Yo semua, aku ini termasuk yang update cepet atau gak sih? Nanti malah kalo update mulu kalian bosen lagi bacanya hehe.
Oke, silakan baca.
.
.
.
.
Dan seakan waktu menyuruhku untuk bercermin
Melihat diriku yang selama ini terlalu menegakkan kepalaku dan lupa akan bumi
Waktu merelakan dirinya untuk berbalik mundur
Agar aku mengerti
Bahwa kesempatan yang diberikan oleh waktu
Adalah yang pertama dan juga terakhir
Pilihannya hanya ada dua:
Belajarlah, atau menyesal-lah.
.
.
.
.
Banyak typo berhamburan dan fic yang butuh penanganan serius saking anehnya.
Disclaimer: Suatu saat nanti Vocaloid akan menjadi milikku *Digiring massa*
Seorang gadis manis tengah serius membalik-balik halaman sebuah buku tebal berwarna cokelat kayu, matanya terus merunut jejeran kata yang tertulis rapi pada setiap lembarnya, sedangkan keningnya berkerut tanda bahwa otaknya sedang berpikir keras.
Terkadang diletakkan buku itu sejenak, lalu tangan mungilnya dengan lincah menulis sesuatu pada secarik kertas yang diletakkan di samping buku tebal tadi.
Sudah tiga jam lamanya gadis itu berkutat dengan kegiatan itu, meskipun tubuhnya sudah memberikan respon tanda meminta untuk mengendurkan otot-otot yang sudah tegang, tapi nampaknya gadis itu sama sekali tidak mempedulikannya.
"Huuuhhh, harusnya si pemilik cermin aneh itu mengijinkanku membawa ponsel, jadinya kan aku gak usah ribet-ribet baca buku setebal ini." Suara cemprengnya mengalun dengan tidak indahnya bagi siapa saja yang mendengar, wajar saja karena dia berkata dengan kekesalan tinggi sehingga setengah berteriak.
Mata gadis itu terpejam, sedangkan kakinya diposisikan untuk bersila, kedua tangannya diletakkan diatas lututnya yang menekuk dengan ujung jempol dan jari tengah yang menyatu sehingga membentuk lingkaran, sedangkan jari-jari yang lain dibiarkan terbuka.
"Tarik nafas." Ucapnya pelan.
Setelah itu dia menghirup sebanyak-banyaknya oksigen yang mampu ditampung paru-parunya, menahan oksigen itu beberapa detik, lalu dihembuskannya kencang melalui mulut mungilnya.
"Huuuuuuhhhhhhh…" Karbondioksida berhamburan keluar melalui mulutnya.
Begitu terus diulanginya hingga lima kali. Mencoba merilekskan tubuh serta pikirannya melalui yoga kecil yang dia lakukan.
Setelah dirasanya cukup, gadis itu menuang ocha kedalam sebuah gelas kecil yang terbuat dari keramik. Meneguk hingga habis lalu dituangnya lagi dan diteguk habis lagi, lalu menuangnya lagi. Sepertinya kegiatannya tadi memang benar-benar menguras tenaga gadis itu.
TOK TOK
Suara ketukan pintu terdengar pelan, lalu pintu kayu itu digeser sehingga terbuka dan menunjukkan seorang pemuda tampan yang berdiri disana.
"Rin, sudah sore. Kau mandilah dulu, setelah itu kita makan malam bersama. Kau sudah cukup bekerja keras hari ini. Lanjutkan esok hari saja." Pemuda itu berkata sangat lembut, lalu sebuah senyum hangat terlukis di wajah tampannya.
"Nghh Len, aku tidak mau menunda pekerjaan ini, aku bukan tipe orang yang suka setengah-setangah melakukan sesuatu. Lagipula, sebentar lagi juga selesai kok." Gadis bernama Rin itu meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.
"Tapi kalau seperti itu nanti malah kau yang sakit. Jangan memaksakan diri." Pemuda itu atau Len mendekati Rin yang duduk di atas karpet berwarna abu-abu dengan sebuah meja besar di depannya.
"Tak apa Len, aku justru akan sakit kalau tidak menyelesaikan ini. Otakku pasti penasaran sekali jika belum selesai." Kata Rin sambil kembali berkutat dengan bukunya.
"Hhhh.. baiklah, biar kubantu ya?" Tawar Len lembut.
"Tidak usah, aku bisa sendiri." Rin menolak selembut yang dia bisa.
"Jangan begitu, harusnya aku yang berusaha seperti ini, bukan kau. Maaf ya aku merepotkanmu." Kata Len.
"Sudahlah jangan bicara seperti itu, aku benar-benar ingin melihat kakek moyang sembuh." Rin lalu membalik halaman yang tadi dibacanya.
'Kakek moyang?' Len bertanya bingung dalam hati. Lalu seketika tersenyum kecil saat menyadari bahwa itu adalah panggilan Rin untuk ayahnya.
'Dasar seenaknya sendiri.' Pikir Len geli.
"Benar-benar tak ingin kubantu?" Tanya Len.
"Iya." Rin berkata singkat.
"Kalau begitu biar kutemani saja ya?" Len bertanya lagi.
"Apa katamu saja." Ucap Rin malas.
"Baiklah kalau begitu." Len lalu mengamati gadis disampingnya yang sedang sibuk itu, memperhatikan raut mukanya yang serius tapi menahan lelah, dan melihat kedua iris mata Rin yang sama seperti miliknya.
Indah.
Ya, siapapun yang memandangi bola mata itu pasti setuju dengan kata tersebut.
Len kemudian mulai memerhatikan penampilan gadis itu.
Rambut pirangnya yang memiliki panjang sedikit melewati bahu dibiarkan tergerai indah, sebuah jepit berwarna pink yang menahan poninya agar tidak terjatuh makin mempercantik wajahnya yang manis.
Gadis itu mengenakan pakaian lengan panjang berwarna abu-abu dan rok hitam sebatas lutut dengan renda putih dibawahnya.
Len tersenyum simpul. Dia jadi ingat kejadian kemarin.
Flashback
"Aku akan berusaha sebisaku .Akan kubantu, bagaimanapun caranya" Rin berkata tegas.
"Eh? Terimakasih Rin." Kata Len tulus, dia tidak menyangka bahwa gadis yang kini sedang memandang ayahnya akan rela membantunya. Padahal gadis itu baru sehari tinggal dirumahnya.
"Ya. Aku memang ikhlas dan tulus membantu ayahmu. Hanya saja, kepadamu aku mengajukan sebuah syarat." Kata Rin sambil memandang Len.
"Syarat?" Tanya Len bingung.
"Ya. Aku hanya punya dua syarat kok." Gadis itu berkata santai.
"Baiklah. Apa?"
"Pertama, aku ingin sebuah ruangan yang sepi dengan banyak buku mengenai obat-obatan, ramuan, tanaman herbal, dan sejenisnya. Aku harus mempelajari itu semua untuk membantu mencarikan obat untuk ayahmu." Kata Rin sambil terus memandang Len.
Len terdiam, lalu kemudian mengangguk menyanggupi.
"Baiklah Rin, kapan kau membutuhkan itu semua?" Tanya Len.
"Besok." Rin berkata tenang, tapi ada nada perintah yang menandakan tidak ada bantahan.
"Baiklah. Lalu yang kedua?" Len menatap kedua mata Rin, dia ingin tahu apakah syarat yang kedua ini akan konyol seperti bayangannya.
"Aku tidak mau memakai baju ini lagi." Kata Rin sambil menunjuk Kimono yang dia kenakan.
"Tentu, baju itu kan harus dicuci, masa kau mau memakainya lagi besok?" Len bertanya asal.
"Dasar Baka! Sekali baka tetap saja ya baka! Maksudku aku tidak mau memakai kimono lagi, bagaimanapun juga, apapun yang terjadi aku tidak mau memakai kimono!" Rin memandang Len kesal.
"Tapi aturannya disini kau harus memakai kimono, tahu." Kata Len ringan.
"Makanya aku minta supaya aku tidak memakai kimono lagi. Ini membuatku risih, lagipula aku tidak akan bisa berpikir serius kalau pakaianku membuatku tidak nyaman." Rin berkata pelan, bagaimanapun dia sadar kalau ada orang yang sedang sakit diruangan itu.
"Hei, pakaian itu merupakan aset negaramu. Banggalah memakainya." Len mencoba memberi alasan yang memang tidak akan bisa merubah pikiran Rin.
"Aku tidak peduli." Kata Rin dingin.
"Haahh, kau ini memang keras kepala. Yasudah kalau begitu, kau pakai saja apapun yang kau mau."
"Dan satu lagi, Len. Saat aku sedang berada di ruangan yang kuminta tadi, jangan ada satu orang pun yang masuk. Itu mengganggu dan aku tidak suka hal itu." Kata Rin.
"Kalau aku yang masuk bagaimana?" Len menunjuk dirinya sendiri.
Rin memutar kedua bola matanya, "Asal kau tidak mengganggu."
"Iya iya. Ruanganmu ada di belakang, menghadap taman, disana sepi. Dan nanti akan kusuruh pelayan membawakan buku-buku yang kau mau ke ruangan itu. Kau tenang saja dan tinggal pakai besok." Kata Len.
"Ya." Rin berkata singkat.
Flashback end.
"Selesaaaiii! Fiuh, akhirnyaa!" Rin berkata senang. Tangannya bahkan mengepal keatas saking senangnya.
Len kembali dari lamunannya, suara cempreng itu tentu mampu membuat siapa saja kembali ke alam nyata.
"Oh, sudah selesai ya? Mana sini aku lihat." Len mencoba mengambil kertas yang dipegang oleh Rin, tapi gadis itu kemudian mengangkat kertas itu tinggi-tinggi.
"Tidak boleh." Kata Rin.
"Kenapa? Kan aku harus tahu apa yang akan kau berikan pada ayahku, jangan-jangan kau malah membuat racun untuknya." Len terus berusaha mengambil kertas itu.
"Kau pikir aku sejahat itu apa?" Rin berkata kesal.
"Ya siapa tahu kan? Buktinya saja kau tidak mau aku melihat hasilnya. Pasti ada apa-apanya kan?" Len kini menatap Rin yang juga sedang menatapnya dengan pandangan kesal.
"Seenaknya berkata seperti itu. Tuan muda seperti apa kau? Tidak mempercayai orang lain yang telah susah payah membantumu." Rin tentu tidak terima dengan segala tuduhan Len.
Sepertinya nona muda kita tidak sadar dia sedang membicarakan dirinya sendiri juga.
"Kalau kau ingin aku percaya, sini aku lihat!" Len tetap ingin tahu.
"Nih." Rin lalu melempar kertas itu ke wajah Len.
Len sebenarnya kesal, mana ada pelayan yang berani-beraninya seperti itu? Tapi rasa penasaran Len mengalahkan rasa kesalnya pada gadis itu.
Dengan teliti dibacanya bahan-bahan yang dipercaya Rin mampu mengobati ayahnya itu.
"Aku ingin besok semuanya telah tersedia. Aku mau mandi." Rin lalu meninggalkan Len begitu saja.
Sedangkan Len memandangi Rin yang sedang berjalan menuju pintu dengan menggerutu.
"Selalu saja seenaknya! Gadis aneh dasar." Len berdecak sebal.
Pemuda itu kemudian meneruskan membaca kertas yang ada digenggamannya. Kening Len lalu mengerut, "Kita ini mau memasak atau bagaimana?"
====0000====
"Nah, ayo kita coba ramuan pertama." Gadis berambut pirang itu berkata riang.
"Umm Rin, kau yakin ini bahan-bahannya?" Pemuda disamping gadis itu bertanya pelan.
"Kau meragukanku?" Gadis itu- Rin memicingkan matanya kearah Len.
"Bukan begitu, hanya saja bahan-bahan ini umm gimana ya?" Pemuda bernama Len itu menggaruk kepalanya.
"Aneh maksudmu?" Rin menatap Len tajam.
"Ah bukan, umm itu aku hanya tidak pernah tahu kalau ada ramuan yang dibuat dari bahan-bahan itu." Kata Len sambil tersenyum canggung.
"Kalau kau tidak percaya yasudah, pergi saja sana jangan membantuku. Lagipula kau sendiri yang menawarkan diri tadi." Rin berkata kesal.
"Ah haha jangan begitu, aku hanya bercanda kok." Len terlihat sekali salah tingkah.
"Terserah kau." Rin lalu mengambil sebuah pisau, mereka sedang ada di dapur kini.
"Yah Rin jangan ngambek gitu." Kata Len.
"Kau kira aku ini anak kecil? Kau sebenarnya mau membantuku tidak?" Rin menatap Len marah.
"Iya, aku mau membantumu kok." Len berkata lembut.
Rin tidak menjawab. Dia sedang membaca kertas yang berisi pekerjaannya kemarin sambil mengetuk-ngetuk pisau yang berada di genggamannya itu.
Dia terlihat seperti seorang pembunuh berdarah dingin yang sedang melihat daftar nama-nama korbannya. Len bahkan tengah bergidik ngeri melihat Rin seperti itu.
"Jahe merah." Kata Rin sambil menengadahkan tangannya kesamping, kearah Len yang berada di samping kanan gadis itu.
Len lalu mengamati hamparan bahan-bahan ramuan yang kini ada dihadapannya. Matanya terus meneliti benda yang dicarinya.
"Ah lama, jahe merah tuh yang ini." Rin lalu mengambil jahe merah yang ternyata berada tepat di dekat tangan kanan Len.
"Ah ya, aku tahu hanya saja aku hanya ingin mengetesmu saja." Len berkata setengah tertawa, tawa untuk menutupi kegugupannya.
Tentu saja dia hanya berbohong, mana mungkin dia tahu mengenai jahe dan sebangsanya itu?
Rin hanya menutar kedua bola matanya, lalu mengiris jahe merah itu hati-hati. Bagaimanapun juga dia itu juga manusia yang pasti merasa sakit sakalu tangannya teriris.
Sedangkan Len mengamati Rin yang sedang sibuk mengiris itu, dan dia merutuki dirinya yang tidak bisa membantu Rin.
"Mengkudu." Kata Rin lagi.
'Kalau ini aku tahu.' Pikir Len senang.
Len lalu mengambil sebuah mengkudu dan menyerahkannya kepada Rin.
Rin kembali memotong bahan yang ada ditangannya itu menjadi kecil-kecil. Setelah dirasa cukup, ditaruhnya potongan-potongan mengkudu itu ke sebuah mangkuk bersama jahe merah tadi.
"Pule pandak." Rin menengadahkan tangannya kearah Len.
Lama tak dirasanya ada sebuah benda yang ada diatas tangannya yang tengah terulur itu, matanya lalu melihat kearah pemuda disamping kanannya.
Pemuda itu sedang sibuk mengamati bahan-bahan di depannya itu, keringat mulai keluar dari kening Len.
"Ah kau ini. Yang itu." Rin lalu menunjuk beberapa daun yang masih menempel pada tangkainya, daun itu berbentuk cukup panjang dengan tekstur seperti bergerigi di ujung-ujungnya.
Len yang mengikuti arah yang ditunjuk Rin kemudian mengambilkan daun yan dimaksudkan Rin itu.
Rin kemudian mengiris daun-daun itu dan menempatkan pada tempat yang sama dengan irisan bahan yang lainnya tadi.
"Daun dewa dan daun ceremai." Kata Rin.
Tetapi sama seperti tadi, Len bingung dengan apa yang dimaksudkan Rin. Rin yang memang sudah kesal dengan Len lalu mendorong pemuda itu pelan agar menyingkir dan kemudian mengambil apa yang dia butuhkan itu, lalu kembali mengirisnya.
"Umm maaf ya Rin, aku gak tahu." Len berkata dengan nada penuh penyesalan.
Rin tidak menjawab, dia hanya memeritahkan Len untuk mengambil empat gelas air. Len mengangguk kemudian pergi dengan mangkuk berisi ramuan tadi untuk diisinya dengan empat gelas air.
Sambil menunggu Len kembali, Rin lalu menyalakan kompor yang masih menggunakan minyak sebagai bahan bakarnya.
"Sudah Rin." Len yang sudah kembali lalu menyerahkan mangkuk itu kepada Rin.
Rin lalu mengambil sebuah panci kecil dan menumpahkan isi mangkuk tadi ke dalam panci itu dan menaruh panci diatas kompor.
"Berapa lama?" Tanya Len.
"Sampai airnya berubah warna." Kata Rin singkat.
Setelah beberapa lama, Rin lalu mengangkat panci itu dan menuang airnya saja kedalam sebuah gelas.
"Ayo kita minumkan ini ke ayahmu." Rin lalu berjalan pelan keluar dapur, sementara Len mengikuti Rin dalam diam menuju ruangan ayahnya.
Sesampainya mereka di ruangan Rei Kagamine yang sedang terbaring diatas kasurnya, Len kemudian mendekati ayahnya sambil mengguncang bahu ayahnya itu pelan.
"Tou-san, bangun sebentar. Minum ramuan dulu ya?" Kata Len pelan.
Rei tetap diam, tidak membuka matanya.
Len kemudian menatap Rin yang berada di belakangnya.
"Dia sadar Len, hanya saja dia tidak bisa membuka matanya." Kata Rin.
"Bagaimana kau tahu?" Len bertanya pada Rin.
"Aku tadi melihatnya menggerakkan jari-jarinya sedikit, walau pelan tapi aku masih bisa melihatnya. Dan jangan salah, dia juga bisa mendengarkan kita." Rin lalu mendekati Rei.
"Len, bisa bantu aku mengangkat kepalanya sedikit?" Kata Rin sambil menatap Len.
Len mengangguk lalu mengangkat sedikit kepala ayahnya, menopangnya dengan lengan kiri pemuda itu.
"Rei-sama, minum ini sedikit-sedikit ya. Mungkin rasanya aneh, tapi kumohon tahanlah." Rin berkata lembut sambil menuang sedikit demi sedikit ramuan itu kedalam mulut Rei.
"Gerakan peristaltik kerongkongannya tetap bekerja. Kau tenang saja." Kata Rin melihat Len yang cemas menatap ayahnya.
Dengan sabar Rin menunggu ramuan yang tadi dibuatnya itu hingga habis, setelah itu dia mengelap pelan mulut Rei dengan sapu tangan yang tadi dibawanya dari dapur.
"Rei-sama, beristirahatlah. Nanti malam kau harus meminum ramuan tadi ya. Agar kau cepat sembuh, jadi kumohon tahanlah rasanya yang memang aneh itu." Rin mengusap punggung tangan Rei lembut.
"Kau juga Rin, beristirahatlah. Aku akan menemani Tou-san disini." Len menatap Rin sambil tersenyum.
"Ya. Kalau begitu aku permisi." Rin lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan setelah melihat Len menganggukkan kepalanya.
Rin berjalan santai menuruni tangga, tangannya memegang sebuah gelas dengan hati-hati agar gelas itu tidak terjatuh.
Pikiran Rin terus menerus memikirkan kondisi Rei. Dia benar-benar khawatir dengan orang yang dibilang kakek moyangnya itu. Gadis itu tak sadar jika kakinya tidak tepat menginjak anak tangga hingga membuat keseimbangannya jatuh.
"KYAAAAAAAA!" Rin berteriak. Matanya menutup. Dia takut karena terjatuh dari tangga yang masih menyisakan empat anak tangga itu.
"Eh?" Rin mengernyit.
Rin membuka matanya dan mendapati tubuhnya sedang direngkuh oleh seseorang.
'Pantas saja aku gak jatuh' Pikir Rin.
Gadis itu lalu mendongakkan wajahnya, ingin melihat siapa orang yang sedang merengkuhnya itu. Orang itu menundukkan wajahnya, mencoba menatap gadis yang berada di pelukannya.
Rin membulatkan matanya, mulutnya menganga saking terkejutnya.
"KAAUUU?" Rin berkata kencang.
Hohoho, sudah ah segitu dulu.
Dan siapa yang bisa nebak orang yang nolongin Rin itu, hayoo? *kedip-kedip*
Anyway, terimakasih yang sudah review ya :D
Oke, jangan lupa review lagi. Setidaknya tinggalkan jejak kalian jika sudah baca, hehe.
Jaa ne! Mwuuaahhh! *Di lempar telur*
