Disclaimer :

Detective Conan adalah milik Aoyama Gosho

Balasan Untuk Reviewers:

Nasumichan Uharu: Boleh saja. XD Tapi, kenapa ada huruf 'r' yang muncul disana? Lihat aja, nanti tentukan apa mereka bener main pair-nya. Tapi Author gak jamin sesuai kemauan kamu. Ga marah kok jadi, review terus ya?

Zaetwelvesi: Di chapter ini ada jawabannya. Typo? Waah. Kalau ada, tolong agak diperjelas ya letaknya. nanti akan kuperbaiki. :)

Maru-Chan: Cek terus supaya tahu ini pairing apa ya? hehe XD

Ryuta Kagami: Ini updatenya. Maaf ya kalau lama. XD

Dark Terror: Terima kasih. Ini lanjutannya. Semoga suka ya. Tolong kritiknya terus. :)

Misyel: Oh, tidak apa. Sebenarnya Ran minta dua itu karena dia gak nyangka Conan itu Shinichi. Review lagi ya. :D

Moiselle: Oh. Terima kasih. nanti kucoba perbaiki. Conan udah 13 tahun dan tubuhnya tumbuh normal sebagaimana biasanya. Maaf ya. Sepertinya author kurang memasukkan deskripsi manusia. Soal alur, bisa kasih tips? Author kebetulan bingung cara mempercepat alur. :(

Catatan Penulis:

Kali ini Author akan mencoba chapter ini menjadi awal dari masalah baru sakaligus awal penyelesaian masalah. Semoga tidak mengecewakan. Chapter ini lebih panjang dari dua chapter lain. Semoga tidak terlalu panjang dan membosankan ya...

Author akan mencoba update rutin tiap satu minggu. Jadi, mohon review kalian.

Sekarang, kupersembahkan kisah ini pada para readers dan reviewers.


Hasil yang Tidak Terduga

By Byzan

TOK TOK

Bunyi seseorang mengetuk pintu membuat seorang gadis agak terusik dari pekerjaannya di depan komputernya. Hingga memaksanya berkata, "Masuk!"

"Halo, Ai," sapa Conan.

"Ah, datang juga akhirnya," jawab Ai ketus merespon kehadiran Conan. "Kau sudah membawa laptop-mu seperti yang kuminta tadi dalam pesanku?" tanya Ai.

"Iya. Untuk apa laptop ini?" tanya Conan balas bertanya.

"Install semua software yang ada di sini ke dalam laptopmu," ucap Ai menyodorkan Hard Disk yang merupakan pemberian Conan 3 tahun lalu.

"Kau ingin aku membantu mencarikan data Apotoxin itu?" tanya Conan tidak percaya.

"Persis," jawab Ai singkat.

"Tapi aku tidak mengerti hal-hal tersebut. Kau kan tahu itu. Kalau aku mengerti, aku pasti sudah lama membantumu," jelas Conan dengan bingung.

"Jadi kau berpikir bahwa dalam waktu seminggu tanpa bantuan, aku akan bisa menemukan data itu? Untuk menemukan satu data beserta password-yang dibutuhkan untuk membuka tiap data yang tersebar saja butuh seharian," balas Ai tidak sabar. "Yang kuminta kau lakukan adalah memberitahuku nama data beserta passwordnya, hanya itu sudah cukup membantu kok," tambah Ai kesal.

"Bagitu? Maaf, Ai," ucap Conan menyesali perkataanya. "Boleh kuminta Hard Disk yang lain kalau begitu?" tambah Conan.

"Iya. Iya. Aku memaafkanmu," ucap Ai tidak beralih dari komputernya. "Hard Disk yang lain, nanti saja. Kau bisa meminta setelah menginstall semua software tadi," tambah Ai datar.

"Oke," jawab Conan singkat.

Setelah itu hanya ada keheningan serta suara komputer dan laptop yang diketik. Akhirnya Conan selesai menginstall semua software tersebut. Waktu yang dibutuhkan sekitar 3 jam.

"Ai, bisa aku minta data-data lainnya sekarang?" ucap Conan masih takut kalau Ai masih marah.

"Kemarilah," jawab Ai. Lalu dia mengambil Hard Disk dan menghadap pada Conan. Dia tersenyum melihat Conan yang agak menundukkan kepalanya. "Jangan berwajah begitu, Conan-kun. Kau tidak cocok berwajah begitu," ucap Ai sambil mengangkat dagu Conan. Membuat Conan tersenyum. Tapi masih agak terpaksa. Tentu saja perlakuan Ai barusan tetap membuat darahnya mengalir deras menuju wajahnya.

"Ayolah… jangan tunjukkan senyum palsu. Maaf kalau aku bicara seperti tadi," ucap Ai. "Maaf ya, Conan-kun?" lanjut Ai tersenyum.

Mau tidak mau, Conan menjadi tersenyum melihat senyum manis Ai. Sampai-sampai wajahnya makin memerah. Lalu Conan berkata, "Bisa ulangi maafmu?"

Ai terdiam dan sebagai jawaban, dia menunjukkan wajah dinginnya. Sukses membuat Conan bergidik seraya berucap, "Eh? Maaf. Maaf, Ai, kalau candaku tidak tepat," kata Conan buru-buru menjauh. Ketakutan.

"Hihihi. Dasar bodoh," Ai tertawa kecil. "Kau belum juga bisa menentukan wajahku yang serius dan bercanda ya?" lanjut Ai sambil tersenyum. Tangannya menyodorkan Hard Disk yang tadi diminta.

Conan pun mulai merileks. Kemudia berujar, "Huh! Tiap kali aku melihat wajah itu, aku sudah ngeri duluan sebelum menentukan itu bercanda atau bukan, bodoh." Jawab Conan mulai mengambil Hard Disk yang disodorkan padanya.

"Begitu?" jawab Ai ketika tangannya kosong. "Memangnya menurutmu wajahku semengerikan itu? Apa aku tidak menarik?" lanjut Ai polos.

"Bukan begitu. Kau menarik kok," jawab Conan lebih polos lagi.

Hening… rasanya ada yang salah. Terlebih saat mereka sama-sama merasakan darah mengalir deras ke wajah mereka masing-masing. Sepertinya tubuh mereka lebih cepat merespon daripada otak mereka yang tidak ahli urusan begini.

Keduanya mulai menutup mulut dengan tangan karena bicara tanpa berpikir panjang.

"Ah, maksudku…" kata keduanya berbarengan.

Lagi-lagi mereka jadi terdiam. Saling memandang wajah orang di depannya.

"Ah, ada yang harus kita kerjakan, kan? Ayo kita kerja lagi!" kata Conan mulai mengendalikan diri sambil menuju laptopnya.

"Ah, iya…" jawab Ai singkat namun gugup.

Mereka kembali berkutat pada layar mereka. Kedua wajah mereka memerah. Tidak sanggup bekerja dengan fokus karena memikirkan hal lain.

Ai yang mendapat pujian tak terduga begitu karena pertanyaan polosnya, menjadi berbunga-bunga. Mood-nya langsung membaik dan mulai mengetik dengan riang. Meskipun lama kelamaan dia sadar, bahwa bersamaan dengan tiap ketikan, dia sedang menjauhkan dirinya dari Conan. Membuat dia sedih dan kecewa lagi. Hal itulah yang membuatnya marah tadi.

Sedangkan Conan yang memberi pujian, mulai bimbang kembali. Dia jadi bertanya-tanya, apakah keputusannya sudah tepat atau belum. Apakah inilah jalan yang paling diinginkannya. Dia makin tidak yakin untuk meninggalkan Ai. Tapi juga tetap tidak yakin ingin meninggalkan Ran. Sejak 4 tahun lalu, dia mulai memikirkan untuk tetap menjadi Conan agar bisa tetap bersama Ai. Di sisi lain, Ran tetap membutuhkan dirinya. Tangannya mengetik dengan lambat karena pikirannya yang kacau.

Awalnya Conan menganggap tetap menjadi Conan merupakan tindakan bodoh. Sampai akhirnya lama-kelamaan, tepatnya 3 tahun lalu dia menyadari bahwa tidakan itu tidak sepenuhnya bodoh. Karena dia memang sudah yakin bahwa dia menyayangi Ai. Dan pilihan untuk tetap bersama Ai makin kuat, dan pada akhirnya sekuat keinginannya bersama Ran.

Mereka terdiam sampai malam tanpa suara, dan akhirnya Conan pamit pulang sambil menyerahkan hasil pekerjaannya kepada Ai.

—X—

Keesokan harinya, tidak banyak yang berbeda bagi Conan dan Ai. Mereka tidak memperhatikan pelajaran sekolah karena telah mengetahui apa yang akan dikatakan oleh guru mereka pada mereka hanya dengan mendengar apa yang akan dibahas oleh guru mereka.

Bahkan ketika guru mereka melihat kedua anak yang tidak fokus itu dan memberi pertanyaan, mereka berdua dapat menjawabnya dengan sempurna. Bahkan melewati sampai mencapai pelajaran yang seharusnya tidak dimiliki anak 1 SMP. Tidak jarang sampai materi anak SMA. Guru itupun hanya bisa diam dan melanjutkan pelajaran. Sementara keduanya kembali melamun. Dan guru mereka merasa tidak perlu menggubris mereka.

Sehabis sekolah, mereka berpisah kembali ke rumah masing-masing. Lalu Conan pergi lagi ke rumah Profesor untuk membantu Ai.

Di sana, mereka tidak bercakap apa-apa lagi. Sampai akhirnya mereka tersiksa dengan keheningan ini. Biasanya mereka suka keheningan. Tapi, betapa orang yang penting bagi mereka hanya terdiam dan mereka tidak memulai percakapan, akhirnya mereka berkata, "Ah…" suara itu membuat keduanya terkejut, mereka kembali terdiam.

"Mmm, ada yang ingin kutanyakan sejak kejadian kemarin," Conan buru-buru berujar ketika mereka terdiam. Takut kalau nanti mereka bicara bareng lagi. Bisa-bisa dia tambah memerah.

"Hm? Apa itu? Tumben sekali. Biasanya kejadian apa pun, kau selalu bisa mengetahui penyebabnya, Meitantei-kun," ujar Ai lagi-lagi mulai menyindir. Conan senang dengan cara bicara Ai barusan. Ini mungkin merupakan tanda bahwa Ai tidak lagi bad-mood.

"Mungkin benar. Tapi aku sering tidak mengerti apa yang terjadi jika sang tersangka adalah adalah kau, Haibara," jawab Conan. Respon Conan membuat Ai senang. Bagi Ai, respon demikian merupakan pertanda bahwa Conan tidak dalam mood yang buruk.

"Begitu? Jadi apa pertanyaanmu, detektif?" ucap Ai. "Mungkin aku yang mantan kriminal ini kau curigai sebagai pelaku kejahatan, huh?" canda Ai.

"…" Conan hanya terdiam. Wajahnya berubah serius. Dia mundukkan kepalanya dan melihat ke sisi lain. Akhirnya dia berujar, "Seandainya itu terjadi, seandainya kau menjadi tersangka, sepertinya aku hanya akan sibuk membuktikan dirimu tidak bersalah," ujar Conan tersenyum muram.

"Eh?" jelas Ai terkejut dengan jawaban itu. Terlebih ekspresi Conan yang serius. "Kau bercanda kan?" lanjut Ai.

Conan menggeleng. "Tidak. Aku tidak percaya kalau kau akan melakukan kejahatan," ucap Conan. "Karena… orang yang kusayangi bukanlah orang jahat," lanjutnya tersenyum tulus sambil menghadap kepada Ai.

Ai terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya tiba-tiba matanya tertarik dengan rok yang dipakainya. "Kau… serius? Ma-maksudku… ka-kau menyayangiku?" tanyanya tergagap. Gugup karena Conan menyatakan hal itu.

"Aku menyayangi semua teman-temanku, Ai," ucap Conan lembut.

"Rupanya begitu…" gumam Ai. Kecewa karena dia hanya dianggap teman.

"Ya… tapi, aku merasa kalau kau lebih dari temanku…" ucap Conan akhirnya. Entah keberanian dari mana dia bicara seperti ini. Dia sampai agak mengutuk diri karena ucapannya seperti mengkhianati penantian Ran.

Hening… tidak ada yang berani membalas atau meneruskan pertanyaan tersebut. Ai terlalu takut jika dia bertanya, jawaban Conan akan mengecewakannya lagi. Biarlah pernyataan tadi dia anggap sebagai pengungkapa perasaan padanya. Sedangkan Conan, dia tidak berani meneruskan. Selain tidak memiliki keberanian lebih, lagi-lagi dia masih bingung dengan pilihannya.

Keheningan ini membuat Ai merasa tak nyaman. Jadi dia berpikir untuk menemukan bahan pembicaraan lain. Akhirnya dia berujar.

"Ah, soal pertanyaan yang ingin kau tanyakan tadi, ada apa?" ucap Ai terburu-buru.

"Ah, iya. Aku hanya ingin menanyakan kenapa kemarin kau bersikap seperti itu pada Mitsuhiko?" ujar Conan mulai menguasai diri. "Biasanya kau tidak setegas itu pada anak itu," lanjutnya.

"Oh, itu pelajaran," ujar Ai singkat. Dan mulai kembali memerhatikan komputernya dan mengetik.

"Maksudnya?" tanya Conan belum mengerti.

"Yah… dia sudah di bangku SMP kan? Sudah waktunya dia tidak harus mengetahui setiap yang ingin diketahuinya. Terutama masalah pribadi perempuan. Dia tidak bisa selalu bersikap menjadi detektif," ujar Ai tanpa menoleh. "Pelajaran untukmu juga, Tantei-sama," tambah Ai.

"Rupanya kau memikirkan anak-anak juga ya…" komentar Conan seolah tidak menyadari sindiran Ai barusan. "Sepertinya kau akan menjadi Ibu yang baik suatu saat nanti," kata Conan menambahkan. Benar-benar pernyataan dengan nada polos.

Ai menoleh cepat pada Conan. Conan yang sedang memandang Ai-melihat ada yang aneh dari wajah Ai-langsung saja menundukkan kapalanya. Takut dengan ekspresi membunuh milik Ai. Ai terus menatap Conan yang menunduk itu.

Diam-diam, Ai tersenyum. "Arigatou, Edogawa Conan," gumam Ai hampir membatin.

Malam pun datang, Conan menyerahkan hasil pekerjaannya lagi pada Ai, lalu segera pamit pulang kepada Ai.

—X—

Kantor Kogoro

Conan's POV

"Aku pulang," ujarku seraya membuka pintu.

"Selamat datang," jawab Ran menyambutku. "Bagaimana 'kencan-mu' dengan Ai?" tambah Ran lagi-lagi menggodaku itu.

"Uh. Sudah sejuta kali kubilang, dia bukan pacarku," jawabku cuek meski tetap kesal.

Aku melihat Ran yang menatapku dengan tertarik setelah melihat wajahku yang mulai terus merasakan desir darah dalam kepalaku.

"Kamu tidak perlu menyembunyikan itu dariku. Aku tahu apa yang kaurasakan," ucap Ran. "Aku juga pernah semuda dirimu kan? Lihatlah wajahmu sampai merah begitu. Hubungan kalian sepertinya makin menarik," lanjutnya tersenyum jenaka.

Aku hanya memerhatikan kakak-kekasih-ku itu. Entah sudah berapa kali dia mengucapkan hal itu. Akhirnya aku menyerah dan mulai menaggapi dengan positif apa yang diingnkan Ran-informasi tentang 'hubungan'ku.

"Memang kenapa kalau aku punya perasaan seperti itu pada Ai?" ucapku pasrah. Aku bosan ditanya dan berdalih. Padahal Ran lebih mengerti tentang hal ini. Ran tidak akan menyerah dengan jawaban yang sama terus-menerus.

"Bagus!" ucap Ran riang sambil mengusap puncak kepalaku. "Kau mirip Shinichi, cerdas, rupawan, atletis, tapi lebih peka dan mengerti perasaan seperti ini. Kau lebih hebat darinya!" lanjutnya memuji-mujiku.

Aku hanya bisa memasang wajah sweatdrop. Tidak tahu harus senang atau kesal. Karena dia memujiku dengan cara membandingkanku dengan diriku sendiri.

Ran tersenyum dan mulai melangkah pergi ke dapur.

"Begitu sajakah? Neechan hanya ingin membandingkanku dengan Shinichi-niisan?" tanyaku bingung dengan reaksi Ran yang pergi setelah tersenyum.

"Tentu saja tidak," ucap Ran tersenyum jahil. "Aku tahu kau belum makan, aku juga belum. Jadi aku akan mengambil makanan untuk kita berdua. Kita akan membicarakan ini. Kau butuh bimbingan pastinya. Dari wajahmu belakangan ini, kamu terlihat bingung luar biasa, bahkan kamu yang cerdas bingung menghadapi hal ini. Kebetulan kita hanya akan berdua, kamu bisa menceritakan apapun padaku," lanjutnya panjang lebar sambil selalu tersenyum riang.

Aku hanya bisa bergidik membayangkan pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Ran. Aku ingat kejadian ini. Aku juga pernah ditanyai seperti ini soal hubunganku dengan Ran di saat aku masih SMP di kehidupanku yang dulu. "Dia jadi mirip Ibuku," batinku sambil bergidik.

Beberapa saat kemudian, Ran membawakan yang dijanjikannya. Makanan untuk dua orang. Beserta minumannya. Ran mulai menata makanan dan mulai makan setelah mengucapkan rutinitas 'selamat makan'. Kemudian dia mulai memperhatikanku yang diam sedari tadi.

"Makanlah, Conan-kun," kata Ran yang melihatku sedari tadi. "Kenapa kamu diam seperti itu? Aku tahu kau tidak sakit," lanjut Ran.

"Bagaimana Neechan tahu aku tidak sakit?" tanyaku penasaran. "Bisa saja aku memang sakit kan?" tambahku kebetulan ingin mencari alasan agar bisa cepat istirahat dan menghindari obrolan yang tidak lama lagi akan berlangsung.

"Pertama, aku mengenalmu, Conan-kun," ucap Ran lembut. "Aku sudah tahu kapan kamu sakit, dan bagaimana kamu ketika sakit sungguhan," lanjutnya masih ramah.

"Kedua, aku tahu kamu ingin menyelesaikan kebingunganmu sendiri," ucap Ran dengan tatapan jenaka-yang manis. "Kamu tidak sedang membuat alasan untuk pergi kan?" tanya Ran seolah membaca pikiranku.

"…" aku tidak bisa bicara lagi. Dalam hati, aku bingung bagaimana dia bisa mengerti apa yang kupikirkan dengan hanya melihatku.

Sepertinya Ran mengerti lagi apa yang kupikirkan karena dia berkata, "Aku selalu mengerti dirimu karena kau selalu berada di sisiku. Dan lagi, tidak banyak yang perlu kupelajari karena aku mengenal seseorang yang sangat mirip denganmu. Itu merupakan sedikit dari banyak alasan aku tidak ingin kamu pergi dariku, Conan-kun," ucap Ran panjang lebar.

Aku terpana. "Ukh! Kenapa setiap bersama orang yang kusayangi, aku jadi merasa tidak meninggalkan mereka? Apa yang harus kulakukan?" batinku.

"Neechan," panggilku pada orang yang berada di depanku.

"Apa?" tanyanya tersenyum. Dia selalu tersenyum jika bicara denganku.

"Kenapa Neechan masih mengharapkan Shinichi-niisan kembali kepada Neechan?" tanyaku. "Bukankah terakhir Neechan bertemu dengannya setengah tahun lalu, dan dia sekarang jarang mengabarkan apapun kepada Neechan semenjak itu?" lanjutku masih dengan pertanyaan. Aku tahu aku mencari masalah dengan menanyakan ini. Aku bukannya mau mendebat pilihannya, aku hanya pensaran dengan keteguhannya menungguku.

"Alasannya sederhana, Conan-kun. Sungguh. Aku sangat mencintainya," ucap Ran menerawang. "Juga, aku tidak keberatan menunggu. Karena dengan menunggu lebih lama, makin senang aku ketika bertemu dengannya," tambah Ran tersenyum pahit.

Aku terdiam tiga detik sebelum berujar. "Ah, maaf. Sepertinya aku membuat Neechan sedih, ya?" ucapku polos. Tapi luka hatiku membesar mendengar penjabarannya.

"Iee, Tenang saja Conan-kun," ucap Ran. "Tapi, kuharap pada ulang tahunku nanti, aku bisa bertemu dengannya. Bantu aku ya, Conan-kun," ucap Ran lagi.

"Hai!" ucapku menyemangatinya. Aku juga makin bersemangat untuk kembali ke wujudku. Tapi aku juga bingung jika tidak bisa memberikan permintaan lainnya. Aku juga bingung karena teringat Ai.

"Ayo kita makan dan segera tidur, Conan-kun. Ini sudah malam," ucap Ran.

"Hai!" ucapku mencoba tersenyum. Yang membuat Ran tersenyum bahagia setelah sempat terdiam sesaat. Mungkin dia senang dengan perhatian adiknya.

Lega juga rasanya, sepertinya obrolanku tadi dengan Ran membuat Ran lupa tujuan utamanya untuk menanyaiku soal Ai. Tapi, itu tetap tidak menutupi kesedihanku, akulah yang membuat Ran sengsara. Aku tahu pada akhirnya aku harus memilih satu. Karena satu dari beberapa hal yang kuketahui, wanita tidak suka dinomor-duakan.

Jadi aku tidak bisa memiliki keduanya. Hanya satu yang bisa kuraih. Dan melihat Ran yang begitu sedih, kuputuskan akan kuraih Ran. Dimataku, dialah yang paling menderita. Dan aku tidak tahan karena akulah yang membuatnya menderita.

—X—

Ran's POV

Aku membereskan peralatan makan yang barusan kupakai. Aku menyuruh Conan untuk tidur lebih dahulu. Sehingga aku membereskan peralatan makan yang dipakainya juga.

Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya aku mendapat firasat yang sangat baik saat melihat senyum Conan tadi. Berbeda dengan firasat yang kudapat ketika Shinichi meninggalkanku di Tropical Land. Jauh berbeda.

Ini firasat yang sebaliknya. Seolah sesuatu yang sangat bagus akan terjadi. Dan aku senang karenanya. Namun, aku mencoba untuk tidak begitu peduli, karena aku takut akan kecewa pada hal ini-juga kecewa karena firasat kedengarannya sangat konyol. Meski begitu firasat ini mendominasi hatiku. Aku hanya bisa merasakan kebahagian dari firasat tadi.

Aku bahkan tertidur masih dengan firasat ini. Firasat yang membawaku terus menuju alam mimpi yang indah.

—X—

SMP Teitan

Normal POV

Conan berusaha terus memperhatikan pelajaran dengan serius. Yang merupakan hal sulit luar biasa karena kegiatan ini begitu membosankan baginya. Tapi ini diperlukan sebagai pengalih perhatian dari Ai. Dia telah memilih untuk bersama Ran. Dia tidak bisa terus memperhatikan dan memikirkan Ai.

Tapi rasanya ada yang janggal dalam dirinya. Kerinduannya untuk memikirkan Ai merayapinya hingga membuatnya teralih kepada Ai lagi. Ketika dia akan mencoba meperhatikan pelajaran, dia akan memasuki keadaan blank, hingga akhrnya dia memikirkan Ai lagi. Dia mencoba memikirkan Ran. Men-sugesti diri bahwa Ran lebih baik untuk keputusannya.

Tapi itu sulit, karena aura keberadaan Ai yang berada dekat dengannya membuat otaknya secara refleks, beralih kembali kepada Ai. Akhirnya dia menyerah melakukan hal tersebut. Dan berpendapat, mustahil dia melakukan ini selama dia berdekatan dengan dengan Ai.

Selesai sekolah, seperti rutinitas yang sudah dilakukan dua orang berwujud SMP itu, Conan dan Ai mencari data tentang apotoxin yang mengecilkan tubuh mereka di rumah Profesor Agasa. Namun kali ini Agasa ikut membantu setelah mengetahui apa yang mereka berdua lakukan belakangan ini. Tapi Agasa tidak satu ruangan dengan Ai dan Conan. Karena akan merepotkan untuk membawa komputernya ke bawah tanah.

—X—

Ruang Bawah Tanah

"Uhm, Ai…" panggil Conan.

"Ya?" tanggap Ai tanpa menoleh.

"Jika kita sudah menemukan data yang kau perlukan, berapa lama yang kau perlukan untuk membuat penawarnya?" tanya Conan.

"Entahlah," ucap Ai mengangkat bahunya. "Aku tidak bisa menentukannya sebelum menemukan data tersebut," lanjutnya.

"Begitu ya…" ucap Conan murung.

"Tapi…" kata Ai, "Jika aku berasumsi, mungkin jika kita menemukan data itu suatu hari. Esoknya sudah akan ada penawarnya," ucap Ai memberi Conan semangat. Tapi dia tetap saja terluka karena kecepatan waktu dia akan ditinggalkan oleh Conan.

"Benarkah?" tanya Conan bersemangat.

"Hm. Akan kuusahakan," balas Ai.

"Baiklah. Hari ini akan kutemukan data itu!" ucap Conan dengan semangat kekanakan.

"Hmph. Tapi hanya jika kau memberiku sesuatu," ucap Ai tersenyum kecil.

"Huh?" tanya Conan bingung.

"Apa?" tanya Ai menoleh pada Conan.

"Barang merk Fusae lagi?" tanya Conan penuh selidik.

"Rupanya, Tantei dari Timur ini sudah mengerti perasaan wanita, huh?" sindir Ai.

"Akh!" umpat Conan. "Hanya jika kau menyelesaikannya dalam waktu yang kau katakan, Nyonya komersil," sindir Conan tak mau kalah.

Ai hanya menjawab dengan senyuman yang membuat Conan tidak berdaya. Manis sekali.

"Kupikir jika nantinya aku menjadikan Ai milikku, dia bisa memerasku sepuas hati dengan senyumnya itu," sesal Conan dalam hati dan mulai kembali bekerja.

"Tunggu, apa sih yang kupikirkan? Aku kan sudah memilih Ran. Buat apa aku memikirkan kemungkinan bersama Ai lagi?" tanya Conan dalam hati. "Apa aku belum teguh dalam pilihanku? Atau hatiku yang tidak mau? Ukh! Kuso!" lanjut Conan masih dalam hati seraya mengacak rambutnya yang tidak gatal.

"Ada apa, Conan-kun?" ucap Ai yang melihat Conan seperti kebingungan. "Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" lanjutnya bingung. Setahunya, hanya hal-hal sulit yang bisa membuatnya seperti itu.

"Ah? Benarkah?" tanya Conan dengan kepolosan yang dibuat-buat.

"Kau sama sekali tidak bisa menipuku," ujar Ai mendekati Conan yang duduk di lantai. "terutama dengan wajah polos itu. Ingat, aku ini orang yang mengetahui identitasmu. Bukan orang yang menganggapmu sebagai anak kecil," lanjutnya.

"Ya… eh?" ucapan Conan terhenti karena Ai mendekatkan wajahnya pada wajah Conan. Terlalu dekat jika yang diinginkan gadis itu untuk menatapnya. Conan ingat keadaan ini. Keadaan dimana Ai dapat mengatahui apa yang sedang dipikirkannya dengan cara ini. Conan mengumpat dalam hati. Takut perasaannya ketahuan. Di sisi lain, dia tidak bisa mengalihkan matanya. Karena matanya terlanjur terpesona pada mata yang menatapnya.

Cukup lama Ai menatap Conan dengan jarak sedekat itu. Ai tidak menyadari kalau perbuatan yang dilakukannya seharusnya membuatnya malu. Tapi karena sekarang dia memiliki tujuan lain, dia sama sekali tidak memikirkan apa yang dilakukannya.

Conan sudah agak heran, karena biasanya Ai tidak membutuhkan waktu selama ini. Conan hanya menyadari satu hal. Makin lama, tatapan Ai makin lembut.

Sementara Ai, dia awalnya ingin mengungkap apa yang dipikirkan Conan. Namun karena dia tidak juga dapat mengungkapkan apa yang Conan pikiran, matanya hanya mulai ingin menatap Conan dari jarak dekat. Dia berpikir, kesempatan ini tidak akan datang lagi karena Conan akan menjadi Shinichi suatu hari nanti. Tapi perasaannya mengatakan, itu tidak akan lama lagi.

Lama mereka terdiam saling mentap dalam jarak dekat. Hingga mereka saling menatap sekedar untuk mengagumi orang yang ditatapnya.

TAP TAP TAP

Mereka bahkan tidak menyadari langkah buru-buru yang berasal dari tangga yang menuju ruang bawah tanah.

BRAK

Bahkan meski pintu dibuka cukup keras, mereka masih saling menatap. Tetap tidak menyadari keberadaan Profesor Agasa yang memerhatikan mereka dengan terkejut. Padahal niat Profesor ingin mengejutkan mereka yang berada di ruang bawah tanah.

"EHEM!" hanya itu yang perlu dikeluarkan tenggorokan Agasa untuk membuyarkan mereka yang sedari tadi saling menatap.

Mereka menoleh cepat dengan terkejut.

"Profesor, jangan mengejutkan begitu!" ucap Conan dan Ai bersamaan agak berteriak.

"Yah… sebenarnya aku tidak mengejutkan kalian. Kalian yang mengejutkanku dengan posisi kalian yang sudah siap untuk…" ucap Agasa menggantungkan kalimatnya. "Yah… kalian tahu sendiri kan?" lanjut Agasa dengan mata jenaka.

"Eh?" ucap keduanya membelalakkan matanya menatap orang yang tadi ditatapnya. Dan mereka kembali bertatapan dengan jarak dekat. Buru-buru Ai menjauhkan wajahnya dari wajah Conan.

"Ano… itu…" tanggap Ai mulai menjawab Agasa-yang melihat kejadian tersebut dengan mata jenaka.

"Hahaha… sepertinya ada yang menemukan kisah baru," tawa Agasa keras.

"Ano…" ucap Conan mencoba mengalihkan topik. "Ah, Profesor, ada apa tadi kau kesini dengan buru-buru begitu?" tanya Conan akhirnya.

"Ah, iya!" katanya seraya menepuk kepalan tangannya ke talapak tangan yang lain.

Ai mengembuskan napas lega. Sepertinya pembicaraan akan teralih.

"Ini. Data tentang apotoxin itu," ucap Agasa seraya menyodorkan sebuah Flashdisk. "Aku menemukannya setelah membuka data kelima yang kucoba untuk kubuka," lanjutnya.

Tiba-tiba ruangan hening.

"BENAR ITU PROFESOR?" tanya Conan berteriak penuh semangat.

"Conan-kun! Bisakah pelankan suaramu, aku berada disampingmu!" ucap Ai. Kesal. Bukan cuma kesal karena Conan berteriak disampingnya. Tapi dia tidak menyangkan secepat ini Conan harus meninggalkannya.

"Hehehe. Maaf, Ai," ucap Conan nyengir.

"Conan-kun? Ai?" kata Agasa heran dengan cara mereka memanggil yang bisanya adalah 'Haibara dan Kudo-kun'.

"Wah. Wah. Wah. Rupanya kalian sudah menjadi lebih dekat dan mencoba menyembunyikannya dari orang lain ya? Kudengar barusan kalian sudah memanggil dengan nama depan," ucap Agasa kembali menggoda dua orang yang baru memasuki fase remaja kedua mereka.

"Profesor, kumohon. Hentikan itu," kata Conan sudah pesrah tertangkap basah begitu.

"Hahaha!" tawa Agasa lagi.

"Sudah, sudah. Sekarang, kalian pergi, kalian hanya akan menggangguku dalam pembuatan penawar ini," ucap Ai mencoba mendorong keluar kedua orang tersebut. Wajahnya agak memerah karena diledek terus oleh Agasa. Tapi matanya perih.

"Eh, oi, Ai," ucap Conan menoleh ke belakang dimana Ai sedang mendorongnya.

"Apa?" tanya Ai dengan nada kesal.

"Ingat kata-katamu tadi soal kecepatanmu membuat penawar itu," ucap Conan.

"Iya. Cerewet. Siapkan saja dirimu untuk imbalannya. Siapkan waktu juga, aku akan ikut denganmu untuk memilih nantinya," balas Ai mendorong Conan dan Agasa lebih keras. Matanya makin perih. Jadi dia menundukkan kepalanya.

BLAM

—X—

Ai's POV

Aku bersandar pada pintu yang baru saja kututup. Aku menundukkan kepala. Berharap bisa membuatku menahan air mata yang hendak keluar.

Tapi ini berbeda dengan sebelumnya ketika berada di atap sekolah di hari SMP pertama. Waktu itu, dia hanya menyatakan kalau dia ingin bersama Ran. Sekarang? Aku akan membuat tali yang akan menghubungkan mereka. Menuju kebahagiaan mereka. "Bahagia, Shiho. Seharusnya kau bahagia. Kau bisa mebuat kedua orang yang kau sayangi bahagia," batinku mencoba tersenyum. Namun, aku hanya bisa mengeluarkan senyum pahit.

"Bukankah dulu kau selalu membuat orang menderita. Inilah titik tolakmu," batinku terus mencoba meyakinkan diri bahwa yang dilakukannya ini benar.

"Tapi, kau tahu, Shiho? Hal yang benar belum tentu manis," kata batinku tanpa kusadari. Entah sejak kapan batinku sering begitu.

Air mata tak lagi sanggup kubendung. Aku menangis. Sudah lama sekali saat terakhir kali air ini mengalir dari mataku. Aku akhirnya tersenyum mengejek. "Bodoh! Aku bukan lagi Shiho Miyano. Aku adalah Ai Haibara. Ternyata… dari dulu aku selalu membohongi diri. Aku adalah Ai, karena itu aku merasa sedih. Bodoh!" ucapku akhirnya dengan suara bergetar.

Aku terus membayangkan saat aku selesai dengan obat ini. Melihat dua orang yang kusayangi mencapai kebahagiaan yang mereka tunggu selama ini. Dan itu tidak membuatku senang. Aku sedih. Jadi wajar jika air mataku mengalir. Aku tahu akan sendirian. Aku takut dan tidak suka sendirian.

"Hmph. Aku tidak boleh egois. Ini pilihannya. Dan Ran pantas mendapatkan ini setelah penantiannya," ucapku mencoba menguatkan hati. Aku mulai mengunci pintu, dan perlahan aku mendekati komputer dan alat-alat lab untuk memulai membuat tali kebahagiaan orang lain.

—X—

Conan's POV

"Hei, Shinichi," ucap seseorang yang memanggilku.

"Ya?" tanyaku menjawabnya.

"Benarkah kau ingin bersama Ran setelah ini?" tanya Profesor padaku.

Aku hanya bisa memandang Profesor dengan tatapan aneh sebelum berujar, "Bukankah sudah jelas? Untuk apa Profesor menanyakan hal itu?"

"Aku hanya ingin tahu… kenapa kau memilih Ran?" ucap Profesor berkepala agak botak itu.

"Entahlah. Rasanya hanya dia yang kucintai," jawabku sekenanya. "Apakah penting bagimu, Profesor?" lanjutku bingung.

"Ini penting, Shinichi. Penting bagimu. Jika kau belum yakin, jangan kau lakukan itu," ucap Profesor memegang kedua pundakku yang sudah hampir setinggi dirinya.

"Apa maksudmu tidak yakin?" tanyaku bingung. "Aku memang mencintai Ran," lanjutku agak panas karena perasaanku dipertanyakan.

"Aku tahu kau tidak hanya mencintanya. Aku juga pernah jatuh cinta, Shinichi. Aku tahu ketika seseorang jatuh cinta," katanya menatapku serius.

Aku menatapnya. Tidak biasanya dia membicarakan hal ini denganku. Apalagi seserius ini.

"Kau tahu siapa lagi orang itu?" tanyaku penasaran.

Dia memutar bola matanya. "Aku tahu kau tahu, untuk apa kujawab? Kau tidak se-tidakpeka dirimu yang dulu," jawabnya.

Aku tertegun. "Bahkan dia juga menyadari itu," batinku. Aku mencoba bersabar.

"Bukan untuk itu. Jika kau tahu siapa dia, kita akan bicarakan ini di tempat lain. Jika tidak, lupakan saja apa yang ingin kau katakan," ucapku menjelaskan.

"Baik. Sebaiknya kita pergi dulu ke rumahmu," balas Agasa.

—X—

Rumah Keluarga Kudo

"Dia adalah Ai Haibara. Benar?" ucap Profesor begitu kami duduk di ruang tamu.

"…" lama aku terdiam karena ucapannya. Dan senyum hambar mulai muncul di bibir Profesor itu. Menandakan dia yakin jawabannya benar.

"Benar," ucapku yang sepertinya tidak diperlukan. "Lalu?"

"Jadi… kenapa kau bisa memilih satu diantara mereka sebelum kau yakin?" tanya Profesor itu.

"Sebelumnya, kenapa kau tiba-tiba bertanya?" tanyaku penasaran. "Biasanya kau tidak begini," lanjutku.

"Karena Ibumu yakin hal ini akan terjadi ketika kau lama terperangkap dalam tubuh ini," jawabnya. "Akan kusampaikan pesannya, hanya jika aku telah yakin kau mencintainya. Dan aku sekarang yakin. Dengarkan pesannya. Kau tahu dia, perkiraannya kuat dalam urusan ini bukan?" ucap tetanggaku itu.

"Huh? Aku ini detektif. Aku tidak percaya pada hal-hal yang masih ambigu seperti perkiraan. Aku hanya percaya pada fakta," ucapku dengan tatapan bosan.

"Itulah yang dikhawatirkan Ibumu. Ini pesannya: 'Mendapatkan cinta bukan dengan menemukannya dengan kebenaran logika. Cinta itu tentang perasaan. Kau tidak akan bisa menemukannya dengan menjadi detektif.' Itu pesannya," ucap Profeso itu seraya berdiri.

"Sudah kusampaikan. Ingat itu, Shinichi. Kau belum siap untuk memilih selama kau masih menggunakan otak detektifmu," ucap Profesor sambil keluar rumah.

Lama aku terdiam. Benarkah apa yang dikatakan Ibu? Aku tidak pernah mengakui ucapannya dalam ucapanku. Tapi aku selalu berpikir bahwa dia benar. Entah bagaimana. Hatiku membenarkannya. Mungkin karena sisi diriku yang manusia yang memiliki perasaan yang mengerti hal itu. Jadi aku membenarkannya.

"Ukh! Kenapa aku jadi membenarkan perkataan Ibu?" ucapku depresi. "Sekarang aku jadi bimbang lagi!"

Aku memutuskan untuk kembali ke rumah Ran. Aku menyadari satu hal. Penawar sudah ada di depan mata, tapi aku tidak menunjukkan suka citaku. Apa ini?

—X—

Aku sampai di Kantor Kogoro. Aku langsung menuju kamarku. Lelah dengan hari ini. Padahal ini belum lagi malam. Tapi aku tidak peduli, aku sedang sibuk dengan hal lain. Hatinya. "Untuk siapa hati ini?" itulah yang kupikirkan.

Aku masih memikirkannya meski aku telah mencoba memusatkan perhatianku dengan obat penawar. Siapa yang lebih pantas kucintai? Bagaimana perasaanku untuk kedua orang itu? Mana yang lebih besar? Mana yang lebih baik diantara mereka?

Lalu dia berpikir. "Jelas Ran mencintaiku. Tapi… apa Ai juga mencintaiku? Aku… jelas tidak suka dengan ketidak-pastian. Aku menyukai hal yang kebenarannya jelas," kemudia dia terdiam.

Memang inilah pilihanku. Tapi… sepertinya masih ada yang kurang. Ada yang janggal. Sudahlah. Saat aku bersama Ran, aku pasti tidak akan memikirkan orang lain. Inilah jalanku. Aku pun terlelap dengan pikiran itu.

—X—

SMP Teitan

Normal POV

"Hei, Conan. Kau tahu Ai sakit apa hingga tidak masuk?" tanya Ayumi mencoba ngobrol dengan Conan.

"Entahlah. Jarang sekali dia sakit kan?" ucap Conan. "Mungkin dia demam karena tidur terlalu larut seperti biasanya," lanjutnya memikirkan alasan untuk Ai. Dia sebenarnya tahu kalau Ai tidak sakit meski tidak diberitahu oleh Agasa. Dia pasti sedang melanjutkan pembuatan penawar permanen.

"Benar juga!" ucap Mitsuhiko tiba-tiba. "Setelah ini, ayo kita tengok Ai. Dia pasti senang!"

"Lebih tepatnya kau yang senang kan, Mitsuhiko?" ucap Ayumi dengan senyum usil.

"Bu-bukan begitu. Kita kan teman yang baik," ucap Mitsuhiko.

"Ya ya. Terserah kau saja apa alasannya, Mitsuhiko," ucap Genta tak kalah usil dari Ayumi.

"Hhh. Bahkan Genta yang 'itu' sudah sadar akan perasaan Mitsuhiko," batin Conan. "Apa mereka juga sadar tentang perasaanku pada Ai?"

"Bagaimana, Conan?" tanya Ayumi.

"Ah? Apa?" tanya Conan bingung.

"Ai tentu saja. Kita tengok Ai juga kan?" ucap Ayumi mengajak Conan disertai anggukan dua teman lainnya.

"Jangan. Dia pasti ingin ketenangan. Kalian tahu dia orang yang begitu kan?" ucap Conan buru-buru.

"Benar juga. Kalau begitu harus ada yang jadi perwakilan agar tidak ribut," ucap Genta.

"Janken saja bagaimana?" ucap Mitsuhiko semangat. Kebetulan dia yang paling sering menang dalam janken.

"Tidak, tidak bisa begitu. Kita tidak boleh mengandalkan keberuntungan. Kita ini detektif. Ayo kita analisis," balas Genta.

Conan menaikkan sebelah alis matanya, "Dari mana dia bisa berpikir begitu?" batinnya.

"Aku tidak bisa. Aku ini paling berisik," ucap Genta sadar diri, membuat Conan makin bingung apa yang terjadi dengannya.

"Aku kalau begitu! Sesama cewek pasti mengerti," ucap Ayumi tentu saja.

"Tapi kan pasti akan terjadi obrolan yang berisik," ucap Mitsuhiko. "Lebih baik aku saja. Tidak akan terlalu berisik," lanjutnya kepedean.

"Kau sih memang hanya ingin dekat dengan Ai dan cari perhatiannya kan?" ucap Conan ketus. Membuat yang lain heran karena Conan terdengar agak kesal.

"Baik, kau saja Conan," ucap Genta yang langsung diberi tatapan 'beraninya-kau' oleh Ayumi dan Mitsuhiko.

"Tidak masalah," ucap Conan berusaha tidak terdengar bersemangat.

"Tidak, aku saja!" ucap Ayumi dan Mitsuhiko bersamaan.

"Kalian harus belajar mengesampingkan perasaan kalian," ucap Genta, "Kalian kan tahu sendiri. Dalam kasus, kita harus berbuat demikian. Lihatlah, Conan itu yang paling dekat dan mengerti bagaimana Ai," ucap Genta.

Conan terbelalak dengan perkataan Genta. "Dari mana sih dia? Kok bisa seperti itu?" batin Conan.

"Baiklah. Jangan aneh-aneh Conan!" ucap Mitsuhiko.

"Apa maksudmu?" tanya Conan.

"Kau tahu? Berduaan dengan perempuan dalam satu rumah," ucap Mitsuhiko.

"Eeeh?" ucap Ayumi keras.

"Ck. Dasar. Untuk ukuran anak SMP, kau ini punya pikiran yang sangat kotor," ucap Conan malas.

"Tapi… mungkin saja kan?" ucap Mitsuhiko.

"Dua kesalahan. Aku bukan anak yang baru puber dan disana ada Profesor. Kau saja yang pikirannya ingin berduaan dengan Ai," ucap Conan panas.

"Sudah, sudah. Kita sudah sepakat Conan yang akan ke sana kan?" ucap Genta. "Sampaikan salam kami Conan," lanjutnya.

Saat Mitsuhiko dan Ayumi membelakangi Genta, Genta mengacungkan kedua jempolnya pada Conan. Sukses membuat Conan makin binging. "Hhh… yang lain mungkin belum tahu. Tapi, sepertinya Genta yang paling mengerti tentang perasaan. Wajar sih. Dia sudah beberapa kali jatuh cinta," batin Conan.

"Hm," balas Conan malas. Dan bel sekolah pun berbunyi pertanda masuk kelas.

—X—

Ruang Bawah Tanah

Ai's POV

"Yo!" sapa Conan padaku.

"Cepat sekali kau datang," balasku ketus.

"Yah… aku datang ingin tahu perkembangan obat itu. Bagaimana?" jelas Conan.

"Ternyata memang hanya ada Ran di hatinya," batin Ai. "Sudah selesai," ucapku menjawab pertanyaannya.

"Sip. Berikan padaku," ucap Conan.

"Ada di mejaku," ucapku melangkah pergi.

"Oi. Mau kemana kau?" tanya Conan.

"Toilet. Mau ikut?" ucapku pada Conan dengan nada cuek.

"Tidak, terima kasih," balas Conan menjawab pertanyaan retorisku. "Ah, kau mendapatkan salam dari yang lain," lanjutnya.

"Hm,"ucapku sambil melangkah pergi. Mataku perih. Sepertinya akan lama di Toilet nanti.

—X—

Conan's POV

"Kenapa sih dia pergi seperti itu? Padahal ini saat yang penting," ucapku bingung.

Aku melihat ke mejanya. Terdapat komputer menyala seperti biasa. Juga ada dua butir kapsul di sana. Bersama dengan gelas takar di sebelahnya. Juga ada dua tabung reaktor.

"Buat apa menunggunya. Aku telah bawa baju. Yang kuperlukan hanya kapsul itu, dan aku akan kembali," ucapku akhirnya sambil mengambil satu kapsul dan pergi ke kamar Profesor yang sedang tidak di Rumah. Kukunci pintu itu.

Aku melepas bajuku dan menelan kapsul tersebut.

DEG!

Perasaan panas dan detak jantungku muncul lagi. Tapi aneh. Rasaya berbeda dari biasanya. Rasanya seolah tiap bagaian tubuhku tersayat. Tapi aku mencoba menahannya. Mungkin ini karena penawar permanen. Aku mencoba mengurangi sakit dengan menutup mataku. Tapi… rasanya lebih lama dari biasanya. Ingatan terakhirku adalah aku yang sedang menatap cermin melihat wajah kesakitanku.

Saat aku terbangun. Aku melihat ke depan. Kuperhatikan cermin disana. Penglihatanku masih kabur. Aku melihat diriku dalam usia 23 tahun. Aku melihat garis wajahku yang makin tegas. Saat ingin kusentuh wajahku, aku menyadari hal yang aneh. Seketika itu, aku kolaps.


Bagaimana?

Ada yang bisa tebak, keanehan apa yang terjadi pada Conan/Shinichi? Ada yang bisa nebak bagaimana fic ini berakhir?

Akhir kata, Review, Please!