Rain Song

Summary:

Dengan melodi nyanyian kita telah bertemu..., seakan terikat oleh takdir yang melingkar di jemari kita. Dan kini, dengan melodi nyanyian pula kita berpisah. Nada yang seharusnya menenangkan kini menekan sudut hati, "Kenapa semuanya harus seperti ini? Apa takdir memang mempermainkanku?"

Disclaimer:

Vocaloid © Yamaha and Crypton corporation

Rain Song fic © Asakuro Yuuki

Pairing:

Akaito X Neru

Warning:

1. Dont like? Paksain like! #dor# enggak enggak, yang bener: Dont like? Dont read!

2. untuk IVFA periode pertama tahun 2012. Tema: Sing


CHAPTER 4


Akaito selalu mengamati Neru tiap detik mereka menghabiskan waktu bersama. Ia sampai hafal gerak-gerik gadis berambut blonde itu. Cara gadis itu menatap layar televisi dengan serius, cara gadis itu memindahkan posisi jemarinya dari senar ke senar lainnya saat bermain gitar, cara gadis itu mengeluh ketika mendapat kesulitan, bahkan cara gadis itu memejamkan mata ketika menghayati tiap lirik yang dinyanyikannya. Terkadang, lelaki itu ingin mengabadikan sosok gadis itu, membingkainya untuk dirinya sendiri dan menyimpannya dalam lemari yang tak bisa dibuka siapapun kecuali dirinya.

Maka dari itu, berbekal sebuah tape recorder tua yang ia temukan dalam salah satu kardus berdebu yang dulu ia bawa ketika baru pertama kali pindah ke apartemen, ia bertekad untuk merekam nyanyian Neru. Tadinya, ia berpikir untuk menyimpannya sebagai kenang-kenangan untuk dirinya; gadis itu tak mungkin tinggal bersamanya selamanya, bukan? Ia takkan tahu apa yang terjadi, karena takdir itu ambigu. Namun setelah berpikir ulang, ia kemudian berniat mengirimkannya ke sebuah perusahaan rekaman. Untung-untung kalau diterima.

Dan itulah, ketika malam mulai melebarkan sayapnya yang kelam, ia menjalankan rencananya secara diam-diam. mengapa harus diam-diam? Entahlah, ia juga sebenarnya tidak tahu. Namun, yang ia tahu adalah, ia ingin menjadikan semua ini sebagai kejutan untuk gadis itu. Meski sejurus kemudian ia berpikir kalau dirinya sudah gila.

Yah, kau tidak mengerti jalan pikiran orang yang sedang jatuh cinta, bukan?

Ketika gadis yang menumpang di apartemennya itu mulai memangku gitar, lelaki berambut kemerahan itu sudah menekan tombol play pada tape recorder di belakang punggungnya, memastikan bahwa gadis itu tak menyadarinya. Kemudian ia mendengarkan senandung tingan gadis itu dalam diam, takut memberi suara berisik yang akan mengganggu pada rekaman yang sedang ia lakukan. Diamatinya wajah gadis di depannya dalam-dalam, meniti tiap jengkalnya yang sedang mendalami syair lagu ciptaannya sendiri.

The past can't be changed, my friend

But look forward, to the sunset

And with our little hands

Let's create happiness

Lagu yang dinyanyikan sang gadis adalah lagu yang paling sering dinyanyikan olehnya. Lagu yang diciptakan gadis remaja itu pada jangka waktu yang tergolong lama. Setidaknya dibandingkan lagu-lagunya yang lain, yang terselesaikan dalam waktu kurang dari satu atau dua hari. Lagu yang perbaitnya dibuat pada hari yang berbeda, karena ia begitu berniat membuat lagu ini menjadi lagu yang sempurna. Bahkan meski gadis bermanik keemasan itu tahu tak ada yang sempurna di dunia ini.

Lagu itu ia beri judul Rain Song.

Neru memberinya judul berdasarkan keadaan saat bait terakhir ia buat. Saat itu adalah malam yang diguyur hujan yang meski tak terlalu deras, cukup untuk membawa udara dingin untuk menghentak permukaan kulit, meremangkan bulu kuduk. Neru membuat bait terakhir di malam itu karena ia tak bisa terlelap. Meski sebenarnya ia merencanakan pembuatannya esok hari, karena tidak memiliki hal lain untuk dilakukan, tak ada pilihan lain baginya.

Di saat ia tengah menulis bait ketiga dari lagu itu, tiba-tiba Akaito mengetuk pintu kamarnya. Dan ketika gadis berpiyama itu membukakan pintu, ia mendapati lelaki beriris crimson itu tengah membawa dua cangkir cokelat panas sambil tersenyum lebar ke arahnya. Mengajaknya untuk meminumnya bersama di ruang tamu.

Neru menyetujuinya, menyempatkan diri menuliskan baris terakhir dengan buru-buru dari lagu tersebut sebelum menyusul sang empu kamar apartemen ke luar kamar.

Life goes on

That's what you tell me

Fate isn't made to make you fell down

But to make you stand on your own power

Neru terus bernyanyi. Dan lagu yang dilantunkan gadis itu terus terekam hingga akhir.


Neru, sejak hari pertama di mana ia menyanyi di stasiun, menjadi lebih sering melakukannya. Sekitar satu jam setelah Akaito pergi bekerja, ia akan bersiap-siap keluar. Memakai jaket hitam yang diberi Akaito beberapa waktu lalu, mengikat rambut sepinggangnya menjadi ponytail di belakang kepalanya, dan menenteng gitar yang ada dalam case-nya. Ia kemudian mengunci pintu apartemen dengan kunci duplikat dan pergi keluar.

Menyusuri jalanan yang ramai, ia mengambil jalan pintas melalui gang-gang sempit yang tersembunyi di perkotaan. Melewati jalan tanah yang mengeras dan mulai berlumut karena terkena air limbah cucian setiap harinya, juga melewati selokan kecil. Ia melangkah sambil terus bersenandung. Hingga akhirnya tiba di gang yang berjarak beberapa meter dari stasiun.

Ketika ia teringat, sudah sebulan lamanya ia melakukan kebiasaan ini. Menghibur orang-orang di stasiun dengan nyanyiannya, kemudian mendapat sejumlah uang tanpa ia minta. Ia melakukan semuanya tanpa sepengetahuan Akaito. Ya, ia belum memberitahu lelaki itu. Entah mengapa ia merasa sedikit malu bila memberitahunya. Dan juga, ia takkan tahu apa reaksi lelaki bermarga 'Shion' itu, kan? Jadi ia memutuskan untuk menyimpannya sendiri sebagai rahasia. Setidaknya, untuk sementara waktu. Sampai ia merasa sudah saatnya dia memberitahu pemilik tempat ia bernaung itu.

Hari itu pun, ia melawan arus keramaian yang disebabkan oleh kereta yang baru tiba di stasiun; kereta pukul satu siang dari Tokyo, kereta yang dulu dia naiki saat baru diusir dari rumahnya. Ia mencari sudut di mana ia biasa mengadakan pertunjukan sambil tetap waspada pada tangan-tangan jahil yang bisa saja mengambil dompetnya diam-diam. Dan menahan diri untuk menghantamkan case gitarnya pada orang-orang yang berlagak tidak melihat dirinya dan menabraknya, atau pada lelaki kantoran yang masih sempat merokok di antara keramaian tanpa tertangkap petugas.

Ketika sampai, seorang pemuda pedagang minuman keliling yang berambut pirang yang diikat semodel dengan rambutnya mengangguk samar padanya sebagai sapaan. Neru sudah mengetahui siapa dia. Dia, seperti yang sudah disebutkan tadi, adalah pedagang minuman keliling di stasiun. Ketika Neru mengadakan pertunjukan, pemuda itu menawarkan minuman pada orang-orang yang menontonnya. Hitung-hitung, simbiosis mutualisme. Neru menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada orang itu sebagai balasan, kemudian berlari kecil menuju tempat ia akan memulai pertunjukkan.

Beberapa orang yang sudah menghafal sosoknya pelan-pelan mendekatinya. Neru tersenyum simpul sambil berkutat pada case gitarnya.

Hari itu, seperti biasa, tepuk tangan adalah jawaban dari nyanyiannya.


Akaito mengemudikan mobilnya menuju apartemen. Langit senja mulai merona merah, menciptakan paduan warna yang indah antara merah, jingga, dan ungu di atas sana. Hari itu, Akaito pulang lebih cepat karena Gakupo menggantikannya lembur. Hal itu dikarenakan minggu lalu, lelaki berambut sewarna darah itu sudah menggantikan jadwal lembur Gakupo hingga dua kali karena lelaki penyuka terong itu berkata bahwa ia hendak berkencan dengan kekasihnya yang bermarga Megurine.

Jadi, kali ini, giliran Gakupo yang menggantikan giliran lemburnya, meskipun harus dipaksa terlebih dahulu.

Di bangku di samping bangku kemudi, terdapat sebuah amplop cokelat. Amplop cokelat itu sudah sobek tepiannya, tanda bahwa amplop itu sudah pernah dibuka setelah dikirim. Lelaki pengemudi mobil itu barusan mendapatkannya di toko kue. Amplop itu merupakan jawaban dari rekaman lagu Neru yang ia kirimkan sebulan lalu. Akaito memang sengaja menuliskan alamat toko kue tempatnya bekerja dibandingkan dengan alamat apartemen, memikirkan resiko ketahuan karena gadis itu berada di apartemen sepanjang hari.

Tadinya Akaito membuka amplop itu dengan ekspresi datar. Namun ketika membaca surat dan bukti kaset yang ada di dalamnya, ia terbelalak. Tak peduli berapa kali ia membaca surat itu, di mana ia membacanya, dan bahkan menyuruh Gakupo untuk membacakannya sambil mengocok adonan kue, isinya tetaplah sama.

Lagu itu diterima, bahkan ditawari sebuah debut.

Karena itu, dengan setengah memaksa, ia meminta Gakupo menggantikan giliran lemburnya hari ini, menggunakan alasan Gakupo yang sering memintanya menggantikannya. Alasan sebenarnya adalah bahwa ia ingin cepat-cepat pulang dan menemui gadis itu, kemudian memberitahu berita gembira itu.

Memikirkan reaksi Neru, Akaito tak bisa berhenti tersenyum.

Akaito tidak hanya tersenyum karena itu. Namun juga karena dirinya ikut senang. Tentu saja, memulai debut secara resmi jauh lebih baik untuk gadis itu. Ia tak sanggup membayangkan bila bakat gadis itu disia-siakan. Atau bahkan, bila gadis itu menjadi penyanyi jalanan. Menyanyi di stasiun atau terminal dengan resiko dipalak oleh preman-preman.

Mobil milik Akaito berhenti di lapangan parkir apartemen. Ia mematikan mesin, menyambar amplop tadi dan cepat-cepat memasuki gedung apartemen.


Namun, kosong adalah keadaan yang Akaito dapati di kamar apartemennya. Gadis bersiluet pirang keemasan itu tak ada di manapun. Ia sudah mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, menengok dapur, bahkan membuka lemari baju kamarnya untuk mencari gadis itu. Namun nihil. Gadis itu tak menunjukkan batang hidungnya.

Akaito mencoba memasuki kamar gadis itu. Dirinya sudah membawa kunci asli kamar itu, karena kunci yang dibawa Neru adalah duplikat, untuk berjaga bila kamar itu terkunci. Namun ternyata tidak. Kamar itu terbuka di detik ia memutar kenopnya. Dimasukinya ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu, mendapati isinya masih sama.

Ke mana gadis itu?

Dan di saat yang sama ia memikirkannya, ia mendapati kosongnya sudut ruangan, tanpa sebuah gitar yang seharusnya ada di sana.

Cklek.

Tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar. Akaito terlonjak kaget. Namun sejurus kemudian ia langsung berpikir bahwa yang masuk tadi adalah Neru. Karena itu ia langsung berjalan cepat menuju ruang depan. Dan benar saja, di sana, gadis itu tengah melepas jaket hitamnya dan hendak menggantungkannya di balik pintu. Gadis itu sepertinya tak menyadari kehadirannya. Mungkin dia tak melihat mobilnya yang telah berada di parkiran.

Akaito menghela nafas lega, namun juga kesal karena gadis itu pergi tanpa pamit.

"Ekhm." Dehem Akaito. Ia mendecak dengan kesal. Menatap gadis yang kemudian terlonjak dan berbalik ke arahnya. Gadis itu terbelalak melihat sosoknya, mungkin tak menyangka karena hari ini adalah hari Kamis, hari di mana ia seharusnya lembur di toko kue.

"E..., eh, kau sudah pulang. O.., okaeri," ujar Neru dengan kikuk. Ia sedikit menggeser badannya ke arah gitar yang ia sandarkan di dinding di sebelah pintu, berharap bahwa lelaki yang menampungnya tersebut belum melihat benda kesayangannya itu.

"Dari mana kau?"

Pertanyaan itu telak membuat gadis itu membisu.

"Hm..., aku..., dari minimarket."

"Oh, begitu." jawab Akaito. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Lalu di mana tas belanjaanmu? Kenapa kau membawa gitar?"

Skak mat.

Neru menelan ludah ketika mendengar pertanyaan Akaito yang terkesan tajam. dihindarinya tatapan lelaki di depannya. Entah kenapa ia memiliki firasat buruk. Ia memikirkan alibi yang bisa ia ucapkan, namun nihil. Sepertinya, inilah saat di mana ia harus mengatakan hal yang sebenarnya. Yah, sepandai-pandainya kau menyimpan bangkai, lama-kelamaan pasti akan tercium, bukan?

"Aku menyanyi di stasiun."

Akaito tergugu. Gadis itu mengamen di stasiun. Duh.

"Ya..., beberapa orang memberiku uang, sebagian tidak. Ta, tapi aku tidak meminta mereka memberi uang kok. Kau tahu? Menyanyi di sana sangat menyenangkan. Tepuk tangan menyambutku ketika aku menyelesaikan-"

"Oh, begitu." sahut Akaito ketus. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia berintonasi demikian. Mungkin ia merasa bahwa gadis itu tidak menghargai usahanya menghidupi mereka berdua?

"Y, ya."

"Apa kau tidak malu?" tanya Akaito lagi. Ia mulai merasakan darahnya naik tanpa alasan.

Dan sedetik kemudian, ia menyadari alasannya.

"Tidak...,"

"Kenapa kau menyanyi di stasiun?"

Ia ingin membingkai suara gadis itu untuk dirinya sendiri.

Tapi kenapa ia mengirimkan rekaman itu pada perusahaan rekaman? Demi kebaikan gadis itu.

"Ke, kenapa kau yang sewot? Lagipula, aku memiliki beberapa penggemar tetap," tanya Neru kemudian, mulai ikut ngotot dan ketus. Kini ia mulai berani menatap Akaito tepat di mata.

"Karena aku sahabat-mu."

"Sahabat nggak akan melarang sahabatnya melakukan hal yang disukainya." bantah Neru. Ia mengernyitkan dahi, merasakan atmosfer di antara dia dan lelaki jangkung itu mulai terasa aneh.

"Sahabat nggak akan membiarkan sahabatnya mempermalukan dirinya sendiri di hadapan umum." balas lelaki itu, tak mau kalah. Mereka terdiam beberapa saat.

"Menurutmu aku memalukan?"

Gadis tanpa marga itu menatap Akaito tajam. Ia tak menyangka semua ini akan terjadi. Reaksi Akaito yang pedas, Akaito yang pulang lebih awal, kecerobohannya karena pulang terlambat...

Tuhan, akan lebih baik bila kami bisa memutar balik waktu.

"Bukan begitu."

"Lalu?"

Gadis itu menajamkan tatapannya pada sosok lelaki di hadapannya. Kini, giliran Akaito yang memalingkan pandangan.

"Aku hanya ingin yang terbaik."

Gadis itu tergugu mendengarnya.

"Terbaik? Apanya yang baik bila aku tak melakukan hal-hal yang kusukai?"

Dan ketika Akaito menoleh dan hendak menjawab, sosok gadis itu telah tergantikan oleh pintu kamar apartemen yang terbuka lebar.


Akaito tidak tahu mengapa ia bisa sekeras itu pada Neru.

Yang Neru lakukan hanyalah melakukan hal yang gadis itu sukai. Lagipula, hal itu tidak merugikannya. Neru bukanlah anak kecil, ia bisa menjaga diri.

Namun membayangkan gadis itu menyanyi di jalanan benar-benar membuatnya panas.

Ia memiliki rencana yang lebih baik dari semua itu. Rencana yang kuncinya ia letakkan di atas meja makan apartemennya, yang ia tinggalkan karena sekilas panik yang menyerbu ketika mendapati kamar apartemennya kosong.

Akaito sadar bahwa ia salah.

Tak seharusnya ia mengekang gadis itu. Ia bukanlah siapa-siapa. Sahabat? Apakah setelah kejadian tadi, ia masih sahabat gadis itu?

Lelaki berambut merah menyala itu menoleh ke sekitarnya. Malam sudah mulai menaburkan bintang, menggelapkan angkasa demi menonjolkan kerlip kecilnya. Akaito tak mendapati sosok berambut pirang yang diikat kuncir satu itu, padahal ia yakin gadis itu berlari ke arah sini. Ia menarik nafas, berusaha merampas oksigen dengan rakus dari udara.

Ia merutuki dirinya yang labil.

Labil. Untuk itulah ia pindah ke Fukuoka bertahun lalu. Memisahkan diri dari kakaknya, Kaito. Ia bertekad memperbaiki diri dan menjadi lebih dewasa. Namun, ternyata ia tak berubah.

Akaito kembali menoleh. Kini ia melihat sosok gadis itu melewati palang rel kereta api di ujung jalan. Rambut pirang keemasannya menonjol di antara kegelapan malam. Secara refleks, Akaito berlari ke arahnya.

"NERU!"

Gadis itu mempercepat larinya. Namun Akaito tidak menyerah.

Lelaki itu melewati palang rel kereta api, melompatinya karena palang itu telah menutup, pertanda kereta api akan lewat. Berhasil. Ia melihat gadis itu menikung ke kanan sekilas. Dipercepatnya lari kedua kakinya.

Kring Kring

Akaito terlonjak ke depan. Ia nyaris saja tertabrak sepeda. Lelaki beriris cokelat kemerahan itu terhuyung sebentar, kehilangan keseimbangan karena kaki kirinya yang berlapis sandal menginjak batu kerikil.

Brak!

Dan sosoknya terhantam truk pembawa barang.


To be Continued


A/N

Hohohohohohohoh

Kok jadi begini? OAO

Jadi, tadinya saya itu punya dua pilihan, happy ending atau sad ending. Karena bingung, saya minta saran ke temen-temen dan sepupu fujoshi saya. Dan kebanyakan pada bilang mending sad ending aja. ya udah.

WAIT, ini belum tamat. Chap depan baru tamat.

Oke deh, karena Akaito mati, saya mau ngerancang endingnya. hohohohoh~

#ketawasadis

Review please! XD