Suara-suara dari luar membangunkan Sakura dari tidur lelapnya. Ia melirik sekilas ke arah jam dinding polos, kemudian menggeliat dalam selimut. Masih jam 7 pagi dan sudah ada yang melakukan kegiatan di dapur. Siapa lagi kalau bukan Itachi? Hanya dia satu-satunya yang memegang kartu cadangan flat Sakura, jadi ia bisa leluasa keluar masuk tanpa harus repot-repot berurusan dengan security alarm. Di tambah membuat sarapan termasuk kedalam daftar tugasnya. Ya, Itachi memang pengawal multitalenta. Sakura kembali memejamkan mata, tempat pembaringannya masih terasa sangat nyaman sehingga membuatnya enggan untuk bangkit, baru ia akan kembali tidur, perutnya mulai berbunyi. Akhirnya dengan teramat sangat terpaksa, ia lekas pergi ke kamar mandi.
.
.
.
Seorang pemuda tengah menyusun piring serta menata makanan di atas meja. Aroma masakan menguar dan memenuhi udara di ruangan itu. Usai membersihkan diri, Sakura menguap sambil berjalan ke arah ruang makan.
"Ohayou Haruno-sama,"
Langkahnya terhenti tepat di samping pemuda yang notabene adalah pengawalnya.
"Berhentilah memanggilku seperti itu Itachi-nii," emeraldnya masih memandangi makanan yang di jejerkan, merasa puas baru ia menoleh pada pemuda di sampingnya. Ekspresi keterkejutan memenuhi wajah cantiknya,"Rambutmu terlihat lebih bagus seperti ini Itachi-nii, dan..." Sakura menyentuh kedua pipi pemuda itu, agaknya membuat pemuda yang di sentuh barusan sedikit merona,"Aku tidak menyangka efek krim yang ku berikan padamu bekerja secepat ini," Sakura tidak dapat menutupi rasa keterkejutannya.
"Haruno-sama say-"
"Ayo kita sarapan," potong Sakura. Pertama karena ia sudah kelaparan, kedua Itachi tidak berhenti memanggilnya dengan sebutan formal itu lagi. Gadis manis itu sudah duduk manis, rasanya ia sudah tidak sabar untuk sarapan.
"Kau menunggu apa Itachi-nii? Duduklah, kita sarapan bersama, jangan membantah,"
"Hai' Haru-"
"Sakura, Itachi-nii" gadis itu sedikit heran dengan tingkah Itachi,"Jangan memanggilku seformal itu,"
"Hai'" pemuda yang di panggil itu mengangguk paham, lalu menarik kursi di hadapannya. Merekapun memulai sarapan dalam keheningan.
.
.
.
.
Setelah perdebatan ringan dalam pengambilan keputusan 'siapa yang membersihkan meja makan' Sakura terpaksa mengalah karena pengawalnya itu dengan ngototnya melarang Sakura menyentuh peralatan-peralatan makan yang kotor itu.
"Sakura-san, ini sudah menjadi tugas saya,"
Begitulah kalimat yang di lontarkan Itachi, hal itu juga membuat Sakura menaikkan alis, kedua alisnya saking terheran-heran. Apakah pengaruh krim itu ikut mempengaruhi kerja otak? Karena sikap Itachi sungguh berubah, selama 2 tahun Sakura mengenalnya, tidak pernah sekalipun pemuda itu menyebutnya dengan menggunakan panggilan -san.
KRING! KRING!
Telepon rumah berdering membuyarkan kesadaran Sakura, ia bergegas mengangkat gagang telepon lalu menyahut,"Moshi-moshi. Aa, kaa-san, ya aku baik-baik saja... Tentu, Itachi-nii sedang membereskan peralatan makan. Aa, daijoubu kaa-san. Tidak, tidak, aku tidak ingin berbicara dengan otou-san. Tidak kaa-! Ah, Ohayou... otou-san... Iie... Aku... Tidak mau. Tidak otou-san," Sakura menaikkan sedikit nada bicaranya walau masih berujar lembut, hal itu membuat pemuda yang tengah mencuci mengerling ke arahnya,"Hai', aku sedang sibuk otou-san, jaa..." Ia meletakkan gagang telepon di tempatnya semula. Raut wajah Sakura sedikit berubah, ia menjadi sedikit sendu.
"Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran anda?" Pengawal Sakura berambut biru gelap itu sudah selesai mencuci, kini ia mengeringkan tangan pada apron yang di kenakannya.
"Dia... Akan segera menikah Itachi-nii. Ayah menyuruhku kembali,"
"..."
Pikiran gadis bersurai merah muda itu berkecamuk, emeraldnya bersinar memelas. Seakan memohon pada siapapun untuk menghentikkan waktu, bahkan jika bisa, ia ingin memutarbalikkan waktu. Tolong, perasaan ini sangat menyakitkkan. Betapapun ia mencoba melupakan segalanya, pada akhirnya kenyataan selalu tak ingin berada di pihaknya. Ia kembali berujar, menumpahkan segala isi hatinya, karena ia tahu dari dulu hanya Itachi yang mau mendengarkannya.
"Apa yang harus ku lakukan Itachi-nii? Aku bahkan sudah berubah demi dia..." Ekspresi Sakura berubah seperti sedang menahan sakit, agaknya sang pengawal sedikit berjengit, ia mendekati majikannya, menahan kedua lengan mungil itu. Pikiran Sakura kalut, ia langsung memeluk tubuh tegap di hadapannya,
"Sakura-san, aku bukan Itachi-nii,"
"Kau bicara apa?" Mendengar suara baritone beserta maknanya, mau tak mau Sakura mendongakkan kepala, menatap sepasang onyx legam mencari kebohongan dan perbedaan. Tidak ada yang berbeda, itu onyx hitam milik Itachi-nii, rambut berwarna sama kecuali modelnya yang berbeda. Semuanya sama persis. Hanya saja tidak ada lagi kerutan di bawah mata.
"Namaku Sasuke, Uchiha Sasuke,"
.
.
.
.
To be continued
.
.
Author's note:
Chap 2 UP!
Queen Devil, makasih reviewnya. Saya ganti deh tanda serunya. Hehe. Happy reading minna
Review :3
