Title : Happiness

Cast : Yunjae COUPLE

Author : ahnhaerin

Chapter sebelumnya :

Pintu itu tertutup, dan aku segera melangkahkan kakiku meninggalkan tempat ini.

Junsu… junsu… itulah namaku di hadapannya saat ini. Mianhae Jaejoong-ah…aku tidak ingin kau membenciku. Walaupun ku tahu, suatu saat nanti kau pasti akan membenci kehadiranku.

Memperkenalkan Jaejoong pada Junsu bukanlah hal yang sebenarnya kuinginkan, namun hanya perkenalan itulah yang bisa kulakukan untuknya. Hingga pertemuan dengan Jaejoong berlanjut dengan aku sebagai seorang Junsu.

Dan, pertemuan sebagai Junsu pun sedikit membuatku mengerti bahwa aku sangat menyukainya!

...

Chapter 2

Jung Yunho POV

Dan pertemuan saat ini, adalah pertemuan yang tak terhitung untukku dengan Jaejoong. Pertemuan yang selalu kutunggu setelah aku berpisah dengannya di malam hari.

Setiap aku bertemu dengannya, selalu tanpa Changmin, tanpa Yoochun dan tanpa orang-orang yang mengenal kami. Di saat aku tak menjadi Yunho, dan di saat aku bisa menjadi seseorang yang menyukainya tanpa aku harus menyembunyikan segala yang kurasakan.

"Junsu-sshi… boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Jaejoong ringan, ketika kami telah memutuskan untuk duduk di atap Rumah Sakit pagi itu.

"Mwo?" Tanyaku yang kemudian segera melihatnya.

Tatapan Jaejoong yang kosong tak bisa menepis semua perasaan yang ada dalam dirinya, terlihat sebuah kenyataan bahwa ia seolah menahan sesuatu di saat ia tak bisa melontarkannya.

"Wae?" Tanyaku lagi mencoba meyakinkannya bahwa aku ada di sampingnya.

"Bila kau meninggal besok, mungkinkah kau mempertahankan hidupmu untuk sesuatu yang kau tunggu?"

"Mwo?"

"Aku menunggunya… aku merindukannya…bolehkah aku meminta kepada Tuhan agar waktu kematianku di perlambat hingga aku bertemu dengannya?" kata Jaejoong pelan.

Perlahan aku melihat air matanya terjatuh dan tak lama ia benar-benar menangis. Aku melihat Jaejoong menangis dan kemudian menjatuhkan tubuhnya saat itu juga. Matanya tidak tertutup namun tubuhnya terkulai lemas.

"Dokter mengatakan bahwa aku terkena kanker mata… ada penggumpalan di lobus oksipitalku… dan dia… dia mengatakan… aku…"

Jaejoong memelukku ketika aku mencoba menahannya agar tak terjatuh saat itu. Ia melingkarkan lengannya tepat kepundakku, dan aku tahu di balik pundakku ia memangis dalam diamnya.

Entah apa yang harus ku lakukan, aku hanya bisa memeluknya dan mencoba menenangkannya.

Ini semua salahku, ini semua kesalahanku. Bagaimana aku bisa menebus semua ini? Kau tidak boleh mengalami hal seperti ini! Aku harus bisa bertanggung jawab, aku harus melakukan sesuatu untukmu, namun apa yang bisa kulakukan? Aku hanya bisa berdiam menjadi patung di belakang sosok Junsu yang tidak ada.

Jaejoong-ah… Jeongmal mianhae…

5 menit…

10 menit…

30 menit…

Akhirnya aku bisa menenangkan Jaejoong, ia kembali tenang dan mencoba tersenyum padaku setelah aku memutuskan untuk membawanya kembali ke kamarnya, aku mendudukkannya di atas ranjang tidurnya saat itu.

Ketika ia menyandarkan punggungnya, matanya kembali kosong.

"Jaejoong-sshi…"

"Mwo?"

"Kenapa kau bisa berada di Rumah Sakit ini?" Tanyaku gugup yang kemudian menunduk. Pantaskah seorang pecundang sepertiku menanyakan hal seperti itu?

Jaejoong tersenyum sebelum menjawab pertanyaan itu dariku. Memang, sebuah pertanyaan bodoh.

"Apakah seseorang yang menyebabkanmu tinggal di Rumah sakit ini?" Tanyaku lagi mencoba memastikan pertanyaan yang tak perlu ini.

"Anio…Aku bisa berada di tempat ini, karena kecerobohanku sendiri… Tanpa sengaja aku jatuh dari tangga!" Jawabnya santai seolah kejadian itu tak pernah ada.

"Mwo?" Tanyaku terkejut.

Pabo! Inikah yang kau katakan pada mereka semua? Sudah jelas, kau terjatuh karena aku. Aku penyebab kau buta dan mengidap kanker itu. Aku yang seharusnya kau sebutkan, bahwa akulah penyebab semua yang terjadi padamu saat ini.

"Wae? Kau tidak percaya?"

Aku tidak bisa menjawab apa yang ditanyakannya. Aku hanya diam dan ragu akan apa yang akan ku katakan lagi padanya.

Ketika aku mencoba mengusap rambutnya, seseorang memasuki ruangan itu, dan dia melihatku.

"Jaejoong-ah… kau…" Suara Changmin tampak sangat tak percaya ketika ia melihatku.

Segera ia menghampiriku dan Jaejoong, dan saat itu pula aku berdiri, mencoba menghilangkan situasi yang sangat tak kuharapkan saat ini. Aku mohon! Bukan saatnya untuk Jaejoong mengetahui jika aku Yunho…

"Changmin-ah…" Jawab Jaejoong yang kemudian aku melihatnya tersenyum.

"Kenapa kau—"

"Changmin-ah… perkenalkan, dia Junsu… dia juga pasien di Rumah Sakit ini…" Kata Jaejoong yang memotong kata-kata Changmin.

"Mwo? Junsu?"

"Junsu-imnida!" Jawabku seolah tak terjadi apa-apa.

Aku hanya menatap Changmin, mencoba memberinya pengertian akan apa yang kulakukan saat ini.

"Jaejoong-sshi… mianhamneeda… aku harus pulang sekarang!" Lanjutku yang kemudian segera meninggalkan tempat itu tanpa melihat Changmin lagi.

*Blam*

Pintu yang kini di belakangku tertutup rapat, dan langkah ku percepat untuk meninggalkan Rumah Sakit ini. Entahlah, aku memang hanya seorang pecundang dan pengecut yang tak berarti.

End of Yunho POV

Kim Jaejoong pov

"Dimana kau bertemu dengannya?" Tanya Changmin tiba-tiba setelah aku mendengar pintu tertutup.

"Di Lorong Rumah Sakit, minggu lalu!" Jawabku ringan, seolah tak mendengar perubahan suara yang terjadi pada Changmin.

"Aku harap, kau tidak bertemu dengannya lagi!" Jawabnya lagi, yang aku rasa ia menghampiriku.

"Apa karena dia Jung Yunho, maka aku tidak boleh bertemu dengannya lagi?"

Changmin tak mengatakan apa-apa lagi. Aku tahu dia sangat terkejut ketika aku mengetahui semua yang di sembunyikan di balik nama Junsu itu.

Aku juga hanya diam, entah kenapa aku merasa sangat marah padanya.

"Kau…"

"Aku tahu Changmin-ah… aku tahu… selama aku koma, Yunho datang dan sangat mengkhawatirkanku kan? Aku bisa merasakan itu semua, karena aku koma, bukan orang mati… kenapa kau membohongiku?"

"Karena aku tidak ingin Yunho semakin melukaimu!"

"Dia tidak pernah melukaiku!"

"Dia yang menyebabkanmu seperti ini—"

"ANIO… Yunho tidak sengaja melakukan hal itu padaku. Dia tidak sengaja mendorongku… dia—"

"Kenapa kau selalu membela orang yang jelas-jelas sudah membuatmu seperti ini?" Bentak Changmin lebih keras.

"…"

"Jaejoong-ah… sadarlah… kau—"

"Aku menyukainya… aku mencintainya Changmin-ah..."

Terdengar isakan dari suara yang ku keluarkan. Isakan yang menandakan bahwa aku menangis, isakan yang membuatku terdiam begitupun dengan Changmin. Aku bisa merasakan bahwa ia sedang menatapku saat ini. Mianhae... tapi aku tidak memiliki waktu lebih banyak lagi bila hanya terus seperti ini.

"Pabo!" Kata Changmin yang kemudian memelukku. "Kenapa kau harus menyukai orang seperti dia?"

Aku hanya diam dan tak berani melontarkan sepatah katapun untuk menjawab apa yang ditanyakan Changmin.

End of Jaejoong POV

Jung Yunho pov

Kenapa aku harus bertemu dengan Changmin saat ini? Bertemu dengan seseorang yang jelas-jelas akan membuatku tidak bisa lagi bersembunyi di balik nama Junsu, dan mungkinkah membuatku tidak bisa lagi bertemu denganmu Jaejoong-ah?

Langkahku sangat lambat ketika aku meninggalkan Rumah sakit, entah harus kemana aku mencoba menemukan jalan keluar dari semua masalah ini? Mungkinkah aku harus membuka sosok Yunho saat ini?

Dua bulan kemudian

Rumah sakit sebagai tujuanku saat ini. Rumah sakit di mana Jaejoong berada. Jaejoong yang telah dua bulan lebih tidak aku temui, Jaejoong yang kurindukan. Jaejoong-ah apa kau masih di sana?

Tepat aku berada di depan kamar 235, namun sayang aku tak melihat siapapun di kamar itu. Mungkinkah Jaejoong tidak lagi berada di sini?

Segera aku menghubungi Yoochun, mencoba menanyakan keberadaan Jaejoong. Namun entah kenapa nomor ponselnya tidak bisa dihubungi. Kemana makhluk itu? Kenapa di saat seperti ini kau tidak menjawab panggilanku.

Aku masih menempelkan handphoneku di telinga. Hingga akhirnya, aku menemukan seoarang namja tengah mematung berdiri menatap pemandangan Taman Rumah sakit dari lantai dua yang kini ku tempati. Dia berdiri membelakangiku, tangannya menggenggam sebuah tongkat, dan tubuhnya tampak mengenakan berlapis-lapis jaket.

Aku segerea menghampirinya, karena aku yakin dia adalah namja yang ku cari sedari tadi. Namja itu tetap membisu ketika aku mendekatkan langkahku, aku juga tak mendengar sebuah isakan. Aku harap kau baik-baik saja Jaejoong-ah…

Kini aku berdiri tepat di belakangnya, mungkin hanya lima centimeter jarak antara aku dan dia. Mungkin juga ia bisa menyadari keberadaanku dengan jarak yang begitu dekat ini. Namun, aku tak bisa melontarkan sepatah kata pun saat ini.

Keadaan ini berlangsung selama dua jam, aku masih tak menggerakan tubuhku. Aku sangat ingin memeluknya, namun sayang aku merasa aku tidak boleh melakukan hal itu, karena ketika aku semakin mendekatkan diriku padanya, aku takut dia akan semakin terluka.

"Jaejoong-ah!"

Aku mengatakannya hanya dalam sebuah gumaman. Entah dia mendengarnya atau tidak.

"Junsu-sshi.. aku tahu itu kau!" Jawabnya yang tetap ia tak menggerakan tubuhnya.

Mungkinkah kau tahu keberadaanku di sini sejak tadi?

"Kenapa kau baru menegurku sekarang? Aku sangat takut bahwa hanya perasaanku bila kau berada di belakangku sejak tadi?" Tanya Jaejoong yang membuatku tak bisa lagi membendung semua kerinduanku.

Aku memeluknya erat, sangat erat. Seolah aku tidak ingin melepaskannya lagi. Aku merasa sangat menyesal karena aku terlahir menjadi seorang pemuda pengecut yang bahkan menghianati perasaannya sendiri saat ini.

"Jaejoong-ah… mianhae…"

Aku tak mendengar Jaejoong menjawab perkataanku. Ia masih diam dalam pelukanku.

"Kenapa kau baru datang?" Tanya Jaejoong lemah yang membuatku kini melepas pelukannya dan memutar tubuhnya, melihatnya.

Aku sangat terkejut melihat Jaejoong yang begitu pucat. Wajahnya benar-benar pucat, putih pucat yang menunjukkan bahwa ia sangat lemah.

Wae? Apa yang terjadi selama ini? Kenapa kau berubah pucat seperti ini?

"Gwenchanayo?" Tanyaku khawatir melihat keadaannya yang seperti ini.

Tiba-tiba Jaejoong hanya menangis, dan kemudian ia menjatuhkan tongkatnya dan juga tubuhnya. Ia terduduk di atas lantai itu, menangis!

"Wae?" Tanyaku lagi.

"…"

Aku mencoba menenangkannya, dan membawanya duduk di salah satu kursi yang mudah kami jangkau.

"Mianhae…" tiba-tiba Jaejoong mengatakannya setelah ia berhenti menangis.

Matanya yang sembab membuatku tidak bisa lagi membohonginya.

"Kau tidak bersama temanmu lagi?" Tanyaku setelah lama.

"Aniyo..."

"Waeyo?"

"Aku memintanya untuk tidak menemuiku akhir-akhir ini!"

"A? wae?"

"…"

"Kau marah padanya?"

"Aniyo… aku hanya tidak ingin merepotkannya akhir-akhir ini! Aku terlalu sering menyakitinya... mungkin dengan membuatnya tidak melihatku, itu bisa membuatnya tidak lagi terluka."

"Aku rasa itu akan membuatnya semakin terluka!"

"Jeongmalyo? Waeyo?"

"temanmu itu menyukaimu, dia pasti selalu ingin melihatmu!"

"Menyukaiku?"

"Nae… ketika kita menyukai seseorang maka kita akan selalu ingin melihatnya, dan bila itu sebaliknya, itu akan lebih menyakitkan dari pada sebuah penolakan!"

"Apa itu artinya dia tidak menyukaiku?"

"Mwo?"

Jaejoong hanya menunduk.

"Jaejoong-ah…"

"Junsu-sshi… na…"

"…"

"Aku sangat merindukannya!"

"Nugu?"

"Dia… Jung Yunho"

"…"

"…"

"Wae?" Tanyaku ragu.

"Aku merindukankannya… Benarkah dia tidak menyukaiku? Kenapa dia tidak pernah menyukaiku? Sebenarnya apa salah ku selama ini? Apa karena aku berharap menjadi seorang Cinderella?"

"…"

"Aku ingin dia tahu, bukan untuk mendapatkan hati seorang pangeran aku ingin menjadi Cinderella, tapi aku hanya ingin mendapatkan sebuah kebahagian, aku ingin melepas semua penderitaanku. Mianhae, tapi hanya dengan cara tinggal di rumah keluarga Jung-lah aku bisa mendapatkan itu semua. Aku bisa merasakan arti sebuah keluarga di sana! Apa itu kesalahan? Dengan seperti inikah aku harus menebus semua kesalahanku saat itu?"

Aku hanya menatap Jaejoong tanpa bisa melakukan apapun. Dengan jelas dia berbicara padaku. Pada aku Jung Yunho!

"Mianhae…" Akuku datar.

Jaejoong tak menanggapi pengutaraanku. Seolah dia tahu, bahwa Yunho yang mengatakannya.

Aku menyandarkan punggungku tanpa berkomentar lagi. Sesekali melihat Jaejoong yang seolah tengah menyusun kata-kata yang hendak diucapkannya pada Junsu. Ya… kenapa aku masih merasa bahwa aku Junsu, bukankah maksud kedatanganku sebelumnya untuk mengatakan padanya bahwa aku Yunho? Kenapa aku tidak bisa menyusun satu kalimatpun untuk mengatakan Aku adalah Yunho?

"Kenapa kau tidak memelukku lagi?" Tanya Jaejoong tiba-tiba sembari ia menyandarkan kepalanya di bahuku.

Aku cukup terkejut ketika menyadari bahwa Jaejoong melakukan hal itu. Seorang Kim Jaejoong yang kukenal dulu tidak seperti ini! Ada apa dengannya? Mungkinkah semua keadaan ini harus merubahnya menjadi seseorang yang terbuka?

"Kau tahu? Sejak dulu aku selalu ingin menyandarkan kepalaku di bahumu. Karena dengan seperti itu, aku akan merasa bahwa ada seseorang di sampingku. Jebal! Jangan pergi lagi!" Jaejoong mengatakannya dengan isakan disetiap kata-katanya.

"…"

"Jebal! Jangan pergi lagi!"

"…"

Apakah kau akan mengatakan hal yang sama bila aku adalah Yunho, Jaejoong-ah? Jika aku adalah seseorang yang membuatmu menjadi seperti ini?

"Jaejoong-ah…" Kataku sedikit ragu untuk memeluknya.

"Jebal!"

"Apa kau akan mengatakan hal yang sama bila aku—"

"Yunho-ah… Jebal! Jangan pergi lagi!"

Yunho? Dia mengatakan bahwa aku Yunho! Dia…

Jaejoong-ah…

"Yunho-ah…"

"Mianhae!"

Segera aku memeluk namja ini. Memeluknya erat, karena aku tidak boleh melepaskannya lagi. Suatu hal bodoh bila aku melakukan hal yang sama lagi.

End of Jung Yunho POV

Jaejoong pov

Yunho mengantarku masuk ke dalam kamar. Walaupun aku tidak bisa melihatnya, namun aku bisa merasakannya, aku bisa merasakan bahwa saat ini dia sedang melihatku. Melihatku lembut dengan matanya yang tajam, mata yang kurindukan.

"Kau pucat!" Kata Yunho tiba-tiba.

"Semua orang mengatakan hal yang sama! Aku bosan mendengarnya!" Jawabku santai.

"Chincha?"

"Nae. Apa kau tidak memiliki pertanyaan lain lagi?"

"Apa yang harus kutanyakan?"

"Apapun."

"…"

"…"

"Aku tidak memiliki pertanyaan!"

"Aish , kau mengecewakanku!"

Tak ada jawaban lagi dari Yunho, mungkin saat ini dia sedang tersenyum.

Kau tahu? Hal yang sangat membahagiakan untukku? Adalah kau yang ada disampingku. Dan kau tahu? Apa yang membuatku kini merasa tenang? Aku bisa merasakan kau tersenyum lagi. Aku tenang, sangat merasa tenang…

End of Jaejoong POV

...

Yunho pov

Flashback

Kedatangannya adalah sebuah ilustrasi dongeng yang membuatku membencinya. Kehidupanku yang mengalir tanpa jeda, seolah terhalang oleh hadirnya sebuah nama Kim Jaejoong di rumahku. Sebuah nama yang membuatku berbeda di mata orang lain. Sebuah nama yang membuatku terlahir kembali menjadi seorang Jung Yunho yang terusik kediamannya.

Sikapnya yang terlampau sempurna membuatku semakin membencinya, membuatku harus mengatakan bahwa dia hanyalah seorang Cinderella yang tak nyata, dan dengan sangat jelas membuat perbandingan yang mencolok antara sikapku dengannya.

...

Disudut ruang kamarnya, aku melihatnya menangis. Tanpa suara dia menangis, menahan semua perasaannya. Seolah beban dipundaknya telah memuncak dan tak bisa dirubahnya. Dan, dengan sekali aku memperhatikannya, aku tahu, dia tidak seperti yang kubayangkan!

...

Dibalik kedinginan sikapku, aku selalu memperhatikannya. Entah kenapa! Hingga itu menjadi sebuah kebiasaan. Walaupun, sikapku padanya masih seperti sebelumnya.

...

"… karena aku menyukaimu…" Mungkinkah dia tahu bahwa itu terlontar dari lubuk hatiku? Bolehkan aku berharap bahwa ini bukan hanya sebuah drama. Bahwa ini adalah realita, bahwa kau bukanlah Cinderella.

...

Tersimpan sebuah perasaan takut ketika aku melihatnya, perasaan takut bahwa ia membenciku. Perasaan takut, dia tidak ingin melihatku. Dan perasaan takut itu berubah menjadi sebuah kecemburuan ketika aku melihatmu dengan Changmin.

Aku tidak bermaksud membuatmu terluka, aku tidak pernah bermaksud membuatmu seperti ini. Membuatmu terjatuh dari tangga itu. Membuatmu mengalami buta permanent, aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Mianhae… jeongmal mianhae…

Mengenalkan Junsu padamu bukanlah sesuatu yang seharusnya ku pertahankan. Namun, hingga kau tahu sendiri, aku tidak pernah menyebutkan namaku di hadapanmu, bukan karena aku ingin melukaimu, namun karena aku takut kau semakin membenci kehadiranku.

End of flashback

"Yunho-ah kau benar-benar tidak ingin bertanya padaku?" Tanya Jaejoong tiba-tiba yang membuatku melihatnya.

Jaejoong, duduk di sampingku, dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Tatapannya yang kosong menghadap pada panorama pegunungan itu, walaupun aku tahu, kau tidak bisa melihatnya Jaejoong-ah.

Jaejoong semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku, seolah mencaro kehangatan disana.

"Apa yang harus aku tanyakan padamu?" Tanyaku ringan yang entah kenapa, aku merasa dingin.

"Arraseo, kalau begitu aku yang bertanya…"

"Nae?"

"Apa kau menyukaiku?"

"…"

"Yunho…"

"Nae… Jeongmal saranghae…"

"…" Jaejoong diam, tidak menjawabku.

"Jaejoong-ah… Apa kau menyukaiku?"

"…"

"Jaejoong-ah…"

"…"

"…" Dia tetap diam, dan menghilang.

Arraseo… Jaejoong-ah… annyeong…

Kepergianmu adalah sebuah ilustrasi dongeng yang membuatku mengerti. Bahwa kau ada untuk menjadi sebuah jeda dalam kehidupanku. Jeda yang menjadi warna di dalamnya.

Jaejoong-ah…

Kebahagian itu tak selamanya tersurat, karena itu untuk pertanyaanmu. Kebahagian itu ada! Dan akan hadir untuk semua orang.

Karena aku tahu, saat ini kau tengah menjemput kebahagiaan untuk kehidupanmu yang selanjutnya.

Jaejoong-ah… Happiness is true…

The End

Thanks to :

Julie YunJae : Huaaaaaaaaa Eonnie.. mianhae bikin galau. heheh :P ini ffnya, buat eonni, moga gak galau. yeah. sesama yang gak nonton smtown. #plak hehehe ^^v makasih udah review -big hug-

Haiiro-Sora : oh? hehe sejujurnya, aku penggila angst. hehe aku suka bgt sama semua fic angst , dari semua pairing yang aku gilai, aku selalu cari yang angst. k-drama ato j-drama juga, paling suka yang sad ending. hehe saya memang gila, tapi itulah adanya. makasih udah review :D

Nara-Chan : Nara-chaaaaaaaaaaaaaaan. hehe :P udah dijawab endingnya happy ato nggak. :) happy kok, soalnya udah pada ngungkapin perasaannya 22nya :D makasih udah review :D

Namikaze : mereka bersatu kok chingu :D makasih udah review :D

Ryu : membingungkan ya? haduh mianhae. mungkin karena ini fic drabble ya? hehehe makasih udah review :)

Shim Shie : minnie tetep anak yunjae eternally #wew disini, dia jadi temennya jaema. dia ada sedikitrasa suka, tapi gak bilang dan aku juga gak begitu ngegambarin jelas perasaan min ke jaema sih, hehehe bukan orang ke3 kok cuma penengah #loh? hehe makasih udah review :)

rara : iya yun baka! ayo kita bakar yunpa! #digerekyunpa hehehe makasih udah review :)

LEETEUKSEMOX : mianhae, aku gak bikin panjang lagi ni ff. cukup disini aja heheheh :P udah mentok sampe sini ide nya #dorrr hehe makasih udah review :)

irengiovanny : disini emang jaema terlalu kebaikan heheh sakin cinta -?- sama yunpa, dia pasrah mau digimanain juga #loh? heheheh makasih udah review :)

and silent reader :D