Waktu demi waktu berlalu, tak terasa Sasuke sudah seminggu berada di Suna. Ia telah menjalankan tugasnya sebagai pengawal dengan baik. Ia juga sudah bisa meyakinkan Sakura untuk menerimanya, dan jerih payah yang sudah ia lakukan membuahkan hasil. Perlahan-lahan Sakura tidak lagi mempermasalahkan kehadirannya. Di pagi hari yang cerah ini, Sasuke memutuskan menemani Sakura bekerja, ini pertama kalinya ia akan mengawasi Sakura di luar apartemen dan pertama kali ia akan melihat tempat kerjanya, tentu saja setelah perdebatan seperti biasa (karena Sakura merasa risih untuk di kawal terus-menerus, sedang Sasuke sudah terhanyut ke dalam perannya. Seringkali mereka berbeda pendapat lalu berujung pada adu debat)

"Aku hanya pergi bekerja Sasuke, Berhenti mengikutiku," meskipun Sakura mengatakannya dengan tenang, tapi ada penolakan keras tersirat di dalamnya.

"Saya hanya ingin menjaga anda Sakura-san. Saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan anda," Sasuke membalas tidak kalah tenang.

"Dengar, aku bukan gadis dari keluarga pemimpin negeri ini, ataupun putri seorang milyarder, jadi tidak mungkin ada yang mau menculikku, lagipula siapa yang akan menculik di rumah sakit? Kau terlalu banyak nonton film action,"

"Anda seorang wanita. Akan berbahaya jika anda pulang sendiri malam-malam. Banyak pria-pria tidak benar di luar sana, begitu anda menginjakkan kaki di luar rumah sakit. Dan lagi, penjahat tidak hanya melihat status anda, selama ada kesempatan mereka akan mencari korban, tugas saya menjaga di manapun anda berada Sakura-san,"

Bungkam, Sakura mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ucapan Sasuke ada benarnya. Sudahlah, mungkin tidak ada salahnya membiarkan pemuda Uchiha itu ikut, pikir Sakura. Ia tidak bisa membantah, Uchiha sangat lihai memilih kalimat, dan satu pelajaran yang Sakura dapat, semakin di bantah Uchiha akan semakin melawan -kadang pernyataan ini tidak berlaku untuk Itachi. Dia bukan orang bodoh, awalnya ia sempat merasa familiar mendengar Uchiha dari nama kedua pengawalnya, dan dia langsung tahu. Ayahnya -bukan seorang yang teramat pebisnis sukses kaya raya, hanya seorang pebisnis biasa- suka mengupdate berita-berita tentang usaha bisnis, mulai dari membaca koran, internet, menonton berita dan semuanya di penuhi dengan nama Uchiha, penguasa bisnis pasar terkemuka. Entah Uchiha Fugaku, Uchiha Madara, Uchiha ini, Uchiha itu dan masih ada Uchiha-Uchiha lainnya termasuk Uchiha Sasuke yang satu ini, dia masuk dalam biografi kehidupan Uchiha, contohnya: Uchiha Fugaku memiliki dua putra, yakni Uchiha Sasuke dan Uchiha Itachi. Hal lainnya, mengapa Sakura mengatakan Uchiha tak terbantahkan, lihai memilih kata, dan seterusnya, pernah sekali ia menonton sebuah variety show yang mengundang pebisnis terkemuka se-Hi itu, lalu entah apa pembicaraannya yang jelas kata-kata berkharisma mengalir dari mulut Fugaku-sama dengan lancarnya, membuat penonton maupun pembawa acaranya diam seribu bahasa saking terpukaunya kemudian memberi tepuk tangan meriah. Namun, meskipun keluarga Uchiha sangat terkenal, kehidupan privasi mereka terjaga dengan baik; bagi anggota keluarga yang tidak tersentuh kehidupan bisnis, seperti istri dan anak-anak Uchiha. Pernah sekali Sakura melihat foto seluruh keluarga besar Uchiha di internet tapi keesokan harinya gambar itu lenyap. Jadi, ketika Itachi menjadi pengawalnya, Sakura tidak begitu tahu-menahu, Itachi juga tidak menyebutkan marganya -Sakura pun tidak mau repot-repot menghafal satu-per-satu wajah-wajah para Uchiha-, ia baru tahu Itachi adalah seorang Uchiha setelah satu setengah tahun bersamanya, kau akan tahu ketika mereka menyebutkan nama lengkap, atau dengan bangga memberitahumu marganya. Ok, kembali ke Sasuke dan Sakura.

Mobil-mobil berjejer memadati basement kala itu. Semuanya terparkir dengan rapi, meskipun ada beberapa yang sembrono, tapi setidaknya mereka masih tahu diri dengan tidak memarkirkan mobilnya secara horizontal. Sakura mengaduk-ngaduk tas cream-nya, berusaha mencari kunci mobil dalam sana, begitu menemukan yang ia cari, Sakura melemparkannya pada Sasuke, pemuda itu menangkap dengan cekatan. Lampu kuning mobil berwarna biru gelap berkedip-kedip saat tombol unlock di tekan. Mereka bergerak menempati kursi masing-masing, Sasuke bagian pengemudi sementara Sakura di sampingnya, setelah memasang safety belt, Sasuke menginjak gas.

.

.

.

Tempat Sakura bekerja ternyata sebuah rumah sakit terkenal di Suna. Terbesit rasa penyesalan dalam hati Sasuke, harusnya ia menawarkan antar-jemput saja daripada ribuan pandangan kaum hawa memandanginya lekat dan seperti... Entahlah, memuja? Terpesona? Curiga? Sebab kaum adam yang berkunjung ke rumah sakit itu bisa di hitung jari. Sasuke tidak menemukan seseorang yang sejenis kelamin dengannya dalam pakaian pasien, kecuali bapak security berseragam.

"Selamat pagi Haruno-san," sapa salah seorang recepsionist berambut pirang, sempat ia melirik Sasuke yang tengah mengekor di belakang Sakura.

"Ah, selamat pagi Shion-chan," Sakura membalas sapaannya dengan senyuman kecil. Ia berjalan mendekat ke arah meja recepsionist.

"Dia siapa Haruno-san?" Shion setengah berbisik, sebisa mungkin agar Sasuke tidak mendengarnya.

"Ah, kau ingat Itachi? Dia adiknya. Ng... Dia..." Kini Sakura berusaha mencari alasan. Ia tidak mau tersebar gosip tentangnya di tempat kerja, ia tak suka cerita tentang dirinya di lebih-lebihkan atau di sebut-sebut gadis manja yang kemana-mana di kawal. Yah, Kiba mungkin pengecualian.

"Itachi?"

"Iya, Itachi, eng... Temanku itu, yang pernah ku kenalkan padamu. Ini adiknya, dia... Ah, dia ingin melihat tempat kerjaku," Sakura mengarang cerita dengan lancarnya, Shion cuman mengangguk-angguk. Gadis bermata lavender itu membuka laci, mengambil berkas-berkas lalu menyerahkannya pada Sakura,"Ini pasien-pasien yang telah membuat janji dengan anda Haruno-san,"

"Ah ya, terima kasih Shion-chan," Sakura membuka-buka profile pasiennya, mengamatinya sesaat. Ia akan berbalik ke ruangannya setelah melempar senyum kecil pada sang recepsionist. Emeraldnya menangkap sosok Sasuke yang terpaku memandangi huruf-huruf besar yang terpasang di tembok tepat di atas meja recepsionist.

"Kau mau menunggu di ruanganku?" Suara Sakura membuyarkan pengamatan Sasuke.

"Hai'"

.

.

.

.

"Jadi, ada keluhan lainnya?" Tanya Sakura, tangannya menari-nari lincah di atas secarik kertas putih.

"Tidak ada lagi Haruno-san," pasien Sakura memandangi dirinya, kemudian beralih pada Sasuke yang kini tengah duduk sedikit tidak rapi di atas sofa berwarna merah muda,"Haruno-san, apakah dia juga akan berkonsultasi dengan anda?" Sakura mengangkat kepala, matanya mengikuti arah telunjuk pasiennya, sambil tersenyum kecil ia bertatap muka dengan pasiennya,"Bukan, dia teman saya,"

Seperti biasa Sakura memberikan kertas untuk kemudian di ambil di apotek khusus, pasiennya membungkukkan badan, tidak lupa mengucapkan terima kasih. Ketika pintu merapat sempurna, Sakura melirik ke arah Sasuke. Pemuda itu tengah mengedarkan pandangan bosan ke sekiling ruangan. Kesan pertama Sasuke menginjakkan kakinya dalam ruangan itu adalah minimalis. Cat temboknya berwarna biru turquoise, perabotannya tertata rapi dan unik, bentuk-bentuknya terbilang aneh tapi cantik. Sudah lebih dari 2 jam Sasuke menunggu, ia menguap lebar, berusaha mengusir rasa bosan. Sakura sudah di temui beberapa pasien, ada di antaranya begitu duduk berhadapan Sakura, pasien itu terus menatap Sasuke seolah-olah dia mangsa empuk bagi serigala. Ada lagi yang mengira ialah dokternya, padahal seluruh dokter di rumah sakit ini mayoritas perempuan, entah sengaja mencari perhatian atau memang tidak tahu.

Sakura meletakkan bolpointnya hati-hati, di regangkannya tubuh yang terasa kaku. Jam sudah menunjukkan waktu makan siang, pertanda mereka harus mengisi perut yang kelaparan.

"Sakura-san, ini sudah waktunya makan siang. Anda ingin saya bawakan makan siang apa?"

Emerald Sakura sedikit menoleh ke arah Sasuke, lalu kembali terpekur pada kerjaannya,"Tidak usah Sasuke. Kau makan saja duluan,"

"Hn," satu kata ambigu terucap dari mulutnya. Sasuke lantas pamit dan meninggalkan ruang kerja Sakura.

.

.

.

Suasana kantin cukup sesak, mengingat ini adalah jam makan siang di mana orang-orang akan berkerumun mencari makan demi perut mereka. Sasuke mengantri di salah satu stand makanan yang menjual berbagai macam bento. Pengantri di depan Sasuke keluar dari barisan sambil menenteng tiga kantung plastik bento-nya,

"Dua tempura bento,"

Sang kasir mengambil uang dari tangan Sasuke dan langsung menyerahkan pesanan pemuda itu. Hiruk-pikuk kumpulan manusia berkumandang di udara, mereka meluangkan waktu makan siang untuk asik bercengkrama. Sasuke berjalan kembali ke ruangan Sakura, baru saja ia akan membuka pintu seseorang menyapanya,

"Sasuke?"

.

.

.

.

Semakin cepat hari berganti hari, semakin cepat pula hari itu mendekat, hari pernikahan seseorang di masa lalu Sakura. Apakah kita harus mengatakannya masa lalu? Sakura bahkan masih belum bisa melupakannya. Suasana kediaman keluarga Haruno makin sibuk, mempersiapkan segalanya untuk hari penting itu.

"Mebuki, kau tidak menghubungi Sakura? Suruh dia pulang," Kizashi memberi perintah, ayah Haruno Sakura itu sibuk mengurus bisnisnya di saat anggota keluarga lain mondar-mandir mengatur dekorasi acara.

"Kau tahu Sakura kan? Dia mewarisi sifat keras kepalamu itu, dia tidak akan mau pulang. Dan, demi Tuhan Kizashi... Berhentilah mengurusi hal lain!" Mebuki berhenti menyibukkan dirinya, rangkaian bunga nan indah bersemayam dalam genggamannya. Ingin sekali ia berkacak pinggang, bahkan kalau bisa menyeret suaminya berdiri dari meja kerjanya itu.

"Hhh... Iya iya, Gaara!" Kizashi tidak menggubris omelan istrinya, merasa di abaikan, Mebuki kembali melanjutkan aktivitas. Seseorang yang merasa namanya di panggil muncul dari balik pintu,"Ya otou-san?"

"Jemput Sakura dan bawa dia kembali ke rumah,"

.

.

Sasuke masuk ke ruangan Sakura, tapi kali ini tidak sendiri, ia bersama dengan seorang gadis cantik berambut pirang seperti Shion hanya saja pirangnya ini lebih mencolok. Sempat Sakura memasang wajah heran, apakah Sasuke menyilahkan pasien masuk, atau mengajak temannya bertamu, sebab dari tindak-tanduknya Sasuke dan gadis itu adalah teman, jika di lihat dari keakrabannya. Poninya panjang menjuntai, menutupi separuh wajahnya, ia duduk di tempat pasien-pasien Sakura biasa datang berkonsultasi, Sasuke bukannya duduk di sofa tempat tadi ia menunggu, pemuda itu malah berdiri di samping gadis itu.

"Haruno-san, perkenalkan ini teman lama saya," ia memulai pembicaraan. Hampir tepat dugaan Sakura, gadis ini kenalan pengawalnya.

"Yamanaka Ino," gadis bernama Ino itu membungkukkan badan,

"Haruno Sakura, apa kau datang untuk berkonsultasi?" Tanpa basa-basi Sakura langsung bertanya, tidak lupa senyum ramah di wajahnya.

"Ah, iya! Aku tidak menyangka kenalan Sasuke adalah seorang dokter cantik seperti anda," Ino tertawa kecil.

"Arigatou Yamanaka-san, saya sangat tersanjung," Sakura membalas dengan senyuman kecil, ia melirik ke arah Sasuke,"Kau dan Sasuke bisa melanjutkan reuni setelah kita selesaikan konsultasi ini," tidak lama berselang, kedua gadis berbeda profesi itu terlarut dalam pembicaraan serius. Sasuke meletakkan bento Sakura, ya, itu tadi bento untuknya. Setidaknya ia masih sadar tanggung jawabnya sebagai pengawal sekaligus pengurus Sakura. Ia kembali duduk di sofa untuk menikmati makan siangnya.

Usai konsultasi, Sasuke dan Ino benar-benar melakukan reuni. Mereka asyik bernostalgia, sampai-sampai Ino bercerita dengan sangat bersemangat. Sakura hanya sebentar berkumpul dengan mereka, kemudian dia memutuskan untuk membiarkan keduanya berbincang-bincang karena rasanya ia tidak terlalu masuk dalam pembicaraan mereka. Sampai keduanya puas bercerita, Ino kemudian pamit. Sasuke dan Sakura pun kembali ke apartemen, meninggalkan gedung itu.

.

Suna Beauty Medical Centre.

.

.

.

.

Seorang pemuda tengah meratapi bintang-bintang di langit yang kelam. Berusaha meresapi pemandangan agung ciptaan Tuhan. Pikirannya terbang, melayang-layang. Ia tidak sedang dalam beban, cuman sesuatu mengawang dalam pikirannya.

"Apa yang kau pikirkan nak? Kau bisa masuk angin di luar sini," seorang wanita merapatkan mantelnya, tadi sempat ia melihat anaknya ini termenung sendiri di luar, padahal cuacanya dingin. Ia pikir anak lelakinya itu sedang memiliki masalah, padahal hari bahagianya sebentar lagi,"Sakura kah?"

Pemuda itu menggeleng, wajah ibunya langsung berubah drastis saat menyebutkan nama indah itu,"Tenanglah bu, aku dan Sakura... Tidak ada hubungan apa-apa,"

.

.

.

.

To be continued...

Author's note:

Okay, saya memang sedang UTS, tapi rasa malas terlalu menguasai kepala ini, di tambah hari konser BIGBANG tinggal menghitung hari, saya benar-benar tidak bisa memasukkan bahan-bahan pelajaran. Miapah! Aku galau! Ciyus!

Semoga chap ini bisa memberikan anda kepuasan. Fic ini juga yang bkin batin gak tenang, pengen cepet2 update makanya ga konsen bljr. Di sini adalah pertama kaliny Sasuke melihat Sakura bekerja. Karena sebelum2nya Sakura sempat cuti beberapa hari. Itachi sering mengantar pergi Sakura kerja, bukan mengawal spt Sasu, dan dia pernah di kenalin sama Shion. Sakura tidak dingin loh yah, dia karakternya lembut dan dewasa dalam cerita ini.

Rose Whitersky, hihihi, soalnya gatau mau pake karakter yang mana, jadilah Lee dan Ayame, hahah. Sipp! Ini udah update lagii.

Hoshi Yukinua, terimakasih minna :3 silahkan menikmati cerita ini!

Akasuna no ei-chan, iyah, hiksi-hiks rasanya dia selalu tersakiti. Huhuu. Yap! Salam kenal juga minna! :3

Review.