Halo, jumpa lagi kitaa *peluk-peluk*

Wah, gak kerasa udah last chapter. Perasaan baru tadi pagi aku bangun terus mulai fic ini, hiks *abaikan*

Oh iya lupa, di chap kemarin aku gak nulis disclaimer, gatau kenapa akhir-akhir ini aku jadi gak fokus untuk hal sepenting itu. Gomen.

Di chapter terakhir ini semoga kalian suka ya, apalagi yang udah baca dari awal. Semoga endingnya seperti yang kalian harapkan

Oke, enjoy!

.

.

.

.

Dan seakan waktu menyuruhku untuk bercermin

Melihat diriku yang selama ini terlalu menegakkan kepalaku dan lupa akan bumi

Waktu merelakan dirinya untuk berbalik mundur

Agar aku mengerti

Bahwa kesempatan yang diberikan oleh waktu

Adalah yang pertama dan juga terakhir

Pilihannya hanya ada dua:

Belajarlah, atau menyesal-lah.

.

.

.

.

Typo, alur maksa, dan gitu deh pokoknya.

Disclaimer: Vocaloid bukan punya Vinnichi Rin :p

Hari ke-40

"Enghh..."

Suara gumaman khas orang baru bangun tidur terdengar di sebuah kamar berukuran kecil. Terlihat satu-satunya penghuni di atas kasur tengah menggeliat-geliatkan badannya, mencoba meregangkan tubuhnya yang serasa kaku sehabis tidur semalaman.

Kelopak mata itu terbuka perlahan, mengerjap-ngerjap sebentar menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela, lalu kemudian terbuka sempurna. Menampilkan sepasang iris biru sapphire yang sedaritadi bersembunyi.

Pandangannya kemudian diedarkan ke seluruh penjuru kamar, hingga sedetik kemudian matanya berhenti pada satu titik. Tepatnya, pada satu objek benda yang menggantung di dinding kamar miliknya.

"Hhhhhh..."

Helaan nafas panjang mengantar gadis itu beranjak dari kasur miliknya, melangkah perlahan mendekati objek tadi, kemudian diambilnya benda berbentuk perseg panjang itu.

"Hari ini, ya?" gumamnya lirih.

Gadis yang kita ketahui bernama Rin itu kemudian membuka sebuah laci di meja rias miliknya, diambilnya sebuah sepidol berwarna merah. Kemudian dibuatnya sebuah lingkaran pada angka 23 yang menunjukkan tanggal itu.

"Dell, Rui, aku pulang." katanya pelan. Terdengar nada sedih dan senang yang bercampur menjadi satu.

Nyaris saja setitik air mata akan jatuh dari kedua bola matanya, jika saja gadis itu tidak menggeleng kuat seperti sekarang. Sepertinya dia sedang tidak ingin menangis lagi.

Dengan cepat disambarnya handuk mandi berwarna oranye yang berada di atas meja rias miliknya, lalu bergegas keluar kamar dan menuju kamar mandi yang letaknya di dekat dapur.

Tap Tap Tap

Suara langkah kaki santai tercipta dari seseorang yang sedang menuruni tangga, matanya melihat seorang gadis yang baru saja keluar dari kamarnya sambil memegang sebuah handuk di tangannya.

Diperhatikan terus gadis itu hingga menghilang di sebuah tikungan menuju dapur, sebelum akhirnya pemuda yang menuruni tangga itu kembali melangkahkan kakinya perlahan. Hanya saja kali ini langkahnya mendadak menjadi berat. Sangat berat.

.

.

.

"Nah, ayo semuanya kita makan bersama. Duduk saja bersamaku, tidak usah sungkan." Seorang pria paruh baya dengan ramah dan senyum lebar berkata pada orang-orang yang merupakan pelayannya.

Dengan gerakan tangan, disuruhnya para pelayan itu untuk menduduki bangku yang kosong yang mengitari meja makan itu. Bergabung bersama dirinya- Sang raja dan putranya yang bernama Len.

Dengan canggung para pelayan itu menurut, ditarik pelan kursi yang kosong sebelum akhirnya mereka mendudukkan diri di kursi masing-masing.

Sang raja yang bernama Rei Kagamine itu tersenyum senang kearah para pelayannya, hingga kemudian senyumnya terganti dengan raut bingung saat mendapati kursi disamping Len kosong.

"Loh, Rin kemana?" tanya Rei.

"Ano, Rei-sama. Rin sedaritadi belum keluar kamar, tadi sudah saya mengajaknya makan bersama, tapi dia menjawab sedang tidak lapar." kata pelayan bernama Gumi sopan.

Rei hanya mengernyitkan dahinya, tidak biasanya putrinya itu menolak makan bersama. Justru biasanya dia yang akan marah-marah jika ada satu orang saja yang tidak berkumpul di meja makan.

"Biar aku saja yang menyuruhnya kesini." ucap Len tiba-tiba, lalu tanpa basa-basi langsung melesat menuju kamar Rin.

Tok Tok

"Rin, ini aku."

Hening.

"Kau ditunggu ayah dan yang lainnya di meja makan. Keluarlah."

Hening.

"Rin, aku tahu kau mendengarku."

Hening.

"Kau ingin aku berbuat apa agar kau mau keluar?"

Hening.

"Ayolah Rin, jangan menyiksaku seperti ini."

Hening.

Len menjambak rambutnya kesal. Disandarkan punggungnya ke dinding di sebelah pintu kamar Rin sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah rupawan miliknya.

"Kau tahu? Dulu aku mengharapkan hari ini segera tiba, agar aku bisa hidup tenang lagi tanpa kau yang cerewetnya luar biasa itu. Tapi sekarang, entah kenapa aku ingin sekali menahanmu disini. Kurasa justru hidupku tak akan normal tanpa suara cemprengmu itu." kata Len sambil tertawa kecil.

"Jika saja ada yang bisa kulakukan untuk itu, Rin. Tapi sayangnya aku tak bisa. Percayalah, aku juga mengutuki diriku yang hanya bisa diam tanpa ada usaha menghentikanmu. Aku sungguh tidak bisa membayangkan jika kau benar-benar pergi." Lanjut Len.

Hening sejenak. Len sudah tidak tahu harus berbicara apa lagi. Pikirannya sudah terlalu kacau sedari malam tadi, ditambah rasa lelahnya karena hanya tidur selama 2 jam, dan rasa sesak di dadanya yang membuatnya kesulitan bernafas.

Cklek

Pintu berwarna cokelat itu akhirnya terbuka, memperlihatkan penghuninya yang kini memakai rok berwarna oranye dan kaus lengan panjang berwarna putih dengan pita hitam di bahu kanannya.

Gadis itu menunduk, menyembunyikan wajah manisnya.

Len kemudian memposisikan dirinya di hadapan gadis itu, mengangkat dagunya keatas sehingga ia bisa melihat wajah indah gadisnya.

Dan terlihatlah jejak-jejak air mata yang tak bisa terhapus dari pipi putihnya, mata yang biasanya memancarkan keceriaan kini meredup, ditambah lagi dengan ukurannya yang membengkak. Seolah memastikan bahwa pemiliknya terus-terusan mengeluarkan air mata dengan deras dan dalam waktu yang lama.

"Kau menangis." kata Len.

Rin kembali menundukkan wajahnya.

Tidak sanggup melihat gadis yang disayanginya terlihat sedih seperti itu, membuat Len memberanikan diri untuk memeluk Rin seerat yang ia bisa. Setidaknya dengan begitu, Len berharap bisa menenangkan hati Rin. Walau dirinya sendiri tidak yakin akan hal itu.

"Len, aku takut."

"Sshh, aku disini. Tidak ada yang perlu kau takutkan."

"Tidak, nanti kau tidak ada di dekatku lagi. Aku takut."

"Kau mengingatku saja sudah berarti aku sedang bersamamu. Jangan takutkan apapun, Rin."

Diam. Kedua hati sedang sibuk membenahi perasaan kalut yang menyerang mereka. Mencoba meminta pada Tuhan sekali lagi. Tetap percaya kepada-Nya bahwa Dia tidak sekejam itu memisahkan mereka saat hati mereka mulai tersimpul erat satu sama lainnya.

"Hei, mau ke bukit lagi?" ajak Len.

"Umh." Rin mengangguk pelan.

"Baiklah. Tapi kau harus makan terlebih dahulu. Nanti sore baru kita ke bukit."

"Hhh, iya iya tuan muda aneh." ejek Rin sambil berlalu.

Sedangkan Len hanya terdiam di tempat sambil terus memandangi Rin, hingga kemudian dirinya tersenyum kecil, "Dasar seenaknya sendiri."

.

.

.

"Kau ini kenapa senang sekali berlari-lari sih?" gerutu Len saat dirinya sudah tertinggal jauh dari Rin yang asik melangkahkan kakinya ringan kesana-kemari sambil memetiki bunga, kebiasaan anehnya sejak dia ke bukit ini.

"Len, cepatlah! Kau ini pria tapi jalannya seperti nenekku!" kata Rin setengah berteriak.

Sedangkan Len hanya menghela nafasnya, bersabar dengan sikap seenaknya Rin yang sepertinya memang tidak bisa disembuhkan. Atau, itu hanya berlaku untuk dirinya saja? Entahlah.

Len lalu mendudukkan dirinya disamping Rin, yang sibuk dengan bunga-bunga yang kali ini ia rangkai menjadi kalung, gelang, cincin, anting, dan segala macam bentuk yang Len tidak mengerti.

"Len, kemarikan kupingmu." Perintah Rin tiba-tiba.

"He? Untuk apa?" tanya Len.

"Tak usah banyak tanya, cepat sini."

Len kemudian mengarahkan kupingnya kedekat Rin yang langsung diraih Rin. Lalu gadis itu menusukkan sesuatu seperti lidi yang lancip ujungnya ke daun telinga Len.

"Aw, apa yang kau lakukan? Sakit bodoh." gerutu Len.

"Tahan sebentar."

Setelah mengalami penyiksaan di kuping kanannya, akhirnya Len bisa bernafas lega saat Rin melepas tangannya.

"Sama denganku." kata Rin riang.

Len mengernyitkan dahinya bingung.

"Ini." kata Rin sambil menunjuk kuping kirinya.

Dan terlihatlah disana sebuah bunga kecil berwarna putih yang tersemat indah.

Len lalu meraba kuping kanannya dan mendapati sebuah benda yang sepertinya sama dengan yang dipakai oleh Rin.

"Apa-apaan ini? Aku tidak mau memakainya." ucap Len.

"Ayolah Len. Setidaknya pakailah selama aku masih disini, nanti setelah aku kembali kau boleh melepasnya."

Len terdiam cukup lama, memikirkan perkataan Rin. Hingga kemudian dirinya mengangguk.

Keheningan lalu tercipta. Keduanya sibuk menikmati pemandangan yang sama dengan kedatangan mereka untuk pertama kalinya kesini.

Ya. Senja.

Rona jingga mulai masuk kedalam retina, menimbulkan wajah kagum yang terpatri di wajah kedua insane berbeda jenis itu.

"Senja kedua." ujar Len.

"Dan bisa kupastikan sekarang, ini yang terakhir."

"Jangan melupakanku."

"Kau pun juga harus berjanji tidak akan melupakanku." kata Rin.

"Aku janji. Melupakanmu sama saja dengan bunuh diri."

Kedua tangan mereka kemudian bersatu, mengisi ruang kosong yang menggantung di celah-celahnya.

Saling mendekatkan diri dengan saling merangkul erat, bahkan Rin membiarkan air matanya mengalir tanpa ada niatan untuk menghapusnya.

"Terimakasih, empat puluh hari yang indah." ucap Rin.

Len diam. Jujur saja, dia sangat tidak suka perpisahan. Dan kali ini, dirinya harus kembali menghadapi hal yang sangat dibencinya. Terlebih lagi perpisahan kali ini dengan cinta pertamanya.

Semilir angin menerpa wajah keduanya, menerbangkan berbagai benda yang mampu dibawa angin oleh kekuatannya. Begitu juga dengan secarik kertas cokelat yang melayang pasrah dan akhirnya terjatuh di ujung kaki seorang gadis pirang.

Tangan Rin terulur untuk mengambil kertas itu, benda yang sudah tidak asing dari pandangannya. Kemudian mulut mungilnya membaca sederet kata yang tercetak disana,

"Ucapkan selamat tinggal untuk hati yang lain, saatnya untuk kembali gadis mungil."

Air mata Rin semakin menderas setelah mengucap suku kata terakhir, dengan reflek dipeluknya sesosok pria yang beberapa minggu ini telah mengisi hatinya.

"Aku pergi, Len." kata Rin lirih.

"Ya. Dan berjanjilah jangan sampai kau kembali terlempar ke suatu masa karena tindakanmu itu."

"Iya tuan muda."

Rin lalu melepaskan pelukannya, tapi secara tiba-tiba Len menarik dagunya dan mengecup lembut bibir mungil gadis itu. Membagi tiap rasa yang muncul.

Cukup lama, jika saja sebuah sinar putih tidak mengejutkan keduanya. Sinar putih itu berada tepat dibelakang tubuh Rin, seolah siap untuk menghisap gadis itu dan mengembalikannya ke masanya.

Sinar itu semakin lama semakin besar, membuat Len semakin mengeratkan genggamannya pada tangan mungil Rin.

"Katakan, siapa nama lengkapmu." kata Len.

"Kagamine. Rin Kagamine." balas Rin pelan. Dirinya sudah masuk sepenuhnya pada sinar putih itu.

"Aku mencintaimu Rin Kagamine."

Hening.

Hanya sebuah sinar yang semakin lama semakin meredup yang kini bisa dipandangi oleh Len. Tangan yang tadinya digunakan untuk menggenggam tangan Rin kini hanya kosong, digantikan dengan udara yang membuat dirinya kini menunduk sedih.

Terus dicobanya untuk menahan air mata yang kini terkumpul di ujung matanya, tapi sia-sia. Rasa kehilangan dan kekosongan hatinya yang tiba-tiba mampu membuat sang pangeran sepertinya menangis sendu ditengah bukit yang mengelilinginya.

Lama pemuda itu berdiam disana. Langit sudah sepenuhnya ditutupi awan hitam. Tak ada bintang disana, seolah ikut merasakan perasaan pemuda itu akan hatinya yang tak berbinar. Hingga kemudian Len memutuskan untuk pulang.

Sesampainya dia dirumah, dilihatnya sang ayah tengah duduk santai sambil membaca sebuah buku yang Len tidak ketahui apa namanya. Mengetahui putranya telah pulang, Rei akhirnya menutup bukunya dan memandang Len yang masih berdiri di dekat pintu.

"Darimana saja kau, Len? Mengapa berdiam saja disana? Masuklah, temani ayah mengobrol sebentar."

Len menurut. Didekatinya sang ayah lalu mendudukkan dirinya disamping pria paruh baya itu.

"Kau kelihatan berantakkan. Ada apa?" tanya Rei.

"Aku habis mengantar Rin tadi." jawab Len.

Rei mengernyit tidak mengerti, "Rin?"

"Iya, tadi aku mengajaknya ke bukit."

"Begitu. Rin itu teman dekatmu ya? Ayah tidak tahu kau punya teman dekat, perempuan lagi." ucap Rei santai.

Kini giliran Len yang mengernyitkan dahi, "Ayah lupa pada Rin?"

"Setahu ayah, ayah tidak pernah bertemu dengan temanmu itu. Memangnya kau pernah mengenalkannya pada ayah ya?"

"Ayah! Ayah ini keterlaluan sekali. Rin itu yang sudah berjasa menyembuhkan ayah dari sakit kemarin. Dan sekarang, setelah Rin pergi ayah melupakannya begitu saja? Aku tidak percaya." seru Len setengah berteriak.

Rei semakin bingung dengan sikap putranya itu.

"Yang menyembuhkan ayah bukannya pelayan baru yang bernama Luna?"

"Luna?"

"Iya. Dia sekarang ada dikamarnya setelah tadi membuatkan ocha untuk ayah."

Len lalu berlari menuju kamar yang selama ini ditempati oleh Rin. Diketuknya dengan tidak sabar pintu berwarna cokelat itu, dan seketika muncullah sesosok gadis berbalut kimono hijau yang tengah memandangnya bingung.

"Ada apa, Len-sama?"

"Kau yang bernama Luna?" tanya Len.

"Iya, ada apa?"

"Sejak kapan kau menempati kamar ini?"

"Sejak sebulan yang lalu, tuan."

Len kini menjambak rambutnya frustasi.

Mengapa ayahnya lupa dengan Rin? Dan mengapa ada penghuni baru yang Len sama sekal tidak ketahui dan sudah tinggal dirumahnya bahkan menempati kamar gadisnya selama sebulan?

Apa jangan-jangan nanti Rin juga akan melupakan segala kehidupannya selama di masa ini? Dan melupakan dirinya juga?

Oh Tuhan, kumohon jangan!

.

.

.

"Aw, sakit!" seru Rin saat dirinya dengan sukses jatuh dan menabrak sebuah guci besar di ruangan itu.

Kemudian dibukanya kedua mata yang sedari tertutup itu, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mencoba mencerna kejadian yang baru saja menimpanya.

"Loh, ini kan rumah yang waktu itu aku datangi seusai dari rumah Neru." kata Rin yang masih sibuk melihat-lihat sekitarnya.

"Halo, gadis mungil." Sebuah suara berat mengagetkan Rin yang kini sibuk dengan pikirannya sendiri.

Dicarinya sumber suara itu, berusaha menemukan orang lain selain dirinya yang berada diruangan ini.

"Disini. Dibelakangmu." kata suara itu lagi.

Rin kemudian memutar tubuhnya, dan dirinya hamper saja terlonjak kebelakang saat mengetahui sumber suara itu.

Sesosok pria tua berambut hitam yang mulai tertutupi dengan rambut putih tengah tersenyum kearahnya. Bukan, bukan hanya karena ada seorang pria tua dibelakang Rin yang membuat gadis itu terlonjak kaget, melainkan pria itu berada di dalam cermin aneh yang membawa dirinya ke masa lalu itu.

"K-kau si-siapa?" tanya Rin terbata.

"Aku? Aku adalah pemilik cermin ini. Selamat datang kembali ke masamu, gadis mungil." ucap pria itu sambil tersenyum hangat.

"Ah, i-iya. Terimakasih."

"Nah, karena kau telah berhasil melewati empat puluh hari itu dengan baik, maka aku akan memberikan hadiah padamu."

"Ha-hadiah?" ucap Rin.

Oke, sekarang gadis itu mengerti bagaimana perasaan Neru saat menghadapinya hingga Neru tergagap seperti itu.

"Ya. Kau boleh ke masa mana saja yang kau mau. Aku akan membawamu sebentar kesana, hanya sebentar. Lalu aku akan membawamu kembali ke masa ini. Sekarang, kau mau kemana?"

Rin terdiam memikirkan pertanyaan sang pemilik cermin. Dipikirkannya beberapa hal yang ingin ia ketahua, terutama masa dimana Da Vinci melukis Monalisa, dia sungguh penasaran dengan misteri yang sampai sekarang masih belum terpecahkan itu.

"Kau mau kuberi saran?" tanya pemilik cermin itu.

Rin diam sejenak, kemudian mengangguk.

"Kalau aku jadi kau, aku akan memilih pergi ke masa dimana -"

Dan seketika Rin blushing ditempat mendengar saran Pak tua itu.

.

.

.

Rin berjalan gontai menuju rumahnya, dan saat dia baru berjalan setengah meter dari rumah besar tadi, dirinya dikejutkan dengan sebuah mobil limousine hitam yang berhenti mendadak disampingnya. Lalu keluarlah tiga orang pria bertubuh besar dengan balutan jas berwarna hitam yang melekat rapi di tubuh mereka.

Saat berada dihadapan Rin, ketiga pria itu membungkukkan badannya hormat kearah Rin.

"Rin-sama, kami diperintahkan tuan Dell untuk mencari anda. Dia sangat mengkhawatirkan anda dan sudah mencari anda sejak dua jam yang lalu. Saya harap nona tidak menolak untuk kami antar pulang. " kata salah seorang pria itu.

"Dell?"

"Iya, dia sangat panik karena anda belum juga pulang."

Rin kemudian mengingat kejadian sebelum dirinya terlempar ke tahun 1930. Ya, saat itu dia sehabis mengerjakan tugas kelompok bersama Neru, lalu ponselnya mati hingga dia memutuskan untuk berjalan kaki tetapi malah berakhir di rumah itu.

Rin mengamati tubuhnya, dan dia baru menyadari kalau dia kini mengenakan seragam sekolahnya, lengkap dengan pita putih di kepalanya.

"Baiklah aku ikut kalian." ucap Rin.

Ketiga pria itu kembali membungkuk lalu mempersilakan Rin untuk masuk ke dalam mobil. Rin sebenarnya sedikit risih dengan perlakuan ketiga orang tadi, walaupun dirinya sadar itu merupakan hal yang biasa untuknya dulu. Dulu, sebelum dia 'mampir' ke tahun itu.

Sekitar lima belas menit Rin berada dalam perjalanan pulang menuju rumahnya, akhirnya nona muda itu sampai di sebuah rumah yang tergolong sangat mewah itu.

Dengan cepat dilangkahkan kakinya memasuki rumahnya, dan saat dia baru saja melewati pintu besar berwarna hitam yang merupakan pintu utama, dirinya telah disambut oleh raut khawatir seorang pria tampan yang langsung berdiri dari duduknya begitu melihat Rin.

"Dell!" seru Rin riang sambil menghambur ke pelukan pemuda bernama Dell itu.

"Nona, anda darimana saja? Sudah lebih dari pukul sepuluh malam. Saya sangat mengkhawatirkan anda." kata Dell.

"Dell, berhenti memanggilku nona! Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu jika kau masih saja berlaku sopan terhadapku seperti itu. Aku ini adikmu, kan?" Rin menggembungkan kedua pipinya.

Dell terlihat bingung dengan sikap Rin. Kemana nona mudanya yang dingin itu.

"Baiklah, Ri- umm Rin."

"Tidak, bukan seperti itu." ucap Rin.

Dell kemudian menggaruk tengkuknya, "Rin-chan."

"Nah, begitu Dell-nii san." kata Rin riang sambil kembali memeluk Dell.

"Sekarang, katakana padaku. Kau darimana saja?"

"Ah, aku tadi setelah mengerjakan tugas kelompok tertidur di sebuah rumah, aku ingin menghubungimu tapi ponselku mati."

"Hmm begitu, sebaiknya sekarang kau mandi dan segera tidur. Besok kau harus sekolah." ucap Dell lembut.

Rin tersenyum mendengar perhatian dari Dell. Ya, seharusnya memang begini. Seharusnya memang kehangatan diantara keduanya ada seperti ini.

"Baik nii-san." Rin lalu mengecup pelan pipi Dell sebelum akhirnya berlalu, membuat pria tampan itu tersentak kaget.

'Ada apa dengannya?' pikir Dell bingung.

Rin melangkahkan kaki mungilnya menaiki tangga, menuju kamar miliknya. Sesampainya di kamar, dirinya langsung membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di kasur king size miliknya.

'Kasur ini terlalu luas untukku sendiri.' Batin Rin.

Gadis itu kemudian berjalan riang keluar kamar, turun kebawah dan mengetuk sebuah pintu di ruangan kecil. Sama seperti kamarnya di rumah Rei.

Tok Tok

"Sebentar." sahut suara lembut dari dalam kamar itu.

Cklek.

Dan pintu berwarna hitam itu pun terbuka, menampilkan sosok perempuan cantik yang berdiri canggung saat mengetahui kalau Rin yang mengetuk pintunya.

"Ada perlu apa nona?" kata perempuan itu sambil menunduk dan memainkan jari-jari tangannya.

"Rui, temani aku tidur. Aku kesepian jika sendiri. Mau, ya?"

Gadis bernama Rui itu bingung harus menjawab apa, dirinya tidak berani untuk menolak, tapi juga takut jika mengiyakan.

"Ayolah, Rui. Aku mohon."

Mohon? Seorang Rin Kagamine memohon? Ramalan suku Maya sepertinya benar.

"Rui?" tanya Rin.

"Ehm, ba-baiklah nona."

"Jangan panggil aku nona. Panggil aku Rin. Kita kan teman." kata Rin sambil mengacungkan kelingkingnya di hadapan Rui.

Rui awalnya tidak mengerti, tapi melihat ketulusan di wajah Rin membuat gadis berambut hitam itu akhirnya menyambut juga kelingking milik Rin.

"Nah, ayo ke kamarku." ajak Rin.

.

.

.

-Skip Time-

Hari ini sudah tepat empat puluh hari setelah Rin kembali ke masanya. Sudah empat puluh hari pula gadis itu berhasil menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya karena perubahan sikapnya yang seratus delapan puluh derajat itu.

Semua orang kini menyukai Rin, bahkan teman-teman sekelas Rin kini menjadi sahabat bagi Rin. Mereka sering berkumpul bersama, entah itu untuk belajar bersama atau sekedar bermain. Dan Rin merasa hidupnya menjadi lebih baik lagi.

Meski begitu, tak dapat dipungkiri ada celah kosong di hatinya yang sampai saat ini sering membuatnya sedih. Ya, celah dimana hanya satu orang yang bisa mengisinya. Celah dimana hanya orang itu yang Rin mau.

Tapi, sekali lagi Rin mencoba bersikap wajar. Membiasakan diri dengan kekosongan hatinya itu. Dan mencoba percaya tentang apa yang selama ini menghantui pikirannya. Meski dirasanya tidak mungkin, hanya saja ia masih ingin percaya.

Dan keyakinan yang dibangunnya selama ini akhirnya goyah saat seminggu yang lalu, kedua orang tuanya yang baru saja pulang dari New York memberitahu sebuah kabar yang mengiris hatinya.

Dia akan ditunangkan. Entah dengan siapa, Rin tidak bertanya lebih lanjut.

Awalnya dia ingin menolak, tapi melihat ibunya yang sangat berharap dirinya akan menerima, dan lagi dia ingin membahagiakan kedua orang tuanya, akhirnya gadis itu setuju.

Dan kini, dia harus mengubur dalam-dalam sebuah keyakinan tentang pria yang telah dipilih hatinya sejak beberapa bulan lalu.

Hari ini, tepat dimana calon tunangannya akan muncul dihadapannya untuk pertama kalinya.

Rin tampak cantik dalam balutan gaun putih yang simple, tapi tetap terlihat elegan untuknya. Rambut pirangnya ditata sedemikian rupa hingga kecantikan yang ada dalam dirinya semakin menguar.

Memang hanya perkenalan untuk Rin dan calon tunangannya saja, tapi Rin sudah tidak bersemangat sejak pagi. Jadi saat Rui memberitahu bahwa calon tunangannya telah tiba, Rin malah membelokkan langkahnya menuju taman yang tak jauh dari rumahnya.

Sekitar setengah jam gadis pirang itu hanya duduk diam di bangku panjang di tengah taman itu, mengamati beberapa pasang burung merpati yang seperti sedang bercengkrama.

Hingga sebuah tangan menepuk pundak mungilnya pelan, membuat gadis itu mau tak mau mendongakkan kepalanya kearah orang itu.

Dan seketika mata Rin membulat lebar, mulutnya menganga tanpa bisa ia cegah.

Bagaimana tidak? Yang berdiri disana, disampingnya itu, yang menepuk pundaknya adalah sesosok pria tampan berbalut jas hitam dan rambut pirang dengan gaya khas miliknya tengah tersenyum manis kearahnya.

Dia, dia, dia, pria itu umm pria itu...

"Len." ucap Rin pelan.

"Halo, Rin. Wah kau masih ingat padaku, ya? Senangnya."

"Kau? Benarkah itu kau? Kenapa kau bisa ada disini? Oh, apa kau terlempar dalam cermin aneh itu, Len? Kami-sama, ini tidak mungkin kau kan?" Rin mengguncang lengan Len.

"Ish, kau ini kasar sekali sih. Dasar preman. Tentu sajalah ini aku, Len Kagamine. Memangnya kau pikir siapa, hah?"

"Tapi, tapi, bagaimana bisa?"

"Baiklah, akan aku ceritakan. Kau duduk saja, ceritaku panjang."

Rin menurut, dia kembali duduk ditempatnya tadi, diikuti Len yang duduk disampingnya.

"Sebenarnya, sebelum kau ke masa itu, aku sudah terlebih dahulu berada disana. Aku terlempar kesana lewat sebuah cermin yang tadinya ingin aku pukul dengan kedua tanganku. Aku diberi waktu seratus hari disana, seperti kau, untuk memperbaiki diri. Aku ini pemuda yang nakal, sangat sangat nakal. Aku seringkali membully adik kelas, bahkan tak segan-segan aku akan membunuh mereka jika saja mereka membantahku. Aku bahkan berani memaki ayahku, aku juga dengan sengaja mengedarkan narkoba kepada teman-temanku. Saat itu aku tengah kalut karena salah satu temanku meninggal akibat overdosis, dan akhirnya aku ke sebuah gudang dan menemukan cermin itu. Tepat saat aku akan melampiaskan kekesalanku pada cermin itu, aku malah terlempar kemasa itu,"

Len terdiam sejenak, begitu juga Rin yang mencerna cerita Len.

"Aku sudah empat puluh hari berada di tahun 1930, hingga kemudian kau datang. Dan setelah kau pergi aku tetap disana menghabiskan dua puluh hari milikku yang tersisa. Aku sungguh belajar banyak hal disana, aku jadi menyayangi ayahku lewat sosok seorang Rei Kagamine, aku menjadi pribadi yang lebih hangat dan ramah disana. Dan kau sudah melihat aku yang seperti itu saat kau tiba, jadi kau tidak perlu menghadapi sifat awalku. Dan ternyata, saat aku sudah kembali kesini, aku diberitahu oleh ayahku kalau aku akan ditunangkan, tapi aku iyakan saja. Karena aku tahu kalau orang itu adalah kau, Rin Kagamine." Lanjut Len.

"Tapi darimana kau tahu itu aku?" tanya Rin.

"Memangnya kau tidak diberi saran oleh pemilik cermin itu?"

Rin blushing seketika, dia ingat saran yang akhirnya dia iyakan saja waktu itu.

'Kalau aku jadi kau, aku akan memilih pergi ke masa dimana aku sudah menikah.'

ya, itu yang diucapkan pemilik cermin itu.

"A-aku memang melihat kau menjadi suamiku, tapi aku pikir itu hanya anganku saja." kata Rin.

"Awalnya aku juga berpikir seperti itu, tapi aku memilih percaya saja. Dan ternyata terbukti benar, kan?"

"Lalu bagaimana dengan ayah Rei, Gumi, Bibi Tei, dan yang lainnya?" tanya Rin.

"Secara otomatis saat kita telah kembali, mereka tidak akan mengingat kita, ingatan tentang kita digantikan oleh sosok lain yang memang seharusnya dia yang berada di tahun itu. Jadi bisa dibilang, kita hanya menggantikan sosok asli yang seharusnya ada di tahun itu."

"Oh, begitu." ucap Rin sedih.

Melihat wajah sendu Rin, Len memberikan sesuatu kepada Rin.

"Apa ini?"

"Lihat saja."

Rin membuka amplop berwarna biru ditangannya, dan ternyata itu adalah sebuah foto.

Ada Rei Kagamine, Gumi dan ibunya, bibi Tei, Miku, dan pelayan-pelayan lain tengah tersenyum di foto itu.

"Ini.."

"Pemilik cermin menawarkan dua permintaan untukku, jadi permintaan kedua aku meminta kenang-kenangan dari tahun 1930 itu, dan dia memberiku ini." kata Len.

Rin masih memandangi foto itu, entah kenapa hatinya turut menghangat melihat senyum tulus mereka.

"Kurasa kita dicari oleh orang tua kita. Kau kini bisa memanggil ayahku dengan panggilan ayah Hakuo, menggantikan ayah Rei." Len mengedipkan sebelah matanya kearah Rin.

Rin tertawa kecil,

"Dan kau boleh memanggil ibuku dengan Lily-Kaa-chan, sebagai pengganti bibi Tei." kata Rin riang.

"Panggil aku Len-kun mulai sekarang."

"Apa? Tidak sudi, dasar tuan muda aneh." Ucap Rin sambil berlalu.

"Heh? Dasar nona seenaknya sendiri." Balas Len yang kemudian menyusul Rin.

Cinta selalu membawa bahagia pada akhirnya,

Seperti kisahku bersamanya,

Entah sudah berapa kali putaran waktu yang seolah mempermainkan kami,

Tapi pada akhirnya kami bermuara pada samudera yang sama,

Selamanya,

Tenggelam dalam biru untaian hati milik kami,

Dan pada akhirnya, akan selalu seperti itu,

Saling menggenggam,

Saling memiliki,

Dan saling menemukan 'rumah' untuk kembali pulang.

.

.

.

Satu fic ku selesai. Fiuh, akhirnya setelah empat jam berkutat di depan komputer berhasil juga nyelesein fic ini.

Sekali lagi, aku mau terimakasih buat kalian semua yang udah mau capek-capek baca, yang udah ngeluangin waktu buat sekedar review.

Terimakasih atas saran, semangat, komentar, dan yang lainnya. Itu semua sangat berarti untukku.

Maaf jika gak sesuai keinginan, maaf kalo ngecewain ya, maaf banget banyak kekurangannya disini.

Oke, sampai jumpa di fic ketigaku semua.

Jaa ne, mwuuuuaaahhh!