Disclaimer :
Detective Conan adalah milik Aoyama Gosho
Balasan Untuk Reviewers:
Ryuta Kagami: Keriput? Hahaha. Kalo keriput, kasian banget. Nanti gak ada yang mau sama dia. Ini updatenya. Oh, ya. Makasih jempolnya ya? XD
Misyel: Benarkah? Rasanya Author sama sekali tidak memasukkan Shiho dalam cerita ini. Tapi, akan kucari lagi kalau-kalau ada salah ketik di sana. Terima kasih kembali. :)
Zetwelvesi: Jauh juga tebakanmu. Tapi lucu juga kalo ada yang nggak membesar. Tapi, Author jadi bingung sama ceritanya kalo cuma itu keanehannya. Dan sekarang, ini updatenya. :)
Catatan Penulis:
Author memutuskan untuk menjadikan ConAi sebagai main pair. Soalnya, Author gak bisa banyak cerita soal ShinRan, gak ada para penggemar Ran, kali ini Author gak mau Ran sedih. Jadi dia akan bahagia. Untuk itu Author akan memasukkan sedikit Sci-Fi dalam chapter ini. Jadi Ai dan Ran berakhir bahagia. Mungkin sekarang kalian sudah bisa menebak hasilnya. Bagi yang belum, setelah baca chapter ini, sepertinya kalian akan bisa menebaknya. Yah... tapi Author tetap meminta kalian membaca dan me-review hingga kisah ini selesai. Terima kasih.
Author akan mencoba update rutin tiap satu minggu. Jadi, mohon review kalian.
Sekarang, kupersembahkan kisah ini pada para readers dan reviewers.
Another Me
By Byzan
Kamar Shinichi
Ai's POV
Aku memandang wajah Shinichi dengan cemas. Sudah 20 jam dia tidak sadar. Profesor mengatakan kepada Detektif Teitan bahwa Conan tertular denganku. Sehingga dia tidak bisa sekolah. Hal yang sama juga disampaikan kepada Ran. Meski Ran ingin datang, Profesor mengatakan kalau dia akan merawatnya. Jadi untuk saat ini, tidak akan ada masalah.
Untuk saat ini? Ya… begitulah. Aku khawatir. Bagaimana pun, ini salahku karena tidak mengawasi atau melarangnya meminum penawar permanen yang kubuat tanpa petunjukku. Meski ini salahnya juga karena meminum penawar itu tanpa sepengetahuanku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.
Kuperhatikan lagi wajah Shinichi. Kelihatannya, dia baik-baik saja. Tidak demam, atau keanehan lainnya. Hanya tidur yang terlalu panjang. Mirip orang yang sedang koma. Aku takut. Aku takut kalau aku menciptakan obat untuk kejahatan kali ini. Tapi yang membuatku lebih takut lagi adalah jika orang didepanku ini tidak bangun. Semoga dia baik-baik saja.
"Hoahm…" suara orang yang menguap itu sudah sangat familiar bagiku. Jadi aku tidak terkejut ataupun menoleh pada asal suara itu.
"Selamat pagi, Profesor," ucapku tanpa menoleh.
"Ng? Ai-kun? Kenapa kau ada di sini? Kau harus istirahat. Kau belum tidur sejak dua hari lalu kan?" ucap Profesor yang kuanggap ayahku itu dengan rentetan pertanyaan.
"Aku tidak bisa tidur," ucapku lemah.
"Aku mengerti kau mencemaskannya, tapi kau butuh istirahat. Berbaringlah dulu. Akan kutemani dia," ucap Profesor itu.
Aku tetap diam. Aku tahu itu benar. Tapi, aku tidak bisa meninggalkannya.
"Ai-kun, aku tahu kau mencintainya," ucapnya lagi, "tapi jika dia bangun lalu mendapati dirimu sakit, apa menurutmu dia akan senang ketika tahu kau tidak tidur selama dua hari?" lanjutnya masih mencoba membujukku.
Dia memang telah tahu. Aku memberitahunya ketika dia menggodaku karena aku terus-menerus memasang wajah khawatir ketika orang didepanku mengalami tidur panjang-aku tidak mau menyebutnya koma. Aku memberitahunya agar dia berhenti menggangguku yang sedang serius memeriksa Shinichi-dia tidak berwujud Conan, jadi aku memanggilnya begitu. Lagi pula, apa salahnya kalau ayahku tahu bahwa aku mencintai seseorang?
"Istirahatkan dulu dirimu, Ai-kun," ucap Profesor lagi sambil memegang pundakku. "Akan segera kubangunkan kau ketika dia bangun nanti," ucap Profesor lagi dengan nada memohon dan khawatir yang tidak ditutupi sama sekali.
Aku bangkit. Tidak ingin mendengar suaranya seperti itu lagi. Aku menyayanginya sebagai ayahku.
"Baik. Segera bangunkan aku nanti," ucapku kemudian sambil menghadapnya.
"Ya!" jawab Profesor itu.
"Terima kasih… Ayah," ucapku. Melihatnya diam dalam keterkejutan, aku membiarkannya dan berniat keluar.
"Tidak apa kupanggil seperti itu kan?" tanyaku menoleh lagi padanya sebelum pergi dari kamar itu.
"Tidak. Tidak. Terima kasih, Ai-chan," balasnya.
Aku menjawabnya dengan senyuman yang tulus. Bahagia karena aku, sekali lagi memiliki keluarga.
Aku keluar dari kamar. Dan berjalan menuju kamar sebelah. Dari awal, aku tidak berniat beristirahat sepenuhnya. Aku hanya ingin menenangkan diriku. Kubuka kamar sebelah dengan perlahan agar tidak mengejutkan orang yang ada di dalam. Mataku menuju ke arah kasur disana, hanya untuk menemui Conan yang berbaring, sama seperti Shinichi. Kututup pintu dibelakangku dengan pelan yang sama agar Ayah tidak tahu aku di sini.
Mereka berdua belum bangun sejak kejadian mengejutkan itu. Aku melangkah mendekatinya. Menarik kursi kedekat kasur itu dan duduk di sana. Pada dasarnya mereka adalah orang yang sama. Jadi aku merasa senang bersama keduanya. Tapi, aku lebih merasa nyaman ketika yang kupandangi adalah wajah Conan.
"Kapan kau bangun, Conan-kun?" ujarku menggenggam tangannya. Tindakan yang berani kulakukan karena sudah beberapa kali kulakukan-juga karena yang si pemilik tangan sedang tidak sadarkan diri.
"Bangunlah. Apa kau ingin aku menjadi penjahat lagi karena mencelakaimu?" ujarku putus asa. Berkali-kali aku bicara dengannya. Tapi dia belum juga menunjukkan tanda bahwa dia sadar. Padahal sudah 20 jam. Aku tahu dia tidak pingsan biasa. Tapi aku yakin bukan juga koma. Pasti ada penjelasan lain. Meski aku mencoba mencari tahu dengan meneliti obat yang dia minum, tapi aku tidak bisa menemukan alasannya. Kurasa karena aku tidak bisa saat itu. Aku memikirkan hal yang lebih mengkhawatirkanku. Sekarang aku hanya bisa tersenyum getir melihat orang yang membuatku khawatir ini.
"Bangunlah. Kau tidak ingin membuat Ran menangis kan?" bujukku lagi.
"Atau kau sengaja?" tanyaku. "Kau sengaja ingin membuatku sedih?" tanyaku melangkapi pertanyaanku.
Aku merasa bodoh karena mengajaknya bicara, padahal dia sedang tidak sadarkan diri. Mataku sudah lumayan berat. Jadi aku merebahkan kepalaku di kasur itu, dan tanpa melepaskan tanganku karena kehangatannya, aku memejamkan mataku. Hal yang terakhir kulihat adalah wajahnya yang terlelap.
Aku membuka mataku pelan ketika tanganku terasa terasa dingin. Dan kurasakan tubuhku menghangat. Aku melihat Conan-tanpa turun dari kasur sedang mengenakan selimut yang tadi dipakainya ke atasku.
"Maaf, kau terbangun ya?" ucapnya tersenyum.
"Ah, kau sudah bangun? Sejak kapan? Apa kau baik-baik saja?" tanyaku bertubi-tubi tanpa berusaha menutupi rasa malu dan kekhawatiranku. Aku malu karena dia pasti melihatku menggengam tangannya.
"Dua jam yang lalu. Aku agak pusing. Tapi aku merasa sangat baik. Apalagi dengan sosok baruku," ucapnya riang.
"Uhm… maaf. Aku harus mengambilkan sesuatu untukmu," ucapku mulai berdiri dan mencoba melepas selimutku.
"Pakai saja selimutnya, kau kedinginan," ujar Conan begitu terdengar perhatian.
"Baiklah, tunggu sebentar," ucapku lembut. Meski aku tahu dia akan kecewa.
Aku berjalan mendekati sebuah cermin.
"Kau tidak terlihat begitu berbeda dengan wujud barumu," ujar Conan agak bingung.
"Tentu saja, aku memang belum meminum antidot itu," jelasku padanya sambil mengambil sebuah cermin.
"Eh? Kenapa?" tanya Conan bingung, "Bukankah kau juga ingin kembali ke wujud aslimu?" lanjutnya.
"Itu karena kebodohanmu," ujarku tersenyum pahit. "Periksa dirimu, Conan-kun," ujarku padanya sambil menyodorkan sebuah cermin padanya.
Dia mengambilnya dan melihat apa yang aneh dari cermin itu. "Bisa berhenti memanggilku Conan? Saat ini aku adalah Shin…" ucapannya terhenti.
"A-apa ini?" ujarnya penuh dengan rasa terkejut. Aku tidak bisa menyalahkannya dengan reaksinya itu.
Aku hanya diam. Memasang wajah sedatar mungkin.
"Haibara! Bukankah seharusnya yang kuminum itu penawar permanen? Kenapa aku kembali menjadi Conan?" teriaknya frustasi mulai bangkit dari kasur. "Apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan? Kenapa tubuhku begini? Jawab aku, Haibara!" lanjutnya masih berteriak dan berdiri di depanku.
Aku memandangnnya sambil sedih. Bukan karena reaksinya. Ataupun karena dia meneriakiku. Aku hanya sedih dia memanggilku dengan sebutan nama belakangku lagi. Seolah ada jarak lagi yang terbentuk diantara kami. Tidak seakrab dulu.
"Jawab, aku, Haibara!" katanya berteriak sambil mengguncang tubuhku, "Jangan hanya menyesal dengan mata. Katakan sesuatu!"
"Conan-kun, ini bukan sepenuhnya salahku," ucapku mencoba menyalahkannya. Tapi, yang keluar adalah suaraku yang bergetar.
"Bagaimana mungkin ini bukan salahmu? Apa kau malah membuat penawar sementara lagi? Bukankah kau bilang, aku tidak boleh minum penawar itu lagi?" ujarnya masih berteriak.
BRAK
"Shinichi, jangan berteriak pada Ai-chan lagi!" kata Ayahku pada Conan dengan sorot mata marah.
"Tidak apa Ayah, biar aku yang tangani ini. Kembalilah. Jaga dia," ucapku setelah berhasil menyingkirkan wajah sedihku. "Mungkin sebentar lagi dia bangun. Jelaskan saja apa yang terjadi. Aku yakin dia lebih mudah diatasi dari pada anak ini," lanjutku sambil melirik Conan.
"Baiklah, bilang saja kalau butuh bantuan," ucap Ayah.
"Um," ucapku mencoba tersenyum padanya.
KLEK
"Ai-chan? Ayah?" terlepas dari seluruh amarahnya tadi, sepertinya dia lebih terkejut dengan cara kami saling panggil barusan dengan Ayah.
"Kau sudah bisa tenang?" tanyaku pada Conan masih mencengkram bahuku dengan kebingungannya. Aku bersyukur lagi karena aku memanggil Ayah dengan cara demikian, Conan mulai bisa memikirkan hal lain. "Akan kujelaskan apa yang terjadi."
"Yah… beritahu aku," ucap Conan. "Sebaiknya penjelasanmu tidak membuatku menyalahkanmu."
"Hm," aku mencoba tersenyum manis. "Sebagian kecil memang salahku. Tapi sebagian besar adalah karena kebodohanmu," lanjutku menyindirnya karena masih berusaha menyalahkanku.
"Mulailah," ucapnya seraya duduk di kasur.
—X—
Flashback
Saat aku mulai tenang, aku mulai keluar dari toilet setelah memastikan tidak ada bekas tangisan di mataku. Aku berjalan menuju ruang bawah tanah yang mungkin merupakan pintu kepahitan takdirku. Aku membukanya dengan malas. Tidak ada gunanya terburu-buru membuka sesuatu yang sudah kau yakini merupakan sesuatu yang jelek.
Saat membukanya, aku kebingungan. Conan tidak ada di sana. Aku tidak mencarinya di ruang itu. Pasti dia tidak ada di sini. Aku mencoba mencari tahu apa yang telah dilakukannya sampai dia pergi dari sini.
Aku mendekati mejaku. Berharap ada petunjuk. Lama bersama Detektif Teitan membuatku mulai agak mengerti bagaimana asyiknya memecahkan sesuatu. Sepertinya efek dari kebersamaan bersama 3 anak dan 1 orang yang kusayangi adalah terpengaruh mereka.
Di meja itu, aku menemukan penawar itu masih utuh. Tidak berkurang satu mili pun. Satu mili? Ya. Memang penawar itu bukan berbentuk kapsul. Tapi sejenis benda cair. Seharusnya ini yang diminumnya kalau dia ingin kembali ke wujud aslinya.
Lalu kulirik dua kapsul yang seharusnya berada di sampingnya. Seharusnya ada dua kapsul, tapi yang kutemukan hanya satu kapsul. Aku mulai mencarinya di bawah meja. Nihil. Mungkinkah Conan mengambilnya karena mengira itu antidot permanen?
Aku keluar. Mecoba mencarinya di rumahnya. Aku berlari mengitari rumah yang sangt besar itu. Masuk ke dalam dan meneriakkan namanya. "CONAN-KUUUN!"
Sepertinya dia memang tidak ada di sini. Tapi aku mencoba mencarinya dulu. Mungkin dia pingsan. Atau lebih gawat lagi. Masalahnya aku tidak tahu obat apa itu. Aku hanya ingin mengetahui efek obat yang tidak memiliki penjelasan dari 'data' itu. Setelah selesai dengan penawar permanen tepat tengah malam, aku membuatnya karena penasaran. Rencananya akan kuberikan pada tikus percobaan. Tapi sepertinya manusia yang meminumnya.
Aku telah mencari di seluruh ruang yang ada di rumah keluarga Kudo. Jadi aku coba kembali dan memeriksa rumahku. Cuma dua tempat itu yang mungkin didatanginya untuk berubah menjadi Shinichi. Hal yang pertama terpikir olehku adalah kamar Ayah. Jadi aku kesana.
Aku berniat membuka pintu itu, tapi terkunci. Aku kembali pergi untuk mengambil kunci rumah. "Aku yakin dia ada di sana," batinku. "Profesor sedang pergi."
Saat aku kembali dengan kunci, segera kubuka kunci pada pintu itu. Lalu aku membuka pintu sambil berteriak. "CONAN-KUN!"
Yang kulihat adalah Conan yang bertelanjang dada tiduran di lantai. Segera kutup pintu itu. Syukurlah ada sofa yang cukup besar untuk menutupi bagian tubuhnya yang lain. Karena sepertinya dia tidak mengenakan pakaian.
"Aku pulang…" ucap Ayah.
"Profesor!" panggilku panik.
"Oi. Ada apa Ai-kun?" tanyanya bingung melihat wajahku.
"Cepat kemari," ucapku buru-buru. "Periksa kamarmu. Pastikan orang yang di dalamnya sudah mengenakan pakaian."
"Hoo… apa ini?" ucap Ayah. "Kau mengintip Shinichi?" ucapnya dengan wajah usil.
"BUKAN WAKTUNYA BERCANDA!" teriakku padanya. "CEPAT! Mungkin saja nyawanya terancam!" lanjutku dengan sura bergetar karena mengucapkan kemungkinan terburuk.
"Eh? Baik!" ujarnya seraya berlari ke arahku. Yah… setidaknya itulah lari yang bisa dia gunakan.
Dia segera masuk ke kamarnya ketika sampai kamarnya. Dan ada teriakan tersentak dari sana. Aku penasaran apa yang terjadi. Tapi kutahan diriku untuk menerobos masuk.
Beberapa saat kemuadian, Ayah membukakan pintu untukku dan mempersilakanku untuk masuk. Aku sangat terkejut melihat apa yang terjadi. Ada dua orang di atas kasur. Terlebih lagi, dua orang yang seharusnya satu orang.
Aku tak sanggup berkata apa-apa. Sampai Ayah mengejutkanku dengan pertanyaannya.
"Apa yang terjadi, Ai-kun?" tanyanya.
"A… Aku tidak tahu. Yang kutahu dia sudah salah minum obat. Seharusnya dia minum antidot permanen," ucapku bingung. "Tapi si detektif 'hebat' ini tidak mendengar instruksiku, dan langsung mengambil obat yang salah dan meminumnya ketika aku ke toilet."
"Jadi… obat macam apa yang membuat seseorang menjadi dua orang?" tanya Ayah dengan wajah sangat terkejut dan… takut?
"Entah. Aku harus memeriksa dua orang ini. Dan aku akan coba memeriksa apa yang ada dalam data tentang obat ini," ucapku akhirnya. "Sementara itu, kita pindahkan mereka ke rumahnya. Bisa gawat jika mereka bangun dan menemukan mereka ada dua orang."
Dengan cara mereka, akhirnya mereka berhasil memindahkan dua orang tidak sadarkan diri ke rumahnya. Aku berdiskusi dengan Ayah yang di depan kamar mereka yang bersebelahan.
"Profesor, sudah malam. Katakan pada Ran kalau Conan-kun tertular penyakitku. Dan minta dia jangan menyusulnya," ucapku memerintah Ayah. "Juga beritahu orang tuanya tentang kejadian ini. Mereka harusnya bisa menenangkan kedua anaknya jika mereka hilang kendali."
"Menurutmu mereka akan hilang kendali seperti apa memang?" tanyanya seraya mengambil handphone-nya.
"Entahlah. Ini kasus pertama-ku manusia menjadi dua orang kan? Hanya tindakan berjaga-jaga saja," ucapku menjelaskan.
Sementara Ayah sedang menelpon orang-orang yang kusebut, aku membuka laptop yang kubawa dari rumah dan mulai mencari data tentang obat itu sambil melihat perkembangan dua orang itu secara bergantian karena mereka berada di dua tempat berbeda.
Aku berusaha sebaik mungkin untuk menganalisis. Tapi pikiranku blank. Aku hanya bisa mengkhawatirkan mereka berdua. Tidak bisa berpikir jernih. Mataku mulai perih.
"Ada apa Ai-kun? Khawatir karena orang kau suka sedang terbring tidak sadarkan diri?" ucapnya iseng.
"Profesor, apa ini sudah waktunya mengganggu konsentrasiku?" tanyaku menyicdirnya.
"Hanya saja wajahmu lebih sering memperhatikan Shinichi. Jadi kupikir kau mencemaskan orang yang kau sukai itu," ujarnya makin usil.
Aku memutar bola mataku. Berharap dia berhenti. Tapi sepertinya percuma. "Iya. Aku mencintainya. Puas?" ucapku padanya. Dia bergidik. Mataku merah. Mingkin dia pikir aku marah padanya. Tapi aku tahu yang sebenarnya. Air mataku meleleh. Aku mulai terisak.
"Kenapa… kenapa orang penting dalam hidupku selalu dalam bahaya? Apa aku ini pembawa sial untuk mereka?" tanyaku lebih pada diri sendiri. "Orang tuaku tidak ada dalam memoriku. Kakakku dibunuh. Dan sekarang cinta pertamaku terbaring tidak berdaya karena obat buatanku…"
"Ai-kun…" ujar Ayah mencoba menghentikanku.
"Aku… tidak ingin kehilangan lagi," ujarku.
"Aku mengerti. Maaf, Ai-kun," ucap Ayah memegang pundakku untuk berhenti meratap, mencoba menenangkanku. "Maafkan aku kerena membuatmu teringat hal tidak menyenangkan ini. Jangan menyerah, Shinichi akan bangun. Aku tidak akan memaafkannya jika membuatmu sedih begini. Jadi, dia pasti bangun," lanjutnya.
"Terima kasih. Istirahatlah di kamarnya, aku akan menjaga Conan-kun di sini," ujarku padanya.
"Ya. Kau juga, istirahatlah," ujarnya yang kubalas dengan anggukan.
Aku lega. Akhirnya aku bisa membagi isi hatiku pada orang lain. Aku tidak perlau menanggung tentang kisah cinta ini sendirian sekarang.
Aku tidak berniat tidur ataupun beristirahat. Aku mencoba berbicara pada Conan untuk bangun. Tengah malam hari, aku pergi ke kamar Shinichi. Mencoba melihat apa yang bisa kulakukan padanya.
Tidak ada. Mereka sama-sama terlelap. Dan terlihat sangat mirip. Tapi tetap memberi kesan yang berbeda. Padahal mereka satu orang yang mirip, kalau bukan sama. Dan sementara aku memikirkan itu, waktu berlalu hingga pagi.
End Of Flashback
—X—
"Begitulah…" ucapku. Aku menyembunyikan beberapa hal-seperti percakapanku tentang Conan dengan Ayah-yang tidak diperlukan.
"Bisa berikan aku obat penawarnya kalau begitu? Biar saja dia menjadi Conan dan aku yang menjadi Shinichi," ucapnya. Terlalu egois menurutku.
"Aku belum bilang ya?" ujarku seperti terlupakan sesuatu. "Dia itu Shinichi. Kau lah yang Conan."
"APA?" ucap Conan terkejut.
"Yah… aku mencoba mengetahui apa yang bisa kudapat dari data itu, tapi terlalu sibuk memperhatikanmu… maksudku kalian berdua. Um… maksudku kalian kasus yang rumit menurutku. Jadi aku memerhatikan perkembangan kalian," ujarku agak gelagapan karena sempat salah memilih kata-kata.
"Lalu kau dapat apa?" tanya Conan padaku. Dia berusaha bersikap tenang.
"Biar kuingat. Seingatku tertulis obat ini bekerja sesuai dengan memori yang ada pada otak peminumnya. Bisa diartikan, kaulah yang asli, dan Shinichi itu hasil dari dirimu. Tapi tetap saja kalian berdua manusia asli. Dia bertubuh 23 tahun karena memorimu yang sudah 23 tahun," ujarku. Terkejut mungkin. Tadinya aku tidak bisa berpikir jernih. Namun saat aku melihat Conan baik-baik saja, pikiranku kembali terbuka. Bahkan aku ingat apa yang kubaca semalam.
"Hhhh… Akan aneh kalau ada dua Shinchi," ujarnya seolah aku tidak mengerti. "Kau memiliki cara untuk menyatukan kami kembali?"
"Mustahil menurutku. Sepertinya kau terjebak selamanya dalam tubuh Conan," ujarku putus asa.
"Bagaimana mungkn mustahil? Kau telah melihat seseorang mengecil dan melihat seseorang menjadi dua orang. Apa lagi yang bisa kau sebut mustahil?" tanya Conan emosi. Sepertinya dia gusar karena fakta dia tidak bisa mendapatkan Ran. Atau malah hanya akau yang berpikir demikian.
"Karena sebelumnya kau hanyalah satu tubuh yang meminum sesuatu yang berdampak pada tubuh peminumnya. Sedangkan kalian berdua meski mirip satu sama lain. Bahkan mungkin sidik jari dan otak bahkan DNA kalian sama, kalian tetap saja dua tubuh yang berbeda. Rasanya mustahil meminumkan sesuatu ke dua tubuh yang dapat menghasilkan dampak bagi dua tubuh peminum berefek kepada peminum lainnya," ujarku panjang lebar.
"Jadi… takdirku adalah Conan ya?" ucapnya menundukkan kepala. Sedih sepertinya.
"Mungkin," jawabku ringan.
"Jadi aku harus merelakan Ran?" dia berjalan menuju sebuah meja. Sepertinya ingin menaruh cermin kembali.
"Ran? Lagi-lagi itu yang ada dipikirannya," batinku.
"KUSO!" teriak Conan sembari menendang meja hingga patah. Jelas membuatku terkejut.
"Conan-kun?" panggilku terkejut.
"Ada apa lagi sekarang?" tanya Ayah yang melongokkan kepalanyake kamar.
"PERGI KALIAN DARI HADAPANKU!" teriak Conan marah. "PERGI!"
Aku mengerti. Dia butuh sendiri. Dia hanya pura-pura marah agar kami segera menyingkir.
Aku melangkah menuju pintu. Aku mengangguk pada Ayah yang memberikan tatapan 'haruskah?' padaku. Sebelum aku menutup pintu, aku berujar pada Conan.
"Conan-kun… jika kau memang ditakdirkan tetap menjadi Conan, aku akan memenuhi permintaanmu tiga tahun lalu," ucapku kemudian menutup pintu.
—X—
"Bagaimana dengannya, Ayah?" tanyaku pada Ayah.
"Dia lebih bisa dikendalikan seperti dugaanmu. Dia tidak marah. Baginya, dia telah sukses kembali ke tubuh aslinya, meskipun agak sedih karena nasib Conan," jelas Ayahku.
Kami keluar rumah keluarga Kudo. Bertepatan dengan itu, sebuah taksi dengan sopirnya yang sedang menurunkan barang berada di depan rumah tersebut.
"Ah, kalian ada di sini? Mana Shin-chan?" tanya Yukiko ketika melihat kami.
"Di dalam. Shinichi ada di kamarnya. Conan ada di kamar sebelahnya," jelasku padanya.
"Sayang, tolong bawakan koperku ya?" ujar Yukiko pada suaminya dan bersegara menuju rumahnya.
"Um… Tant… eh, Neechan," kataku memanggil Ibu satu-sekarang dua anak itu.
"Ya?" tanyanya tidak sabar.
"Shinichi sudah tenang karena dia puas telah kembali ke sosok semula," kataku.
"Dan Shin…Conan sedang frustasi karena dia harus meninggalkan Ran?" tanyanya memastikan.
"Bagaimana-" pertanyaanku dipotong.
"Aku Ibunya!" jawabnya riang. "Aku akan bicara dengan Shinichi dahulu. Aku tahu itu. Tenang saja!" lanjutnya seraya masuk ke rumahnya.
Aku hanya bisa kagum melihatnya. Begitukah sosok Ibu. Mengetahui kondisi anak tanpa melihatnya. Bisakah aku begitu?
"Butuh bantuan, Paman?" tanyaku pada Yusaku saat melihatnya membawa barang.
"Hm. Kalau tidak keberatan," ucapnya tersenyum menganggukkan kepalanya sekali.
"Ayo, Ayah," ajakku pada Ayah.
Yusaku mengangkat sebelah alisnya. Kemudia tersenyum. Aku yang melihatnya juga ikut tersenyum. Begitu juga Ayah. Lalu kami akhirnya membantu Yusaku dengan senyum yang menghiasi kami.
—X—
Shinichi's POV
KLEK
"Shin-chan?" ucap seseorang-yang sudah pasti Ibuku membuka pintu kamarku.
"Ya, Ibu?" ucapku tersenyum. Untuk pertama kalinya aku tersenyum dipanggil seperti itu oleh Ibuku.
"Bagaimana kondisimu?" ucapnya sambil duduk di sebelahku.
"Tidak pernah sebaik ini," jawabku.
Ibu tersenyum. Senyum yang jarang kulihat. Hanya pada saat tertentu Ibu bisa tersenyum seperti itu. Saat sedang membicarakan masalah serius.
"Ibu turut bahagia karena kau bahagia. Jadinya tidak ada banyak hal yang harus kusampaikan," ucapnya.
"Ada apa, Bu?" tanyaku penasaran. "Pesan penting apa yang ingin Ibu sampaikan?" tanyaku. Hanya beberapa orang yang tidak kuketahui jalan pikirannya. Salah satunya adalah Ibuku ini, lalu Ai tentu saja, dan Ayah. Yah… meskipun aku lebih sering mengerti jalan pikirnya.
"Shin-chan telah kembali padaku dan pada semua orang, selanjutnya, apa yang ingin kau lakukan?" tanyanya.
"Aku akan kembali pada dunia. Mengabarkan keberadaanku," ucapku. Ibu diam seolah menunggu aku meneruskannnya.
"Lalu?" tanyanya lagi setelah aku diam cukup lama.
"Ran. Aku tidak bisa membiarkannya sendiri menungguku lebih lama," jawabku. Untuk pertama kalinya, aku-Shinichi mengakui perasaanku pada orang. Dan payahnya lagi, Ibu lah yang pertama kali kuberi tahu.
"Begitu ya… Ibu mengerti. Tapi kuharap kau memikirkan orang di kamar sebelah ini," ujarnya.
"Aku juga merasa kasihan padanya," ucapku setuju. "Tapi, aku harus bagaimana?" tanyaku bingung.
"Jangan terburu-buru terhadap hubunganmu dengan Ran. Kau tahu kenapa?" jawabnya sekaligus member pertanyaan lagi.
"Karena dia juga mencintai Ran. Sebesar cintaku pada Ran," jawabku. Aku tahu dia akan sakit jika aku yang mendapatkan Ran. Meski aku dan dia berasal dari satu orang, itu tidak berarti dia merasakankan apa yang kurasakan. Mungkin tahu apa yang kurasakan, ya. Tapi itu tetap tidak sama dengan merasakan perasaan itu.
"Ibu senang kau mengerti," ujarnya seraya berdiri. Aku secara refleks memegang tangannya. Belum puas dengan pernyataannya barusan.
"Ada apa, Shin-chan?" tanya Ibuku tersenyum.
"Apa… yang harus kulakukan terhadap diriku yang satu lagi itu?" tanyaku padanya. Aku terlalu bingung dalam masalah ini. Dan aku tahu, Ibu adalah yang paling ahli dalam hal ini.
"Kita bisa diskusikan nanti dalam acara keluarga nanti," ucapnya. "Kita akan membicarkannya bersama. Kau, dirimu yang satu lagi, Aku, dan Ayah. Untuk saat ini lebih bijak untuk tidak bicara dengannya."
"Iya," ucapku lemah.
Saat Ibuku mulai pergi dari kamarku, aku mengucapkan hal yang jarang kuucapkan. "Terima kasih… Ibu." Meski ibu sempat terkejut-terlihat dari reaksi diamnya, dia kembali meninggalkanku dengan banyak pertanyaan tak terjawab, juga pencerahan dari beberapa pertanyaanku.
—X—
Normal POV
"Bagaimana?" tanya Yusaku pada istrinya.
"Aku sudah bicara pada Shinichi, tapi aku masih membiarkan Conan tenang karena takdirnya lebih berat," ucap Yukiko membalas pertanyaan suaminya barusan.
"Soal langkah selanjutnya?" tanya Yusaku lagi.
"Seperti yang sebelumnya kukatakan. Kita akan membicarakan ini bersama," ujar Yukiko.
"Semoga saja ada yang mau mengalah," kata Yusaku merespon perkataan istrinya.
"Aku yakin, mereka tidak begitu egois sampai mementingkan perasaannya sendiri," kata Yukiko. "Dia sudah lebih peka dengan perasaan. Dia benar-benar mirip dirimu ya?" ujarnya lagi riang.
"Hmph. Aku berterima kasih padamu karena aku mulai bisa menutipi kekuranganku," ujar suaminya itu.
"Ya… dan aku yakin, ada orang lain yang dicintai Shin-chan selain Ran," kata Yukiko.
"Benarkah?" ucap suami Yukiko itu bingung. "Bukankah Ran satu-satunya yang dekat dengannya?"
"Cinta itu bisa tumbuh, suamiku," jelas Yukiko. "Kau tahu kan, siapa yang dekat dengan anak itu selama menjadi Conan?"
"Hmph," muncul senyum tipis dari Yusaku. "Kupikir itu memang mungkin dan masuk akal."
"Aku sudah berpesan pada tetangga kita kalau itu terjadi, supaya anak kita lebih hati-hati dalam mengambil keputusan," ucap Yukiko.
"Kuharap dia mau mendengarkanmu kali ini," ucap Yusaku sedikit khawatir dengan kekeraskepalaan anaknya.
"Tenang… tadi Shin-chan benar-benar menurutiku. Juga meminta pendapatku. Artinya, dia sudah percaya bahwa ada masalah yang bisa diselesaikannya dengan bantuan orang lain," ucap Yukiko menenangkan suaminya.
"Makan malam nanti, pasti akan seru. Sebaiknya kita mulai menyiapkan makan, hari sudah sore," ajak Yusaku pada Yukiko.
"Yuk! Sudah lama tidak membuat makan berdua di sini," ujar istrinya menggandeng tangan suaminya mesra.
"Iya. Sekarang aku akhirnya tahu kenapa kau senang dengan acara ini," ujar suami itu pada istrinya.
—X—
Conan's POV
"Sudah malam, sebaiknya aku membuat makan. Sepertinya kebiasaan dari Ran untuk makan malam membuatku jadi lapar," batinku pada diri sendiri.
KLEK
Bertepatan dengan diriku yang keluar, diriku yang satu lagi juga keluar. Kami terpaku. Terkejut. Kami memang belum melihat diri kami yang satu lagi. Dia terlihat lebih tegas dari Shinichi SMA. Dan lebih berotot dan tinggi. Benar-benar mirip diriku satu tahun lalu saat menghadiri ulang tahun Ran.
Lalu setelah lama saling memandang. Aku mulai melangkah ke arahnya. Dia menungguku. Lalu kami berjalan beriringan ke bawah. Lama-kelamaan akhirnya kami mulai menerima keberadaan satu sama lain. Aneh sekali aku bisa mengetahui perasaan orang di sebelahku ini. Tapi, rasanya wajar juga. Kami memang satu orang yang sama awalnya.
"Kau sepertinya sudah tenang," ujar orang itu akhirnya.
"Yah… kejadian luar biasa sudah sering ada di sekelilingku, kau tahu sendiri kan?" balasku.
"Tentu saja, siapa lagi yang lebih mengerti dirimu daripada aku?" ujar orang itu.
"Bagaimanpun kita satu orang," ucap kami bersamaan.
Kami berpandangan. Tersenyum. Menyenangkan juga, ada orang yang mengerti benar diriku. Sampai-sampai memiliki pemikiran sama dan ucapan yang sama.
"Kau lapar karena sudah terbiasa makan malam?" tanyaku padanya.
"Kita ini sama saja," ucapnya menjawabku.
"Yah… tidak salah juga," ucapku. "Kau juga berpikir kita akan membuat makan malam?"
"Kali ini rupanya berbeda. Sepertinya kau belum bertemu Ibu ya?" ucapnya.
"Ibu sudah sampai ya? Syukurlah dia tidak bicara denganku tadi. Aku memang butuh sendiri," ujarku.
"Aku lega kita bisa membuat perbedaan dengan memori yang berbeda," ucap kami bersamaan.
"Sepertinya kita akan begini terus sampai ada perbedaan yang jelas diantara kita," ucap kami lagi bersamaan.
Akhirnya kami sama-sama diam. Bingung karena ketepatan bicara kami dengan intonasi dan kecepatan yang sama.
"Benar-benar ada acara makan malam ya?" tanya kami bersamaan. Tersenyum kepada kedua orang tua kami yang sudah duduk di sekitar meja makan.
Aku dan diriku yang satu lagi ikut bergabung di maja makan. Dan kami mulai makan bersama. Kami makan dengan diam. Ketika sudah selesai, Ibu memulai pembicaraan.
"Jadi, kalian sudah menerima keadaan kalian?" tanya Ibu pada kami berdua.
"Ya. Kami tidak bisa menolaknya, jadi kami terima," ucap kami bersamaan.
"Bagus. Jadi, Apa yang akan kau lakukan, Shin-chan?" tanya Ibu lagi.
"Aku belum menentukannya," ujar kami bersama lagi.
"Eh, maksudku Shin-chan yang itu," ucap Ibu menujuk pada orang yang duduk di sebelahku.
"Hm. Kita melupakan dasar yang penting. Cara memanggil dua orang ini," ucap Ayah tersenyum geli.
"Yah… tidak ada cara lain. Dia harus jadi Shinichi dan aku adalah Conan. Mudah kan?" ucapku akhirnya.
"Eh? Apa itu tidak apa? Menyerahkan identitasmu padaku begitu?" ucap orang yang sudah kusebut Shinichi itu.
"Mau bagaimana lagi? Jadi aku yang harus dipanggil Shinichi dan kau Conan? Itu bodoh," ucapku. "Atau kau ingin minum APTX 4869 agar berubah jadi Conan dan aku minum penawarnya agar jadi Shinichi? Aku yakin jawabannya tidak. Jadi, masalah selesai kan?" ucapku.
Pahit memang harus memberikan identitasku. Tapi, dia juga orang yang juga diriku. Dia tidak akan mau berubah jadi orang lain. Dalam keadaanku yang seperti ini, akan kebih mudah jika aku menjadi Conan. Dan kubiarkan dia menjadi Shinichi.
Kulihat Ayah dan Ibu tersenyum padaku. Jadi kubalas senyum mereka.
"Syukurlah. Kupikir kalian akan egois mengingat kalian adalah anak yang selalu diperhatikan sejak dulu," ucap Ibu lega.
"Baiklah. Lalu, yang akan kau lakukan, Shinichi-nii… hm apa aku harus menggunakan niisan atau niichan?" ucapku mengejutkan yang lain.
"Benar. Bagaimanapun kami terlalu mirip jika dibilang bukan saudara kandung," ucap Shinichi.
"Bagaimana jika kau sepupunya saja?" ucap Ibu. "Akan aneh juga jika kau memiliki saudara kandung yang begitu mirip. Apa lagi hobi dan kesukaan kalian kalian sama."
"Baiklah," ucapku. "Selamat tinggal Kudo," lanjutku mengejutkan yang lain.
"Maksudmu?" tanya Ibu.
"Dia sepupu Shinichi," ucap Ayah. "Bagaimana mungkin dia menggunakan nama Kudo? Begitu kan, Conan?" tanyanya memastikan.
"Benar juga. Tapi aku tidak ingin dia bukan keluarga kita," ucap Ibu. Agak egois.
"Oi oi. Bukannya Ibu yang mengatakan sesuatu tentang egois tadi," batinku. "Sebenarnya aku juga tidak mau. Tapi bagaimana ya?" ucapku masih mengejutkan yang lain.
"Kau bersedia jadi anak angkat kami?" tanya Ayah.
"Hm… Ada juga cara itu," ucapku dan Shinichi bersamaan tersenyum.
"Tunggu. Aku mengerti, tapi bagaimana cara kalian mengangkat Conan menjadi saudara Shinichi?" tanya Ibu.
"Kita minta orang tuanya untuk menyerahkan Conan karena mereka sangat tidak peduli pada anaknya. Bagaimana?" ucap Ayah sambil meminta pendapat pada Ibu . "Bagaimanapun, jika dengan kita, Conan akan lebih terurus. Itu masuk akal. Meskipun akan membuat image orang tua Conan menjadi sangat buruk. Tapi toh mereka tokoh yang tidak ada. Jadi… tidak apa kan?" lanjutnya menjelaskan pendapatnya.
"Kurang. Bagaimana jika kita mengabarkan bahwa dalam suatu kapal kedua orang tuanya kecelakaan. Sehingga kalaupun dicari, tidak akan ditemukan," ucapku dan Shinichi. Sepertinya dia dan aku sama-sama memikirkan pelenyapan Akai 6 tahun lalu.
"Yah… patut dicoba. Jadi kalian bisa mengangkat Conan setelahnya tanpa ada banyak kecurigaan dari orang umum," ujar Ayah tersenyum.
"Sudah diputuskan begitu. Kita pikirkan detailnya nanti. Sekarang, apa yang akan kalian lakukan selanjutnya, Shin-chan dan Co-chan?" ucap Ibu.
"Oi oi. Apa maksud Ibu dengan 'Co-chan'?" ujarku dengan wajah bingung karena kekonyolan nama panggilan itu.
"Biar saja. Ibu ingin memanggil kalian dengan sebutan itu," ujar Ibu riang. "Jadi, siapa yang akan mendapatkan Ran?"
"Memangnya perlu dipertanyakan lagi?" ujarku dan Shinichi. "Tidak mungkin Conan bisa mendapatkan Ran."
"Benarkah tidak apa, Co-chan?" tanya Ibu prihatin.
"Aku memang bisa apa lagi?" ujarku dengan nada lebih tinggi dari yang ingin kukeluarkan.
Diam. Semua pasti sudah sadar kalau aku belum rela dengan hal yang satu ini.
"Aku akan menunggu," ucap Shinichi.
"Tidak. Aku tidak mau Ran menunggu lebih lama. Kau harus menikahinya segera agar dia mendapat kebahagian," ujarku dengan agak bergetar karena sakitnya hatiku mengatakan itu.
"Dan membiarkan saudaraku kesakitan? Tidak mau. Akan kutunggu sampai kau rela. Atau sampai dia bisa memenuhi hatimu," ucap Shinichi.
"Dia?" tanya Ayah dan Ibu.
"Cukup. Aku mengalah. Tidak perlu diteruskan lagi. Ikuti saja rencananya. Kalian belum perlu tahu siapa dia," ucapku terburu-buru seperti habis berlari. Yah… jantungku memang berdetak keras sekarang.
"Kami sudah tahu, Co-chan," ucap Ibu.
"Ya. Ai-chan sepertinya bukan pilihan yang buruk," ucap Ayah.
Dua kalimat itu sukses membuat wajahku memerah. Dan kulihat wajah Shinichi tidak kalah merah.
"Sepertinya kalian memang harus menunggu. Kalian masih menyukai kedua orang itu. Jadi, begitulah. Kalian terpaksa harus menunggu," ujar Ibu riang dan dengan nada usil yang tidak ditutupi.
"Ibu!" teriakku dan Shinichi bersamaan.
Bagaimana?
Ada yang bisa tebak rencana pelenyapan orang tua Conan? Oh, iya. Karena sebentar lagi UN. Author tidak tahu kapan bisa update cerita berikutnya. Bisa minggu depan. Atau minggu depannya lagi. Maaf ya. Tapi setelah UN, sepertinya akan kembali normal lagi. Hehe...
Akhir kata, Review, Please!
