HAHAHAHAHAHA CHAPTER 2 SUDAH APDET XD #rusuh #plakk
Senangnya kalo bisa update cepet kayak gini ya TwT #curhat dulu
Ehem, mengenai chapter ini, mau saya jelasin dikit boleh ya :3 #sokimut
Jadi, chapter 2 ini lebih menunjukan Suspense dan Horrornya itu gimana. Saya agak bingung juga ya milih genrenya. Ini lebih tepat ke Horror atau Supernatural? Entahlah. Biar pembaca yang menilai saja yaaaa~ X'3 #ditabok massa.
Okedeh, selamat membaca!
Bagian Dua,
"Mantera Tengah Malam"
A VOCALOID FANFIC
"Setelah kegelapan menguasai benaknya, dia tidak ingat apapun lagi..."
Saat makan malam tiba, Kaa-san mencoba membicarakan kembali rencana pindah rumah. Mereka berdua duduk di meja penghangat seperti biasanya di dapur. Kaa-san duduk di salah satu ujung meja, sementara Miku duduk di salah satu sisinya, di samping Kaa-san, menghadap ke kursi di mana Otou-san biasanya duduk. Tapi kini kursi itu telah kosong sejak akhir tahun lalu.
"Bisa jadi kita hanya bisa menyewa sebuah flat," kata Kaa-san lalu melanjutkan, "Tapi agen penjual rumah mengatakan bahwa kita bisa mendapatkan flat yang bagus, flat di lantai dasar dengan dua kamar tidur dan taman di depannya. Agen itu meninggali Kaa-san beberapa leaflet. Jika kau suka, kita bisa melihat-lihat dan kita lihat bagaimana pendapatmu."
"Kaa-san jelas sudah tahu bagaimana pendapatku," cetus Miku sambil mengaduk-aduk gulungan ramen dengan sumpit untuk menghindari tatapan Kaa-san lalu perlahan berkata dengan nada tegas,
"Aku tidak mau pindah."
Kaa-san meletakan sumpitnya sendiri dan menghela nafas,
"Maafkan Kaa-san, Miku," katanya dengan nada tenang lalu kembali melanjutkan, "Tetapi kau, suka atau tidak suka, kita akan tetap pindah. Dengar, Kaa-san yakin hal ini adalah jalan terbaik bagi kita berdua. Kaa-san tidak bisa melakukan cara lain."
"Baik," Miku mengangkat kedua bahunya dengan sikap acuh lalu mendongak menatap kedua mata Kaa-san,
"Teruskan saja rencana Kaa-san. Jangan harap aku menyukai rencana itu."
Sejenak Kaa-san terdiam mendapat tanggapan dingin dari putrinya itu. Lalu mata sayunya menatap mata Miku sambil tersenyum sedih,
"Baik, Sayang," kata Kaa-san akhirnya, "Terserah padamu. Kaa-san tahu kau kecewa. Begitupula Kaa-san, meskipun Kaa-san punya firasat hal ini akan terjadi. Tetapi ingat, kau akan kehilangan keceriaanmu bila kau tak menghentikan kemarahanmu. Dan Kaa-san tidak ingin kau kehilangan keceriaanmu. Kaa-san ingin Miku yang dulu kembali—Miku yang suka tertawa, tersenyum dan ceria." tutur lembut seorang ibu itu sukses membuat Miku mengerjapkan matanya yang memanas,
Miku meletakkan sumpitnya sendiri di atas mangkuknya dan mendorong mangkuk itu menjauh darinya,
"Bolehkah aku pergi sekarang? Aku tidak lapar." Tanpa menunggu jawaban Kaa-san, Miku segera beranjak dan bergegas keluar dari dapur.
Saat itu ruang tengah hingga lantai atas dalam keadaan gelap. Miku pergi menuju kamarnya dan dia merasa senang menemukan lampu samping tempat tidurnya dalam keadaan menyala ketika ia tinggalkan, kehangatan dan sinar keemasan lampu itu memaksa keremangan tetap tinggal di pojok-pojok kamarnya yang tidak terlalu besar.
Miku menekan kuat tombol 'Power' radio tape-nya, lalu berbaring di atas ranjangnya. Diambilnya buku dari meja sebelahnya, tetapi buku itu tidak dibukanya. Miku merasa kemarahannya bertambah. Tentu saja dia akan senang kembali menjadi Miku yang diinginkan ibunya. Saat itu dia merasa sedih dan dia berharap akan kembali menemukan keceriaannya. Tetapi hidupnya yang dahulu telah dicuri, keceriaan serta tawa candanya telah terenggut darinya pada saat yang sama. Miku berpikir tak ada hal lain yang bisa membuatnya merasa lebih baik.
Kemudian tiba-tiba bayangan boneka Meiko muncul dalam benaknya bersamaan dengan perkataan sang penyiar radio siang tadi. Sepenggal tenun Voodoo kuno...
"Voodoo," Miku menggumam. Dia suka suara yang keluar dari mulutnya, bunyi huruf 'V' yang tercipta antara gigi depan dengan bibir bawahnya, dan 'oo' yang menakutkan dipisahkan dan dihubungkan dengan huruf 'd'. Tetapi lepas dari beberapa ingatan samar-samar yang dilihatnya di film-film, Miku betul-betul tidak tahu arti perkataan itu.
Miku meletakkan bukunya, beranjak meninggalkan ranjangnya menuju meja. Tepat di samping radio tape-nya terletak monitor dan papan ketik komputer, hadiah terbaru dari Otou-san. Dia tahu bahwa Otou-san membelikan komputer itu untuk menebus rasa bersalahnya. Dia ingat bahwa komputer itu dilengkapi dengan seperangkat CD, yang kebanyakan berupa CD-CD permainan yang jarang diputarnya. Selain CD permainan, ada juga CD yang berisi ensiklopedi.
Miku menyalakan komputer dan menemukan CD yang dimaksudkannya. Lalu dimasukkannya CD itu ke dalam CD drive di bawah mejanya. Segera saja dia membaca entry tentang 'Voodoo'.
"Agama yang berkembang di Kepulauan Karibia yang dibawa oleh orang-orang Afrika yang didatangkan kesana sebagai budak... gabungan dari unsur-unsur bangsa Afrika dan agama Kristen... sering di gambarkan dalam film-film horror sebagai ilmu tenung, sarana sihir untuk mencelakai musuh..." Miku masih mencari arti kata boneka Voodoo.
"Bentuk-bentuk yang dibuat menyerupai seseorang, boneka yang bisa ditusuki jarum, dimaksudkan untuk menyebabkan rasa sakit pada musuh, atau menyebabkan kematiannya..."
Dia telah sampai pada akhir entry. Miku masih duduk di depan komputer beberapa saat, wajahnya bermandi cahaya biru pucat yang terpantul dari monitor, tangannya di atas mouse.
Ya, lakukan, lakukan, tiba-tiba suara-suara mengerikan berdesis-desis di telinga Miku,
Sakiti dia! Sakiti dia!
Suara mengerikan itu semakin berbisik di telinganya. Miku merasa bulu kuduknya meremang mendengar desisan yang tidak wajar itu. Miku lalu menolehkan kepalanya ke penjuru kamar lalu mengarahkan pandangannya pada radio tape-nya. Tapi dia tahu suara tadi bukan berasal dari sana. Suara mengerikan itu seolah-olah berasal dari orang lain yang ada di kamarnya, seseorang yang tidak kelihatan. Dia menutup matanya dan menggelengkan kepalanya, tetapi suara itu terus berdesis di telinganya seperti dengingan serangga yang mengganggu. Terus mengulang kata-kata yang sama,
Lakukan, sakiti dia... sakiti dia, sakiti dia!
Miku menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya... dan suara itu berhenti. Kemudian dia kembali membuka matanya dan menghela nafas panjang. Lalu dia duduk dan menarik nafas berkali-kali. Berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa suara tadi hanyalah imajinasinya saja.
Walau dia tahu, suara itu terdengar sangat dekat—begitu nyata.
Kaa-san menengoknya beberapa saat kemudian, mengingatkan padanya bahwa sudah saatnya mematikan radio dan tidur. Miku beranjak ke kamar mandi lalu menggosok giginya. Kemudian dia kembali ke kamar, mengganti bajunya dengan baju tidur berwarna putih dan masuk ke bawah selimutnya. Dia mencoba untuk membaca buku yang tadi diletakannya tetapi pikirannya terus bekerja. Beberapa saat kemudian, dia baru menyadari bahwa dari tadi dia hanya membaca lima kalimat pertama pada buku itu. Miku menghela nafas lalu meletakkan buku itu di atas meja kembali.
Miku mematikan lampu kamar seperti yang biasanya dia lakukan, membuat suasana kamar itu menjadi gelap gulita. Namun sekilas, Miku dapat melihat sebuah bayang-bayang aneh yang terletak di pojokan kamarnya. Tetapi bayangan itu meloncat dengan cepat menyatu dengan kegelapan total yang menyelimuti kamar itu. Satu-satunya cahaya yang terlihat adalah titik-titik hijau dengan bentuk angka yang bisa juga di sebut alarm, di tepi meja belajarnya. Tetapi ada yang salah. Ada yang salah. Miku merasa malam itu lebih gelap dari biasanya. Ketukan ranting pohon di luar jendelanya entah mengapa terasa menakutkan malam ini. Seolah-olah ada orang—atau sesuatu—yang lain ingin masuk. Melalui celah manapun, hendak berbuat sesuatu yang diluar akal sehat manusia.
Miku mengenyahkan pikiran itu lalu duduk di tempat tidurnya dan menyalakan lampu tidur di sampingnya. Dia berpikir sejenak,
"Oh, mengapa tidak?" gumamnya.
Bangun dari tempat tidurnya, Miku berjingkat-jingkat melangkah menuju sebuah keranjang besar yang ada di sebelah lemari. Kaa-san menyebutnya Keranjang Sampah karena Miku menyimpan semua barang miliknya yang tidak boleh dibuang dalam keranjang itu—boneka-boneka, cinderamata yang dibeli selama bepergian atau liburan, buku harian, surat-surat, bahkan buku-buku latihan yang sudah usang.
Dia mulai membongkar-bongkar Keranjang Sampah. Tapi tentu saja dia melakukannya dengan pelan-pelan agar tidak membangunkan Kaa-san yang kamarnya berada tepat di sebelah kamarnya. Miku tahu pasti apa yang sedang dicarinya, dan tak lama kemudian, dia menemukan apa yang dicarinya.
Dia duduk di atas meja untuk mengamati benda yang kini ada di tangannya—sebuah boneka. Boneka itu, adalah boneka kain usang, salah satu boneka yang seingatnya menjadi mainannya ketika dia masih sangat kecil. Boneka itu tidak punya nama seperti kebanyakan mainan Miku dan boneka itu sama sekali tidak istimewa. Masih mengenakan baju biru aslinya, boneka itu memiliki wajah yang nyaris kosong—bentuk matanya tak lebih hanya menyerupai titik-titik hitam ; satu garis menurun yang lebih kecil yang dimaksudkan sebagai hidung, satu garis horizontal pendek yang dimaksudkan sebagai mulut. Akan tetapi, yang lebih penting, boneka itu berambut nilon yang sama panjang dan warnanya dengan rambut Meiko.
Miku memegangi boneka itu. Nyaris sebelum dia tahu apa yang sedang dilakukannya, dia membuka laci meja dan meraih segenggak spidol. Spidol hitam yang digunakannya untuk membuat bulu mata boneka, spidol merah jambu untuk membuat sepasang bibir yang cemberut. Dia menepuk-nepuk rambut kecoklatan boneka itu. Kemudian disingkapnya baju biru boneka itu dan menulis nama 'MEIKO' dengan warna merah darah terang, melintang di tubuh boneka itu.
Miku menatap huruf-huruf tersebut. Sembari tertawa, dia berkata pada dirinya sendiri bahwa dia benar-benar bodoh. Tetapi, tawa yang keluar adalah tawa gugup yang kaku karena sebagian perasaannya mengatakan bahwa yang diperbuatnya bukanlah permainan, apa yang telah dilakukannya adalah perbuatan yang sangat aneh untuk dilakukan.
Sekali lagi Miku mendengar suara yang berdesis di telinganya, kata-kata yang sulit dimengerti pada awalnya. Tetapi segera saja suara itu berbunyi makin nyaring, semakin jelas dan semakin mudah untuk dipahami,
Ambil jarum dan tusukkan pada boneka itu, kata suara itu.
Ambil jarum dan tusukkan pada boneka itu... tusukkan...
Miku merasa terdorong untuk melakukan apa yang dikatakan suara itu. Dia mencari ke dalam laci dan melihat sekeping lencana yang berasal dari selembar kartu ulangtahun usang. Diambilnya lencana itu, dibalikkan dan ditarik jarumnya hingga tegak luruk dengan logam lencana, menjadi sebuah belati kecil.
Tiba-tiba, di salah satu sudut matanya, Miku pikir, dia melihat gerakan di samping tempat tidurnya, di pojok paling gelap kamarnya dan juga mata kuning menyala-nyala dan terlihat berapi-api di kegelapan. Dia menoleh, jantungnya berdebar-debar, tenggorokannya tercekat. Tetapi tidak ada apa-apa disana, yang ada hanya bayang-bayang gelap pekat. Tidak ada apa-apa.
Mata Miku tertuju pada titik-titik hijau yang bersinar diantara angka-angka pada alarm yang terletak di samping tempat tidurnya. Saat iitu dilihatnya angka-angka berubah dari 11:59 menjadi 12:00.
Tengah malam.
Saat yang tepat bagi ilmu tenung, pikir Miku. Namun sebagian dirinya masih bertanya-tanya dengan penuh keheranan mengapa dia bisa bertingkah sedemikian rupa anehnya. Sementara suara itu terus terdengar...
Tusukkan... Tusukkan padanya...
Bayang-bayangan di kamarnya seolah-olah berkumpul mengelilinginya—seolah tak ada jalan baginya selain menuruti perkataan suara ganjil itu. Membuat tangan dan kaki Miku gemetar dengan hebatnya.
Tusukkan... Tusukkan... TUSUK DIA! TUSUK!
Sekuat tenaga, Miku menusukkan jarum ke dalam perut boneka yang terbuat dari kain itu. Alangkah sangat terkejutnya dia melihat boneka itu menggeliat-geliat ditangannya, mengubah ekspresinya menjadi kesakitan—terdengar suara lirihan, memenuhi seluruh benaknya dan teriakan yang mengerikan sekaligus kesakitan terdengar begitu nyata di telinganya. Miku kembali menatap boneka di tangannya dan terlihat ekspresi ganjil yang sangat-sangat menakutkan dari boneka itu.
Tanpa pikir panjang, Miku melemparkan boneka itu ke lantai.
Setelah itu kegelapan menguasai benaknya dan dia tidak ingat apa-apa lagi.
To Be Continue
Author : Parah, mamen. Ini yang namanya ngetik ngebut dan gatau deh apa ada typo apa engga. Males ceknya. GWAHAHAHAHAHA XD #digebuk massa.
Miku : Payah lu. Kerjaannya curhat mulu.
Author : Muehehehehe... Kalo Horror atau Suspensenya abal, salahkan keluarga saya yang kerjaannya gangguin saya mulu kalo lagi ngetik. Syalalalalalala~ uu~uwoooohhh huwoooooohh~, pacarku memang dekat~ lima langkah dari rumaaahh~ Syalalalalala~ Tarik, maaang~ #malah dangdutan #salah.
Miku : JAIM, THOR! JAIM PLIIIISSSS JAIMMM! MALU GUE MALU! #protes
Author : Ehem, maaf maaf... Okedeh, boleh saya minta Reviewnya? Jangan ada Flame yaa. Kritik yang membangun sangat di terima X'3
v
