KRUYUKK.

Suara perut kelaparan mengalihkan pandangan mereka. Barang sebentar Sasuke dan Sakura bertatapan, kemudian berbalik memandangi pria yang tengah terbaring tak berdaya. Sedikit demi sedikit kelopak matanya mulai terbuka.

"U... Ugh... Aku... Aku belum makan sejak kemarin lusa,"

Seandainya mereka bisa jatuh dengan tidak elit, mungkin mereka akan lakukan itu sekarang.

"Sasuke," Sakura menatap pengawalnya penuh isyarat, di balas dengan anggukan. Ia pun ngeluyur dan pergi ke arah dapur.

.

.

.

"Jadi? Kau tinggal di sebelah flat ini?" Sasuke memulai pembicaraan, di sampingnya duduk gadis merah muda yang juga sama-sama memandangi orang kelaparan di depan mereka ini. Pemuda itu mengangguk, ada dua buah tato berbentuk segitiga terbalik berwarna merah di kedua pipinya. Dengan sangat lahap ia menyantap seluruh makanan yang tersaji. Dan ini sudah ke sekian kalinya ia meminta nasi lagi.

"Akhu tfethangga khalian... Nomnomnom*,"

Baiklah, sekarang semuanya mulai jelas dan masuk akal. Pemuda berambut coklat bertato ini adalah tetangga -dia tinggal tepat di sebelah flat- Sakura, seusia dia dan majikannya, bekerja paruh waktu, belum menerima gaji bulan ini tapi tabungannya habis dua hari yang lalu. Berasal dari Konoha, artinya dia dan pemuda itu sekampung halaman.

"Kalian suami-istri?" Sakura dan Sasuke terkejut mendengar pernyataan tersebut. Tidak ingin yang lain menyadari semburatnya, Sasuke memalingkan wajah, sementara pemuda itu masih menyumpit masuk nasi ke dalam mulutnya, tapi sepasang manik hitamnya memandangi Sasuke dan Sakura bergantian.

"Kami bukan pasangan suami-istri, dia adik pengawalku," jawab Sakura lembut,

"Kau punya pengawal? Apakah kau seseorang terkenal, kaya, dan semacamnya? Atau jangan-jangan putri Kazekage?" Pemuda itu berhenti menyuapi makanannya, ia bertanya dengan penuh antusias. Sakura cuma bisa tersenyum tipis,"Aku hanya putri dari seorang ayah yang protektif,"

Benar kan? Jauh dari rumah membuat Haruno Kizashi menjadi overprotektif pada anak gadisnya, makanya ia mengirim pengawal, padahal ia sudah menolaknya,

"Apa kau punya modus lain kemari? Selain meminta makan?" Onyx milik Sasuke meneliti seseorang yang di anggapnya mencurigakan itu. Mulai sebatas perut karena terhalangi meja, hingga ujung rambutnya. "Kenapa kau mengetuk pintu flat kami? Bukan yang lain?"

"Aku mencium aroma lezat tadi pagi, aroma surgawi. Ohh..." Tiba-tiba pemuda aneh itu menerawang, membayangkan bau-bauan dari sarapan yang di buat Sasuke,"Jadilah aku datang ke sini," kembali mengedikkan bahunya, dan melanjutkan makannya yang tertunda.

"Ah," pemuda itu berujar lagi, menampakkan giginya dan Sakura yakin tadi ia baru saja melihat ada dua taring di sana. Tapi ia menolak imajinasi negatifnya, jaman modern ini tidak ada yang namanya vampire, maupun dracula, apapun jenisnya,"Aku tidak menyangka tetanggaku secantik kau, kalau begini aku bisa sering-sering kemari," ia nyengir dengan lebarnya, deretan giginya terlihat jelas. Benar! Ada dua taring di sana. Sasuke tak habis pikir bisa-bisanya pemuda ini menggombal, menjijikkan. Dia dan Sakura baru saja bertemu, tapi dengan spontannya berbicara seperti itu, cih! Pasti Sakura akan merona, atau salah tingkah sambil ber-kyaa -kyaa mengibas-ngibaskan tangan di udara seperti wanita pada umumnya. Meleset, apa yang Sasuke pikirkan jauh berbeda, Sakura hanya menanggapi dengan tenang, tidak lupa menampakkan senyum tipis di wajahnya. Akhirnya oh akhirnya, pemuda ini selesai makan juga, Sasuke sudah tidak sabar menunggunya kembali ke kandang.

"Maaf, aku lupa memperkenalkan diri, namaku Inuzuka Kiba," Kiba membungkukkan badan, setidaknya di depan penyelamatnya dia harus menunjukkan tata krama.

"Haruno Sakura," Sakura ikut membungkukkan badan pula,

"Hn. Uchiha Sasuke," yang satu ini membungkukkan badannya juga, tapi... Sakura dan Kiba bahkan meragukannya, pergerakannya sangat kecil. Mata mereka seperti menangkap gerakan sekilas bagai angin lalu.

"Uchiha?" Nada suara Kiba memelan,"Sepertinya aku pernah dengar, dimana ya... Ah sudahlah, ehm... Bolehkah aku..." Kata-kata Kiba terputus. Sakura dan Sasuke menatap penuh tanya,

"Aku meminta sedikit makanan lagi? Untuk temanku,"

.

.

.

.

Suasana yang tadinya ramai akibat kehadiran tamu tak di undang, kini nyaris sepi. Bunyi televisi merambat di udara, menimbulkan bunyi bising itu memantul di dinding. Percakapan pemain drama dalam acara yang sedang berlangsung itu saling beradu, menciptakan interaksi tokoh-tokoh artis maupun aktor, saling mengasah dan mengadu kemampuan berakting mereka. Salah satu penonton acara itu adalah Sakura, ia duduk manis sambil memegang remote TV. Emeraldnya terpaku pada layar LCD tipis dimana ada gambar-gambar manusia bergerak-gerak di dalamnya. Masih di sofa yang sama, Sasuke diam menemani majikannya dengan ikut menghayati drama percintaan yang sedang di tonton, seumur-umur dia tidak pernah menonton acara terkutuk itu, baru kali ini karena tidak ada pilihan lain. Pertama, remote berada di tangan sakura dan terakhir, Sakura adalah majikannya. Sesekali ia memutar kedua bola matanya saat sang aktor terlalu melebih-lebihkan dalam berakting. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk melirik ke arah Sakura, atau mungkin mengamatinya diam-diam. Gadis itu tidak bergeming, tatapannya lurus terpaku pada apa yang di lihatnya.

"Kenapa?! Kenapa kau akhiri hubungan kita Lee?!" Seorang wanita berambut coklat sedang meminta kejelasan dari sosok laki-laki berambut bob, air mata tumpah ruah membasahi kedua pipi putihnya. Mereka berdiri di atas pasir pantai, dimana angin laut meniup-niup kedua orang itu, dan ombak mendebur-deburkan dirinya ke tepian.

"Kenapa? Kenapa kau setuju dengan keputusan ayah?!"

Lee memegang pipi kekasihnya, menghapus aliran yang mengalir di sana,"Dengar Ayame, kita tidak bisa bersama. Aku harus menikah dengan Ten-ten! Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini!"

"Kau harus menerima kenyataan Sakura. Ini adalah keputusan yang benar, kita tidak bisa bersama. Aku akan menerima perjodohan dengannya. Dia gadis yang dewasa dan... Mungkin saja tepat untukku,"

"Tidak Lee... Jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu. Ah! Kita kawin lari saja Lee. Aku ingin terus bersamamu!" Ayame memeluk prianya dengan erat. Seakan jika ia melepaskannya, pria itu akan menghilang di sapu angin.

"Aku akan berubah! Aku tidak akan kekanak-kanakkan lagi. Ku mohon... Aku mencintaimu... Aku sangat mencintaimu! Lebih dari siapapun!"

"Aku juga mencintaimu Ayame. Aku tidak bisa melepaskanmu. Baiklah, kita tinggalkan kota ini dan memulai hidup baru," matahari senja menjadi latar bagi kedua insan yang tengah di mabuk cinta itu. Lee mengusap pipi Ayame, lalu mendekatkan bibirnya ke arah bibir Ayame.

"Sakura... Mengertilah... Terima semua ini... Kita, tidak di takdirkan bersama. Aku tetap pada keputusanku. Selamat tinggal,"

.

Bibir pemuda berambut bob dan gadisnya itu bersatu. Menikmati buaian asmara di tengahnya, matahari terbenam seperti menjadi saksi bisu cinta kedua insan yang berakhir bahagia. Tapi tidak bagi Sakura, ia tersenyum miris, kenyataan memang tak seindah asa dalam kisahnya. Sejenak ia memejamkan mata, dadanya terasa sakit. Ia muak, memori-memori itu terulang kembali. Bak drama yang baru ia tonton tadi.

"Kau baik-baik saja?" Sasuke mendekatkan diri ke arah Sakura begitu melihat perubahan ekspresi pada wajah gadis itu. Sakura masih memejamkan dua pasang mata indahnya di balik kelopak, ia menarik napas dalam, berusaha meredam dentuman-dentuman dalam dadanya,"Aku tidak baik-baik saja... Perasaanku sakit,"

"Apa ini ada hubungannya dengan seseorang yang akan menikah itu?"

Sakura bimbang, apakah ia harus memberitahu Sasuke tentang semuanya? Ia tidak mau ada orang lain yang ikut campur dalam kehidupannya, biarlah ia sendiri yang menjalaninya. Namun sekarang rasanya tak tertahankan, ia ingin menumpahkan segalanya. Sayang Itachi tidak di sini.

"Ya..."

.

.

.

.

.

To be continued

.

.

.

.

Author's note:

Bagian drama yang di tonton itu author bold yah. Dan memori Saku itu yang di italic. Saya cuma bisa update sampe chap ini. Ide mengalir sih, tapi kosakata mampet nih! Hikssuhikssu. Maafkan author amatiran ini ya. Sementara mungkin saya blm update chap selanjutnya. Saya sedang dlm masa UTS! Besok sudah mulai, dan hebatnya saya sama sekali blm belajar. *don't try this at home*

Queen Devil, udah di update lagi nih. :D

Yukarindha Yoshikuni, terjawab di sini kan? :)

TanuKuma, makasih Kuma-san,:) apa yg kurang jelas ya? Dialognya ya? Hmm. Saya belum bisa memastikan. Tapi jelasnya ga lebih dari 15 rasanya. Haha. :D

Rose Whitersky, semoga chap cukup panjang jg bagi anda :D ini udah update kilat! :)

d3rin, udah di lanjutkan! Happy reading minna-minna sekalian :D

Review :3