Yak saudara sebangsa tanah dan sebangsa air (?) saya update lagi (gak penting)
Entah kenapa setiap udah nulis fic tuh selalu pengen bikin fic baru, masalahnya saya pasti langsung ngegantungin fic yang lama, jadi mendingan satu-satu dulu deh.
Enjoy deh.
.
.
.
.
Dan seakan waktu menyuruhku untuk bercermin
Melihat diriku yang selama ini terlalu menegakkan kepalaku dan lupa akan bumi
Waktu merelakan dirinya untuk berbalik mundur
Agar aku mengerti
Bahwa kesempatan yang diberikan oleh waktu
Adalah yang pertama dan juga terakhir
Pilihannya hanya ada dua:
Belajarlah, atau menyesal-lah.
.
.
.
.
Banyak Typo, semakin gak jelas, dan bikin kening anda berkerut terus karena menemukan beberapa kejanggalan aneh.
Disclaimer: Saya bukan pemilik Vocaloid.
"KAUUUU?"
"Aduduh, kupingku.." Seorang pemuda yang terlihat sedang menopang gadis berambut honey blonde meringis seketika sambil menjauhkan kepalanya dari si sumber suara.
"SEDANG APA KAU DISINII?" Dengan wajah inosen seolah tanpa dosa, gadis itu tetap berkata dengan nada tinggi seperti tadi.
Gadis itu mungkin tidak tahu kalau sekali lagi dia berteriak maka akan mengakibatkan kerusakan pendengaran permanen pada pria yang tengah merengkuhnya itu.
"Bisakah kau tidak berteriak seperti itu? Aku tidak ingin tuli dengan umurku yang belum tujuh belas tahun ini, aku ingin merayakan sweet seventeen juga tahu." Pemuda itu lalu melepaskan pelukannya pada gadis yang menurutnya sangat kurang ajar ini.
"Kau Teto kan? Kau kesini dengan siapa? Apakah kau mengajak Dell juga? Oh Kami, akhirnya aku bertemu lagi dengan pelayan setiaku itu, akan kubuat si gadis daun bawang itu tidak bisa mengunyah lagi setelah tahu siapa aku sebenarnya." Rin berkata riang, wajahnya berekspresi lega sehingga membuatnya berseri-seri.
"Kau ini bicara apa sih? Aku jelas-jelas datang sendiri dan tidak mengajak Dell, bahkan mengenalnya pun tidak. Dan Teto? Siapa itu?" Si pemuda menatap Rin sambil tetap memegangi telinganya.
"Eh? Kau bukan Teto? Lalu kau siapa? Jangan-jangan kau pencuri yang menyamar seperti orang yang kukenali agar aku tidak curiga. Akal bulusmu itu nyaris berhasil, tuan merah." Rin menatap orang di depannya dengan pandangan meneliti.
"Enak saja bicaramu itu. Setelah membuat kupingku berdenging keras malah menuduhku pencuri. Harusnya aku yang bertanya, siapa kau?" Pemuda itu menatap Rin kesal.
Pencuri? Oh my, siapa gadis lancang ini?
"Aku Rin. Aku non-err maksudku pelayan pribadi Len." kata Rin.
"Ooh jadi kau yang kata Len itu dukun yang mencari obat untuk Paman Rei?" Si pemuda berkata sambil menunjukkan raut bersahabat.
"Apa maksudmu dengan dukun itu?" Rin berkata sangat dingin.
"Ah, tidak. Kau benar yang mencari obat untuk Paman Rei?"
Rin sebenarnya masih tidak terima dengan kata dukun tadi, enak saja. Memangnya dia terlihat seperti orang yang membawa-bawa kembang tujuh rupa apa?
"Ya. Dan katamu Paman Rei? Kau ini sebenarnya siapa sih?" Rin memandang tidak suka pada pemuda dihadapannya itu.
"Aku Ted. Kasane Ted tepatnya. Salam kenal ya, Rin." Pemuda yang bernama Ted itu tersenyum ramah.
'Kasane Ted? Sepertinya Teto juga memiliki nama keluarga yang sama. Ah! Aku bisa bertemu dengan kakek buyutnya Teto! Nanti akan kuberitahu dia.' pikir Rin geli.
Rin lalu memandangi pria yang ada di hadapannya. Semua yang ada di diri pria itu memang sangat mirip dengan teman sekelasnya itu, hanya saja rahang tegasnya yang menjadi pembeda.
Rambut Ted berwarna merah dan juga panjang jadi tadi Rin mengira itu Teto, tapi kemudian Rin baru ingat kalau Teto diikat dua dan bergaya pigtail.
"Bisa aku bertemu Paman Rei?" kata Ted.
"Ya. Silakan ke kamarnya, disana juga ada Len. Tapi jangan berisik, Rei-sama harus banyak beristirahat." sahut Rin.
"Aku mengerti. Kalau begitu aku kesana ya. Dah, Rin." Ted tersenyum simpul kearah Rin kemudian menaiki tangga menuju kamar Rei.
Rin memandangi Ted hingga pemuda itu menghilang di balik pintu. Dan kemudian gadis itu menepuk pelan jidatnya, "Ah, dia belum menjawab dia itu siapanya kakek moyang. Aku tanyakan nanti saja."
Rin kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menaruh gelas, saat dia ingin berbalik menuju kamarnya, kedua matanya melihat Gumi, salah satu pelayan yang pendiam tengah terduduk di taman belakang, di sampingnya ada seorang wanita paruh baya yang terlihat pucat.
Dengan dipenuhi rasa penasaran, Rin memutuskan untuk mendekati Gumi dan perempuan itu.
"Rin? Sedang apa disini?" Gumi bertanya pelan.
"Aku kebetulan melihatmu tadi, kau sendiri sedang apa?" Rin berkata lembut, dia sudah belajar satu hal: Caramu berbicara menunjukkan sifatmu. Dan Rin tentu saja tidak mau orang mencapnya sebagai wanita berandalan jika terus-terusan berkata ketus.
"Aku sedang menemani ibuku, dia sepertinya bosan berada di kamar terus." Gumi membelai lembut rambut ibunya.
"Ini ibumu?" tanya Rin.
"Iya. Kau mau berkenalan dengannya Rin?" Gumi menatap Rin sambil tersenyum.
"Ah, tentu saja."
Rin lalu melangkahkan kakinya tepat di hadapan ibu Gumi, lalu meurunkan kedua lututnya dan menggenggam tangan wanita tua itu.
"Bibi,kenalkan namaku Rin, aku adalah umm temannya Gumi." Rin berbicara canggung saat menyebut teman.
Teman.
Satu kata yang asing baginya. Karena untuk Rin, teman hanyalah sebuah kata dengan penuh kepalsuan di dalamnya.
Perempuan di hadapan Rin tidak bereaksi sama sekali, pandangannya tetap mengarah lurus kedepan seakan tidak terusik oleh kedatangan Rin. Wajahnya pun tanpa ekspresi.
Rin menatap Gumi dengan kepala penuh tanda tanya.
"Ibuku mengalami depresi yang berat, Rin. Ayahku pergi meninggalkan aku dan ibu sejak empat tahun yang lalu karena ayah bilang kalau dia akan menikah dengan perempuan kaya. Dia pergi tanpa meninggalkan apapun, sejak saat itu aku dan ibu bekerja keras untuk tetap hidup. Satu bulan kemudian, ibu sakit-sakitan. Karena aku tidak memiliki biaya, maka aku putuskan untuk merawatnya sendiri saja. Tak lama, ibu menjadi seperti ini. Aku kemudian berupaya untuk mencari kerja, beruntung ada Rei-sama yang menolongku dan menjadikanku pelayan disini. Dia juga mengobati ibu tapi sepertinya ibu sudah tidak bisa disembuhkan lagi." Gumi bercerita panjang lebar, cairan bening sudah membasahi pipinya lalu tersenyum sedih kearah sang ibu.
Rin terdiam. Selama ini dia mengira Gumi itu pelayan yang kuper, sama sekali tidak asik diajak mengobrol. Tapi ternyata, Gumi seperti itu karena banyaknya beban yang ia tanggung sejak dulu dan itu mengubah pribadinya menjadi tertutup.
Gadis pirang itu kemudian termenung, selama ini dia selalu memperlakukan orang seenaknya, terlalu cepat menilai orang karena hal-hal sepele padahal Rin sama sekali tidak tahu apa-apa tentang orang itu.
Egois.
Satu kata itu yang terlintas dipikiran Rin tentang dirinya.
Rin kembali menatap perempuan paruh baya di hadapannya lalu tersenyum sendu.
"Apa kau menyayanginya Gumi?" Rin berkata pelan.
"Tentu, aku sangat menyayanginya. Ibu adalah satu-satunya orang paling berharga bagiku, bahkan melebihi nyawaku. Aku tidak peduli siapapun mencampakkanku, menghinaku, bahkan menyakitiku. Asal aku tahu kenyataan bahwa aku masih memiliki seorang ibu, itu adalah hal terindah yang ingin terus aku rasakan." Gumi terus mengelus rambut ibunya penuh kasih, menatap sang ibu dengan rasa cinta yang luar biasa besarnya.
Rin tak dapat berkata apa-apa, dia hanya bisa terus menatap ibu dan anak itu.
"Kenapa? Bukankah ibumu sedang seperti ini? Apa kau tidak malu?" Entah kenapa tiba-tiba Rin kesal, dia berpikir bahwa Gumi hanya berpura-pura menyayangi ibunya.
"Kenapa? Karena dia adalah satu-satunya perempuan yang mau memperjuangkanku bahkan setelah 9 bulan aku membebaninya, mempertaruhkan nyawa demi kehidupanku, memberiku cinta tulus di sepanjang pertumbuhanku. Lalu setelah aku dewasa, setelah aku mampu bertahan dengan kakiku sendiri aku tidak menghormatinya? Dia ibuku, Rin. Demi Tuhan apapun yang terjadi padanya, dia tetap wanita termulia bagiku. Aku bahkan bangga kepadanya." Gumi menangis sesenggukkan, diciuminya pipi sang ibu berkali-kali.
Rin kembali terdiam. Dadanya terasa sangat sesak, air mata mulai mengumpul di pelupuk matanya. Pikirannya seketika tertuju pada satu kata.
Ibu.
Selama ini Rin membenci ibunya. Rin merasa kalau ibunya itu tidak pernah memperhatikan dirinya, bahkan ibunya seolah menganggapnya tak ada. Selama ini hanya bibi Luka yang merawatnya, mempedulikan dirinya. Bahkan Rin menganggap bahwa Luka adalah ibunya.
Ibunya jarang sekali bisa bersamanya, selalu disibukkan oleh hal-hal yang menurut Rin hanya alasan saja. Rin tidak pernah merasakan kelembutan tangan sang ibu, kecupan hangat di keningnya, segala perhatian saat dirinya sedang sakit atau sedih, waktu-waktu mengobrol untuk sekedar bercerita.
Rin merasa seolah dirinya sudah tidak memiliki orang tua, Rin sama sekali tidak merasakan fungsi orang tua seperti yang selama ini dia ketahui.
Air mata kini mengaliri pipinya dengan deras, suara isakkan tak dapat lagi terkunci dari mulut mungilnya.
"Rin? Kenapa kau menangis? Apa aku menyakitimu? Aku minta maaf Rin, sungguh." Gumi yang mendengar isakkan Rin merasa terkejut dan bersalah mendapati bahwa Rin tengah menangis.
Rin menggeleng cepat. Disekanya air mata yang membasahi pipinya.
"Tidak Gumi, aku hanya ingat ibuku." Rin mencoba tersenyum.
"Ah ya, maaf Rin. Aku lupa kalau semua keluargamu sudah meninggal, bukan maksudku mengingatkanmu dengan mereka, apalagi ibumu. Maaf." Gumi berkata dengan penyesalan penuh.
Rin menggeleng kembali, "aka pa. Maaf ya jika tadi aku membuatmu marah."
"Tidak kok." Gumi tersenyum lembut.
"Gumi, bolehkah aku membantumu merawat ibumu?" kata Rin sambil membalas senyuman Gumi.
Gumi tersentak kaget. Hingga kemudian setetes air mata kembali turun dari air matanya, lalu dia menganggukkan kepalanya cepat sambil tersenyum senang.
"Tentu saja boleh Rin, ibu pasti senang."
"Benar? Terimakasih Gumi." Rin berkata riang.
"Aku yang seharusnya berterimakasih." sahut Gumi.
Selamat datang hati yang mulai berpendar hangat, bawalah senyum tulus pada tiap-tiap wajah orang yang mengenalmu. Sematkan memori indah tentangmu untuk mereka. Berjuanglah gadis mungil, demi mereka yang menyayangimu...
Secarik kertas cokelat turut meramaikan suasana musim gugur yang penuh dengan dedaunan yang berjatuhan, berdesakkan dan pasrah kemanapun angin mengarahkannya.
===000===
Rin melangkahkan kakinya pelan kearah kamarnya, matanya terasa berat setelah tadi dia membuat ramuan untuk Rei, tanpa bantuan Len tapi. Rin sebenarnya merasa kalau dia lebih beruntung kalau tidak ada Len, dia akan bisa lebih cepat membuat ramuan tanpa Len yang bersikeras membantunya tetapi malah mengacaukan.
'Ada yang kurang' batin Rin.
Sudah dua hari ini dia sendirian mengurus Rei. Len harus pergi menggantikan tugas ayahnya yang sedang sakit. Dua hari yang lalu, ternyata Ted yang diketahui merupakan sepupu Len datang untuk memberi tahu Len bahwa ada satu masalah di salah satu wilayah.
Dan hari itu juga, Len bersama Ted berangkat. Tak lupa Len berpesan kepada Rin untuk menjaga sang ayah.
Awalnya Rin merasa senang Len pergi, dia berpikir pasti menyenangkan tanpa pemuda itu. Tapi nyatanya, ada yang kurang. Tanpa Len, hari-harinya disini tak sama.
Entah kenapa, dia merasa kalau dirinya lebih berharga disini jika ada Len. Mungkin karena Len yang mau benar-benar mengobrol dengan Rin, yang mau mendekati gadis itu, yang sangat percaya kepadanya, dan itu membuat Rin seolah diinginkan.
Walau dia juga sibuk membantu Gumi dan ibunya, sekedar mengobrol banyak hal pada ibu Gumi, mengajaknya berkeliling, atau bercanda sedikit dengan Gumi, tapi tetap saja semua itu beda jika tanpa Len.
"Ah, aku ini kenapa sih?" Rin menggelengkan kepalanya, tangannya membuka sebuah pintu dan mulai memasuki ruangan yang disebut kamar miliknya itu.
Tanpa babibu lagi, gadis itu lalu melempar tubuhnya begitu saja ke kasur kecil diruangan itu. Memejamkan matanya sambil mengambil nafas dalam lalu dihembuskannya kencang.
"Oyasumi Rin." Gadis itu berkata lirih kepada dirinya sendiri.
Sebuah kebiasaan yang entah sejak kapan dimulainya.
Mengucapkan selamat tidur untuk dirinya sendiri. Dan mengucapkan selamat pagi ketika dia terbangun nantinya.
.
.
Di suatu tempat di tahun 2012
"Bagaimana kesepakatannya? Setujukah?" Seorang pria paruh baya dengan rambut putih tengah terduduk di sebuah ruang tamu.
Di arah yang berlawanan terdapat dua orang yang seumuran dengannya sedang tersenyum simpul kearahnya.
"Setuju. Ini akan sangat menguntungkan bagi kita, maksudku bukan sebagai bisnis. Ya, kau tahulah apa maksudku." kata seorang wanita berambut pirang.
"Baiklah, kita tinggal rencanakan tahap selanjutnya. Semoga berjalan lancar ya?" Pria berambut putih itu lalu mengambil sebotol sake yang tersedia di atas meja dihadapannya.
"Ya, tentu saja." jawab perempuan tadi.
Setelah itu mereka mengambil masing-masing sebotol sake sambil tertawa senang.
Iya aku tahu tambah aneh, pasti kalian mikir "fic apaan nih? Gak jelas."
Ya habis gimana ya? Aku juga bingung, hehe.
Yang udah tinggalkan jejak terimakasih ya, jejak kalian sangat indah loh di sepanjang jalan (?)
Jadi yuk mari tinggalkan jejak kalian sampai nanti di tujuan kita *dilempar*
Oke, review saja deh.
Kalo ada yang mau nyumbang ide juga boleh, atau mau request fic (kaya bisa aja) juga monggooo XD, bisa lewat PM.
Yasudah,
Jaa ne! Mwuuuaahhh!
