Disclaimer :
Detective Conan adalah milik Aoyama Gosho
Balasan Untuk Reviewers:
erwinsutedjo: Ini adalah Chapter terakhir. Terima kasih review-mu ya!
Deuliaas: Kamu suka tulisan yang panjang ya? Kalo gitu, ini yang lebih panjang lagi! Terima kasih atas dukunganmu!
: Sesekali emang harus jahat dong. Kan gak enak baik-baik terus aja :P Dan kamu benar. Ini chapter terakhir. Terima kasih atas dukunganmu.
Misyel: Ada kata yang aneh? Aduuh. Masih inget gak? Kalau benar salah, aku mau benerin nih. Dan juga, terima kasih dukunganmu ya!
KidMoonLight: Ada di sini nih jawabannya. Dan maaf lama menunggu. Terima kasih sudah menunggu!
Kudo karin23: Senang atau sedih ya? Mungkin keduanya! Hehe. Baca aja deh... Terima kasih reviewmu!
Kudo jr: Errr... aku juga sadar belakangan ini. Mungkin karena aku main game persona 3 fes. Aku menamai tokohku Yamato Takeru. Mungkin kalau kamu suka Eyeshield 21, kamu tahu nama itu. Karena aku suka game itu, jadi saat ingin menulis Takeru, malah kutulis Yamato. Maaf atas ketidaknyamanan ini, jika waktunya ada, akan kuperbaiki. Terima kasih review-mu!
makmun77: Aku juga agak geli pas dapet ide itu. Hahaha. Yup ini terakhir, jadi aku akan berterima kasih atas dukunganmu! Hehe
Rawr: Iya, pas kubaca lagi, ternyata banyak typo. Pengen kuperbaiki, tapi malah berakhir dengan nerusin fic ini. Hahaha. Dan iya, autocorrect memang serng menyebalkan. Aku mau sih. Hanya saja, aku gatau bagaimana memasukkan genre ketiga. Yang kutahu hanya bisa dua genre. Lalu, aku awalnya ingin memperlihatkan persahabatan Conan dan Shinichi. Tapi malah jadi dikit. Mungkin genre friendship-nya saja yang kuubah ya? Terima kasih ya saran dan kesannya! :D
Enji86: Soalnya aku berpikir Ran dan Shinichi canggung karena mereka malu-malu. Bukan karena mereka Shinichi dan Ran. Hehehe. Errr... Author yang sebenarnya bingung. Aku tidak pernah berpikir sampai sana. Maaf, lain kali akan kuperhatikan masalah ini. Soal London, aku sangat tidak memiliki bayangan untuk mengirim mereka ke sana. Menyatakan cinta di depan Elizabeth Tower? Itu malah mirip Ran dan Shinichi. Dan untuk Restoran bersejarah itu, aku menggunakannya di chapter ini, jadi aku hapus pemikiran pernyataan cinta gagal itu. Hahaha. Yaah... kata-kata memarahi memang kejam. Aku mencari kata yang pas waktu itu, tapi aku hanya menemukan kata marah itu. Mungkin menegur akan lebih baik. Aku tidak berpikir Ai curang, ini salah Conan. Tapi, okelah, alasan Senpai masuk akal. Terima kasih, Senpai. Aku selalu belajar banyak melihat review dari Senpai! :D
Lillya Hozikawa: Keren? Terima kasih sekali! Tapi, memang aku masih sering salah di typo. Kuharap ide obat ini juga yang pertama kalinya. Hehehe... Terima kasih sudah berbaik hati mem-fave fic pertamaku ini. Sangat berarti lho! Maaf ya, chapter ini lama keluarnya. Salam kenal juga Lillya-san. :D
Dark terror: Banyak? Benar kah? Seberapa banyak? Aku belum melihat terlalu banyak. Ada sih yang mirip-mirip juga. Aku senang. Maaf update-nya gak kilat. :(
Nadia shakira: Ending romantis? Err... aku minta pendapatmu nanti aja ya. Ahahahaha...
Shirawashi-me No Akuma: Waah langsung dibaca 9 chapter. Berarti kamu benar-benar suka fic ini ya? Terima kasih!
EufrasiaHaibara: Lanjutannya lama ya? Maaf. Salam kenal! :)
Kudo Jr: Maaf lama. Aku kebingungan bagaimana menulis ide di kepalaku ini. Maaf sekali lagi.
Guest: Terima kasih review kalian. Selanjutnya, sertakan nama ya? Supaya aku bisa membalas review kalian satu persatu. :)
Catatan Penulis:
Ini chapter terpanjang yang pernah kubuat. Malah tulisan terpanjang yang pernah kubuat.
Maaf fic ini lama sekali kusediakan untuk kalian. Pekerjaanku banyak. Juga saat aku ingin menulis, aku tidak bisa menuangkan ideku.
Apa ini Writer's Block itu? Aku sejujurnya tidak begitu tahu. Mungkin kalian lebih tahu.
Terlebih, aku selalu mencari tempat yang sepi untuk menulis. Karena aku malu jika tulisanku dibaca. Apalagi belum selesai. Keluargaku banyak. Kamarku juga sering diserang sebagi tempat obrolan. Alasan menyedihkan. Maaf untuk kalian yang menunggu chapter ini.
Ini menjadi chapter terakhir cerita ini. Kuharap aku tidak melanjutkannya di cerita ini. Akan sangat memalukan jika sudah kusebut chapter terkahir tapi aku malah melanjutkannya. Hahaha
Sekarang, kupersembahkan kisah ini pada para readers dan reviewers.
Case Closed
By Byzan
"Ai-chan…" panggil Ayumi pada Ai yang masih terisak dalam kedua lengannya.
"Sialan!" umpat Mitsuhiko, "Apa-apaan Conan itu? Menyatakan cinta dengan amarah? Tidak mungkin dia memarahi Ai kalau memang mencintainya."
Genta hanya diam. Dia menyalahkan perkataan Mitsuhiko barusan. Dia hanya tidak ingin mendapat marah dari Mitsuhiko juga. Mengoreksinya sekarang hanya memperburuk keadaan.
"Biar kuberi pelajaran anak itu karena memarahimu, Ai," ucap Mitsuhiko cepat seraya mulai pergi dari perkumpulan itu. Jelas sekali anak itu ingin mendapat perhatian dari Ai. Namun, Genta menahannya. Genta tahu bahwa Conan memiliki alasan yang lebih rumit dari sekedar memarahi Ai.
"Kenapa kau membelanya, Genta?" tanya Mitsuhiko dengan nada permusuhan. Namun, Genta diam tidak menjawab.
Tapi, Ai mengangkat wajahnya, dan dengan ekspresi mengerikan dia menggumamkan sebuah kalimat yang nadanya hanya digunakannya jika sedang sangat marah, "Kalau kau memberinya 'pelajaran' itu, Mitsuhiko…" gantung Ai sesaat untuk memberi kesan serius—yang tidak perlu, "aku sendiri yang akan membalasmu."
"A-Ai…" ucap Mitsuhiko gugup dan takut karena ditatap se-intens itu itu oleh Ai yang sedang menyandang wajah marahnya. Mitsuhiko melihat wajah marah Ai yang sangat kontras dengan air mata yang masih tersisa di wajah Ai. Mitsuhiko memilih tutup mulut. Tidak jadi mengucapkan kalimat pertanyaan terhadap pembelaan Ai kepada Conan.
Genta menyeret Mitsuhiko keluar dari kelas—yang diprotes Mitsuhiko—untuk bicara.
—X—
"Ini tidak sesederhana yang kau lihat, Mitsuhiko."
"Apa sih maksudmu?" ucap Mitsuhiko dengan suara cukup keras yang tidak dibutuhkan.
"Tenang," ucap Genta dengan tenang, "menurutmu, apa yang barusan terjadi antar Conan dengan Ai?"
"Jelas saja Conan mengucapkan kalimat asal-asalan dalam amarahnya," ucap Mitsuhiko agak bingung namun masih dengan emosi, "dia tidak mungkin marah pada Ai jika mencintai Ai."
"Sudah kuduga," ucap Genta masih dengan tenangnya, "aku tepat barada dibelakang Ai ketika Conan menyatakan cintanya pada Ai…"
"Apa hubungannya?" potong Mitsuhiko.
"Jangan memotong ucapanku jika ingin mendapat penjelasan yang menyeluruh," ucap Genta kesal, "kau detektif 'kan? Jangan memotong ucapan seseorang untuk mendapatkan semua yang diperlukan. Ingat? Itu yang diucapkan Ai."
"Maaf," ucap Mitsuhiko menyesal dan mulai tenang, "silahkan lanjutkan."
"Aku melihat ekspresi Conan, dan tentu saja matanya…" gantung Genta untuk memberi penekanan pada kalimat berikutnya, dan menatap Mitsuhiko dengan lebih intens agar temannya itu tidak memotong ucapannya lagi, "Conan serius, dia mengatakan itu karena dia memang mencintai Ai."
"Tidak mungkin," bantah Mitsuhiko hampir bersamaan dengan berakhirnya ucapan Genta, "kalau dia cinta pada Ai, dia tidak mungkin—"
"Mungkin, Mitsuhiko," gumam Genta agaka kesal.
"Tadi kau bilang tidak boleh memotong ucapan orang," gumam Mitsuhiko kesal.
Genta memutar bola matanya, "Kubilang kalau ingin mengetahui penjelasan yang menyeluruh. Tapi kau dari tadi sudah mengucapkannya berkali-kali, jadi aku tahu apa yang ingin kau ucapkan."
"Baiklah, baiklah," ucap Mitsuhiko. Nada yang tadi tegang kini sudah cair karena pernyataannya yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah tadi. "Tapi, bagaimana kau bisa tahu? Aku sendiri sangsi bisa mengetahuinya."
"Aku mengaku aku tidak sepintar Ayumi atau kau, Mitsuhiko. Apalagi jika dibandingkan dengan Conan dan Ai," ucap Genta mulai rileks sambil bersandar pada tembok kelasnya, "tapi soal perasaan dan sejenisnya, kurasa aku bahkan lebih peka daripada Conan."
"Percaya diri sekali kau," ejek Mitsuhiko bercanda.
"Hehehe…" tawa Genta, "Maaf saja, aku belajar dari banyak pengalaman."
"Aku percaya," ucap Mitsuhiko menahan tawa karena ingat masa lalu Genta.
"Tidak usah ditahan, aku juga ingin menertawakannya," ucap Genta.
"Hahahahaha…" akhirnya mereka berduan tertawa bersama.
"Haha… jadi, kau mengerti bahwa ini masalah yang agak rumit 'kan?" ucap Genta di akhir tawanya, "kau tidak bisa mnghakimi Conan tanpa mengetahui kebenaran yang menyeluruh."
"Baiklah, jadi menurut pengalamanmu, pff… apa yang terjadi?" tanya Mitsuhiko diselanya menahan tawa.
Agaknya, meski agak kesal, Genta berhasil membuat pikiran Mitsuhiko tidak terbawa amarah. Ini memudahkannya berdiskusi.
"Menurut pengalamanku… jangan tertawa dulu, Mitsuhiko, sama seperti yang dikatakan Conan. Ai mengucapkan sesuatu yang membuat Conan kesal," ucap Genta.
"Tapi kalau benar-benar cinta, kenapa Conan malah memarahi Ai?" tanya Mitsuhiko.
"Kau masih belum akan mengerti," ucap Genta sombong.
"Sombong sekali kau," canda Mitsuhiko.
"Baiklah, teori singkatnya, kau bisa membenci seseorang yang kau cintai," ujar Genta.
"Maaf?" tanya Mitsuhiko maikin bingung.
"Apa kubilang," ucap Genta, "kau masih belum akan mengerti."
"Kalau begitu, buat aku mengerti!" ucap Mitsuhiko kesal.
"Percuma. Kau harus mengalaminya sendiri baru kau bisa mengerti," ucap Genta final, "ayo masuk, kurasa Ai sudah agak tenang."
Ketika masuk kelas, terdengar suara Ai yang terlihat tenang kembali, "Terima kasih, Ayumi-chan."
"Jadi—"
"Jadi, mari kita pulang," ajak Genta memotong ucapan Mitsuhiko. Mitsuhiko jadi agak kesal dengan ulah Genta.
Ayumi dan Ai membalas ajakan Genta dengan anggukan.
—X—
"Apa-apaan sih?" bisik Mitsuhiko ketika berjalan beriringan dan agak menjauh ke belakang dari Ayumi dan Ai.
"Aku ini menyelamatkanmu. Bisa saja Ai nanti akan marah padamu kalau kau bertanya. Dia baru saja pulih kan?" ucap Genta datar.
"Tapi, dia sudah terlihat tenang kok," kilah Mitsuhiko.
"Bisa saja itulah yang terlihat," jawab Genta.
"Tapi mungkin aku bisa membantu menyelesaikan masalah Ai 'kan?"
"Hmph… supaya kau bisa terlihat keren di mata Ai, begitu?"
"Bu-bukan begitu…" ucap Mitsuhiko gugup, "a-aku hanya kasihan melihatnya begitu."
"Kau tidak bisa membohongiku," ucap Genta usil.
"Y-ya sudahlah. Terserah kau saja," ucap Mitsuhiko yang mempercepat langkahnya menyusul Ayumi dan Ai.
"Hehe, mereka perlu menyelesaikan ini sendiri untuk ujian cinta mereka," batin Genta sambil menyusul Mitsuhiko.
—X—
"Aku pulang," ucap Conan lesu.
"Selamat datang," sapa Ran cerah karena Conan sudah memeberikan sapaan seperti biasanya.
"Uh?" tanya Takeru dalam gendongan Ran. Entah apa artinya.
"Hei, Takeru-chan," ucap Conan menyentuh pipi Takeru dengan telunjuknya.
"Conan, cuci tanganmu dulu sebelum menyentuh Takeru-chan," tegur Ran.
"Hai, Neechan…" ucap Conan masih lesu.
"Kau baik-baik saja, Conan-kun?" tanya Ran.
"Sepertinya," jawab Conan sambil berlalu menuju kamarnya. Jawaban ambigu yang menurut Ran sangat membingungkan.
Ran memperhatikan Conan yang memasuki kamarnya. Dia melihat kalau ada masalah baru yang membuatnya terlihat begitu lesu. Sebelumnya dia pulang dengan wajah murka. Banyak tenaga yang ada dalam dirinya. Sekarang, dia pulang dengan wajah lesu. Jarang sekali dia begitu. Dengan kata lain, ada masalah yang membuatnya merasa terkuras. Kemudian Ran menuju tempat telepon untuk mengabari Yukiko.
—X—
"Sial!" umpat Conan di dalam kamarnya. Dia duduk di sofanya sambil menopang wajahnya dengan satu tangan.
"Kenapa aku menyatakan cintaku dalam amarah seperti itu?" ucap Conan stres, "Sangat buruk rasanya. Namun, agak melegakan."
"Aku mencintainya, tapi kenapa aku memarahinya? Bukankah itu berarti aku tidak menyukainya atau membencinya?" tanya Conan pada diri sendiri.
"Kadang benci dan cinta itu letaknya berdekatan."
Conan teringat akan ucapan kakaknya itu. "Tapi… benarkah begini rasanya? Kenapa aku bisa benci dengan orang yang kucintai? Aneh sekali."
—X—
"Begitu, Bu," ucap Ran mengakhiri kabar apa yang baru saja dilihatnya.
"Hihihi," tawa Yukiko.
"Kenapa Ibu tertawa?" tanya Ran bingung.
"Kau tidak bisa membayangkan sendiri apa yang terjadi?" tanya Yukiko geli.
"Kejadian apa yang bisa membuatnya terkuras setelah apa yang terjadi antara dia dengan Ai?" tanya Ran, "Aku tidak bisa menerka."
"Menurutku, Conan melakukan suatu hal yang menurutnya salah," ucap Yukiko geli.
"Lalu?" tanya Ran, "apa yang membuat Ibu tertawa?"
"Tidakkah kau berpikir kalau Co-chan begitu polos dalam urusan cinta?"
"Benar," jawab Ran tanpa ragu. Itu merupakan hal yang jelas.
"Sekarang, kau bayangkan saja," jawab Yukiko, "apa saja kesalahan yang bisa dilakukan Co-chan."
"Ibu tertawa karena itu?" tanya Ran sangat bingung, "memang Ibu tidak kasihan dengan Conan?"
"Hihihi," tawa Yukiko lagi, "jangan salah. Tentu saja bukan karena itu. Coba pikir, Co-cahn melakukan sesuatu yang menurut dia adalah kesalahan, tapi mungkin saja itu bukan kesalahan. Aku bisa membayangkan wajah dan perasaannya. Hihihi…"
"Ah…" tanggap Ran mulai paham dengan nada geli, "kasihan sih. Tapi, kalau mau dibilang lucu, kejadian itu lucu juga."
"Untuk saat ini, biarkan saja anak itu," ucap Yukiko.
"Tidak apa?" tanya Ran.
"Yup. Mereka akan bertambah dewasa. Dan menurutku, mereka bisa mengatasinya."
"Tapi—" ucapan Ran terpotong oleh tangis Takeru.
"Tidak apa. Anakmu ingin perhatianmu tuh," jawab Yukiko geli, "sudah ya?"
"Iya. Terima kasih, Bu," ucap Ran sambil menutup telepon rumahnya.
"Ibu datang, Takeru-chan," seru Ran pada anaknya.
—X—
Ai memasuki kamarnya seperti biasa. Duduk di atas kasurnya, memeluk kedua lututnya, tatapan kosong ke arah tembok kamarnya. Tanda hatinya sedang tidak… bersahabat? Bukan. Galau mungkin kata yang lebih tepat.
Ai menjadi galau karena pernyataan Conan sore hari di sekolah sangat mengenai hatinya. Conan menyatakan perasaannya, tentu Ai senang. Namun, bersamaan dengan itu, Ai sedih karena Conan memarahinya. Lebih dari itu, dia sedih karena tidak bisa memahami Conan.
Ai telah menunggu dan mengharapkan saat-saat ini. Dimana Conan menyatakan perasaannya padanya. Saat itu, Ai membayangkan bahwa dia akan mengerjainya sedikit dengan melakukan sifat yang sering dikeluarkannya. Sok kuat dan 'jual mahal'. Ai tersenyum pahit mengingat itu semua. Sekarang, rasanya sudah tidak mungkin mengerjai Conan. Kecuali kalau Ai ingin menghancurkan hubungannya dengan Conan. Ai tidak mau mengambil resiko itu.
Air mata sekali lagi keluar dari mata indah milik Ai. Air mata bahagia, sekaligus kesedihan. Bahagia karena laki-laki yang dicintainya menyatakan perasaannya pada dirinya. Juga sedih karena laki-laki itu mungkin sekarang sedang membencinya. Ai tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Meminta maaf? Sekarang ini sudah tidak jelas siapa yang salah. Conan membentaknya, Ai menyakitinya. Ai tahu dia bisa saja meminta maaf. Hanya saja rasanya Ai masih gengsi untuk meminta maaf ketika orang yang ingin dimintanya itu juga melakukan kesalahan padanya. Namun, hatinya tetap akan tersiksa selama dia tidak meminta maaf pada orang yang dicintainya itu.
"Conan-kun…" panggil Ai pelan, "Maafkan aku…"
—X—
Pagi hari di kelas 3-C, Kobayashi menyampaikan perlombaan yang akan diikuti oleh Raja dan Ratu SMP Teitan. Adu cermat seperti biasa yang diikuti oleh beberapa sekolah. Kebetulan adu cermat ini akan diadakan beberapa hari. Jadi mereka berdua akan menginap di sana, ditemani satu guru pembimbing.
"Kenapa yang terpilih harus Raja dan Ratu kita? Kenapa yang lain tidak diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi?" tanya seorang anak laki-laki dari kelas 3-C. Jelas sekali anak itu penggemar Ai yang tidak mau Conan berdua dengan Ai di luar kota.
"Fakta bahwa mereka adalah Raja dan Ratu bukan penentunya. Ini adu cermat, dan kami pihak guru yakin mereka berdua yang pantas untuk ikut dalam lomba itu. Karena mereka yang ikut lomba juga membawa nama sekolah bersama mereka, kami memilih yang menurut kami adalah yang terbaik," jelas Kobayashi.
Tidak ada yang merespon lagi. Jika ingin meminta keadilan, maka sekolah akan mengadakan lomba cermat. Percuma mengadu cermat dengan dua jenius itu. Yang ada malah akan makin memperlihatkan bahwa mereka berdua lebih pintar dari mereka.
"Sebenarnya, kami pihak guru ingin menanyakan kesediaan kalian, Kudo dan Haibara," ucap Kobayashi. Rasanya agak tidak nyaman. Dia tahu kalau dua anak itu tidak sedang dalam hubungan terbaik mereka. Malah bisa dikatakan terburuk. Kobayashi tahu apa yang terjadi di kelasnya kemarin sore. Tapi, tidak ingin menyebarkan masalah ini, jadi dia tutup mata agar pihak guru tidak mempermasalahkan ini. Demi kebaikan kedua anak itu.
"Jadi, kalian bersedia?" tanya Kobayashi memastikan.
"Baik…" jawab mereka berdua datar dan tanpa ragu. Jauh dari rutinitas mungkin akan bagus untuk menghindar, mereka hampir selalu bosan dengan rutinitas ini. Belum lagi gosip yang masih hangat tentang mereka berdua. Sekaligus, jauh dari orang yang dikenal akan membuat mereka memiliki privasi untuk… yaah, banyak hal.
"Baiklah," ucap Kobayashi bernapas lega, "Adu cermat itu akan berlangsung selama lima hari. Persiapkan diri kalian hari senin minggu depan. Selama itu, kalian bisa berdiskusi apapun. Sehabis pulang sekolah, kalian akan mengikuti pelajaran tambahan untuk persiapan lomba itu. Sekarang kita akan memulai pelajaran kita."
Ai dan Conan hanya bisa menatap tidak percaya dengan pelajaran tambahan yang akan diberikan untuk mereka.
—X—
Pelajaran tambahan. Sudah cukup Ai dan-terutama Conan tersiksa dengan sekolah yang pelajarannya hanyalah pengulangan, mereka malah harus menambahnya dengan pelajaran tambahan yang dirasa tidak diperlukan.
Sepanjang pelajaran tambahan, entah berapa kali mereka menguap. Tersiksa dengan kebosanan karena harus membaca materi pelajaran tambahan dan mengerjakan soal-soal yang diberikan. Belum lagi tidak ada obrolan lain selain dari guru kepada murid, meskipun tidak dilarang untuk saling berbicara. Dan Kobayashi yang membimbing mereka tetap berusaha agar ada obrolan yang keluar dari mulut kedua anak itu.
Sampai mereka menyelesaikan pelajaran tambahan hari itu sekalipun, mereka tidak mengobrol. Dalam perjalanan pulang, mereka saling diam dalam jarak tiga meter. Conan di depan karena dia beranjak pulang lebih dulu. Padahal mereka sama-sama merindukan saat-saat mereka bisa berbicara dengan bebasnya. Namun, karena mereka belum meminta maaf atau memaafkan, mereka tidak berani bicara dengan orang yang selalu mereka impikannya itu.
—X—
"Aku pulang," ucap Conan masih dengan malas dan lesu.
"Kenapa pulang dengan wajah seperti itu?" tanya seorang pemuda dari atas sofa yang didudukinya.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Conan heran. Karena biasanya yang menyambutnya adalah Ran.
"Ini kan rumahku juga," ucap Shinichi tertawa geli, "apa salahnya aku di sini?"
"Tidak apa-apa," ucap Conan seraya pergi menuju kamarnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Shinichi menghentikan langkah Conan.
"Aku akan pergi miggu depan bersama Ai untuk mengikuti sebuah lomba," ujar Conan datar. Sekali lagi, tidak mau repot mengetahui dari mana kakaknya itu mengetahui ada hal yang baru saja terjadi.
"Kesempatan bagus 'kan?" ucap Shinichi tersenyum usil, "siapa guru yang menemani?"
"Buat apa kau tahu?" tanya Conan curiga. Terlebih dengan senyum Shinichi barusan.
"Apa salahnya aku mengetahui pembimbing adikku?" balas Shinichi.
"Berhentilah menggunakan alasan bodoh itu seperti bicara pada anak kecil," ucap Conan sinis.
"Hanya ingin menyampaikan sesuatu padanya," kata Shinichi mengangkat bahu.
"Biar kusampaikan. Berikan pesanmu," tukas Conan.
"Tidak, aku tidak bisa memberikannya padamu."
"Kenapa?"
"Harusnya kau tahu."
"Aku tidak harus tahu," ucap Conan melangkah ke kamarnya.
"Kau makin mirip Ai," komentar Shinichi. Conan hanya mengangkat bahu dan meneruskan kegiatannya mendaki tangga.
"Bagaimana kalau aku yang bertanya Conan-kun?" tanya suara wanita yang jelas-jelas adalah suara Ran.
Conan melihat Shinichi tersenyum menang. Mungkin dia pikir Conan tidak bisa menolak Ran.
"Maaf, Neechan," kata Conan, "kurasa dalam hal ini kalian sedang bekerjasama."
"Hei, hei, Co-chan," tidak peduli bagaimana, suara dan panggilan ini adalah panggilan yang paling disenangi orang itu, Yukiko, ibu Conan sendiri.
Conan mendongak ke atas tangga dimana dia sedang mendakinya. Mendesah.
"Guru yang paling dekat dengan Grup Detektif Teitan," ucap Conan mengalah.
"Siapa?" tanya Yukiko.
Conan menoleh ke belakangnya, "Kau sangat tahu siapa dia 'kan? Niiiichan?" tanya Conan dengan nada kesal dan mengejek pada kata 'Niichan' itu. Lalu Conan melangkah menuju kamarnya meninggalkan Shinichi yang tersenyum menang pada Conan.
"Aku agak merasa buruk memaksa Conan mengatakannya," ucap Ran setelah Conan hilang ke kamarnya.
"Tidak apa Ran," ucap Shinichi tersenyum, "kau tahu ini diperlukan."
"Yup," ucap Yukiko sambil mengambil handphone-nya dan meminta nomor Kobayashi dari Shinichi.
"Kenapa kau bisa punya nomornya, Shin?" tanya Ran agak cemberut. Membuat Shinichi sempat bingung dengan perubahan ekspresi Ran, saat mengerti, dia hanya bisa terkejut.
"Astaga!" seru Shinichi, "Kau cemburu, Ran?"
"T-t-tidak…" ucap Ran memalingkan wajahnya.
"Kutinggal dulu, Shin-chan," ucap Yukiko tersenyum usil sambil membawa handphone Shinichi.
Shinichi menghembuskan napas dengan berat. Kemudian dengan tangannya mengisyaratkan istrinya duduk di sebelahnya. Ran menurut dan duduk di sana dengan wajah masih cemberut.
"Kau benar-benar cemburu ya?" tanya Shinichi.
"…" Ran tidak merespon dengan ucapannya.
"Kau ingat ceritaku dulu, saat kau menanyakan hubunganku dengan Conan sebelum kami menjadi saudara?" tanya Shinichi tanpa mengharapkan jawaban.
Ran hanya mengangguk.
"Benar, aku dan FBI menyelidiki organisasi itu. Dan aku tidak bisa membiarkan kau tanpa pengawasan. Namun, jika kami mengawasimu dengan mencolok, kau bisa jadi sasaran organisasi itu. Maka aku membutuhkan seseorang yang cerdas, yang bisa mengawasimu setiap saat. Hanya terpikirkan seorang anak kecil yang cerdas yang bisa berada di sekitarmu," ujar Shinichi panjang, sedikit mengulang ceritanya.
Ran mengangguk lagi.
Shinichi tersenyum sayang pada istrinya. Kamudian mendekapnya dengan kedua tangannya. Berusaha menyampaikan bahwa rasa sayang dan cintanya hanya untuk Ran.
"Aku memiliki nomornya karena dia memiliki hubungan dengan Conan. Tidak lebih," ujar Shinichi.
Ran mengangguk lagi dan menyandarkankan kepalanya pada pundak Shinichi. Dan mereka berada dalam keheningan yang nyaman, tanpa menyadari tiga pasang mata yang mengawasi. Dua pasang dengan minat, satu pasang dengan kerinduan yang iri. Kedua pasang itu tentu saja Yukiko yang sudah selesai menyampaikan pesan, juga Yusaku yang kebetulan mendengar percakapan mereka saat berada di dapur. Satu pasang mata lagi adalah Conan yang mengingat hubungannya dengan Ai.
—X—
"Minggu yang cerah!" ucap Ran ceria, "Ya 'kan, Conan-kun? Takeru-chan?"
Conan tidak percaya dirinya sedang berada di sebuah taman piknik yang dikunjungi Ran, Shinichi, dan Takeru tentu saja. Tempat mereka dinaungi pohon yang tinggi lebat.
"Pasti ada yang kalian rencanakan, bukan?" batin Conan memandang suami-istri yang sedang bercengkrama dengan tatapan bosan dan kalian-pikir-aku-tidak-tahu miliknya.
Ran yang menyadari tatapan itu berkata pada Conan, "Jangan menatap kami begitu, Conan-kun," pinta Ran, "Lihat! Bahkan Shinichi meluangkan waktu liburnya untuk menemani kita 'kan?"
Conan manatap Shinichi masih dengan pandangan sama, Shinichi hanya melambai jahil padanya. Conan mendesah, "Justru itu yang mencurigakan," batinnya berujar.
Conan lalu medekati Takeru yang sudah mulai belajar berdiri itu, dan mendudukannya di pangkuannya sambil tersenyum pada Ran dan secara tak langsung pada Shinichi yang berada di sebelah Ran.
"Kita akan bersenang-senang hari ini, ya 'kan, Takeru-chan? Ran-neechan?" tanya Conan retoris, namun tetap dengan nada riang. "Mari melupakan hal-hal aneh belakangan ini sejenak," dirinya membatin. Mencoba mencari ruang bernapas untuknya sesaat dari masalahnya dengan Ai, pelajaran di sekolahnya, dan tentu saja pelajaran tambahan dari sekolahnya yang makin menyiksa lima hari belakangan ini.
"Tentu, Conan-kun. Sampai siang ini, kita akan bersenang-senang," ucap Ran dengan senyumnya yang biasa, yang berarti sangat hangat. Conan agak terkejut dengan perasaan yang dia dapatkan dari senyum itu.
Dulu, wajah Conan akan sedikit memerah hanya karena senyum Ran. Sekarang, setelah lama merelakan Ran, setelah lama bersama Ai, kini senyum itu hanya cukup untuk memberikan perasaan yang nyaman. Menenangkan jantungnya. Beda dengan senyum Ai yang akan membuatnya jantungnya berdetak cepat. Namun, tetap saja Conan lebih menyukai apa yang diberikan Ai. Conan tersenyum pahit, mendapati hubungan dirinya dengan Ai yang memburuk belakangan ini.
Dia sangat merindukannya. Ai yang membuatnya dapat berpikir sebagai orang berusia yang seharusnya, dia yang menyindirnya dengan mulutnya yang menawan, dia yang akan menatap Conan tajam ketika mengucapkan hal yang menyindir dirinya, dia yang menatapnya dengan mata tajam namun juga lembut secara bersamaan ketika Conan melakukan sesuatu yang membuatnya senang dan nyaman, dia yang akan melemparkan senyum lembutnya yang jarang itu, dan dia yang dicintainya melebihi apapun saat ini dan selamanya.
Ran menyadari pandangan menerawang Conan. Penuh kerinduan. Ran tahu bahwa adik iparnya itu teringat akan Ai. Jadi dia membiarkannya, hanya agar Conan makin rindu dengan Ai dan mau membangun kembali hububungan mereka yang berantakan. Juga demi kebaikan mereka juga.
Sampai tiba-tiba terdengar banyak sirine polisi, juga ambulans berhenti di bangunan di dekat taman, yang sudah pasti sangat menarik perhatian Shinichi dan Conan. Ran, sebagai orang terdekat mereka, tentu saja menyadarinya.
"Kalian akan pergi ke sana?" tanya Ran.
"…" Conan diam saja, berpikir bahwa piknik ini mungkin agak berarti bagi Ran.
Shinichi mendekati Ran, "Kita ingin Conan menjauh dari masalahnya beberapa minggu belakangan ini, bukan?" tanya Shinichi pada Ran, "Kau tahu, aku tidak ingin meninggalkanmu terlalu lama, tapi, ini adalah cara terbaik membuat Conan menjauh dari masalahnya," ucap Shinichi dengan senyum muram. Yang mengejutkan Conan karena kata-kata itu terdengar begitu jujur tanpa dibuat-buat.
"Pergilah, sifat kalian sebagai detektif, tidak akan puas hanya dengan berada di sini menunggu kasus reda bukan?" ucap Ran, "Pergi, tangkap pelakunya, dan kembalilah kesini. Aku akan menunggu."
Ucapan itu, begitu mengingatkan Conan dan Shinichi dengan ucapan Ran ketika mereka sedang makan malam di Restoran Puncak Beika Center Buliding. Saat itu, Shinichi tidak kembali, tapi Conan yang datang untuk melanjutkan makan malam mereka.
"Aku akan kembali, Ran," ucap Shinichi dengan nada yang aneh, "sebelum jam 11 siang untuk mengantarmu dan Takeru pulang…. Tidak seperti dulu ketika aku meninggalkanmu di Restoran itu."
"Hei, hei, tenanglah…" ucap Ran, "aku yakin kau akan kembali. Conan butuh ini untuk benar-benar melupakan masalahnya sejenak. Terima kasih, Shinichi."
Kemudian Ran mengecup lembut pipi Shinichi.
"Aku akan berusaha," ujar Shinichi.
Kemudian kakak dari Conan itu bangkit dengan senyum menghias wajahnya, mengajak Conan untuk pergi ke tempat kejadian.
"Hei," panggil Conan sambil berjalan.
"Ya?" tanya Shinichi.
"Kau terlihat serius ketika mengatakan bahwa kau tidak ingin pergi, apa benar kau tidak ingin pergi dan bersama Ran di sana?" jawab Conan dengan pertanyaan.
Topik yang jarang mereka bicarakan itu membuat dirinya berpikir Conan sedang mengejeknya. Dia melirik kesal kepada Conan. Namun, Conan tetap memandang lurus ke jalan di depan mereka. Membuat Shinichi tahu, Conan sedang serius.
"Kau meragukannya?" tanya Shinichi.
"Yang kutahu, kita sangat menyukai kasus. Dan rela meluangkan waktu tidak bersama Ran untuk sesaat."
"Beberapa bulan setelah kami menikah, aku tahu dan sadar, bahwa aku yang sekarang ini lebih menyukai waktu saat kami bersama lebih dari apapun," ucap Shinichi memandang lurus ke depan.
"Lagi-lagi sesuatu yang belum akan kumengerti, huh?" tanya Conan bercanda.
"Kau detektif yang sangat banyak memiliki ilmu, kau tahu?" ejek Shinichi.
"Bagus sekali, Niichan," ucap Conan mengakhiri percakapan mereka dan bergegas menuju tempat kejadian.
—X—
"Boleh beri kami tempat untuk melihat?" tanya Shinichi pada salah seorang yang sedang menonton di tempat kejadian perkara.
"Enak saja! Aku-" kata-kata orang itu terputus setelah melihat Shinichi, matanya melebar.
"Tentu. Kudo-san," ucap orang itu terburu-buru.
Orang yang mendengar nama Kudo segera menoleh dan berseru, "Oooh… Kudo, Kudo bersaudara."
Semua menoleh dan mulai memberikan jalan pada kedua orang itu. Dan Inspektur Megure yang mendengar nama Kudo, menoleh dan mengunjunginya.
"Uwooh, Kudo-kun, Conan-kun," sambut Inspektur yang mulai terlihat tua itu.
"Boleh kami membantu?" tanya Conan dengan senyum sok. Hal yang sangat mirip Shinichi menurut Megure.
"Tentu, kalian akan sangat membantu," Megure berujar dan membiarkan mereka berdua masuk ke dalam restoran itu.
Conan melihat korban dan bertanya, "Keracunan?"
"Benar," ujar Megure bingung, "entah dari mana penjahat-penjahat itu masih bisa mendapatkan racun seperti ini."
Conan melirik Shinichi yang memperhatikan jam tangan miliknya. Terlihat bahwa dia merasa tidak nyaman.
"Hei, Niichan," panggil Conan.
"Ngg… ya?" tanya Shinichi agak kaget dengan panggilan Conan.
"Konsentrasi sedikit," ucap Conan merasa aneh dengan tingkah Shinichi, "Coba cek apakah kau bisa menemukan tersangka, aku akan mengecek tentang mayat dan apa yang terjadi padanya."
Satu Jam Kemudian
"Kita sudah mengetahuinya, kan? Niichan?" tanya Conan.
"Yaah… kasus yang menarik meski tidak terlalu sulit," ucap Shinichi.
"Kalian berdua sudah tahu?" tanya Takagi.
"Tepat," ujar Shinichi.
Lalu mulailah Shinichi dan Conan dengan cara agak bergantian, meceritakan kronologi kejadian, serta trik yang digunakan pelaku. Saat di pertengahan pertunjukkan analisis itu, Shinichi berkata pada Conan.
"Hei, Conan," panggil Shinichi "kau bisa melanjutkannya sendiri 'kan?"
"Kau ingin pergi?" tanya Conan. Bingung karena Shinichi merusak penampilan mereka.
"Lihat!" ujar Shinichi memperlihatkan jam tangannya.
"Apa?" tanya Conan tidak mengerti. Dia hanya melihat bahwa jam menunjukkan pukul 10.50.
"Umm, Kudo-kun," panggil Megure menginterupsi mereka berdua, "jadi bagaimana trik pelaku tadi?"
"Ahh… maaf, Conan yang akan menjelaskannya. Aku ada janji dengan istriku," ujarnya tertawa hambar. Megure tersenyum maklum.
"Hhh…. Baiklah. Sana pergi," ucap Conan. Masih bingung karena Shinichi mau repot-repot mengganggu pertunjukkan analisis mereka, dan pergi pada Ran. Padahal waktu yang dibutuhkan untuk ini tidak lama lagi.
"Hei," bisik Shinichi pada Conan sebelum pergi.
"Apa?"
"Aku akan mengantar Ran pulang, kau pulanglah sendiri."
"Aku mengerti."
"Ah, satu lagi!"
"Apa lagi sekarang?"
"Jangan merusak janjimu pada orang yang kau cintai. Terutama jika dia juga mencintaimu," ujar Shinichi lalu bergegas pergi.
Dengan sikap tak biasa yang mengganggu itu, Conan melanjutkan analisisnya hingga pelaku berhasil tersudut dan menyerah.
Setelah Conan diberikan ucapan selamat dan terima kasih. Dia beranjak pulang.
"Hmph, kehidupan Niichan, sudah diluar batasku," ucap Conan muram.
—X—
"Aku pulang…"
"Yo! Otouto-chan!" sapa Shinichi.
"…?" Conan memberikan tatapan bingung. Dan mulai duduk di sofa yang ada di depan Shinichi.
"Jangan memberi tatapan aneh itu," ujar Shinichi memutar bola matanya.
Conan memnutar bola matanya, "Harusnya aku yang bilang begitu karena sikap anehmu."
"Sikap aneh?"
"Ya," ujar Conan mulai tertarik dengan arah pembicaraan ini, "Kau meninggalkan kasus di saat sudah hampir selesai."
"Aku sudah bilang aku ada janji 'kan? Kau juga tahu itu," ucap Shinichi bingung.
"Hanya itu?"
"Haah… dengar, aku tidak percaya kau begini bodoh dalam hal ini, dan…" gantung Shinichi memerhatikan sekitar, dengan memelankan suaranya dia melanjutkan, "fakta bahwa kau adalah diriku sangat membuatku merasa kau sedang meledekku, kau tahu?"
Conan memandang Shinichi kesal, "Berhenti dengan hal-hal ini. Kau terus-menerus meledekku karena aku sedikit tidak mengerti hal ini. 'Kau' lah yang meledekku."
"Jadi kau merasa cukup tahu?"
"Tentu saja," ujar Conan tanpa ragu.
"Baik," putus Shinichi, "jawab ini dengan sempurna dan aku akan berhenti meledekmu. Tapi, kalau kau kalah, kau akan diam saat kuledek."
"Apa pertanyaanmu?" tantang Conan.
"Kau ingat kejadian Ran berterima kasih padaku di taman sebelum kita menuju tempat kasus?"
"Tentu," ujar Conan masih kesal.
"Pertanyaannya sederhana," ujar Shinichi mengangkat bahu melihat ekspresi Conan, "kenapa dia berterima kasih padaku?"
"Tentu saja karena kau berjanji akan kembali padanya!" ujar Conan tanpa ragu.
"Salah," ucap Shinichi riang, "sesuai perjanjian, aku masih bisa meledekmu."
"Salah?" ucap Conan agak terkejut, "aku tidak terima jawabanmu tanpa alasan. Jelaskan!"
"Aku tahu. Dia berterima kasih karena aku mengutamakanmu dalam liburanku, sesuai dengan rencana kami agar kau melupakan kepenatanmu sejenak. Puas?" ucap Shinichi riang disertai tawa lepas.
"Itu…" ujar Conan, "tidak masuk akal. Bagaimana aku bisa tahu kau jujur?"
"Karena aku mengerti dirinya."
"Itu bukan jawaban!" sergah Conan.
"Baiklah, tanya saja pada Ran. Aku yakin dia akan menertawaimu karena pertanyaan itu."
"Ukh," Conan tidak sanggup membalas. Tapi dia sedikit mengerti bahwa mungkin kakaknya itu benar.
"Jadi," ucap Shinichi, "aku menang?"
"Ya, tapi aku tidak pernah menjanjikanmu apa pun."
"Hei, tadi kita telah sepakat," protes Shinichi.
"Aku tidak bilang 'iya' 'kan?" sanggah Conan tersenyum ala Ai.
"Kau benar-benar mirip Ai," umpat Shinichi.
—X—
"Guru pembimbing macam apa dia?" umpat Conan saat melihat pesan yang ada di handphone-nya, "Menyuruh kedua murid yang dibimbingnya untuk pergi sendiri ke tempat lomba itu?"
"Kau takut pergi sendirian, Conan-kun?" ejek Ai.
"Aku hanya malas menjagamu, Ai," ujar Conan beralasan.
"Aku bukan anak perempuan lemah yang butuh penjagaan dari detektif terkenal, Conan-sama," balas Ai sinis.
"Aku tidak peduli kau butuh atau tidak," ucap Conan mengangkat bahu, "Aku akan tetap menjagamu."
Conan lalu mulai menarik tangan Ai. Dan Ai sama sekali tidak berniat melawan. Dia hanya melihat Conan dengan latar langit siang yang udah mendekati senja. Conan seperti tersadar sesuatu dan melepas tangan Ai. Ai yang terlihat kecewa, kembali mengontrol dirinya saat Conan berbalik menatap Ai dengan tatapan yang sulit diartikan, bahkan bagi Ai. Mereka sedang marah satu sama lain. Kenapa mereka bersikap seperti tidak terjadi apa-apa? Sepertinya reflek mereka yang mengambil alih tindakan mereka. Kerinduan yang dalam mungkin juga berperan.
"Maaf," ucap Conan, "ayo berangkat."
"Iya," balas Ai. kecewa karena Conan meminta maaf atas perlakuannya tadi.
"Tunggu," cegah Ai, "kita mau membawa-bawa koper ini menuju hotel disana dengan berjalan?"
"Benar juga," sesaat Conan merasa dirinya orang paling dungu.
"Mintalah Ibumu untuk mengantar kita," usul Ai.
"Tidak mau, bagaimana dengan Profesor?" ucap Conan.
"Kalu begitu, aku yang minta," ucap Ai final.
"Terserah," ujar Conan malas. Malas berdebat.
—X—
"Jadi," ucap Yukiko mulai menjalankan mobilnya, "kemana aku harus mengantar pasangan ini?"
"Kami bukan pasangan," ucap keduanya dengan wajah memerah.
"Tentu saja kalian pasangan, kalian akan bersama mengikuti lomba itu kan? Dan ada apa dengan wajah kalian sampai merah begitu?" tawa Yukiko.
Conan dan Ai yang sadar dengan jebakan Yukiko memilih diam dan menundukkan wajah untuk menutupi wajah merah mereka. Tindakan bodoh, karena itu malah memperjelas segalanya di mata Yukiko. Jadi, Yukiko malah tertawa lebih riang lagi.
—X—
"Nah, Co-chan," ucap Yukiko dari dalam mobil setelah kedua anak itu turun, "Jaga Ai-chan ya? Ini hotel. Kau jangan berbuat aneh-aneh."
Conan memutar bola matanya. Kesal karena Ibunya memanggilnya dengan nama itu. Juga kesal dengan ucapan tidak berarti milik Ibunya barusan, "Memangnya apa yang akan kulakukan?"
"Kalian berdua cukup 'dewasa' untuk mengerti itu kan?" ucap Yukiko mengedipkan sebelah matanya. Menekankan kata dewasa hanya agar dapat melihat wajah Conan dan Ai memerah. Conan memerah karena kesal dan malu akan ucapan itu. Terlebih di sebelah wanita yang disukainya. Lebih parahnya lagi, wanita itu juga sudah tau perasaannya. Yukiko hanya tertawa riang dan menjalankan mobilnya meninggalkan mereka.
"Ah! Conan! Ai!" seruan seseorang yang familiar itu membuat dua remaja 'jadi-jadian' itu menoleh padanya.
"Kobayashi-sensei," ucap Conan, "kenapa pergi ke sini duluan?"
"Aah…" ucap Kobayashi terlihat mencari alasan.
"Sudahlah. Tidak usah dipikirkan, sensei," ucap Ai.
"Tidak ada yang rugi karena hal ini 'kan?" kali ini Ai bicara pada Conan. Conan menjawab dengan menaikkan bahunya sekali. Kobayashi terlihat senang melihat mereka sudah mulai bicara. Rencananya dan keluarga Kudo sepertinya lancar.
"Nah, kalau begitu, ayo kita check in dulu untuk mendapatkan kamar yang sudah disiapkan!" ajak Kobayashi yang melenggang pergi memasuki hotel. Conan dan Ai hanya bisa pasrah mengikuti dengan malas.
Sesampainya di hotel, Kobayashi mendekati resepsionis, "Um… kami dari SMP Teitan…"
"Ah, kamar untuk tiga orang kan?" tanya wanita di tempat resepsionis itu memastikan.
"Iya," ucap Kobayashi.
"Kalau begitu, murid bisa menunggu di sana. Guru Pembina yang akan mengisi formulirnya."
Ai langsung beranjak menuju tempat duduk yang ada beberapa anak yang sepertinya peserta juga.
"Hei," sapa seorang anak dari sepasang remaja.
"Ya?" tanya Ai datar.
"Kau peserta juga?"
"Iya," jawab Ai dengan datar lagi.
"Kau manis sekali," ucap anak itu mulai menggoda.
"Terima kasih," jawab Ai tidak lebih bernada dari jawabannya yang awal.
"Jadi, seberapa pintar dirimu hingga bisa terpilih untuk mengikuti lomba ini?" tanya anak itu. Jelas membuat Ai agak jengkel. Bukannya sombong, tapi nada anak itu yang sombong sehingga membuat Ai jengkel.
"Kau dari lub Basket, benar?" tanya Ai.
"Kau tahu dari mana?" tanya anak itu terkejut.
"Tubuhmu cukup atletis. Dari baju luar yang menggunakan seragam Basket, tidak perlu terlalu pintar untuk tahu itu," ucap Ai bosan dan duduk di kursi.
"Hoho, kau memperhatikan tubuhku, ya?"
"Seperti yang kukatakan tadi."
"Dingin sekali sih kau ini."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian," ujar anak itu kesal.
"Bagiku iya," jawab Ai sinis.
"Sudahlah," jawab anak itu menyerah. Namun, kembali menggoda, "kau sudah punya pacar?"
"Belum."
"Mau jadi pacarku?"
"Aku tidak suka Basket."
"Aku juga ikut klub lain kok."
"Baseball?" tanya Ai.
"Iya," jawab anak itu semangat.
"Maaf, aku juga kurang suka baseball," jawab Ai tersenyum tipis, "tapi aku suka sepak bola."
"Kebetulan, aku juga ikut sepak bola," ujar anak itu riang. Jelas berbohong lagi. Ai pasrah dengan kebodohan anak ini dalam menggodanya.
"Bisa kau buktikan mungkin?" tantang Conan sambil membawa bola sepak di tangannya.
"Siapa kau?" tanya anak itu pada Conan.
"Seharusnya tidak sulit bagi anak kelas 3 untuk melakukan juggling," jawab Conan tidak mengindahkan pertanyaan anak itu sambil menaruh bola miliknya pada kakinya.
"Ukh," hanya itu yang bisa dikeluarkan anak itu dari mulutnya.
"Ayo, Ai," ucap Conan menarik lengan Ai. Masih dengan bola yang dia juggling sambil berjalan.
"Hei," ucap Ai protes karena ditarik agak keras. "Kenapa sih, kau senang sekali menarik tanganku?"
"Aku mencintaimu, ingat?" ucap Conan seolah itu adalah hal paling jelas di dunia, "tentu saja aku senang menarik tanganmu."
Ai hanya bisa diam dan mengikuti langkah Conan yang menariknya. Terlihat Conan juga menarik koper milik Ai sambil membawa tas miliknya sendiri. Dengan wajah yang agak merah, dia hanya bisa tersenyum melihat punggung Conan.
—X—
"Nanti kalian akan kupanggil saat lomba akan dibuka nanti malam. Sekarang ini, tetaplah di kamar masing-masing," ucapan Kobayashi terngiang kembali dalam pikiran Conan.
"Sempurna," bisik Conan, "Sekarang apa yang bisa kulakukan?"
Conan melihat bola miliknya, kemudian menggedikkan bahunya, "Lebih baik ketimbang mati bosan dan diam menunggu."
Conan mulai melakukan juggling yang sudah dikuasainya. Pikirannya tidak lagi terpakai untuk memikirkan bagaimana mempertahankan bola itu di udara, tubuhnya mempunyai reflek sendiri untuk itu. Dan seperti biasa, jika sudah bermain dengan bola seperti ini, pikirannya akan menerawang kepada hal lain. Terutama hal-hal yang mengganggunya.
Conan sudah mulai menyatakan sikapnya yang menunjukkan perasaannya. Dan itu terbukti di lobby hotel barusan. Tidak lagi menggunakan cara tidak langsung. Dia memutuskan menggunakan cara langsung karena tersadar akan ucapan kakaknya. Shinichi benar bahwa dirinya tidak begitu ahli dalam hal perasaan.
Akhirnya, Conan merasa Ai tidak harus mengerti apa yang dilakukannya, serta apa yang ingin disampaikannya. Meskipun Conan merasa itu jelas, itu tidak harus jelas di mata Ai. Dia jadi merasa bersalah karena sudah marah-marah pada Ai. Pada saat di depan Rumah Ai, maupun di kelas saat pulang. Terlebih setelah belakangan ini dia merasa marah pada Ai. Sekarang dia merasa jijik pada dirinya sendiri karena marah pada Ai.
"Aku akan minta maaf dalam acara pembukaan itu," bisik Conan pada dirinya sendiri.
—X—
"Aku yang mengajarkannya tentang kepekaan perasaan. Kenapa aku bisa begitu tidak peka?" ucap Ai pelan di depan cermin kamarnya.
"Bisa-bisanya aku menunggu Conan meminta maaf, padahal aku yang telah menyakitinya dengan kata-kata itu," ucap Ai menghembuskan napas dengan berat.
Sekarang ini Ai mulai merasa dirinya sangat memalukan karena menunggu Conan meminta maaf atas perlakuannya pada dirinya. Dia merasa memang sudah seharusnya dia mengerti apa yang disampaikan Conan melalui perbuatannya untuk dirinya. Tidak sepantasnya Ai menggunakan kata-kata itu untuk menyindir Conan. Seharusnya, Ai lebih mengerti daripada Conan. Dia yang mengajari Conan, benar 'kan?
"Rasanya, kau harus menyelesaikan ini nanti," bisik Ai pada bayangannya di cermin.
—X—
"Restoran Puncak Beika Center Buliding?" ucap Conan terkejut.
"Yup! Kalian tahu tempatnya?" tanya Kobayashi.
Ai menggeleng tidak peduli.
"Aku tahu. Memang kenapa?" tanya Conan.
"Di sana akan diadakan acara pembukaan lomba ini," ucap Kobayashi, "jangan lupa pakai seragam sekolah kalian nanti!"
"Baik," ucap Conan dan Ai bersama. Kobayashi mengangguk puas dan kembali ke dalam kamarnya sendiri.
"Dia itu kenapa sih?" tanya Conan curiga, "menyampaikan pesan, lalu langsung pergi."
"Dari pada itu, kau tahu tempat itu dari mana?" tanya Ai.
"Itu tempatku dan Ran makan malam saat pertama kali kau berikan aku penaawar permanen," ucap Conan menerawang.
"Oh," bersamaan denga itu, Ai segera memasuki kamarnya. Batinnya muali berujar, "Dia mencintaiku, tapi malah membicarakan masa lalunya dengan perempuan lain. Cowok membingungkan."
Meski hanya firasat, Conan menangkap nada tidak suka dari ucapan Ai, yang menurut Conan agak aneh. "Apa dia juga punya perasaan suka padaku?" Conan berbisik setelah Ai masuk ke dalam kamarnya sendiri, "Tapi rasanya dia tidak pernah menunjukkan hal itu."
Dengan perasaan bingung, Conan memasuki kamarnya untuk bersiap seperti yang lainnya. Conan hanya tidak tahu, bahwa Ai sering sekali meunujukkan wajah yang jelas kalau dia menyukai Conan. Tapi hanya saat Conan sedang tidak memperhatikannya.
—X—
"… begitu. Jadi kalian tidak hanya akan menunjukkan kepandaian kalian. Tapi, juga sikap kalian akan mempengaruhi pandangan orang pada sekolah kalian. Jadi…" ucapan wanita di tengah acara it terus terdengar. Ai menguap bosan. Sementara Conan terlihat sangat tegang. Ai menyadari itu, dan tidak ingin melewatkan momen langka itu. Dia memperhatikan ketegangan Conan. Meski penasaran kenapa detektif itu bisa tegang, pertanyaan itu bisa menunggu. Jarang-jarang dia melihat wajah penuh percaya diri itu penuh ketegangan.
Ai memperhatikan sekitar. Tiap kelompok dari satu sekolah medapatkan meja untuk berdua. Ada dua laki-laki yang terlihat bercanda satu sama lain. Kelompok yang terdiri dari dua wanita pun terlihat mengobrol. Ada juga pasangan muda-mudi yang terlihat serius, tapi kedua tangan mereka bertautan. Tentu saja mereka bisa seperti itu, guru pembina memiliki tempat sendiri. Sepertinya tidak ada yang memperhatikan wanita di depan itu. Ai jadi tersenyum kecil. Sementara di sini, Conan terus-menerus memperhatikan meja yang mereka tempati. Seolah sedang mengecek sesuatu.
Ai pun bertanya karena merasa cukup mengobservasi wajah Conan yang tidak henti-hentinya memasang wajah sama sambil celingukan sana-sini. Itu mengganggu Ai, sangat mengganggu.
"Tegang dengan lomba ini?" sindir Ai memulai, "Seperti bukan dirimu saja."
"Iya," jawab Conan masih celingukan. Jelas sekali apa yang dipikirkannya berbeda dengan yang dikatakannya.
"Kau benar-benar tidak bisa berbohong padaku ya…" ucap Ai, "ada apa dengan tempat ini? Kau seperti melihat bom."
"Jangan bercanda," ujar Conan menanggapi, "kalau ada bom, aku pasti sudah menyuruhmu pergi dari sini."
"Lalu? Kau akan membiarkanku berada dalam kegelapan pengetahuan seperti ini, atau kau mau berbagi cerita denganku?" tanya Ai tertarik.
"Euh… itu…" ucap Conan gugup.
"Ya?"
"Tempat ini, kau tahu-"
"Tidak."
"Jangan memotong ucapanku, Ai," ucap Conan kesal.
Ai hanya tersenyum melihat wajah kesal Conan yang menurutnya lucu, "Benar kata Yukiko-nee, anak ini mudah sekali dialihkan."
"Tempat ini, persis di sini, di tempat yang kita duduki sekarang ini-"
"Ya, ya, aku tahu bagian itu. Bisa kau lanjutkan?" potong Ai lagi. Ingin membuat Conan benar-benar teralih dari ketegangannya.
"Jangan-" Conan melambaikan tangannya di udara, "Lupakan. Tempat ini tempat Ayahku melamar Ibuku. Persisi di bangku kita. Meja ini."
Wajah Ai terlihat memerah, "Lalu?" tanyanya pura-pura bodoh.
Conan terpana pada wajah manis Ai yang memerah. Terlepas dari pertanyaan 'bodoh' Ai barusan, dia merasa punya harapan untuk masuk dalam hidup Ai, "Kau tahu, bersama dengan orang yang kucintai di tempat yang sama dengan mereka, membuatku merasa… kau tahu, mengulangi takdir mereka yang bertahan hingga sekarang."
Conan benar-benar terlihat gugup. Ai senang melihatnya, selain wajah Conan jadi terlihat lucu, wajah gugup Conan adalah sesuatu yang jarang. Ai memandangnya dengan senyum penuh minat. "Sepertinya akan benar-benar terjadi sekarang, mungkin aku benar-benar bisa mengerjainya sekarang."
"Fakta bahwa kau memarahiku waktu itu-"
"Dengar," potong Conan, "aku minta maaf memarahimu waktu itu. Kurasa… aku hanya emosi. Sekarang aku tahu aku salah. Maafkan aku."
Ai menaikkan sebelah alisnya. Bingung dan terkejut. Conan sang detektif yang tidak pernah salah ketika menunjukkan analisisnya pada orang-orang, sekarang meminta maaf dengan ekspresi yang sangat serius. Mau tidak mau, Ai jadi tidak berniat menjahilinya terlalu jauh.
"Aku juga minta maaf telah mengucapkan kalimat itu," ucap Ai menatap lurus pada mata milik Conan.
Sekarang Conan yang terpana, Ai jarang minta maaf. Tentu saja, ego-nya yang tidak mau kalah itu sering kali mengucapkan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang dirasakannya. Sekarang, melihatnya mengucapkan sesuatu yang sama dengan apa yang dirasakannya, membuat Conan melihat Ai sebagai anak 'normal' yang lain.
"Jadi-"
"Jadi…" potong Ai, dia memang tidak ingin menjahili Conan terlalu jauh. Tapi dia tidak bilang tidak akan menjahilinya, "kau benar mencintaiku?"
"Ai-"
"Buktikan!" potong Ai cepat, "Kata-katamu hampir tidak menyampaikan apa-apa. Buktikan dengan perasaanmu!"
Conan terpana melihat Ai yang seperti… mengharapkan sesuatu yang berbeda. Ai tersenyum manis di depan Conan. Membuat Conan sulit berpikir dan mengendalikan diri. Conan bangkit dari tempat duduknya. Mendorong kursi hingga berbunyi. Saat itu, semua orang melihat Conan bangkit, semua diam karena dari tadi tidak ada suara selain dari wanita yang berujar di tengah acara. Conan menghampiri Ai di meja seberang, memerhatikannya agak lama. Kobayashi terlihat tegang, mereka memang tidak dalam kondisi hati yang baik. Dia hanya bisa berharap Conan mengendalikan emosinya agar tidak marah-marah pada Ai di depan banyak orang.
"Kau mau bukti?" tanya Conan. Lalu mulai menunduk pinggangnya.
"Ini bukti dariku," Conan berbisik. Saat ini hanya dia dan Ai yang bisa medengarnya. Conan memajukan wajahnya pada wajah Ai. Menyentuhkan bibir miliknya dengan milik Ai. Ai terkejut, namun tidak memiliki niat untuk menghindar.
Perasaan lega membuncah dari Conan serta Ai. Conan memberikan sentuhan bibirnya untuk Ai. Ai tidak menolak sentuhan dari Conan. Kini ketakutan mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka lenyap sudah. Meski Conan hanya menyentuhkan bibirnya dengan milik Ai, meski bukan ciuman yang panas, itu cukup untuk menyampaikan perasaan mereka masing-masing.
Semua terpana melihat kedua insan itu berciuman di depan banyak orang. Kobayashi tidak bisa bicara banyak. Dia melihat hubungan Conan dan Ai telah membaik dalam ciuman itu. Terlepas dari ciuman yang dilihat banyak orang yang akan mengubah pandangan pada SMP Teitan itu, Kobayashi merasa senang. Tapi tentu saja, dia kecewa karena waktu yang tidak pas.
Conan mengakhiri 'sentuhan'-nya pada Ai. Conan bangkit lagi, menegakkan tubuhnya. Mereka saling memandang dengan wajah memerah. "Manis," pikir kedua orang itu.
"Sepertinya kau gagal menunjukkan citra yang baik untuk sekolah kita," ucap Ai dengan senyum menawan miliknya. Terlepas dari rasa bahagianya, hanya kalimat itu yang terpikirkan olehnya untuk dikeluarkan.
"Kau juga sama saja," balas Conan. Senyum tidak lepas dari wajah Conan.
"Tapi kau yang memulai," balas Ai tidak mau kalah. Conan hanya memandangnnya dengan senyum.
"Sekarang gelar raja SMP Teitan akan tercabut darimu," ucap Ai lagi.
"Oh, aku tidak peduli," ucap Conan mengguncang bahunya ke atas sekali, "apa yang paling kuinginkan dan yang kuinginkan terkahir, sekarang ada di depanku."
"Manis sekali, Kudo-chan," ucap Ai bangkit dari tempat duduknya.
Conan tersenyum makin lebar mendengar panggilan Ai untuknya.
"Akan hambar memimpin tanpa kehadiranmu," ucap Ai medekat pada Conan. Sekarang ini Ai makin sadar bahwa Conan sedikit lebih tinggi darinya. Conan juga baru mulai menyadarinya, "hadiahku untuk ucapan manismu itu, mungkin ini cukup."
Ai sedikit menegakkan tubuhnya untuk menggapai bibir Conan dengan bibirnya, Conan mengerti dan menunduk. Kali ini sebuah kecupan dan Conan membalas dengan kecupan pula. Lalu mereka melepaskan diri dari kecupan itu. Lebih cepat dari ciuman awal mereka.
"Kalian… Kalian…" ucapan itu keluar dari wanita yang memberikan sambutan pada acara pembukaan lomba tadi. Semua menunggu ucapan selanjutnya dari orang itu dengan tegang. Entah apa yang akan diucapkannya.
"Kalian berciuman, dua kali…" ucapan selanjutnya menggantung, "aku saja bahkan belum pernah berciuman!"
"Eeeh? Itu poin terpentingnya?" ucapan itu terdengar serempak dari para guru dan murid selain Conan dan Ai, jadi terdengar aga keras.
"Hihihi," Ai tertawa kecil yang ditahannya dengan telunjuk yang ditekuknya dalam kepalan tangannya. Conan yang melihatnnya tersenyum.
"Ahahaha," tawa Conan terdengar. Dia menggeleng-gelengkan kepalannya setelah tawanya berhenti dengan senyuman yang tidak ingin dilepaskannya, "sekarang yang kuinginkan hanyalah…"
"KYAAAA!" terdengar suara jeritan wanita dari arah toilet.
"Kasus?" ucap Ai tersenyum pada Conan.
"Kasus," ucap Conan mengiyakan pertanyaan Ai. Tersenyum, tangannya terjulur pada A, "kau ikut?"
"Tentu!" ucap Ai bersemangat menyambut tangan Conan dengan tangannya.
Senyum tidak terlepas dari wajah mereka berdua. Tangan mereka juga tidak terlepas dari genggaman keduanya. Terlepas dari fakta ada kejahatan di depan mereka, mereka tersenyum sangat bahagia.
Bagaimana?
Cukup romantis kah? Cukup panjang? Terlalu panjang? Sampaikan saran dan kritik kalian dalam review kalian, ya?
Aku cukup lega ini sudah selesai. Aku sangat tertekan karena merasa tidak segera melanjutkan fic ini meski kalian sudah memintanya. Tapi aku senang sekali mendapat tekanan itu. Terima kasih!
Aku juga berpikir untuk membuat fic baru. Kalian ada ide? Request mungkin. Sampaikan saja. Boleh di review. Boleh di PM. Tapi jangan marah kalau ide kalian tidak kupakai atau kutunda, ya? Hehehe
Mungkin fic-ku yang berikutnya mengambil cerita dari Eyeshield 21. Bagi kalian yang suka, bagi kalian yang penasaran, tunggu fic-ku berikutnya ya!
Akhir kata, Review, Please!
