HAAIII! INI AKU LAGIII *CAPS JEBOL* map lagi seneeeenggg hehe :D
Nah nah nah, berhubung aku gak bakal lagi galau mikirin univ, jadi kayanya (semoga) paling lama aku update 2 atau 3 hari ya.
Aku lolos SNMPTN tulis loohh! Wohooo aku gak nyangkaaaa! Iya tau gak penting tapi cuma mau nyebar-nyebar kebahagiaan aja *dipentung*
Yasudahlah ya, langsung deh.
.
.
.
.
Dan seakan waktu menyuruhku untuk bercermin
Melihat diriku yang selama ini terlalu menegakkan kepalaku dan lupa akan bumi
Waktu merelakan dirinya untuk berbalik mundur
Agar aku mengerti
Bahwa kesempatan yang diberikan oleh waktu
Adalah yang pertama dan juga terakhir
Pilihannya hanya ada dua:
Belajarlah, atau menyesal-lah.
.
.
.
.
Aku penghasil typo, alur yang semakin aneh, gak masuk akal, dan seribu kurang ada di fic ini.
Disclaimer: Semua sudah tahu Vocaloid bukan punyaku.
TAP TAP TAP
Suara langkah-langkah kaki menggema di sepanjang jalan bangunan megah itu yang menuju sebuah ruangan di lantai dua.
Tampak dua orang pirang tengah berjalan santai, atau lebih tepatnya si pria yang berada di depan yang kelihatan santai, sedangkan wanita manis dibelakangnya berjalan dengan kepala menunduk. Sesekali terdengar gerutuam kecil dari bibir mungil wanita itu. Tapi tak kuasa untuk membantah pemuda yang berada di depannya.
"Berhentilah menggerutu. Ini salahmu juga." Kata pemuda itu tanpa menoleh kebelakang, kaki-kaki panjangnya tengah membawa pemuda itu menaiki satu-persatu anak tangga berwarna cokelat kayu menuju tujuan mereka.
Hhhhhhh...
Hanya sebuah helaan nafas berat yang terdengar dari gadis itu. Tangan-tangan kecilnya sibuk mengangkat kimono yang dia kenakan agar tidak membuat kakinya menginjak pakaian khas Jepang itu. Sedangkan mata biru sang gadis tengah memperhatikan langkahnya agar tidak salah injak.
Kemudian hening menyelimuti keduanya, beda sekali dengan pertemuan pertama mereka yang diisi dengan ejekan dan obrolan yang walau tak jelas tapi terlihat hangat.
Pria itu yang kita ketahui bernama Len menghentikkan langkahnya dan berdiri di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap, diam sejenak hingga gadis itu-Rin mendekatinya.
Len hanya memandang Rin sekilas, lalu mulai membuka pintu di hadapannya itu kemudian mempersilakan Rin masuk terlebih dahulu baru setelah itu dirinya.
Rin memandangi ruangan yang disebut kamar itu. Kamar yang luas dengan karpet besar berwarna merah darah, dinding yang bercat putih, ranjang besar dari kayu dengan kelambu yang menutupi, sebuah meja kecil di sebelah ranjang itu dengan beberapa makanan diatasnya, dan sebuah lemari besar yang berada tak jauh disamping ranjang tadi.
"Kemarilah." Len memanggil wanita yang sedang sibuk sendiri itu agar mendekat kearahnya- ketepi ranjang tempat dimana dia duduk.
Rin mengangguk dan membimbing langkahnya mendekati pemuda itu. Len menepuk tepi kasur disamping dirinya pelan, menyuruh Rin untuk menduduki tepi kasur itu.
Rin mengikuti walau dengan kebingungan yang memenuhi pikirannya. Dia memandang Len tidak mengerti, setahunya tadi Len menyuruhnya mengikuti pemuda itu karena Rin harus mendapatkan hukuman. Dan kini Len malah membawanya ke sebuah kamar.
Len tidak membalas tatapan Rin walau pemuda itu tahu gadis disampingnya itu sedang menanyakan maksud Len membawanya kesini. Pemuda itu malah memandang kearah kasur dengan tatapan sedih, Rin mengikuti arah pandang Len dan kemudian membeku.
Rin sama sekali tidak menyadari bahwa kasur itu berpenghuni. Seorang pria paruh baya sedang terbaring tak berdaya. Kulit pria itu pucat, bibirnya berwarna putih-sama dengan rambut pria itu yang penuh dengan rambut tanda usia yang telah lama hidup di bumi, matanya menutup sempurna seolah sedang bermimpi indah dan tidak ingin dipaksa untuk membuka kelopaknya.
Entah apa yang membuat Rin tiba-tiba dialiri rasa sesak yang tak terkira, dia bahkan tidak pernah seperti ini saat ibunya tengah mengalami kondisi yang sama dengan pria tua itu.
Tangan mulusnya bergerak menggenggam tangan pria itu, dengan gerakan lembut dia membelai punggung tangan yang masih bisa dirasa oleh Rin bahwa tangan itu kekar, namun mulai meredup seiring waktu.
Satu- eh tidak, dua- tidak, banyak air mata keluar dari mata biru indah itu. Sebuah senyum sendu di ukirkan dalam wajah berbingkai kemanisan miliknya. Dengan gerakan pelan diangkatnya sedikit tangan yang berada di genggamannya itu, lalu menempelkan punggung tangan itu di sebelah pipinya.
Len memandangi semua yang diperlakukan Rin dengan pandangan tidak percaya. Dia sama sekali tak menyangka bahwa gadis yang semula dia anggap dingin, angkuh, dan aneh itu bisa berubah menjadi luar biasa hangat pada ayahnya yang sedang sakit. Bahkan pemuda itu takjub begitu sebuah cairan bening turun mengaliri pipi mulus itu.
Seketika Len merasakan kehangatan di dadanya, tidak-tepatnya disana, dihatinya. Melihat seorang perempuan yang berlaku sangat lembut dan penuh sayang terhadap ayahnya itu, membuat dia teringat sosok ibunya yang telah tiada.
Kehangatan yang sama yang dirasakannya ketika tangan milik ibunya itu merengkuhnya penuh kasih, membelai kepalanya lembut, lalu mencium kening pemuda itu dengan cinta.
Len merasa kedua matanya mulai memanas, tumpukkan air yang berada di pelupuk matanya itu mengaburkan pandangannya. Tapi sekuat tenaga ditahannya agar air matanya tidak tumpah saat itu juga.
Rin seolah melupakan keberadaan pemuda di sampingnya itu, matanya terus terfokus pada sosok ayah yang berada dihadapannya.
"Hiks."
Len mendengar sebuah isakkan dari gadis itu, secara naluri sebagai seprang pria, Len lalu mengelus bahu Rin lembut. Setidaknya pemuda itu berharap sentuhannya mampu membuat Rin sedikit tenang.
"Len, dia ayahmu?" Rin bertanya sambil tetap memposisikan punggung tangan pria tua itu di pipinya, seolah benar-benar menikmati setiap jengkal tangan dingin itu.
"Iya. Dia Tou-san ku. Namanya Rei Kagamine. Dia pemimpin desa ini." Kata Len lembut, berusaha menyembunyikan nada sedihnya.
"Sakit apa?" Rin mulai menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Belum diketahui. Kemarin dia terjatuh di tangga, setelah itu dia pingsan, malamnya dia sempat terbangun tapi dia tidak bisa bergerak dan berbicara sepatah kata pun. Aku sudah memerintahkan semua tabib handal, tapi mereka tidak bisa menyembuhkan Tou-san, mereka bahkan bilang kalau Tou-san terkena kutukan. Bicara apa mereka itu? Dasar kurang ajar, beraninya mereka mengatakan itu di depanku." Len tak dapat menahan nada suaranya agar tetap tenang, mengingat apa yang diucapkan para tabib itu mempu memancing emosinya ke permukaan.
"Boleh kutahu kenapa Tou-san mu bisa jatuh dari tangga?" Tanya Rin.
"Aku tidak begitu tahu, tapi aku lihat saat dia berjalan ke tangga dia seperti kesulitan menggerakkan kakinya, tapi dia tetap memaksakan diri. Hingga tiba-tiba dia terjatuh begitu saja." Len kembali menunduk sedih.
"Dan apa saat dia jatuh kepalanya terbentur ke lantai?" Rin terus menatap ayah Len sedih.
"Ya. Aku melihat jelas. Kepalanya membentur lantai cukup keras tapi tidak sampai berdarah. Ada apa kau bertanya seperti itu?" Len meatap Rin penuh Tanya, sedangkan Rin hanya tersenyum sedih.
"Mungkin dia terkena stroke, Len." Kata Rin pelan.
"Stroke?" Len kembali memandang Rin bingung.
"Stroke adalah gangguan fungsi saraf yang terjadi mendadak karena kurangnya pasokan oksigen ke otak sehingga menyebabkan peredaran darah di otak terganggu. Kurangnya darah dan oksigen menyebabkan reaksi biokimia yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel saraf di otak sehingga menyebabkan kelumpuhan anggota gerak, gangguan bicara dan penurunan kesadaran." Rin menjelaskan sebisanya.
Len terdiam. Dirinya terlalu terkejut dengan informasi dadakan yang disampaikan oleh Rin.
"Jadi, dia tidak terkena kutukan Len." Rin tersenyum getir.
"A-apa bisa disembuhkan Rin? Bagaimanapun caranya, kumohon lakukan apapun." Len menatap ayahnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aku tidak tahu mengingat penyakit ini merupakan salah satu penyakit mematikan." Rin mengehela nafas berat.
"La-lalu ap-?" Len tak dapat meneruskan kata-katanya.
"Aku akan berusaha sebisaku. Akan kubantu, bagaimanapun caranya." Rin berkata tegas.
Rin memejamkan kedua matanya, menghela nafas panjang sebelum dihembuskan kembali.
'Aku akan membantumu, kakek moyang. Cepatlah sembuh, moyangku sayang.' Kata Rin dalam hati.
Bersamaan dengan itu, sebuah cermin aneh besar berkilat terang. Menampilkan setitik cahaya putih yang semakin membesar.
Entah apa yang akan dilakukan waktu kepada gadis mungil itu lagi, tapi sebuah kertas cokelat tengah melayang tersapu angin. Jikalau kita perhatikan lebih dekat, dapat kita lihat seuntai kata diatas tinta hitam.
Satu kebaikan tulusmu, mencerahkan sejumput asa cerah dalam masamu nanti. Terimakasih, gadis mungil. Tinggallah disana sementara. Salam, pemilik cermin.
Maaf ya singkat. Aku lagi di suruh buru-buru, map map map. Dan jangan lupa review (tetep)
Bye minna ak- *diseret duluan*
