Disclaimer :
Detective Conan adalah milik Aoyama Gosho
Balasan Untuk Reviewers:
Guilliano: Maaf ya,baru bisa update. Persiapan SNMPTN sangat menyita waktuku. :(
Misyel: Dimana bagian manisnya? :D
Enji86: Iya. Akai pergi, tapi dia menitipkan Shiho pada Shinichi karena ancaman sudah menghilang. Memunculkan dirinya mungkin hanya menyakitkan Shiho saja. Kogoro berhenti mabuk, aku juga tidak setuju kalau cuma nangis, makanya Ran kubuat sampai pernah sakit karena beban pikiran, meski aku sempat ragu karena alasan ini, tapi aku tidak menemukan alasan lain saat itu. Yang kumaksud meninggalkan Ai adalah tidak bisa 'bersatu'. Kenapa aku membuat Ai menjadi terlihat lemah ya? Mungkin karena aku terlalu ingin menekankan bahwa Ai juga bisa merasakan sakit. Dan sulit melupakan orang yang dicintainya, kurasa bisa saja, terutama jika orang itu terus berada di dekatnya. Disini, aku mencoba menceritakan kalau dua orang itu bukan asli atau palsu, tapi sama-sama manusia yang asli. Jadi keduanya mendapatkan yang asli. Dan Ai merupakan pelarian? Aku pikir Conan yang akirnya memilih Ai, dan menyerahkan Ran kepada Shinichi. Mungkin aku salah memberikan penekanan ya? Soal 'pembelahan diri' itu maksudnya mengatakan kalau Conan adalah tubuh awalnya, bukan asli atau palsu-nya. Wajar saja Ai kagum, karena dia tidak begitu mengetahui bagaimana sosok Ibu bisa mengetahui keadaan anaknya sedemikian rupa, bukannya menganggap orang tua Shinichi sebagai orang tua yang sempurna. Aku juga agak terkejut karena aku melewatkan hal penting seperti waktu kematian dan ualng tahun Ran. Jadi, aku akan mencoba berdalih di chapter ini. harap dimaklumi kesalahanku. Dan, aku kagum lho sama senpai dengan ide yang senpai jabarkan. Tapi obat yang membagi tubuh jadi dua itu baru dibuat Ai setelah menemukan obat penawar. Jadi tidak mungkin Ai telah meminumnya. Terima kasih atas kritik dan masukannya. Aku banyak belajar. :)
Catatan Penulis:
Di chapter ini, Author mencoba menutupi kesalahan-kesalahan yang dibuat di chapter-chapter sebelumnya. Tapi, mungkin hasil jadi bernada memaksa. Di chapter ini Author merasa ada adegan yang terasa sangat memaksa.
Kali ini, Author tidak bisa update tiap satu minggu. Jadi, mohon maaf kalian. Setidaknya sampai SNMPTN selesai mungkin aku bisa menata ulang waktuku, dan syukur-syukur bisa update rutin lagi.
Sekarang, kupersembahkan kisah ini pada para readers dan reviewers.
Shocking Presents
By Byzan
"Conan-kun, sudah malam. Kapan kau akan pulang?" tanya Ran pada Conan melalui handphone-nya.
"Terima kasih, Neechan. Karena sudah memberiku waktu sendiri tadi," ucap Conan mengabaikan pertanyaan Ran dan mencoba terdengar manis.
"Conan-kun, tolong jawab pertanyaanku yang tadi," balas Ran dengan nada khawatir yang semakin bertambah.
"Aku tidak pulang hari ini. Tenang, aku akan menginap di rumah kenalanku. Neechan tidak perlu khawatir," ucap Conan berusaha menghindar dari Ran sebisa mungkin.
"Conan-kun, kamu sudah makan? Kamu ada di mana? Sepertinya bukan di rumah. Pulanglah kalau kamu memang tidak berencana kemana-mana. Lagipula-" ucap Ran dengan pertanyaan-pertanyaan dan argumentasi itu, dipotong oleh Conan.
"Neechan," panggil Conan.
"… Ya?" jawab Ran setelah diam sesaat.
"Tenang saja. Aku akan kembali pada Neechan, besok malam aku akan menghadiri ulang tahun Neechan," ucapku akhirnya.
"Ulang tahun? Apa tidak apa merayakannya sehari setelah kejaidan itu?" tanya Ran.
"Tenang saja. Aku sudah tidak apa-apa, aku laki-laki yang kuat. Kau tahu itu kan?" ucap Conan. "Sudah lama mereka pergi dari hidupku, jadi aku akan cepat terbiasa. Pokoknya, aku tidak peduli, besok adalah waktu Neechan untuk bersenang-senang, jadi aku tidak akan membiarkan kejadian ini membuat Neechan kehilangan kesenangan Neechan," lanjut Conan. Nadanya begitu jelas. Dia tidak menerima penolakan.
"Tenang? Bagaimana bisa? Kau baru kehilangan orang tua-mu, kau tidak mungkin baik-baik saja setelah ini. Memiliki orang tua dan tidak memiliki itu berbeda. Tidak mungkin kau-" ucap Ran tidak terima dengan alasan Conan.
"Siapa yang berhasil menggagalkan pencurian Kid dari kelas satu SD?" tanya Conan.
"Itu-" ucap Ran menggantung.
"Siapa yang telah menyelamatkan Neechan dan Sonoko-neesan dalam perahu dalam karang?" tanya Conan lagi.
"Tetap saja-" ucap Ran terpotong.
"Siapa yang telah melompat dari gedung dengan sebuah mobil untuk mencapai gedung lain?"
Ran terdiam, tak berkutik.
Merasa telah berhasil, Conan menambahkan lagi sebagai penegasan. "Dan siapa, yang membahayakan diri untuk menyelamatkan desa dari terjangan air, hingga hampir membuatnya nyaris mati?" tanya Conan lagi.
"Conan-kun, itu semua memang dirimu, tapi hal ini dan itu adalah berbeda. Kau memang sangat ajaib. Penyelamat banyak orang, pahlawan, dan sebaginya. Tapi ini masalah hatimu yang terluka kan?" ucap Ran dengan akhiran pertanyaan.
"Neechan tahu tidak, aku membahayakan diri dengan tahu resikonya. Waktu itu, hatiku telah siap dengan semua hasil yang terburuk. Hatiku tidak selemah itu, jadi berhentilah menahanku untuk membuat Neechan bahagia. Kita akan bersenang-senang besok tanpa memikirkan hari ini," ucap Conan lemah namun tetap serius.
Ran bingung. Dari mana Conan mendapatkan kekuatan hati seperti itu? Juga, dia juga tidak mengerti. Conan tahu itu hanya pesta kecil-kecilan saja, kenapa dia bilang 'bersenang-senang'?
"Janji? Janji kalau ini tidak apa-apa?" tanya Ran memastikan sekaligus mengalah.
"Aku janji. Sampai besok kalau begitu," ucap Conan.
"Iya. Hati-hati ya…" balas Ran.
Ran menutup handphone-nya. Kogoro mulai bertanya pada Ran. "Bagaimana anak itu, Ran?" tanya Kogoro.
"Dia belum mau pulang," kata Ran sambil menggeleng. "Katanya dia akan menginap di rumah kenalannya," tambahnya.
"Dasar! Awas kalau pulang nanti, membuat seisi rumah khawatir saja," geram Kogoro.
"Jadi ayah sudah mulai mengkhawatirkan Conan?" tanya Ran tersenyum geli.
"Hah? Apa maksudmu? Aku tidak-" ucap Kogoro gelagapan.
"Ayolah, ayah. Dia sudah tinggal di sini selama 6 tahun. Apa tidak sebaiknya ayah mengadopsinya supaya dia tidak kebingungan seperti itu?" tanya Ran meminta persetujuan ayahnya.
"Yah… kita lihat saja nanti. Anak sekecil dia sebenarnyakan butuh sosok Ibu. Di sini hanya ada akan ada Ayah dan Kakaknya," ucap Kogoro.
"Minta saja Ibu agar tinggal di sini," ucap Ran cepat.
"Kau pikir itu mudah?" tanya Kogoro setelah sesaat memandang Ran dengan tatapan aneh.
"Tidak. Tapi dengan begitu, Conan akan memiliki Ibu lagi, kan?" tanya Ran bersemangat karena ayahnya mulai mempertimbangkan kemungkinan itu.
"Lihat sajalah nantinya," ucap Kogoro seraya pergi ke kamarnya. "Dan bagaimana soal ulang tahunmu?" tanya Kogoro lagi sebelum masuk ke kamarnya.
"Conan tidak mau acara itu dihentikan, entah kenapa? Aku tidak tahu," ucap Ran jelas bingung.
"Sepertinya anak itu sangat memerhatikanmu," ucap Kogoro. "Aku jadi khawatir kalau nanti dia malah akan jatuh cinta padamu."
"Ayah sedang bercanda?" tanya Ran bingung karena nada ayahnya bukan nada candaan.
Sebagai balasannya, Kogoro mengangkat kedua bahunya dan masuk ke kamarnya.
Ran tersenyum melihat ayahnya yang nampak memikirkan masalah ini dengan serius. "Terima kasih, Conan-kun. Semenjak kau datang, meski Shinichi pergi, meski kau banyak kesusahan, kau selalu memberikanku kebahagaiaan," batin Ran sambil tetap tersenyum.
—X—
Rumah Keluarga Kudo
"Aku pulang," ucap Conan lemah ketika sampai di rumahnya.
"Kenapa baru pulang, Co-chan?" tanya seseorang yang tidak lain adalah Ibu Conan itu.
"Tidak apa kan? Aku belum telat untuk makan malam seperti yang kujanjikan," ucap Conan sambil nyengir.
Meski Conan menunjukkan wajah ceria. Rupanya Ibunya tidak bisa dibohongi. Dia berdiri dan mendekati Conan. Memeluknya. Conan sontak gelagapan dan mulai melepaskan diri. Tapi Yukiko makin erat memeluknya. Akhirnya Conan mengalah. Dia tidak mau jujur, tapi sebenarnya dia merasa nyaman. Dia yang merasa sedih, dan seseorang yang memeluknya–dan dengan begitu menyampaikan perasaan mengerti padanya. Conan belum pernah menerima hal seperti ini. Tapi, ini sama sekali tidak buruk.
"Kau harus sabar, Conan," ucap Yukiko ketika melepas Conan dan menatapnya.
Conan diam. Memerhatikan Ibunya. Dia tahu bahwa Ibunya adalah artis yang sangat hebat. Dia mencoba mencari kebohongan dari tatapan Ibunya. Tapi yang Conan lihat tidak lebih dari pada rasa khawatir dari Ibunya. Hal itu membuat Conan tersenyum tulus. Bukan senyum sok atau sejenisnya. Senyum yang memang merupakan senyum suka cita yang didapatkan seorang anak dari Ibunya. Suka cita karena ada orang yang benar-benar mengerti keadaannya.
"Tidak apa. Demi Ran, penderitaanku bukan hal yang perlu dipermasalahkan," ucap Conan, terdengar tegar. Mungkin hatinya mulai menerima.
"Bukan itu masalahnya. Tapi bagaimana dengan perasaanmu sendiri. Aku harap kamu tidak berlarut-larut dalam kesedihan ini," ucap Yukiko.
"Ya… aku akan mencoba menerima hidup baru ini," ucap Conan meyakinkan Ibunya.
"Ibu akan selalu mendukungmu, tetaplah waras dan jangan melakukan hal-hal aneh ya?" ucap Ibunya sambil sedikit tersenyum, memperkuat nada candanya.
"Iya," ucap Conan. "Kepada siapa lagi aku harus berbagi kesedihan? Cuma Ibu yang mengerti," lanjut Conan dalam hati.
"Baiklah. Ibu ada di dapur kalau kamu perlu sesuatu," ucap Yukiko.
"Iya…" ucap Conan agak menggantung.
"…" Yukiko menatap Conan sebentar menunggu lanjutan anaknya. Tapi setelah Conan diam agak lama, Yukiko pergi juga.
"Terima kasih, Bu," ucap Conan yang lalu langsung pergi tanpa menunggu jawaban Ibunya.
Yukiko hanya tersenyum saja sambil melihat Conan menghilang dari pandangannya. Sangat jarang Conan maupun Shinichi berterima kasih dalam hal yang serius seperti ini. Dan itu sangat berharga baginya.
Yukiko pergi ke dapur. Di balik tembok terlihat Shinichi yang diam bersandar dengan wajah menunduk yang sedih. Dia sedih setelah mendengar percakapan Conan dengan Ibunya. Dia mencoba membayangkan bahwa dirinya yang berada dalam posisi 'adiknya' itu. Meski dia bukan dirinya, tetap saja dari sikap Conan yang menekan perasaanya, dia merasa bahwa dirinya begitu peduli pada Ran. Dia menyadari bahwa dia akan membuat Conan bertambah sedih lagi dengan janjinya pada Conan untuk menyatakan perasaannya pada Ran. Tapi Conan benar. Ran membutuhkannya. Dan Shinichi juga menginginkan hal ini.
—X—
Conan merebahkan dirinya di atas kasur. Dilihatnya bungkus kado yang akan menjadi kejutan untuk Ran. Dan juga kejutan untuk dirinya. Lebih tepatnya, dia belum tahu persis, kejutan seperti apa yang akan diterimanya. "Besok adalah hari dimana semua jawabannya akan muncul," ucapnya sambil menatap kadonya untuk Ran.
Saat sedang asyik melamunkan sesuatu yang menyedihkan, handphone Conan bergetar. "Mungkinkah Ai?" pikir Conan sambil terkejut. Kenapa dia baru memikirkan Ai sekarang? Sudah berapa lama dia tidak memikirkannya? Sejak hari ini? Ya. Sejak saat itu aku baru memikirkannya lagi. Kenapa? Apakah Ran begitu penting bagiku sampai aku melupakan Ai?
Lalu dia seperti tersedar akan sesuatu. Handphone-nya bergetar terus. Sepertinya ada yang meneleponnya. Dia melihat layar handphone itu dan bingung melihatnya. "Hattori?" ucapnya bingung. Biasanya dia menelepom ke handphone Shinichi kan? Hm… mungkin Shinichi ingin membuat kejutan untuknya. Jadi dia tidak mengangkatnya. Lalu Conan mengangkat telepon itu dan medekatkan handphone itu ke kupingnya.
"HOOOI! BERAPA LAMA WAKTU YANG KAU BUTUHKAN UNTUK MENGANGKAT TELEPON, HAH?" teriak Heiji dari seberang sana.
"Aaah… Maaf, maaf. Jangan teriak-teriak dong… kupingku sakit nih," ucap Conan.
"Heh, kau saja yang keterlaluan. Sudah kutelpon lebih dari 20 kali, tapi baru kau angkat sekarang," balas Heiji.
"Ah. Itu… maaf. Aku sangat sibuk tadi…" uajr Conan.
"Sibuk? Anak SMP bisa sesibuk apa memang? Apalagi kau baru saja masuk," ejek Heiji dengan nada bercanda. "Atau kau ada kasus?" tanya Heiji pelan, kini serius.
"Yaah… memang ada hal yang sedikit rumit, tapi-" ucapan Conan terpotong oleh suara di seberang.
"Heiji… kau bicara dengan siapa? Kenapa lama sekali kau menelepon?" ucap seorang wanita yang terdengar familiar bagi Conan.
"Aku sedang bicara dengan Conan, dia baru mengangkat telponnya setelah 20 kali kutelpon," balas Heiji.
"Kau juga sih! Conan pasti kan butuh sendiri setelah kecelakaan itu. Kenapa kau malah meneleponnya?" tanya Kazuha.
"Dia kan sahabatku, wajar aku khawatir," ujar Heiji beralasan. Sebenarnya sih dia tahu ini tipuan. Tapi mana mungkin dia mengatakan hal itu pada Kazuha.
"Tapi dia tetap butuh waktu. Meski dia sering bersikap dewasa, dia tetap saja anak yang baru masuk SMP," balas Kazuha dengan nada tinggi. "Aku kadang bingung bagaimana kalian bisa begitu akrab," batin Kazuha.
"Cerewet! Dia sudah tenang, makanya dia mengangkat teleponnya. Jika aku tidak menelponnya dari awal, aku tidak akan tahu kapan dia tenang," ucap Heiji menyampaikan argumen lagi.
"Tapi…" selanjutnya pertengkaran seperti biasa.
Conan bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Pasangan ini berisik sekali meskipun enam bulan lagi mereka akan menikah.
"Ehem!" ucap Conan keras-keras berharap Heiji mendengar.
"Eh, ah. Maaf Ku… eh Conan," ucap Heiji pada teleponnya. "Sayang, bisakah kau tinggalkan kami berdua untuk mengobrol sebentar?" pinta Heiji pada Kazuha akhirnya.
Kazuha sudah tidak bisa menahan diri untuk menolak jika Heiji sudah memanggilnya seperti itu. Dengan sebuah kecupan di pipi Heiji, Kazuha berujar, "Ceritakan padaku nanti," ucapnya lembut, namun sangat menuntut.
"Iya…" ucap Heiji malu sambil memandang kekasihnya yang pulang ke rumahnya.
"Nah, jadi kalian mulai berani berduaan di rumahmu, huh?" tanya Conan memulai menyulut bensin dengan api.
"Bo-Bodoh. Dia hanya sedang berkunjung sebentar," balas Heiji tergagap.
"Aku tidak menanyakan itu," balas Conan dengan nada bercanda yang makin menjadi.
"Terserah mau kau sebut apa. Yang penting, apa maksudmu dengan kecelakaan itu?" tanya Heiji.
"Kau akan datang bersama Kazuha pada acara ulang tahun Ran nanti besok kan?" tanya Conan.
"Memang benar. Tapia pa hubungannya itu dengan hal ini? " tanya Heiji lagi.
"Jawabannya akan kau temukan saat itu. Bersabar saja…" ucap Conan dan mematikan handphone-nya.
"O-oi! Huh. Orang itu, kenapa sih dari dulu sering sekali memutus telpon seenaknya?" umpat Heiji setelah telepon berakhir.
—X—
TOK TOK
"Masuk," ucap Conan setelah menyembunyikan kadonya.
"Yo…" ucap Shinichi seraya duduk di kasur menemani Conan.
"Ada apa?" tanya Conan.
"Aku ingin minta maaf atas-" kalimat Shinichi terhenti.
"Cukup. Kalau kau ingin membicarakan itu lagi, itu sama sekali tidak membantu. Kau seharusnya paling mengerti itu," potong Conan.
"Ya. Tapi kau juga seharusnya yang paling mengerti bahwa aku tidak akan tenang sebelum meminta maaf padamu," balas Shinichi.
"Ya sudahlah…" ucap Conan pasrah. "Silahkan lanjutkan."
"Aku minta maaf karena kau akan merasa sakit. Tapi, ini… seperti yang kita ketahui, adalah jalan terbaik. Untuk kita, dan diatas semua itu, untuk Ran," ucap Shinichi. Matanya memancarkan kesedihan.
"Hei," panggil Conan.
"Um?" tanya Shinichi.
"Jangan pasang wajah itu di depan Ran besok malam, atau aku akan membuatmu menyesal telah menjadi Shinichi," ancam Conan.
"Aku akan melakukannya dengan baik," ucap Shinichi. "Tapi itu adalah besok malam. Jadi, biarkan aku bersedih sekarang," lanjutnya.
"Terserah, tapi kau jelek sekali saat memasang wajah seperti tadi," ejek Conan.
"Oi, oi, wajahku ini wajahmu juga, kan?" balas Shinichi.
"Aku tidak sejelek itu."
"Heh, kita ini sama."
"Mulai besok, kita akan menjadi orang yang berbeda."
"Tapi tidak sepenuhnya."
"Tetap saja beda."
"Tetapi wajah kita akan tetap sama."
"Benar."
Hening…
"Oi, tadi kau bilang apa pada Hattori?" tanya Shinichi.
"Aku bilang untuk menunggu besok. Harusnya kau tahu kan?" ucap Conan balik bertanya.
"Aku tahu. Hanya ingin memastikan," balas Shinichi.
Hening… kelihatannya mereka kehabisan bahan obrolan. Apa yang mereka pikirkan selalu sama. Jadi sulit juga jika ingin berdebat atau membahas sesuatu.
"Ayo main," ajak Conan turun dari kasurnya.
"Haaah?" tanggap Shinichi. Jelas bingung.
"Rupanya ini berhasil membuatmu bingung. Aku akan membiasakan diri menjadi bocah. Dan kau harus membiasakan diri menjadi kakak. Dengan begini, mungkin kita akan punya kepribadian yang berbeda. Jadi, temani bocah ini main," ucap Conan nyengir.
"Huh, permainan apa?" ucap Shinichi. Meski terdengar bosan, dia tetap setuju.
"Apa lagi yang bisa kita mainkan dan senangi bersama?" ucap Conan seraya menuju sudut kamar, menendang sesuatu ke arah Shinichi.
Dengan refleksnya, Shinichi menangkap benda itu bulat itu, kemudian tersenyum. "Kau akan kalah," tantang Shinichi.
"Buktikan dengan kakimu, Niichan," sindir Conan, tersenyum, mengambil bola lain, membuka pintu dan berlari ke taman belakang. Shinichi menyusulnya.
—X—
"Hmm. Mungkin bukan waktu yang tepat, tapi… sepertinya tidak apa-apa," ucap seorang gadis di depan rumah Kudo.
Gadis itu masuk, tapi tidak ke dalam rumah. Perasaannya mengatakan dua orang itu tidak di dalam rumah. Meski sudah menjelang malam, gadis itu sepertinya ingin mengecek keadaan dua pasiennya. Ai menelusuri sekliling rumah sampai akhirnya mencapai bagian belakang. Di sanalah dua orang terlihat sedang adu… adu apa ya? Mereka hanya melakukan juggling bola saja. Tidak lebih. Dua orang seusia, satu kemampuan, perbedaan hanya terleetak pada ukuran tubuh. Pemandangan yang langka. Mereka benar-benar cocok satu sama lain. Adik dan kakak yang sangat cocok.
"Umm… Hallo?" ucap Ai pada dua orang itu.
Sontak, mereka terkejut dan dua bola jatuh bebas dari penguasaan mereka. Mereka tidak peduli lagi, mereka hanya melihat ke arah sumber suara.
"Ai…" ucap Conan dan Shinichi.
"Aku mengganggu?" tanya Ai datar.
"Ya. Kau mengacaukan juggling-ku," ucap Shinichi.
"Dan aku juga," timpal Conan.
"Kalau begitu, aku pulang saja. Selamat bersenang-senang," balas Ai, sinis dengan tatapan membunuh–yang biasa–itu, dan berbalik kea rah dimana dia hadir.
"Eh? Hei tunggu Ai, ada apa kau ke sini?" panggil Conan sambil mulai menyusul Ai.
"Tidak ada, hanya ingin mengganggu kalian saja," ucap Ai sambil memberi tekanan pada kata 'mengganggu,' sukses membuat seolah Conan dan Shinichi yang salah.
"Oi, oi, kami kan hanya bercanda," bujuk Shinichi.
"Begitu?" Ai berujar terdiam mematung. Conan berhenti mengejar dan Shinichi menatap punggung Ai dengan aneh.
"Aku juga bercanda," ucap Ai menoleh ke belakang dan memperlihatkan senyum manisnya. Dan tentu saja, untuk kedua orang yang jatuh cinta pada wanita itu, senyum itu akan terlalu indah jika hanya dibilang senyum manis.
Senyum itu, sukses membuat kedua orang yang melihatnya memanas. Conan mengalihkan perhatian ke langit. Dan Shinichi berpura-pura memungut bola. Ai tersenyum melihat tingkah mereka. Bagaimanapun, sekarang semuanya telah jelas bagi Ai, mereka menyukai dirinya. Tapi Ai membiarkan Conan akan menyampaikan perasaannya sendiri padanya. Hanya Conan? Tentu saja. Mana mungkin Shinichi yang mengatakan padanya.
"Jadi, ada apa kau datang ke sini?" tanya Conan tanpa menoleh kepada Ai.
"Mengecek pasien-pasienku," ucap Ai menjadi serius.
"Mengecek? Apa lagi yang ingin kau periksa?" tanya Shinichi.
"Aku suda mencoba memberikan obat yang sama dengan kalian pada tikus-tikus percobaan. Dari semua yang kulihat, ada empat kesimpulan yang sama kuat sebagai efek sampingl dari obat ini. Untuk itu, aku akan memeriksa kondisi kalian untuk mengetahui, bagaimana hasil obat itu bagi kalian," ucap Ai masih serius.
"Dan… apa saja kemungkinannya?" tanya Conan.
"Kematian," ucap Ai dengan wajah yang makin serius.
"Eh? Maksudmu, siapa?" tanya Shinichi dengan wajah agak panik.
"Hasilnya ada empat kemungkinan, kalian berdua mati, Shinichi mati, atau Conan yang mati," ucap Ai dengan wajah sedih yang jelas. Dan itu menyenangkan Conan dan Shinichi selain fakta bahwa mereka akan mati.
"Dan… hei, kemungkinan satunya?" tanya Conan.
"Kalian berdua akan hidup," ucap Ai, kali ini dengan senyum muram.
"Kalau begitu, bagus kan? Kanapa kau muram begitu?" tanya Shinichi.
"Kau tidak berpikir?" tanya Ai dengan nada tak sopan yang jika dilihat dari fisik, seharusnya Ai bersikap sopan. Tapi itu tentu saja tidak masuk hitungan dalam kasus mereka.
"Apa? Bukannya bagus kalau kami berdua hidup, tidak akan ada kematian kan?" tanya Conan.
"Benar, 75 persen kematian, dan sisanya kehidupan," ucap Ai. "Angka yang bagus kan?"
"Eh, benar juga," ucap Conan dan Shinichi mulai panik.
"Biar kuperiksa, kalian akan tahu siapa yang akan bertahan kan?" ucap Ai.
"Tidak usah," ucap Conan dan Shinichi setelah diam sesaat.
"Apa? Apa maksud kalian tidak? Kalian tidak bisa-" tanya Ai terkejut dan ingin protes.
"Bisa. Alasannya sederhana, Ai. Jika ada yang akan mati, biarlah itu menjadi rahasia. Dengan begitu, aku tidak perlu melihat siapapun sedih akan kenyataan itu," tegas Conan dan Shinichi.
Ai diam saja dengan jawaban itu, dia ingin mengetahui hasilnya tentu saja, karena dia ilmuwan. Tapi jika objeknya mengatakan tidak mau, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih dari itu, Ai juga menyetujui apa yang mereka katakan.
"Dan, apa kalian senang dengan dua wujud ini, aku akan berusaha menemukan penawar obat ini kalau kalian mau," tawar Ai.
"Kau bilang itu mustahil," ucap Conan.
"Yah… aku mulai memikirkan kata-katamu tentang deskripsi 'mustahil'," jawab Ai.
"Jadi?" tanya Ai kemudian setelah melihat keduanya diam.
"Ada beberapa alasan mengapa kami akan menolak tawaran itu," ucap Conan.
"Dan kau Shinichi-kun?" tanya Ai.
"Kupikir tadi Conan bilang 'kami', alasan kami sama saja," ucap Shinichi seolah itu hal yang jelas.
"Yah… sebenarnya aku penasaran bagaimana bisa kalian membaca pikiran masing-masing, tapi aku lebih penasaran dengan alasan kalian menolak tawaranku. Tertuama setelah waktu itu kau memintaku untuk mengambalikan kalian," ucap Ai.
"Saat ini kami masih orang yang sama, jadi kami mengerti apa yang kami pikirkan," ucap Shinichi, jelas-jelas senang.
"Dan untuk alasan lainnya adalah, kami bisa membahagiakan lebih banyak orang dengan dua wujud ini," ucap Conan.
"Alasan kedua, kami menghargai nyawa. Kami jelas-jelas merupakan dua orang, kami tidak mau menghilangkan nyawa orang lain karena keegoisan kami," tambah Shinichi.
"Begitu?" hanya itu respon Ai. Padahal dalam hati dia terkejut juga. Ai baru sadar bahwa di depannya adalah dua orang dengan masing-masing nyawa. Pikiran untuk menghilangkan salah satunya membuat dia berpikir bahwa dia mulai kembali menjdai penjahat yang ingin membunuh.
Conan dan Shinichi menerima respon Ai dengan senyuman penuh arti.
"Ya sudahlah, aku akan pulang," ucap Ai sembari berbalik badan.
"Eh? Kenapa?" tanya Conan.
"Karena urusanku disini sudah selesai, detektif terkenal," sindir Ai.
"Kau tidak ingin di sini dulu? Sebentar lagi makan malam kan?" tanya Shinichi.
"Justru karena akan makan malam, jadi aku harus menyiapkan makanan untukku dan ayah," ucap Ai.
Conan dan Shinichi masih belum terbiasa dengan panggilan Ai pada Agasa, jadi mereka agak bingung awalnya.
"Kita makan di sini saja, aku akan memanggil Profesor," tawar Conan.
"Bagaimana dengan reuni keluargamu?" sindir Ai.
"Ngomong apa sih? Kau mau tidak?" tanya Shinichi.
"Hmm…" pikir Ai.
"Tidak usah pura-pura berpikir Ai, dari wajahmu, aku tahu kalau kamu mau ikut," ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
"Eh, tante sudah ada di sini? Bukannya sedang menyiapkan makan malam?" tanya Ai.
"Aww, Ai sayang… sudah kubilang panggil aku Neechan," ucap Yukiko dengan mata penuh harap yang memelas sedih. Hal yang mudah bagi aktris hebat untuk langsung menunjukkan wajah itu.
"Maaf, Neechan. Tapi aku aku harus pulang, Profesor pasti lapar. Dan kalau aku tidak ada, dia bisa memakan apa saja, terutama makanan tidak sehat baginya," tolak Ai.
"Tenang saja, aku sudah menyiapkan makanan seperti itu. Dan lagi aku sudah memanggilnya ke sini," ucap Yukiko menunjukkan handphone-nya.
Ai tersenyum. Tanda mengalah.
"Ayo, Ai. Ini akan makin menyenangkan," ajak Conan sembari menarik tangan Ai. Semestinya, menurut dia, dia harus jaga image di depan Ibunya. Tapi, toh Ibunya sudah tahu tentang dirinya, jadi tidak ada masalah baginya.
Shinichi memandang Conan yang menarik Ai hingga masuk rumah dengan iri. Lalu dia sadar Ibunya menatapnya… dengan senyum jahil. Buru-buru Shinichi membuang wajahnya yang memerah.
"Shin-chan, ayo. Kau juga harus ikut," panggil Ibunya.
"Tidak," ucap Shinichi.
"Kenapa?" tanya Ibunya. Meskipun dia tahu jelas alasannya.
"Jarang aku makan di luar. Aku ingin ganti suasana," kilah Shinichi.
"Bukannya lebih menyenangkan makan bersama?" bujuk Yukiko.
"Aku di sini saja," tegas Shinichi.
Yukiko mendekati Shinichi. "Kau tidak ingin melihat keakraban Co-chan dan Ai-chan, begitu kan?" tanya Yukiko–yang lebih mirip pernyataan.
Tepat sasaran. Ketika Shinichi ingin mengelak, dia tahu itu percuma. Jadi dia memilih untuk diam.
"Dasar! Ternyata kamu tetap Shinichi ya? Dan Conan lah yang bukan Shinichi," ucap Ibunya.
"Maksud Ibu?" tanya Shinichi bingung.
"Kau lihat sendiri? Kau yang egois, tidak peka–tidak sepeka Conan, kau mengerti?" tanya Yukiko.
Shinichi menjawab dengan diam. Tanda dia menerima bulat-bulat apa yang diucapkan Ibunya.
"Lihatlah Conan, berapa kali dia mengalah padamu? Menyerahkan Ran padamu. Membiarkan dirinya tersakiti," ucap Yukiko.
"Tapi dia tidak melihat aku yang dekat dengan Ran," kilah Shinichi.
"Belum," kata Yukiko setuju.
"Bisa saja nanti dia tidak hadir," ucap Shinichi masih beralasan.
"Hoo? Begitu pikirmu?" tanya Yukiko. "Tidak mungkin. Dia menyiapkan hadiah-hadiah. Salah satunya telah dibelinya, dan kehadiran dirinya sendiri yang juga hadiah, dan kau. Kau juga merupakan hadiahnya. Kau pikir dia bisa memberikan itu semua jika dia tidak ada? Sadarlah Shinichi. Beginilah takdir yang ditentukan. Baik kau maupun Conan harus bersabar untuk mendapatkan kebahagiaan," ucap Yukiko bersemangat. Namun dengan nada kecewa karena anaknya bisa se-egois itu.
"Maaf, Bu. Aku… menyesal," ucap Shinichi.
"Sudahlah. Setidaknya kau tidak memendam kegelisahanmu sendiri lagi. Ayo masuk," ajak Yukiko.
"Aku di sini saja," ucap Shinichi.
"Kau sudah berani menentangku, Shin-chaan?" tanya Yukiko dengan senyum… mengerikan. Terutama bagi Shinichi yang melihatnya langsung dan mengerti apa arti senyum Ibunya itu.
"Ti- idak, a-aku… aku bercanda, ayo kita masuk," ucap Shinichi tergagap sambil buru-buru masuk ke rumah.
Yukiko hanya tersenyum. Meski telah berusia 23 tahun, anaknya masih banyak memiliki sifat yang lama.
—X—
"Hei, Edogawa. Apa yang kalian semua rencanakan?" tanya Ai.
Conan memperhatikan Ai yang mengajaknya bicara. Begitu pula dengan seluruh keluarga Kudo. Mereka tampak bingung. Mau tidak mau, Agasa juga jadi memperhatikan apa yang terjadi. Semua bingung, tapi dengan alasan berbeda. Karena menurutnya tidak ada yang aneh.
"Ada apa?" tanya Agasa.
Conan dan Shinichi bertatapan sekilas. Dan ada kesepahaman dalam diri mereka. "Edogawa tidak ada di sini," ucap Conan.
"Maksudmu-" Ai berkata.
"Aku Kudo. Conan Kudo," potong Conan.
"Jadi? Kalian-" tanya Ai.
"Ya, aku diangkat sebagai keluarga Kudo," ucap Conan. "Setidaknya… meski tidak kembali ke wujud asli, aku tetaplah seorang yang akan dikenal sebagai Kudo. Itu hal bagus kan?" lanjut Conan dengan senyum tabahnya.
"Conan-kun…" ucap Ai prihatin.
"Ahahaha… maaf ya, aku merusak suasana," ucap Conan tertawa garing. "Ayo, lanjutkan makan kita," lanjut Conan dengan wajah ceria. Tapi semua tahu, itu wajah yang dipaksakan. Jadi semua kembali makan, berusaha seolah kejadian tadi tidak ada.
—X—
"Hei, Ran! Selamat ulang tahun!" sapa Kazuha yang baru saja datang bersama dengan Heiji.
"Kazuha, terima kasih ya," balas Ran seraya memeluk sahabatnya itu. "Heiji juga datang, ya?" sapa Ran pada Heiji setelah memeluk Kazuha.
"Yo, Neechan. Selamat ulang tahun," sapa Heiji. "Di mana anak berkacamata itu?" lanjut Heiji.
"Conan…" lalu Ran menceritakan apa yang telah disampaikan Conan padanya.
"Bocah itu benar-benar memperhatikanmu ya?" respon Sonoko yang sudah datang sejak awal.
"Jadi, dimana dia sekarang?" tanya Heiji. Wajahnya bingung. Tapi orang lain akan melihatnya sebagai respon khawatir.
"Tidak biasanya kau khawatir dengan keadaan anak itu," ucap Kazuha.
"Tidak. Memang tidak, aku hanya ingin tahu dimana dia," ucap Heiji datar.
Yang lain memangdangnya aneh. Bahkan Kogoro dan Eri demikian.
"Apa? Kalian tahu kan kalau dia bocah yang kuat daan sebagainya? Jadi aku tidak begitu khawatir," kilah Heiji.
Beberapa mengangkat bahu, dan mulai bicara satu sama lain.
"Hei, Ran, siapa saja yang kau undang?" tanya Kazuha.
"Tidak banyak. Hanya orang-orang dekat," jawab Ran.
"Dan mereka?" timpal Sonoko.
"Kalian yang di sini, Conan, Ai, Profesor Agasa, dan… Shinichi," jawab Ran, murung di nama terakhir. Sonoko dan Kazuha mendesah bersamaan.
"Serius, Ran. Sampai kapan kau akan menunggu penggila Holmes itu?" tanya Sonoko.
"Iya, bahkan dia sudah menghilang dari media. Padahal yang kutahu, dia itu sangat suka bergaya seperti orang didekatku," timpal Kazuha.
"Siapa yang kau sebut-sebut itu?" tanya Heji cemberut.
"Intinya, Ran, aku khawatir padamu. Perasaanmu yang makin tersakiti itu, aku tak tahan membayangkannya," ucap Kazuha mengabaikan Heiji.
"Lalu, Kazuha, apa kau juga bisa membayangkan apa yang akan kau lakukan jika Heiji juga menghilang… seperti Shinichi?" tanya Ran. Menusuk, namun bukan nada itu yang digunakan oleh Ran.
Kazuha terdiam. Diliriknya calon suaminya itu. Heiji membalas tatapannya itu.
"Apa?" tanya Heiji.
"Tidak Ran. Aku tidak mau membayangkannya. Maafkan aku…" ucap Kazuha lirih.
"Hei, hei, ini acara ulang tahun, kenapa semuanya murung begini?" hibur Eri mencoba mencairkan suasana.
KLEK
"Kenapa kalian murung begitu?" tanya seseorang dengan suara agak berat.
Setengah berharap, Ran menoleh cepat bahwa itu Shinichi. Karena ia ingat akan suara itu di masa lalunya. Yang ditemuinya adalah Agasa, Ai, dan Conan.
"Shi… Conan?" ucap Ran tergagap.
"Fuh… dingin sekali malam ini," ucap Ai mengigil.
"Sudah kutawarkan jaketku, kau malah menolak," ucap Conan.
"Aku bukan perempuan lemah," balas Ai.
"Iya iya. Terserah kau saja," balas Conan.
"Hei, Conan-kun," panggil Ran. "Kau kelihatan baik-baik saja, ini bukan aktingmu kan?" tanya Ran.
"Apa aku terlihat berakting?" tanya Conan balas bertanya.
"Tidak," ucap Ran tersenyum. Dalam hatinya, dia bersyukur karena Conan begitu kuat.
"Ah, selamat ualang tahun, Neechan," ucap Conan riang.
"Ya, selamat ulang tahun," kata Ai.
"Selamat ulang tahun," kali ini Agasa.
"Iya, terima kasih semuanya," ucap Ran makin riang.
"Dan kita hanya tinggal menunggu satu orang untuk acara tiup lilin, bukan?" tanya Kazuha.
"Iya… kuharap dia datang," ucap Ran.
"Kupikir dia tidak akan datang," ucap Heiji.
"Apa-apaan kau? Kau harusnya mendukung Ran kan?" sembur Kazuha pada Heiji.
"Hei tapi…" balas Heiji.
"Uhm! Siapa yang kalian tunggu?" tanya Conan menginterupsi pasangan yang akan menimulkan keributan itu.
"Itu… hadiah darimu Conan-kun," ucap Ran dengan senyum muram.
"Oh, biar kuambil hadiah itu, kupikir hadiah yang ini tidak bisa menunggu sampai acara tiup lilin," ucap Conan sambil pergi keluar.
"Eh?" ucap Ran terkejut.
"Hadiah apa yang kau minta, sayang?" tanya Eri.
"Shinichi. Kehadiran Shinichi," ucap Ran, kali ini riang.
"Eh?" semua terkejut–kecuali Ai dan Agasa–terutama Heiji.
"Hei, Ai. Kau tahu Kudo akan datang?" bisik Heiji pada Ai.
"Aku tahu," balas Ai berbisik.
"Kau tahu dan aku tidak, aku bingung siapa temannya sekarang," bisik Heiji lagi. "Jadi, dia akan berubah jadi Shinichi, bagaimana dengan Conan?" lanjutnya.
"Bersiaplah untuk lebih terkejut," balas Ai dengan bisikan lebih pelan.
"Apa?" tanya Heiji penasaran dan kaget. Pikirnya, apa lagi yang bisa membuatnya terkejut?
Ai hanya membalas dengan senyum riang.
Tiba-tiba terdengar suara langkah dari luar pintu. Semua menunggu dengan tidak sabar. Tapi suara itu tidak seperti satu orang seperti yang dipikirkan Heiji. Tidak juga dua orang seperti yang Ran pikirkan. Lalu pintu terbuka. Menampilkan Conan yang menarik tangan seseorang. "Ayo, Niichan. Kau terlihat gugup sekali."
Lalu tertariklah tangan itu menampilkan sosok Shinichi. Sosok itu sangat mengejutkan. Heiji sampai menganga heran. Tapi diatas itu semua, Ran menunjukkan wajah suka cita yang sangat besar.
"Hai… um… apa kabar Ran?" tanya Shinichi gugup.
Ran tanpa pikir panjang lagi, langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Shinichi.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Shinichi bodoh!" isak Ran agak keras dalam pelukan Shinichi.
"Iya… Aku memang bodoh, Ran. Maafkan aku," ucap Shinichi membalas pelukan Ran.
Semua terkejut. Seperti biasa jika Shinichi mendadak hadir. Bahkan Kogoro menahan diri untuk tidak membanting Shinichi. Meski tahun lalu muncul di tanggal yang sama, itu hanya sebentar. Shinichi mendadak sakit setelah satu jam di ulang tahun Ran. Tentu saja itu karena pengaruh obat penawar.
"Jangan pergi lagi, Shinichi," ucap Ran masih terisak setelah melepas pelukannya.
"Aku tidak akan pergi lagi, Ran. Tidak darimu," ucap Shinichi mulai menunjukkan suka citanya. Jelas dari dulu dia ingin mengucapkannya.
"Hei, Ran!" ucap seorang wanita dari balik tubuh Shinichi.
"Tante?" ucap Ran.
"Tidak apa kan, kalau kami juga datang?" tanya Yukiko sambil memeluk lengan suaminya.
"Ini akan menyenangkan," janji Ran sebagai jawabannya. "Ayo masuk."
—X—
Setelah acara tiup lilin, orang-orang mulai memberikan hadiah pada Ran.
"Hadiah dariku dan Heiji adalah ini," ucap Kazuha pada Ran.
"Terima kasih, kalian berdua," balas Ran tersenyum. Tidak perlu Ran buka, Ran tahu itu souvenir dari Osaka.
"Ini hadiahku, Ran," ucap Sonoko. Tanpa pembungkus, dia meunukkan kalung berlian yang masih ada di kotaknya.
"Terima kasih, Sonoko," ucap Ran.
"Ini, dari kami, Ran," kata Yukiko seraya menyerahkan hadiahnya darinya dan Yusaku.
"Terima kasih, Tante," ucap Ran dengan senyum riang. Dari indera perabanya, dia tahu hadiahnya adalah sebuah dress.
"Neechan, ini dariku dan ayah," ucap Ai menyerahkan hadiahnya dengan senyum ramah.
"Terima kasih, Ai," ucap Ran dengan senyum sayang, sesuai dengan dugaan Ai. "Dan siapa ayahmu?" tanya Ran.
"Orang itu," tunjuk Ai dengan senyum riang. Gerakannya itu merupakan akting yang bagus dari Ai seperti biasa.
"Umm… Ran, hadiahku bukan sesuatu yang baru. Tak apa kan?" tanya Kogoro.
"Apa itu?" tanya Ran.
"Aku berhasil membujuk ibumu tinggal bersama kita," ucap Kogoro sambil menggaruk sebelah pipinya dengan rona merah di wajahnya.
Ran merespon dengan wajah terkejut. Dia menutup mulut dengan tangannya. Matanya berkaca-kaca.
"Ibu akan tinggal di sini?" tanya Ran memastikan.
"Seperti yang ayahmu katakan, Ran," ucap Eri.
"Terima kasih, Bu," ucap Ran memeluk Ibunya.
"Ayahmu yang berhasil meyakinkanku, Ran," ucap Ibunya.
"Terima kasih, Ayah," ucap Ran lagi pada ayahnya.
"Sekarang akan ada sosok Ibu jika Conan menginginkannya. Seperti keinginanmu, Ran," ucap Kogoro.
"Benar! Conan-kun…" panggil Ran.
"Terima kasih, Neechan," ucap Conan dengan wajah muram. "Tapi aku telah memiliki keluarga," lanjutnya sambil memegang tangan Ibunya, kali ini tersenyum.
"Perkenalkan, anak kedua kami, Conan Kudo," ucap Yusaku mengumumkan.
"Maaf, Neechan," ucap Conan seolah menyesal.
"Tidak apa Conan, kau telah memiliki keluarga. Itu yang paling penting," ucap Ran dengan berkaca-kaca.
"Kenapa Neechan menangis?" tanya Conan.
"Aku bahagia, karenamu, keluargaku berkumpul kembali. Tapi… apa ini berarti aku akan berpisah denganmu?" tanya Ran.
"Suatu saat kita pasti akan berpisah. Tapi, aku tetap adikmu. Terutama setelah Neechan dan Niichan bersatu suatu saat nanti," ucap Conan sambil menggengam tangan Shinichi.
"Apa maksudmu?" tanya Ran.
"Umm… Ran," panggil Shinichi. "Aku hanya membawa satu hadiah, dan kau boleh menolaknya," lanjutnya.
"Seburuk apa hadiahmu sampai aku akan menolaknya?" tanya Ran tersenyum geli.
"Aku… aku hanya membawa…" ucap Shinichi tergagap.
"Ya?" tanya Ran tersenyum sabar.
"Aku… membawa… hatiku," ucap Shinichi agak terkejut karena berhasil mengucapkannya.
"Eh, Ap-apa?" kata Ran terkejut hingga tergagap. Yang lain juga sama terkejutnya, kecuali Conan, Yukiko, dan Yusaku.
"Ya… Apa kau mau menerima hatiku, atau kau akan menolaknya?" ucapnya lancar karena telah mengungkapkan perasaannya.
"Aku senang kalau aku bisa menerimanya, Shinichi," ucap Ran menghambur ke pelukan Shinichi.
Shinichi tersenyum. Semua sesuai rencana keluarga Kudo. Semua yang melihat ikut tersenyum.
"Hei, Niichan. Kenapa kau tidak melamarnya sekalian saja? Dengan begitu aku akan benar-benar menjadi adik Neechan, kan?" tanya Conan dengan waja polos.
"Benar. Aku tidak mau memberikan restuku padamu kalau yang kau pilih adalah jalan seperti ini. Pilihlah jalan yang serius dengan anakku," ucap Eri pedas.
"Tapi, aku serius-" ucap Shinichi.
"Oh. Kau menghilang bertahun-tahun, dan kau datang hanya ingin memacari anakku? Tidak akan kubiarkan kau mengecewakannya lagi," potong Eri.
"Tidak akan. Lagi pula aku… aku tidak membawa cincin untuk pelamaran yang layak," ucap Shinichi.
"Aku punya," ujar Conan. "Hadiahku yang ketiga untuk Neechan, juga Niichan secara tak langsung," lanjutnya dengan wajah ceria sambil mengeluarkan kadonya. "Neechan dan Niichan mau menggunakan ini kan?"
Semua terkejut. Kali ini, terutama keluarga Kudo. Shinichi sama sekali tidak menyangka adiknya akan melakukan ini untuknya.
"Bagus, Conan," ucap Eri tersenyum pada Conan. "Sekarang tak ada tempat mundur, Shinichi. Terima syaratku atau tidak sama sekali," lanjutnya menatap tajam pada Shinichi.
"Ibu, jangan memaksa Shinichi begitu," ucap Ran.
"Aku hanya ingin tahu seberapa serius dia," balas Eri. "Kau juga pasti senang kan, Ran?"
"Itu…" ucap Ran menggantung.
"Bagaimana, Ran?" tanya Shinichi.
Baru akan dijawab oleh Ran ketika Eri berbicara. "Aku mengujimu, Shin. Bukan menguji Ran."
Conan meletakkan kadonya di genggaman Shinichi dengan agak memaksa. Lalu Conan mundur. Memerhatikan dengan jarak.
"Bagaimana, Shin-chan?" tanya Yukiko menggoda. Diam-diam setuju dengan rencana Conan. Ini cara paling menyakitkan bagi Conan dan cara tercepat untuk melupakan Ran.
"Ran… Karena hanya kau wanita yang paling kucintai, melebihi apapun…" ucap Shinichi sambil berlutut dan memegang sebelah tangan Ran. Ran hanya bisa menutup mulut dengan tangan lainnya tanda tak menduga yang akan dilakukan Shinichi. "Maukah… kau menikah denganku?" lanjut Shinichi setelah mangambil napas dalam-dalam.
Semua menunggu jawaban Ran. Tidak peduli dengan jawaban itu, mereka semua tahu apa jawaban Ran. Yang ditunggu adalah jawaban itu keluar dari mulut Ran.
"Terima kasih, Shin dan… semuanya. Aku sudah lama menantikan ini," ujar Ran.
Kemudian Shinichi bangun, dan pasangan baru itu memasangkan cincin mereka pada tangan pasangannya. Setelahnya berpelukan. Conan yang melihatnya dengan tatapan sendu. Ai jelas-jelas melihat Conan saat itu. Digenggamnya tangan Conan olehnya, mencoba mengalirkan ketegaran dari dirinya. Yukiko yang melihat itu, meresa tidak perlu lagi menghibur Conan.
Bagaimana?
Apakah terasa cara penulisan yang memaksa di chapter ini? Selanjutnya, aku akan mencoba fokus pada Conan dan Ai. Meski Author tidak tahu kapan bisa update. Terima kasih jika kalian mau menunggu cerita ini. Harap maklum. :)
Akhir kata, Review, Please!
