Rain Song
Summary:
Dengan melodi nyanyian kita telah bertemu..., seakan terikat oleh takdir yang melingkar di jemari kita. Dan kini, dengan melodi nyanyian pula kita berpisah. Nada yang seharusnya menenangkan kini menekan sudut hati, "Kenapa semuanya harus seperti ini? Apa takdir memang mempermainkanku?"
Disclaimer:
Vocaloid © Yamaha and Crypton corporation
Rain Song fic © Asakuro Yuuki
Pairing:
Akaito X Neru
Warning:
1. Dont like? Paksain like! #dor# enggak enggak, yang bener: Dont like? Dont read!
2. untuk IVFA periode pertama tahun 2012. Tema: Sing
CHAPTER 5
Gadis itu menelungkupkan kepala dalam lipatan tangannya. Dadanya terasa sesak, penuh dengan kekalutan. Ia bisa mencium aroma cat pelitur dari bingkai jendela di mana tangannya berada. Merasakan angin dingin yang mengajak helai rambutnya untuk berdansa. Mendengar suara dengung yang entah berasal dari mana.
Dan merasakan bahwa lengan bajunya lembab oleh air mata.
Ia terisak, lagi. Bahunya bergetar karenanya. Diangkatnya kepala, menatap ke arah jalanan bising di bawah sana. Kemudian lengannya berusaha menghapus jejak airmatanya. Gadis berambut pirang itu kemudian berbalik, menatap sekitarnya.
Beberapa perabotan di ruangan itu telah hilang, digantikan kekosongan. Yang ada di ruangan luas itu kini hanyalah sebuah sofa, televisi, dan rak buku. Bahkan meja besar yang dipakai sebagai meja makan pun sudah tak ada. Dari pinggir jendela, ia bisa melihat kedua pintu di utara dapur; yang salah satu pintunya mengarah ke ruangan yang kini kosong.
Atau sengaja dikosongkan karena pemiliknya sudah tidak ada.
Neru menjatuhkan diri di atas sofa, mengatur nafas dan emosinya. Air mata memang menggenang di pelupuknya, namun ia berusaha kuat. Gadis itu mengalihkan pikiran dengan cara menoleh ke arah rak buku, di mana buku-buku segala ukuran tersimpan. Namun gagal, ia malah mengingat hal yang tidak ingin dia ingat.
Ia ingat, di hari pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat ini, semua serasa asing. Interiornya, Pemandangannya, bahkan aroma ruangan yang terkontaminasi pengharum ruangan rasa apel yang digantung di mulut AC pun terasa asing.
Saat itu ia bimbang. Bimbang apakah ia harus menerima kebaikan lelaki bersiluet merah itu atau tidak. Terlebih Akaito mempersilahkannya tinggal di sana dengan ringan, seolah hal itu adalah hal biasa saja. Ia bahkan hendak kabur, kalau saja pakaian dan gitarnya tidak berada di laundry dan tempat reparasi alat musik.
Ia juga ingat ketika ia mengajari Akaito bermain gitar. Ketika Akaito salah meletakkan jari manisnya ketika hendak memainkan akor C. Ketika mereka berdua menertawakan jari telunjuk Akaito yang memerah karena terlalu banyak menekan senar gitar.
Semua itu terasa seolah baru terjadi kemarin.
Ia tersenyum, perih. Menyadari bahwa semuanya takkan terulang kembali.
Waktu takkan berputar kembali, bukan?
The past can't be changed, my friend
But look forward, to the sunset
And with our little hands
Let's create happiness
Di malam naas itu, Neru tak tahu apa yang terjadi.
Ia terus berlari menelusuri jalan yang tak jelas mengarah ke mana. Ia tak mengenal toko-toko yang ada di sekitarnya. Maigawa Vegetable Store, Kage Dog Clinic, ia tak pernah melewati gang itu. Ia tak tahu setelah menelusuri gang ini, ia harus berbelok ke mana.
Yang pasti, ia kecewa pada Akaito. Ia tak menyangka Akaito akan sedemikian sinis pada karir jalanannya. Ia pikir lelaki itu akan mendukungnya. Tapi, memang, segala hal yang mengecewakan itu selalu terjadi tanpa terduga.
Pikiran gadis itu melayang. Menuju hari-hari di mana ia dan Akaito menghabiskan waktu bersama. Bermain gitar, memakan kue bersama, menonton televisi, meminum cokelat panas, dan sebagainya. Semua berputar dalam benaknya bagai kaset rusak. Membuatnya tak fokus akan langkah-langkah cepat dalam lariannya.
Gadis beriris emas itu berhenti berlari, mengatur nafasnya dengan paksa sambil menepuk dadanya yang sesak menagih oksigen. Ditumpukannya tangan kiri di atas lutut sambil sedikit membungkuk; posisi yang semakin membuat dadanya sesak. Namun ia tak peduli.
Ia menoleh ke belakang. Namun, di sana hampa. Hanya ada kegelapan yang menyambut penglihatannya. Tanpa sosok apapun. Tanpa sosok siapapun. Tanpa sosoknya.
Neru mengerjap. Dipandanginya jalur gelap yang ada di hadapannya. Ia tak mendapati apapun selain cahaya redup lampu tiang di ujung sana, juga samar-samar bayangan jalanan becek yang ia pijak. Gadis itu langsung heran, ke mana perginya lelaki itu? Bukankah tadi ia mendengar suaranya ketika hendak berbelok ke sini?
Rasanya tak mungkin Akaito kehilangan dirinya. Ia belum berbelok lagi setelah Akaito memanggilnya.
Gadis itu kemudian menimbang-nimbang. Apakah dirinya harus melanjutkan larinya atau berbalik mencari lelaki penyuka cabai itu?
Neru memainkan koin receh berwarna perak di lantai. Dipandanginya koin itu terus berputar dan berputar, dari satu sisi lantai keramik ke sisi yang lain, kemudian berhenti karena menabrak kasur bersprei biru mudanya. Gadis bertinggi badan minimum itu mendesah pelan. Hal ini begitu membosankan, namun juga menyedihkan.
Karena saat itu ia menyadari bahwa orang yang biasanya ada bersamanya, sudah tiada. Dan takkan kembali untuk selama-lamanya.
Sekarang ini, yang paling dia harapkan adalah sosok (mantan) pemilik kamar apartemen ini mengetuk pintu kamarnya. Kemudian mengajaknya ke dapur dan membuat pancake beserta jus alpukat kesukaannya bersama-sama. Penuh obrolan, tawa, dan canda.
Atau mungkin, sosok bersurai delima itu akan membuka pintu kamarnya tanpa izin, kemudian duduk di lantai kamarnya dan meletakkan sekotak kue dari tempatnya bekerja sambil tersenyum penuh arti.
Neru membaringkan diri di lantai kamar, menatap langit-langit kamar yang bercat putih. Ia ingat ketika pertama kali ia dan Akaito membersihkan ruangan ini. Ruangan ini dulunya adalah ruangan penuh debu dan kardus-kardus milik Akaito yang belum dibuka. Mereka membongkar isi kardus tersebut sebelum membereskan ruangan, mendapati banyak benda yang meski berselimut debu, namun masih bagus di dalamnya. Sebuah radio, pisau lipat, dan handphone model lama berwarna kuning, yang dulu milik Akaito. Yang kemudian diberikan pada Neru. Akaito bilang, ketika Neru butuh bantuannya, dia hanya perlu meneleponnya dan Akaito akan menolongnya.
Dan Neru mengingat perkataan itu baik-baik. Oleh karena itu di kontak handphone tersebut, hanya ada nomor milik lelaki beriris crimson kecokelatan itu.
Secara refleks, Neru meraba saku celana pendeknya, merasakan sebuah benda persegi panjang berada di dalamnya. Diambilnya benda itu dan ditatapnya sebentar, mengamati strap merah berbentuk cabai yang memang ada di sana sejak awal. Ia tersenyum samar dan memejamkan mata. Benda itu adalah salah satu dari sekian banyak barang pemberian Akaito selama ia tinggal di sana. Benda itu berarti untuknya.
Saat gadis berkaus kuning itu membuka mata, air mata jatuh menuruni wajahnya.
Life goes on
That's what you tell me
Fate isn't made to make you fell down
But to make you stand on your own power
Gadis itu memutuskan untuk berbalik. Dan ketika gadis pencipta lagu itu keluar dari gang, ia menoleh ke arah sekeliling.
Lampu-lampu dekorasi toko berkerlip. Juga lampu merah bundar di sudut palang rel kereta api. Sinar semua lampu mengalahkan cahaya bintang di langit, membuat para bintang bersembunyi di balik lembar angkasa. Dingin merambat melalui udara, menembus pori-pori kulit.
Beberapa meter dari palang kereta api, terdapat kerumunan. Kerumunan itu begitu ribut, ada beberapa orang yang berbicara dengan polisi di samping kumpulan orang itu. Ada seorang lagi yang sedang memegang teleponnya, menempelkannya di telinga. Orang yang kemudian diteriaki karena ambulans belum datang juga.
Pikiran Neru merumit. Jangan-jangan..., Akaito tertabrak kereta api?
Tidak, tidak mungkin. Ia memang mendengar suara kereta tadi, namun tidak mendengar suara hantaman keras. Lagipula, kerumunan itu tidak berada di tengah rel atau di antara dua palang rel. Mereka ada beberapa meter dari sana. Gadis berambut ponytail itu terpaku di tempat, berusaha menyingkirkan semua dugaan negatif yang bertumpah.
Ia menenangkan diri. Mungkin hanya kecelakaan tabrak lari. Dan ia berbalik, hendak melanjutkan pelariannya.
Namun, bagaimana kalau korban dari kecelakaan tabrak lari itu adalah Akaito?
Ia membatalkan niatnya. Ditolehkannya pandangan menuju kerumunan yang masih ribut itu. Suasana di sana redup, hanya disinari lampu merah palang kereta api sehingga ia tak bisa melihat apakah noda darah berada di sana atau di tengah rel. Menelan ludah, ia kembali menghadap ke kerumunan itu, bimbang kembali. Bertanya pada seseorang di antara kerumunan atau tidak?
Neru mengatur nafasnya, menenangkan diri. Lalu bagaimana? pikirnya.
Ia melangkah menuju ke arah kerumunan, melupakan niat untuk bertanya. Ia hendak melihat dengan mata kepalanya sendiri, siapakah korban kecelakaan itu. Apakah dia Akaito atau orang yang tak dikenalnya. Di benaknya, wajah Akaito yang tersenyum padanya muncul. Gadis itu menggigit bibir, berusaha menghilangan bayangan itu.
Alangkah menyedihkannya bila orang sebaik dia mati.
Ia tak mendengar lagi keributan orang-orang di sekitarnya ketika ia menyibakkan kerumunan itu dan menatap kosong apa yang di hadapannya. Sosok yang familiar. Terbaring dengan darah yang mengalir deras dari pelipis dan sebuah luka gores di lengannya.
Tidak. Tidak mungkin. Ini bukan dia. Bukan lelaki berambut merah yang kukenal. Bukan pemilik apartemen yang kutumpangi. Bukan. Ini salah. Semua salah. Takdir ini salah. Kejadian ini salah. Bukan dia. Bukan. Bukan Akaito yang terbujur di sana. Aku tidak mengenal orang ini, tidak sama sekali. Tidak. Akaito tadi berlari ke arah sana. Aku yakin. Ia tidak mungkin terbujur di sini dan berlumuran darah. Ia tidak mungkin-
"AKAITOOOOOOOOOO! BANGUUUUNN!"
Gadis itu berlutut di samping sosok itu, menjerit histeris memecah kesunyian malam, menyayat kegelapan.
Kalau ia bisa memutar balik waktu, ia akan melakukannya sejak saat itu.
Ia akan memutar waktu menuju hari di mana ia pulang terlambat, kemudian pulang lebih awal. Setelah itu, ia akan mengatakan pada Akaito soal karir jalanannya baik-baik, kemudian berdamai dan menjalani hari dengan biasa. Bukankah itu semua jauh lebih baik?
Andai semua itu adalah takdir yang terjadi.
Gadis itu mengusap air mata yang baru saja mengalir, menarik nafas dalam-dalam sambil mengalihkan pikiran. Ia tahu semua hal takkan berubah meski ia melakukan hal itu. Memori yang ada akan tetap ada, tak peduli seberapa menyakitkannya ingatan itu. Bahkan meski ia berharap untuk melupakannya, memori itu kan tetap ada, terukir jelas di hatinya.
Ia berguling di lantai, tengkurap sambil memandangi layar ponselnya. Wallpaper di sana adalah foto dirinya dan Akaito, yang memang diambil oleh Akaito pada hari diberikannya ponsel itu pada Neru. Tampangnya di sana memang aneh, karena ia tidak siap difoto. Lelaki bersurai merah itu hanya terfoto setengah dan terlihat tersenyum lebar di samping sosoknya yang tersenyum kecil dengan pandangan mata yang bulat.
Ia tersenyum lagi, entah kenapa kali ini rasanya pahit sekali.
La la la la
I'm glad I met you
The person I love right now
A nice person with his kindness
Ambulans datang beberapa saat kemudian. Setelah diletakkan di sebuah tandu kain, Akaito dimasukkan ke dalam ambulans, diikuti Neru yang memaksa petugas untuk ikut di dalamnya sambil menangis, membuat para petugas tersebut tidak tega melihatnya.
Sesampai di rumah sakit, Akaito langsung dirujuk menuju UGD. Di sana, para perawat tidak luluh melihat Neru yang sembab oleh air mata. Mereka tetap menyuruh Neru menanti di ruang tunggu. Membuat gadis itu menendang dinding rumah sakit karena marah dan cemas. Kemudian terduduk di salah satu bangku tunggu sambil menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.
Kalau saja ia tidak berlari pergi, kalau saja ia tetap menghadapi pertengkarannya dengan Akaito dengan lebih bernyali. Dan kini, berkat kebodohannya, ia mencelakakan orang yang ia sayangi. Apa kali ini dia akan kehilangan Akaito juga? Setelah kehilangan keluarganya-
Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menyesali segalanya.
Neru menunggu beberapa jam. Ia tak peduli lagi dengan rasa lapar yang sudah bergumul di perutnya sejak perjalanan pulang dari stasiun. Bahkan meski ia haus setelah berlari dan memaksakan nafas, ia takkan peduli. Ia juga tak peduli meski kepalanya pening karena kebanyakan menangis. Yang penting adalah keadaan Akaito. Lelaki itu harus selamat. Harus.
Ia tidak mau kehilangan orang yang ia sayangi lagi. Terlebih, orang yang telah bernyanyi bersamanya selama ini.
Ia mengusap jejak air matanya, meski semua takkan mengubah kenyataan bahwa ia habis menangis dan wajahnya tetap sembab. Diarahkannya pandangan menuju pintu UGD di sisi ruang tunggu, berharap seorang perawat atau dokter yang bersangkutan keluar dari sana. Namun berkali-kali ia berharap, yang keluar adalah para perawat yang membawa dokumen entah apa di tangannya, lewat tanpa sekilas pun memandang dirinya.
Hingga akhirnya, ketika Neru telah terkantuk-kantuk sendirian di ruang tunggu, ketika jarum jam bergerak menuju angka sepuluh, seorang dengan jas putih keluar dari ruang UGD. Ia menepuk pundak Neru pelan, membuat gadis yang saat itu telah menggerai rambutnya nyaris terlonjak. Namun melihat sosok dokter di hadapannya, ia menghembuskan nafas lega.
"Neru-san?" tanya dokter itu. Neru mengangguk tanda konfirmasi. "Shion Akaito-san menunggu anda di dalam. Ia telah siuman-"
"Ia baik-baik saja? Ia selamat, kan?" ucapan Neru memotong penjelasan sang dokter. Sang dokter menarik nafas panjang. Bukan karena marah karena ucapannya disela.
"Ia membutuhkan donor darah dalam jumlah banyak, Neru-san." sang dokter mengucapkannya dengan hati-hati. "Dan karena golongan darah AB sedikit, rumah sakit ini sedang kehabisan stok."
"La-lalu?" Golongan darah Neru O, tentu saja ia tidak bisa mendonorkan darahnya.
"Ia memerlukan donor darah dalam waktu 6 jam. Sedangkan kami baru bisa mendapatkan donor besok pagi."
Neru merasakan kakinya lemas. Ia jatuh terduduk di lantai.
Gadis bercelana pendek itu merasakan perutnya lapar. Ia bangkit menuju posisi duduk, lelah merasakan dinginnya lantai di sekujur tubuhnya. Kemudian, ia menjatuhkan diri di atas kasur. Ia lapar, namun juga mengantuk. Rasanya hanya ingin memejamkan mata dan pergi ke dunia mimpi; malas sekali untuk bangkit dan memasak sesuatu di dapur.
Rasanya ia ingin sekali bermimpi. Mimpi tentang Akaito Shion. Tentang orang yang sangat ia sayangi itu. Yang tak bisa lagi menemaninya di dunia nyata. Yang sangat ia harapkan berkunjung di alam mimpi, namun nihil.
Bagaimana pun, ia masih tidak percaya bahwa lelaki beriris crimson itu telah tiada. Tiap kali memikirkannya, yang ada di pikirannya pertama kali adalah; lelaki itu sedang pergi bekerja, aku akan menunggunya pulang.
Sampai kapan batas antara masa lalu dan masa kini menjadi kabur di matanya?
A faint day has passed
And the cold air ripped me
But somehow, I dont care about it
Because, I met you in that condition, too
Ketika Neru masuk, ia melihat sosok lelaki yang dikenalnya terhubung ke beberapa selang khas rumah sakit. Ia menghembuskan nafas panjang, menguatkan diri ketika ia melihat sebuah perban melingkar di kepala lelaki korban kecelakaan itu. Ia menghindari tatapan sahabatnya itu, tak tahu harus berbuat apa.
Namun ketika lelaki itu melihatnya, Neru bisa menangkap lewat ekor matanya bahwa lelaki itu tersenyum padanya.
Sosok bersiluet emas itu mendekati sisi tempat tidur, duduk di kursi pendek yang disediakan. Masih menghindari tatapan Akaito, Neru memandangi selang infus yang berujung di punggung tangan lelaki itu, mengamati luka memar yang tak jauh dari sana.
"..." suara itu adalah helaan nafas Akaito yang teredam akan perangkat oksigennya. Suara yang membuat Neru meliriknya sekilas, penuh rasa bersalah.
Kemudian hening lagi. Seolah bebungaan bernama sunyi terletak di vas yang ada di jendela sisi ruangan jauh di sana memekar, menerbarkan aroma dan esensinya. Dan mereka berdua, yang ada di ruangan itu, sama sekali tidak menyadarinya.
"Maaf," setelah beberapa saat, Neru mengangkat suara sambil menunduk. "Maaf," air mata jatuh menetes ke sisi tempat tidur.
Akaito menatap Neru sejenak. Ia ingin menepuk pundak gadis itu dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, meskipun kenyataannya mungkin tidak. Namun apa daya. Tangan kirinya mati rasa, sedangkan yang kanan terlalu lemas untuk melakukan itu.
"...Neru," suara itu bercampur dengan deru nafas yang kuat. Neru memberanikan diri menatap sosok di depannya. Menatap seraut wajah yang tersenyum lemah di hadapannya. "..Menyanyilah..."
Ketika gadis yang dulunya bermarga Akita itu membuka mata, jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Senja sudah datang dan memulas langit, memberikan ulasan warna cokelat, merah, kuning dan oranye di sana, tak lupa ungu sebagai sentuhan terakhir.
Neru bangkit dari tempat tidurnya. Tak dipedulikannya rambut panjangnya yang kusut. Ia berjalan melewati ruang tengah yang kini lebih lapang, kemudian pergi menuju dapur. Di sana, diambilnya mug berwarna merah dan sesachet cokelat instan. Diseduhnya dengan air panas dan diaduk hingga rata. Lalu, ia menuju ruang tengah, menyalakan televisi meski ia tahu bahwa ia takkan menyimak acara di sana.
Peduli amat, ia hanya ingin mengingat saat-saat itu.
Saat ketika dirinya dan Akaito menghabiskan malam hujan sambil meminum cokelat panas bersama.
Even if we'll say goodbye someday
I want to believe that we'll meet again
Under the same sun and sky
Smiling and laughing together
Pukul setengah tiga pagi, Akaito meninggal.
Neru menghadiri pemakamannya dalam diam, meski air mata menuruni kedua pipinya. Di sekelilingnya ialah orang-orang yang tidak ia kenal. Lelaki berambut ungu panjang yang cantik, lelaki berambut teal cepak, dan lainnya. Satu-satunya yang ia kenal adalah lelaki berambut biru yang mirip dengan Akaito. Sosok yang pernah ia lihat di selembar foto dalam dompet Akaito. Kakak Akaito, Shion Kaito.
Lelaki berparas tegas itu tidak menyalahkan Neru. Ia berkata bahwa semua itu hanyalah takdir. Takdir yang sudah ditentukan bahkan sejak Akaito belum dilahirkan ke dunia ini. Istrinya, wanita berambut cokelat pendek yang mengenakan terusan hitam, mendekap seorang anak berusia tiga tahunan berambut hijau pucat sambil menatap dirinya prihatin.
Setelah pemakaman, Neru mengurung diri di dalam kamarnya. Ia tak ingin melakukan apapun. Ia tak tahu harus melakukan apa. Yang ia lakukan di sisa hari itu hanya menerawang langit-langit dengan pikiran yang melayang ke mana-mana, memikirkan akan masa depan dan masa lalu yang mengabur.
Di senja hari, Kaito dan beberapa makelar datang. Lelaki beriris emerald itu mengetuk kamar Neru dan mengatakan bahwa ia hendak mengambil perabotan yang tidak perlu. Neru tidak menjawab, ia hanya menatap sebuah radio kecil di kamarnya tanpa tujuan. Lagipula, ia tak keberatan akan kehendak Kaito. Barang-barang di sana bukan miliknya. Dan bahkan, ia siap bila ia akan ditendang keluar dari apartemen ini.
Namun sebelum pergi kembali ke Korea, Kaito bilang Neru boleh tinggal di sana. Bahkan ia mengatakan, kalau ada kesulitan, gadis itu bisa menghubunginya. Lelaki itu menyisipkan nomor telepon miliknya lewat sela-sela di bawah pintu kamar Neru, kemudian terdengar suara kresek seperti kertas, dan lelaki itu pergi.
Dan gadis bergaun hitam itu tetap tinggal di apartemen itu, mengenang segala memori yang pernah tercipta di sana.
Pukul tujuh malam, Neru telah menghabiskan cokelat panasnya.
Ia menatap hampa layar televisi di sana. televisi itu menayangkan sebuah acara komedi yang ber-rating cukup tinggi. Namun kenapa gadis itu tidak bisa tertawa? Kenapa ia tak bisa tertawa lepas seperti saat ia bersama lelaki itu? Tawa keras yang sampai-sampai menumpahkan cemilan mereka berdua dan membuat mereka memukul pelan bahu satu sama lain.
Gadis berkaus kuning itu memutuskan untuk mematikan televisi. Menyalakannya namun tidak sepenuhnya fokus akan apa yang ditayangkan hanya memboroskan pemakaian listrik. Terlebih, Kaito bilang ia akan tetap mengirimi uang sampai Neru mampu membayar apartemen sendiri. Meski gadis itu tak tahu kenapa lelaki itu begitu baik dan kapan ia bisa membayar biaya apartemen sendiri.
Neru meletakkan mug merahnya di atas kursi baca di sisi ruangan. Kemudian memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
SRET. Buk.
Neru berhenti melangkah karena menyenggol sesuatu di meja kecil dekat pintu kamarnya. Ia berbalik, menemukan sebuah amplop cokelat berisi entah apa yang pinggirannya telah sobek di lantai. Penasaran, ia mengambil amplop itu dan membawanya ke kamar.
Apa ini? Kiriman uang pertama dari Kaito-san?
Dibukanya amplop tersebut, menemukan sebuah kaset di dalamnya. Ia kemudian mengingat bahwa Akaito pernah memiliki sebuah CD player, yang terakhir kali lelaki itu tinggalkan di kamarnya karena lupa membawanya keluar. Dan kalau tidak salah, Neru menyimpannya di bawah tumpukan bajunya.
Ia mengais-ais tumpukan bajunya, berharap menemukan benda yang dimaksud. Dan perjuangannya tidak sia-sia, ia menemukan CD player berwarna biru tersebut.
Diputarnya kaset tersebut, sambil menunggu jeda awal, ia membuka surat yang ada di dalam amplop tersebut.
Wasn't it you who told me?
that life is too short
so we don't have time to have doubts
Neru mengenal kata-kata pembuka ini. Ini adalah kata-kata pembuka dari lagu ciptaannya. what the...
Dibacanya surat yang terlampir itu, sambil mendengarkan lagu ciptaannya yang terlantun. Di sana tertulis, bahwa lagu ciptaan Neru, umur 17 tahun, yang dikirim oleh Shion Akaito, diterima oleh sebuah perusahaan rekaman dan ditawari sebuah debut.
Akaito..., melakukan semua ini untuknya?
Di surat tersebut, tertera sebuah tanggal pertemuan dengan pihak studio rekaman. Dan ketika Neru melihat ponselnya, tanggal itu adalah tanggal di hari esok. Belum terlambat untuk melanjutkan semua ini. Belum.
Neru merasakan matanya memanas. Dan tak lama, air mata kembali berhamburan.
"Arigatou...," bisiknya di antara isaknya. "Arigatou gozaimasu..."
(bait terakhir Rain Song)
Even if we'll say goodbye someday
I want to believe that we'll meet again
Under this rain and inside this cold air
And with hot chocolates that'll warm the two of us
OWARI
finally, IT'S FINIIIIIIIIIIISHED!
Bikinnya aja gila, lama banget. Saya itu emang geblek. tau deadline tinggal beberapa jam kok tetep santai. Bahkan pengen ngetik besok aja. #mang dasar author nggak bertanggung jawab.
Yak, fic ini dinyatakan tamat!
Fic ini didedikasikan pada Miki Abaddonia Lucifenyang berulang tahun hari ini. Happy Birthday! Wish you all the best! Kurangi ooc di #ECFamily ya ;D
Terimakasih kepada:
1. Nekuro Yamikawa
2. Pull
3. Chesire Cat
4. CatPhone
5. Blame me
6. Miki Abaddonia Lucifen
7. Everyone who read this fanfiction! #bows
