Disclaimer :
Detective Conan adalah milik Aoyama Gosho
Balasan Untuk Reviewers:
Hikari: Salam kenal juga ya. Jatuh cinta? Hahaha, seneng deh sama pujian ini. Tentang ide ini, Author dapet ide dari komik Detective Conan yang selalu menampilkan Shinichi dan Conan di awal komik. Author suka sama gambar-gambar itu, jadilah seperti ini. Hehe
Misyel: Pasti. Gak seru kalo gak ada cekcoknya. Aku sudah berkali-kali melihat chapter sebelumnya, tapi aku tidak menemukan yang Misyel maksud. Maaf ya.
Arabella clyde: Terima kasih sudah mau menyukai fic sederhana ini. Mohon bantuan ya jika ada kesalahan. Dan ini update untukmu juga.
Nasumichan Uharu: Iya. Salah dia sendiri kan? Hahaha. Tidak apa tidak review, sesempatnya saja. Terima kasih.
Dark terror: Waah... terima kasih pujiannya. Hehe. Maaf ya baru bisa update sekarang. Orang tua udah ngamuk duluan kalo liat Author di depan komputer. Haha.
Ryuuta Kagami: Kecewa ya? Maaf. Habisnya Author bingung ide apa lagi yang bisa dibilang baru. Hehe
magicianPhantom: Terima kasih. Tetap baca ya...
Catatan Penulis:
Hai, semua... Maaf Author baru bisa update sekarang. Setelah sibuk UN, ternyata ada beberapa hal lain yang harus Author kerjakan. Ngomong-ngomong, banyak juga yang menanggapi positif tentang ide yang iseng muncul ini. Terima kasih, semuanya...
Author akan mencoba update rutin tiap satu minggu. Jadi, mohon review kalian.
Sekarang, kupersembahkan kisah ini pada para readers dan reviewers.
Permainan Takdir
By Byzan
Pagi itu sepi. Conan tidak pergi kemana-mana. Dia masih mengenakan piyama yang semalam digunakannya. Duduk di kasur sementara selimut menutupi kakinya. Menatap kosong ke arah tembok di depannya. Pikirannya menjelajahi masa lalu. Dia hanya bisa berada di Rumah. Sebenarnya bisa saja dia ke rumah Profesor Agasa. Tapi dia masih tidak punya muka untuk bertemu Ai. Dia merasa kalau dia telah memarahi Ai sebelum berpisah dengannya.
Teriakan itu, dia memang bukan ingin marah pada Ai. Dia tahu benar kalau kejadian ini sepenuhnya salahnya. Tapi, dia tidak mungkin menunjukkan bahwa dirinya sedih karena takdir perpisahannya dengan Ran. Dia tidak mau menunjukkan wajah tak berdaya dan sedih di depan orang-orang. Terutama di depan orang yang ingin selalu dijaganya. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang itu.
Meski tadi malam dia mengatakan kalau dia telah menerima takdir ini, dalam hatinya masih tersisa penyesalan, kekesalan, dan di atas semua itu, kemarahan. Dia sangat marah. Apa yang terjadi dengan hidupnya? Tidak cukupkah takdir membuatnya jauh dari cintanya? Sekarang dia bertemu orang yang merupakan bagian dari dirinya, muncul dengan kepastian mendapatkan Ran.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" ucapnya lirih. "Kenapa takdir mempermainkanku begini?"
"Seandainya aku bersabar, mungkin aku akan mendapatkan Ran. Aku benar-benar bodoh," ucapnya. Diam-diam, dia memarahi dirinya sendiri karena melupakan Ai. Tapi, Ran memang penting baginya.
Dia mulai berjalan keluar dari kamarnya. Tidak betah dengan dirinya yang terus saja berada di dalam kamar. Dia menuju ruang makan. Rumahnya kosong. Dia ingat akan rencana keluarganya tentang pelenyapan keluarga Edogawa. Sesuatu rencana sederhana yang akan membuatnya berubah menjadi Conan Kudo.
Conan tersenyum tipis. Nama itu terdengar aneh dan asing baginya. Setelah namanya berubah, keturunannnya yang bernama Edogawa akan sirna. "Kudo. Setidaknya aku bisa menggunakan nama itu lagi," ucapnya. Tapi terdengar agak sedih jika ingin dikatakan senang.
Dalam 'drama' ini, dia diharuskan memperlihatkan wajah sedih. Tidak sulit mengingat permainan dari takdirnya yang bisa membuat orang menjadi tidak waras. Setidaknya ada sisi positif ketika menghadapai masalah seperti ini. Ketika 'orang tuanya' mati nanti, dia bisa memperlihatkan kesedihannya dengan mudah.
Dia mulai berjalan ke dapur. Mengambil roti, mengolesnya dengan selai, kemudia memanggangnya. Masakan sederhana, hanya untuk makan yang cepat. Kemudian kembali ke kamarnya dan mandi. Kemudian keluar dan menggunakan pakaian. Berlama-lama dalam semua kegiatannya untuk memikirkan semua takdir yang dialaminya, dan berharap bisa menerimanya dengan baik untuk kebaikan semua orang di sekitarnya.
Dia melihat jam yang menunjukkan pukul 11 siang. Satu jam lagi keluarganya akan pulang. Dia menunggu mereka di ruang tamu sambil membaca buku yang diambilnya dari ruang baca. Berharap dapat menghilangkan rasa bosannya.
—X—
"Kami pulang!" ucap Yukiko begitu masuk. "Hei, Co-chan! Menunggu kami ya?" lanjutnya tersenyum riang.
Dari wajahnya, Conan tahu bahwa segalanya berjalan lancar. Dia juga tahu, bahwa Ibunya yang paling bersemangat dengan rencana ini. Jadi wajahnya selalu berseri-seri. Conan mengira Ibunya pasti senang. Dia selalu bisa menggoda anaknya itu. Apalagi setelah takdir menentukan dia menjadi Conan. Dengan takdir yang berubah lagi ini, dia berpikir bahwa Ibunya mendapat bahan baru untuk mengusili dirinya.
Tapi, tentu Conan-yang tidak begitu peka-tidak tahu bahwa Ibunya merasa prihatin dengan takdir anaknya. Dia tahu Conan belum sepenuhnya menerima keadaan ini. Meski dia senang-bukan senang karena bisa menjahili Conan-karena bisa memiliki dua anak meski keduanya mirip satu sama lain, dan satu-satunya perbedaan mereka adalah rupa mereka.
Dia berusaha menghibur dengan cara menjahili Conan. Karena dia ingin tahu, hal itu akan membuat Conan agak lupa akan keadaannya. Dia sangat tahu, jika Conan bisa mudah dialihkan dari masalah yang menimpanya. Dan yang terpenting, ini juga cukup menghiburnya.
"Hm. Sukses menurutku, benar?" tanya Conan.
"Tentu saja, itu hal yang mudah mudah," jawab Shinichi.
"Baik," ujar Conan bangkit dari sofa. "Masuk ke tahap selanjutnya kan? Mencari berita itu."
"Ibu akan mencari di Televisi," ujar Yukiko sambil pergi ke Ruang Keluarga.
"Televisi? Dia pikir sekarang zaman apa sih?" ujar Conan.
"Biarkan saja, dia kan memang ingin bersantai sehabis adegan melelahkan itu. Aku di sini saja dengan handphone-ku," ujar Yusaku.
"Aku akan ke kamar dengan laptopku," ujar Shinichi mengangkat bahu.
"Itu laptopku, kau tahu?" ujar Conan sinis.
"Memang ada bedanya?" balas Shinichi tidak mau kalah.
"Gunakan saja handphone-mu," saran Conan.
"Kau saja yang menggunakan handphone-mu," balas Shinichi.
"Baiklah, sana ambil laptop itu ke tempat Ran," ujar Conan tersenyum menang.
"Ck. Baik-baik, kau menang," ucap Shinchi meninggalkan Conan dan menuju ke kamarnya.
"Aku pergi dulu," ucap Conan pada Ayahnya.
"Hm," balas Ayahnya yang masih tenggelam dalam Handphone-nya.
BLAM
Yusaku tersenyum. Terlepas dari takdir dua anaknya yang membingungkan, mereka terlihat sama-sama senang dengan pertengkaran antar saudara barusan. Meski berselisih, itulah keluarga. Satu lagi sisi positif yang bisa mereka dapatkan karena kesalahan mereka sendiri.
Conan's POV
DRRT DRRT DRRT
Aku segera mengambil handphone-ku yang bergetar itu. Melihat nama Ran yang menghubungiku.
"Aneh. Bukannya dia ada di Dojo-nya?" pikirku seraya menerima panggilan itu.
"Ya, Neechan. Ada apa?" tanyaku pada Ran di seberang sana.
"Conan-kun, kau sudah sehat?" tanya Ran agak panik.
"Tenang saja, aku kan sudah besar. Aku sedang dalam perjalanan pulang sekarang," ujarku. "Neechan sedang dimana? Biasanya jam segini Neechan masih di Dojo."
"Haaah," sahutnya menunjukkan kelegaan. "Sekarang aku ada di Rumah. Aku mengkhawatirkanmu terus, aku jadi tidak konsentrasi. Jadi aku membubarkan kelas lebih cepat. Untungnya murid-muridku mengerti keadaanku," ujarnya menjelaskan.
"Neechan, kan sudah kubilang kalau aku sudah bisa mengurus diriku sendiri. Neechan tidak usah terlalu cemas begitu," ujarku.
"Iya. Maaf, Conan-kun," katanya dengan nada sedih.
"Neechan, maaf," ucapku menyesal karena telah membuatnya sedih. "Terima kasih telah mengkhawatirkanku. Aku senang," lanjutku.
"Iya, tidak apa. Sepertinya memang Neechan yang terlalu berlebihan," isaknya.
"Neechan, aku sudah akan sampai ke rumah," kataku. "Besok ulang tahun Neechan. Aku akan selalu di sisi Neechan. Itu janjiku sesuai dengan apa yang Neechan minta kan?" lanjutku mencoba menghiburnya.
"Iya, terima kasih, Conan-kun. Meski tidak sedarah, kamu adik yang sangat baik," ujarnya.
"Jangan pikirkan itu, Neechan. Aku adalah adikmu, apapun yang terjadi," ujarku. Mulai memutuskan sesuatu secara pribadi.
"Terima kasih," ujarnya. Entah sudah yang keberapa kalinya dia mengucapkan itu hari ini.
"Ya, aku sudah sampai di depan rumah, akan kututup teleponnya. Sudah ya, sampai bertemu nanti," ujarku.
"Iya!" balasnya tertawa geli.
Kututup telepon itu dan mulai menaiki tangga. "Aku pulang," ucapku ketika masuk.
"Selamat datang, Conan-kun!" balas Ran dengan ceria.
"Ada sesuatu yang bagus, Neechan?" tanyaku. "Sepertinya senang sekali ya?"
"Ya. Seorang anak SMP bernama Edogawa Conan akan selalu menjadi adikku. Bagaimana aku tidak senang?" ujarnya ceria.
"Aku akan menepati janjiku meski dengan cara yang tidak Neechan sangka," ujarku tersenyum mengingat rencana Keluargaku yang akan mengadopsiku.
"Eh, apa maksudmu?" tanyanya.
"Rahasia," ucapku nyengir.
"Hei, hei, ada apa sih?" tanyanya lagi
"Aku belum tahu. Hehe…" ucapku memberi seringai misterius seraya masuk kamarku.
—X—
Aku mulai membuka laptopku di kamarku. Aku tidak berencana mencari berita 'itu' di Rumah. Kumulai dengan mengetik berita kecelakaan hari ini. Ternyata sudah ramai sekali berita itu. Yah… bagaimana pun yang kecelakaan adalah orang tua Conan Edogawa, 'Ibu' ku. Dan aku adalah Detektif SMP yang terkenal di Jepang. Berkat usahaku dari kecil yang selalu berurusan dengan Kaito Kid. Aku sama terkenalnya dengan pencuri keren itu sekarang.
Aku melihat foto Ibu palsuku. Mengecek kebenaran berita sesuai kronologinya. Lalu kutinggalkan laptop itu dalam keadaan menyala. Membiarkan Ran mengetahui hal itu agar tujuan pengadopsianku lebih masuk akal. Dalam drama buatan Ibuku ini, aku mebutuhkan sosok Ibu yang tidak ada di rumah ini. Jadi keluarga Kudo yang dekat denganku akan mengadopsiku. Ide sebagai sepupu dibuang jauh-jauh karena bahaya jika ada yang mencari silsilah keluarga Kudo.
Sebelum keluar kamar, aku memasang wajah dan ekspresi sedih dan lesu. Lalu aku keluar kamar. Sengaja melambatkan jalanku agar Ran melihatku.
"Ada apa, Conan-kun?" tanya Ran melihat ekspresiku.
Aku tidak menjawab untuk lebih menjiwai peranku. Aku melangkah menuju pintu, membukanya dan segera pergi dari Rumah Ran.
Ran's POV
"Ada apa dengannya?" pikirku.
Aku memasuki kamarnya karena penasaran dengan apa yang terjadi. "Sebelum masuk kamarnya, dia sangat ceria. Kenapa sekarang lesu sekali. Bahkan tidak menjawab panggilanku," pikirku. "Aku tahu ada sesuatu. Jarang sekali dia tidak menanggapiku begitu."
"Memang pernah, saat… saat dia sangat sedih. Iya. Waktu itu dia marahan dengan Ai. Dia sangat sedih. Tapi, sekarang apa? Apa dia saling bertukar pesan dengan Ai lalu marahan lagi?" pikirku terus sambil menduga-duga.
Aku memasuki kamarnya dan melihat laptopnya yang menyala. Kulihat laptopnya terhubungan dengan internet. Kulihat apa yang terakhir dia baca. Dia memang biasa mencari bahan untuk kasus. Jadi aku tidak terkejut jika yang dibukanya tentang hal-hal semacam itu. Kubaca apa yang tertulis di sana.
Orang Tua Detektif Raib di Laut
"Sebuah kapal karam ketika baru 30 menit berlayar dari pelabuhan. Kapal tersebut diperkirakan milik pribadi. Kapal itu dinaiki oleh sepasang suami-istri dan seorang nahkoda. 20 menit sebelum karam, kapal berhenti di tengah laut.
Penumpang dari kapal lain yang kebetulan melintas, melihat tiba-tiba ada kepulan asap hitam dari kapal berukuran sedang itu. Sampai akhirnya terjadi ledakan dari bagian mesin kapal. Yang membuat kapal tenggelam.
Belum bisa dipastikan apakah ada yang selamat dari kejadian itu. Penyebab ledakan diperkirakan Karena kerusakan mesin. Berikut korban yang hilang dalam insiden ini:"
Sampai sana, aku masih belum mengerti apa yang membuat Conan sebegitu murung. Bukankah itu hal yang biasa terjadi. Lalu aku men-scroll mouse yang kupegang untuk kemudian terkejut. Di sana, diantara dua foto pria yang kulihat, ada sesosok wanita yang sepertinya kukenal. Kemudian aku melihat nama yang tertera di bawah foto tersebut. Fumiyo Edogawa. Ibunya Conan!
Pantas saja Conan semurung itu. Kuambil handphone-ku ketika akan kuhubungi dia, tanganku terhenti. "Dia… pasti butuh sendiri," pikirku. Lalu kumasukkan lagi handphone-ku ke dalam saku celanaku. Aku keluar dari kamar itu dan duduk termenung di ruang makan.
Conan's POV
"Taman ini ya? Selanjutnya tinggal menunggu jemputanku saja," ucapku pada diri sendiri sambil mengingat drama 'pelenyapan' Edogawa ini.
Taman ini adalah tempat yang sama dengan tempat pertemuan rahasia tiga tahun lalu. Tentu saja siang ini ramai. Aku menerawang, teringat kejadian itu yang bisa dibilang adalah awal dari semua ini.
DRRT DRRT DRRT
Langsung kuangkat handphone-ku itu. Kulihat nama yang tertera. Shinichi-niichan. Aneh sekali rasanya menyebut namaku dengan panggilan seperti itu.
"Ya? Aku sudah di posisi. Cepat kalian ke sini dan kita selesaikan ini secepatnya," ujarku tak sabar.
"Apa-apaan sih cara bicaramu itu? Aku ini kakakmu tahu!" ujar seseorang di seberang sana dengan nada bercanda.
"Ya. Ya. Ya. Terserah. Cepat kalian kemari dan selesaikan ini seg-" ucapanku kupotong begitu melihat segerombolan orang berlari kearahku, sebagian besar membawa kamera dan mic. "Banyak yang datang. Sebaiknya kalian cepat. Sepertinya mereka orang dari pers yang ingin konfirmasi dariku soal kematian 'orang tua'-ku. Cepatlah!" ujarku sambil mulai berlari.
"Oke. Segera ke sana," ujar Shinichi… err-niichan. Aku harus membiasakan diri, meski terasa sangat aneh. Sama anehnya ketika pertama kali memanggil Ran dengan sebutan Neechan. Atau malah ini terasa lebih aneh lagi.
—X—
Aku mulai berlari menjauh dari wartawan itu. Ukh! Dasar tidak punya hati. Bisa-bisanya mereka mengejar orang yang bersedih dengan kecepatan seperti itu. Taman ini pun jadi makin ramai. Ini bukan taman besar. Tentu aku akan tertangkap atau keluar dari taman dengan dikejar waratawan itu cepat atau lamabat. Bisa-bisa rencana berubah kalau begitu.
Kupikirkan sebuah cara, terpikir sebuah ide yang beresiko. Namun, permainan psikologis ini sepertinya memiliki peluang cukup besar. Kuangkat handphone-ku yang bergetar lagi. "Siapa sih mengirim pesan di saat seperti ini?" umpatku dalam hati.
"Kau pasti memikirkan rencana untuk lepas dari mereka. Aku juga memikirkannya. Aku sudah bilang pada Ayah mengenai rencana ini. Dia setuju. Jalankanlah. Kau pasti tahu apa rencana yang kupikirkan."
Kupandangi handphone-ku dengan tatapan aneh. "Bukannya lebih cepat menjelaskan rencananya. Kenapa malah berbelit-belit begini?" Saat kupikirkan, aku tahu alasannya. Kami memang senang dengan kemampaun kami dalam berbagi pikiran yang sama ini dan ingin menggunakannya.
Baiklah. Waktunya rencana 'itu'. Kuharap apa yang kupikir dan dia pikir benar-benar sama. Jika Ayah setuju, tentunya rencana ini akan sukses. Meski tidak mengakuinya, aku mengidolakannya karena dia juga memiliki kemampuan detektif. Dan jauh lebih hebat dariku. Aku tahu Ayah sangat jarang melakukan kesalahan. Rencana dan pilihannya selalu tepat. Termasuk ketika pernah meninggalkan sebuah kasus.
Aku berhenti di sekitar sisi taman. Menunggu wartawan itu dengan wajah sesedih yang bisa kugunakan di tengah kelelahan sahabis lari. Mereka datang. Dan semakin dekat. Langsung saja mereka memotret dan merekam. Tidak lupa disertai dengan pertanyaan deras.
"Apa benar orang tua anda meninggal?"
"Benarkah orang di kapal itu orang tua anda?"
"Kenapa anda tidak ada di sana bersama mereka?"
"Bagimana perasaan anda?"
"CEREWET!" teriakku mencoba kehilangan kendali emosi sebisa mungkin-yang tidak sulit ketika ingin melampiaskan kekesalan. Ini harus meyakinkan jika ingin berhasil. "TIDAK BISAKAH KALIAN MENGERTI PERASAANKU YANG KEHILANGAN ORANG TUAKU? PERGI! AKU SUDAH MEMEBERI PERNYATAAN! PUASKAN DIRI KALIAN DENGAN ITU!" Aku langsung pergi membiarkan mereka membeku. Pastinya rencana berjalan sempurna. Mereka tentu terkejut melihatku yang marah-marah. Karena, sama seperti Shinichi… maksudku Niichan, aku tidak pernah menunjukkan bahwa aku kehilangan emosi atau panik di depan orang lain.
Aku berjalan menjauh, tidak jauh dari sana aku menemukan mobil yang kukenal ada di depanku. Langsung saja kumasuki tanpa pikir panjang. Dan sambutan dari Ibuku langsung datang.
"Akting yang sangat bagus Co-chan," ujar ibuku riang seperti biasa dari kursi kemudi dan mulai langsung menjalankan mobil.
"Yah… terima kasih pada Ibu yang menurunkan kemampuan ini padaku," ujarku asal.
"Manis sekali, Co-chan. Terima kasih," ucap Ibuku, masih dengan senyum khas miliknya. Kubalas dengan dengusan pelan.
"Jadi, siapa yang akan kita temui?" tanya Niichan pada kedua orang tua kami.
"Seseorang yang dapat dipercaya," ucap Ayah.
"Kenapa bisa percaya masalah sebesar ini padanya?" tanyaku dan Niichan bersamaan.
"Kalian anak yang menarik. Tidak akan ada orang yang memiliki anak semenarik kalian," ujar Ibuku tersenyum riang. "Dan untuk pertanyaan itu, Ayah kalian pernah membantu orang itu dari tuduhan pembunuhan. Dan dia bilang kalau dia akan mencoba membantu apapun kalau Ayah butuh bantuan," ujar Ibuku menjelaskan.
"Sepertinya kami sudah sering mendengar alasan itu," ujarku pada Ibu.
"Iya. Kebetulan yang aneh kan? Teman Yusaku selalu memiliki hal yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan penting," ujarnya tersenyum.
"Kebetulan yang terlalu sering…" ujar Niichan menggantungkan kalimatnya.
"Tidak bisa disebut kebetulan," ujarku melanjutkan.
"Hmp. Anggap saja ini takdir yang sudah diatur untuk keperluan ini. Berterima kasihlah," ujar Ayah.
"Ya… takdir yang membuatku akan kehilangan Ran," ujarku tanpa sadar.
Sunyi. Tidak ada yang membalas. Semua tampak terkejut. Kututup mulutku karena bicara seenaknya.
"Oi oi, apa-apaan sih? Kau tidak perlu mengingat itu terus," ujar Niichan.
"Bagaimana mungkin tidak kuingat, besok kau akan bertemu Ran. Aku benar kan?" ujarku pasrah karena sudah terlanjur terucap.
"Tapi kau tidak akan langsung kehillangan dirinya. Aku akan menunggu seperti yang kubilang. Tenang saja," ujarnya.
Diam. Aku tahu dia sebenarnya tidak mau begitu. Itu demi aku. Orang tuaku bahkan tidak merespon. Mungkin membiarkan kami berdua yang menyelesaikannya.
"Yah… kau benar," balasku akhirnya. Mencoba menyembunyikan rencana pribadiku yang sudah kupikirkan sejak pagi ini.
"Ngomong-ngomong, kau sudah memikirkan hadiah yang akan kau berikan pada Ran?" tanya Niichan.
"Sial. Aku lupa sama sekali karena hal ini," ucapku terkejut.
"Pikirkanlah sekarang. Setelah ini kau harus mencarinya, kan?" ujarnya.
"Yah… setidaknya dua hadiah sudah didepan matanya, kan?" balasku.
"Hei, apa yang kalian bicarakan?" tanya Ibu.
"Ah, iya. Besok Ran ulang tahun, kalian bisa datang juga kan? Pasti Ran senang melihat kalian," ujar Shinichi.
"Begitu? Kalau begitu aku juga harus mencari hadiah," ujar Ibu. "Kau ikut denganku kan, Sayang?" tanya Ibu pada Ayah.
"Tidak masalah," ucap Ayah.
"Dan… hei, Co-chan! Memang apa yang Ran minta darimu?" tanya Ibu.
"Kedatangan Niichan, lalu aku yang tidak boleh pergi dari hidupnya, dan apa pun yang kuberikan nanti," ucapku pahit karena mengingat kebersamaan Niichan dan Ran.
"Oh. Dan kau Shin-chan? Apa hadiahmu untuk Ran?" tanya Ibu lagi.
"Apa? Memangnya harus? Aku pulang saja dia pasti sudah senang, kan?" ucap Niichan.
"Dasar. Bukankah kau mau membuatnya lebih senang? Berikan dia sesuatu," ucap Ibu kesal.
"Hmm…" hanya itu suara yang dikeluarkan Niichan. Tanda bahwa dia sedang berpikir. Aku diam saja.
"Bagaiman kalau kau menyatakan perasaanmu saja, dia pasti akan saaangat senang," ujar Ibu usil sambil melirik kaca spion.
"Ibu!" ujar Niichan sambil melirik cepat ke arahku sebagai kode untuk Ibu tentang kehadiranku. Ibu jadi agak gelagapan sendiri.
"Ide bagus. Tidak masalah bagiku, Niichan. Tenang saja. Kau belum akan memilikinya sepenuhnya. Dan dengan hal itu, Ran akan senang. Itu yang terpenting karena kita telah lama membiarkannya menderita," ucapku pada kakak dadakanku yang duduk di sebelahku.
"Benar tidak apa?" tanya Niichan.
"Kau ingin bertanya lagi sampai aku berubah pikiran?" ujarku dengan gaya sinis Ai.
"Ukh! Tidak," balasnya.
Aku tidak berniat membalas ucapannya.
"Terima kasih, Conan," ucapnya canggung. Sepertinya dia juga merasa aneh memanggil orang lain dengan nama yang sudah dipakainya selama 6 tahun ini.
Dan dari kata-katanya, aku juga yakin, dia ingin aku mengucapkan persetujuan tadi. Dan aku sudah harus belajar melepaskan apa yang tidak bisa kuraih lagi. Aku mengalah. Sedih? Pastinya. Tapi Ran akan bahagia dengan cara ini. Dan sekarang ini, itu lebih penting dari apapun.
Normal POV
Akhirnya keempat calon keluarga itu berhenti di suatu panti asuhan. Sangat besar untuk dikatakan menyedihkan. Di taman rumah itu, terdapat banyak wajah sedih, senang, merenung, dan banyak lagi.
"Ayo turun. Aku sudah buat janji sejak kemrin, jadi ini tidak akan terlalu lama," ucap Yusaku.
"Ayo semangat, Shin-chan, Co-chan. Ini hari besar keluarga kita!" ujarnya dengan wajah sama seperti saat rencana ini terbentuk.
"Iya…" jawab dua orang satu pemikiran itu bersamaan.
Yusaku menelpon seseorang bernama Takami dan mengabarkan kedatangannya. Tak lama kemudian ada orang yang datang dan langsung menyambut mereka. Mungkin itu Takami yang disebutnya tadi.
Setelah berbasa-basi sebentar dengan Yusaku, dia bertanya. "Jadi, mana anak yang akan kau adopsi itu?" tanya Takami. "Mereka mirip sekali," komentarnya melihat ke arah Shinichi dan Conan.
"Memang, itu salah satu alasan mereka sangat dekat," ujar Yukiko.
"Lho? Bukankah kau bilang dua anak itu satu orang?" tanya Takami pada Yusaku.
"Yusaku? Kau memberitahunya semuanya?" tanya Yukiko tidak percaya.
"Iya. Tidak masalah kan? Nyawanya tidak akan terancam dan lagi pula, memangnya da penjelasan yang masuk akal mengenai anak tanpa orang tua yang memiliki orang tua yang akan kita adopsi?" tanya Yusaku membela diri.
"Tapi-" ucapan Yukiko dipotong.
"Tenang, aku memang sudah tahu tentang keberadaan Organisasi itu. Aku juga bekerja bersama FBI untuk membereskan mereka," ujar Takami. "Kalian hebat sekali, dengan tubuh kecil itu, kalian mampu menjadi dasar dari pemberantasan mereka, aku kagum dan menaruh hormat padamu. Rahasiamu aman bersamaku. Tenang saja," lanjut Takami pada Conan dan Shinichi.
"Terima kasih. Tapi, siapa kau? Kenapa bisa tahu tentang Organisasi itu?" tanya Conan.
"Aku pernah hampir dibunuh oleh mereka karena menemukan data tentang mereka secara tak sengaja. Kulaporkan pada James Black sepupuku yang bekerja dalam FBI, dan dia berencana melindungiku sampai organisasi itu runtuh. Dan karena kalian, aku sudah bisa bebas semenjak tiga tahun lalu," ujar Takami.
"Begitu? Ternyata dunia begitu sempit. Entah kenapa aku bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki hubungan dengan orang-orang di sekitar kami," ujar Shinichi.
"Yah… takdir memang menentukan pertemuan dengan cara yang palin aneh," ujar Takami tersenyum. "Sekarang, izinkan aku membantu kalian sedikit karena telah membantuku," lanjutnya.
"Tentu," ucap Conan dan Shinichi bersamaan.
"Ayo, Conan hanya perlu menandatangani beberapa dokumen, dan kalian resmi menjadi keluarga yang diakui Jepang," ujar Takami.
"Kebetulan kami memang agak buru-buru. Maaf Takami, kami tidak bisa berlama-lama," ucap Yusaku.
"Tidak masalah. Mendapat kunjungan sekligus membantu keluarga yang paling luar biasa, bagiku cukup menyenangkan," ujarnya sambil tertawa renyah.
—X—
"Yak! Itu yang terakhir," ujar Takami. "Dalam satu jam, berkas ini akan sampai di tempat semestinya, dan pada saat itu, kau sudah akan diakui sebagai Conan Kudo. Bagaimana?" tanya Takami memastikan kepuasan kliennya.
"Terima kasih, Takami-san," ucap Conan.
"Tidak usah canggung begitu. Baiklah, aku tahu kalian sibuk, aku tidak ingin menahan kalian terlalu lama. Hari sudah sore. Kalian sudah bisa pulang sekarang. Mari kuantar sampai depan," ujar Takami.
"Iya. Terima kasih, Takami, atas pengertiannya," ucap Yusaku menjabat tangan Takami.
"Iya, sama-sama. Ayo…" ujar Takami seraya berjalan membuka pintu untuk keluar.
—X—
"Turunkan aku disini," ucap Conan pada Ibunya. Ibunya langsung meminggirkan mobil.
"Huh? Mau apa kau?" tanya Shinichi.
"Mencari hadiah untuk Ran," jawab Conan.
"Hei, hei, memangnya kau tahu apa yang disukai gadis itu?" tanya Yukiko tidak yakin.
"Aku sudah memikirkannya. Lagi pula, Ran bilang, dia akan menyukai apapun yang kubelikan," ucap Conan.
"Tapi, bukannya lebih baik mencari bersama?" tanya Yusaku juga. Bingung karena pertanyataan Conan.
"Tidak. Aku ingin sendiri dulu," ucap Conan. Sebenarnya dia hanya tidak ingin mereka mengetahui rencananya.
"Hmm… Baiklah, pulanglah tepat waktu untuk makan malam," ucap Yukiko.
"Iya…" ucap Conan seraya turun dari mobil.
Ai's POV
Biasanya aku berkutat di depan komputer. Sekarang, aku tidak perlu melakukan itu, aku memikirkan hal luar biasa yang baru saja terjadi kemarin.
Saat ini, sepertinya keluarga Kudo sedang merencanakan sesuatu. Tadi siang aku melihat berita tentang kematian 'orang tua' Conan Edogawa. Aku ingin menanyai Conan-kun tentang hal inni. Tapi sepertinya mereka sudah pergi. Ada sesuatu yang mereka rencanakan.
Aku ingin saja menelpon Conan, tapi aku merasa agak canggung. Bagaimanapun, terakhir kali, dia masih agak menyalahkanku dengan kejadian ini.
Tapi berkat kejadian ini, aku merasa senang. Ran akan bisa bahagia karena hal ini. Shinichi-nya dan Conan-nya akan tetap ada dalam hidupnya. Aku senang melihat senyumnya. Senyum yang mirip dengan kakakku.
Dan lagi, aku tidak sabar melihatnya tersenyum lagi saat aku memberikan kadoku padanya besok malam. Dia selalu senang dengan keberadaan anak-anak. Meski aku selalu jengkel jika diperlakukan seperti anak-anak, tapi jika itu untuk bisa melihat senyumnya, kurasa itu bukan bayaran yang besar.
Di atas semua itu, akan ada Conan. Aku tidak perlu mengalah pada Ran untuk mengungkapkan perasaan yang kupendam terus-menerus ini. Jika dipikr-pikir lagi, rasanya Conan memang untukku. Kedengaran terlalu percaya diri? Memang. Itulah aku yang sekarang.
Jika Ran mendapatkan Shinichi, Conan tidak akan punya kesempatan. Dengan tubuh kecil itu, tidak mungkin dia mencari sosok yang seusia dengannya. Dan Conan rasanya tidak mungkin menyukai anak kecil. Aku, yang merupakan wanita dewasa yang terjebak dalam tubuh kecil sepertinyalah yang membuatku yakin, bahwa selama ini dia telah membuat obat untuk menjadikan ini terjadi. Aku merangkai takdirku sendiri.
Aku tersenyum, kulangkahkan kaki menuju cermin. Ingin melihat senyumku sendiri.
"Sherry, Shiho, lihatlah Ai. Dia begitu bahagia sekarang," ucapku pada diri sendiri.
Bagaimana?
Author merasa ada yang aneh. Atau itu perasaan Author saja karena telah lama meninggalkan fic ini? Kalau ada yang menyadarinya, tolong kasih tahu Author ya... :)
Akhir kata, Review, Please!
