Disclaimer :

Detective Conan adalah milik Aoyama Gosho

Balasan Untuk Reviewers:

Misyel: Semankin Bagus? Waw! Terima kasih. Hehe. Keduanya memang sudah sadar satu sama lain. Tapi, yang sadar perasaan yang lainnya cuma Ai. :D

Someone: Ini upadatenya!

Kudo jr: Waaah! Terima Kasih! Pujianmu sangat tinggi! Padahal ini karya pertamaku. Tamatnya, mungkin 2-3 cahpter lagi. Tidak banyak ide yang tersisa. Ini updatenya! XD

Enji86: Yaah... benar. Ai memang pelarian Conan jika pelarian yang dimaksud, seperti cara pandang senpai. Sampai saat ini, Ai memang belum mengakui bahwa dia pelarian. :)

Uwaa kata-kata merebut ini agak mengganggu. Memang Ai membuat obat itu, tapi kan Conan/Shinichi yang dengan seenaknya meminumnya. Jadi, aku berpendapat ini hadiah bagi Ai tanpa harus menyakiti Ran. Jadi dia tetap bahagia dengan ini. Itu sih yang kuusahakan. Jadi, maaf kalau nantinya Ai tetap bahagia. XD

Catatan Penulis:

Chapter ini lebih pendek dari yang sebelumnya. Karena entah kenapa aku merasa waktuku semakin sempit. Semoga kalian suka! Mungkin dari judul, kalian bisa menebak sendiri apa isi dari cerita ini. :)

Sekarang, kupersembahkan kisah ini pada para readers dan reviewers.


The King and The Queen

By Byzan

2 Tahun kemudian

Kelas 3-C SMP Teitan

"Minggu depan akan diadakan pemilihan Raja dan Ratu SMP Teitan," ucap Kobayashi mengumumkan rapatnya minggu kemarin. Yah, inilah keputusan pada awal tahun ajaran Conan yang ketiga di SMP Teitan.

Sontak kelas menjadi ribut. Kecuali dua orang yang malas mendengar pengumuman tersebut. Tentu saja kedua orang itu adalah Conan dan Ai. Sementara kelas ribut, Kobayashi memerhatikan kedua anak tersebut. Biasanya anak normal manapun akan meributkan hal ini setelah pengumuman ini. Tapi mereka memang… yaaah, bisa dibilang tidak normal.

Mereka terlalu pintar sampai terasa aneh. Dan sering kali terlalu dewasa. Rasanya mereka tidak sepatutnya ada di kelas ini. Tidak pula di SMA. Mereka melampaui pelajaran itu semua, hampir semuanya di luar kepala. Tapi, sebagai guru, tentu Kobayashi sangat senang dengan prestasi mereka.

"Kobayashi-sensei," ucap Ai sambil menepuk lengan gurunya, "Bukankah seharusnya anda menertibkan kelas ini?"

"Eh, Ai? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Kobayashi terkejut.

"Aku sudah memanggil Sensei berkali-kali, jadi kupikir Sensei melamun," jawab Ai dan lalu kembali ke tempat duduknya di sebelah Conan. Conan terlihat bicara pada Ai dan dijawab singkat oleh Ai.

"Lagi-lagi anak ini bersikap dewasa," batin Kobayashi.

"Harap tenang, anak-anak!" seru Kobayashi menenangkan kelas. Lalu keributan kelas mulai mereda.

"Tiap kelas diminta memilih calon Raja dan Ratu untuk memberikan pidato satu minggu lagi sebagai penentuan pemilihan Raja dan Ratu kita, SMP Teitan," seru Kobayashi pada seluruh kelas, "Pertanyaan?"

Ayumi mengangkat tangan. "Ya, Yoshida?" tanya Kobayashi.

"Apakah pasangan dari kelas yang dipilih, atau perorangnya?" tanya Ayumi.

"Pasangan. Jadi yang akan berpidato nanti adalah yang laki-laki untuk mewakili kelasnya," ucap Kobayashi tersenyum.

Conan mengangkat tangan. "Ya, Kudo?" tanya Kobayashi.

"Untuk apa SMP Teitan menunjuk Raja dan Ratu?" tanya Conan malas.

"Simbol dan contoh bagi murid SMP Teitan," ujar Kobayashi tampak bangga, "Itu tujuannya."

"Dengan kata lain, yang terpilih harus memiliki hal yang bagus dalam personalitas, kemampuan akademis, kharisma, dan hal lainnya yang akan menunjukkan sekolah ini sebagai sekolah yang bagus," komentar Ai.

"Tepat, maka dari itu…" ujar Kobayashi menggantung, "guru dan murid yang akan memilih."

"Kalau akademis dan kharisma, kita punya Conan dan Ai yang memenuhi itu semua kan?" seru Genta pada semua anak.

Akibatnya, ada anak yang setuju dan tidak. Yang tidak, tentu saja penggemar Conan dan Ai. Mereka semua ingin bersanding sebagai Raja dan Ratu. Atau setidaknya sebagai wakil kelas bersama. Mitsuhiko dan Ayumi juga termasuk dalam kelompok ini. Dan yang setuju, kebetulan banyak dari kelas ini yang bersikap netral terhadap Ai dan Conan, dan memiliki rasa hormat yang tinggi pada mereka berdua dikarenakan banyak hal.

Namun, keduanya tampak tidak berminat, dan mereka merasa percuma mendebat untuk mengundurkan diri. Dilihat dari sisi manapun, mereka unggul. Bahkan Kobayashi sampai juga menyatakan persetujuannya. Meski ada yang ingin menggantikan posisi salah satu dari kedua kandidat. Tapi, kedua kandidat tidak menginginkan untuk dipilih. Karena yang semua yang tidak menyutujui ingin mendampingi Conan atau Ai, mereka menjadi tidak berminat untuk mengambil kesempatan itu karena Conan dan Ai ingin mundur. Akibatnya, tidak ada yang ingin mendapatkan posisi itu, sehingga Conan dan Ai mengalah untuk mengambil posisi itu.

—X—

Jam istirahat

"Genta, kenapa kamu mengusulkan Conan dan Ai menjadi wakil dari kelas kita?" tanya Ayumi. Dia merasa Genta-lah penyebab dari terpilihnya Conan dan Ai.

"Tentu saja karena mereka cocok," jawab Genta. Sontak yang lain memandang Genta terkejut.

"Apa maksudmu cocok?" tanya Mitsuhiko geram, "Mereka cocok jadi pasangan, begitu?"

"Benar begitu Genta?" tanya Ayumi.

"Siapa bilang, mereka memang cocok 'kan?" ucap Genta nyengir penuh arti karena menangkap kecemburuan dari nada bicara Mitsuhiko dan Ayumi, "Bahkan Kobayashi-sensei setuju denganku."

"Tapi mereka berdua tidak mau," kata Ayumi.

"Tapi, akhirnya mereka mau," bela Genta.

"Tapi, itu terpaksa," sahut Mitsuhiko tidak mau kalah.

"Itu bukan masalah selama mereka setuju," ucap Genta akhirnya, "Lagi pula, kenapa kalian tidak suka jika Conan dan Ai terpilih? Bukankah itu bagus? Anggota dari Detektif Teitan menjadi Raja dan Ratu SMP Teitan."

Ayumi dan Mitsuhiko tampak berpikir. Ai kembali pada majalahnya. Conan menatap Genta. Genta mengacungkan kedua jempol dan tersenyum lebar pada Conan selagi yang lain tidak memerhatikan.

"Dia benar-benar tahu perasaanku," batin Conan kesal karena bisa terbaca oleh Genta.

—X—

"Bagaimana menurutmu pemilihan Ratu dan Raja itu?" tanya Ai setelah berpisah dengan Genta, Ayumi, dan Mitsuhiko saat pulang bersama.

"Haaah?" jawab Conan terkejut.

"Bukan 'hah'. Aku menanyakan hal lain," tegur Ai.

"Heh. Cocok juga untukmu. Ratu," bisik Conan.

"Aku tidak tuli, Conan," jawab Ai kesal, "aku mendengar dengan jelas."

"Hahaha," tawa Conan.

"Jangan tertawa," ucap Ai dengan tatapan membunuhnya.

"Maaf, Ai-chan," ucap Conan tersenyum. Entah kapan dia sudah mulai terbiasa dengan 'tatapan' Ai hingga dia tidak terpengaruh.

"Jawab."

"Menurutku, bagus juga untuk menjadi contoh anak-anak itu. Meskipun nanti akan merepotkan," ujar Conan menerawang langit.

Ai mengangguk. "Jadi, kau akan menyiapkan pidato yang bagus?" tanya Ai.

"Kau sendiri?"

"Jawab aku dulu."

"Iya, iya," jawab Conan. "Aku akan beri pidato singkat saja. Soal terpilih atau tidak, aku tidak begitu peduli."

"Kau bilang bagus jika kau terpilih," ucap Ai, "kenapa sekarang tidak peduli?"

"Tidak apa, karena ada bagusnya terpilih ataupun tidak," jawab Conan.

"Oh, ya? Apa lagi bagusnya kalau terpilih?" tanya Ai iseng.

"Kalaupun terpilih, tidak jelek juga jika menjadi pemimpin bersamamu," jawab Conan.

Ai hanya bisa membelalakkan matanya, sedikit tersipu.

Kemudian, mereka berjalan dalam diam. Keduanya jadi agak kikuk. Conan memang mulai makin berani. Dia makin sering mengungkapkan hal-hal seperti itu.

"Ah, ini rumahmu," ucap Conan tiba-tiba, "kalau begitu… sampai jumpa besok, Ai," ujar Conan tersenyum dan mulai melangkah pergi.

"Conan," panggil Ai.

"Ya?" jawab Conan berbalik

"Menurutmu, kita pasti terpilih?" tanya Ai.

"Kalau siswa juga memilih, ingat saja berapa hadiah yang kita terima pada valentine tahun lalu," ucap Conan nyengir. Setelahnya, dia segera masuk ke dalam Rumahnya.

Ai hanya tersenyum teringat ucapan Conan beberapa saat tadi. Kalaupun terpilih, tidak jelek juga jika menjadi pemimpin bersamamu. Lalu dia bergegas ke dalam rumahnya.

—X—

"Aku pulang," sapa Conan saat masuk ke rumahnya.

"Selamat datang," sapa Ran yang sedang menggendong bayinya. Conan tersenyum.

"Aku pulang, Yamato-chan," sapa Conan pada bayi yang digendong Ran. Bayi satu tahun itu hanya tertawa. Conan tersenyum lagi.

"Di mana Niichan?" tanya Conan pada Ran.

"Kasus. Seperti biasa," ucap Ran sebal, "selalu saja tergila-gila dengan kasus."

Conan tersenyum maklum. Begitulah dirinya dan kakaknya itu. "Benar-benar seperti biasa 'kan? Berarti tidak ada masalah dengannya."

"Kau benar," ucap Ran tersenyum.

"Tapi memang kadang seharusnya dia lebih sering di Rumah. Akan kukatakan pada Niichan nanti," Conan baru akan pergi ke kamarnya sebelum dipanggil oleh Ran.

"Ya?" tanya Conan.

"Bagaimana denganmu dan Ai?" tanya Ran usil, "Baik-baik saja 'kan?"

"Iya. Baik-baik saja," ucap Conan datar.

"Kapan akan kau utarakan?" tanya Ran tersenyum lembut.

"Itu…" ucap Conan menggantung.

"Itu?"

"Tergantung pada waktu yang tepat. Dan Neechan tidak harus tau itu kapan 'kan?" ucap Conan tersenyum, "Lebih bagus kalau aku pulang dengan membawa berita itu secara tiba-tiba."

Lalu Conan pergi beranjak ke kamarnya. Mengganti baju dan merebahkan diri di kasur, memekirkan apa yang diucapkan oleh Ran tadi.

"Memang benar. Sudah lama aku teralih pada Ai meski aku masih menyayangi Ran. Itu tidak bisa dipungkiri lagi. Dia keluargaku. Haaah… kapan akan kusampaikan padanya ya?" batin Conan galau.

Handphone Conan bergetar sebentar. Menandakan pesan yang masuk. Conan mengambil benda itu dengan malas.

"Kau benar-benar ingin memimpin bersamaku?" Conan terkejut bukan main mendapat pesan seperti itu dari Ai.

"Kau juga mau?" tanya Conan balik.

"Kalau begitu, kita kuasai SMP itu di tahun terakhir ini." Conan tersenyum mendapat balasan itu.

"Yaah… bagus juga. Anak-anak kelas 3 SMP itu jadi bisa tenang dengan ujian mereka. Mari lakukan."

Setelahnya tidak ada balasan ataupun keinginan mengirim pesan. Conan hanya tersenyum riang, menikmati kesepakatan mereka.

—X—

Satu Minggu Kemudian

Aula SMP Teitan

"Ya! Itu dia pidato dari kelas 3-B. Terakhir, adalah pidato yang akan disampaikan oleh Kelas 3-C, Conan Kudo dan Ai Haibara," ucap pembawa acara semangat. Lalu, naiklah Conan dan Ai ke atas panggung dengan tenang dan disambut tepuk tangan antusias dari banyak orang. Jelas kalau mereka menantikan pidato kali ini.

Conan menguasai mike untuk menyampaikan pidatonya sebagia wakil. Setelah member hormat pada para guru dan mengamati semua temannya beberapa saat, Conan mulai bicara, "Teman-teman dan para Guru sekalian, mungkin sebagian besar dari kalian mengetahui siapa kami, dan bagaimana kami bersikap. Atau mungkin kalian hanya mengetahui itu dari teman-teman kalian. Itu bukan masalah. Seperti yang kita ketahui bersama, tujuan utama dari pemilihan Raja dan Ratu SMP Teitan adalah menentukan simbol serta contoh bagi para murid di SMP ini. Kuharap, kalian bisa dengan bijak menentukan siapa yang paling pantas mendapatkannya. Teman-teman kita yang telah maju kedepan, telah menyampaikan apa yang akan mereka lakukan dengan gelar itu jika jatuh pada mereka. Kami sendiri tidak beda jauh dengan mereka dalam hal janji. Kami akan mencoba menjadi contoh dan simbol yang baik bagi kalian. Terima Kasih."

Semua terdiam. Tidak siap dengan pidato singkat itu. Setelah yang lainnya berpidato jauh lebih lama, pasangan Conan dan Ai hanya berpidato dengan singkat dan langsung ke tujuan dari pemilihan Raja dan Ratu SMP Teitan, sekaligus mengumumkan bagaimana mereka bersikap. Ditambah dengan kharisma yang mereka keluarkan, mereka membuat semua yakin bahwa yang mereka katakan adalah fakta dan benar.

Dengan pidato itu, pemilihan suara didominasi oleh pasangan Conan dan Ai. Sehingga mereka terpilih menjadi Raja dan Ratu SMP Teitan.

—X—

Saat Conan hanya tinggal berdua dengan Ai. Ai memulai pembicaraan.

"Raja. Cocok dengan sifat sombongmu, eh?"

"Itu juga berlaku untukmu, Ratu dengan sifat dinginmu itu," balas Conan.

Saat mereka akan berpisah di depan rumah Ai, ada dua orang yang sedang berpacaran melewat mereka. Dan Conan memperhatikan mereka. Sementara Ai memperhatikan Conan. Dari pengamatan Ai, Conan membayangkan dirinya bersama seseorang. Dan Ai berharap dan tahu, itu adalah dia.

Lalu Ai berkata, "Tak sabar punya pacar, Tantei-kun?"

"Hah? Ap-apa?" Conan bingung gelagapan dan bingung dengan awal pembicaraan yang tiba-tiba itu.

"Mungkin dengan gelar Raja itu, kau bisa merebut istri orang dengan mudah, bukan?" ejek Ai.

Conan berhenti melangkah tepat di sebelah Ai.

BRUK

Conan mendorong Ai ke tembok di depan rumah Ai dengan kedua tangannya di bahu Ai. Lalu Conan mendekatkan wajahnya pada Ai. Orang yang melihatnya, mungkin akan menyaksikan ini sebagai adegan romatis. Tapi tidak bagi Ai yang melihat dengan jelas mata Conan. Penuh amarah.

"Kau keterlaluan, Haibara!" bisik Conan dengan nada permusuhan. Lalu, Conan segera pergi dari sana menuju rumahnya, meninggalkan Ai dengan wajah terkejut.


Bagaimana?

Yang paling sulit di chapter ini adalah bagian pidato. Karena aku tidak berpengalaman dalam hal itu. Apakah kalian lebih suka cerita yang pendek seperti ini, atau panjang seperti yang dulu? Mohon Jawabannya ya?

Akhir kata, Review, Please!