Update! Akhir-akhir ini saya emang udah gak sibuk mikirin univ sih, tapi daftar ulangnya itu loh ya Tuhaan, bikin tulang pada copot semuaa. Mumpung belom sibuk test lagi, yok lah saya lanjutkan cerita abal ini.
.
.
.
.
Dan seakan waktu menyuruhku untuk bercermin
Melihat diriku yang selama ini terlalu menegakkan kepalaku dan lupa akan bumi
Waktu merelakan dirinya untuk berbalik mundur
Agar aku mengerti
Bahwa kesempatan yang diberikan oleh waktu
Adalah yang pertama dan juga terakhir
Pilihannya hanya ada dua:
Belajarlah, atau menyesal-lah.
.
.
.
.
Typo berceceran, alur muter-muter, dan semakin aneh.
Discalaimer: Vocailod bukan milikku.
"Lima.. enam.. tujuh.. delapan.. sembilan.."
Ada Sembilan lingkaran berwarna merah yang melingkupi tanggal pada sebuah kalender kecil, si pembuat lingkaran itu tengah menghitung satu persatu lingkaran-lingkaran yang sudah dia buat.
"Huuuhh baru sembilan hari aku disiniii. Aku kangen bantal jerukku." Gadis itu- Rin, yang notabene seorang nona muda dan juga orang yang sama yang membuat lingkaran merah tadi berkata frustasi sambil melempar spidol merah yang sedari tadi dia pegang.
Gadis pirang itu kemudian menghempaskan diri ke atas kasur kecil di kamar miliknya itu dan langsung membenamkan wajahnya ke sebuah bantal berwarna putih.
Sekilas, gadis itu tampak tengah menuju ke alam mimpi karena posisi tengkurapnya yang tidak berubah sejak beberapa menit yang lalu. Jika saja kita tidak melihat bahunya yang bergetar dan suara isakkan yang terdengar pelan karena teredam oleh bantal.
"Hiks." Isakkannya terdengar lebih kencang dari sebelumnya. Bahu kecilnya mulai bergetar hebat. Sebuah titik besar yang kita pasti tahu bekas air mata membasahi bantal putih tadi.
Gadis itu lalu bangun dan mendudukkan dirinya di tepi kasur. Wajahnya terlihat kusut karena air mata yang belum disekanya masih tertinggal disana. Rambut pirangnya menjadi sedikit berantakan, tapi nampaknya si empunya sedang tidak berniat merapikannya.
"Aaargghh!" Rin berteriak kecil, tangisannya semakin menjadi.
Tubuh mungil itu kemudian merosot begitu saja ke lantai, dengan memeluk lututnya gadis it uterus menangis.
"Hiks, Dell." Bibirnya bergetar saat mengucapkan nama orang itu.
Ingatan Rin kini berputar pada sesosok pria yang selama ini selalu menemani dirinya, yang tak pernah lupa tersenyum kearahnya walau sikapnya sudah diluar batas kesabaran orang-orang pada umumnya, yang selalu berkata lembut kepadanya meski yang dapat diterima pria itu hanya kata-kata ketus bahkan bentakkan keras darinya.
"Nona, aku disini. Sudah jangan menangis."
Rin tersenyum sedih mengingat kalimat yang pernah dikatakan pria bernama Dell itu kepadanya. Dulu, saat dia sedang terduduk di pinggir jalan sambil menangis ketakutan karena tersesat, berharap ada seseorang yang ia kenal yang menghampirinya.
Dan orang itu adalah Dell, pria tampan itu datang kearahnya sambil menenangkannya, memeluk tubuh mungilnya erat. Menghapus air mata yang mengaliri kedua pipinya dengan lembut.
"Dell." Kembali bibir kecilnya bergetar menggumamkan satu nama itu.
Rin ingat dulu Dell selalu mengajaknya bermain saat dia masih kecil dan kesepian, bermain bertiga dengan riang gembira.
Bertiga.
Rin. Dell. Rui.
"Rui." Rin berkata pelan, mengucapkan nama pelayan pribadinya yang seumuran dengannya.
Otaknya kembali berputar mengenai nama itu. Nama seorang gadis yang pemalu tapi sangat baik hati itu.
Rin ingat sewaktu dia dan Rui kecil sedang bermain di taman belakang rumahnya, berkejaran sambil tertawa riang. Dulu, dia dan Rui sangatlah dekat, bahkan Rin telah menganggap Rui sebagai saudara kembarnya mengingat model rambut mereka yang sama, hanya warnanya saja yang berbeda.
Kedekatan mereka hanya bertahan sebentar, karena Rin semakin bersikap dingin setiap harinya. Bahkan Rui selalu menjadi sasaran kemarahannya karena gadis itu tidak akan melawan Rin, lagipula Rin menjadi berpikir kalau Rui tak lebih hanya pelayan yang mengambil keuntungan dengan mendekatinya.
Awalnya Rui tetap bersikap ramah padanya, mengajaknya bermain kembali, menghibur Rin jika gadis itu tengah sendirian. Tapi Rin menanggapinya dengan ketus, mengejek Rui, dan terkadang hingga menampar Rui jika Rin benar-benar emosi.
Lama kelamaan Rui menjadi takut kepada Rin, setiap kali mereka berpapasan Rui pasti menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rin sendiri sudah tidak peduli lagi terhadap Rui walau Rui masih menjadi pelayan pribadinya, selain Dell tentunya.
Tes.
Setitik air mata kembali jatuh disusul dengan cairan serupa lainnya dari kedua mata biru sapphire itu, isakkan tidak lagi terdengar, hanya bahunya yang masih bergetar menandakan kalau emosinya belum mereda.
Menangis tanpa suara.
Entah mengapa, jenis tangisan itu menjadi yang terperih dari tangisan yang pecah.
Menuang segala luka dan beban hati hanya lewat air mata, menunjukkan rasa sesak yang tinggi hingga tak mampu menimbulkan sedikit suara pun.
Pikiran Rin terus menampilkan nama-nama yang tiba-tiba terlintas begitu saja. Hingga bibirnya kembali menggumamkan satu nama.
"Len."
Ya, gadis itu memanggil seseorang yang baru ditemuinya beberapa hari yang lalu. Yang siapapun tak akan mengira kalau orang itu yang kini menjadi pusat pikiran Rin.
"Kau….," Rin menggantung kalimatnya sejenak. Ditangkupkan kedua tangannya pada wajahnya yang semakin kacau.
"Kapan kembali?" Ucapannya sukses membuat air mata kembali hadir dari kedua matanya.
Sudah seminggu pria itu pergi, dan sudah seminggu pula Rin merasa ada yang kosong dari dirinya.
Kesendiriannya menambah rasa sesak dalam dirinya semakin menjadi jika Rin mengingat tentang pria bernama Len itu.
Sejak awal kehadirannya disini, di masa ini, Len adalah orang pertama yang hadir. Orang pertama yang menyapanya. Rin merasa kurang jika tak ada Len disini, padahal hanya dua hari mereka bersama, tapi itu ternyata cukup mengikat hati nona muda sepertinya.
Rin awalnya menampik kekosongan itu dengan alasan kalau dirinya hanya bosan dan butuh pria itu untuk menjadi bahan ledekannya mengingat betapa bodohnya Len bagi Rin. Tapi entah darimana awalnya, Rin merasa bukan itu alasannya memikirkan Len.
Dia merasa…
Rindu.
Dia rindu tatapan lembut Len.
Dia rindu senyum tulus Len.
Dia rindu kedua iris milik Len yang baginya sangat menenangkan.
Dia rindu sikap keras kepala Len.
Dia rindu bertengkar kecil dengan Len.
Dia rindu.
Rindu Len.
"Len."
"Ada apa?"
Sebuah suara dari samping kanan gadis itu membuat Rin mendongakkan kepalanya.
Dan bisa ditebak siapa pemilik suara itu?
Yups, Len.
"Eh? Len? K-kau kap-p-an.." Dengan terbata-bata karena rasa kaget yang tinggi dan menyerangnya tiba-tiba itu, Rin berusaha berbicara.
"Aku baru saja pulang dan langsung mencarimu, aku kira kau di dapur tapi kata Gumi kau dari tadi belum keluar kamar. Jadinya aku kesini dan melihatmu berantakan seperti ini sambil menyebut namaku. Kau kenapa Rin?" Len duduk dihadapan Rin, raut wajah lelahnya tersamarkan oleh kekhawatiran yang dalam pada gadis itu.
"Aku.. aku.." Rin mencari kata-kata yang sekiranya tak dapat membuatnya malu.
Mana mungkin dia bilang kalau dia merindukan pria tampan dihadapannya ini? Mau ditaruh mana muka manisnya?
"Apa?" Len berkata lembut.
"Aku kan capek membuat ramuan sendiri, dan kau malah pergi. Kau itu merepotkan. Aku tadi memanggil namamu karena aku kesal kau tidak pulang, jangan-jangan kau memang berniat membiarkanku sendiran ya mengobati kakek moyang? Kau ini ternyata kejam ya? Aku tidak menyangka ternyata kau licik seperti itu. Kau pikir aku ini pelayanmu apa? Oke, aku memang dianggap pelayan disini oleh yang lain, tapi asal kau tahu ya, aku ini tidak sudi melayanimu. Kau harus membayar semua rasa lelahku ini, kau pikir mudah ya mengurusi orang sakit? Aku harus teliti memberinya obat, tidak boleh telat dan ramuan yang kuberikan tidak boleh berlebihan. Huuh, kau itu memang menyebalkan! Sangat sangat sangatmenyebalkan!" Rin berkata panjang lebar sambil sesekali menunjukkan raut kesalnya.
"Hahahaha." Len entah gila atau gimana malah tertawa lepas melihat Rin seperti itu.
Tentu saja Rin bingung dengan sikap Len yang menertawakannya. Apanya yang lucu sih Len?
"Kenapa kau tertawa, hah? Kau tidak tahu aku sedang marah?" Rin menggembungkan kedua pipinya.
Len masih dengan sisa-sisa tawanya kini menatap Rin.
"Apa kau tidak sadar kalau ini pertama kalinya kau berbicara sepanjang itu? Aku jadi gemas, aku kira selama ini kau adalah manusia irit kata, ternyata kau malah mesin bicara ya? Makanya aku ketawa, kau itu lucu kalau ngambek. Apalagi bibirmu yang mengerucut itu. Haha, kau imut sekali." Len kemudianmengacak pelan rambut Rin.
Rin terdiam.
Ya, Len benar. Ini pertama kalinya Rin bicara panjang lebar seperti tadi setelah delapan tahun dia menjadi manusia yang dingin.
Apa ini tandanya kalau Rin mulai berubah?
"Hei, aku salah ngomong ya? Maaf." Len menjadi bersalah melihat reaksi Rin yang malah diam.
Rin menggeleng cepat. Lalu dia tersenyum.
Kuulangi sekali lagi. Rin tersenyum.
Len membeku sesaat mendapat sebuah senyum dari Rin.
Senyum itu, senyuman tulus yang mungkin juga baru pertama kalinya Rin tunjukkan setelah sekian lama.
"Manis." Len tanpa sadar menggumamkan kata itu.
"Manis?" kata Rin sambil mengerutkan kening.
"Iya. Manis. Kau kalau tersenyum tulus seperti itu manis. Sangat manis." Len berkata jujur.
Semburat merah menghiasi kedua pipi Rin.
Dan kuberi tahu lagi, ini juga pertama kalinya Rin merona seperti itu.
"Rin, bagaimana keadaan Tou-san?" kata Len.
"Ah, kakek moyang ya? Dia bisa dibilang ada kemajuan. Dia sudah bisa membuka matanya, bahkan tersenyum. Ya walaupun dia belum bisa berbicara atau menggerakkan tubuhnya, tapi perlahan ku yakin kakek moyang akan sembuh seperti sedia kala." Rin menatap Len, pandangannya melembut kepada pria itu tanpa ia sadari.
"Begitu ya? Terimakasih Rin. Kalau bukan karena bantuanmu, mungkin keadaan Tou-san akan lebih buruk. Dan maaf aku membuatmu harus merawat Tou-san sendiri." Len tersenyum hangat kearah Rin.
Entah mengapa, hati Rin turut menghangat melihat senyuman Len.
Senyum yang sudah ia rindukan beberapa hari ini kini disajikan secara cuma-cuma oleh pemiliknya.
"Tidak apa Len. Sebenarnya aku sangat senang bisa membantu kakek moyang." ucap Rin.
Len tersenyum simpul, kemudian dia memperhatikan kamar Rin yang bisa dibilang berantakan itu. matanya kemudian tertuju pada sebuah kalender keci yang tergeletak di lantai kemudian beranjak mengambilnya.
Dilihatnya lingkaran-lingkaran berwarna merah yang menghiasi sebagian tanggal di kalender itu.
"Rin, ini apa?" Len menunjukkan lingkaran-lingkaran itu kearah Rin.
"Oh itu, aku sedang menghitung tadi." Rin berkata santai.
"Menghitung apa?" tanya Len bingung.
"Waktuku. Aku sudah berada disini sembilan hari, jadi sisa waktuku disini tinggal 31 hari lagi."
Deg!
Len merasa hatinya terbebani. Ia kemudian ingat kalau Rin hanya diberikan waktu 40 hari untuk tinggal disini.
Mungkin dulu dia akan berteriak kegirangan jika tahu Rin akan pergi. Tapi saat ini, ia merasa hatinya berlubang. Seperti ada celah kosong jika nanti Rin pergi, walau masih sebulan lagi, tapi Len merasa ia tidak menginginkan waktu Rin disini cepat habis.
Dia ingin bersama Rin.
Len tersenyum sedih kearah Rin.
"Kau pasti senang ya jika nanti bisa kembali ke masamu lagi?"
Rin sedikit terkejut mendengar pertanyaan Rin, tapi kemudian dia menjawab,
"Tentu saja. Aku sangat menantikan hari itu segera tiba."
Bohong.
Rin berkata bohong.
Rin memang menginginkan ia tinggal di masanya kembali, tapi sejujurnya ia lebih suka jika ia tinggal di masa dimana Len hidup. Ia ingin terus didekat Len. Rasanya nyaman dan menyenangkan jika pemuda itu ada disisinya.
Hening kemudian tercipta.
Entah percaya atau tidak, tapi kedua insan itu kini sama-sama tengah berusaha menenangkan hati mereka masing-masing.
Keduanya merasa,
Hilang.
Jika sebuah cinta hadir diantara celah dinginmu, sambutlah. Biarkan berdiam sejenak walau kau tahu nantinya akan hilang. Hanya saja jika kau percaya, cinta tidak pernah salah hadir tersemat dalam hatimu, maka kau akan temukan bahagianya. Perjuangkanlah gadis mungil.
Bersamaan dengan secarik kertas tua itu, dua hati saling membagi rasa dalam keheningan.
Demikianlah chapter ini, kurang lebihnya saya mohon maaf, jika ada sesua- *dibekep* (malah penutupan pidato)
Saya rasa sebentar lagi bakalan ending.
Nah, siapa yang mau fic ini dibikin sad ending hayoo?
Umm lagi mikir ini nanti sad ending atau happy ending ya? Maunya gimana? XD
Oke, terimakasih yang sudah review dan ninggalin jejak.
Jangan bosen review lagi ya.
Yasudah,
Jaa ne! Mwuaaahhh!
