Hii update!
Kelamaan ya updatenya? Mau aku juga cepet kok updatenya, tapi waktuku juga harus dibagi sama yang lain. Yasudah, yuk baca!
.
.
.
.
Dan seakan waktu menyuruhku untuk bercermin
Melihat diriku yang selama ini terlalu menegakkan kepalaku dan lupa akan bumi
Waktu merelakan dirinya untuk berbalik mundur
Agar aku mengerti
Bahwa kesempatan yang diberikan oleh waktu
Adalah yang pertama dan juga terakhir
Pilihannya hanya ada dua:
Belajarlah, atau menyesal-lah.
.
.
.
.
Ada banyak typo, alur gaje, dan membingungkan.
Disclaimer: Aku bukan yang punya Vocaloid.
Lanngkah-langkah riang tercipta dari seorang gadis cantik yang kini tengah tersenyum lebar menaiki undakan anak tangga. Di tangan kanannya tergenggam tas kecil berwarna putih dengan manik-manik berwarna hijau yang membentuk bunga yang menghiasi bagian tengah depan, sedangkan tangan kirinya sibuk membenahi rambut panjangnya yang bergoyang kesana kemari seirama langkah kakinya.
Sang gadis terhenti di depan sebuah pintu mahoni yang tertutup rapat, lalu merapikan ujung-ujung baju selutut yang ia kenakan sebelum akhirnya jemari lentiknya memutar kenop pintu itu tanpa berniat mengetuknya terlebih dulu.
Cklek!
Pemuda itu-Len yang berada di ruangan yang sama dengan ayahnya yang sedang terbaring di kasur itu menengok kearah pintu yang sedang dibuka oleh seseorang. Diperhatikannya hingga sebuah kepala menyembul dibalik pintu itu.
"Ah akhirnya kutemukan kamu juga." Gadis itu berkata senang sambil memasuki ruangan itu lebih dalam.
"Ada apa?" Len menjawab dengan nada ramah yang dibuat-buat.
"Apa salah jika aku ingin bertemu dengan Rei-sama?" kata gadis itu.
Si pemuda tidak menanggapi, dia memandangi ayahnya yang sedang tersenyum lembut kearah gadis itu.
"Rei-sama, bagaimana keadaan anda sekarang? Sudah lebih baik kan?" Sang gadis lalu meletakkan tas yang sedari tadi dibawanya itu diatas meja yang berada di samping tempat tidur.
Rei mengangguk sambil tersenyum.
"Sebelumnya maafkan aku yang baru bisa menjengukmu sekarang, aku sangat sibuk kemarin." Gadis itu membalas senyuman Rei sambil memijit lengan Rei pelan.
Sekali lagi, Rei hanya mengangguk lemah tanda tidak mempermasalahkannya.
Len yang menyaksikan itu kemudian berdehem kecil, membuat si gadis menoleh kearahnya.
"Sudah waktunya Tou-san istirahat, kita harus keluar sekarang." Len bangkit dari duduknya lalu merapikan selimut yang membalut tubuh ayahnya itu dengan hati-hati.
"Ah baiklah. Rei-sama istirahat yang banyak ya. Nanti aku akan menjengukmu lagi." kata gadis itu lembut, lalu mengikuti Len menuju pintu ruangan.
"Sebenarnya apa maumu?" Len berkata datar kepada gadis itu saat mereka telah berada di luar kamar Rei.
"Mauku? Maksudmu apa Len sayang?" gadis itu berkata manja sambil bergelayut di lengan kanan Len.
"Kau tidak akan pernah sebaik itu pada ayahku jika kau tak menginginkan sesuatu, kan?" Len mencoba melepaskan lengannya dari gadis yang membuatnya risih itu.
"Ah, kau sangat mengerti diriku rupanya?"
"Kutanya sekali lagi, apa maumu Miku?" kata Len dingin.
"Kenapa bicaramu dingin seperti itu kepadaku, eh? Sudah berani melawanku rupanya. Cari mati, huh?" gadis bernama Miku itu tetap tersenyum kepada Len.
"Jangan kau kira aku takut dengan ancamanmu itu. Aku sudah muak dengan tingkahmu yang menjadikanku seperti bonekamu. Sudah cukup Miku. Jangan memaksaku untuk menjadi tunanganmu. Aku tidak sudi dengan gadis licik sepertimu." Len berusaha mengontrol suaranya agar tidak mengganggu ketenangan ayahnya.
"Oh begitu. Kenapa sekarang kau memberontak? Apa ada yang mempengaruhimu? Katakan saja Len saying." Miku membelai lembut pipi pemuda yang kini berhadapan dengannya.
"Tidak ada. Hanya sebuah kenyataan tentang kebenaran." kata Len dingin.
"Kebenaran apa Len?" Miku terlihat tenang menghadapi Len yang kini sedang berusaha menahan amarahnya.
"Kebenaran tentang kau dan keluargamu yang sengaja menunangkanku denganmu agar bisa mengambil semua harta milik ayahku dan kebenaran tentang kau yang ternyata yang ingin membunuh ayahku agar kekuasaan wilayah ini bisa jatuh kepada ayahmu." Len memberikan Miku sebuah tatapan yang sarat akan kemarahan.
"Hahaha, tidak kusangka secepat ini kau mengetahuinya Len. Kau memang cerdas ya. Jadi itu alasannya kau tidak mau bertunangan denganku? Dan soal ayahmu, harusnya dia mati tiga hari setelah dia tidak sadarkan diri, tapi ternyata dia masih hidup sampai saat ini, bahkan tersenyum kearahku. Ah Len, kau harusnya mencontoh ayahmu. Betapa manisnya dia tetap bisa tersenyum pada orang yang hampir menghabisi nyawanya. Hahaha bodoh sekali ayahmu itu." ucap Miku sambil tertawa kecil, seringai iblis kini telah menggantikan senyuman manis yang tadi menghiasi wajahnya.
Sudah cukup, Len sudah tidak sanggup menahan emosi yang sedari tadi ditahannya. Kau pikir apa yang akan kau lakukan jika berada di posisi Len? Mendengar ayahmu dilecehkan seperti itu tepat di hadapanmu.
Brak!
Suara benturan keras tercipta seiring jatuhnya seorang gadis berambut teal yang lalu berguling cepat kebawah melewati sebuah tangga.
Bisa menebak apa yang Len lakukan?
Yups, dia mendorong Miku keras hingga gadis itu terjatuh tepat di bibir anak tangga teratas, karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya maka gadis itu jatuh kebawah dengan posisi yang sangat tidak elit.
"Aw! Aarrgghh!" Miku memekik kesakitan sambil memegangi kepalanya yang kini mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
Pandangannya buram, kepalanya berdenyut kencang dan berputar-putar ke segala arah, tubuhnya terasa patah disemua bagian akibat kejadian yang menimpanya tadi.
Sedangkan Len memandangi Miku datar sambil menuruni anak-anak tangga itu. Lalu berjongkok di hadapan gadis yang tengah tergeletak sambil meringis kesakitan.
"Kau harusnya tahu, Miku. Sejak dulu aku tak mau diatur oleh siapapun, apalagi dengan wanita murahan sepertimu. Terserah apa yang mau kau lakukan padaku nantinya, aku sudah tidak peduli." Len berkata dingin sambil terus menatap tajam Miku.
"Ukh, kau akan membayar ini semua, sialan! Lihat saja." Miku memegangi dagunya yang juga berdarah.
Len tidak menjawab, dia hanya berjalan pelan meninggalkan Miku.
"Kupastikan kau akam menderita. Juga ayahmu, dan juga..," Miku menyeringai kecil, ditatapnya tubuh Len yang sudah sedikit menjauh darinya.
"Pelayan kampungmu itu! Kalau aku tak salah, si kampung itu bernama Rin, kan?"
Ucapan Miku sukses menghentikan langkah Len dan menampilkan seingai yang lebih lebar dari bibir Miku. Pemuda itu mengepalkan tangannya, rahangnya terlihat mengeras. Dihirupnya nafas dalam sambil memejamkan kedua matanya.
"Kau sentuh dia seujung kuku saja, kau akan kubunuh saat itu juga." Len berkata sangat dingin sambil melanjutkan langkahnya menuju taman belakang.
Miku terus menyeringai sambil bergumam kecil,
"Kurasa aku mendapatkan kuncimu, Len Kagamine."
Kemudian tawa licik keluar dari paras yang penuh dengan kecantikan itu.
.
.
.
"Hey, sedang apa?" Sapaan ramah dan suara yang lembut mengusik gadis mungil yang tengah serius memotong sebuah mengkudu.
Dengan kesal ditatapnya orang yang mengganggu aktifitasnya itu.
"Sedang membuat sumur." Gadis itu berkata asal sambil menautkan kedua alisnya tanda kesal.
"Hahaha, sumurmu pasti dalam sekali ya." Orang yang ternyata seorang pemuda tampan itu tertawa sambil menunjuk sebuah pisau yang dipegang oleh si gadis.
"Ya, dan kau adalah orang pertama yang beruntung untuk terjun kedalamnya." Gadis yang bernama Rin itu kemudian melanjutkan kegiatan memotongnya yang terhenti tadi.
"Boleh saja. Memangnya kau tidak merindukanku nantinya?" Pemuda itu tersenyum jahil memandangi gadis di samping kirinya.
Rin tidak menjawab, dirinya sibuk menahan rasa panas yang menjalar ke wajahnya karena ucapan pemuda itu tadi.
"Huu ngambek ya?" Pemuda itu mengacak rambut Rin dengan sayang. Ya, dengan sayang.
"Singkirkan tangan baumu itu dari rambutku yang sudah harum." Rin berkata datar, tepatnya berusaha berkata datar karena yang terdengar malah dirinya yang sedang merengek.
"Eh, benarkah itu? Mana sini aku cium." Pemuda yang merupakan tuan muda itu tanpa ragu menghirup lembut surai honey blonde yang berada tepat dibawah dagunya.
"LEN! Kau sedang apa?" Rin berteriak kecil, terkejut dengan tindakan pemuda bernama Len itu.
"Sedang membuktikan ucapanmu. Dan ternyata benar harum. Umm wangi jeruk ya?" Len memandangi Rin lembut.
"Huh dasar bodoh. Tentu saja wangi jeruk, memang kau tidak tahu ya aku ini penyuka jeruk?" Rin terus memotong bahan yang berbeda dari yang tadi.
"Tidak, kau baru memberitahuku sekarang. Dan aku tidak pernah melihatmu memakan jeruk sebelumnya." Len kemudian berjalan pelan kearah meja yang berada di ruangan itu dan mengambil sebuah pisang.
"Jika di rumahmu ini ada setidaknya satu jeruk saja, pasti akan kumakan." Dengan kesal Rin menatap pemuda yang kini tengah berjalan kembali kearahnya.
"Heh, tidak ada jeruk? Masa sih?" Len lalu mengernyit bingung.
"Kau ini pelit sekali. Masa satu-satunya buah yang kutemui bahkan berserakan kemana-mana adalah buah yang sedang kau makan itu." Rin menunjuk pisang yang sedang dilahap oleh Len.
"Wajar saja, aku kan suka pisang." kata Len singkat.
"Terserah." Rin kemudian menyalakan kompor dan menaruh sebuah panci diatasnya.
"Mau membeli jeruk?" Len akhirnya kasihan juga pada gadis itu.
Rin menghentikan kegiatannya lalu menatap Len yang juga tengah menatapnya.
"Benar?" tanya Rin.
"Tentu. Setelah kau membuat ramuan untuk ayah, kita ke pasar bersama ya?" jawab Len sambil tersenyum.
"Ya! Aku bosan berada dirumah terus sejak pertama disini." kata Rin senang lalu meneruskan kegiatannya tadi.
Len memandangi gadisnya itu lembut.
Ya, gadisnya. Sejak kedatangan pemuda itu kembali dari sebuah kota, Len menyadari sebuah perasaan khusus yang tercipta diantara dirinya dan gadis itu. Len juga menyadari betapa singkatnya waktu yang diberi Tuhan untuk mereka.
Len telah berjanji untuk membahagiakan Rin dalam waktu sesingkat itu, dan menjadikan Rin gadisnya walau hanya beberapa minggu kedepan. Setidaknya dia pernah memilikinya. Memiliki seseorang yang tanpa sadar telah membuat pemuda itu menitipkan hatinya pada orang itu.
Len kemudian tersenyum kecut mengingat ucapan gadis hijau bernama Miku yang mengancam dirinya dengan keselamatan si gadis.
Ancaman yang diucapkan tiga hari yang lalu itu mampu membuat Len terus mendampingi Rin sepanjang hari. Jikalau ada keperluan penting yang mengharuskan dirinya pergi, maka dia akan menyuruh Ted untuk menjaga Rin.
Rin sendiri belum menyadari sikap proteksi Len kepada dirinya. Gadis itu malah merasa senang karena dirinya tidak akan kesepian, karena Len dan Ted pasti akan mengajaknya berbincang-bincang mengenai banyak hal.
Rin yang awalnya bersikap dingin itu juga kini menjadi lebih ramah, walau sesekali dirinya masih bersikap dingin. Tapi dia sudah mengalami beberapa kemajuan tentang pribadinya.
Dia tak lagi ketus pada perempuan, dia jadi lebih sering tersenyum, dan dia menjadi lebih akrab dengan pelayan-pelayan lain yang awalnya menjauhinya karena sikap Rin yang dulu.
Rin kemudian menuang ramuan yang telah dibuatnya kedalam sebuah gelas kaca, lalu menghampiri Len yang sedang termenung sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.
"Hei." Rin melambaikan tangannya tepat di depan wajah Len.
Tak ada reaksi.
"Hei." Rin kemudian menjentikkan jari-jarinya.
Tetap tak ada reaksi.
Dengan kesal dipukulnya bahu Len dengan keras, membuat pemuda itu tersentak sambil meringis memegangi bahunya.
"Sakit, Rin." kata Len.
"Salahmu yang bengong sendiri? Memikirkanku, huh?" Rin menatap Len dengan pandangan menggoda kearah Len.
Len memandangi raut yang memang menggoda imannya itu. Diperhatikan pahatan indah sang pencipta itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Matanya kemudian tertuju pada bibir mungil yang sedang tersenyum jahil itu.
Entah apa yang dipikirkan Len, pemuda itu lalu mengambil gelas yang sedang dipegang Rin kemudian menaruhnya di meja yang berada di sampingnya.
Rin baru saja akan melancarkan sebuah protes hingga bibirnya yang baru setengah terbuka merasakan benda lembut yang menempel di kedua bibirnya itu.
Benda itu.
Bibir Len.
Rin tersentak kaget, dirasakan bibir Len begitu lembut dan basah menyentuh miliknya dan itu membuat Rin nyaman dan tanpa sadar membuatnya memejamkan kedua matanya.
Sepuluh detik berlalu,keduanya tetap tak melepaskan pagutannya.
Dua puluh detik berlalu, ciuman keduanya semakin dalam.
Tiga puluh detik berlalu, wajah mereka memerah karena kurangnya oksigen yang mereka dapat.
"Hah hah." Rin mengambil nafas dalam-dalam.
Len tak jauh berbeda dari Rin, hanya saja dirinya bisa lebih cepat mengendalikan tubunya.
Pemuda itu kemudian mengambil gelas yang tadi direbutnya dari Rin. Len lalu menatap Rin lembut.
"Ayo kita minumkan ini pada Tou-san." kata Len menepuk pelan kepala Rin lalu berjalan pelan.
Rin memandangi Len kesal.
Apa-apaan pemuda itu. Menciumnya lalu pergi seakan-akan tidak melakukan apa-apa.
"Dasar sialan, itu tadi ciuman pertamaku." ucap Rin.
Len menghentikan langkahnya lalu menegokkan kepalanya kearah Rin yang ada di belakangnya.
"Aku juga." Len tersenyum simpul kemudian melanjutkan langkahnya.
Rin terpaku sejenak. Kemudian wajahnya kembali merona sambil mengikuti langkah Len pelan.
Disentuhkan jarinya pada bibir mungil miliknya.
Tanpa disadari oleh yang lainnya, kedua remaja itu mengukir senyum senang dengan ratusan kupu-kupu yang terbang mengitari perut mereka.
.
.
.
"Ayo." Len menggenggam erat tangan mungil Rin kemudian berjalan beriringan menuju pasar.
Sesuai janji Len tadi, mereka akan membeli jeruk untuk Rin setelah meminumkan ramuan untuk Rei.
Rin tersenyum senang, matanya memperhatikan sekelilingnya.
Jalanan itu cukup ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang, baik yang akan ke pasar seperti dirinya dan Len atau yang akan pulang kerumah masing-masing.
Rin merasa kini semua mata tengah memperhatikan dirinya sambil berbisik-bisik.
Diliriknya pemuda yang berada di sampingnya, pemuda itu terlihat tenang-tenang saja sambil sesekali membalas senyum atau sapaan yang ditujukan untuknya.
"Len, mengapa mereka memperhatikan kita?" Rin berkata pelan.
"Mungkin bajumu bolong." kata Len asal.
Bletak!
Sebuah pukulan melayang dengan indahnya ke kepala Len, pemuda itu meringis sambil memandang Rin yang tengah memasang raut sebal.
"Aku benci kau." Rin lalu menggembungkan kedua pipinya.
Len tertawa kecil sambil mengacak pelan rambut Rin.
"Love you too, Rin." kata Len.
Setibanya mereka di pasar, Len segera mencari penjual buah dan membiarkan Rin berbelanja jeruk sepuasnya. Rin bahkan tak sadar jika kini dia sudah menghabiskan tiga plastik ukuran sedang yang penuh dengan berbagai jenis jeruk.
"Kau ini kecil tapi rakus ya." Len memandangi buntalan-buntalan berisi jeruk yang sedang dipegangnya.
"Berisik. Katamu aku boleh beli sepuasku." Rin masih memilih hamparan jeruk yang ada di hadapannya.
Len menghela nafas.
Bosan dengan Rin yang terus menjejalkan jeruk ke plastik lain yang diberikan sang penjual, Len kemudian memperhatikan jajanan yang ada di sekelilingnya.
Matanya kemudian tertuju pada permen kapas yang terlihat menggoda.
"Rin, kau mau permen kapas?" tanya Len.
"Mau! Aku mau dua." Rin berkata riang kearah Len.
"Yasudah aku beli dulu disana, kau tunggu disini dan jangan kemana-mana." perintah Len.
Rin hanya mengangguk lalu kembali menyibukkan dirinya dengan jeruk-jeruk itu lagi.
Len berlari kecil kearah penjual permen kapas yang berada di seberang tempatnya membeli jeruk tadi, sebisa mungkin dia bergerak cepat karena tak mau membiarkan Rin sendiri terlalu lama.
Terlalu bahaya mengingat Miku yang mengancam Len.
Len tahu Miku adalah orang yang nekat, dan dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Len membeli tiga buah permen kapas. Satu untuknya dan dua untuk Rin.
Dengan langkah cepat kembali dilangkahkan kedua kakinya ketempat Rin membeli jeruk. Matanya kemudian menangkap segerombolan orang yang tengah menyesaki lapak penjual jeruk tempat Rin berada.
Tanpa basa basi pemuda itu berlari kencang menuju tempat itu.
'Kumohon semua baik-baik saja. Kumohon Rin kau baik-baik saja.'
Tubuhnya menyeruak berusaha menembus kerumunan orang-orang yang memenuhi tempat Rin.
Dan seketika dirinya tersungkur lemas ke tanah mengetahui sebuah kenyataan yang buruk.
'Harusnya aku tak meninggalkannya. Harusnya aku tetap berada disampingnya.' Len menangis dalam hati.
Raih dirinya jika memang kau menginginkannya, kemudian genggam dan pastikan tidak ada siapapun yang dapat meloloskannya.
Yakinlah, cinta selalu membantu segala usahamu untuk mendekapnya.
Dan kini, berikan sapaan untuk sebuah pengorbanan.
.
.
.
Tahun 2012
"Cari dia sampai dapat." Seorang pemuda tengah memandang frustasi pada benda berbentuk flip yang merupakan ponsel miliknya.
"Baik." Sekitar lima pria berjas hitam kemudian pergi menuruti perintah orang itu.
Pemuda itu kemudian memijat keningnya pelan, direbahkan tubuhnya pada sandaran kursi yang tengah didudukinya.
"Kemana kau, ratuku?" ucapnya lirih.
Ternyata banyak yang mau ini happy ending, tapi gimana kalo sad ending aja hayoo XD
Wah makasih banyak yang review, sini kupeluk satu-satu *ditendang*
Kalo ada yang bingung atau mau ditanyain berhubung fic ini emang ngebingungin bisa PM aku. Atau yang mau nyumbang ide juga boleh, mau request juga boleh, hihi.
Nah, review lagi yok. Biar aku juga semangat lanjutinnya :D
Oke, sampai ketemu chapter depan!
Jaa ne, mwuuaahh!
