Ch 1: With tears, I remember you.
Crisan : Maaf updet lama. Soalnya Crisan single fighter untuk chap ini. Soalnya Fratellon gak ada.
Oxxy : Yah... Oxxy balik ke Milan soalnya (Ngomong lewat skype)
Crisan : Tolong ada yang mau bacain disclamer dan warning?
Jaya : Bolehkah?
Oxxy : Tentu ^_^ Jaya:
Disclamer : Hetalia (c) Hidekaz Himaruya. But this fic is their. Gak berani ngeclaim Indonesia dan Malaysia punya mereka, Soalnya Hidekaz-san udah bikin tuh 2 chara. And inspirated by Protect the Boss Warning : AU, abal, jelek, typo(s), OOC sangat, beberapa uke genderbender dan kekurangan yang lainnya.
Don't Like, Don't read.
Semua jenis ripiu diterima di sini ^-^
Ch1, With Tears, I Remember You.
"Nilai Kirana terus meningkat, tingkatkan terus, ya."
"Akan saya usahakan, sensei"
"Kalau begitu kami permisi."
"Ya, silakan"
Anggara Mahendra membungkukan tubuhnya sedikit, lalu pergi dari hadapan wali kelas Kirana. Wajah senang tak terelakkan dari wajah ayah Kirana Kusnapaharani itu, karena sang putri berhasil menduduki peringkat satu di kelasnya dan peringkat 3 pararel. Sungguh sebuah kemajuan bagus dibanding saat gadis itu masih SMP.
"Bagus sekali nak. Sepertinya Kiku mengajarimu dengan baik." ujar sang ayah sambil mengacak rambut Kirana, sedang gadis itu hanya tersenyum padahal dalam hati kesal bukan main. Berkat kata-kata ayahnya barusan ia jadi ingat kejadian itu yang benar membuatnya kesal bukan main.
'Iya sih diajarin dengan baik, tapi… Ukh, metode pengajarannya… ' batin Kirana sembari teringat kejadian 1 minggu sebelum ujian semester 1 yang menurutnya adalah seminggu yang benar-benar sangat menyebalkan. Ah sudahlah, tak usah dibahas lagi.
Mereka berdua berjalan beriringan sembari mengobrol ringan. Kadang gelak tawa terdengar, baik tawa Kirana –yang hampir membuat semua orang tercengang melihat tawa langka itu.- maupun ayahnya. Mereka berdua benar-benar menikmati waktu-waktu santai seperti ini.
"Bisakah kita pulang sekarang? aku lelah sekali." ucap si pemuda bermata monochrome dan sukses menghentikan perbincangan mereka berdua. Kirana yang sebal langsung men-death glare pemuda itu tapi, sayangnya sama sekali tak digubris oleh si pemuda. Ayah hanya bisa menatap miris dua 'anak'nya itu.
"Kalian pulanglah duluan. Ayah masih harus mengurus tiket dan jadwal keberangkatan kita." kata ayah sembari menyerahkan map berwarna hijau dan coklat yg berisi rapot dan piagam-piagam dari Kirana dan Kiku. Kirana menatap heran sang ayah sembari memeluk map itu.
"Sama siapa, Yah?" tanya kirana agak khawatir. ayah tersenyum lalu mengacak rambut hitam legam kirana.
"Sama hayato-san," ayah merogoh saku celananya,mengambil kunci mobil dan memberikannya ke Kiku."Kebetulan dia juga mau ke bandara dan mengurus tiket, jadi sekalian saja. Kalian berdua pulanglah dan rapihkan barang2 yang akan dibawa." lagi ayah mengacak rambut Kirana lalu rambut Kiku sambil tersenyum dan meningkalkan double K yang nampak kesal karena rambut mereka berantakan.
Oh ya, sudahkah kami katakan bahwa mereka bertiga akan pergi ke Indonesia untuk liburan? kalau belum maafkan kami. Lupa itu penyakit setiap manusia,kan? Oke OOT
Jadi, memang sejak pindah ke Jepang sudah merupakan suatu kebiasaan untuk Kirana dan sang ayah untuk 'pulang kampung' setiap libur panjang. Berhubung keluarga mereka tambah 1 orang, jadilah kiku ikut-ikut kebiasaan keluara barunya. Lagi pula Kiku suka kok dengan Indonesia. Sekalian bisa sekalian haunting spot-spot cantik untuk dipotret. Indonesia kan terkenal dengan keindahan alamnya, ya kan?
Setelah memandang kepergian ayah mereka yang makin menghilang dari pandangan. Kiku pun menarik pergelangan tangan kirana pelan, mengajak sang gadis untuk pergi dari tempat itu dan segera pulang. tapi sayangnya…,
"Rana!" seruan itu sukses membuat keduanya menoleh kesumber suara secara bersamaan dan mendapati sesosok pemuda dirty blonde tengah berlari ke arah mereka. Eh, Kirana maksudnya.
"Ada apa, Peter?" tanya Kirana datar. Tangan kanannya menggenggam tangan Kiku yang tadi digunakan untuk menarik tangannya. Peter yang melihatnya hanya memandang hal itu dengan tatapan... Ehem cemburu.
"Eng… itu kakakku mengajakmu ke vila keluarga kami. 4th tsundere yg lain juga akan ikut. bagaimana? ikut,ya~" ajak Peter panjang bin lebar. Kiku mengangkat sebelah alisnya bingung.
'dia tidak tau yah?' batin Kiku sembari menatap Peter yang sedang melancarkan jurus puppy eyes no jutsu.
"Aku tak bisa. Kami bertiga punya acara sendiri liburan ini." ucap Kirana lalu berbalik dan menarik Kiku perlahan. 2 orang itu berjalan 'mesra' meninggalkan Peter yg sekarang bergalau ria karena permintaannya ditolak kirana. "Sampaikan maafku pada Arthur-senpai. Sampai jumpa.!" seru Kirana sebelum menghilang di belokan koridor.
'Yah,mision 1 failed.' Batin Peter sambil menghela nafas pasrah.
"Oke, semua selesai." gumam Kirana sembari menepuk kopernya yg tampak penuh. Ia menghela nafas lalu merenggangkan tubuhnya yg cukup kelelahan setelah beberapa jam berkutat dengan barang yg akan dibawanya dan beberapa oleh-oleh untuk 'seseorang'. Seulas senyum ia tunjukkan pada figura foto dirinya dan seorang anak kecil di atas meja. Anak yang akan ia berikan sebagian dari oleh-oleh yang dibawanya.
Tapi entah mengapa air matanya jatuh saat sekejap ingatan melintas di kepalanya.
'Maaf, kak… '
"Jadi?"
"Yah, boleh dibilang ini akan jauh lebih sulit dari yg kita bayangkan, Dad, Mom."
"Kalau begitu secepatnya kita cari tau kemana mereka pergi, Ian"
"Tak usah repot begitu,"
"Haah?"
"Aku tau kok tujuan mereka."
"Memang mereka akan kemana, Sat?"
"Tentu saja, Indonesia. Memang kemana lagi?" ucap si pemuda berambut hitam kecoklatan sembari menyeringai ke arah 4 temannya yang semua bermbut pirang. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah jendela yang merupakan satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu.
"Berhati-hatilah kau," ia menatap seorang pemuda yg tengah berjalan keluar dari sebuah swalayan di sebrang bangunan itu, lalu menyeringai dengan sangat menakutkan.
"Kiku Honda."
Kiku menatap keluar beranda kamarnya. Langit senja yang berwarna indah dan terpaan angin sore membuatnya merasa nyaman. Dulu, saat Otou-san dan Okaa-sannya masih ada, mereka akan menghabiskan waktu senggang seperti sekarang dengan minum teh bersama sambil bersenda gurau. Saat itu begitu jarang bisa terjadi. Maka ia benar-benar menikmati saat-saat itu.
Tapi, mengingat semua itu, entah mengapa malah membuat dadanya sesak.
-Tess-
"Hiks… Kaa-san, Tou-san" gumamnya lirih. Air matanya turun tanpa perintah. Perlahan tangan kanannya meraih liontin hati yang sampai sekarang tak pernah ia bisa buka, karena kuncinya entah di mana. Itu hadiah yang paling berharga yang pernah diberikan oleh kedua orang tuanya.
-Tess-
Di balik pintu kamar Kiku yang sedikit terbuka, Kirana mengintip keadaan 'Pangeran'nya. Air mata pun turut mengalir dikedua pipinya, bak turut merasakan kesedihan sang 'Pangeran' yang dijaganya. Tangannya yang memegang piring berisi buah-buahan itu bergetar. "Aku harap kau mau melepas semua rasa sedihmu dan terus tersenyum seperti biasanya." ia pun berbalik dan pergi dari tempat itu sebelum ia semakin tenggelam dalam rasa empatinya yang memang sangat besar.
Kuala Lumpur, 11.29 PM
Malam sudah hampir larut tapi pemuda berambut coklat itu masih belum terlelap. Ia duduk di kasurnya sembari memandangi foto 3 orang bayi yang semuanya mirip satu sama lain, lalu tersenyum miris. Disentuhnya layar laptop itu lalu dielusnya perlahan air mata pun perlahan mengalir dari sudut matanya.
"Ya, Na, aku kangen kalian berdua." gumamnya seraya terus mengelus layar laptopnya yang masih menampilkan foto 3 bayi itu. Perasaan sedih yang selalu sulit dibendung, membuat air matanya terus mengalir. Dia… dia benar-benar rindu 2 sosok bayi yang berada ditengah dan kiri foto itu. Yang sekarang pastinya sudah tumbuh menjadi remaja sepertinya.
tok tok
"Zac, sudah tidur nak?" sesosok wanita paruh baya muncul dari balik pintu kayu kamar si pemuda yg dipanggil Zac itu. Buru-buru ia menghapus air matanya dan menutup laptopnya.
"Belum, Bun. sebentar lagi Zac tidur." ucapnya dengan nada senang yg dibuat-buat. Sang bunda hanya ber'oh' ria. Tak menyadari perubahan raut wajah pada putranya yang tak tampak jelas karena minimnya pencahayaan di kamar itu.
"Cepat tidur. Besok kita harus berangkat ke Yogya pagi-pagi." kata sang bunda lalu keluar dari kamar sang putra dan menutup pintunya.
Zac menghembuskan nafas berat, lalu menatap lonceng angin berwarna merah transparan yg tergantung di jendela kamarnya yg terbuka. Lonceng yg berukirkan namanya itu berbunyi ketika angin malam menerpanya.
-Tinggg tringgg tingg-
'Na, Ya, kalian dimana? Aku ingin bertemu.' lagi air mata itu mengalir di pipinya.
'Tuhan, aku mohon. pertemukan kami di tanah kelahiran kami Tuhan… ' pintanya sembari menatap nanar langit-langit kamarnya.
Di tempat lain di sudut kota Tokyo, pemuda bermata hitam kecoklatan itu menatap langit malam yg begitu gelap. Sinar bulan dan gemerlap bintang nampak enggan menerangi langit hari ini karena suasana jalan dan gedung-gedung mewah lebih menarik perhatian para makhluk bumi dari pada sinar alami yang mereka pancarkan.
Tapi tampaknya itu tak jadi masalah untuk si pemuda. Karena sebenarnya mata cantik itu kosong dan pikirannya melayang entah kemana. Perlahan setetes demi seteteter air mata turun melewati pipinya. Lama kelamaan semakin deras dan tak terbendung lagi.
'Aku ingin, ingin sekali kita bisa bertemu dan bersama… ' air mata itupun terus mengalir dengan derasnya. Dipeluknya perlahan tubuhnya sendiri. Berharap bisa mengurangi sedikit rasa kesedihan dan kesepiannya.
Tapi sayang, air mata yg terus mengalir menandakan betapa dalam lukanya dan tak mungkin disembuhkan oleh dirinya sendiri. Ia membutuhkan orang lain untuk menutup luka ini dan menggantinya dengan kasih sayang dan kebahagiaan yang selalu ia dambakan.
Perlahan dirasanya sesosok tubuh yang jauh lebih besar memeluk tubuhnya yang kecil berbalut piyama tipis itu. Mengecup pelan puncak kepalanya dan mengelus rambut hitam kecoklatanya. Berusaha untuk menenangkan pemuda itu.
"Sst… sudah jangan menangis. Aku janji, aku akan segera mencari 2 saudaramu dan kita habisi sang target terakhir." ucapnya pelan, berusaha menenangkan. Tapi, sang pemuda dalam dekapannya malah menangis semakin kencang sampai dirasa piyamanya basah dengan air mata sang pemuda dipelukannya.
'Menangislah sepuasmu. Tapi besok, kembalilah ceria seperti biasanya.' batinnya seraya mengecup puncak kepala sang pemuda.
Aku senang sekali mengingatmu. Tapi, kenapa? Kenapa rasanya dada ini sakit. Sakit sekali sampai-sampai air mata mengalir begitu saja. Aku memang sangatlah merindukanmu dan dengan mengingatmulah cara termudah untuk meluapkan rindu. Tapi, kenapa air mata harus turut mengalir juga? (Kirana, Kiku, and 2 orang pemuda)
To Be Continue
listening: i'll be there for you by chibi.
read: Autum Tears by Dominique Angery Mahar aka our Hermano
at: Restu cafe
Kirana: Gue OOC banget. -.-"
Kiku: Sama... -.-"
Oxxy: Mia Sorella memang pandai bikin chara OOC dengan imajinasinya yang setinggi langit itu.
Crisan: Pujian atau hinaan? –tatapan tajam-
Oxxy: Err... –Skype off-
Jaya: Gak gentelman banget deh kau, Ox.
Crisan: Udah lah. Balas riview gak login dulu,
Deiharu Dianita:
Makasih untuk pujiannya juga untuk pemberi tahuan typo. Maaf, kami masih newbie jadi masih banyak kekurangannya.
Ini udah update. Maaf lama banget #bow.
Silv:
Terima kasih banyak untuk pemberi tahuannya. Fic ini memang tergolong instan dan kami berdua memang type orang yang males mengedit fic ini. –mohon jangan ditiru-
FG itu singkatan Fans Girls dan HHS itu Hetalia High School.
Sekali lagi makasih.
Jaya: Udah?
Crisan: Ya. Kalau begitu,
ALL: RIVIEW MINNA!
