Protec the Prince
Oxxy : Ah… akhirnya bisa melanjutkan fic ini setelah sekian lama terbengkalai. Ya, kan, sorela?
Crisan : Mungkin saja. Sudah jangan banyak bicara langsung baca disclamernya aja.
Oxxy : Oke! Hetalia punya Hidekaz Himaruya-san, saya hanya punya fic ini. Warning standar aja, paling OOC aja yang disangatkan di sini.
Crisan : Terserah deh. Enjoy!
Chapter 2: Nice (dor) to meet you!
Yogya, 08.00 pm WIB
Kirana mendecih kesal ketika mobil sport berwarna putih itu melaju dengan kecepatan sedang. Sekarang ia baru sadar kenapa sejak tadi pemuda yang tengah menyetir disampingnya ini menghilang entah kemana. Ternyata, ck… dia beli mobil ini cash. Bayangkan CASH! Padahal, di rumahnya ada 3 mobil yang nganggur dan salah satunya ferari miliknya.
Dan sumpah, alasanya yang tak masuk akal itu semakin membuatnya kesal.
"Aku hanya tak ingin merepotkanmu. Lagipula, mobil itu milikmu bukan milikku. Aku lebih suka memakai yang milikku."
Ya Gusti, Kirana ingin sekali berhead bang ria atau malah membanting pemuda itu sekalian. kalau saja dia tak ada di dalam mobil ini dan sedang dalam perjalanan menuju rumah tempat 'anaknya' berada, mungkin semua itu sudah dilakukanya.
Sekitar 10 menit kemudian, akhirnya mereka sampai di sebuah ruma bergaya Jawa kuno, atau biasa di sebut sebagai rumah Joglo. Di teras rumah itu, berdiri seorang anak kecil yang sekarang tengah berjingkatan senang ketika Kirana melambaikan tangan dari atas mobil –atapnya terbuka-.
"Bunda! Eyang, Bunda datang! Eyang!" seru anak kecil itu senang bukan main. Kirana hanya tersenyum dan buru-buru turun dari mobil. Ia berlari dengan semangatnya, membuat Kiku berfikir Kirana masih jetlag.
Padahal, pada kenyataanya, Kirana hanya ingin meraih anak kecil itu dan langsung mengendongnya. Mendekapnya erat dan mencium pipi chubby anak itu. Senyum senang sekaligus rindu terpampang jelas diwajahnya yang lelah itu. Membuat Kiku terenyuh sesaat. Ia tak pernah melihat Kirana seperti ini.
Yah walauapun dari penjelasan singkat –dan dengan nada kesal yang begitu kentara- darinya tentang anak ini, Kiku masih tak percaya dengan sosok Kirana yang tengah dilihatnya sekarang adalah sosok Kirana yang tsunderenya kelewatan.
"Garuda Aji Kusuma, apa kabarmu, sayang?"tanya Kirana dengan nada senang bukan main. Anak kecil bernama Garuda itu hanya tertawa riang sebagai jawabannya. Dan lagi-lagi Kiku dibuat terkaget bukan main, anak ini ternyata memanglah sangat berharga bagi Kirana.
"Baik! Baik! Eh? Siapa kakak itu?"tanya Garuda ketika matanya yang monochrome melihat ada keberadaan orang lain selain dia dan Bundanya. Kirana tersenyum sesaat, lalu perlahan mendekati Kiku dengan Garuda tetap digendonganya.
"Ini Kak Kiku, dia um…"Kirana tak melanjutkan penjelasanya. Wajahnya tiba-tiba blussing dan terlihat sedikit bingung. Membuat Garuda dan Kiku menatapnya aneh dan bingung.
"Dia pacar Bunda."bagai mendapat harta karun tak ternilai harganya, Kiku merasa senang bukan kepalang dengan pernyataan Kirana barusan . Tapi, dia tetap bersikap cool dan hanya tersenyum sebagai reaksi wajarnya. Garuda tersentak sebentar sebelum ia tersenyum lebar.
"Yey, Garuda punya Yanda! Makasih Bunda."Garudapun langsung memeluk erat Kirana, sedangkan Kiku langsung membeku di tempat. Apa? Yanda? Maksudnya jadi ayah begitu?
'Aku mohon, kalau seandainya nanti dia memanggilmu Yanda (Ayah), tolong turuti saja.'Kiku tersenyum mengingat permintaan yang terlontar dari mulut Kirana sesaat setelah ia menjelaskan tentang anak ini. Ah… ia mengerti sekarang.
"Kalau begitu, kenapa kau tak memeluk Yanda, hem?"tanya Kiku sambil merentangkan tangannya. Garuda tertawa sesaat sebelum berpindah tangan dari Kirana yang mematung dengan wajah yang sangat memerah ke Kiku yang tampak begitu senang. Ia tak percaya bahwa Kiku akan melakukan hal yang dimintanya tadi.
Lalu keduanya terdiam, kecuali Garuda yang masih terkikik senang mendapat seorang Yanda. Walaupun bukan Yandanya yang sesungguhnya, Garuda yakin ini sama saja.
"Aih, nak Kirana, Kiku, Garuda, ayo masuk. Kenapa malah bicara diluar? Wong didalam lebih hangat kok." Ucap seseorang dari arah pintu. Otomatis, Kirana dan Kiku menoleh kea rah sumber suara. Di sana berdiri wanita paruh baya yang tengah menggunakan apron. Kirana dan Kiku mengangguk kemudian masuk kerumah itu.
"Jadi mau langsung bawa Mas Aji pulang? Mbok yo nginep dulu toh, Ran."Kirana hanya tersenyum singkat sembari sembari menutup bagasi mobil Kiku.
"Ndak bisa, Bu. Kirana harus segera pulang. Ndak enak ditunggu banyak orang di rumah. Lagian, besok Ibu langsung pergi ke bandara, kan?"ucap Kirana menolak dengan halus. Ibu Mutthi, nenek Garuda hanya mendesah pelan.
"Sudah lah, Bu. Mbok yo jangan egois toh. Nah, Ran, hati-hati di jalan."ucap Dion, anak Ibu Mutti, Mas sepupu Kirana sembari mengelus pundak ibunya. Kirana tersenyum lalu segera masuk ke mobil.
"Hati-hati di jalan, ya, Kiku. Hari sudah semakin malam. Jangan ngebut-ngebut." Ucap Mas Dion pada Kiku yang sudah berada di dalam mobil lewat kaca jendela pintu kanan.
"Iya Mas. Kiku bakal hati-hati. Sudah ya Mas, Bu, kami pamit." Ucap Kiku sembari menstater mobilnya dan mulai mundur perlahan. Walau suara mobil dan jalan ini begitu halus, tetap saja ia tak mau membangunkan Garuda yang sekarang tertidur dipangkuan Kirana.
"Yo, hati-hati."ucap Dion sebelum mobil Kiku meluncur menerobos jalan yang lengang dan hanya di terangi cahaya rembulan dan lampu-lampu jalan. Setelah dirasa mobil Kiku sudah mulai menghilang dari pandangan, Dion menghela nafas lalu berbalik.
Dan betapa terkejutnya dia melihat Ibunya menangis.
"Ibu, kenapa menangis toh?"tanyanya panik sembari merangkul ibunya. Ibu Mutthi henya tertawa kecil sembari mengelap air matanya.
"Ibu hanya teringat mbak yu dan masmu itu. Ibu takut kejadian dulu terulang lagi."Dion tersentak ketika kalimat itu meluncur dari mulut ibunya. Refleks ia langsung memeluk ibunya erat.
"Ndak, Kiku berbeda dengan Mas Beni, dia sangat hati-hati. Dan Kirana berbeda dengan Mbak Aya, dia… pokoknya Kirana itu ndak sama dengan Mbak Aya yang egois itu. Pokoknya beda. Sudahlah, Bu, Dion ndak mau denger apa-apa lagi soal mbak Aya."ucapnya panjang lebar sembari mempererat pelukannya dan berusaha menahan emosinya yang hendak meledak karena mengingat orang itu.
'Pokoknya, Dion yakin, Bu, Kirana dan Kiku itu akan saling melindungi. Bersama mereka, Garuda akan baik-baik saja.'
07.39 am Bandara Sukarno-Hatta.
Razak terdiam semabri tetap mengutak-atik Black Berrynya yang terus berbunyi. Sebenarnya dia bukan mengutak-atik ponsel hadiah saudara angakatnya itu, lebih tepatnya ia sedang sibuk membalas BBM dari seseorang.
Raazac Zac Zacky
Udah gempor nunggu nih. Kopormu belum keluar juga?
Tidak lebih dari 5 detik kemudian, BB Razak kembali berbunyi.
Vanya Anya Braginsky
Tau tuh. Apa sebaiknya aku pukul pakai pipa saja, ya, mereka biar cepat mengeluarkan koporku, da?
Razak bergidik membaca pesan barusan. Aih… yandere turunan ayahnya keluar deh. Dengan cepat, Razak membalas BBM itu.
Raazac Zac Zacky
Tidak, jangan yang aneh-aneh Vanya. Ini negara orang!
Tringg
Vanya Anya Braginsky
Tentu saja, da. Aku kan kan tak punya negara, da.
Raazac Zac Zacky
Hahaha… Jayus!
"Siapa yang Jayus, da?"Razak tersentak ketika mendengar suara khas itu. Terlebih dengan aksen 'da'nya. Tak perlu menoleh pun ia tau siapa gadis itu.
"Salam yang sangat tak baik, Anya sayang. Aku rasa kau perlu diajari sopan santun."ucap Razak sembari tersenyum mengejek dan memasukan kedua tanganya kedalam saku bajunya. Gadis yang bernama lengkap Vanya Ai Braginsky itu hanya mendecih pelan.
"Da? Mama selalu mengajariku dengan baik, da. Papa juga. Jadi kau tak perlu mengajariku lagi."balas Vanya sembari mulai berjalan meninggalkan Razak yang masih bersandar pada tembok bandara. Wajahnya terlihat sebal.
Razak terkikik pelan sembari mengejar kekasihnya yang lebih tinggi sedikit darinya itu. Kadang, ia bersyukur bahwa gadis ini lebih tua setaun darinya, sehingga ia tak perlu takut malu karena sedikit lebih pendek dari kekasihnya itu. Dan lagi, gadis itu masih memiliki darah asia yang kental, sehingga ia bisa dengan cepat menyusul tinggi gadis blasteran Russia-China itu.
Setelah ia dapat mensejajarkan jalanya, dapat ia lihat wajah gadisnya itu tengah ditekuk alias ngambek. Lagi, Razak terkikik pelan. Ais… dia benar-benar manis kalau seperti ini.
"Anya sayang, jangan ngambek dong na –"
-Wush-
Vanya dan Razak sama-sama kaget ketika angin yang begitu kenjang melewati mereka. Membuat beberapa helai rambut panjang keperekan Vanya terpotong dan menggores cukup panjang pipinya Razak, membuat pipi itu berdarah.
Satu kata, tadi itu adalah peluru angin.
"Aiyah… Razak, kau terluka! Ayo segera obati, da!"ucap Vanya setelah ia sadar dan langsung panik melihat luka Razak yang untungnya tak telalu parah. Buru-buru ia mengeluarkan sapu tanganya dan menutup luka Razak dengan itu.
Sedangkan Razak sendiri masih terdiam, sebelum tiba-tiba menyeringai tipis dan langsung mengambil alih memegangi sapu tangan Vanya.
"Salam yang sangat sopan, Der Jeugd Nacht."
Magelang, 14.00 pm
Garuda langsung berontak ketika ia digendong oleh Kiku yang bajunya setengah basah. Kirana sendiri berusaha untuk tetap memanyungi keduanya yang bergerak ke sana ke mari.
"Garuda, Otou-san marah kalau kau begini terus."ucap Kiku dengan nada lembut tapi berisi kalimat mengancam yang sayangnya tak digubrisi Garuda.
"Tapi, kucingnya kasian, Otou-san. Dia juga kehujanan."lagi, kalimat itu keluar dari mulut Garuda yang berusaha turun dari gendongan Ayahnya. Dia ingin menyelamatkan anak kucing yang sudah berlari entah kemana. Tapi, Garuda tak peduli soal itu.
"Garuda, kucingnya pasti sudah dibawa orang tuanya pulang dan berteduh. Sudahlah, sayang."ucap Kirana mencoba membuat Garuda mengerti. Tapi sayangnya, anak berumur belum genap 4 tahun itu tetap tidak mau mengerti.
Buktinya, ia masih terus memberontak dan mencoba untuk turun. Ia tak peduli dengan perkataan kedua 'orang tuanya'. Yang penting sekarang adalah menyelamatkan kucing itu, sekiranya begitu yang dipikirkan Garuda.
Sementara Kiku dan Kirana masih mencoba untuk menghentikan pemberontakan Garuda, di atas gedung tak jauh dari alun-alun tempat Kiku dan Kirana berdiri, dua orang pemuda berjubah hitam tampak tengah bersiap-siap melakukan rencana mereka.
"Jangan sampai sang target dan dua orang yang lain kena. Kita di sini hanya menggeretak mereka. Pokoknya jangan sampai salah seperti tadi."kata si pemuda yang bermata emerald. Sedangkan pemuda yang satu lagi yang bermata shafir tersenyum singkat.
"Oui? Yang tadi itukan gara-gara kau. Seandainya kau tidak mengangguku terus, tembakanku pasti tak meleset. Tapi, sekalipun aku tak meleset, mereka pasti tetap menyadari kita, bodoh!"ucap si pemuda bermata shafir sambil menyiapkan busur panahnya. Si pemuda bermata emerald menaikan sebelah alisnya lalu mendecih kesal.
"Ck, oke aku memang salah rencana. Kita memang tak perlu sampai menembak mereka. Tapi…,"si pemuda bermata emerald itu menyeringai.
"Aku suka melihat kulit tan itu berdarah. Entah mengapa, rasanya tampak eksotis dan mengagumkan."si pemuda yang satu lagi yang tengah membidik ke arah target langsung menyeringai begitu mendengar kata-kata yang terlontar dari rekannya itu.
"Ya, kau benar. Tapi sayangnya, kita tak bisa melihatnya sekarang."ucapnya sembari melepas anak panah.
-Wush-
Kirana sontak menoleh ke arah belakang begitu mendengar desingan tadi. Dan matanya langsung terbelalak ketika siluet seperti anak panah meluncur dengan cepet ke arah mereka.
"KIKKUN MENUNDUK!"
Kaget, Kiku refleks menundukkan kepalanya, begitu pula Kirana. Tak ada 3 detik, payung yang mereka gunakan tertusuk dengan anak panah tadi sampai terlepas dari gengaman Kirana dan langsung menancap di pohon.
Kiku melebarkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Di gendongannya Garuda menangis karena kaget. Sedangkan Kirana mencoba untuk mencari tau siapa yang sudah menembakkan anak panah tadi.
Dan ketika matanya menangkap siluet 2 orang berjubah hitam yang salah satunya membawa busur panah di gedung tak jauh dari mereka, ia pun langsung mengeluarkan pistol yang selalu ia bawa dan…
DOR
Ia harap tembakan tadi melukai salah satunya.
"Hueeee… hiks… huaaa"
"Maaf, sayang. Sudah, ya, jangan menangis."Kirana sekarang mengutuk dirinya sendiri karena tadi sudah hilang kendali dan main langsung menembak ke arah dua orang yang belum tentu adalah pelaku kejadian tadi. Kalau tidak, Garuda pasti tidak akan sesyok ini dan terus menangis.
Sementara Kirana berusaha menenangkan Garuda, Kiku terduduk tak jauh dari mereka. Ditanganya ada kertas kosong yang ia dapatkan dari panah itu. Sekarang ia sedang memutar otak, apa maksud dari kertas ini? Dan siapa yang sudah menembaknya?
Tunggu, mereka menembak dengan…
"Anak panah?"gumam Kiku pelan. Astaga! Kenapa ia bisa lupa dengan insiden 'itu'. Insiden percobaan pembunuhan terhadap kakeknya dengan menggunakan panah beracun. Ah… insiden teror terhadap orang tuanya juga menggunakan panah.
Bodoh sekali dirinya. Kenapa butuh waktu lama untuk menyadari siapa yang sedang bermain-main dengan mereka sekarang.
"Seruni."merasa dipanggil, Kirana pun menoleh ke arah Kiku yang tiba-tiba langsung berwajah geram.
"Sepertinya hari ini kita mendapatkan salam dari mereka."ucap Kiku membuat Kirana mengerutkan alis.
"Salam? Salam dari siapa?"
"Pembunuh orang tuaku"
"Apa?"
To Be Continue
Next Chap: His/Her (Dia)
"Kau yakin?"
"Tentu saja. Ini sama seperti kejadian yang dahulu."
.
"Ah? Siapa kamu?"
"Aku Satria, Satria van der Rijk. Kemarin aku memesan baju di sini."
.
"Ran, maaf, aku masih tak percaya padanya."
"Maksdumu?"
.
"Anko.. bagaimana ini? A-aku merasa benar-benar tak nyaman sekarang. Sudah 2 kali aku bermimpi hal yang sama."
"Tenanglah, Norge. Aku juga sama. Tapi, kita tak bisa asal 'dor' saja."
.
"Lud, apa benar yang aku fikirkan?"
"Tak meleset sedikitpun."
.
"Aku bergerak karena 'dia', berhenti karena 'dia', bicara karena 'dia' bahkan diamkupun karena 'dia'."
"Tonio, bisakah kau tidak bicara dia, dia, dia terus? Aku tak mau lagi mendengarnya!"
.
"Dia, aru, dia –"
"Ada apa dengan pemuda itu, da?"
A/N:
Oxxy : Wuih… aku merasa fic ini dibuat tak niat sekali.
Crisan : Maksudmu?
Oxxy : Eh? Tak ada meksud apa-apa. Hehehe….
Crisan : Ha? Bohong!
Oxxy : gak ada kok. Sudah, ya! #cabut.
Kirana : Mau kemana dia?
Crisan : Entahlah. Ah sudahlah. Kalau ada salah-salah kata dan keganjilan yang amat sangat, kami mohon maaf. Lalu untuk riview, maaf Crisan belum bisa bales.
Review pliese and see you soon.
