Disclaimer :

Detective Conan adalah milik Aoyama Gosho

Balasan Untuk Reviewers:

otaku-chan: Baiklah. Kubuat jadi agak lambat kalau bisa. Hehe. Dan chapter ini, salah satu tulisan terpanjangku juga. Hope you like it. :)

conan-chan: jawabannya ada di sini! :) maaf ya updatenya tidak sesuai jadwal. :(

: Adegan konfilk. Waduh. Entah yang ini bisa disebut konflik atau nggak. Heheha. Maaf kalau kurang berkenan. :(

KidMoonLight: Ini dia yang kamu nanti! :P Maaf ya udah bikin Kid penasaran. :)

Enji86: Ya... chapter sebelumnya, aku memang tidak memasukan detail tentang hubungan mereka. Di sini, ada 'sedikit' cerita tentang hubungan mereka 2 tahun lalu. Aku tidak tahu kenapa Ai bisa tidak bahagia dengan ini, apa karena Author yang tidak paham sifat Ai, atau karena Author seorang laki-laki jadi tidak begitu mengerti perasaan wanita? Mohon bimbingannya. :)

makmun77: Terima kasih! Kuharap yang ini lebih bagus. :)

Guest: Maaf, maaf. ini kulanjutkan. Shinichi kuhadirkan seperti yang kamu minta. Conan gak move on? Mungkin Author yang gak berpengalaman. Ahahahaha. Mengenai saranmu, lihat chapter ini ya... Maaf lama..

Catatan Penulis:

Kubuat lagi chapter ini jadi lebih panjang. Karena ada yang meminta begitu. Bagi kalian yang tidak suka, maaf ya. Tapi Author jelas tidak bisa memenuhi semua permintaan kalian. Jadi, Author mengambil satu-satunya usulan.

Maaf chapter ini menjadi lama. Bukan karena panjang, tapi karena deadline pekerjaan Author makin dekat. Jadi harus makin fokus ke sana. Author sedang memikirkan kemungkinan update dua kali seimnggu untuk sementara waktu. Mohon pengertiannya ya...

Sekarang, kupersembahkan kisah ini pada para readers dan reviewers.


Pengakuan

By Byzan

Ai sangat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Conan. Terlebih nada yang diucapkan dengan nada penuh permusuhan itu. Juga panggilan Conan yang menggunakan nama belakangnya. Rasanya delapan tahun yang mereka habiskan bersama semenjak pertemuan pertama mereka itu menjadi sia-sia. Dalam delapan tahun itu, Conan mengenalnya dengan membencinya. Kemudian Conan memberikan cahaya dalam hidupnya yang gelap. Pemuda itu juga telah membuat Ai membuka hatinya. Bahkan sampai mecintai pemuda itu, begitu pula sebaliknya. Sampai dua tahun terakhir, mereka menjadi sangat dekat. Bisa dikatakan seperti Shinichi dan Ran semasa dulu. Meski tidak ada hubungan khusus, mereka sangat dekat seperti orang yang pacaran.

Ai bingung dengan reaksi Conan. Dia sering mengejeknya, tapi tidak pernah membuatnya sejengkel tadi. "Tidak. Kata jengkel tidak tepat. Dia marah. Sangat marah. Pasti ada sesuatu yang membuatnya marah seperti tadi," batin Ai. Kurang dari satu detik, dia menyadarinya. "Mungkinkah dia mengira merebut istri orang, berarti merebut Ran?"

"Aku tak bermaksud demikian," bisik Ai pada entah siapa. Dia sebenarnya bermaksud mengartikan teman-teman satu sekolahnya sebagai rakyat, karena merekalah Raja dan Ratu mereka. Dan merebut istri orang maksudnya mengambil salah satu orang dari sekolahnya atau bahkan merebut pacar orang lain. Dia tidak mengerti. Biasanya Conan dan dirinya menggunakan istilah-istilah atau perumpamaan. Tapi kenapa dia tidak mengerti apa yang ingin dikatakannya. Justru dia malah mengartikan ucapan Ai sebagai sesuatau yang paling harfiah.

Ai bingung bagaimana mengatakan hal itu padanya, mengatakan bahwa ini adalah kesalahpahaman. Entah Conan akan percaya atau tidak dengan kata-katanya nanti saat dia mengucapkannya. Mungkin Conan terlalu terkejut hingga tidak berpikir seperti biasanya. Apapun alasan kemarahannya, Ai merasa dia yang kali ini harus meminta maaf pada Conan. Tapi meminta maaf sekarang akan percuma. Dia memutuskan untuk memintanya besok. Maka Ai masuk ke rumahnya dengan tatapan hampa tapi dengan pimikiran yang penuh dan rumit.

—X—

Conan memasuki rumah tanpa mengucapkan apapun. Tidak biasanya, bahkan tidak menyapa Ran atau Takeru yang ada di hadapannya sama sekali.

"Conan-kun," panggil Ran cemas melihat ekspresi Conan yang murka, bingung, dan sedih secara bersamaan. Tapi yang dipanggil diam saja dan terus berjalan menuju kamarnya. Dan menutup pintunya dengan agak keras, untuk kemudian menguncinya.

"Ada apa dengannya?" tanya Yukiko pada Ran saat melihat anaknya terlihat… kesal.

"Entahlah," ucap Ran menggelengkan kepalanya, "ketika pulang dia tidak menyapa aku atau Takeru-chan. Kupanggil dia bahkan tidak repot-repot untuk menoleh." Memang hal itu sangat aneh. Conan selalu berlaku baik pada Ran, juga Takeru.

"Apa ada kejadian 'menarik' di sekolahnya, ya?" tanya Yukiko pada dirinya sendiri.

"Menarik?" tanya Ran bingung.

"Hal-hal yang membuat Co-chan seperti itu pasti menarik bukan?" jawab Yukiko mengedipkan sebelah matanya, "Aku akan membantunya lewat bayang-bayang."

"Jadi, menurut Ibu, apa yang akan kita lakukan?" tanya Ran tersenyum kecil, melihat tingkah mertuanya yang khas dan tidak berubah sejak dulu.

"Pertama, berarti teman-temannya," Yukiko tersenyum jenaka.

"Berarti Ai?" tanya Ran memastikan dengan senyum jenakanya juga, namun lebih lembut.

"Kau sangat mengerti dan perhatian kepada mereka ya?" senyum usil Yukiko muncul seolah ingin sedikit mengganggu Ran.

Ran sempat bingung karena mengenal senyum mertuanya itu, namun dia berucap, "Yaah… aku mengenal mereka sejak kecil kan?"

"Lebih dari itu…" Yukiko menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri di samping wajahnya menunjukkan jawaban Ran yang kurang tepat, "Mereka memiliki keadaan yang mirip denganmu dan Shin-chan dulu." Jawab Yukiko senang.

"Ibu…" ucap Ran seolah kesal, yang direspon dengan senyum jenaka mertuanya.

"Daripada itu, apa yang bisa kulakukan untuk membantu?" tanya Ran .

"Semua ada waktunya," ucap Yukiko, "Tapi pertama, beritahu suamimu, dan jangan mengambil tindakan apapun sebelum kita berdiskusi."

"Aku harus bilang apa padanya?"

"Katakan untung meluangkan waktu setidaknya hari Minggu nanti."

Ran mengangguk, lalu bertanya lagi, "Bagaimana dengan Ayah?"

"Dia terlalu sibuk dengan urusannya, dia juga tidak akan banyak membantu jika kita mengajaknya. Sekarang, ayo mulai," ucap Yukiko seraya pergi menuju rumah tetangganya. Ran yang melihatnya tersenyum dan mulai menelpon suaminya.

—X—

Shinichi mengangkat handphone-nya yang bergetar. Telepon dari Ran. Kebetulan dia sedang ada di Kantornya dan tidak ada urusan mendesak. Jadi dia mengangkatnya.

"Halo, Ran. Ada apa?"

"Soal Conan," jawab Ran lembut, namun agak sedikit cemas.

"Ada apa dengannya?" tanya Shinichi agak awas karena mendengar nada cemas Ran.

Kemudian Ran menceritakan apa yang baru dialami. Lalu berucap, "Ibu bilang dia minta kau meluangkan waktu untuknya hari Minggu ini."

"Hm? Berarti 4 hari lagi ya? Baiklah akan kuuasahakan," jawab Shinichi, "Dasar. Bukannya Ibu biarkan saja dia agar belajar dengan sendirinya."

"Shinichi… kau tahu apa yang terjadi dengannya?"

"Tidak. Tapi aku bisa menebak."

"Begitu? Menurutmu apa?"

"Kau sama tahunya. Kita mirip dengan mereka dulu, yaah… meski aku tidak pernah sebegitu marahnya padamu. Entah apa yang terjadi diantara mereka."

"Yaah… tapi Ai tidak pernah menunggu Conan kembali selama bertahun-tahun."

"Sayang, jangan bahas itu lagi, kumohon," ujar Shinichi memutar bola matanya.

"Hihihi… iya aku tahu."

"Jadi, apa rencana Ibu?"

"Belum tahu. Katanya jangan melakukan apapun sebelum kita bertiga berdiskusi."

"Haaah? Lalu kenapa Ibu sudah menyuruhku meluangkan waktu?"

"Harusnya kau yang beritahu aku, kau detektif dan anaknya kan?"

"Dia salah satu kasus tersulitku, terlebih soal rencana dan urusannya yang ini," jawab Shinichi frustasi karena tidak bisa menebak, "tapi, kau juga harus meluangkan waktu hari Minggu ini ya?"

"Tidak perlu diminta, selama Takeru-chan tidak bisa ditinggal Ibunya, kau pikir ada yang bisa kulakuan selain tinggal di rumah?"

"Hahahaha… Benar. Tapi kau senang juga kan bisa bersama Takeru-chan?" tanya Shinichi.

"Tentu saja, meskipun memang merepotkan memiliki bayi tanpa suaminya disisinya," jawab Ran pura-pura kesal.

"Oi, oi, Ran. Berhenti mengejekku," jawab Shinichi yang kesal.

"Ehehehe… maaf, maaf," jawab Ran, bersamaan dengan itu, suara tangis bayi terdengar. "Eh? Maaf Shinichi, sepertinya Takeru-chan meminta perhatianku."

"Iya. Baik-baiklah di rumah. Jangan terlalu pikirkan Conan. Ibu bisa mengurusnya."

"Baiklah. Kau juga. Hati-hati ya. Ingat Takeru-chan munuggumu," jawab Ran mengingatkan.

"Iya, sudah ya, jaa~" bersamaan dengan itu, Shinichi mematikan handphone -nya.

Shinichi kemudian menatap langit-langit Kantor Detektif Swasta miliknya. Meskipun tidak melanjutkan SMA, dia telah membuktikan pada seluruh Jepang, juga Internasional melalui kasus Kaito Kid yang sering muncul, bahwa dirinya adalah detektif handal. Meskipun sempat menghilang, dengan menunjukkan dirinya sedikit pada dunia, dia dengan cepat mendapat kepercayaan untuk menangani banyak sekali kasus. Sehingga dia akhirnya membuka Kantor Detektif Swasta ini, dan langsung ditanggapi positif oleh masyarakat dengan banyaknya hal negative yang dilaporkan kepadanya.

Conan memang adik yang menyebalkan. Dengan tubuh SMP seperti itu, dia sudah mendapat banyak kepercayaan sebanyak dirinya sekarang ini. Mungkin harga yang pantas untuk Conan dan juga dirinya. Mengingat dia meruntuhkan organisasi paling mengerikan se-Jepang, dan perwakilan FBI secara tidak resmi mengucapkan terima kasih pada mereka berdua, ketika James dan Jodie datang kembali untuk mengunjungi mereka dan membeberkan hal itu pada saat sebuah kasus yang sedang ditangani mereka belum lama setelah kemunculan Shinichi. Hasilnya pihak kepolisian makin percaya ditambah kasus yang diselesaikan Shinichi secara tersembunyi sewaktu dia masih menjadi Conan.

Lebih dari banyak hal, Conan dan dirinya menjadi berbeda. Kemungkinan besar karena Shinichi telah bertemu Ran, dan memiliki keluarga dari kekasihnya itu. Tepatnya, Shinichi berubah lebih banyak dari Conan. Bocah itu berubah setelah kehilangan Ran yang hanya disadari beberapa orang. Dan kedekatannya dengan Ai yang disengaja oleh keduanya tanpa persetujuan yang lainnya, membuat Shinichi dan Conan berbeda makin jauh karena pasangannya orang yang berbeda jauh pula sifatnya.

"Dalam urusan cinta, aku lebih sukses dan paham darimu, Otouto-chan," gumam Shinichi, "Jadi aku akan membantumu sedikit."

—X—

Conan manghadap jendela Kamarnya yang menghadap ke Rumah Agasa. Tapi bukan rumah di depannya yang diperhatikan olehnya. Melainkan langit sore yang mulai menghitam. Tapi dalam pikirannya dia sama sekali mengabaikan hal itu. Pikirannya berkecamuk dengan ucapan singkat Ai. Hanya satu kalimat namun menusuknya hatinya dengan segala cara. Tangannya dikepal sedemikian kuat sehingga buku-buku jarinya memutih.

Dia memikirkan banyak hal. Dimulai dari perhitiannya pada Ai yang lebih dari sekedar teman maupun sahabat. Jelas dia memerhatikan Ai lebih dari itu, meski perlakuan padanya tidak lebih dari sahabat. Sampai ahirnya dia berani melangkah lebih jauh. Selama ini dia tahu bahwa Ai sering diajak kencan atau diminta menjadi pacar oleh banyak orang. Terutama dari sekolahnya.

Conan yang mengetahui penolakan Ai secara datar, membuatnya menjadi makin ciut untuk mengajak Ai seperti yang dilakukannya dulu ketika mengajak Ran. Bahkan dia pernah juga melihat seorang dari teman sekelasnya menembak Ai di hadapan seluruh temannya di kelas itu waktu istirahat. Mungkin dia pikir Ai tidak akan tega menolak anak itu jika di hadapan teman-temannya. Hasilnya Ai malah menolak dengan tegas dan memarahinya karena menembaknya di depan banyak orang.

Ai mengatakan bahwa seharusnya anak itu seharusnya tidak membuat panik orang yang disukainya. Terlebih dengan maksud melemahkan orang yang diinginkannya. Ai bilang padanya bahwa anak itu belum mengerti apa itu cinta, dan melarangnya mempermainkannya terutama jika dia tidak mengerti apa yang dipermainkannya. Kejadian itu membuat anak itu ditertawakan oleh satu kelas. Lain dengan Conan, dia memandang anak itu dengan rasa kasihan. Dia juga merasa makin takut untuk mengutarakan perasaannya pada Ai.

Sampai akhirnya tahun yang lalu, tepat pertengahan semester pertama di tahun kedua mereka membaur di SMP Teitan, Conan memutuskan bahwa tidak baik dia menyembunyikannya. Dia berencana mengatakannya. Di Tropical Land, tempat yang tepat untuk wujud seperti mereka mungkin. Saat itu, di saat istirahat, Conan dan Ai pergi ke atap sekolah, setelah Conan memintanya. Tidak ada yang curiga, mereka berdua memang biasa berdua meski tidak banyak yang suka akan hal itu.

Di atap, Conan mengumpulkan keberaniannya, dan mengajaknya ke Tropical Land. Sementara wajahnya memerah dia menghadap ke arah lain selain wajah Ai, takut terlihat oleh Ai tentang perasaannya. Waktu itu dia takut Ai akan menolak. Dia takut Ai akan mengejeknya. Dia takut Ai akan memarahinya. Dia takut Ai akan menjauhi dirinya. Untunglah hal itu tidak terjadi. Ai menerima ajakannya dengan senang hati. Begitulah anggapan Conan.

Bersama Ai, Conan bersenang-senang di sana. Biasanya Ai memang kelihatannya mengerikan baginya. Tapi, sebenarnya dia gadis yang kesepian karena dunianya yang gelap, namun Conan telah berhasil membawanya keluar dari keterpurukan itu. Meskipun sering kali Ai masih menyebalkan. Tapi Conan mau tidak mau menyukai Ai yang itu. Rasanya ada seseorang didekatnya yang mengerti dunianya, terlebih dia berbagi takdir dengannya.

Conan berencana mengatakan perasaannya pada sore hari di dalam wahana Bianglala. Dia tidak mengerti kenapa banyak orang yang melakukannya. Tapi pikirannya yang tidak begitu romantis membuatnya tidak memiliki banyak pilihan karena dia tidak sabar untuk menyatakannya. Namun begitu, sebagaimana orang lain, makin dekat ia dengan waktu itu, semakin gugup dan takut dirinya.

Flashback

Conan's POV

"Ai, sudah sore," ucapku pada wanita yang kusukai sejak lama, "wahana ini yang terakhir ya?" Aku menunjuk dengan memandang sebuah Bianglala yang tidak begitu ramai.

"Kau ingin ber-nostalgia tentang kehidupanmu dulu di sini, Tantei-kun?" ejek Ai.

"Apa maksudmu?" tanyaku dengan bingung.

"Kau yang tebak sendiri," jawab Ai malas.

"Ran? Sudahlah… itu sudah lama. Nikmati saja apa yang ada di depanmu," jawabku tidak peduli dengan wajah seceria mungkin saat aku gugup dan ketakutan.

"Hmp, kau seperti anak kecil sungguhan. Tapi anak kecil memang kadang benar," Ai menyindir dengan senyum manis yang tak lepas dari wajahnya.

Lalu Ai memasuki Bianglala itu, lalu aku menyusul masuk. Pintu Bianglala tertutup, dan Bianglala mulai bergerak naik.

Di dalam sana, kami terdiam. Dengan pintu yang telah tertutup, rasanya ruangan ini menjadi ruang pribadi kami. Aku ingin mengatakan satu hal. Tapi rasanya sulit sekali. Tubuhku serasa dingin, namun keringat tetap mengalir dari pori-pori kulitku.

Ai juga tidak jauh berbeda. Mungkin dia mengerti apa yang ingin kulakukan di sini. Namun, satu lagi hal lagi yang membuatku kagum padanya. Dia bisa bersikap tenang dalam hampir semua situasi, tidak terkecuali situasi seperti ini. Aku ingin mengatakan satu hal, tapi rasanya malah banyak sekali yang ingin kusampaikan. Aku pun terdiam hingga aku memantapkan hatiku untuk berkata. Saat itu, kami berada tepat di puncak Bianglala.

"Ai…" panggilku menggantung.

"Ya?" Ai menjawab dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Membuatku takut sekaligus berani. Membuatku cemas sekaligus tenang. Itu karena tersirat kebahagian yang ingin selalu kulukiskan di wajahnya. Saat itu, aku berharap dapat memilikinya. Tidak seperti dulu. Dulu aku berpikir bahwa aku rela pergi dari Ran dariku selama dia tersenyum. Sekarang, aku tidak rela pergi, tidak jika tidak bisa membawa senyum itu bersamaku.

"Ada yang ingin kutanyakan padamu, boleh?" ucapku gugup.

"Kau sudah bertanya," ucap Ai santai.

"Ai, kumohon. Ini serius," ucapku agak frustasi.

"Hmph, baik. Bicaralah," ucap Ai seolah agak bingung, namun itu memberiku semangat.

"Aku… senang berada di sini…" ucapku menggantung.

"…" Ai diam dengan senyumnya. Masih sabar menunggu lanjutan ucapanku.

"… bersamamu," ucapku. Ada sedikit ekspresi terkejut di wajah Ai, namun dia tetap masih menguasai dirinya. Sedangkan aku, aku sedikit lega dengan apa yang baru saja kuucapkan. Terlebih reaksi Ai bukanlah hal yang negatif.

"…" Ai masih saja diam menunggu pertanyaanku.

"Apakah… kamu… mau…" sampai sini tenggorokkanku tercekat. Rasanya ada yang menahanku untuk mengatakan kelanjutannya. Namun, aku tahu, akulah yang menahan cuapanku sendiri. Aku ingin sekali mangatakannya. Tapi, kegugupanku telah menjadi musuhku sendiri dengan menahanku melakukan apa yang kuinginkan.

"Apakah… kau mau…" aku mencoba mengulanginya meski aku tahu bahwa itu terlihat konyol, "… pergi bersamaku lain kali?" Itulah ucapan yang ku keluarkan. Namun bukan itu yang ingin kuucapkan.

"Tentu," jawab Ai riang. Namun, sedikit ada raut kecewa di wajahnya. Benarkah? Mungkin saja tidak benar. Mungkin otakku yang tidak berfungsi dengan baik. Mungkin saja aku hanya berharap bahwa Ai ingin aku mengucapakan apa yang ingin kuucapkan sebelumnya.

Dan kami diam dalam keheningan ruang pribadi kami. Sampai akhirnya pintu bianglala terbuka, dan berakhirlah ruang pribadi kami. Bahkan kami pulang dalam diam. Sampai di rumah, Ai hanya mengatakan satu hal padaku, "Terima kasih atas memori hari ini, Conan-kun. Aku akan menantikan ajakanmu seperti yang tadi kau tawarkan."

Dengan itu, dia memasuki rumahnya. Dan aku berajalan menuju rumahku dan merutuki mulutku karena tidak bisa mengucapkan apa yang menjadi tujuan utamaku.

Itulah 'kencan' pertamaku dengan Ai.

End of Flashback

Normal POV

Conan mengingat hari itu sebagai salah satu hari terindahnya meski agak melenceng dari apa yang direncanakannya. Mengingat itu, Conan sedih bukan main. Rasanya seolah waktu itu Ai mengerti perasaannya, tapi baru saja dia mengejeknya tanpa beban sama sekali.

Dulu, pernah juga Conan melihat Ai diganggu oleh temannya—mantan temannya, lebih tepatnya menggodanya. Conang menghampiri orang untuk kemudain berkelahi dengan panggoda itu. Bukan sesuatu yang biasa dilakukan Conan. Mungkin itulah satu-satunya kejadian yang menjadikan Conan terlihat oleh pihak sekolah memiliki sisi gelap; meski teman-temannya mendukung apa yang dilakukan Conan. Akibatnya, Conan dan penggoda itu diberi hukuman skors selama dua minggu.

Selesai mendengar hukumannya, Conan dan penggoda itu keluar, Conan disambut pertanyaan oleh Ai, "Kenapa kau menolongku?"

"Memangnya kenapa?" tanya Conan balik.

"Itu bisa melukaimu kan?" tanya Ai cemas. Dan itu, cukup untuk terima kasih Conan.

"Penggoda ini," ucap Conan menunjuk orang disebelahnya dengan jempolnya, "adalah orang dari klub karate, aku pernah menghadapi yang orang berjenis sama dengan kemampuan yang lebih mengerikan tanpa terluka."

"Bukan begitu," protes Ai, "kau tahu aku bisa menyelesaikannya sendiri. Kenapa kau malah repot-repot membantuku? Lihatlah, image-mu menjadi jelek di mata sekolah."

"Aku hanya perlu meutupinya dengan nilai sempurna di semua mata ujian kan?" ucap Conan nyengir, "Itu bukan masalah, sama sekali bukan."

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Kenapa kau membantuku, sementara kau tahu aku bisa menyelesaikannya sendiri?" tanya Ai.

"Aku percaya dan tahu lebih dari siapapun kecuali dirimu sendiri tentang itu," jawab Conan tersenyum ringan kea rah Ai, "Aku hanya tidak suka kau digoda seolah kau wanita gampangan seperti tadi."

Ai terlihat terkejut. Namun Conan tidak begitu memperhatikannya, malu karena mengatakan hal tadi. Dia hanya ingin mengambil tas di kelasnya, untuk kemuadian pulang dan tidak kembali selama dua minggu. Conan tidak menyadarinya yang mungkin akan disesalinya, dibelakangnnya, Ai tersenyum sangat manis—juga tatapan sayang menatap punggung Conan.

Conan tidak mengerti, semua itu jelas menujukkan perasaannya. Itu jelas baginya, kenapa itu bisa tidak jelas bagi Ai? Apa Ai tidak mau menanggapinya? Conan tidak tahu. Ai tidak menganggapnya. Itu yang Conan putuskan. Sakit? Pasti. Conan merasakan perasaan tidak suka —benci pada apa yang Ai lakukan padanya belum lama ini. Sebelum disadarinya, air matanya mulai menggenangi matanya.

—X—

Ai's POV

Air mataku sudah lama berhenti. Aku termenung menyesal dengan apa yang telah kuucapkan padanya. Terlebih mengingat perhatian Conan yang ditujukan kepadaku. Dari dulu, Conan selalu manjagaku. Saat organisasi berada dekat, saat kasus-kasus besar yang kami berdua namai, seperti Countdown to Heaven dimana Conan memiliki ide untuk melompat dari gedung ke gedung lain, maupun Quarter of Silence, saat kami ditembaki dan Conan berusaha melindungiku. Aku tersenyum kecil karena kami menemai kasus-kasus itu dengan nama yang terdengar aneh dan jadi terkesan kekanakan.

Lalu ada juga saat dimana Conan memukuli orang yang menggodaku satu setengah tahun lalu ketika kami masih kelas satu SMP. Dia bilang alasannya, dia tidak suka dengan perlakuan penggoda itu. Jadi dia memukulinya meski tahu bahwa aku bisa mneyelesaikannya sendiri.

Aku juga dengan bebas melihat dan berekspresi ketika Conan mengajakku pergi 'kencan' untuk pertama kalinya. Aku merasakan wajahku memanas saat itu. Tapi Conan memalingkan wajahnya sehingga tidak melihatku. Tapi aku dengan leluasa melihat kegugupannya dan wajahnya yang memerah. Dia terlihat sangat lucu di mataku. Apalagi dengan sikap gugupnya saat mengajakku. Gugupnya tidak seperti orang-orang yang menembaknya. Dia terlihat lebih gugup. Tapi, justru karena itu aku tahu bahwa dia jujur dan tulus.

TOK TOK

Aku terkejut mendengar suara itu. Kudiamkan saja tapi suara itu. Biasanya Ayah akan mendiamkanku jika dalam ketukan pertamanya aku tidak menjawab. Tapi ketukan itu muncul lagi, lagi, dan lagi. Jadi aku tahu itu bukan Ayah.

"Siapa?" tanyaku kesal.

"Neechan," jawab suara itu. Suara riang yang sangat akrab.

"Eh? Yukiko-nee?" batinku bingung. "Mau apa dia? Aku tidak percaya kalau Conan menceritakan apa yang terjadi padanya. Rasanya itu tidak Conan."

Terdengar bunyi ketukan lagi. Jadi aku buru-buru 'membereskan' wajahku yang berantakan, dan menghampiri pintu untuk membukanya, sambil menyiapkan senyum terbaikku.

Kubuka pintu, dan menyapanya dengan senyum tadi yang kusiapkan, "Neechan? Ada apa?"

"Boleh aku masuk dulu?" tanya Yukiko tersenyum.

"Maaf. Tentu saja. Silakan."

Yukiko-nee duduk di kasurku yang agak berantakan karena tadi aku duduk di sana sambil bersedih. Kemudian dia berkata setelah aku duduk disebelahnya, "Pertanyaanmu tadi, harusnya aku yang mengatakannya. Ada apa dengan Conan? Apa yang Ai-chan bilang padanya?"

"Eh? Dia memberi tahu Neechan?" tanyaku terkejut.

"Hihi," tawanya, "tidak, kau yang baru saja memberitahuku."

Aku tersenyum kecil dan tanpa kusadari menjadi senyum sedih, "Berada dalam wujud ini ternyata membuatku jadi agak bodoh karena terjebak ucapan itu ya?"

"Bukannya bodoh. Tapi situasimu sudah menjadi tenang. Kau sudah terbiasa dengan situasi ini. Yang merupakan hal bagus kan?" ujarnya.

"Benar," ucapku setelah agak terdiam.

"Nah, jadi, ada apa denganmu dan Conan?" tanyanya mulai serius.

"Neechan tidak akan marah kan? Setidaknya sampai aku menyelesaikan cerita dan alasanku melakukannya?" tanyaku memastikan.

"Tentu tidak, Neechan kan tahu kalau kamu 'peduli' pada Co-chan. Pasti ada alasan tertentu atau kesalahpahaman," ujarnya.

Belum lama ini, Neechan menebak perasaanku dan meski aku membantahnya, dia bilang bahwa aku tidak bisa membohonginya. Karena aku terus membantah, dia mengganti kata 'suka' menjadi 'peduli'.

Akhirnya kuceritakan semuanya. Termasuk perkataanku yang kejam. Juga alasanku melakukannya. Lalu kulihat Neechan hanya terdiam hingga aku selesai.

"Jadi, kenapa menurutmu Co-chan marah?" tanyanya tersenyum penuh arti.

"Dia marah karena aku mengatakan kalau aku bisa merebut Ran dari Shinichi," jawabku tanpa ragu.

"…" Neechan terdiam. Seperti menunggu ucapanku selanjutnya.

"Bisa berarti aku menghina keputusannya merelakan Ran," ucapku kali ini agak ragu.

Bibirnya, bibir Neechan, perlahan berubah menjadi senyum sayang. Senyum sayang ketika seorang anak mengakui kesalahannya pada orang tuanya, aku tidak pernah merasakannya, tapi aku pernah melihatnya. Dan merasakannya sungguh berbeda. Neechan seolah mengerti semuanya. Lebih dari bagaimana yang kumengerti. Seolah yang kulakukan adalah kesalahan biasa. Rasanya… ukh, aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Tapi, aku bahagia dengan perhatian ini.

"Hampir, Ai-chan. Hampir," ucap Neechan dalam senyumnya.

"Eh?" tanyaku terkejut, "aku salah?"

"Tidak. Aku bilang hampir," ucap Neechan.

"Neechan, bisa beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin… mungkin Conan mengatakan sesuatu?" tanyaku sambil mencondongkan tubuhku ke arah Neechan.

"Kau yang harus mencari tahu sendiri," ucap Neechan dengann senyum misterius, "Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

"Minta maaf," ucapku merasa didikte seperti anak kecil, "aku tidak tahu apa cukup. Tapi, hanya ini yang bisa kulakukan sekarang ini."

"Kapan?"

"Terpaksa menunggu besok," jawabku. Neechan mengangguk.

"Kalau begitu, selamat berjuang," ucap Neechan sambil berdiri, "Sampai jumpa, Ai-chan."

Dengan kata-kata itu, dia pergi meninggalkanku sendiri. Aku tahu setiap pembicaraanku dengan Neechan jarang sekali merupakan hanya pembicaraan. Biasanya lebih seperti sebuah pelajaran atau bimbingan. Aku mulai memikirkan setiap kata yang tadi kuucapkan dan diucapkannya. Terutama bagian ucapanku yang dibilang hampir tepat tadi. Tapi karena aku masih belum bisa berpikir jernih, aku tidur untuk menenangkan batinku.

—X—

Normal POV

"Berapa lama kau mau mengurung diri?" ucap sebuah suara dari balik pintu dimana Conan berada.

"Mau apa, Niichan?" jawab Conan dengan pertanyaan.

"Aku ingin tahu perasaanmu setelah Ai mengatakan sesuatu padamu."

"Aku benci padanya," ucap Conan. Dia tidak terganggu bagaimana kakaknya bisa mengetahui hal itu.

"Bagus," ucap suara Shinichi tenang, "dengan begitu hubungan kalian aman."

"Apa maksudmu, Niichan?" ejek Conan.

"Aku lebih paham tentang hal ini dari pada dirimu. Akan kuberi kau sesuatu yang bagus." ucap Shinichi, "Kadang benci dan cinta itu letaknya berdekatan."

"Apa maksudmu?" tanya Conan bingung.

"Hmph, itu harus kau cari tahu sendiri," ucap Shinich geli. "Akan lebih baik kalau kau tahu sendiri."

Bersamaan dengan itu, terdengar suara langkah Shinichi yang meninggalkan pintu. Conan memikirkan apa yang tadi diucapkan kakak angkatnya itu. Tidak bisa dipungkiri, Shinichi lebih paham soal ini dari pada dirinya. Tapi, benci dan cinta berdekatan? Dengan cinta, orang bisa membunuh orang lain, begitu pula dengan benci. Tapi… apa hubungannya itu dengan ini? Conan tidak bisa memikirkannya dengan baik. Apalagi perasaannya sedang berkecamuk. Jadi dia berusaha memejamkan matanya agar di bisa tenang di alam bawah sadarnya.

Sementara Shinichi turun dari tangga, dia mengacungkan jempolnya pada Yukiko dan Ran yang menunggunya di bawah. Mereka semua tersenyum dan saling mengangguk.

—X—

Pagi hari, Conan tidak menunggu yang lain seperti biasa untuk pergi sekolah. Dia hanya meninggalkan pesan bahwa dia akan menyelesaikan urusannya, jadi dia tidak berangkat bersama. Padahal niatnya hanya tidak ingin bertatap muka dengan Ai. Dia masih kesal dengan kejadian kemarin.

Di kelas, Ai mencoba bertatap muka dengan Conan. Namun Conan memalingkan wajahnya, tidak sudi melihat Ai. Saat Ai duduk, dia menatap ke depan kelas. Conan dan Ai terlihat canggung, dan sangat terlihat mereka tidak dalam hubungan yang terbaik. Dan seisi kelas, merasakan sesuatu sehingga mereka bergerak-gerak gelisah. Mereka merasakan atmosfer yang berubah menjadi buruk. Terutama di sekitar Raja dan Ratu mereka.

Saat pelajaran, tidak ada yang konsentrasi, bahkan guru pun kerap melakukan kesalahan karena aura dua orang itu yang membuat canggung. Mereka berdua menggunakan poker face terbaik mereka. Tidak seperti biasanya. Biasanya mereka tidak konsentrasi, melihat ke jendela. Atau menatap buku mereka. Namun kali ini mereka berdua menetap dengan sangat cermat kepada guru di kelas. Terlalu cermat sehingga terlalu intens. Mungkin itu yang menyebabkan guru menjadi terganggu. Meski seharusnya mereka senang karena muridnya 'sangat' memeperhatikan.

—X—

Istirahat siang, Conan sedang mengobrol dengan beberapa teman sekelasnya. Ai menghampirinya dengan tujuan berbicara mengenai masalah mereka.

"Conan…" panggil Ai.

"Hm?" jawab Conan, "Ah, kau Haibara, ada apa?"

Nada Conan ramah. Tapi semua yang mendengar terkejut dengan sapaan Conan pada Ai. Tidak biasanya Conan memanggil Ai dengan nama keluarganya. Ai juga terliaht terkejut, tapi tetap berusaha mengendalikan diri.

"Bisa kita bicara berdua?" tatapan Ai berubah menjadi datar, terasa dingin, bagi siapapun yang melihatnya.

"Maaf, bisa lain kali saja?" jawab Conan, "Aku sedang tidak ingin kemana-mana."

"Bagitu?" tanggap Ai datar, lalu kembali ke tempat duduknya.

"Kalau begitu, rencana kedua akan kujalankan nanti, saat pulang sekolah," batin Ai. Dia tahu rencananya mungkin sangat akan mengubah image-nya di depan orang-orang. Tapi itu akan membuat Conan malu juga. Dia tahu, tapi akan membuat Conan tidak memliki tempat untuk menghindar.

—X—

Ketika kelas bubar, dan guru telah keluar, AI tidak menyiakan kesempatan itu. Tepat sebelum ada temannya yang keluar dari kelas, Ai berdiri tepat di samping tempat duduk Conan.

"Conan, maafkan aku tentang apa yang kukatakan kemarin," ucap Ai dengan suara agak keras. Sengaja agar yang lain mendengar. Dia tidak peduli.

"Ap-apa-apaan kau?" ujar Conan berdiri. Yang lain jadi memerhatikan.

"Aku mengatakan hal buruk," ujar Ai membungkukkan sedikit badannya, "maafkan aku." Bukan hal yang biasa melihat Ai melakukan itu. Meminta maaf saja, tidak semua orang pernah melihatnya. Tontonan yang menarik, mungkin begitu pikir mereka.

"Tch," decih Conan, "tidak bisakah kau meminta maaf di tempat yang lebih ber-privasi."

"Aku sudah mencoba, tapi kau tidak mau," ujar Ai sedikit tersenyum licik.

"Begitu caramu minta maaf?" ejek Conan, "Kenapa kau minta maaf?" tanya Conan yang juga ingin mempermalukan Ai.

"Aku bilang kalau kau bisa merebut istri orang seenaknya, mungkin kau memikirkan dia. Tapi, bukan itu maksudku."

"Hei! Tidak bisakah kau tidak mengulangi ucapanmu itu?" teriak Conan yang kesal tanpa memedulikan penjelasan Ai.

"Bisa, tapi kau tadi memintaku untuk menjalaskan," ucap Ai masih tenang.

"Oke, jadi bisakah kau menerka kenapa aku marah padamu dengan kata-kata itu? Dan apa penjelasan dari ucapanmu itu?" ujar Conan masih dengan nada tinggi. Conan tidak peduli lagi dengan image-nya. Dia hanya ingin penjelasan.

Semua yang melihat terpaku. Tidak pernah melihat Conan kehilangan control dirinya. Sementara Ai, dia tetap tenang seperti biasa, dia sudah memikirkan ini.

"Kau marah karena aku mengatakan merebut istri orang, tapi kau salah, aku tidak bermaksud DIA yang kau rebut," ucap Ai. Conan tahu siapa 'dia' yang dimaksud Ai, tapi kemarahannya makin memuncak. Tidak terima dengan alasan Ai yang tidak sesua dengan alasan kemarahannya.

"Maksudku adalah-"

"CUKUP!" teriak Conan. Sontak semua kaget, tidak terkecuali Ai.

"Kau sama sekali tidak mengerti! Aku tidak tersinggung karena alasan remeh seperti itu!" ucap Conan yang membuat Ai bingung dalma keterkejutannya.

"Sial!" sumpah Conan. "Aku tidak terimpa perkataanmu itu karena…" ucapan Conan terhenti karena keraguan. Dia mungkin akan merubah image-nya sama sekali.

"Karena ucapanmu menghina perasaanku yang tulus. Kau menghinaku dengan ucapanmu itu. Semua perhatianku padamu, semuanya! Kau seolah tidak menerima atau menanggapi sama sekali tentang perasaanku padamu, huh?" ucap Conan dengan nada tidak beraturan. Kadang marah, sentimental, lega, semua keluar tidak beraturan.

"Aku mencintaimu, Haibara Ai!" teriak Conan didepan semua orang. Dan tentu saja di depan Ai yang dia genggam bahunya saat mengucapkan itu.

Semua terkejut. Tidak terkecuali yang lelaki. Semua penggemar Conan terlihat hampir pingsan. Bahkan Ai terkejut. Sontak Conan mengibaskan kedua tangannya menjauhi Ai. Dia memperhatikan wanita di depannya seksama, melihat ekspresi terkejutnya sambil memandangnya dengan tatapan sayang. Setelah puas, dia beranjak dari tempatnya berdiri, membuat semua orang memeberi jalan, lalu pergi pulang. Lalu semua mulai pulang, kecuali grup Detektif Teitan, sepertinya ingin menenangkan Ai. Terutama Genta dan Mitsuhiko. Dan terlepas dari cintanya yang resmi bertepuk sebelah tangan, Ayumi juga ingin menyemangati Ai.

Ai terkejut. Tidak mampu berkata-kata. Lalu duduk lemas di bangkunya. Menangkupkan wajahnya di atas lipatan tangan. Menangis. Tidak peduli dia ada di depan orang-orang.


Bagaimana?

Apakah pertengakrannya terlalu kaku? Apa kalian suka, sampaikan saran dan kritik kalian dalam review ya? Oh ya, mungkin chapter berikutnya adalah chapter terakhir. Hope you like this chapter.

Akhir kata, Review, Please!