CHAPTER 3 UPDATED! X'D YEAAAY! #bakarbuku #plak.
Huhuhuhu, susahnya apdet kalo udah masuk ke minggu ulangan ya TwT #nangiskejer #curhat mulu sih jadi author.
Ehem, saya bahas dikit aja ya chapter ini XD
Sebenernya chap ini lebih membahas ke efek boneka Voodoo yang Miku tusuk-tusuk itu di chap sebelumnya. Karena itulah... untung saya bukan Meiko! X'D #dihajar massa gara-gara OOT tiba-tiba.
Lalu, saya akan munculkan Kaito disini untuk pemanis aja. #dikira gula.
Okeh, selamat membaca! Dan jangan lupakan reviewnya X'3
Bagian Tiga,
Pikiran-Pikiran Buruk
A VOCALOID FANFIC
"Ambil... Lakukan... Sakiti dia!"
Sinar terang. Sinar mentari pagi yang masih pucat samar-samar menembus tepi tirai krem polos yang menutup rapat jendela. Alarm weker Miku berbunyi, namun dia masih berbaring kaku di atas tempat tidur, tidak bisa menikmati kehangatan di bawah selimut, yang biasanya dia rasakan sebagai saat-saat nikmat sebelum dia harus bangun untuk pergi ke sekolah. Miku merasa tertekan dan bertanya-tanya, apakah dia baru saja mengalami mimpi buruk?
Segera saja dia ingat. Dia teringat pada Boneka Meiko ; dia teringat akan bayang-bayang menakutkan dengan mata kuning di sudut kamar ; dan dia juga ingat suara-suara aneh yang menyuruhnya menusukkan jarum pada boneka itu. Miku lalu kembali gemetar ketakutan begitu mengingat boneka yang menggeliat dalam genggaman tangannya, bagaimana ekspresi boneka itu yang berubah menjadi ganjil dan juga bagaimana terdengar teriakan asing di telinganya. Atau mungkin hanya mimpi belaka?, pikir Miku mencoba berpikir positif.
Namun pikiran positif itu segera berganti menjadi ketakutan yang amat sangat begitu Miku melihat boneka Meiko tergeletak di dekat Keranjang Sampah. Tepat di sebelah meja komputernya, dengan jarum yang menyerupai belati kecil terkubur dalam-dalam di perutnya.
Dengan perasaan ragu, Miku beranjak dari tempat tidur dan berdiri menatap boneka itu. Saat itu kamarnya terasa hangat—yang berasal dari awal musim panas tahun ini—tetapi sekarang dia malah gemetar ketakutan lebih dari sebelumnya. Dengan menarik nafas dalam-dalam, dia menarik lencana dari perut boneka itu dan melemparnya ke dalam laci, lalu dimasukkannya boneka itu ke dalam Keranjang Sampah dan menyusruk boneka itu ke bagian dasar Keranjang Sampah, berharap dia tak melihat boneka itu dalam waktu singkat lagi. segera saja Miku menutup Keranjang Sampah dan duduk kembali di tempat tidurnya dengan badan yang gemetaran.
"Miku!" terdengar Kaa-san memanggil dari lantai bawah. "Sarapanmu sudah siap!"
Miku merasa sedikit rileks mendengar suara Kaa-san yang familier di telinganya. Ketegangannya mulai mengendor. Bukankah boneka Voodoo bukan merupakan bagian dari kehidupan normal dimana ibu-ibu memanggil anaknya untuk sarapan?
Miku bangkit dari tempat tidur, segera berpakaian dan berlari menuju lantai bawah.
Situasi dapur terang benderang, berisik dan sangat normal seperti biasanya—berisik oleh bunyi ceret yang mendidih, suara mesin pemanggang roti dan suara senandung Kaa-san yang mengikuti alunan nada suara yang keluar dari radio sembari menghabiskan sarapannya sebelum bekerja. Ketika tiba saatnya Miku berpamitan untuk pergi ke sekolah, dia hampir melupakan boneka dan melupakan apa yang telah di lakukannya pada boneka itu.
Hampir, tidak sama sekali. Bayangan samar boneka itu melekat di sudut benaknya sepanjang hari—dan selama itu pula Miku harus berusaha kuat untuk berkonsentrasi menepis bayangan itu. Saat dia membiarkan konsentrasinya menurun—misalnya jika pikirannya melantur lantaran jam pelajaran yang membosankan—bayangan itu dengan cepat menjadi semakin nyata dan yang lebih mengerikan, suara-suara ganjil yang menakutkan kembali mendesis di telinganya.
Dia hampir tidak bisa berpikir tentang hal lain sepanjang perjalanannya ke rumah. Pikiran-pikiran buruk memenuhi benaknya ; gambaran peristiwa menusukkan jarum ke boneka dalam tubuh boneka dan apa yang mungkin terjadi pada teman wanita Otou-san—Meiko.
Namun anehnya, Miku merasakan perasaan senang yang jahat—perasaan puas jika benar dia telah berhasil menyakiti wanita itu. Namun Miku juga merasakan hal lain—rasa takut dan juga dia setengah merasa dia berada di awal perbuatan yang salah. Langit mulai menggelap ketika dia berbelok memasuki jalan di depan rumahnya, awan gelap menutupi sinar matahari di belakang rumah-rumah, angin bertiup menjatuhkan daun-daun di sepanjang jalan yang di laluinya.
"Miku?" suara ngebass yang akrab di telinga Miku membuatnya tersentak dan menatap si empunya suara dengan sikap kaku—seolah-olah dia baru melakukan tindakan kriminal atau semacamnya. Dan di dapatinya laki-laki berambut biru gelap lengkap dengan gakuran dan tas biru yang senada dengan rambutnya. Laki-laki itu memiringkan kepalanya untuk menatap wajah Miku yang pucat itu dengan jelas lalu nyengir dan terkekeh,
"Jangan menatapku begitu. Aku bukan mafia. Sungguh," katanya. Miku menghela nafas,
"Kaito Shion, hentikan itu. Kau membuatku takut," Miku tahu suaranya bergetar parau. Namun bukan karena Kaito. Melainkan karena perasaan dan pikiran yang buruk mengganggunya terus menerus. Membuatnya bingung sekaligus linglung untuk waktu yang bersamaan,
"Baiklah. Maafkan aku." Miku tidak menanggapinya. Dia terlalu takut untuk menjawab—jika suaranya terdengar aneh di telinga Kaito. Apalagi, dia sedang dilanda ketakutan yang aneh. Ketakutan yang tidak jelas.
"... Kau terlihat aneh seharian ini. Ada masalah?" tanya Kaito setelah tidak mendapat tanggapan. Miku mendengus lalu menggeleng,
"B-bukan apa-apa. Aku pulang." Miku lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu rumahnya yang sudah tinggal beberapa langkah lagi—meninggalkan Kaito yang masih terpaku di tempatnya.
Miku menarik grendel pintu dan masuk ke dalam rumah yang dalam keadaan sunyi senyap itu. Kaa-san sudah pasti belum pulang. Miku melepaskan jaket dan menggantungnya di gantungan baju, pergi ke dapur untuk membuat roti lapis dan menuang segelas jus sirsak dingin kesukannya untuk dirinya sendiri. Dibawanya makanan itu ke dalam kamarnya di lantai atas, meletakan piring roti dan gelas jusnya di atas meja serta menjatuhkan tas sekolahnya di atas tempat tidur. Dia ingin segera makan roti lapisnya, meneguks jus sirsaknya, kemudian dia akan mengerjapan PR seperti biasanya. Namun justru dia tidak melakukan apapun.
Dia malah mendapati dirinya berdiri di samping Keranjang Sampah.
Dia memutuskan tidak ingin membuka tutupnya. Tetapi dia menyadari bahwa justru yang ia lakukan adalah sebaliknya, di dalam keranjang dia menemukan boneka Meiko, tergeletak di tumpukan paling atas barang-barang yang ada dalam Keranjang Sampah, dengan muka menghadap ke atas. Miku ingat betul dia sudah menyusrukkan boneka itu ke bagian dasar Keranjang Sampah. Namun entah bagaimana boneka itu kini berada di paling atas tumpukan semua barang-barang itu.
Namun anehnya, Miku merasa diperhatikan—oleh sepasang mata yang tak kasat mata. Yang mengerikan, memaksa dan sangat agresif. Dan ketika Miku menatap kembali boneka Meiko, dia merasa boneka itu menatapnya— seolah menunggu.
Suara aneh itu lalu kembali berdesis di telinga Miku,
Ambil... ambil... ambil...
Miku melakukan apa yang didengarnya. Dipegangnya boneka itu. Tepat seperti yang diingatnya, bulu mata hitam, bibir merah jambu cemberut serta huruf besar-besar berwarna merah darah terang bertuliskan 'MEIKO' melintang di tubuh boneka itu. Meskipun sekarang ini ada lubang kecil di perut boneka itu. Miku menggosok-gosok lubang itu dengan ujung jarinya, penuh rasa ingin tahu ia bertanya-tanya apakah bisa melukai seseorang dengan cara menusukkan jarum ke dalam boneka.
Tiba-tiba saja dia merasa dengan mudah menjawab keingintahuannya—dan hanya ada satu cara menjawabnya.
Dia mengambil ponselnya dari dalam tas dan menelepon Otou-san di kantor.
"Wah, kejutan yang menyenangkan," kata Otou-san ketika dia berhasil menghubunginya.
"Kau tidak biasa menelepon Otou-san di kantor. Ada apa Miku?"
"Tidak apa-apa," jawab Miku lalu melanjutkan, "Kupikir, aku hanya ingin... sedikit ngobrol." Miku menjaga suaranya agar terdengar ringan tanpa beban, dia mencoba untuk bicara dengan nada seperti biasanya ia lakukan sebelum Otou-san meninggalkannya.
"Bagus," kata Otou-san.
Miku bisa merasakan bahwa Otou-san senang menerima telepon darinya, dan dia menyadari bahwa bisa saja Otou-san berpikir bahwa Miku mulai bisa memaafkannya. Tetapi, Miku tidak memperhatikannya. Otou-san boleh berpikir apapun yang disukainya. Miku hanya tertarik untuk mengetahui bagaimana keadaan teman wanita Otou-san—Meiko.
"Jadi, bagaimana sekolahmu minggu ini?" tanya Otou-san.
"Baik-baik saja," jawab Miku.
"Aku hanya ingin tahu—bagaimana kabar Meiko?"
Ada keheningan di ujung telepon. Miku tak pernah menyebut nama Meiko dalam obrolannya dengan Otou-san sebelumnya, tak sekalipun, dan sejenak dia berpikir mungkinkah ia bertanya terlalu jauh, hingga entah bagaimana Otou-san akan mengetahui bahwa dia punya alasan jahat menanyakan keadaan Meiko.
"Kau baik sekali menanyakan hal itu," kata Otou-san akhirnya, dan Miku kembali menyadari bahwa suara Otou-san terdengar lebih menyenangkan daripada yang biasa didengarnya. Namun ada nada khawatir dalam suaranya, dan Otou-san terdengar agak bingung,
"Meiko sangat tersiksa tadi malam. Dia terbangun tengah malam karena merasakan sakit perut yang amat sangat. Rasa sakit di perutnya membuatnya terjaga sepanjang malam, namun pagi ini rasa sakitnya sudah lenyap, dan dia akan baik-baik saja. Sudah dulu ya, Otou-san punya banyak tugas yang harus dikerjakan. Sampai jumpa di akhir pekan, Sayang. Kita bisa coba toko es krim terbaru di kota ini jika kau mau..."
"Y—ya. P-pasti, Otou-san...," Miku menggumam, pikirannya kacau balau.
Mereka berdua saling mengucapkan 'Sayonara' dan dengan cepat Miku mengakhiri hubungan teleponnya. Dia duduk di atas tempat tidur dan tangannya masih memegangi boneka Meiko. Dia menatap boneka itu dengan perasaan ngeri. Pikiran bahwa tenung dari malam ternyata membawa hasil membuatnya merasa takut dan merasa bersalah. Namun pikiran itu juga membuatnya senang.
Beberapa saat kemudian, dia mendengar suara itu lagi. Suara ganjil dan sangat mengerikan, mendesis-desis dengan kejam—seolah menyuruhnya melakukan hal yang lain pada boneka Meiko.
Lakukan, lakukan, lakukan...
Sakiti dia, sakiti dia, sakiti dia...
Miku sebisa mungkin menolak desakan suara itu. Dia memutuskan untuk pergi ke lantai bawah menonton TV beberapa saat. Mungkin dengan cara seperti itu bisa mengusir hal-hal yang tidak masuk akal dari otaknya.
Namun Miku bersumpah dia tidak menyadarinya. Tahu-tahu saja, dia sudah berada di kamar tidur Kaa-san. Mencari-cari laci lemari di mana Kaa-san menyimpan peralatan jahit. Miku menemukan apa yang dicarinya—kotak yang seingatnya pernah dilihatnya ketika Kaa-san menjahit seragam sekolahnya pada awal tahun ajaran. Miku mengambil kotak itu dan membukanya.
Jarum-jarum perak bergelinciran dan menimbulkan suara gemerisik.
Seolah-olah jarum-jarum itu hidup. Dan meminta Miku untuk menyakiti—lebih dari yang dia bayangkan.
To Be Continue
Yohohohoho selesai juga Chapter 3 ini~
Ehem, saya mau meluruskan beberapa anggapan readers disini boleh kan? :3
Dalam fic ini, nggak bakal ada adegan bacok-bacokan, darah-darahan dan hal-hal sadis. Karena saya menaruh fic ini di rating T yang dimaksudkan agar dibacanya enak dan (mudah-mudahan) bisa dinikmati berbagai kalangan. :3
Kenapa saya beritahu ini? Yah, menghindari takutnya ntar ada kekecewaan gitu #kayak penting aja #dor.
Terus nasib Meiko? Wah tentu saja saya rahasiakan XP #digebukin
Okedeh, silakan ditunggu Chapter 4-nya! :D
Oh ya, ehem... Reviewnya minta dong? TwTa pweeeeaaase :'D #puppy eyes #dor
