan bernapas lega karena permintaan yang terakhir jauh lebih mudah. Di saat bersamaan dia juga malu karena dulu memberikan barang seperti itu untuk Ran. Betapa tidak peka dirinya dulu.

"Um. Aku akan berjuang mewujudkan semuanya!" jawab Conan bersemangat. Meskipun dalam hati dia yakin kalau dia tidak akan bisa mewujudkan semuanya.

Ran yang melihatnya tersenyum senang. Dia senang, terutama karena memiliki adik yang perhatian pada kakaknya itu.

"Arigatou, Conan-kun," ucapnya lembut. "Nah, sekarang ayo kita pamit kapada Ayah. Kamu tidak ingin terlambat dihari pertama buka?" ajak Ran. Lagi-lagi tersenyum. Sukses Membuat Conan bimbang sekali lagi tentang apa yang dipikirkannya semalam.

Setelah pamit, Mereka menuruni tangga. Dan Ran kembali berniat menggoda Conan ketika sudah akan berpisah jalan.

"Ah, Conan-kun," panggil Ran kepada Conan.

"Hm?" jawab Conan menoleh.

"Tidak perlu kuantar ke sekolah baru tidak apa-apa kan?" ujar Ran dengan air muka khawatir. Namun, matanya menunjukkan yang sebenarnya, mata jenaka.

"IEE!" jawab Conan agak berteriak. "Aku bukan anak kecil lagi, Neechan!" lanjut Conan dengan kekesalan murni. Seolah dia tidak mengerti maksud Ran. Sebenarnya dia mengerti. Hanya saja refleksnya yang sudah menjadi adik orang yang disayanginya itu yang mengambil alih jawaban tersebut.

"Hahahaha… ya sudah. Hati-hati ya…" kata Ran yang tertawa pelan sembari melambaikan tangannya pada Conan. Berniat menuju ke tempat kerjanya.

"Huh. Tentu saja… Jaa, Ran-neechan!" ucap Conan seraya berlari menuju rumah Profesor. Kebetulan, di sanalah Detektif Teitan-nama ganti dari Detektif Cilik yang menurut anggotanya sudah tidak pantas digunakan mengingat mereka sudah SMP-berkumpul. Semua setuju. Karena di sanalah markas pusat mereka. Apalagi Mitsuhiko. Jelas sekali bagi Conan bahwa Dia senang bisa datang dan menjemput Ai. Diam-diam Conan berharap bahwa dirinya bisa seperti anak itu. Bisa menujukkan sikap 'Aku menyukai Ai' seperti Mitsuhiko. Dia terus memikirkan hal itu. Hingga tanpa sadar dia sudah sampai di depan rumah Profesor. Ada Ayumi di sana.

—X—

Rumah Profesor Agasa

"Ohayo, Conan-kun!" sapa Ayumi dengan suara keras juga senyum manis dan ceria. Seperti biasanya. Tapi bukan senyum yang membuat Conan galau seperti efek senyum Ai atau Ran.

"Ohayo, Ayumi," sapa Conan balik. "Mana yang lain?" tambahnya ketika sudah sampai di depan Ayumi.

"Belum datang," jawabnya senang karena punya waktu berdua dengan Conan meski sesaat.

"Bagaimana dengan Haibara? Masa dia belum datang juga?" tanya Conan lagi.

"Oh, aku belum menemuinya. Kebetulan aku juga baru datang," kata Ayumi. Agak kecewa karena Conan menanyakan Ai.

"Begitu? Kalau begitu, biar kupanggil dulu. Jangan sampai kita terlambat gara-gara menunggunya sementara dua orang itu sudah sampai," jelas Conan sambil menunjuk kedua temannya yang lain yang sudah mulai terlihat.

Conan kemudian berlalu memasuki halaman depan rumah Profesor. Dan memencet bel.

Tak lama kemudian, muncul seorang perempuan dalam balutan seragam SMP. Conan berusaha menenangkan degup jantungnya. Cantik sekali, pikirnya.

"Ohayo," sapa Conan dengan nada malas.

"Hm? Semangat sekali Kau, Tantei-kun. Tidak biasanya kau sepagi ini disini," kata Ai. "Apa Kau begitu semangat masuk SMP?" lanjut Ai mulai menyindir Conan.

"Aku juga malas berangkat sekolah sepagi ini," jawab Conan. "Tapi, sebentar lagi yang lain sampai. Mereka tidak akan senang dengan kelambatanmu. Ayo berangkat, Ai," tambah Conan menjelaskan.

"Begitu? Ayo kalau begitu, Conan-kun," balas Ai.

Mereka berdua sama-sama menunjukkan rona merah tipis di wajahnya. Tapi tidak ada yang melihat satu sama lain. Itu disebabkan Conan memalingkan wajahnya saat memanggil Ai demikian. Tiga tahun mereka menggunakan nama panggilan ini jika hanya berdua, tapi Mereka masih sering blushing. Alasannya, tentu saja agar tidak digossipkan macam-macam oleh orang lain. Padahal, malah terlihat aneh. Orang yang hampir selalu mengungkap kejahatan dan bepergian bersama selama 6 tahun, tidak akrab atau menutupi keakrabannya dengan memanggil nama keluarga.

Mereka sepertinya sama-sama kurang ahli dalam bidang ini. Conan yang baru 'belajar' menjadi peka. Ai yang hampir semasa hidupnya dekelilingi orang yang tidak kejam. Mereka seharusnya sudah sadar akan perasaan masing-masing yang menyukai orang yang ada di depannya. Tapi masih malu mengutarakannya.

Terutama Ai, dia tidak ingin Conan menderita karena keegoisan perasaannya. Dia takut Conan bingung jika mengetahui perasaannya. Meski tidak tahu perasaan Conan padanya, Conan tetap merupakan sahabatnya yang perlu dijaga hatinya. Dia takut Conan memikirkan dirinya saat kebahagian bersama Ran sudah di dapan mata. Dia juga selalu terbayang Akemi, kakaknya, ketika melihat Ran. Dia tidak bisa membayangkan kakaknya sedih jika melihat orang yang dicintainya direbut. Apalagi jika dirinya yang merebut orang itu.

Jadi, Conan yang angkuh untuk mengutarakan perasaan, juga karena masih bingung dengan pilihannya. Dan Ai yang ingin menutup perasaan dirinya untuk mengungkapkan perasaannya, juga ingin menjaga perasaan kedua orang yang disayanginya, Conan dan Ran. Inilah alasan Mereka. Sepertinya sulit bagi Mereka untuk menunjukkan perasaannya lebih dari pemanggilan nama depan.

Mereka berdua terdiam dengan pikirannya masing-masing. Sampai…

"Hoi! Conan! Ai! Apa yang kalian lakukan? Ayo berangkat! Kita tidak ingin terlambat di hari pertama!" panggil Genta berteriak.

Segera saja kedua insan itu tersedar dari lamunannya.

"Ah, i-iya!" jawab mereka berbarengan.

Lalu mereka berjalan menuju sekolah barunya. Mereka berjalan santai sambil mengobrol, karena sekolah masih baru akan mulai 30 menit lagi. Sungguh sesuatu yang aneh bagi Conan. Kejadian yang mirip bisa terulang dua kali dalam kehidupannya. Teman. Teman yang sama-sama dari masa kecil, hingga sekarang tetap satu sekolah dengannya. Dia tidak heran jika nanti mereka akan satu SMA. Dengan syarat, Conan dan Ai masih dalam bentuk tubuh ini.

—X—

"Hei, apa yang kalian bicarakan tadi ketika kami panggil?" tanya Mitsuhiko penuh selidik pada Conan dan Ai, sukses mengubah topik yang dari tadi ramai mereka bicarakan.

Jawaban untuk anak itu hanyalah tatapan kosong tak mengerti yang dilontarkan pada sang penanya. Dan akhirnya mereka berucap, "Haaah?" secara bersamaan. Membuat Mitsuhiko makin cemburu melihatnya.

"Iya, apa yang kalian bicarakan? Serius sekali sampai Genta harus berteriak memanggil kalian," ucap Mitsuhiko. Nada kesalnya sangat tipis, tapi nada cemburu begitu jelas.

"Iya. Kalian juga sering sekali bicara tanpa mengajak kami. Apa sih yang kalian bicarakan?" tambah Ayumi yang juga sebenarnya cemburu.

"Benar. Aku kan ketua kelompok ini. Harusnya aku tahu apa yang terjadi," tambah Genta. Genta yang ikutan bicara itu, tidak merasakan apa pun. Dia hanya ingin ikutan bicara saja.

"Bukan hal penting kok," ucap Conan menjawab rentetan pertanyaan itu. Kedua tangannya diangkat sejajar dengan dadanya seolah ingin menahan pertanyaan mereka.

"Ya, Edogawa-kun tadi hanya ingin mengajakku bersegera," jawab Ai cuek, sambil memejamkan mata. Jawaban yang tidak bohong, memang begitu kenyataannya.

"Oooh!" jawab Ayumi dan Genta seolah puas.

"Aneh. Kalau begitu apa yang membuat kalian melamun?" tanya Mitsuhiko yang paling pintar diantara ketiga anak SMP 'asli' dalam kelompok Mereka. Jelas dia merasa hal tersebut aneh, karena berbicara tidak membutuhkan lamunan jika tidak mengingat atau memikirkan sesuatu.

"Ah, itu…" jawab Conan menggantung.

"Kami teringat kejadian lain setelah bercakap sebentar. Tidak perlu kau pikirkan," tambah Ai mengisi kekosongan jawaban Conan.

"Apa-" pertanyaan Mitsuhiko terputus.

"Cukup, Mitsuhiko-kun. Kau mau terus bertanya hingga melanggar privasi kami?" tanya Ai mulai terlihat kesal. "Ini tidak ada hubungannya dengan kasus. Dan lagi kami bukan tersangka. Kami tidak memiliki kewajiban untuk menjawab semua pertanyaanmu. Dan kau tidak punya hak untuk mengetahui urusan orang jika tidak diperlukan," lanjut Ai pedas. Tak biasanya dia begitu. Conan, Ayumi, dan Genta yang menyaksikannya hanya bisa melihat Ai, terpana.

"Tentu saja diperlukan!" jawab Mitsuhiko tegas. Conan, Ayumi, dan Genta terkejut, dan mulai melirik ke arah Mitsuhiko.

"Bisa kau jelaskan, Mitsuhiko-kun?" tantang Ai. Conan yang melihatnya merasa aneh dengan sikap Ai. Biasanya dia tidak sepeduli ini dengan ucapan Mitsuhiko. Dan lagi, dia biasanya membalas ucapan Mitsuhiko dengan lembut. Kenapa sekarang begini?

"I-itu…" Mitsuhiko terbata. Jelas dia tidak mungkin bilang cemburu. Dia bukan siapa-siapanya Ai.

"Jelas kau tidak bisa kan? Mitsuhiko-kun?" ucap Ai tersenyum lembut. Conan yang melihatnya sweatdrop. "Apa-apaan senyum tadi itu? Lima detik yang lalu dia mengucapkan kata-kata pedas, sekarang malah tersenyum seperti malaikat," batin Conan.

"I-iya. Maaf, Ai," ucap Mitsuhiko akhirnya.

"Tentu," jawab Ai masih dengan senyumnya.

Conan yang bingung melihat kejadian tadi, terus memikirkannya sampai mereka tiba di sekolah.

—X—

SMP Teitan

Acara pembukaan berupa sambutan kepada para murid baru telah usai. Dan saat pembagian kelas, Conan dan kawan-kawannya terkejut melihat Bu Kobayashi yang menjadi wali kelas mereka. Belum lagi mereka selesai terkejut karena bisa satu kelas lagi dengan teman-teman dari Detektif Teitan, sekarang kejutannya bertambah dengan wali kelas Mereka saat SD.

"Ah, ohayo minna! Kalian terkejut?" tanya Bu Kobayashi setelah menyampaikan sapanya.

"Haah… tidak terlalu," jawab Conan dan Ai. Lagi-lagi berbarengan. Mereka jadi sedikit blushing karena mereka pagi ini hampir selalu kompak.

"Eh, Kalian berdua tidak terkejut?" tanya anggota Detektif Teitan dan Bu Kobayashi berbarengan.

"Yah… begitulah," jawab Conan. "Menurutku, ini dilakukan agar kami-anggota Detektif Teitan bisa menjadi lebih kompak. Ditambah lagi manager-nya ada di sini. Makin memperkuat dugaanku kalau SMP Teitan sengaja menempatkan Kami di satu kelas. Aku tidak heran jika nanti kami tetap satu kelas hingga SMA sekalipun," jelas Conan panjang lebar.

"As expected from Conan," kata Bu Kobayashi. "Yang dikatakan Conan itu penjelasan untuk kebingungan kalian. Itu dilakukan karena kalian telah berhasil membuat sekolah Teitan bangga dengan prestasi kalian pada masyarakat," tambah Bu Kobayashi menjelaskan.

"Begitu ya? Hehehe…" ucap Mitsuhiko, Ayumi, dan Genta senang.

"Dimana kami harus duduk, Bu?" tanya Ai pada Bu Kobayashi, tidak memedulikan yang lain.

"Pilihlah tempat yang kalian suka," jawab Bu Kobayashi.

Segera saja anggota Detektif Teitan memilih tempat yang berdekatan. Conan di sebelah Ai lagi. Sukses membuat Ayumi dan Mitsuhiko cemburu untuk kesekian kalinya.

Beberapa saat kemudian, semua anak mulai berkumpul dalam satu kelas. Hingga akhirnya kursi telah penuh oleh manusia.

"Nah, karena semua murid telah berkumpul, Ibu akan mengabsen kalian untuk memperkenalkan diri di depan!" kata Bu Kobayashi pada semua anak.

"Hai…" ucap anak-anak serempak.

—X—

Jam Istirahat Siang

"Hei, Ai," panggil Conan berbisik.

"Hm?" tanya Ai tanpa menoleh dari majalahnya.

"Bisa Kita bicara sebentar?" tanya Conan balik.

"Mau bagaimana lagi? Kau kan sudah bicara denganku. Untuk apa Kau bertanya lagi?" ujar Ai usil dengan senyumnya.

"Oi. Oi. Ini serius. Ayo, ikut aku ke atap!" ujar Conan kesal. Tentu dengan wajah 'oi-oi' khas miliknya.

"Huh? Tidak bisa kita lakukan di sini saja?" tanya Ai bingung dan penasaran.

"Tidak. Ayo ikut aku!" kata Conan sambil menarik lengan Ai.

"Eh? Hei. Tidak bisa kau pelan sedikit?" ujar Ai kesal bercampur senang karena tangannya ditarik Conan.

"Sudahlah, makanya cepat," balas Conan cuek.

Sontak anak-anak sekelas yang melihat kejadian 'romantis' tersebut mulai berbisik-bisik. Sepertinya bakal ada gossip di hari pertama ini.

—X—

Atap Sekolah SMP Teitan

Ai's POV

"Hei, sampai kapan kau mau memegang lenganku. Kita sudah sampai," ujarku mencoba memasang wajah pura-pura kesal. Yang merupakan hal sulit karena aku senang dengan perlakuannya.

"Eh, Maaf," ucap Conan seraya melepaskan genggaman tangannya pada lenganku.

Aku sedikit kecewa karenanya. Aku jadi makin penasaran apa yang ingin dia sampaikan hingga memerlukan tempat privasi seperti ini.

"Mungkinkah… uuhh. Berhenti berharap Ai. Dia bukan untukmu," batinku mencoba realistis.

"Nah, ada apa Meitantei-kun?" tanyaku cepat.

"Baiklah, aku tidak merasa ada yang memperhatikan kita. Jadi aku bisa bicara dengan leluasa," ucap Conan setelah memerhatikan sekeliling, jelas tidak menjawab pertanyaanku.

"Aku tidak peduli dengan itu," ujarku masih harap-harap cemas dengan apa yang akan dikatakan cowok di depanku ini. Meski Aku bilang pada diriku Aku tidak boleh hilang kendali, tetap saja hatiku terus berharap. "Bisa Kau katakan alasanmu mengundangku ke sini?" ujarku makin tak sabar.

"Oke. Ini tentang Ran," katanya.

DEG!

"Oh, begitu ya? Rupanya Dia ingin minta pelajaran seperti biasa. Bodohnya, mana mungkin dia memikirkanku, orang yang menghancurkan hidup sempurnanya," batinku.

Segera kusingkirkan wajah terkejut dan kecewaku, dengan menanggapi perkataan Conan.

"Hm? Ada apa? Kau minta aku membaca hatinya lagi? Atau kau ingin aku mengajarimu beberapa hal lagi tentang ketidakpekaan-mu?" tanyaku sinis. Kesal juga sih. Dia rupanya belum sadar bagaimana perasaanku ketika membicarakan Ran. Tapi juga membuatku senang karena dia tidak mengetahuinya.

"Ck. Bukan itu. Tadi pagi, aku bicara padanya tentang idemu soal ulang tahunnya," jelas Conan.

"Oh. Lalu? Apa hubungannya denganku?" tanyaku bingung, namun masih dengan nada kesal yang menurutku jelas.

"Ini tentang permintaannya," ucap Conan. Lalu dia menceritakan apa yang terjadi tadi pagi.

Setelah ceritanya selesai, aku menanyainya, "Jadi, apa permintaan yang ingin kau penuhi?" tanyaku sebelum memberi jawaban. "Kau pasti tahu kalau kau tidak bisa memenuhi semuanya kan?" tambahku memastikan.

Dia terdiam. Mendekati pagar, dengan wajah berpikir sambil menghadap pagar di atap, memandang langit.

"Sok keren sekali sih orang itu," batinku. "Sialnya, aku memang mulai menganggapnya keren," pikirku menambahkan.

"Bodoh sekali aku ini. Sejak kapan aku memerhatikan orang selain bukan sebagai teman kerja?" pikirku masih merutuki diri.

"Aku…" kata Conan tiba-tiba. Membuatku beralih dari lamunanku.

"Ya?" tanyaku meminta penuturan selanjutnya. Aku agak berharap dia masih ingin hidup dengan tubuh kecilnya. Tapi aku segera menepis pikiran itu. Mana mungkin dia mau seperti ini selamanya. Aku saja bahkan tidak mau. Terlebih jika Conan ingin kembali ke wujud sejatinya. Rasanya aku tidak akan tahan dengan tubuh anak kecil ini jika tidak ada teman senasib.

"Aku tidak ingin kalau… kalau dia lebih merindukanku…" gumam Conan. Meski terdengar tidak yakin, pernyataan itu menjawab seluruh pertanyaanku tentang masa depan perasaanku yang tidak tentu ini.

Aku shock. Meskipun aku tahu akan begini, tetap saja rasanya tidak siap.

"Begitu ya? Kalau begitu, akan kubantu kau memenuhi dua permintaannya," kataku merespon pernyataannya. "Datanglah ke Lab-ku sehabis sekolah. Banyak yang harus dikerjakan. Dan aku bisa memanfaatkanmu untuk membantuku," jawabku mulai melangkah pergi.

Aku merasa sakit dengan pilihannya. Padahal aku sudah mempersiapkan ini. Mataku perih. Untungnya, aku sudah biasa menahan air mataku. Aku bergegas masuk ke dalam gedung, bel masuk pun berbunyi.

—X—

Conan's POV

"Sepertinya, ini pilihan terberat dalam hidupku. Jika aku kembali ke wujud sejatiku, pastilah Ran tidak akan melepasku. Dan aku harus kehilangan Ai," batinku. "Aku akan merindukan setiap sindirannya. Semoga aku tidak kehilangannya untuk selamanya," lanjutku.

Aku pun mulai mengikuti langkah Ai dengan malas yang menuju ruang kelas karena bel telah berbunyi.

Selama jam pelajaran, Aku hanya memerhatikan Ai. Masih tidak percaya aku mengatakan hal itu di depan Ai, orang yang kusayangi. Kuperhatikan, Ai sedikit bad mood. Kupikir karena dia tahu bahwa dia harus bekerja lebih keras lagi kali ini untuk memenuhi permintaanku. Dan secara tidak langsung permintaan Ran. Tapi rasanya ada yang salah. Apa itu hanya karena aku tidak peka? Jadi tidak bisa menentukan maksud wajah Ai.

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Kami, anggota Detektif Teitan pulang bersama seperti biasa. Bedanya, biasanya aku yang berbicara dengan Ai, kini kami saling diam. Aku telah belajar banyak selama 6 tahun ini karena aku memiliki teman. Tapi rasanya pelajaranku tentang hati wanita masih kurang. Aku sering mendengar kalau perasaan wanita sulit ditebak. Sekarang aku mulai berpikir sampai kapanpun aku tidak akan mengerti perasaan wanita.

Akhirnya satu-persatu kami berpisah. Sampai akhirnya aku berpisah dengan Ai di depan rumah Profesor. Bahkan dia berpisah denganku tanpa kata. Hanya sekedar lambaian tangan membalas ucapanku.

Sesampainya di kantor Kogoro, aku mandi. Mencoba menyegarkan pikiranku. Rasanya seolah dia kesal padaku. Entah apa yang kukatakan pada Ai hingga dia seperti itu. Atau aku melakukan perbuatan yang salah? Tapi, apa yang kuperbuat yang membuat dia kesal?

Selesai mandi, ternyata aku tidak merasa banyak yang berbeda. Kulihat handphone-ku, sepertinya ada pesan masuk. Begitu melihat pengirimnya, aku tersenyum. Sepertinya dia tidak marah padaku.

Kubuka pesan tersebut, hanya untuk menemukan tiga kata.

"Bawa laptopmu kemari."

"Sepertinya dia benar-benar marah," batinku sambil menghela napas.

"Yah… mari berharap aku salah. Atau setidaknya nanti hubungan kami membaik setelah bertemu," kataku mencoba berpikiran positif.

Aku pun berpakaian dan mengambil laptopku. Aku tidak perlu izin kepada siapa pun disini. Ran belum pulang dari pekerjaannya. Aku bisa masuk rumah karena sudah sejak lama masing-masing dari kami memenggang kunci rumah. Paman Kogoro sepertinya ada kasus. Aku pun mengirim pesan pada Ran bahwa aku ada di Rumah Professor untuk belajar bersama Ai, dan menyampaikan bahwa aku akan pulang malam.

Lalu kulangkahkan kakiku menuju rumah Professor sambil berharap hubungan Kami nanti yang akan membaik.


Bagaimana?

Author merasa ada yang aneh dengan gaya penulisan Author. Apa itu cuma perasaan Author? Kalau memang ada yang merasa demikian, beritahu ya? Supaya Author bisa instropeksi diri.

Akhir kata, Review, Please!