Rain Song
Summary:
Dengan melodi nyanyian kita telah bertemu..., seakan terikat oleh takdir yang melingkar di jemari kita. Dan kini, dengan melodi nyanyian pula kita berpisah. Nada yang seharusnya menenangkan kini menekan sudut hati, "Kenapa semuanya harus seperti ini? Apa takdir memang mempermainkanku?"
Disclaimer:
Vocaloid © Yamaha and Crypton corporation
Rain Song fic © Asakuro Yuuki
Pairing:
Akaito X Neru
Warning:
1. Dont like? Paksain like! #dor# enggak enggak, yang bener: Dont like? Dont read!
2. untuk IVFA periode pertama tahun 2012. Tema: Sing
CHAPTER 3
Sebulan telah berlalu.
Neru, setelah keheningan di malam itu, memutuskan untuk tetap tinggal. Semua dikarenakan ia melihat sepercik ketulusan yang menyala di iris lelaki itu, Shion Akaito, meski tampak tak beralasan. Dan juga akan kebaikan lelaki yang hampir selalu mengenakan syal merah itu padanya.
Neru bukanlah gadis bodoh. Selama enambelas tahun hidup di rumahnya (yang penuh kasih sayang palsu) dan satu tahun berada di bangku SMU, ia mulai bisa membaca niat seseorang. Yang tulus dan yang tidak. Entah itu dari cara mereka berbicara, cara mereka bersikap, atau bahkan cara mereka tersenyum padanya. Ketika seseorang itu tulus, yang bisa dia lihat adalah seutas kedalaman dalam iris mereka, atau searus kedamaian yang mengalir lewat senyuman mereka.
Akaito memilikinya. Lelaki itu menjulurkan seutas kadalaman dalam irisnya tiap kali pandangan kedua insan itu bertemu. Arus kedamaian yang mengalir lembut dari senyumannya. Juga pancaran ketentraman yang berasal dari siluet lelaki itu.
Paling tidak, Neru merasa ia harus mempercayainya terlebih dahulu.
Akaito memiliki sebuah ruangan kosong di apartemennya, yang sebenarnya merupakan ruang keluarga. Namun Akaito tidak memakai ruangan tersebut karena ruang depan kamar apartemen itu masih bisa memuat sofa-sofa ruang tamu beserta televisinya. Ketika Neru akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal, Akaito dengan senang hati menyilakan gadis beriris keemasan itu menempati ruangan tersebut, dan membantu membersihkannya dari debu-debu yang berseliweran.
Sehari kemudian, ruangan itu telah terisi dengan sebuah futon yang sama dengan yang dikenakan Neru ketika gadis itu dibawa ke apartemen itu, dan juga beberapa helai pakaian yang dibawa gadis itu, yang diletakkan di dalam kardus seadanya. Sebenarnya, Akaito mau-mau saja membelikan gadis itu sebuah lemari. karena kiriman uang dari kakaknya selalu lebih dari cukup. Namun gadis berparas manis itu menolak, dengan alasan bahwa belum tentu dirinya tinggal permanen di sana. Lagipula, ada lemari pun percuma karena ia hanya membawa sedikit pakaian dan tak pernah membereskan lemari lagi ketika ia membuat isinya berantakan.
Setiap hari, kegiatan mereka nyaris selalu sama, namun mereka tidak pernah merasa jenuh. Di pagi hari, mereka bangun dan membereskan bagian-bagian rumah yang berantakan. Kemudian mereka sarapan, Akaito lah yang memasak, meski terkadang ia mengajari Neru memasak. Pukul sepuluh atau sebelas siang, Akaito berangkat menuju toko kue tempatnya bekerja, hingga pukul enam sore atau pukul sembilan kalau dia lembur.
Terkadang ketika lelaki itu pulang, ia membawa sekotak kue basah yang tidak dibeli pelanggan hari itu, yang takkan awet bila dijual esok hari. Mereka memakannya bersama-sama, dengan rincian Neru yang menyambi mengajari Akaito bermain gitar. Kemudian mereka bercerita tentang banyak hal, menonton televisi dan kemudian masuk ke kamar masing-masing pada pukul sebelas malam.
Kali ini pun, ketika malam mulai mewarna langit dengan paduan warna yang kelam dan awan menelan bulan bulat-bulat, Neru dan Akaito masih duduk di lantai ruang depan. Memakan Red Velvet Cake yang dibawa pulang Akaito, kue yang di dalamnya terdapat selai stroberi yang manis dan akan melumer di lidah ketika kau melahapnya. Lelaki berkaus hitam itu memangku gitar, berusaha memposisikan jemari tangan kirinya sesuai instruksi gadis di depannya, dan tangan kanan yang sekali-sekali memasukkan potongan kue ke dalam mulutnya.
"Jari telunjukmu harusnya di sana. Nah, di senar kedua. Yap. Kemudian coba mainkan," ujar Neru menginstruksi. Lelaki di hadapannya mulai memainkan gitar di pangkuannya, sambil berkali-kali memandangi tangan kanan dan kirinya bergantian, takut melakukan kesalahan.
Namun sejauh ini, ia mampu memainkan iringan reff lagu itu dengan lancar. Merasakan itu, Neru mengetuk-ketukkan jari telunjuknya ke permukaan lantai sesuai tempo. Tak lama kemudian ia menyanyikan sebait lagu yang ia tulis beberapa hari lalu.
The past can't be changed, my friend
But look forward, to the sunset
And with our little hands
Let's create happiness
Outro dimainkan. Gadis yang mengenakan blus biru tua itu bertepuk tangan sesuai tempo. Akaito, yang mulai memelankan permainan gitarnya kemudian menyelesaikan outro dan tersenyum pada gadis itu. Neru balas tersenyum. Dan kemudian mereka tertawa bersama. Hangat.
Akaito masih ingat ketika dirinya bertanya pada gadis itu tentang keluarganya. Hari itu adalah hari di mana Akaito tidak membawa kue dari tokonya. Dan sebagai gantinya, mereka pergi ke minimarket di ujung jalan berdua, membeli cemilan dan sup krim instan untuk diri mereka sendiri. Dan ketika telah kembali ke apartemen, Akaito langsung membuat sup krim jagung itu, kemudian menuangnya pada dua mangkuk kecil dan memberikan satu untuk Neru.
Mereka memakan sup itu sambil mengobrol. Mulanya, Neru menanyakan tentang keluarganya. Akaito kemudian menceritakan bahwa ia sudah lupa siapa orangtuanya karena mereka sudah meninggal sejak Akaito berumur 3 tahun. Kemudian, kakaknya, Shion Kaito, yang waktu itu berumur 16 langsung drop out dari sekolah untuk bekerja. Hingga kemudian, kakaknya yang kini berumur tigapuluh tiga tahun itu hidup di Korea bersama keluarga barunya sambil mengelola sebuah hotel di sana. Sebulan sekali mengirimkan uang untuk Akaito di Fukuoka.
Neru mengangguk takzim, kemudian menyendok kembali sup krim dari mangkuknya.
Kemudian, Akaito menanyakan Neru tentang keluarga gadis itu. Saat itulah Neru terdiam, membiarkan sunyi mengambil alih keadaan. Gadis berkaus oranye itu hanya terdiam mengamati mangkuk berisi sup krimnya, mengaduk-aduknya dengan sendok pelan-pelan.
Lelaki di depannya hanya menggaruk kepala, menganggap pertanyaannya barusan telah menyinggung perasaan sang gadis. Namun ketika ia berkata bahwa tidak apa-apa bila Neru tidak ingin menceritakannya, gadis itu malah berkata bahwa ia hendak bercerita, namun memerlukan waktu untuk itu.
Beberapa saat kemudian, Neru mulai membuka suara. Saat itulah Akaito tahu penyebab gadis itu menjadi tunawisma dan terdampar di Fukuoka, jauh dari kediamannya di Tokyo sana. Meninggalkan kehidupan mewahnya dengan perasaan setengah terpaksa namun setengah lega. Terpaksa karena dengan diusir dan tak punya waktu untuk mengemasi semua barang-barang berharganya. Namun juga senang, karena akhirnya ia bebas dari kekangan orangtua tunggalnya.
Dan ketika Neru terisak, Akaito mengelus kepala gadis itu. Membiarkannya menangis, mengeluarkan sesak yang memenuhi rongga dadanya selama ini.
Jalanan ramai. Kendaraan berseteru dengan bisingnya deru mereka. Orang-orang berlalu-lalang, sebagian berada di halte, mengamati papan bertuliskan jalur bis yang ada di sana. Sebagian lagi melangkah di pinggir jalan, dengan tempo cepat dan tak peduli.
Di stasiun, terlihat seorang gadis berkaus cokelat dengan bawahan rok putih. Ia melengok ke sana kemari, menembus bayangan orang-orang yang tak dikenalnya. Di tangan kanannya tertenteng sebuah gitar dalam case hitam, yang sesekali terbentur langkah orang lain.
Gadis itu, Neru, sesekali terhimpit dalam keramaian. Salah satu kereta baru saja berhenti dan menurunkan penumpang, penyebab keramaian ini. Namun yang Neru cari bukanlah kereta, namun sebuah sisi, atau sudut, yang lumayan kosong untuknya sendiri. Ia hendak menyanyi di sana, dengan iringan gitar yang ia mainkan sendiri.
Hari itu, karena dirinya bosan di rumah, ia memutuskan untuk menyanyi di stasiun.
Retina gadis itu menangkap sebuah sisi yang dimaksud, di samping seorang pedagang minuman keliling bertopi hitam. Dengan susah payah, sang empu rambut keemasan itu menyelinap di antara keramaian, menahan keinginan untuk menghantam orang-orang yang menghimpitnya dengan case gitarnya. Berterimakasihlah pada postur tubuhnya yang kecil, menjadikannya lebih mudah untuk menyelinap di antara kerumunan yang lalu lalang. Meski case gitarnya terkadang menyusahkan, tersangkut kancingnya di risleting jaket orang lain.
Di sudut itu, ia meletakkan case gitar di depannya, membuka dan mengambil gitar kuning kecokelatan miliknya. Sambil menelusuri pemandangan padat di stasiun, dipangkunya gitar tersebut, sementara tangan kanannya merogoh sakunya untuk mencari pick.
Neru mempersiapkan diri. Ia hendak bersaing dengan kebisingan di stasiun. Namun sepertinya tak mengapa, karena sebelum ia menggenjreng gitarnya pun, bebrapa orang sudah berkumpul di depannya, memperhatikannya seperti burung hantu mengamati mangsanya. Neru menelan ludah, memposisikan kedua tangannya dengan benar.
Intro pun dimulai.
Life goes on
That's what you tell me
Fate isn't made to make you fell down
But to make you stand on your own power
Kerumunan yang menontonnya semakin ramai. Membuat Neru merasa sedikit gugup. Ia tidak pernah bernyanyi hingga ditonton orang sebanyak ini. Beberapa orang mengira Neru adalah penyanyi jalanan, dan mereka memasukkan sejumlah uang ke dalam case gitar Neru yang terbuka.
La la la la
I'm glad I met you
The person I love right now
A nice person with his kindness
Neru tetap bernyanyi sambil bermain gitar, menyelesaikan lagu yang baru ia buat semalam. Dilantunkannya lirik demi lirik buatannya, merasakan hawanya mengelus lembut hatinya. Memejamkan mata, Neru memainkan outro.
Dan ketika gadis itu membuka mata, semua orang bertepuk tangan. Ia tak bisa menahan senyum.
Neru berjalan menyusuri jalan kecil di samping stasiun, mengambil jalan pintas untuk pulang ke apartemen Akaito. Jalanan itu sedikit lembab karena jarang dilewati. Kerikil-kerikil tersebar di tengah maupun di pinggirnya, sesekali ia tendang karena menurutnya benda kecil itu menghalangi jalan. Di sisi kiri jalan itu ialah sebuah rumah kosong, yang di dasar dindingnya mulai ditumbuhi bebungaan dandelion liar, yang bulir-bulirnya tertiup ringan ketika ditepuk angin.
Gadis pencipta lagu itu membawa gitarnya seperti ransel, sementara kedua tangan dan mulutnya sibuk menghitung jumlah uang yang sebagian orang masukkan ke dalam case gitarnya. Sebenarnya, ia bernyanyi bukan untuk mendapatkan uang, namun untuk mengetahui pendapat orang lain selain Akaito tentang lagu buatannya. Namun ketika sebagian orang memasukkan selembar atau beberapa keping uang, ia tak bisa mengembalikannya. Karena ia tak tahu lagi orang yang mana yang memberinya uang itu.
1270 yen. Lumayan banyak untuk hasil seorang penyanyi jalanan, di hari pertamanya.
Dimasukkannya uang tersebut ke dalam saku, memastikan uang itu tidak akan terjatuh ke jalanan yang akan ia lewati. Ia berpikir bagaimana ia akan memberitahu Akaito soal ini. Setidaknya, uang yang ia dapat bisa meringankan beban lelaki tersebut yang kini juga menghidupi dirinya. Mungkin Akaito akan senang.
Memikirkannya, Neru tak bisa berhenti tersenyum.
TBC
A/N
WTH! Pendek! Pendek! Pendek!
Maaf atas keterlambatan update! Ini dikarenakan banyak hal yang terjadi seminggu ini. Apalagi sejak hari Kamis kemarin saya resmi jadi anak yatim ;A;
Ya sudahlah, fanfic ini 1 atau 2 chapter lagi tamat :D
Semoga bisa tepat waktu ama deadline #pray
Aniway, review please?
