Rain Song
Summary:
Dengan melodi nyanyian kita telah bertemu..., seakan terikat oleh takdir yang melingkar di jemari kita. Dan kini, dengan melodi nyanyian pula kita berpisah. Nada yang seharusnya menenangkan kini menekan sudut hati, "Kenapa semuanya harus seperti ini? Apa takdir memang mempermainkanku?"
Disclaimer:
Vocaloid © Yamaha and Crypton corporation
Rain Song fic © Asakuro Yuuki
Pairing:
Akaito X Neru
Warning:
1. Dont like? Paksain like! #dor# enggak enggak, yang bener: Dont like? Dont read!
2. untuk IVFA periode pertama tahun 2012. Tema: Sing
CHAPTER 2
Kedua kelopak mata itu membuka perlahan, memperlihatkan permata berwarna keemasan dibaliknya; iris. namun sejurus kemudian kedua iris itu menyipit kembali, belum terbiasa akan kadar cahaya yang menembus relung pupilnya.
Iris keemasan itu milik Neru.
Gadis itu melebarkan matanya kembali. Menyadari bahwa ia terbalut sebuah selimut biru yang tebal, hangat, dan lembut. Mulanya ia tidak sadar, dan hanya menatap langit-langit kayu yang berhias lampu gantung di atas sana itu. Namun ia ingat, semalam ia tidak tidur di sini. Ia tidur di sebuah gang sempit di samping toko kue entah apa namanya itu. Gang penuh debu yang sebelumnya ia usap-usap dengan telapak tangannya demi mengurangi tebal lapisan putih keabu-abuan itu.
Sang gadis berambut kuning itu bangkit menuju posisi duduk. Diamatinya sekeliling. Dirinya berada di sebuah ruangan yang tidak terlalu sempit namun juga tidak luas. Ia juga mendapati dirinya berada di atas sebuah futon berwarna biru dan putih. Di seberang ruangan terdapat sebuah single bed yang terlihat nyaman, dengan sebuah selimut hitam yang terlipat rapi di sisinya, kosong tanpa seorang pun di atasnya.
Ruangan yang ia tempati bercat sewarna cream. Di dindingnya terdapat poster Aqua Times dan juga penyanyi wanita yang terkenal, YUI. Dari warna-warna perabotan dan hawa yang ada, kamar tersebut sangat jelas adalah kamar seorang lelaki. Yang menjadi pikirannya adalah, Bagaimana bisa ia sampai di kamar seorang laki-laki?
Neru segera meraba rambutnya, sadar bahwa helai-helai keemasannya kini terurai dan bukan terikat satu di samping seperti semalam. Panik merengkuhnya erat. Apa yang sebenarnya terjadi? Ia khawatir setengah mati. Ia ada di mana sekarang? Jangan-jangan ia telah di...
Tidak. Itu tidak mungkin. Gadis itu menghembuskan nafas panjang guna menenangkan diri. Namun nihil, berbagai pikiran negatif tetap mengabuti pikiran gadis pemain gitar itu. Meskipun ia tahu bahwa barang-barangnya masih terlihat utuh (paling tidak, ia bisa melihat tas dan gitarnya ada di sudut ruangan sana) dan pakaian yang dikenakannya masih sama, ia tetap tidak tenang. Siapa tahu kan? Coba bayangkan, bagaimana perasaanmu ketika terbangun dari tidur dan mendapati dirimu berada di kamar yang tidak kau kenal, dan kamar tersebut adalah kamar seorang lawan jenis?
Gadis yang dulu menyandang marga Akita itu menelan ludah. Disibakkannya selimut dari tubuhnya yang kurus, kemudian berjalan menuju barang-barangnya yang ada di sudut ruangan. Namun langkahnya terhenti ketika kakinya menginjak sesuatu. Diangkatnya kakinya, mendapati ikat rambut berwarna cokelat miliknya tergeletak di sana. Ia menghela nafas, mengambilnya lalu melanjutkan langkahnya menuju barang-barangnya.
Ia membuka risleting tasnya, dan mendapati isi benda berbahan dasar kain biru itu kosong. Matanya melebar seketika, terkejut melihat tas itu tak bermuatan apapun, kecuali udara yang tak kasat mata. Dengan panik, ia mengambil case gitarnya; ringan. Berarti gitarnya tak ada pada tempatnya. Neru menggigit bibir, makin cemas.
Di mana barang-barangnya berada?
Neru memalingkan muka ke seluruh penjuru ruangan. Namun tak ada tanda-tanda pakaiannya (atau paling tidak, gitarnya) berada. Yang ia dapati hanyalah tempat tidur, meja belajar, dan sebuah lemari. Ah, lemari! Gadis itu segera melangkah cepat-cepat ke arah lemari hitam di sisi utara ruangan itu dan membuka pintunya. Di dalamnya, terdapat banyak sekali pakaian ala laki-laki. Dan ia tak melihat tanda-tanda pakaiannya ada di dalam sana. Logika saja, kalau Neru dipindahkan ke sini semalam dan pakaiannya diletakkan di lemari ini, seharusnya pakaian miliknya itu berada di tumpukan atas kan? Namun yang ada di deretan atas adalah kaus merah bertuliskan Music is my life.
Ditutupnya pintu lemari. Kini iris kekuningannya beralih ke pintu kamar.
Siapa yang kira-kira berada di balik sana? Ia menelan ludah sekali lagi, kini sambil meremas ujung bajunya erat. Pikirnya menimbang-nimbang apakah ia harus keluar atau tidak. Ia bisa merasakan dingin menyapa ujung jemari kaki dan tangannya karena takut. Bahkan saat ini, mungkin saja wajahnya telah sepucat karang yang akan mati; putih.
Setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya, ia memutuskan untuk keluar. Dilangkahkannya kedua kakinya yang gemetar, merasakan permukaan keramik yang suhunya lebih dingin dibanding ujung jemari kakinya. Dan ketika ia sampai di ujung pintu, ia melongok keluar ruangan, memastikan keberadaan apapun yang ada.
Ia menyapukan pandangannya ke arah ruang yang terlihat seperti ruang tamu sekaligus ruang televisi itu, meniti sisi-sisi pintu yang menuju ruang kecil yang tampak seperti dapur, dan menelusuri pandangan ke arah pintu yang tertutup; mungkin pintu depan. Saat pandangannya mencapai sebuah alat pendeteksi seseorang di luar pintu (yang bisa menunjukkan siapa yang datang bila kau menekan tombolnya), barulah ia sadar bahwa ia berada di sebuah apartemen dan bukan rumah. Apartemen berpredikat mewah tentunya.
"Ah, kau sudah bangun?" suara itu membuat Neru bergidik. Berlebihan memang, karena suara itu bukanlah suara kasar ataupun suara yang aneh. Namun tetap saja, suara itu mengagetkan Neru yang tengah mengamati ruangan lain.
Gadis pemain gitar itu menoleh ke asal suara, mendapati seorang laki-laki yang ia duga adalah pemilik kamar (kalau memang tempat ini bisa disebut sebuah kamar) apartemen ini. Laki-laki itu mengenakan kemeja berwarna abu-abu dan celana panjang berwarna hitam, tak cocok dengan warna rambutnya yang merah menyala bagai lingkaran merah di bendera Jepang. Iris pria itu berwarna cokelat kemerahan, menatapnya ramah tanpa tanda-tanda niat jahat. Namun Neru tetap paranoid.
Gadis itu mundur satu langkah. Lelaki itu tertawa kecil.
"Kau pasti kaget ya?" sahut lelaki itu renyah. "Kau kutemukan sedang tertidur di balik peti-peti di samping toko kue tempatku bekerja. Jadi, kubawa saja kau dengan mobilku kemari."
Neru menatap laki-laki itu dengan pandangan absurd. Tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Lagipula, ia tahu kalau laki-laki itu belum selesai bicara. Atau setidaknya, memperkenalkan dirinya.
"Namaku Shion Akaito." ujarnya, seperti dugaan Neru. "Di sini kamar apartemenku. Kalau kau mau, kau boleh tinggal di sini."
Kalimat terakhir yang diucapkan lelaki bermarga Shion itu membuat Neru terbelalak. Tinggal..., di sini? Bagaimana bisa seorang laki-laki menawarkan tempat tinggal pada gadis begitu saja? Pasti ada apa-apanya, batinnya. Ia merinding.
Sepertinya Akaito menyadari raut muka Neru yang memucat.
"Tidak, aku tidak akan melakukan apa-apa, tenang saja." ujarnya, seperti telah mengetahui isi pikiran gadis tersebut. "Aku bukan orang seperti itu, kau tahu?"
Neru menggeleng, Akaito menepuk jidatnya. Menghela nafas.
"Baiklah," sahut lelaki berambut merah itu kemudian. "Aku akan berangkat bekerja, di toko kue yang kemarin. Kau tinggal di sini saja," lanjutnya sambil mengulas senyum. Akaito melangkahkan kakinya menuju ruang depan, hendak mengambil jaketnya yang tergeletak di sofa sana.
Gadis bersurai emas itu melangkahkan kaki kanannya ke depan, ragu. Ia hendak bertanya di mana barang-barangnya, namun entah kenapa suaranya tak mau keluar. Ia hanya membuka mulut dan memandang laki-laki di depannya dan tasnya secara bergantian.
Akaito yang memandang Neru memakai jaket merahnya, mengetahui apa yang Neru maksud, ia menjawab, "Pakaianmu ada di laundry, dan gitarmu ada di toko reparasi alat musik di pusat kota."
Neru menghembuskan nafas berat, mengangguk sebagai respon.
Akaito membalasnya dengan senyuman ramah. Kemudian ia berjalan menuju pintu depan dengan cepat, sambil melirik jam tangan hitamnya yang melingkar di tangan kanannya.
"Aku akan kembali pukul sembilan malam. Kalau kau lapar, makanan ada di kulkas. Atau kau bisa memesan delivery, aku meninggalkan sejumlah uang di atas rak buku di sana." ujar Akaito panjang lebar sambil menunjuk rak buku berbahan kayu berkualitas tinggi di pinggir ruangan.
Neru menelan ludah, lagi. Dasar orang kaya, pikirnya.
Tak lama kemudian, sosok lelaki beriris crimson itu menghilang di balik pintu, ditelan tikungan lorong di sana. Meninggalkan Neru yang masih berdiri di depan pintu kamar.
"...My God."
Pukul setengah dua siang, dua jam telah berlalu sejak pemilik kamar apartemen itu berangkat ke tempat kerjanya. Matahari bersinar terik di luar sana, begitu bersemangat mengobarkan panasnya ke penjuru bumi. Sesekali suara deru kendaraan dari luar terdengar, merayapi indera pendengaran gadis yang kini menumpang di apartemen laki-laki bernama Shion Akaito itu.
Gadis itu sendiri kini tengah membaca sebuah novel karya Agatha Christie yang ia temukan di rak buku milik sang empu apartemen. Ia duduk di sofa dengan tak nyaman, karena masih merasa ragu untuk tinggal di sana lebih lama.
Sebenarnya, terlintas di benaknya bahwa ia hendak kabur dari tempat itu. Tapi ia ingat bahwa pakaian dan gitarnya masih belum dikembalikan padanya. Jadi dengan terpaksa, ia tinggal di sana untuk sementara waktu. Ia tidak punya tempat tujuan lain.
Lagipula, hei, apartemen ini cukup nyaman juga.
Gadis itu menutup buku bacaannya, bosan dengan alur cerita yang kriminal melulu, meski ia mafhum karena nama sang pengarang yang memang tenar di bidang itu. Ia merasakan bahwa perutnya nyeri karena lapar, namun merasa tidak enak bila mengambil makanan di kulkas meski lelaki bersurai merah itu mengijinkannya, apalagi memesan delivery.
Neru membaringkan dirinya di atas sofa, menghembuskan nafas panjang. Ia sangat beruntung karena dipungut oleh seseorang seperti Akaito. Namun sampai saat ini, ia masih belum bisa mempercayai lelaki itu sepenuhnya; lelaki itu terlalu baik.
Ia mengedarkan pandangannya ke langit-langit ruangan yang berwarna putih. Memikirkan apa yang terjadi padanya beberapa hari belakangan ini, memikirkan kabar ayah dan ibunya yang nun jauh di sana. Memikirkan banyak hal. Bukannya Neru peduli pada ayahnya, ia hanya penasaran; apakah ayahnya menyesal karena telah mengusir dirinya?
Memejamkan mata, Neru menghela nafas. Kepalanya terasa berat karena terlalu banyak membaca buku sedang udara panas sedang merangkulnya. Dipijatnya pelipis kanannya pelan, merasakan nyeri ketika jari telunjuknya menekan pelipisnya.
Tak lama kemudian, ia terhanyut dalam dunia bernama mimpi.
Akaito sedang menghias kue berlumuran cokelat dengan krim vanila.
Kue itu adalah salah satu pesanan pelanggan setia toko itu, Kagamine Lily. Wanita berumur sekitar 35 tahun itu sering memesan kue-kue entah untuk apa. Sekali-sekali, kedua anaknya yang kembar ikut serta ke toko dan menggumamkan kekaguman atas kue-kue yang dipajang di etalase. Kali ini, Gakupo bilang padanya bahwa Nyonya Kagamine itu memesan kue untuk ulang tahun anak sulungnya; bukan si kembar, namun kakak si kembar yang belum pernah terlihat di toko ini.
Akaito selesai menuliskan kalimat 'Otanjoubi Omedetou, SeeU-chan' dengan krim vanila. Ia menyeka keringatnya dengan lengannya, kemudian mengalihkan pandangan pada jam yang tegantung di dinding. Pukul delapan lewat lima menit malam. Lelaki bersurai merah itu kini mengambil sebungkus krim stroberi yang sudah ia siapkan, hendak membingkai tulisan tadi dengan krim berwarna merah muda itu.
Ia sudah berjanji bahwa ia akan pulang pukul sembilan pada gadis yang ia tinggalkan di rumahnya. Lelaki berkemeja kelabu itu bahkan lupa menanyakan namanya tadi pagi, dan gadis itu juga tidak memperkenalkan dirinya meski Akaito sudah memperkenalkan diri. Atau mungkin gadis itu bisu? Ah, tidak mungkin, gadis itu bernyanyi beberapa saat sebelum ia menemukannya tertidur di samping toko itu. Kalau gadis itu bisu, siapa yang menyanyi kalau begitu? Memikirkan itu Akaito jadi merinding.
Omong-omong, ia juga tidak tahu dorongan apa yang membuat dirinya menawarkan tempat tinggal pada gadis tunawisma itu.
'Yah, satu kebaikan saja tidak apa-apa,' batinnya.
Kue pesanan yang dikerjakan oleh Akaito kini sudah berhias krim dan tampak indah. Ia tinggal memanggil Mikuo, rekannya selain Gakupo, untuk mengantarkan kue itu ke rumah Nyonya Kagamine. Toko ini memang melayani jasa antar.
Akaito membawa kue itu ke meja seberang wastafel, tempat kue-kue yang hendak diantar diletakkan di sana. Diletakkannya kue itu pelan-pelan ke dalam sebuah kardus. Ia mengambil secarik kertas dan menuliskan nama pemesan kue beserta alamatnya, meletakkan secarik kertas itu di atas tutup kardusnya. Kemudian ia beranjak menuju loker pegawai, mengambil jaket dan syalnya untuk bersiap pulang ke apartemen.
Sebelumnya, ia mengambil kue black forest yang hari ini ia buat untuk kepentingannya sendiri, hendak membawanya pulang.
"Aku duluan," sahut Akaito begitu melihat Gakupo sedang membuka oven untuk mengambil kue yang sudah matang. Gakupo menjawab dengan anggukan sambil tersenyum simpul, yang membuat Akaito merinding sewaktu-waktu. Dilangkahkannya kakinya ke luar, lewat pintu depan. Kemudian didapatinya Mikuo sedang bersender di samping mobil jasa antarnya.
"Aku duluan, Mikuo, kue pesanan Nyonya Kagamine sudah selesai. Kuletakkan di meja antar." Kata Akaito padanya. 'Meja antar' adalah sebutan para pegawai untuk meja tempat kue-kue yang akan diantar.
"Baiklah. Good job!" seru Mikuo sambil megacungkan jempolnya. Akaito menjawabnya dengan cengiran kecil, kemudian lelaki bersyal merah itu masuk ke dalam mobilnya yang tak jauh dari mobil jasa antar Mikuo.
Akaito mengarahkan mobilnya keluar dari lapangan parkir toko kue.
Malam telah melebarkan sayapnya. Bintang-bintang menyombongkan kerlipnya di angkasa. Bulan malam ini terlihat kemerahan.
Gelap adalah pemandangan yang dilihat oleh Akaito ketika ia memasuki kamar apartemennya. Secara reflek, ia meraba-raba dinding di sekitar pintu, mencari tombol lampu yang ia hafal berada di sana dan menekan tombol itu. Cahaya terang lampu yang tiba-tiba membuat lelaki berjaket merah itu sedikit menyipitkan mata, namun kemudian pandangannya meniti ruangan.
Nah, sekarang, di mana gadis itu?
Bawaannya sangat banyak. Di tangan kanan, ia membawa pakaian gadis itu yang sudah selesai di-laundry dan kue black forest yang ia bawa pulang. Sedang gitar yang baru keluar dari tempat reparasi ia bawa dengan tangan kiri. Ia melongok mencari sosok penumpang di kamar apartemennya itu. Kemudian ia menemukan sosok berambut pirang itu berbaring di sofa.
Ia mendekat ke arahnya, meletakkan semua barang di atas meja di depan sofa, kecuali gitar milik gadis itu, yang ia letakkan di samping sofa, menyender ke tembok. Diguncang-guncangnya bahu gadis itu pelan, membangunkannya.
"Hoi, bangun," sahut Akaito sambil mengguncang-guncang bahu gadis itu. Ia tidak tahu nama gadis itu; belum, tepatnya. Oleh karena itu ia tidak tahu bagaimana memanggil gadis itu. "Bangun,"
Pemilik rambut pirang keemasan itu membuka matanya perlahan. Sejenak lupa di mana ia berada sekarang, apalagi saat melihat sosok Akaito yang beberapa saat lalu mengguncang-guncangkan bahunya. Ia tersentak, terbangun dari posisi tidurnya dengan mata yang lupa akan rasa kantuk. Namun sejurus kemudian ia ingat. Ia menumpang sementara di apartemen milik lelaki itu.
"Hei, santai...," ujar Akaito, menjauhkan tangannya dari bahu Neru. "Kau sudah makan? Aku membawa kue. Lalu, ini pakaianmu, dan itu gitarmu. Kau pasti belum makan malam kan? Sudah makan siang?"
Akaito mengajukan pertanyaan beruntut yang terdengar sangat cerewet, namun Neru tak menjawab. Ia terpaku pada sosok lelaki pemilik kamar apartemen itu, orang pertama yang peduli padanya setelah sekian tahun.
"Hei." Sahutan Akaito membuyarkan lamunan Neru.
"E-eh, ya?" untuk pertama kalinya, Neru membuka mulut di depan laki-laki itu. Akaito menghembuskan nafas lega, gadis itu tidak bisu. Laki-laki itu melepas jaketnya, meletakkannya di kursi dekat rak buku seadanya. Kemudian melangkah menuju kulkas.
"Namamu?" tanya Akaito singkat.
"...Neru. Aku tak memiliki marga." ujar Neru, menghindari menyebutkan nama marganya. Setelah diusir dari rumah, sepertinya ia tidak pantas (dan memang tidak ingin) menyandang nama itu lagi.
"Jadi, kau tadi makan siang apa?" tanya laki-laki beriris cokelat kemerahan itu sambil mengecek makanan yang ada di kulkas. Tapi nihil, sepertinya semuanya masih utuh.
"...Tidak ada."
Akaito menaikkan alisnya.
"Astaga! Kau belum makan seharian?" tanya laki-laki itu cemas. "Sekarang kau mau makan apa?"
Neru diam. Kenapa laki-laki itu peduli?
Akaito menggeleng-gelengkan kepalanya, menutup pintu kulkas di belakangnya. "Aku akan memasakkan sesuatu untukmu. Setelah itu, baru kau boleh makan kue." katanya, kemudian melangkah menuju dapur.
"Eeh..., tidak usah." respon Neru. Tiba-tiba ia merasa tidak enak. Sudah numpang, diberi makan, pula? "Aku akan meninggalkan tempat ini sekarang. Pakaian dan gitarku sudah kembali... Tenang saja,"
Akaito berdecak. "Kau mau pergi ke mana? Keliling kota tanpa tujuan dan tidur di emperan toko lagi? Aku takkan membiarkan itu terjadi." jelas Akaito reflek. Bahkan ia tidak tahu kenapa ia harus mengatakan itu.
"Kenapa tidak?" tanya Neru nyolot. Kenapa sih laki-laki ini?
"Karena aku peduli." jawab Akaito tegas.
"Kenapa kau peduli?"
Hening merayap. Akaito tak bisa menjawab pertanyaan itu. Batinnya juga bertanya-tanya, kenapa ia peduli pada gadis di depannya? Kenapa ia tak membiarkan gadis beriris emas itu pergi menuju kegelapan malam, menelusurinya sendirian? Kenapa ia tidak menendang gadis itu keluar dari apartemennya sedari pagi tadi? Gadis itu menatapnya dalam, seakan menyusuri titik-titik tertentu di irisnya. Mungkinkah gadis itu sedang mencari ketulusan dalam pandangannya?
Neru memalingkan wajah.
"Makanlah dulu." ujar Akaito. mengalihkan pembicaraan. Kemudian menyodorkan sekotak kue black forest yang dibawanya.
Neru terdiam. Dan hening tetap melilit mereka dengan sulurnya.
TBC
Curahan Hati Author
Nah, update! Di antara tugas-tugas sekolah yang menghimpit saya, saya sempetin apdet. Jadi anak SMA emang sibuk ya ==; apalagi kalau ada pelajaran itu! #nuding
Ini cerita, makin saya pikir makin panjang. Masa sekarang diperkirakan memanjang sampe 4 chapter? Yah, semuanya biar alurnya ngak kecepeten sih (maaf juga kalau tetep kecepeten). Ni chapter lebih panjang 300-an kata daripada chap kemaren~
kalau ada typo, bilang ya. nanti saya replace chapternya setelah memperbaiki typo.
Bagi yang nunggu fic saya yang lain (Memories, Cursed Vow, Essen Quelle), tunggu dulu ya. Saya mau nyelesai'in ini soalnya yang ini ada deadline-nya. Namanya juga lomba ._.
btw, peserta kategori oneshot masih kurang nih! Ayo bikin dong. Temanya sing. info lebih lengkap bisa dilihat di
www . vocaloidaward . blogspot . com (hapus spasinya)
kemudian tekan 'News' atau 'FAQ' gitu. Lupa. buka aja dulu :D
oke, review please! Dan dukung saya di IVFA ya ;) #okeiniapa
