Datang lagi...!
Saya membawa satu chapter buat yah dan semoga sukaa :D
.
.
.
.
Dan seakan waktu menyuruhku untuk bercermin
Melihat diriku yang selama ini terlalu menegakkan kepalaku dan lupa akan bumi
Waktu merelakan dirinya untuk berbalik mundur
Agar aku mengerti
Bahwa kesempatan yang diberikan oleh waktu
Adalah yang pertama dan juga terakhir
Pilihannya hanya ada dua:
Belajarlah, atau menyesal-lah.
.
.
.
.
Typo dimana-mana, dan abal.
Disclaimer: Vocaloid bukan milikku.
Rin POV
Kau tahu apa yang sedang kulakukan sekarang? Aku sedang melepas rindu pada ratusan buah berwarna serupa matahari senja itu dengan memasukkan mereka ke dalam plastik untuk kubawa pulang.
Ah rasanya aku tidak butuh apapun di dunia ini selain mereka, jeruk-jeruk itu.
Kutengok pemuda di sebelahku yang nampaknya sangat bosan menemaniku membeli jeruk. Salahnya sendiri yang berkata bahwa aku boleh berbelanja sepuasnya, dan sekarang aku tidak peduli jika pemuda itu pingsan ditempat. Aku hanya memikirkan jeruk dan jeruk dan jeruk dan jeruk lagi.
"Rin, kau mau permen kapas?" tawar Tuan muda bernama Len itu kepadaku.
Aku mendongak kearahnya dengan wajah senang, "Mau! Aku mau dua."
"Baiklah, aku beli dulu disana., kau tunggu disini dan jangan kemana-mana." perintahnya.
Aku mengangguk dan kembali menyibukkan diri dengan jeruk yang tengah melambai-lambai kearahku itu. Oh lihatlah betapa manisnya mereka.
Tak lama setelah Len pergi, aku merasakan bahu kananku ditepuk oleh seseorang. Aneh, kenapa Len cepat sekali kembali? Bukannya dia baru saja pergi? Apa dia mau meminjam uangku karena uangnya habis untuk membeli jeruk untukku? Bodohnya dia, mana punya aku uang di tahun ini?
Aku membalikkan badanku kearah orang itu. Kulihat dua orang dengan kain hitam yang menutupi bagian dagu hingga hidung sehingga aku tidak bisa melihat mereka dengan jelas.
Aku mengernyitkan dahi, rasanya aku tidak pernah bertemu dengan mereka.
"Maaf, anda siapa?" Aku mencoba bersikap biasa saja kepada mereka, walau aku ingin berteriak kaget kepada dua orang aneh ini.
Mereka bukannya menjawab malah menyodorkan secarik kertas kepadaku.
Dengan bingung, kuambil kertas itu dan tertera sebuah kalimat.
Anda Rin, pelayan Len-sama?
Aku memandangi mereka sambil mengangguk tidak mengerti. Bisukah mereka berdua?
Sekilas, dapat kulihat wajah mereka tertarik keatas, sepertinya menyeringai senang.
"Ada apa ya?" tanyaku.
Dengan gerakan sangat cepat, salah satu dari mereka mendekat kearahku sambil memegang kencang kedua pergelangan tanganku. Sedangkan yang satunya mengacungkan sebilah pisau keata- salah maksudku ke kepalaku.
Keringat dingin mengalir deras di keningku. Mau apa mereka? Aku menjerit dalam hati.
Sret!
Orang itu memotong sedikit rambut pirangku lalu memamerkannya tepat di depan kedua mataku.
"Bagaimana jika aku membuat nasibmu sama seperti ini?" bisiknya ke telinga kiriku.
Aku meronta sebisaku. Kulihat orang-orang disekelilingku hanya diam menyaksikan ini, raut takut juga tercetak di wajah mereka. Satu-satunya alasan aku meronta adalah agar setidaknya ada satu orang yang menolongku. Tapi sepertinya sia-sia.
"Mau apa kalian?" dengan suara bergetar aku menatap manik mata orang yang tadi memotong rambutku.
Buagh!
Kurasakan tengkukku dipukul keras. Pandanganku mengabur, kepalaku pening luar biasa. Disaat seperti itu entah kenapa aku tidak memikirkan nasibku sendiri, aku malah memikirkan Len, dia pasti cemas jika dia tahu aku tidak bisa menjaga diriku seperti ini.
Cih, kenapa aku selalu merepotkannya?
Berangsur-angsur kemudian, kegelapan mulai mendominasi penglihatanku. Memberi tanda bahwa kesadaranku mulai menghilang.
.
.
.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" sebuah suara berat mengusik telingaku.
"Semua tergantung pemuda tak tahu diuntung itu." Kali ini suara perempuan yang terdengar.
Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Terlebih lagi, siapa mereka?
Aku tetap tidak membuka kedua mataku. Selain untuk mengumpulkan kesadaranku sepenuhnya, aku juga ingin terus mendengar percakapan mereka dengan berpura-pura belum sadarkan diri.
"Bagaimana jika dia sama sekali tidak peduli?" tanya suara berat yang lain dari yang sebelumnya.
"Buang saja dia, untuk apa repot-repot memikirkannya jika tuannya saja tak mempedulikannya." jawab perempuan itu ringan.
"Lalu, jika pemuda itu berusaha mengambilnya kembali?"
"Jadikan dia sebagai sandera. Aku akan membebaskannya jika pemuda itu menuruti semua permintaanku dan aku akan menyakitinya jika dia menolak. Gampang, bukan?" Perempuan itu lalu tertawa sinis.
"Kau memang cerdas, Miku."
Oh, WHAT? MIKU?
Jadi perempuan daun bawang itu yang melakukan ini padaku? Tapi untuk apa? Dan apa pemuda yang sedari tadi mereka bicarakan itu adalah Len? Apa yang ada di otak neginya itu? Kurang ajar sekali dia. Biar kubalas nanti! Kau kira aku takut padamu, picik?
"Baiklah, Miku. Kami pergi dulu, aku sangat lapar. Lakukanlah sesukamu pada gadis manis nan malang itu. Jika kau butuh sesuatu jangan sungkan panggil kami."
Dapat kurasakan kedua pria itu tengah berjalan pelan, kemudian kudengar suara pintu yang dibuka dan kembali ditutup. Dua orang itu sudah pergi.
Well, berarti tinggal aku dan Miku disini. Saatnya pembalasan, nona.
Aku menggerakkan kedua tanganku, sulit karena sepertinya mereka mengikatku kencang dengan tambang. Kedua kakiku juga mendapat perlakuan yang sama. Dan kali ini aku benar-benar harus berterimakasih pada Rinto.
Kenapa? Karena sepupu tampanku itu selalu memaksaku untuk ikut beberapa bela diri. Perlu kusebutkan satu-satu? Kau jawab tidak pun akan kuberi tahu tetap.
Aku pemegang sabuk hitam untuk karate, aku sudah profesional dalam aikido, judo, dan jujutsu. Dan untuk melepaskan diri dari ikatan ini bukanlah sesuatu yang sulit bagiku. Bahkan bisa kubilang ini hanya hal kecil, sangat kecil malah.
Sombong? Terserahlah, tapi yang pasti aku akan mentraktir sepupuku itu sepuasnya jika aku pulang nanti.
Aku mulai menggerakkan tanganku perlahan, menggeliat-geliatkan hingga kurasa ikatannya terasa kendor. Terus melakukan seperti itu, dan tak sampai lima menit kalian bisa lihat kedua tanganku telah bebas merdeka kini.
Lihat? Sangat mudah kan?
Dengan perlahan kubuka kedua mataku, dapat kulihat gadis itu tengah duduk dikursi yang membelakangiku sambil memakan neginya. Bagus, sekarang aku bisa melepaskan ikatan di kakiku tanpa sepengetahuan si bodoh itu. Dan kau tahu hal yang lebih bodoh yang dilakukannya? Dia tidak menutup mulutku. Yah, keuntungan bagiku walau nanti aku juga tidak akan berteriak. Kau pikir aku mau mengundang dua pria itu untuk ikut menyerangku juga? Bukannya apa-apa, hanya merepotkanku saja.
Tanpa kesulitan aku berhasil membebaskan kedua kakiku. Dan sekarang si gadis mungil ini sedang tersenyum licik, kau tahu apa yang kau pikirkan?
Tidak buruk kok.
Aku hanya ingin membuat si bodoh itu pingsan lalu menelanjanginya, lalu mengikat kaki dan tangannya, lalu menggantungnya dengan kedua tangan digantungkan diatas tiang tertinggi di kota ini.
See? Tidak buruk, kan?
Akku mendekatinya perlahan. Dan saat aku akan memukul kepalanya, gadis itu berbalik cepat kearahku. Menampakkan senyum liciknya. Aku membalas dengan senyuman tersinisku. Dapat kulihat tangannya sedikit bergerak dibalik kimono yang menyembunyikan kedua tangannya itu.
Dan, slash!
Kau tahu apa yang sekarang dia bawa? Atau tepatnya dia acungkan tepat di wajahku? Yang sedari tadi dia sembunyikan dibalik kimono hijau tosca miliknya? Oke, kau sungguh ingin tahu? Baiklah, itu.. ituu...
Samurai.
Normal POV
Tuan muda itu- Len Kagamine tengah terduduk lemas sambil memandangi tempat dimana tadi pelayannya berdiri disana. Dengan tenaga yang hilang entah kemana, diambilnya potongan helai rambut berwarna serupa dengan miliknya yang sepertinya sengaja dibiarkan jatuh disitu kemudian dihirupnya pelan.
Wangi jeruk menyapa indera penciumannya.
"Rin. Maaf. Ini semua karenaku."
Perih.
Bisakah kau dengar nada pilu itu? Sarat akan rasa sesal yang luar biasa. Rasa sesal seolah dirinya tidak berguna sebagai seorang pria yang tidak becus menjaga gadisnya. Padahal hanya menjaga, hanya itu.
Ditatapnya setiap pasang mata yang tengah menatapnya dengan berbagai ekspresi. Ada yang menatapnya sedih, kasihan, bingung, dan juga senang.
"Miku. Sebagai gantinya akan kupotong jari-jarimu dengan tanganku sendiri. Satu titik kau berikan luka padanya, satu tebasan akan kau terima dariku." Len lalu bangkit dan berlari kencang membelah kerumunan disekitarnya sambil terus meremas helaian rambut digenggamannya.
Dengan langkah cepat diarahkan kedua kakinya ke sebuah rumah bergaya Jepang yang sangat kental, bunga sakura menyambut kedatangannya. Di ketuknya pintu berwarna cokelat pekat itu dengan keras.
Lama tak dibukakan, akhirnya Len mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.
'Sudah direncanakan rupanya.' pikir Len.
Drap Drap Drap!
Len berlari kecil memeriksa semua ruangan yang ada, hingga sebuah suara berat menyapanya.
"Wah, tuan muda kita sudah disini rupanya. Sedang mencari apa?"
"Dimana Rin?" ucapnya geram.
"Oh gadis mungil itu. Dia sedang bersenang-senang dengan nona kami. Sebaiknya jangan mengganggu."
"Katakan dimana mereka atau kupenggal kau." Len mencengkram kerah pria dengan kain hitam di wajahnya itu.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana Tuan?"
"DIMANA MEREKA!" Len membentak pria itu lalu mendoronya keras.
"Wah, kau rupanya ingin bersenang-senang juga dengan kami, ya? Baiklah. Mau dengan apa? Ini, ini, atau ini?" Pria itu menunjuk pisau-pisau yang entah darimana dia dapatkan kearah Len.
"Banyak bicara kau." Len baru saja hendak melempar pria itu dengan guci jika saja sebuah teriakan tidak menghentikannya.
"KYAAAAAAAAAA!"
"RIN!" Len berteriak ke sumber suara yang ternyata berasal dari sebuah pondok kecil di ujung taman belakang rumah itu.
Dengan nafas terengah-engah akibat berlari tadi, ditendangnya pintu pondok itu kasar.
Matanya terbelalak lebar melihat pemandangan dihadapannya.
Tidak! Tidak mungkin kan penglihatannya itu.
"Rin." Pelan, disebutkan nama gadisnya itu.
"Rin..."
Banyak yang mau happy ending ternyata. Ah, gimana ya? Lihat nanti aja deh ya *senyum-senyum gak jelas*
Chapter ini terkesan ngegantung ya? Emang sih sengaja huahaha.
Makasih yang udah review. Buat yang udah ngasih saran, ngasih semangat, pokonya semua-muanya makasiih ya
Nah, review lagi ya biar semangat update, apalagi puasa gini aku jadi males mikir. Makanya review *maksa*
Oke, see you next chapter!
Jaa ne! Mwuuaahh!
