Yuuhhuuuu…, miss me? *kedip-kedip* *dicolok*

Gomen, aku gak bisa update cepet kaya janjiku kemarin yang mau update 2 atau 3 hari. Udah mulai sibuk kuliah dengan segala tugasnya itu. Jadi maaf ya.

Nah, chapter ini aku persembahin buat kalian yang udah ngikutin cerita ini dari awal. Terimakasih banyak, tanpa kalian aku gak ada semangat buat lanjutin. Dan buat siapapun yang udah luangin waktunya cuma buat baca fic aneh ini. Arigatooouuu!

.

.

.

.

Dan seakan waktu menyuruhku untuk bercermin

Melihat diriku yang selama ini terlalu menegakkan kepalaku dan lupa akan bumi

Waktu merelakan dirinya untuk berbalik mundur

Agar aku mengerti

Bahwa kesempatan yang diberikan oleh waktu

Adalah yang pertama dan juga terakhir

Pilihannya hanya ada dua:

Belajarlah, atau menyesal-lah.

.

.

.

.

Hari ke-37

"Aduuh, aku harus pakai baju yang mana niiihh?" gadis bernama Rin itu sedang sibuk membongkar lemari pakaian kaca yang berada di sebuah ruangan besar penuh perabotan.

Matanya tak henti mengamati segala bentuk pakaian yang terhampar pasrah di lantai ruangan itu, mencari setidaknya satu yang menarik perhatiannya. Padahal, memakai pakaian apapun tidak akan mengurangi kadar kemanisan yang melekat di dirinya. Kesan imut, mungil, lucu, manis, dan cantik pun tidak akan luntur begitu saja dari gadis itu sekalipun dia memakai pakaian yang berantakan.

Tangan mungilnya bergerak mengambil sebuah baju, kemudian mengamatinya, lalu dilempar asal jika ia merasa baju itu tidak cocok dengannya. Begitu terus sejak satu jam yang lalu, membuat seorang wanita paruh baya mengerutkan keningnya saat melewati ruangan yang pintunya terbuka lebar itu.

"Sedang apa, Rin? Berantakan sekali disini." Wanita itu sedikit terkejut ketika memasuki ruangan yang ternyata sangat berantakan.

Rin menghentikan aktifitasnya sejenak, kemudian menolehkan wajahnya kearah seorang wanita yang sedang mengedarkan pandangannya ke segala arah di ruangan ini.

"Ah, bibi Tei. Aku sedang memilih baju yang sekiranya pantas untukku." kata Rin yang kini kembali menyibukkan dirinya.

"Bukankah baju-baju ini bagus? Memangnya kau ingin mencari yang seperti apa? Biasanya kau akan menggunakan baju-baju santai seperti ini, kan?" ucap bibi Tei sambil mengambil sebuah baju lengan panjang berwarna putih.

"Bukan yang seperti itu bibi Tei. Ini berbeda. Kali ini harus istimewa. Aku ingin terlihat err cantik, setidaknya untuk hari ini."

Bibi Tei mengerutkan keningnya, "Memangnya apa yang membuat hari ini berbeda? Dan kenapa kau ingin terlihat cantik?"

Rin terdiam. Rona merah menjalar cepat menghiasi wajahnya.

"Bu-bukan apa-apa. Aku hanya ingin terlihat cantik, itu saja. Haha." Rin tertawa canggung.

"Kau tidak mudah berbohong. Katakan yang sebenarnya. Siapa tahu aku bisa membantu."

Gadis blonde itu menggaruk tengkuknya, berusaha menutupi kecanggungan dirinya.

"Umm, sebenarnya hari ini aku ada ke- ehem kencan." kata Rin sambil menundukkan wajahnya. Oh pasti wajah itu sudah semerah tomat kesukaan Sasuke sekarang.

Hei, apa aku bilang Sasuke tadi? Oh lupakan, itu karakter tetangga sebelah.

"Kencan? Dengan siapa?" bibi Tei menatap Rin dengan pandangan menyelidik. Yah, bagaimanapun juga dia harus tahu siapa pemuda yang mau mengencani gadis yang sudah dianggap anak baginya itu.

"A-ano, dengan itu, dengan ehem itu bibi, dengan…" Rin kembali menggaruk tengkuknya.

Bibi Tei semakin memojokkan Rin dengan tatapannya, "Siapa?"

"Len." kata Rin pelan. Pelan sekali melebihi semut yang sedang berbisik. Oke, maaf itu berlebihan.

Tapi tentu saja itu tidak cukup pelan untuk seorang bibi Tei yang sedaritadi sudah menajamkan telinganya itu. Wanita paruh baya yang sedang menganga itu kemudian mengguncang bahu Rin.

"Oh benarkah itu? Dengan Len-sama? Len anaknya Rei-sama itu kan? Yang tampan dan sangat baik itu kan? Dan oh, Len-sama pangeran kita itu kan?" bibi Tei terus mengguncang bahu Rin dengan tidak santai, bibirnya merekahkan senyum gembira dengan pandangan tidak percaya.

Rin yang tidak menyangka orang yang sudah dianggap ibu baginya itu akan bereaksi berlebihan seperti itu hanya bisa pasrah, "I-iya bibi Tei. Len Kagamine yang itu. Dan bisakah bibi berhenti sekarang?"

"Oh, Kami-sama. Anakku sudah besar." Bibi Tei memeluk Rin sambil mengelus rambut pirang gadis itu.

"Bi, aku hanya akan berkencan. Bukan menikah." kata Rin yang jengah juga melihat tingkah bibi Tei yang berlebihan itu.

"Kau harusnya tahu kalau berkencan itu merupakan versi mini dari menikah." kata bibi Tei, membuat Rin sweatdrop ditempat.

"Lagipula, nanti pasti kau akan menikah dengan Len-sama, kan? Wah, aku sungguh akan menjadi orang yang paling berbahagia hari itu. Menyaksikan anak gadisku menempuh hidup baru dengan pria yang dicintainya. Hhh, membayangkannya saja sudah sanggup membuatku ingin meleleh sekarang juga, Rin." tambah bibi Tei sambil menerawang.

Rin hanya terdiam sambil tersenyum kecut.

'Seandainya memang aku akan menikah dengannya, bi. Aku pasti juga akan sangat bahagia. Dan seandainya batasan waktu itu tak ada hingga kebahagiaanku bisa bertahan lebih lama disini bersama orang-orang yang akan kusayangi, aku akan sangat berterimakasih pada Tuhan.' batin Rin.

"Ah, kenapa kita jadi diam seperti ini sih? Ayo, kubantu kau berpenampilan layaknya sang permaisuri." ucap bibi Tei tanpa menghilangkan senyum bahagianya.

"Ya, arigatou."

.

.

.

Tok Tok

"Rin, kau lama sekali sih? Kita hanya akan makan, bukan menghadiri acara apa-apa." Len mengetuk pintu kamar Rin, sudah tiga kali dengan selang waktu sepuluh menit. Itu berarti sudah tiga puluh menit dan Rin belum juga keluar.

"Iya iya, ih kau ini tidak sabaran sekali sih?" balas Rin.

Len mendelik mendengar perkataan Rin. Tidak sabaran? Ayolah, dia sedaritadi sudah bersikap lembut kepada Rin dan menunggu gadis itu dengan kesabaran yang luar biasa.

Cklek

Pintu kayu itu pun dibuka dari arah dalam, membuat Len menyingkir ke sedikit ke pinggir, member jalan untuk Rin untuk keluar.

"Nah, ayo." kata Rin begitu dirinya sudah sepenuhnya berada diluar, di depan Len tepatnya.

Len terdiam, memperhatikan Rin dari atas hingga bawah. Matanya terus memandang Rin tanpa jeda, bahkan berkedip pun tidak.

"Len? Len! Hei!" Rin menepuk pipi Len pelan.

"Ah? A-apa?" Len tersentak sadar kembali ke dunia nyata, ya daritadi dia sibuk dengan pikirannya.

"Kau kenapa? Daritadi aku bertanya malah kau acuhkan saja." kata Rin sebal.

"Tidak. Hanya saja, kau terlalu indah." Len sepertinya belum sepenuhnya sadar, lihat saja matanya yang masih menatap Rin lekat-lekat.

Lagi, warna merah memenuhi wajah Rin. Entah sudah berapa kali warna itu mampir di wajahnya hari ini. Sepertinya ada saja yang membuatnya bersemu seperti itu.

"K-kau itu bicara apa?" Rin berkata gugup. Tentu saja. Jika kau jadi Rin bagaimana?

"Kau indah." Ucap Len lagi.

Oke, Len tidak berlebihan berkata seperti itu. Kau harus melihat Rin saat ini.

Tubuh mungilnya dibalut gaun putih lima centi diatas lutut, ada pita cokelat yang melilit pinggang kecilnya, bagian bawah gaun itu dibuat seperti bergelombang, cardigan berwarna cokelat semakin mempercantik penampilannya. Tak ketinggalan sepasang sandal berwarna perak dengan hiasan permata yang menghiasi bertengger di kedua kaki mungilnya.

"A-ano, kita mau kemana?" Rin mencoba mengalihkan pembicaraan, entah mengapa dirinya merasa ia akan mencair jika saja Len memujinya sekali lagi.

"Kita? Entahlah." Len berkata singkat.

Oke, niat Rin untuk bersikap manis kepada Len pupuslah sudah. Bayangkan saja, dia menghabiskan waktu selama tiga jam, mulai dari memilih baju, membersihkan diri, berhias, dan mematut-matut dirinya didepan cermin hanya untuk sebuah tujuan yang tidak jelas.

Oh, Len kau pasti sedang tidak mood untuk mati kan sekarang?

"Jadi, kau belum menentukan tujuan kita, Len?" kata Rin seraya tersenyum. Tapi lihatlah senyum itu, begitu mengerikan.

Len kemudian menyadari kebodohannya. Ya, baru saja pemuda tampan itu merutuki dirinya dalam hati.

"Ah tidak kok, tentu saja sudah. Ayo." Len menggenggam erat tangan Rin, lalu berjalan keluar menuju sepeda tua. Mereka akan menggunakan itu tentunya. Dan jangan Tanya bagaimana reaksi Rin awalnya, dulu sih saat pertama kali dia diajak Len ke desa seberang.

Gadis itu mencak-mencak tidak jelas dan bersikeras tidak mau menaiki sepeda itu. Walau pada akhirnya ia menurut juga setelah dibujuk oleh Len. Dan sekarang dia sudah terbiasa jadi dia tidak protes saat Len kali ini tetap menggunakan sepeda itu saat 'berkencan' kini. Memangnya apa yang kau harapkan di tahun 1930? Ferrari Enzo? Mati saja kau sana.

Len mengayuh sepedanya kearah bukit, tak lupa dia membeli beberapa makanan dulu di pertengahan jalan. Rin yang sebenarnya bingung hanya diam saja, dia pasrah kemanapun pemuda itu akan membawanya.

Sekitar lima belas menit akhirnya mereka sampai di sebuah bukit. Indah sekali disana. Kau bisa melihat banyak bunga yang tumbuh disini, serta hamparan rumput hijau yang mengundang siapapun untuk bermain diatasnya.

"Wah, anginnya segar sekali disini Len!" Rin berseru riang sambil berlarian di atas bukit itu.

"Hey, hati-hati, bodoh." Teriak Len yang melihat tingkah Rin yang semena-mena baginya.

Tapi sayangnya Len, Rin tidak mendengar. Dia sibuk berlarian kesana kesini sambil sesekali memetik sebuah bunga yang ia lewati. Akhirnya Len memutuskan untuk menghampiri Rin yang sekarang sedang asyik merangkai bunga setelah tadi mengumpulkannya.

"Sedang apa kau?" tanya Len setelah mendudukkan dirinya disamping Rin.

"Aku ingin membuat bando dari bunga-bunga ini. Pasti lucu, iya kan Len?" Rin berkata senang, pipinya bahkan bersemu merah dan senyumannya mengembang menghiasi wajahnya. Membuatnya terlihat semakin cantik apalagi terbias cahaya senja di wajahnya.

Len tertawa kecil melihat Rin seperti itu. Pemuda it uterus memandangi tingkah laku Rin yang baginya sangat manis itu. Rasanya baru kemarin dia bertemu gadis ini, bertengkar dengannya, memperdebatkan hal yang tidak penting, bercanda bersama, membuat ramuan berdua, kejadian dengan Miku. Len juga masih ingat dengan tingkah Rin yang awalnya sangat menyebalkan, yang membuatnya ingin sekali menemukan cermin waktu itu dan melempar gadis itu kemana saja asal jangan ke masanya. Hhhhh, ya rasanya baru kemarin. Dan sekarang, lihatkah sudah lebih dari sebulan mereka bersama. Bahkan sisa waktu untuk Rin disana hanya tersisa tiga hari lagi.

'Tiga hari lagi, Rin.' Len tersenyum kecut. Menyadari waktunya sangat singkat.

Memang, sudah seminggu ini Len menjadi sangat sangatlah mendekatkan diri dengan Rin. Lebih dari yang sebelum-sebelumnya. Pemuda itu sengaja ingin mengenal Rin lebih dalam. Lebih dari semua itu, dia ingin menghabiskan waktu sebisanya bersama Rin. Sesingkat apapun itu, yang ada dipikirannya hanyalah rasa bahagia dan nyaman yang timbul di hatinya saat berdekatan dengan gadis itu.

"Hahaha, kau manis Len."

Suara riang Rin membuyarkan lamunan Len. Dilihatnya gadis itu sudah duduk menghadap dirinya sambil tertawa senang. Melihat itu, Len ikut tersenyum lembut kearah Rin.

"Apanya yang manis?" tanya Len bingung.

"Itu." Rin menunjuk keatas kepala Len sambil menutup mulutnya menggunakan tangan agar tawanya tidak menyembur keluar.

Len kemudian menyentuh kepalanya. Dan indera perabanya menyentuh sebuah benda berbentuk lingkaran yang sedang duduk manis diatas kepalanya. Len mengambilnya, ternyata itu adalah bando yang tadi dirangkai oleh Rin. Sebuah bando dari beraneka bunga yang tadi dipetiknya.

"Hahahaha, jangan marah Len. Tapi kau sungguh manis. Kau mirip denganku, ya?"

Len kembali dibuat bingung dengan ucapan Rin.

'Manis?" pikir Len.

"Hei." ucap Rin sambil mengacungkan kuncir rambut kecil berwarna hitam tepat di depan wajah Len.

Sontak pemuda itu meraba rambutnya yang ternyata sudah tergerai dengan indahnya. Dengan cepat direbutnya kuncir rambut itu dari tangan Rin dan kembali menguncir rambutnya sambil bersungut-sungut.

"Hahahaha, kau benar-benar manis. Mungkin kita akan dibilang kembar jika saja kau tidak mengikat rambutmu." kata Rin dengan sisa-sisa tawanya.

"Dalam mimpimu." Len berdecak sebal, dan itu membuat Rin tertawa riang karenanya.

Len terus dan terus memandangi makhluk Tuhan yang indah dihadapannya itu, rasanya tidak akan bosan walau memandangnya seumur hidup.

Rambut pirang halusnya yang tertiup lembut oleh angin.

Mata biru indahnya yang memantulkan kebahagiaan.

Hidung mungilnya yang pas di wajah imut miliknya.

Bibir tipisnya yang terus merekahkan senyum riang.

Umm ngomong-ngomong soal bibir, Len jadi ingat tentang ciuman pertama mereka. Len cukup senang mengetahui bahwa dirinya-lah yang mengambil ciuman pertama gadis itu, dan Len tidak menyesal menggunakan ciuman pertamanya untuk diberikan pada gadis itu.

"Len, lihat mataharinya! Waaahh, indah ya?" seru Rin.

Len kemudian mengarahkan pandangannya pada matahari yang semakin lama semakin turun ke belahan bumi yang lainnya. Semburat jingga dengan beberapa warna biru kelam yang mulai menyeruak ke langit memang merupakan pemandangan yang indah.

"Senja pertama kita." kata Len tanpa mengalhkan pandangannya dari sang matahari.

"Juga yang terakhir." Rin berkata lirih.

Mata Rin memang tertuju pada objek yang sama dengan Len, tapi ada kekosongan disana. Ada rasa takut dan sedih yang menggantung di iris biru itu.

"Rin," panggil Len pelan.

"Umh?" Rin hanya bergumam menanggapi.

"Apa… kau bahagia?"

Rin menengadahkan kepalanya kearah Len, menatap bola mata serupa dengan miliknya yang balik menatapnya. Sejenak, Rin merasa aman hanya dengan melihatnya. Sebelum akhirnya ia tersenyum manis seraya mengangguk.

"Tentu. Aku bahagia. Bisa mampir ke masa ini. Bertemu dengan orang-orang hebat seperti Ayah Rei, Gumi, ibunya, bibi Tei, dan yang paling penting dan sangat membuatku bersyukur kepada Tuhan adalah bertemu…,"

Rin tidak melanjutkan perkataannya yang menggantung. Len yang sudah kelewat pede kalau dirinya yang akan disebut kini menunduk kecewa, namanya tidak ada disana.

Rin tersenyum melihat reaksi Len. Lalu kedua tangan mungilnya menangkup wajah rupawan yang tengah bersembunyi melihat ke bawah, dengan cepat dikecupnya bibir milik Len dengan lembut. Membuat pemuda itu tersentak kaget dengan perlakuan Rin padanya.

"Kamu. Len Kagamine." ucap Rin meneruskan kalimatnya tadi.

Len yang tersadar kemudian langsung memeluk tubuh Rin erat. Mengecup berkali-kali pucuk kepala gadis yang disayanginya itu. Membuat air mata Rin tak mampu tetap terjaga, isakkan mulai terdengar dari gadis itu.

"Jangan pergi, Rin." kata Len lirih.

"Hiks, Len. Maaf. Maaf. Hiks."

"Kalau kau pergi, aku bagaimana?"

Tak ada jawaban dari Rin. Gadis itu sibuk membenamkan dirinya dalam rengkuhan hangat pria yang dicintainya. Meresap dalam-dalam setiap rasa yang diberikan Len padanya, dan berjanji tidak akan melupakannya sampai kapan pun.

"Kita hiks tidak akan bertemu lagi-kah?" tanya Rin.

Kali ini Len yang tidak menjawab. Tentu saja siapapun tahu apa jawabannya. Dia bukanlah orang jenius yang mampu menciptakan mesin waktu, dan dia bukanlah Tuhan yang mampu membuat gadis ini tetap tinggal dan tidak pergi.

"Pernahkah kau mendengar kalimat ini dari mulutku, Rin?"

Rin melihat wajah Len dengan penuh tanya.

"Aku mencintaimu, Rin." kata Len.

Rin terdiam, lalu dirinya menggeleng pelan, "Belum. Baru kali ini kau mengatakannya. Dan Len, apakah kau sudah tahu aku akan berkata apa setelah kau bicara seperti itu?"

Kini gentian Len yang menggeleng pelan.

"Aku juga mencintaimu." ucap Rin yakin.

Dalam diam, ruang-ruang kosong di sela jari jemari mereka terisi satu sama lain. Saling menautkan genggaman erat untuk mengatakan jangan pergi dan tetaplah tinggal.

Dalam diam, kedua hati itu utuh dan retak dalam waktu yang bersamaan.

Dalam diam, sang adam dan hawa itu sama-sama menghembuskan asa akan adanya satu kesempatan lagi. Sebuah kesempatan yang menjanjikan keduanya untuk hidup dan mati dalam pijakan bumi serta masa yang sama.

Dalam diam, sebuah senyum Tuhan terukir mendengar doa dalam hati kedua makhluk ciptaan-Nya itu.

.

.

.

Sekian chapter 10. Mungkin chapter depan bakalan game over alias tamat, hehe.

Terimakasih buat kamu, kamu, kamu dan kamu yang udah review, udah baca, udah kasih komen, udah kasih semangat. Terimakasih yang sebanyak-banyaknya udah melihat karya anehku ini.

Nah, abis fic ini aku bakalan lanjutin fic ketigaku "Chef vs Singer" itu. *promosi* *gak nanya*

Oke, review ya jangan lupa

See you, next chapter.

Jaa ne! Mwuuuaaahhhh!