Update! Berhubung bulan ini aku sibuk mondar mandir buat tes masuk kuliah jadi maaf gak bisa tiap hari. Hah jadi pengangguran itu gak enak. Dibilang anak SMA bukan dibilang anak kuliahan juga bukan, jadi ya menghasilkan generasi labil sepertiku umm tapi kayanya cuma aku deh yang labil.

Oke, langsung aja deh.

.

.

.

.

Dan seakan waktu menyuruhku untuk bercermin

Melihat diriku yang selama ini terlalu menegakkan kepalaku dan lupa akan bumi

Waktu merelakan dirinya untuk berbalik mundur

Agar aku mengerti

Bahwa kesempatan yang diberikan oleh waktu

Adalah yang pertama dan juga terakhir

Pilihannya hanya ada dua:

Belajarlah, atau menyesal-lah.

.

.

.

.

Disclaimer: Aku maunya aku sih yang punya Vocaloid, sayangnya T.T bukan

Typo berceceran disini, abal, aneh, gak jelas, dan banyak minus-minus lainnya.

Len POV

"Kau kakek buyutkuuuuu?" Gadis di hadapanku berteriak kaget.

"Eh? Kakek buyutmuuu?" Jelas, aku juga kaget dengan ucapannya itu.

Kakek buyut? Hah seumur-umur atau selama 16 tahun aku hidup, dipanggil kakak saja tak pernah, mengingat wajahku yang imut-imut tampan ini, nah sekarang kakek? Buyut lagi. Tuhan, dosa masa lalu apa yang belum kau ampuni?

Aku menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, aku harus menjaga perilakuku. Sebenarnya bisa saja aku membungkus wajah manis itu dengan karung, seenak jidatnya memanggilku seperti itu. Tapi aku harus ingat siapa aku, ya aku menyandang nama Kagamine disini.

"Hhhh.. kenapa kau memanggilku kakek buyut? Sudah jelas umurku sepertinya sama denganmu." Aku berkata selembut mungkin, tak lupa dengan senyum oh-so-cute milikku itu.

"Karena kamu sudah tua, sangat tua. Biar kutebak, kau lahir tahun 1914 kan?" Oke, gadis itu mulai meracau.

"Aku itu baru 16 tahun tahu." Aku memalingkan wajahku darinya, rasanya aku ingin berteriak padanya kalau aku itu masih sangat sangat sangat muda.

"Nah, dugaanku benar. Kalau sekarang tahun 1930 dan umurmu 16 tahun, berarti kau lahir tahun 1914 kan? Hii kau tua sekali, makanya aku memanggilmu kakek buyut. Aku kan masih sangat muda jadi harus menghormatimu. Berterimakasihlah, karena biasanya orang-orang yang menghormatiku." Gadis itu menunjuk-nunjukku dengan telunjuknya.

Ini yang dibilang menghormati?

"Tua apanya? Kalau aku bilang umurku satu abad baru itu tua. Memangnya umurmu berapa sih?" Aku mulai kehilangan kesabaran.

Len, kau anak baik kan? Jadi tetap sabar, dia hanya gadis yang sok tahu, jadi sabar Len.

"Aku 16 tahun." Katanya santai.

NAH! Dia 16 tahun dan dia berkata kalau aku tua? Kasihan sekali gadis ini, dia pasti tadi pagi makan nasi basi jadi pikirannya kacau begitu.

"Umur kita sama kalau begitu." Aku mencoba terus menekan emosiku.

"Tidak. Aku lahir tahun 1996." Gadis itu membetulkan letak kimononya, sepertinya dia risih dengan pakaian itu.

"Yeah, kalau begitu aku lahir tahun 2050." Kataku.

"Kau tahu kenapa aku menanyakan tahun tadi?" Dia menatapku, kali ini tatapannya serius.

"Anemia?" Aku berkata asal.

Gadis itu menghirup udara, sepertiku tadi. Aha, dia emosi. Rasakan itu!

"Pertama, itu karena harusnya aku berada di tahun 2012, di masaku. Kedua, aku melihat kalender sialan itu dengan tahun 1930, aku pikir itu hanya bercanda makanya aku bertanya padamu. Ketiga, harusnya kau berkata amnesia bukan anemia, baka!" Katanya tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.

Aku memutar bola mataku. Candaan macam apa itu?

"Jadi, manusia era 2000, katakan padaku kenapa kau bisa berada disini?" Dia kasih umpan, lanjutkan saja candaan anehnya itu.

"Itu karena cermin bodoh yang membawaku kesini. Empat puluh hari aku disini agar aku menjadi lebih baik. Cih, jadi selama ini dia pikir aku ini tidak baik? Sialan." Gadis itu menarik-narik kecil kimono putih dengan motif bunga sakura yang dipakainya, dia benar-benar kesal.

"Cermin? Bagaimana bisa?" Kataku acuh.

"Aku tak tahu, tiba-tiba saja cermin itu bercahaya, aku menutup mataku,lalu tubuhku terasa jatuh dari pesawat terbang, lalu tiba-tiba berhenti dan saat aku membuka mataku aku sudah ada disini." Katanya emosi.

"Umm begitu. Oke, sekarang kau tinggal di masa ini, jadi kau jangan berkata aneh-aneh lagi, dan jalanilah empat puluh harimu itu dengan baik setelah itu kau akan kembali ke masamu lagi. Gampang kan?" Aku menatap gadis itu.

"Hhhhh..! kenapa hidupku sial sekali sih? Harusnya aku tidak usah mengerjakan tugas dengan si cengeng itu!" Dia berkata dengan nada yang lebih tinggi.

"Sudahlah, tak ada gunanya marah-marah begitu." Kataku menenangkan.

"Hhhhhhhhhh...!" Dia menghela nafas panjang. Lagi.

"Ngomong-ngomong aku belum tahu namamu. Kau siapa?" Aku kembali memperlihatkan senyum manisku itu.

"Rin." Katanya singkat.

"Hanya itu?"

"Maumu?" Dia berkata ketus.

Aku menggendikkan bahuku, "Yasudah kalau begitu."

Hening.

Kami sama-sama terdiam. Aku memang tidak ingin mengobrol dengan gadis aneh ini. Dan sepertinya dia pun begitu, dilihat dari matanya yang terlihat menerawang.

"Ah!" Katanya tiba-tiba.

"Apa?" Aku menatapnya dengan malas-malasan.

"Ini dimana?" Tanyanya.

"Ini di Tokyo." Kataku singkat.

"AAHHH! Bukan begitu, baka! Maksudku ini rumah siapa? Aku ini sedang berada di tempat siapa?" Wajahnya memerah. Yah, dia marah.

"Kita ada dirumah seorang bangsawan, aku adalah tuan muda disini, jadi bisa kubilang ini rumahku juga." Aku mencoba berkata lembut.

"Berarti benar ya kau kakek buyutku." Katanya pelan.

"Ah terserahlah, aku sedang malas berdebat." Sebenarnya aku sedang kesal, tahu.

"Aku juga tidak tertarik berdebat denganmu." Katanya.

Aku berjalan pelan kearah pintu, "Ayo, kau harus keluar. Bibi Tei pasti menunggumu."

Sekilas kulihat dia memandangku bingung, tapi dia hanya diam dan mengekoriku keluar.

Aku melangkah menuju ruang tamu, dengan para pelayan yang tak henti-hentinya menyapaku sepanjang langkahku.

Aku tersenyum ramah, membalas sapaan mereka atau sekedar menganggukkan kepalaku. Sedangkan Rin hanya diam sambil tetap mengikutiku.

"Len! Aku merindukanmu tahuuu." Sebuah suara manja terdengar dari seorang gadis cantik yang sedang duduk di sebuah bangku kayu panjang.

"Benarkah, Miku?" Aku menghampirinya.

"Tentu saja, Len." Gadis itu memeluk lenganku.

Aku hanya tersenyum kepadanya. Jujur saja, semua itu hanya basa-basiku.

"Dan Len, mengapa pelayan itu terus mengikutimu?" Miku menunjuk gadis yang berdiri tiga langkah dibelakangku.

Aku memandang Rin sekilas. Kulihat dia tetap terdiam sambil memandang Miku tajam. Dia marah lagi. Ouuhh.

"Pelayan. Ambilkan aku roti negi, aku lapar. Cepat!" Miku menyuruh Rin sambil menatap merendahkan.

Aku ingin tahu reaksi Rin. Dia menundukkan wajahnya sejenak, lalu kembali mendongakkan kepala dengan wajah merah padam. Tangannya terkepal kencang, lalu mengacungkan jari telunjuknya kearah Miku.

"APA KATAMU?" Rin berteriak kesal.

Gadis itu lalu melangkahkan kakinya mendekati Miku, jari telunjuknya diarahkan tepat di wajah gadis hijau itu.

"Aku? Pelayan? Jika kau tahu siapa aku, kau tidak akan berani menyuruhku seperti itu!" Rin merendahkan sedikit suaranya, tatapan tajamnya terus mengarah pada Miku.

Miku sedikit terkejut dengan reaksi Rin. Atau bisa dibilang dia cukup takut. Tapi gadis itu terlalu mudah menyembunyikannya, dengan cepat wajahnya kembali angkuh, membalas tatapan sinis Rin dengan tatapan merendahkan.

"Cih, dari tempat pembuangan sampah mana kau dapatkan dia, Len? Bicaranya kasar seperti itu. Dasar gadis desa." Miku semakin merendahkan Rin dengan tatapannya.

Kulihat Rin sudah benar-benar terbakar emosi. Wajahnya sudah sangat merah. Dan dari mulut mungilnya aku tahu sudah siap melontarkan kata-kata yang kurasa lebih sadis dari perkataan Miku tadi.

Sedangkan aku hanya diam saja. Menikmati tayangan live ini. Hey, ini merupakan salah satu hiburan asal kau tahu.

Saat Rin akan membalas kata-kata Miku tadi, sebuah suara menghentikannya.

"Tuan!" Seorang pelayan pribadi ayahku turun tergopoh-gopoh dari tangga yang letaknya disamping ruang tamu ini.

"Ada apa?" Kataku.

"Tuan, ayah anda sakit keras." Dia berkata dengan nafas terengah-engah.

"A-apa?" Aku berkata tidak percaya.

"Ayah anda setelah terjatuh tadi, tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali, dia juga tidak bisa berbicara." Kata pelayan itu.

Tanpa mengulur waktu lagi aku segera berlari menuju kamar ayahku. Aku ingin melihat kondisinya saat ini.

Kumohon bukan sesuatu yang buruk, kumohon ini hanyalah kebohongan.

Kumohon.

Normal POV

"Aku Bibi Tei, mulai hari ini kau adalah pelayan disini. Kau bisa bertanya tentang tugasmu padaku." Seorang wanita dengan kisaran umur 35 tahun tengah berkata kepada gadis bernama Rin.

"Aku tidak mau menjadi pelayan." Rin berkata datar.

"Loh? Bukannya katamu kau bersedia menjadi pelayan?" Kata Bibi Tei bingung.

"Kapan aku mengatakannya?" Rin tetap mempertahankan nada datarnya.

"Saat aku menemukanmu. Kau tengah menangis di dekat pasar. Kau berkata padaku kalau semua keluargamu sudah meninggal dan kau sendirian. Aku yang menawarimu menjadi pelayan, kau menyanggupinya. Lalu aku membawamu kesini, Rin." Kata Bibi Tei.

Rin terdiam. Lama dia bergelut dengan pikirannya

"Hhhh.. maaf aku lupa." Rin menghela nafas sebelum akhirnya berkata seperti itu.

"Tak apa. Kau pasti belum terbiasa. Nah, sekarang coba kau ambilkan beberapa pakaian untuk nona Miku karena dia akan menginap disini. Kau pilihkan yang bagus untuknya ya. Aku harus memastikan pelayan yang lain sudah memasak untuk makan malam." Bibi Tei membuka sebuah lemari besar berwarna cokelat yang ada di ruangan besar dengan banyak perabotan-perabotan yang memenuhi ruangan itu.

"Ya." Kata Rin singkat.

"Umm, bisakah aku mengganti pakaianku?" Rin lalu memandangi kimono motif sakura yang sedang digunakannya.

"Maaf Rin, memang seperti ini pakaian untuk pelayan. Kau tidak boleh memakai baju selain kimono selama bekerja. Ingat kita bekerja untuk bangsawan, jadi harus berpakaian sopan dan mengikuti budaya kita." Kata Bibi Tei.

Rin mengerucutkan bibirnya lalu menggumankan sesuatu yang tidak jelas.

Bibi Tei tersenyum sebelum keluar dan meninggalkan gadis mungil itu sendiri.

"Hhhhh... tenanglah Rin. Ini hanya empat puluh hari. Setelah itu kau akan bebas menjadi ratu seperti yang seharusnya." Rin berkata pada dirinya sendiri.

Gadis itu lalu melihat-lihat isi lemari itu. Mencari pakaian-pakaian yang menurut seleranya bagus.

"Huuhh kuno semua." Rin mendengus kesal.

Lalu ia berjalan kearah lemari kaca yang berada disamping lemari besar itu.

"Hmmm sepertinya disini ada pakaian yang tidak terlalu kuno." Rin lalu membuka pintu lemari itu. Menumpahkan isinya ke lantai lalu mulai mengaduk-aduk tumpahan pakaian itu.

"Nah, ini lumayan." Rin mengambil sebuah dress berwarna biru laut dengan panjang selutut, ada hiasan bunga yang menutupi bagian atas dress tersebut.

"Umm ini jelek."

"Norak."

"Jaman purba."

"Kuno."

"Gak jelas."

"Aneh."

"Ah ini seperti kain lap rumahku."

Gadis itu tak henti-hentinya mengomentari pakaian-pakaian yang ditemukannya, lalu melemparnya begitu saja. Membuat ruangan yang sudah penuh itu semakin penuh dan berantakkan.

"Hanya tiga ini saja yang tidak terlalu norak?" Katanya sambil melihat pakaian-pakaian yang berada ditangannya.

Yang pertama adalah dress biru laut tadi. Lalu yang kedua sebuah kaus lengan panjang berwarna putih bergaris hitam, dan yang terakhir adalah sebuah rok sebatas lutut berwarna hijau dengan beberapa pita putih yang menghiasi salah satu sudutnya.

"Dan sekarang aku harus mengantarkan ini semua ke kamar si gadis sialan itu? Hari ini sudah tak terhitung berapa kesialan yang kudapatkan." Kata Rin sebelum melangkah keluar. Meninggalkan ruangan yang sekarang seperti medan perang itu.

Dengan langkah santai Rin menelusuri ruang-ruang yang ada. Dicarinya sebuah kamar yang berada di pojok di lantai dua rumah ini. Daannn, ketemu.

Rin kembali menghela nafas lalu mengetuk pintu kayu dihadapannya.

TOK TOK TOK!

Tak ada jawaban.

TOK TOK TOK!

Hening.

!

Rin mengetuk pintu itu cepat dan keras. Dia sama sekali tidak suka menunggu.

"Siapa?" Suara dari balik pintu itu terdengar sebal.

"Pakaian ganti untukmu." Kata Rin malas.

"Pakaian ganti untukku bisa berbicara?" Miku berkata pelan.

"Bodoh! Tentu saja yang aku yang berbicara! aku mengantarkan pakaian ganti untukku, gadis daun bawang." Ucap Rin kesal.

Pintu dihadapan Rin terbuka lebar, memperlihatkan isi ruangan itu yang hanya berupa kasur dengan ukuran sedang dengan kelambu putih, sebuah meja rias yang sama dengan di kamar Rin hanya saja kacanya lebih besar, sebuah lemari pakaian berwarna hitam, dan yang terakhir di pojok ruang kamar itu terdapat sebuah kamar mandi.

"Gadis desa tidak tahu aturan! Bicaralah lebih sopan." Kata Miku.

"Terserah apa kata mulut bau bawangmu itu. Aku tidak peduli. Nih!" Rin melempar kasar pakaian-pakaian itu ke wajah Rin.

Miku benar-benar kesal dengan perlakuan dari Rin. Tangan kanannya lalu menjambak rambut Rin kencang.

"Kau pikir kau itu siapa, hah? Dasar gadis desa gila!" Miku terus menjambak rambut Rin.

Rin sama sekali tidak meronta kesakitan, tangannya justru kini mendorong tubuh Miku kencang hingga gadis hijau itu terbentur ke pintu kamarnya.

"Arrgghh! Gadis sialan!" Kata Miku sambil memegangi sikunya.

Rin hanya diam sambil memandang sinis kearah Miku. Miku yang hanya terbalut handuk karena baru mandi tadi kini tengah memegangi handuknya yang akan merosot ke lantai.

Mereka kedua memilih untuk tidak berkata apa-apa. Rin menyilangkan tangannya kedepan dadanya sedangkan Miku tengah memunguti pakaian yang tadi dibawa oleh Rin.

Miku memperhatikan pakaian-pakaian itu satu persatu lalu berteriak kesal.

"Baju macam apa iniii?"

Rin tetap diam.

"Ada apa?"

Len yang rupanya sedang berjalan menuju kamarnya yang ternyata berada disebelah kamar Miku kaget dengan teriakan Miku.

Miku yang merasa dirinya akan dibela oleh Len kemudian menunjuk Rin.

"Siapa dia, Len? Seleranya buruk sekali." Kata Miku.

"Bukankah sudah jelas dia pelayan?" Kata Len singkat.

Len lalu melihat siku Miku yang sedikit berdarah dan ada luka disana.

"Miku, kenapa sikumu?" Tanya Len.

"Gara-gara gadis sialan itu! Dia mendorongku ke pintu. Dasar tidak tahu diri." Miku kembali menatap Rin sebal.

"Benar itu Rin?" Len memandangi Rin dengan pandangan bertanya.

Rin hanya memutar kedua bola matanya. Dia tidak peduli.

"Kau harus dihukum." Kata Len tajam.

"Eh? Dihukum?" Rin berkata kaget.

"Ya! Kau keterlaluan tahu!" Len kali ini terlihat marah.

Entah kenapa, melihat Len yang marah seperti itu membuat Rin takut. Dia bahkan tidak berani memandang Len dan hanya mengangguk pasrah. Dia benar-benar pasrah dengan apapun hukuman yang akan dia terima nantinya.

Dia tidak sanggup untuk menentang Len.

Rin menundukkan kepalanya semakin dalam. Belum pernah dia sebegini ciutnya dihadapan orang lain. Dia memejamkan kedua matanya rapat.

"Dihukum?" gumam Rin pelan.

Haduh, maaf ya cuplikan chapter yang kemarin gak bisa diceritain disini semua.

Badanku lagi pegel nih tadi abis ke univ buat tes (curcol lagi)

Btw, makasih buat yang udah review. Hiks aku terharu *disiram*

Jangan lupa review lagi yaaa...

Jangan bosen review, dikritik yang pedeesssss banget juga gak masalah kok.

Dan maaf kalo chapter ini terkesan aneh. Aku aja gatau itu nulis apaan *digebukin*

Yasudah Minna, review lagi yaa :D