Disclaimer :

Detective Conan adalah milik Aoyama Gosho

Balasan Untuk Reviewers:

Misyel: Hehehe. Kelihatan ya? Maaf ya. Karena aku salah memperhitungkan plot, aku jadi ingin mencoba membenahinya. Tapi malah jadi berantakan :( Mungkin Ai terlihat terlalu disakiti karena aku terlalu banyak mencurahkan apa yang dipikirkan Ai, ya? Tapi, aku tidak bermaksud terlalu menyakiti kok. Tapi kalau memenag terlihat begitu, kucoba dia kubuat senang di chapter berikutnya deh. Terima kasih review-mu!

gulliano: Maaf baru bisa update lagi. Bulan kemarin sampai tengah bulan ini, terasa berat buatku. Jadi, waktu untukku menulis terpaksa terkuras. Soal miss typo, itu karena aku belum edit chapter sebelumnya karena lupa. Maaf ya! Terima kasih review-mu!

Enji86: Yaah... benar juga sih kalau dibilang pelarian jika begitu cara melihatnya. Maaf, aku hanya melihat dari sudut pandangku. Lain kali mungkin bisa kubuat yang bisa dilihat sama dari sisi bersama.

Aku juga sedang mencoba membuat perbedaan diantara mereka. Semoga saja berhasil ya. Soal asli atau palsu, aku tidak bisa menjawab lagi. Karena yang ini sudut pandang pribadi. Karena kalau menurutku, keduanya asli. Meskipun lebih berat pada Conan.

Merendahkan nilai untuk mendapat kebahagiaan. Hal ini memang biasa terjadi kan? Atau aku salah?

Uwaah. Aku sadar Ai itu pedofil karena suka sama Conan. Tapi, kalau dilihat dari sudut pandangnya, sepertinya pilihannya cuma bisa jatuh pada Conan. Soalnya kalau dia suka sama laki-laki yang seusia dengannya, bisa terlihat kalau Ai suka laki-laki yang 'sakit'. Tapi kalau yuri, aku tidak ada maksud membuat Ai sampai terlalu sakit seperti itu. -"-

anak rantau prapat: Tidak. Ini cerita berikutnya. :)

Radhierzione'4869: Bagus? Terima kasiiih! ^^ Aku berusaha untuk membuat Conan terhibur deh. gak tega aku melihat dia sedih.

Aldo Edogawa: Ini updatenya. Maaf ya lama.

Catatan Penulis:

Kali ini ceritanya tidak terlalu panjang. Aku agak terburu-buru membuatnya. Semoga lebih bagus dari sebelumnya ya.

Maaf baru bisa update lagi, kesibukanku parah. Mulai dari ujian, sampai deadline pekerjaan. Jadi, aku tidak memiliki waktu bebas yang banyak.

Sekarang, kupersembahkan kisah ini pada para readers dan reviewers.


Kisah Baru

By Byzan

Selama acara ulang tahun Ran, semua bersuka ria. Terutama dua orang yang resmi menjadi pasangan dan dalam waktu dekat akan menikah. Tapi tidak bagi Conan. Dia terlihat diam saja, bahkan pertanyaan Ai yang mengajaknya bicara hanya dijawab dengan ucapan-ucapan singkat.

Ai tahu betapa sedih Conan. Tapi, dia hanya bisa mencoba menghibur Conan. Menurutnya, paling tidak orang yang disukai laki-laki itu mengajaknya mengobrol. Tapi rasanya itu tidak pernah cukup. Conan hanya bisa menunjukkan ekspresi murung sambil sesekali melihat pasangan yang baru jadi itu tertawa dan tersenyum bersama.

Heiji terlihat mendekati Shinichi hanya untuk mengacak rambutnya. Lalu tertawa bersama setelah bicara sebentar. Lalu dia melambai pada Shinichi dan mendekati Conan.

"Oi, siapa kau?" tanya Heiji berbisik.

Conan dan Ai hanya diam. Keduanya bertukar pandang lantaran bingung mendengar pertanyaan Heiji.

"Jangan menjawabku dengan tatapan. Shinichi yang di sana asli, bukan Kaito yang sering menyamar menjadi Shinichi untuk melakukan hal-hal anehnya. Jadi, siapa kau?" tanya Heiji lagi. Kali ini dia menekan tiap katanya agar terdengar serius.

"Kita bicarakan nanti, oke?" Ai menjawab mes ki yang ditanya Conan.

"Oi-" Heiji berujar lagi.

"Setelah ini, temui aku di rumahku, Hattori," ujar Conan, "waktunya tidak tepat kalau kau ingin kujawab sekarang."

"Kapan kau akan pergi dari sini?" tanya Heiji, "sampai selesai? Itu terlalu-"

"Tidak. Sekarang juga," potong Conan sambil mulai mendekati pintu keluar.

Heiji sepertinya memang tidak suka dibuat bingung. Namun, sebelum keluar lagi pertanyaan dari mulut Heiji, Ai menyentuh lengan Heiji. Heiji menengok pada Ai. Gadis itu memberikan pandangannya pada Shinichi dan Ran yang tengah dalam keadaan bersuka cita dalam 'kemesraan' mereka.

Heiji mengikuti pandangan Ai untuk ikut melihat dalam diam. Lalu dia melihat wajah murung Conan. Wajah itu hampir seperti tatapan membunuh yang diarahkan pada Shinichi dan Ran. Lalu Heiji, dengan tatapan yang mulai mengerti, dan Ai mulai mengikuti Conan yang mulai keluar dari ruangan tersebut. Mereka bertiga memang dari dulu ahlinya melarikan diri.

Heiji tidak mendesak Conan dalam perjalanan menuju rumah anak berkacamata itu. Sepertinya ini memang berat bagi anak itu. Meski dia belum begitu yakin bahwa Conan adalah Shinichi. Karena mereka seharusnya tidak terpisah dalam dua tubuh. Mereka adalah satu orang. Kalau Heiji tidak terlalu sibuk berpikir, mungkin dia akan menyadari bahwa Ai dan Conan sedang bergandengan tangan. Ai berusaha menenangkan Conan, dan pemuda itu tidak menolaknya. Bahkan hatinya mulai senang setelah sebelumnya merasa sengsara.

—X—

Rumah Keluarga Kudo

"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan Hattori?" tanya Conan.

"Kau, asli?" tanya Heiji.

"Tentu saja, Bodoh!" jawab Conan seadanya.

"Tapi, Shinichi tadi asli," protes Heiji.

"Ai, kau keberatan menjelaskan padanya?" tanya Conan yang kelihatan lelah. Mungkin kejadian malam ini memang berat untuknya.

Ai yang mengerti, menjawab pertanyaan Heiji, "Dia salah meminum obat buatanku. Obat itu menghasilkan objek yang meminum obat menggandakan dirinya," ucap Ai mengingkat apa yang telah terjadi.

"Jadi dua? Tapi bukannya seharusnya kalau anak ini minum obat itu, harusnya ada dua Conan, kenapa yang satu memiliki tubuh yang asli?" tanya Heiji. Entah dari mana dia mengerti hal ini.

"Obat itu bekerja sesuai banyaknya memori yang tersimpan di otak penggunanya," terang Ai, "karena Conan memiliki memori berusia 23 tahun, jadilah tubuh yang terbelah darinya memiliki tubuh sejati."

"Jadi, kau mengalah padanya tentang Ran?" tanya Heiji pada Conan, sementara Ai memberi tatapan membunuh pada Heiji yang dengan bodohnya menanyakan hal itu saat Conan baru saja terluka sangat dalam.

"Tidak apa, Ai," ucap Conan yang melihat reaksi Ai, "Kau memiliki pilihan, Hattori… atau Heiji-nii?" ucap Conan sambil tersenyum aneh.

"Aneh rasanya mendengarmu memanggilku begitu, jangan diulangi," dengus Heiji, "Kau bisa saja meminta Ilmuwan di sebelahmu untuk menyatukan kalian."

"Dan membunuh salah satu dari kami?" tanya Conan, "Tidak, Heiji-nii. Ini lebih baik, banyak hal membingungkan terjadi selama aku terperangkap dalam tubuh anak kecil ini. Aku dan Nii-chan telah mendiskusikan ini."

"Jadi, kau juga akan serius menjadi seorang bocah sekali lagi?" tanya Heiji memastikan karena Conan tetap menyebutnya dan Shinichi dengan panggilan yang mengganggu telinganya itu.

"Ya. Inilah hidup baruku, dan juga kisah baruku," tegas Conan.

"Dan, kau akan memanggilku Heiji-nii?" tanya Heiji mulai menanyakan hal yang konyol setelah bicara serius.

"Kau tidak suka?" tanya Conan pura-pura serius dengan senyum tipis. Tapi Heiji lebih tahu maksud dari senyum itu.

"Tentu saja. Kau ini seumuran denganku, aku tidak suka kau panggil begitu."

"Karena itulah dia akan memanggilmu begitu," ucap Ai.

"Oi-"

"Cuma bercanda," potong Ai.

"Ooh, kau sudah bisa bercanda?" tantang Heiji.

"Kau mau mencobaku? Heiji-niisan?" balas Ai, dengan tatapan yang mematikan orang tanpa melihat usia.

"Lupakan," Heiji bergidik ngeri.

—X—

"Apa-apaan kalian?" tanya Kazuha, "pergi meninggalkan pesta Ran begitu saja, huh?"

"Maaf Kazuha, ada urusan mendadak," jawab Heiji.

"Dan urusan apa itu?" tanya Kazuha. Sementara Conan, Ai, Agasa, Yukiko, dan Yusaku hanya melihat pasrah karena pertengkaran yang sserin terjadi ini sulit dihentikan.

"Itu… Conan sakit. Iya. Dia merasa tidak enak tadi. Ahahahaha," ucap Heiji sembari tertawa garing.

"Ada yang kau sembunyikan. Benar, Heiji?" tanya Kazuha. Auranya mengerikan. Setidaknya bagi Heiji yang pernah melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Oi, Kazuha, tenang. Iya, tapi ini bukan tentang aku," ucap Heiji, "jadi aku tidak bisa menceritakannnya padamu, maaf ya!" mohonnya sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajahnya tanda memohon maaf.

"Jadi?" tanya Kazuha.

"Tentang Conan. Itu saja. Aku tidak bisa bicara lebih lanjut."

"Benar begitu?"

"Iya. Aku sudah mengatakan sebisaku."

"Nah, Conan-kun," panggil Kazuha, "ada apa dengan Heiji? Kau membutuhkan bantuannya?"

"Ah, iya. Sedikit masalah saja," jawab Conan agak gugup.

"Apa itu?"

"Kenapa Neesan ingin tahu?" tanya Ai.

"Eh, aku hanya takut Heiji terlibat hal aneh," ucap Kazuha agak malu.

"Heiji-nii normal. Dia bukan pedofil," ucap Ai. Terdengar kurang ajar memang. Namun itulah yang dikhawatirkan Kazuha.

"Oi! Apa maksudmu Ai-chan?" ucap Heiji gusar sembari menekankan kata 'chan' diakhir pertanyaan—hanya untuk mengejek Ai. tindakan yang berani mengingat siapa Ai.

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya dan sesuai dengan kekhawatiran pasanganmu, Heiji-nii," ucap Ai menekankan kata 'nii' pada jawabnannya ditambah tatapan aneh— untuk mengganti tatapan membunuhnya. Heiji yang mengerti maksud tatapan Ai, hanya bisa bergidik ngeri.

"Jadi, masalah apa, Conan-kun?" tanya Kazuha.

"Masalah remaja. Tentu Neesan tahu bahwa Conan tidak mau memberitahukan masalahnya pada semua orang," ucap Ai menyelamatkan Conan.

"Hm, ada hubungannya denganmu, Ai?" tanya Kazuha tersenyum mencurigakan.

"Ada. Dan itu cukup untuk malam ini," ucap Ai mengakhiri percakapan, "Ayo pulang, Ayah."

—X—

Kamar Shinichi

"Kau sudah banyak mengobrol dengan Conan, bukan?" tanya Shinichi pada Heiji yang bertanya padanya mengenai apa yang terjadi padanya.

"Yaah… secara tidak lengkap," ucap Heiji mengiyakan.

"Kau tidak pernah puas selama tidak mengetahui keselurahannya ya?" tanya Conan yang berkunjung ke kamar Shinichi.

"Jika kau menganggap itu kutukan, kalian berdua sama terkutukknya denganku," dengus Heiji.

"Hahaha," tawa mereka bertiga bersamaan.

"Detektif memang merepotkan ya?" tegas Conan.

"Tidak mudah menjadi detektif memang," ucap Shinchi setuju.

"Baiklah, Niichan. Ceritakan dongen pengantar tidurmu. Aku akan tidur duluan," ucap Conan pada Shinichi, yang dibalas oleh anggukan.

"Heh? Kau sudah ingin tidur? Seperti bocah saja," Tanggap Heiji.

"Yaah… aku akan berusaha jadi bocah memang. Tapi, itu akan membosankan, jadi tidak sepenuhnya," ucap Conan, "Tapi hari ini memang benar-benar melelahkan. Jadi aku akan tidur duluan. Oyasumi," kata Conan mengakhiri kalimatnya.

"Apa yang melelahkan? Biasanya dia bisa tidak tidur dua hari jika sedang dalam kasus," ucap Heiji.

"Jangan begitu," ucap Shinichi, "Fisiknya jelas kuat, hanya saja pikirannya menjadi terlalu lelah karena hatinya yang lelah."

"Kau sangat memerhatikannnya," tanggap Heiji, "bagaimana menurutmu?"

"Seperti yang sering kudiskusikan dengan adikku itu, ini yang terbaik."

"Heh. Kata-kata yang bagus," ucap Heiji tersenyum, "Sekarang mulailah ceritakan dongan pengantar tidur itu."

"Tentu…"

—X—

Pagi harinya, setelah keluarga Kudo sarapan bersama Heiji, Kazuha, Ai, dan Agasa, Heiji dan Kazuha pamit pulang. Mereka bilang, pekerjaan mereka harus segera dilanjtkan, jadi mereka ingin bertemu Ran terlebih dahulu. Hari ini kebetulan libur Nasional. Jadi, Conan serta Ai tidak perlu berangkat sekolah.

Setelahnya, Conan pergi ke taman belakang. Ai yang penasaran, mengikutinya. Sementara Shinichi yang penasaran apa yang akan Ai lakukan dengan mengikuti Conan, ikut mengikuti Ai. Sementara Yukiko, Yusaku, dan Agasa saling berpandangan. Tersenyum jenaka ketika sebuah kesepakatan tak terucap terlintas diantara mereka. Jadi mereka mengikuti yang sudah mendahului mereka. Dengan sebuah niat, memata-matai Shinichi.

Ai melihat Conan yang tengah berbaring di atas rerumputan taman. Memandangi langit. Hanya ada awan tipis di sana, Ai melangkah. Shinichi melihat dari dalam rumah. Tiga orang tua memerhatikan semuanya dari tempat yang agak jauh dari Shinichi.

Mereka sama-sama punya kepekaan yang kuat dalam hal menyadari orang yang memperhatikan atau mengikutinya. Tapi semuanya juga memiliki kemampuan menyembunyikan diri yang kuat. Jadi, tidak ada yang menyedari keberadaan masing-masing.

"Conan-kun," panggil Ai.

"Hm?" tanya Conan menoleh pada Ai yang sudah duduk di sebelahnya.

"Bagaimana kronologi kalian melenyapkan orang tua Edogawa?" tanya Ai mencoba memulai pembicaraan dengan topik ringan. Yah… ringan dalam standar mereka tentu saja.

"Jangan tanya padaku-" ucap Conan.

"Kau sedih karena kehilangan orang tuamu?" sindir Ai.

"Ck. Bukan aku yang melakukannya. Tapi yang lainnya," ucap Conan protes, "jadi tanya saja pada mereka!"

"Tapi aku ingin mendengar darimu," ucap Ai lembut. Membuat Conan tak kuasa menolak.

Flashback

Conan's POV

Pagi itu, Ayah, Ibu, dan Niichan-(Jangan tertawa, Ai.) pergi untuk melaksanakan drama itu. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan tepatnya. Yang jelas, mereka telah merencanakan untuk pelenyapan orang tua Edogawa. Rencana itu tidak sulit dibuat meski hanya satu malam persiapan, mengingat ada empat orang jenius di sana. (Kubilang jangan tertawa, Ai.)

Rencananya mereka akan meledakkan kapal itu, setelah mereka memastikan banyak orang melihat mereka, yang dibutuhkan untuk menjadi saksi bahwa mereka memang menaiki kapal itu. Ayah dan Ibu menjadi orang tua Edogawa, dan Niichan menjadi pengemudi kapal.

Di tengah laut, mereka bersiap untuk meledakkan kapal, topeng penyamaran mereka bawa. Sedangkan baju mereka tinggal untuk memperlihatkan mereka memang pernah di sana. Kemudian mereka dan terjun dari kapal itu dengan peralatan diving. Saat mereka cukup jauh, mereka bisa meledakkan kapal itu dengan remote.

Setelahnya, mereka pergi ke bagian pantai yang tidak ada pengunjungnya, berganti pakaian di sana. Memasukan penyamaran dan alat diving ke dalam tas besar. Kemudian memakai penyamaran lain agar tidak mencolok, bagaimanapun, mereka terdiri dari keluarga yang terkenal.

End Of Flashback

Normal POV

"Begitulah," ucap Conan akhirnya.

Ai terdiam. Kehabisan bahan pembicaraan sepertinya. Lalu, "Bagaiamana rasanya kehilangan sebagian identitasmu?" tanya Ai.

"Apa maksudmu?"

"Kau tahu," jawab Ai, "Edogawa Conan adalah bagian dari dirimu selama 6 tahun, bagaiamana rasanya kehilangan itu semua?"

Conan tersemnyum, "Semua? Aku hanya kehilangan sebuah nama sebenarnya," ucap Conan, "Orang tua-ku palsu, namaku palsu. Yang asli di kehidupanku adalah pengalaman, dan orang-orang di sekitarku. Menurutku selama aku tidak kehilangan itu, semuanya baik-baik saja."

"Well said, Kudo-kun," ucap Ai, "Bagiamana dengan Ran?"

"Ada apa dengannya?" tanya Conan bingung.

"Aku hanya ingin tahu apa yang akan kau lakukan terhadapnya."

"Tidak akan kuhapus selamanya dari ingatanku," ucap Conan, "bukankah itu jelas."

Ai memberi tatapan bertanya. Mencari ketegasan.

"Kuberikan dia pada Shinichi-nii," ucap Conan tertawa renyah, "itu yang terbaik bagi banyak orang."

"Tentu. Tapi bagaimana dengan hatimu?"

"Aku sudah sering mendiskusikan ini dengan Nii-chan," ucap Conan menerawang, "Aku hanya perlu mengisi hatiku dengan yang lainnya untuk menghapus dan menekan perasaanku pada, Ran… neechan," ucap Conan tersenyum sedih. Air matanya hampir keluar. Kata 'neechan' terakhir itu masih begitu menyakitkan baginya.

"Bocah mana yang ingin kau pacari, Tantei-kun?" ejek Ai.

"Itu tergantung," ucap Conan serius. Matanya masih tak lepass dari langit.

"Maksudmu?"

"Jika aku memang telah berubah menjadi bocah, aku bisa memacari siapapun yang kuinginkan."

"Rupanya ada playboy di sini."

"Heh. Terserah padamu," ucap Conan seraya membalikkan tubuhnya hingga memunggungi Ai.

"Jadi kau sudah mendedikasikan dirimu sebagai 'bocah'?" tanya Ai mulai memandangi langit.

"Haah. Aku bukan pedofil," tegas Conan sambil bangkit dari tempat duduknya. "aku tidak akan memacari bocah untuk saat ini," Melihat itu, samua yang menguping segera bergegas pergi.

Ai memerhatikan Conan, "Kau hanya tidak ingin mengaku bahwa kau menyukaiku," batin Ai, "dalam hal ini, Shinichi lebih unggul darimu."

Melihat dirinya diperhatikan oleh Ai, Conan berujar iseng, "kau belum kehilangan harapan, jika kau ingin memcariku, Ai-chan."

"Jangan bercanda," dengus Ai.

"Kau tidak senang?" tanya Conan berpura-pura serius.

"Kau tidak bisa mengerjaiku dengan level-mu yang sekarang, Co-chan," kata Ai sambil berdiri dan pergi pulang. Dalam hatinya, Ai berharap Conan benar-benar serius mengatakannya.

Dan dalam hati Conan, dia mengutuki dirinya yang belum juga bisa berterus terang. Dalam hatinya, dia mantap ingin melupakan Ran. Dan menurutnya, kehadiran Ai dalam hidupnya akan membuatnya mewujudkan tujuannya itu. Dan itu juga akan menjadikan dirinya mendampingi Ai selamanya. Two birds with one stone. Inilah kehidupan barunya. Kisah barunya.


Bagaimana?

Kali ini kubuat pendek saja. Terima kasih bagi kalian yang masih menunggu dan bagi kalian yang masih mau membaca cerita ini.

Aku baru sadar masalah lain dalam menulis. Membangun mood menulis. Sebelumnya aku menulis dengan semangat. Tapi, setelah lama tidak menulis, mood-ku jadi berantakan. Tapi, karena aku sudah mulai menulis lagi, mood-ku membaik. Terima kasih review-review kalian. Para silent readers, terima kasih telah membaca ceritaku ya...

Akhir kata, Review, Please!