Akhirnya bisa nongol lagi
Niatnya mau cepet update tapi aku juga gak tau kenapa malah molor gini.
Oke, aku lanjutin satu chapter. Semoga sukaa
.
.
.
.
Dan seakan waktu menyuruhku untuk bercermin
Melihat diriku yang selama ini terlalu menegakkan kepalaku dan lupa akan bumi
Waktu merelakan dirinya untuk berbalik mundur
Agar aku mengerti
Bahwa kesempatan yang diberikan oleh waktu
Adalah yang pertama dan juga terakhir
Pilihannya hanya ada dua:
Belajarlah, atau menyesal-lah.
.
.
.
.
Banyak typo. Jelek. Kata-kata gak jelas.
Disclaimer: Saya buka pemilik Vocaloid.
"Halo, pirang. Masih ingat padaku, hm?" Gadis berambut teal terlihat mengacungkan sebuah pedang yang dinamakan samurai tepat dihadapan wajah orang yang dipanggil pirang tadi.
Si pirang yang bernama Rin itu menatap rendah kearah Miku, si gadis teal tadi. Dengan kedua tangan yang terlipat didepan dadanya, senyum sinis terus tertuju pada Miku.
"Tentu. Si daun bawang bau, bukan?" kata Rin.
"Cih, bicaramu tetap kampungan ya? Aku heran kenapa Len bisa sampai jatuh cinta pada orang sepertimu?" Miku berkata tidak senang.
'Jatuh cinta? Padaku? Mungkinkah Len jatuh cinta padaku? Ah kenapa aku terpengaruh perkataan gadis aneh ini sih?' Rin menggelengkan kepalanya pelan.
"Tapi aku cukup salut padamu, tidak terlihat takut sekalipun samurai ini bisa menebas lehermu hanya dalam hitungan detik." ucap Miku santai sambil memakan neginya.
"Kau bawa pistol pun jangan harap aku akan takut padamu, bahkan jika aku tahu kau seorang pembunuh berdarah dingin sekalipun." Rin berkata datar.
"Haha, nyalimu boleh juga, kampung. Aku berbaik hati padamu. Bagian tubuh mana yang ingin aku cincang sekarang, huh?"
"Lehermu?" tanya Rin sarkatis.
"Akan kupikirkan. Tapi, jangan salahkan aku jika nyatanya aku salah menebas leher." Miku membuang negi yang masih setengah di genggaman tangannya. Matanya menatap serius kearah Rin, bersiap melakukan serangan.
"Wah, kau bersemangat sekali, negi." Rin menguap sambil menunjukkan raut malasnya pada Miku.
"Sebagai penghormatan terakhirmu, sayang." Miku mulai menyiapkan kuda-kuda menyerang, kedua tangannya menggenggam erat samurai yang ia pegang.
Rin tetap dalam posisinya, seperti tidak menanggapi Miku yang mungkin saja bisa menjadi malaikat maut baginya. Gadis pirang itu hanya menunjukkan wajah datarnya.
"Kata-kata terakhirmu?"
"Tidak ada."
Miku mengarahkan samurainya ke kepala Rin, tapi dengan sigap gadis itu mundur selangkah dengan tetap mempertahankan raut datarnya dan kedua tangannya yang masih setia terlipat di depan dadanya.
"Takut, eh?" Miku tersenyum sinis kearah Rin.
Rin tidak menjawab, tetap datar seperti tadi. Dia tidak mau terpancing emosi dan malah membuatnya kalah.
Miku kembali menyerang Rin dengan mencoba menusuk perut bagian kiri Rin. Rin menghindar ke kanan, tanpa membuang kesempatan, gadis pirang itu memelintir tangan kanan Miku yang tadi digunakan untuk menusuknya.
"Akh!" pekik Miku.
Si pecinta negi itu kemudian melihat kedua kaki Rin yang berdiri tegak dihadapannya yang setengah membungkuk.
Hap!
Miku menendang kaki kanan Rin. Tapi Rin lebih cepat mengangkat kaki kanannya dan memiringkan kaki kirinya sehingga tidak terkena tendangan Miku sedikitpun, kemudian Rin menginjak keras kaki Miku yang tadi mencoba menendangnya.
"Argh! Sial." Miku merintih kencang.
Rin tidak mempedulikan rintihan Miku, dia kembali fokus pada tangan Miku yang kemudian dia pelintir lebih keras sehingga samurai itu terjatuh.
Dengan tenang ditendangnya samurai Miku ke sembarang arah, menjauhi benda tajam itu dari keduanya.
Miku menatap Rin dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara kesal, marah, takut, dan terkejut.
"Sebenarnya apa tujuanmu, negi?" kata Rin datar.
Miku terdiam sejenak, "Apa pedulimu?"
"Tidak ada. Aku hanya tidak terima kau libatkan."
"Jangan dekati Len! Dia milikku!" Miku berkata tegas.
"Jika itu tujuanmu, maka lebih baik kau mati saja sekarang."
Rin kemudian menjambak rambut Miku yang diikat kuda, sehingga gadis cantik itu mendongakkan kepalanya keatas.
"Jangan sakiti Len, Rei-sama, dan semua orang yang dekat dengan mereka, atau.." Rin yang masih menginjak kaki Miku menambah kekuatannya pada injakannya.
"Apa?" Miku meringis kecil.
"Samuraimu itu dengan senang hati akan kutarikan di wajahmu ini." ucap Rin sambil mengusap pipi Miku pelan.
"Aku akan bertunangan dengan Len, kau tahu?"
"Yang aku tahu kau memaksanya bertunangan denganmu untuk mengambil keuntungan kan?" kata Rin.
Miku membulatkan matanya, dia tidak menyangka gadis dihadapannya ini mengetahui rencananya. Darimana dia tahu? Apa Len yang memberitahunya?
"Ingat waktu Len mendorongmu ke tangga? Aku mendengar semuanya karena saat itu adalah waktuku meminumkan obat pada Rei-sama."
"Oh jadi kau yang mengobati Rei-sama? Dasar pengganggu! Harusnya si tua itu sudah mati sekarang!" Miku berdecak sebal, tangannya mengepal keras.
"Beraninya kau berkata seperti itu dihadapanku!" Rin kemudian menampar Miku kencang, sudut bibir Miku sampai mengeluarkan darah akibat tamparannya itu.
Gadis pirang itu lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, seperti mencari sesuatu. Matanya kemudian menangkap sebilah pedang yang sedaritadi terlupakan oleh keduanya.
Cepat. Rin melangkahkan kakinya mengambil samurai itu, lalu kembali pada gadis yang sudah memancing emosinya keluar hanya dengan kata-katanya tentang kakek moyangnya itu.
"Mau apa kau?" Suara Miku bergetar, merasakan takut karena Rin kini mengeluarkan aura membunuh.
Rin tidak menjawab, terus dilangkahkan kakinya mendekati gadis yang semakin menyeret tubuhnya kebelakang menjauhi Rin.
"Jangan mendekat!" kata Miku yang kini terpojok dengan dinding ruangan itu.
Rin tidak menghiraukannya, gadis itu terus melangkah pelan hingga kini tepat berada di depan Miku yang wajahnya sudah memucat karena takut.
"KYAAAAAAAAAA!" Miku berteriak kencang. Sangat kencang.
Sret! Sret!
Terdengar suara sobekan kertas, oh tapi bukan. Suara itu adalah suara kimono yang dikenakan Miku yang kini tengah dibuka paksa oleh Rin menggunakan samurai.
"Akh!" Miku menggigit bibir bawahnya ketika samurai itu menyentuh bahu kirinya. Entah sengaja atau tidak, tapi Rin merobek kasar kimono milik Miku dengan meninggalkan beberapa luka sayatan di tubuh indah itu.
Kimono hijau itu kini sudah tidak karuan, robek disana sini dengan tidak elegannya, dan beberapa tetes darah yang jatuh menodai sisa kimono yang masih terbalut sedikit di tubuh Miku.
"Selesai. Bagaimana karyaku? Suka?" Rin menunjukkan senyum manisnya kearah Miku yang sudah mengeluarkan air mata.
"Hiks."
"Wah, kau menangis. Aku tidak suka karyaku tidak dihargai. Kau belum puas? Baiklah baiklah gadis keras kepala, aku akan melakukan yang lebih indah dari ini." kata Rin lalu memegang rambut panjang Miku yang sudah kusut.
"Jangan sentuh rambutku!" Miku menatap Rin marah.
"Aku hanya ingin maksimal dalam berkarya, Miku sayang."
Rin kemudian menggenggam erat samurai itu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang rambut Miku, bersiap untuk memotongnya.
"Ja-"
Brak!
Kata-kata Miku terpotong dobrakan pintu kayu pondok tersebut. Dapat dilihat seorang pemuda tampan tengah memandangi kejadian antara Miku dan Rin dengan mata melebar, tidak percaya dengan penglihatannya.
"Rin.." Pemuda itu berkata pelan.
Si pemilik nama kemudian menengok kearah sumber suara, "Hai, Len."
"Kau... apa yang kau lakukan?"
"Hiks, Len. Dia jahat. Tolong aku, Len." Miku yang merasa mendapat angin segar dengan kehadiran Len mencoba menjadi korban disini, walau memang dia terlihat sebagai seorang korban penganiayaan sekarang.
"Aku hanya sedang melukis, Len. Kau mau coba? Ini menyenangkan loh." Rin tersenyum kearah Len.
Len kini memperhatikan Miku. Kondisi gadis itu kini penuh dengan luka, darah keluar sepanjang luka yang ia terima, kimono yang berantakan dan tidak menutupi tubuhnya dengan sempurna, wajah yang penuh air mata dan raut pasrah.
Sedangkan Rin, yang harusnya menjadi korban disini malah terlihat gembira. Tubuhnya tetap rapi dan cantik dengan pakaian yang masih mempermanis penampilannya tadi, tangannya telah siap membuat 'lukisannya' menjadi lebih berkesan lagi. Tanpa mempedulikan sang objek yang merintih kesakitan.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Len.
"Hmm, biar aku persingkat. Gadis negi ini menculikku yang sedang berbelanja tadi, menyekapku disini, mengikatku tapi dengan mudahnya bisa kulepaskan, lalu mengacungkan samurai ini kepadaku, merasa dirinya lebih kuat dariku, lalu ya aku tentu saja balas menyerangnya, dan tak kusangka dia lemah sekali. Lalu dia mengatai kakek moyang, aku tidak terima, dan aku membuatnya seperti ini. Kemudian kau datang." kata Rin.
Len terdiam sejenak, mencoba mencerna penjelasan dari Rin.
"Miku, sepertinya perbuatanmu pada Rin dan Tou-sanku tidak sepadan dengan luka di tubuhmu itu. Tapi, aku masih punya hati. Jadi kuanggap ini adalah peringatan untukmu agar tidak mendekati keluargaku lagi. Dan aku harap kau tidak menunjukkan mukamu lagi dihadapanku." Len kemudian mendekati Rin.
"Ayo pulang." kata Len kepada Rin.
"Kau tak ingin aku menyelesaikan karyaku dulu, Len?" tanya Rin.
"Tidak perlu. Ini sudah lebih dari sekedar indah."
"Huh, baiklah." Rin kemudian merapikan pakaiannya, menyisir lembut rambutnya dengan jari, lalu memandang Miku.
"Semoga kau puas dengan hasilnya. Tapi jika masih tidak puas, kau boleh mencariku. Jaa." Rin melambaikan tangannya di hadapan Miku kemudian melenggang pergi bersama Len.
"Hiks. Aku gagal, ayah." ucap Miku lirih.
-Skip Time-
"Rei-sama mau kemana?"
"Ah, aku hanya ingin ke taman belakang." kata lelaki paruh baya itu seraya tersenyum kearah Rin yang kini tengah merangkulnya.
"Baik, tapi hati-hati ya."
"Haha, aku seperti anak yang baru berjalan saja. Dan kau seperti ibuku, Rin."
Rin menggembungkan pipinya. Membuat wajah mungilnya semakin imut dan menggemaskan.
"Iya, maaf maaf. Kau bukan seperti ibuku. Tapi seperti istriku." Rei terkekeh pelan. Menggoda gadis ini sudah menjadi kebiasaannya sejak dua minggu yang lalu, saat dirinya sudah bisa berbicara walau tidak selancar sekarang.
"Huuh." Rin hanya berdecak kecil, lalu kembali memapah Rei menuju taman belakang rumah.
"Aku berat tidak?" tanya Rei.
"Sangat. Aku rasa aku tidak bisa menjadi lebih tinggi lagi sekarang." Rin menjawab asal. Membuat Rei kembali tertawa kecil.
Rin mendudukkan Rei di sebuah bangku panjang yang menghadap kearah kolam ikan. Suasana taman ini begitu teduh, membuat siapa saja akan betah berlama-lama disini.
Gadis mungil itu ikut menempatkan dirinya di sebelah Rei.
"Aa Rei-sama, ak-"
"Ayah. Panggil aku ayah." Rei menginterupsi perkataan Rin.
Rin terdiam, dia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba memastikan bahwa pendengarannya masih normal dan dia tidak salah dengar.
"Apa yang ingin kau katakan pada ayah tadi, sayang?" Rei berkata lembut sambil tersenyum.
Rin menundukkan wajahnya, rona merah tak ayal memenuhi pipi putihnya.
Sungguh, gadis itu tidak pernah menyangka mendapat perlakuan selembut itu dari sosok ayah yang selama ini selalu menjadi ayah kandungnya. Dan sekarang, dirinya mendapat perlakuan itu dari orang yang bahkan belum terlalu lama dikenalnya.
Ada rasa haru yang memenuhi rongga dadanya. Kebahagiaan yang teramat sangat hingga membuatnya sesak, memberi respon pada kelenjar air matanya untuk mengeluarkan cairan bening itu.
"Benarkah?" Rin berkata pelan dengan suara yang bergetar menahan tangis.
"Apa?"
"Aku boleh memanggilmu ayah?" kata Rin lagi.
"Tentu sayang, aku ayahmu. Jangan sungkan memanggilku begitu. Kau adalah gadis kecilku, kau tahu?" Rei membelai lembut surai pirang milik Rin, membuat sang pemilik mendongakkan wajahnya kearah Rei.
Entah bagaimana, Rin kini memeluk Rei erat. Erat sekali.
Air mata yang tadi ditampungnya kini mengalir deras tanpa halangan. Mulutnya tak henti menyebut dua suku kata yang selama ini asing dari lidahnya.
"Ayah, hiks. Ayah, ayah."
Rei membalas pelukan Rin hangat. Sesekali dikecupnya pucuk kepala gadis itu penuh sayang.
"Ssssttt, iya ayah disini." kata Rei menenangkan.
Air mata Rin menjadi deras, pelukannya semakin mengerat.
"Aku... hiks, aku sayang ayah."
"Aku lebih menyayangimu, anakku."
Disaksikan dua pasang mata yang membisu di pinggiran taman tersebut, ayah dan anak itu terus membagi semua perasaan yang selama ini setia menghuni hati mereka, terkunci rapat, terutama milik sang anak yang kini mengeluarkan segenap bahagianya tanpa ragu.
"Hiks." Suara isakkan terdengar dari salah satu diantara dua orang saksi tadi.
"Kau kenapa, Gumi?" kata orang disamping gadis bernama Gumi itu.
"Len-sama, aku belum pernah melihat Rin sebahagia sekarang. Dia pernah bercerita padaku bahwa dia sangat merindukan sosok orang tua dalam hidupnya. Dia kesepian. Dia tidak pernah merasakan belaian lembut kedua orang tuanya. Dan sekarang dia mendapatkan itu, walau bukan dari orang tua kandungnya, tapi lihatlah, dia sangat sangat bahagia." Gumi menyeka air mata yang turun dari kedua matanya.
Len terdiam. Terus menyaksikan kehangatan dari ayahnya dan gadisnya.
Jujur, Len juga bahagia melihat kedua orang yang sangat ia sayangi ternyata saling menyayangi.
Rin, yang tulus membantu ayahnya untuk sembuh. Terus memberi perhatian pada ayahnya. Memperlakukan ayahnya dengan lembut. Menatapnya penuh sayang. Menghormatinya laksana ayah kandungnya.
Rei melihat itu semua dari Rin. Dan Rei tak mempunyai alasan untuk tidak menyayangi Rin. Rei menganggap Rin sebagai anaknya sejak pertama ia membuka mata setelah ia terbaring cukup lama. Bagi Rei, Rin adalah hidup keduanya setelah Len.
Demi kesucian tiap hati yang mencinta.
Terhapuslah sekat dalam batasan yang sebenarnya mampu ditembus oleh gapaian tangan.
Terikatlah mereka dalam hubungan yang tak terhalang ruang maupun waktu.
Teruntuk cinta, teruslah hadir. Tumbuh.
Temani hati yang kini menjadi rapuh tanpa adamu.
Biarkan hangatmu menjaga agar dingin tak kembali menyapanya.
Gadis mungil, berbahagialah.
A/N: satu chapter gaje udah selesai. Aku gak tahu mau ngomong apalagi selain makasih ya yang udah review, udah kasih masukan buatku. Juga maaf kalo banyak kekurangannya, aku masih belajar biar jadi lebih baik, makanya jangan sungkan kasih tahu aku kalau ada yang salah.
Nah, aku udah nyelesein chapter ini, jadi aku minta review biar aku tahu pendapat kalian gimana.
Oke, aku balik lagi di chapter depan.
Jaa ne! Mwuuuahhh!
