Dua pasang mata saling bertatapan, onyx dan emerald. Kedua insan berbeda jenis itu duduk berhadapan, iris emerald menatap Sasuke dengan lembut tapi ada maksud interogasi yang tersirat.
"Jadi... Kau adalah adik Itachi-nii?"
"Hai'"
"Dan Itachi-nii menyuruhmu menggantikannya?"
.
.
Sepulangnya dari flat Sakura, Itachi berjalan dengan malas ke arah flat miliknya. Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah pintu, dan di tembok kanannya terdapat ukiran marga Uchiha yang tertoreh rapi. Ia menggesek kartu untuk membuka pintu flatnya. Begitu masuk, pemuda itu melepaskan sepatu yang sedaritadi melekat pada kedua kakinya sementara ia juga membiarkan pintu di belakangnya menutup dan terkunci dengan sendirinya. Suasana gelap berubah menjadi terang benderang ketika Itachi meletakkan kartu yang tadi ia gunakan untuk membuka pintu pada sebuah kotak kecil di dinding, membuat semua lampu serta pendingin ruangan menyala dengan otomatis.
"Okaeri," sebuah suara berat menyapa Itachi yang kini tengah menggantung mantel. Ia terkejut kemudian spontan berbalik dan siaga, pasalnya ia hanya tinggal seorang diri dalam flat itu, kalau-kalau ada maling di dalam flatnya, mungkin lebih tepatnya maling bodoh yang menyapa pemilik rumah tempatnya mencuri. Hantu di minuskan karena tentu saja Uchiha -seluruh Uchiha- tidak percaya dengan hal-hal tabu, dan tidak nyata semacam itu.
"Otouto?" Dan setelah melihat sosok yang menyapanya, Itachi jadi semakin terkejut. Retinanya menangkap gambaran seorang pemuda berwajah sepertinya tanpa kerutan di wajah dan rambut mencuat ke belakang, lalu mengirim informasi itu ke otaknya, menit berikutnya, informasi itu di cerna dengan lama. Mungkin otaknya sedang memilih ingin bereaksi pada keterkejutan atau menggali memori tentang pemuda di depannya ini.
"Berhentilah bengong dan memasang wajah bodoh seperti itu baka aniiki. Mana sapaan untuk adikmu yang tampan ini?" Orang yang mengaku sebagai adik Itachi tersebut mengeluarkan senyum juga cengengesan dalam waktu bersamaan.
Kini Itachi mulai tersadar. Ia membalas perkataan adiknya, ia juga memberi pelukan selamat datang pada adik yang sudah lama tidak ia temui,"Baka otouto,"
"Bagaimana pekerjaanmu nii-san? Kau makin jarang pulang kerumah,"
"Seperti biasa. Aku harus menjaga seorang tuan putri yang cantik," Itachi bergerak mengambil dua gelas bening dan sebotol champagne,"Dan apa yang membawamu jauh-jauh ke Suna?" Gelas kosong itu mulai berisi cairan yang di tuangkan dari botol berwarna hijau, begitu penuh Itachi meletakkan kembali botol champagne itu, meninggalkannya begitu saja di atas counter. Ia membawa kedua gelas berisikan champagne, lalu menyodorkannya pada sang adik yang juga mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
"Otou-san menyuruhmu kembali ke Konoha,"
"Dalam rangka?"
"Kemerdekaan. Nii-san, semakin lama kau berada di Suna kepintaranmu semakin berkurang,"
"Aku serius baka,"
Sasuke memutar kedua bola matanya,"Tentu meneruskan bisnisnya. Otou-san menagih janjimu. Jangan mengulur waktu terus nii-san,"
Itachi menghela napas. Ayahnya memang orang yang kemauannya harus di turuti, terlalu tegas dan terlalu cepat mengambil keputusan. Ia menyeruput cairan yang berada dalam gelas bening di genggamannya,"Aku ingin kau menggantikanku Sasuke, kau kan tahu aku tidak ingin menjadi pengusaha,"
"Tidak aniiki. Ayah ingin kau yang jadi penerusnya, bukan aku. Lagipula aku senang otou-san memberikanku kebebasan," Sasuke mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, menikmati kilau sinar dari cairan yang di terpa cahaya lampu, ia menyenderkan badannya di sofa,"Dan lagi, kenapa kau tidak mau menjadi penerus ayah? Apa kau berniat menikah dengan nona mudamu itu?"
Itachi tersenyum lembut,"Baka,"
KRING! KRING!
Bunyi telepon membuyarkan pembicaraan duo bersaudara tersebut.
"Itu pasti dari otou-san," ujar Sasuke sambil menenggak minumannya,
Itachi bangkit dari tempat duduk, tangan kekarnya mengangkat gagang telepon berwarna hitam legam.
"Moshi-moshi,"
"Apakah Sasuke sudah sampai di sana?"
"Ya otou-san,"
"Ia sudah menyampaikan pesanku?"
"Sudah otou-san,"
"Besok kau langsung terbang ke Konoha,"
"Hai' otousan,"
KLEK.
Seseorang di seberang sana terlebih dulu menutup telepon. Itachi kembali menaruh gagang telepon pada tempatnya, lagi dan lagi ia menghela napas berat. Fugaku Uchiha, ya, siapa yang tidak mengenal Fugaku Uchiha? Pebisnis tersukses se-Hi dan hampir menguasai seluruh pasaran. Sosok paruh baya itu adalah orang yang tegas, kemauannya tidak terbantah, ayah yang hebat -mungkin juga keras kepala, kepala rumah tangga yang menyayangi keluarganya. Itachi tidak bisa tawar-menawar lagi dengan ayahnya. Ia sudah berjanji untuk kembali suatu hari nanti, melanjutkan bisnis ayahnya, dan kini Fugaku Uchiha menagih janjinya. Yah, mau tak mau.
"Ayah tidak setuju dengan pekerjaanmu sebagai pengawal,"
"Aku tahu. Aku akan kembali ke Konoha besok. Sasuke, aku punya permintaan,"
"Apa?"
"Tolong gantikan aku sebagai pengawal Sakura,"
"Kau gila?! Aku? Menjadi pengawal? Tidak, tidak, lagipula otou-san pasti tidak akan setuju,"
"Bukankah kau bilang otou-san memberimu kebebasan? Dengar, dia putri keluarga Haruno. Aku sudah di utus untuk menjaganya sampai ia kembali ke rumah, jadi tidak mungkin aku mengundurkan diri begitu saja,"
"Kalau begitu pulangkan saja dia," Sasuke mati-matian menolak untuk menggantikan jabatan kakak laki-lakinya itu,
"Kalau bisa aku sudah memulangkannya dari dulu baka!"
"Aku tidak mau menjadi pengasuhnya!"
Itachi menepuk jidat,"Astaga... Kau hanya menjadi pengawal, kau bertugas menjaganya!"
"Lalu?"
"Dan... Menyiapkan seluruh kebutuhannya," dengan enggan Itachi berujar, rasanya tidak ada perbedaan antara pekerjaannya menjadi pengawal dengan pengasuh.
"Apa bedanya dengan pengasuh?"
"Dia bukan anak kecil dan kau tidak perlu menyuapinya. Sudahlah, intinya kau harus menggantikanku, dia gadis baik dan dewasa. Kau pasti akan betah bersamanya. Kau hanya perlu memperlakukannya seperti putri, karena kau pengawalnya,"
.
.
.
.
"Ya Sakura-san," dari awal Sasuke melihat gadis bersurai merah muda yang duduk di depannya ini, ia hampir membenarkan ucapan kakaknya. Gadis bernama Sakura ini benar cantik dan terlihat dewasa.
"Kalau begitu tidak usah Uchiha-san,"
"Eh?" Sasuke tidak mengerti,
"Kau bisa berhenti jadi pengawalku. Nanti akan ku beritahu pada ayah tentang Itachi-nii,"
"Kenapa? Bukankah kau butuh pengawal?"
"Tidak... Tidak, aku hanya ingin pengawalku Itachi-nii seorang,"
Ini artinya... Ia di tolak mentah-mentah?
"Aku menggantikan aniiki untuk menjaga anda nona, sampai tugasnya selesai," Sasuke menekankan bahwa ia adalah saudara dari seorang Itachi yang menjadi pengawalnya, dan meyakinkan ia bisa menggantikan posisi itu dengan baik, bahkan lebih baik dari kakaknya mungkin?
"Kapan tugasnya akan selesai?"
"Eng... Sampai anda mau pulang ke rumah,"
"Kalau begitu kau memang harus berhenti dari pekerjaan ini,"
"Kenapa?"
"Karena ini adalah tugas yang tidak akan pernah terselesaikan. Aku tidak mau pulang ke rumah. Ini hanya akan membuang-buang waktumu," Sakura menolak dengan halus. Jujur, ia merasa tidak enak untuk memberhentikan pengawal barunya ini, hanya saja, ia memang tidak bisa jika bukan Itachi yang menjadi pengawalnya.
"Kau bahkan belum melihat kemampuanku," pemuda berambut emo itu memajukkan badannya, mendekat ke arah meja, sementara Sakura masih betah menyandarkan punggungnya di kursi.
"Aku sudah melihat. Sarapannya sangat enak," sarapan buatan Sasuke memang sangat enak, jika di bandingkan Itachi yang hanya bisa memasak makanan-makanan tradisional Jepang. Sasuke sanggup memasak berbagai jenis makanan bahkan dari luar negara sekalipun. Sakura harus mengancungkan jempol untuk hal yang satu ini.
"Beri aku kesempatan. Aku tidak ingin mengecewakan nii-san,"
"... Baiklah, tapi hanya sampai Itachi-nii kembali,"
"Bagaimana kalau dia tidak kembali?"
Pertanyaan yang sulit, tenggorokan Sakura tercekat. Apakah pemuda ini harus selalu berada dengannya? Selamanya? Dan bukan Itachi-nii? Ia sudah sangat terbiasa dengan kehadiran Itachi. Kalau Itachi tidak ada, kemana tempatnya berkeluh-kesah?
TING TONG!
Bunyi bel pintu mengalihkan pembicaraan mereka, Sakura harus mengakui ia sangat berterima kasih pada tamu yang telah memencet bel di luar sana.
BUK BUK BUK!
Um... Sepertinya mereka kedatangan tamu yang anarkis. Tidak ada lagi bunyi bel terdengar, seseorang memukul pintu dengan tidak sabaran, membuat Sakura sedikit ngeri.
"Biar aku yang buka," sebagai pengawal tentu saja pion yang maju dulu kan? Tidak mungkin membiarkan seorang Ratu terlebih dulu melawan musuh. Sasuke semakin dekat ke arah pintu, dan bunyi gedoran masih terdengar, malah lebih jelas. Ia memencet tombol-tombol di sebelah pintu, lalu berbicara,
"Siapa di luar sana?"
"Ukh... To-Tolong aku..." Suara laki-laki menyahut pertanyaan Sasuke. Kembali ia menekan tombol-tombol yang tertera, lalu muncullah sebuah gambar di layar monitor, gambar keadaan di luar sana. Terlihat sesosok pemuda berambut coklat memukul-mukul pintu dengan tangan kanannya, tangan lainnya memegangi perutnya,"Tolong aku... Aku... Ergh!" Wajahnya meringis kesakitan, ia sudah tidak lagi mengacau di pintu, yang ada ia memegangi perut dengan kedua tangannya.
"Sasuke! Tolong dia!"
"Mungkin dia orang jahat yang sedang berakting," ucap Sasuke. Iris onyxnya terus menonton pergerakan orang dari monitor itu.
"Dia sedang terluka!" Emerald Sakura juga memandangi monitor yang sama. Ia menangkup kedua tangan di depan mulut, tak tega.
BRUK!
Pertahanan pemuda itu hilang. Tidak ada lagi rintihan kesakitan, ia pingsan tak sadarkan diri.
"Sasuke!" Mendengar namanya di panggil, pemuda itu berbalik. Ia mendapati raut kecemasan di wajah Sakura. Dan tanpa banyak bantahan lagi, ia bergegas keluar menolong orang itu. Sesuai dengan yang tergambar di monitor, orang itu pingsan dengan menelungkup di lantai. Pertama-tama Sasuke mengecek keadaan sekitar, kalau-kalau orang itu adalah penjahat yang sedang berakting dan membawa teman, nihil... Sekelilingnya aman. Ia juga memeriksa seluruh tubuh pemuda itu, tapi pemuda itu bersih, tidak ada senjata atau peralatan berbahaya lainnya. Sasuke mengecek bagian tubuh yang sedaritadi di pegangi ketika merintih, apakah ada luka atau tidak, Sasuke tidak menemukan adanya bekas pukulan atau tusukan di daerah perutnya, mungkin penyakit organ di dalamnya. Ia memapah pemuda itu masuk ke dalam, karena tidak mungkin ia membiarkannya tergelatak bak mayat tepat di depan apartemen Sakura pula, yang nantinya bisa memicu masalah.
"Sasuke dia kenapa?" Gadis itu mulai panik begitu melihat Sasuke memapah seseorang yang tidak sadarkan diri dan membaringkannya di sofa.
"Entahlah," pandangan mereka tertuju pada sosok di sofa itu, Sasuke bergaya seolah-olah menganalisis sesuatu. Raut wajah mereka serius,"Mungkin ia terluka dalam, atau punya penyakit parah, atau-"
.
.
.
To be continued
.
.
.
Author's note :
Ide sedang mengalir! LOL.
Rose Whitersky, terima kasih reviewnya :)
Apakah chap ini sudah mulai panjang?
Review :3
