Gyahahahahaha ~ Chapter 4 update juga yaaa akhirnya X'D #plak

Ehem, seperti biasanya, saya pasti curhat dulu sebelum memulai. Boleh kan ya? #readers: ENGGAAAKKK #pundung (_ _)

Yaudah deh kalo gitu langsung aja saya bahas mengenai Chap ini TwT

Heem, banyak readers yang bertanya "mengapa judulnya Voodoo Child?" well, chapter ini akan menjelaskan kenapa judulnya adalah "Voodoo Child" atau dalam bahasa Indonesianya sama dengan judul Chap ini X3

Mau tau? Baca aja! Jangan lupakan reviewnya yaa X3


Bagian Empat,

"Bocah Voodoo"

A VOCALOID FANFIC

"Karena pembalasanmu tak ada batasnya..."


"Ayo Miku," kata Kaa-san. "Sudah saatnya kau pergi tidur."

Saat itu Miku duduk di pojok sofa besar di ruang depan, langsung di bawah sinar lampu. Dia memeluk bantal sambil menonton TV yang disetel dengan suara keras, yang menayangkan sebuah cerita detektif, meskipun cerita itu sudah pernah ditontonnya. Dengan menonton TV, dia berusaha agar pikirannya tidak melantur.

"Haruskah sekarang?" dia bergumam lalu melanjutkan, "Aku ingin tahu akhir ceritanya."

"Sudah malam, dank au harus pergi ke sekolah besok pagi," kata Kaa-san. Kaa-san berdiri berkacak pinggang di depan Miku,

"Kau sudah tahu bagaimana akhir cerita film itu. Tidakkah kau ingat kita berdua pernah menonton film itu beberapa bulan yang lalu? Jadi jangan membantah."

Miku menghela nafas dengan berat, lalu dilemparnya bantal ke samping dan beranjak dengan cepat. Bergegas dia melewati Kaa-san berlari menuju lantai atas dengan melintasi ruangan remang-remang. Dia berhenti di depan pintu kamarnya, merasa enggan masuk ke dalam, didengarnya Kaa-san mengecilkan suara TV dan mengganti salurannya. Lalu Miku berbalik dan menarik nafas panjang, masuk ke dalam kamar dengan cepat dan menutup pintu di belakangnya.

Dia berdiri memunggungi boneka. Seperti hari-hari sebelumnya, Miku meninggalkan lampu kamarnya dalam keadaan menyala, tetapi kali ini bayang-bayangan yang aneh di pojok-pojok kamarnya seakan menekan ke arah sinar lampu yang berwarna keemasan, seolah tak sabar menanti untuk melebur sinar yang ada menjadi kegelapan yang pekat. Miku tidak ingin melihat ke arah kegelapan, dia berusaha mengarahkan matanya hanya ke bagian kamarnya yang terang—di bagian sekitar mejanya.

Kotak jarum masih berada di mana Miku meninggalkannya, tergeletak di samping radio.

Miku gemetar ketakutan saat dirasakannya hawa dingin meniup-niup lehernya. Jika seseorang gemetar seperti itu, berarti ada orang lain yang mengancam jiwamu, begitu yang selalu Kaa-san katakana. Dia ingat pengalaman sore tadi terjadi—saat ia membawa kotak jarum masuk ke dalam kamarnya, Miku melihat bagaimana ia merasa terdorong untuk mulai segera menusukkan jarum ke tubuh boneka Meiko. dan ia teringat bagaimana ia dengan kuat berusaha menahan diri. Rasa terpaksa dan perasaan yang berada di bawah suatu kekuatan yang tidak dipahaminya membuatnya takut. Namun, perasaan itu juga membuatnya penasaran.

Suara itu datang lagi, dan kali ini lebih mengecam dan kasar ; bahkan suara itu tidak berhenti ketika Miku menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. Miku akhirnya melarikan diri meninggalkan kamarnya, meninggalkan kotak jarum dan boneka dikembalikan ke dalam Keranjang Sampah. Sesaat Miku tidak mendengarnya, suara Kaa-san dan suara TV menenggelamkan suara mengerikan itu. Namun, Miku tahu bahwa suara tadi hanya ada di bawah ambang kesadarannya, menunggu untuk didengarkan. Sekarang dia berbalik masuk ke dalam kamarnya yang remang-remang.

Miku merapatkan giginya dan berjalan menuju meja. Dia membuka laci, memasukkan kotak jarum dan menutup laci dengan keras. Sepenuh tenaga dia menekan tombol 'Power' pada radio tape-nya dan mulai bersiap untuk tidur, sambil bersenandung mengikuti musik, dia mengganti baju dengan piyama dan mencoba memikirkan hal lain selain boneka, jarum-jarum dan suara aneh yang terus menerus menghantui pikirannya. Dia mengambil buku, memaksakan diri untuk membaca, membalik halaman demi halaman dan mengarahkan matanya pada kalimat yang ada pada buku itu.

Seperti biasanya, Kaa-san menengok masuk ke dalam kamarnya sebentar, menyuruhnya mematikan radiodan mengucap selamat tidur. Miku mendengar Kaa-san masuk ke dalam kamarnya sendiri dan menutup pintunya. Tiba-tiba saja rumah dipenuhi kesunyian yang mencekam, demikian juga dengan kamar Miku. dengan kaku dia duduk di atas tempat tidur, menajamkan telinganya, merasakan jantungnya berdebar-debar dalam dadanya dan merasakan darahnya mengalir ke seluruh tubuhnya. Suara itu lalu terdengar lagi dalam benaknya, desisannya menjadi kata-kata yang kurang begitu jelas.

Ambil boneka itu, ambil boneka itu, ambil boneka itu…

Sakiti dia, sakiti dia, sakiti dia…

Tahu-tahu saja Miku sudah berdiri di sebelah Keranjang Sampah dan dia tidak tahu bagaimana dan kenapa dia bisa sampai ada di situ. Dibukanya tutup keranjang itu. Boneka itu terbaring seperti terakhir kali dia meletakkannya. Miku tidak ingin mengambilnya, tetapi dia tidak bisa menahan diri untuk meraihnya. Boneka sudah ada di genggamannya... Tapi tiba-tiba sebuah bayang-bayangan ganjil dan aneh berpusar-pusar di atas bias lampu dan Miku kembali gemetar. Apa itu?

Tapi Miku memilih menutup matanya—tidak melihat apa itu. Dan saat ia kembali membuka matanya, dia sudah duduk di atas meja. Miku menahan nafasnya saat boneka dalam genggamannya menggeliat-geliat dengan ekspresi ganji dan sangat menyeramkan. Miku lalu mengalihkan pandangannya dan tiba-tiba saja kotak jarum terbuka di depannya. Jarum-jarum itu mengeluarkan suara gemerisik dan berkilat-kilat.

Tusukkan padanya… Tusukkan padanya… Tusukkan padanya…

Sekarang Miku mengambil sebatang jarum dengan tangannya yang lain, yang tidak sedang memegang boneka. Dia memutar-mutar sebatang logam kecil panjang yang terasa dingin di antara jari telunjuk dan ibu jarinya, mengamat-amati di bawah sinar lampu, matanya membesar seperti lensa kamera yang menajam. Dia menjepit erat jarum itu dengan tangannya, menggigit bibirnya, merasakan tangannya mundur menjauhi boneka…

dan berhenti.

Menolak desakan untuk menusuk boneka itu.

Tetapi desakan itu semakin keras, tangan dan lengannya mulai bergetar.

Sakiti dia, kata suara itu. SAKITI DIA! SAKITI DIA!

Suara itu terdengar semakin nyata, seolah-olah berasal dari orang lain yang berada di kamar itu. Miku berbalik, menoleh ke arah pojokan kamar yang paling gelap, dan dia melihat seseorang—atau sesuatu—ada di sana. Awalnya, dia hanya melihat sebuah sketsa, sesosok gelap yang hanya dipisahkan dari bayangan-bayangan di sekelilingnya karena kepekatan hitamnya. Lalu dilihatnya dua titik bersinar berkedip-kedip di tempat yang di duganya sebagai kepala sosok itu.

Sepasang mata kuning yang menyeramkan dan menyala-nyala sedang balik menatapnya.

Dia melihat sosok itu menyerupai bentuk orang, seukuran anak-anak. Tetapi sosok itu seperti bayangan yang mewujud, makhluk yang tercipta dari kegelapan dan mengkristal, tak berbentuk selain matanya yang melotot dan berapi-api. Miku merasakan sensasi aneh di lehernya dan dia menyadari bahwa bulu kuduknya berdiri, menandakan dia sedang merasa takut. Miku belum pernah merasakan ketakutan maha dahsyat—wlaau dia juga merasakan kesenangan dalam rasa takutnya.

Mengapa tidak kau lakukan? Desis sosok itu akhirnya. Sosok itu bergerak, meluncur keluar dari pojok kamar ke arah Miku. ia berdiri di samping meja menyerupai hantu hitam dengan mata kuningnya yang berapi-api menatap tajam pada mata hijau Miku.

Kau tahu, kau sangat ingin melakukannya. Kau sangat menginginkannya!

"Aku tak bisa," kata Miku keheranan mengapa dia berbicara dengan makhluk bayangan ini. Lalu dia sadar bahwa inilah yang diinginkannya, saat yang ditunggu-tunggunya untuk bisa berkomunikasi dengan makluk itu,

"Bukankah menyakiti orang lain adalah perbuatan yang salah?"

Itu hanya kata suara hatimu, sosok itu mendesis. Sekarang Miku bisa melihat sebuah lubang di bawah mata, sebentuk mulut tipus yang bergerak-gerak ketika suara itu berbicara.

Dia tidak berpikir dua kali untuk menyakitimu, bukan? KAU HARUS MEMBALAS TINDAKANNYA!

"Tetapi tidak sama kan? Maksudku, boneka, jarum-jarum…"

Tentu saja sama!, sosok itu melayang-layang mendekati Miku, mulutnya yang hitam hampir menyentuh telinga Miku.

Rasa sakit tetaplah rasa sakit, dan dia pantas mendapatkan balasannya. Sakiti dia, sakiti dia, sakiti dia! Pembalasanmu tak ada batasnya…

"Apa maksudmu?" tanya Miku, angin dingin menusuk punggungnya.

Pikirkan, kata sosok itu, Hanya sebatang jarum di tubuh boneka itu menyebabkannya sakit perut yang baru berakhir ketika kau cabut jarum itu. Apa jadinya bila banyak jarum yang kau tusukkan padanya? Sejumlah jarum di perut boneka, sejumlah di bagian kepala…. Dan sebatang jarum di jantungnya…

"Itu bisa… membunuhnya!" bisik Miku,

"A-aku tidak bisa melakukannya!"

Kenapa tidak?!, makhluk itu terdengar menghardik. Sekarang suaranya seperti berasal dari dalam kepala Miku.

Apa yang kau cemaskan? Tak seorangpun akan menduga bahwa kaulah pelakunya. Selain itu, jika kau bisa melenyapkannya teman wanitanya, Otou-san akan kembali padamu dan hidup akan kembali seperti semula, semula, semula…

Kata-kata terakhir sosok itu bergema di kepalanya. Dia masih memegang boneka di satu tangan, dan jarum di tangan yang lain. Dia tergoda. Sangat—sangat tergoda.

Kemudian dia mendengar bunyi gaduh di depan kamarnya. Suara itu dengan cepat menghilang dan Miku merasa seolah-olah sebuah mantera telah gagal. Dia berhenti bertindak konyol, lalu menoleh ke belakang melalui pundaknya, melihat pintu sedang di buka. Dia menatuhkan jarum di meja dan dengan cepat kembali ke tempat tidur, menyembunyikan boneka di bawah selimutnya dan meraih buku yang tergeletak di meja samping ranjangnya.

Makhluk bayangan—si Bocah Voodoo— telah hilang seolah-olah tidak ada.

Wajah Kaa-san nongol dari balik pintu, "Kau baik-baik saja?" tanyanya.

"Ya," jawab Miku, "Aku hanya tidak bisa tidur."

"Kaa-san pikir, Kaa-san mendengar kau berbicara dengan seseorang," kata Kaa-san nampak bertanya-tanya.

"Nggak," jawab Miku. "Mungkin Kaa-san berimajinasi."

Kaa-san kelihatan puas. Tak lama setelah Kaa-san pergi, Miku meloncat dari tempat tidur dan mengembalikan boneka ke Keranjang Sampah. Lalu dia kembali ke tempat tidur. Ia berbaring dengan penuh tanda tanya, seandainya dia melakukan sesuatu yang dibayangkannya. Akan tetapi, suara itu segera datang kembali…

Hidup akan kembali seperti semula…

Semula…

Malam itu Miku bermimpi tentang boneka-boneka, jarum-jarum dan makluk bayangan—dan juga tentang hal-hal lain. Semuanya begitu tercampur aduk dengan suara teriakan yang memilukan, getaran hebat yang membuncah di dadanya dan juga suara lirihan yang terdengar menyakitkan bahkan tangan-tangan yang keluar dari tanah kuburan—seolah memintanya bergabung.

Dia bermimpi tentang rasa sakit yang tak tertahankan, pembunuhan dan kematian.

Kematian yang lebih menyeramkan daripada si Bocah Voodoo yang tadi muncul di kamarnya. Jauh lebih menyeramkan.

To Be Continue

Author : OPPA GANGNAM STYLE! YEAH! #toetetetetetoeettteetetett #joget Gangnam Style

Miku : THOOOORRRR! GUE UDAH BILANG LU KUDU JAIM! MALU GUE TAU! MALU!

Author : Oh iya. #matiin lagu Gangnam Style

Ehem, terima kasih yang sudah membaca Voodoo Child sampai chapter 4 ini X'D #terharu. Makasih yang udah Baca, Fave, Alert dan Review Voodoo Child ini! Semoga suka dengan chap ini! X'3

Jangan lupa Reviewnya, ya? X'3

OKEH BACK TO GANGNAM STYLE AGAIN! YEAH! #DOR