HALOOO XDDD SAYA KEMBALI MENGAPDET FANFIC LAGI. YANG ARTINYA...
SAYA TELAH KEMBALIIIIIIIII!~ GYAAAA GYAAAAAA~ X'DD #cium readers satusatu #muntah berjamaah #efek Ujian kemaren.
Ehem, sebenernya kenapa saya telat update karena seminggu kemaren saya tawuran sama soal-soal Ujian Tengah Semester yang emang kecepetan itu. Maklumin aja. Sekolahnya emang begitu. #digampar rame-rame.
Tentang Chapter ini, saya lebih membahas ke konflik apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua orangtua Miku yang menyebabkan Miku jadi sedemikian stressnya. #okesalah.
SIPLAH! SELAMAT MEMBACA CHAPTER 5! MAKASIH YANG UDAH BACA SAMPE SEJAUH INI X'D #terharu
Bagian Lima,
"Kegelapan yang Semakin Pekat"
A VOCALOID FANFIC
"Menyakiti? Apakah sesederhana itu?"
Hari berikutnya adalah hari Jumat, Miku masuk sekolah seperti hari-hari sebelumnya. Miku duduk di kelas, melakukan apa yang seharusnya dia lakukan dan menjawab pertanyaan guru apabila ditanya. Namun demikian, otaknya penuh dengan apa yang terjadi semalam. Dan dia tak sabar menunggu sekolah usai. Ketika jam sekolah berakhir, Miku menjadi siswi yang pertama kali keluar dari gerbang sekolah.
Hari itu hujan gerimis, langit senja dinaungi awan tebal kelabu, lembab dan gerimis membasahi atap-atap rumah yang dilewati Miku. Beberapa mobil yang melintas telah menyalakan lampu didepannya namun sinarnya tak kuat melawan kegelapan yang semakin pekat.
"Miku," suara nge-bass membuat gadis berambut hijau tosca itu terlonjak dari perhatiannya. Dialihkan tatapannya pada seorang pemuda berambut biru tua yang kini tengah berjalan menyusulnya. Sosok Shion Kaito yang membuat Miku mengerjap penuh tanda tanya.
"Kenapa terburu-buru begitu?" tanya Kaito sambil memiringkan kepalanya. Menatap wajah Miku yang akhir-akhir ini semakin pucat saja.
"Kau sakit?" tanyanya sambil memegangi dahi Miku tanpa meminta izin terlebih dahulu—segera saja gadis itu menepis tangan Kaito saking kagetnya—Kaito lalu menatap Miku dengan alis terangkat, menandakan bahwa dia juga kaget ditolak begitu.
"T-tidak kok. A-aku duluan, Kaito!" Miku berlari meninggalkan Kaito yang masih menatapnya dari kejauhan. Tak berusaha mencegah gadis itu untuk sekedar menjawab pertanyaannya.
Miku berlari dari ujung trotoar merah bata itu tanpa mempedulikan Kaito yang masih termangu menatap punggungnya yang semakin menjauh—dan bukannya Miku tidak sadar akan hal itu. Ia tahu Kaito memerhatikan dia. Dan seharusnya Miku tidak bertingkah menolak secara langsung seperti tadi. Bisa saja Kaito terluka 'kan?
Mata hijau itu mengenali bangunan yang ada di hadapannya. Rumahnya. Dia lalu memutar kenop pintu dan masuk ke dalam. Kaa-san sudah berada di rumah, tetapi Miku hampir tidak membalas sapaannya. Miku melepaskan mantel dan langsung berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
Setelah melemparkan tas sekolah, dia lalu membuka laci meja dan mengeluarkan lencana serta kotak jarum. Miku berjalan menuju Keranjang Sampah dan mengeluarkan boneka Meiko. Dengan duduk bersilang kaki di tempat tidur, Miku meletakkan lencana, kotak jarum dan boneka di atas selimut tepat di depannya, menempatkan ketiga benda tersebut dengan hati-hati.
Miku mengamati ketiganya dengan cermat. Lalu dia bersandar dan menghela nafas.
Dia memutuskan untuk menanyai dirinya sebuah pertanyaan yang mudah.
Apakah dia sudah gila?
Pada siang hari, sulit baginya untuk mempercayai suara yang terdengar dan makhluk yang tampaknya muncul di kamarnya—sulit mempercayai bahwa dia telah menyebabkan orang lain merasa kesakitan dengan cara menusukkan sebatang jarum ke tubuh sebuah boneka. Seandainya tidak terjadi—jika apa yang telah terjadi hanyalah sebuah mimpi atau imajinasi, dan rasa sakit Meiko malam itu hanyalah suatu kebetulan—oke, pastilah dia mulai gila sekarang. Tidak, tidak. Bukan hanya sedikit gila. Tapi benar-benar edan.
Tetapi, apa yang telah dialaminya bukan seperti mimpi… dan sekarang saat dia sedang berada di kamarnya bersama dengan lencana, kotak jarum dan boneka di depannya ; ingatan bagaimana perasaannya semalam menyergapnya kembali, gabungan menyenangkan antara rasa takut dan rasa senang. Dia pikir apa yang dirasakannya semalam terasa sungguh-sungguh nyata. Semua kejadian seperti masuk akal. Dia merasakan semacam rasa puas yang mendalam.
Miku mendongak. Tirai jendela kamarnya tertarik ke atas, hingga dia bisa melihat langit yang nyaris hitam total. Bayangan-bayangan di kamarnya setebal biasanya, dan ada desis di kedua telinganya. Dia tidak ingin mendengarkan apa yang dikatakan suara itu, dia tidak ingin mengetahui bahwa suara itu nyata, dan dia tidak ingin membangkitkan iblis dengan cara yang demikian.
Seorang bocah Voodoo.
Ya, itulah nama yang diberikannya kepada sosok yang tiba-tiba muncul itu, dan dia merasa gemetar ketika dia kembali mengingat sosok hitam itu. Miku bertanya-tanya… darimana sosok itu berasal? Mengapa membangkitkannya bisa begitu sedemikian mudah?
Apakah bocah Voodoo telah memanterai boneka itu? Ataukah dengan menusukkan jarum ke tubuh boneka akan mendatangkan bocah Voodoo kepadanya meskipun tak seorangpun benar-benar menyadarinya? Kesadaran yang tak sebanding dengan tawaran bocah Voodoo padanya semalam…
Miku mengambil kotak jarum, membuka dan mengambil beberapa batang jarum dan meletakkan di telapak tangannya. Dilihatnya boneka, sambil berpikir untuk menusukkan jarum di tempat di mana jantung seseorang berada. Sesederhana itukah? Apakah hal itu benar-benar bisa membunuh Meiko? Jika memang begitu… apakah kemudian dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri?
Ya, suara itu tiba-tiba berdesis dengan mengerikan kembali di telinganya.
Jika Otou-san kembali dan hidup kembali seperti semula, semula, semula…
Miku menutup matanya sejenak. Mendengarkan suara itu, merasakan suara itu menariknya jauh ke dalam telaga gelap di suatu tempat dalam dirinya. Mengapa tidak mengalah saja sih pada suara itu? Mengapa dia tidak segera menghabisi Meiko untuk sekali dan selamanya? Semua akan berjalan lancar, begitu pikir Miku dan sangat, sangat memuaskan.
Namun dia juga mendengar suara lain dalam kepalanya, meski Miku menolak menyadari apa yang dikatakannya. Dia membuka mata, menunduk melihat jarum-jarum di telapak tangannya, yang hampir tidak bisa dilihat dalam keremangan kamar. Digoyangkannya jarum-jarum itu kian kemari, dan dia mulai tersenyum, mulai menikmati kesadaran bahwa dia berkuasa dan berbahaya. Ya, dia akan melakukan hal itu, demikian ia memutuskan. Mungkin ia akan melakukannya lebih cepat mulai detik ini, menyelesaikan pekerjaannya.
Tiba-tiba didengarnya suara langkah kaki dari luar kamar dan Miku terdiam mematung. Kaa-san sedang berjalan melintasi kamarnya. Sambil menahan nafas, Miku mendengar Kaa-san berjalan menuju lantai bawah. Ketegangannya menurun, tetapi dia memutuskan untuk menunda upaya sihirnya hingga tengah malam nanti. Saat itu akan lebih aman untuk melakukan tindakan sihir, saat di mana Kaa-san tertidur di ranjangnya dan tidak mungkin masuk dan menangkap basah dirinya.
Miku meletakkan kembali jarum-jarum itu di dalam kotak, bangkit dari tempat tidur dan menyalakan lampu, bayang-bayang gelap menghilang terusir oleh sinar cahaya lampu. Dia mengembalikan kotak dan lencana ke dalam laci meja, mengembalikan boneka ke dalam Keranjang Sampah. Dipasangnya kembali tutup keranjang, diturunkannya tirai jendela, lalu duduk menghadap meja. Dia berasa di kamar selama beberapa saat, mengerjakan beberapa PR-nya. Kemudian Miku turun ke lantai bawah untuk menonton TV, melihat opera sabun yang biasa dinikmatinya. Malam itu dia melihat banyak tokoh dan banyak kata dari opera itu. Namun tak satu katapun masuk ke dalam otaknya. Dia merasakan ketegangan yang aneh ; rasa takut, kekesalan dan kebingungannya bersatu menjadi suatu perasaan yang terasa kuat, menjadi suatu kebulatan tekad untuk mengembalikan segala sesuatu pada tempatnya.
Saat opera sabun berakhir, Kaa-san memanggil dari dapur untuk malam malam.
Mereka berdua duduk dan makan di tempat biasanya. Kaa-san seperti biasanya , lebih banyak bicara. Menanyakan bagaimana sekolah Miku hari ini. Miku menjawabnya dengan mengangkat bahu, mengangguk atau hanya memberikan sepotong jawaban. Akhirnya Kaa-san menghela nafas dan meletakkan sumpitnya di atas piring yang berisi ekado dan beberapa nasi gulung lainnya.
"Kaa-san pikir kita perlu bicara, Miku," katanya.
"Atau lebih tepatnya kau yang bercerita. Kau seharusnya berhenti marah dan terus melangkah maju. Meninggalkan masa lalu. Kita berdua harus melakukannya."
"Aku tidak marah," kata Miku, ia menatap Kaa-san sekilas lalu kembali menatap piringnya yang masih penuh. "Memang dulu aku marah, tetapi sekarang tidak lagi."
"Oh?" Kaa-san tampak terkejut. "Mengapa? Ada sesuatu yang berubah?"
Saat itu Miku hampir saja memberitahu Kaa-san tentang bocah Voodoo dan rencana yang ingin dia lakukan. Keinginan jahat telah menguasai pikirannya, dan dia ingin berbagi rasa tentang apa yang diyakininya. Pastikah Kaa-san ingin membalas perbuatan wanita murahan yang telah menyebabkan Otou-san meninggalkan mereka?
Lalu Miku sadar bahwa Kaa-san takkan percaya padanya. Walau sepatah katapun, Miku tidak yakin Kaa-san akan percaya tentang apa yang dialaminya. Kemungkinan yang lebih gawatnya, bisa saja Kaa-san melakukan sesuatu yang akan mengacaukan rencana sihirnya. Tidak, tidak. Tugas ini harus dilakukannya sendiri.
"Kupikir hanya… semua akan akan berjalan baik-baik saja," kata Miku akhirnya. Terjadi keheningan beberapa lama.
"Kaa-san senang mendengarnya," kata Kaa-san. Senyuman terkembang dibibirnya.
"Jadi, apakah ini berarti kau setuju dengan rencana pindah ke sebuah flat bukanlah suatu ide yang buruk?"
"Bukan, bukan itu," jawab Miku kembali gusar. "Tetapi bisa saja kita tidak harus pindah."
"Oh, Miku," keluh Kaa-san. "Kaa-san sudah menjelaskan padamu alasan mengapa kita harus pindah, bukan?"
"Tetapi bagaimana jika Otou-san kembali ke sini?" tanya Miku, mencoba untuk tidak membuka banyak hal, mencoba untuk menguasai kata-kata yang keluar dari mulutnya lalu kembali melanjutkan, "Maksudku, kupikir kita harus menunggu sedikit lebih lama apabila Otou-san ingin kembali…"
Kaa-san menoleh ke arah Miku, matanya dipenuhi kesedihan.
"Itu takkan terjadi, Sayang," katanya pelan. "Kaa-san tidak pernah berpikir bahwa kau masih mengharapkan Otou-san kembali…"
"Kaa-san tidak tahu pasti apakah Otou-san akan tetap pergi jika Meiko tidak bersamanya—"
"Kaa-san tahu, Miku," potong Kaa-san. Suaranya terdengar lebih sedih. "Seharusnya Kaa-san bercerita lebih banyak kepadamu ; sehingga kau mungkin lebih bisa memahami. Tetapi sulit bagi Kaa-san untuk membicarakan hal ini. Apalagi terhadapmu." Kaa-san berhenti lalu bergumam.
"Kebenarannya adalah," Kaa-san menarik nafas sebentar. "Banyak hal yang yang tidak baik terjadi antara Otou-san dengan Kaa-san dalam jangka waktu yang lama, bahkan sebelum Meiko bersama Otou-san. Seperti, kami sering bertengkar dan mengakibatkan kekerasan dalam rumah tangga kami, mendebatkan hal-hal yang tak pasti dan tiada satupun ego kami yang mau mengalah... Maka dari itu, Kaa-san pikir kami tetap tinggal bersama… karenamu."
Ruang makan tiba-tiba menjadi berkabut dan Kaa-san terasa menjauh di mata Miku. Gadis itu lalu meletakkan sumpitnya dan seketika badannya terasa gemetar… sakit. Sakit sekali dadanya. Tanpa sadar, Miku mengepalkan tangannya.
"A-apa maksud Kaa-san?" suaranya terdengar menggema dan lirih. Seolah-olah itu bukan suaranya.
"Apakah Kaa-san bermaksud mengatakan… bahwa Meiko tidak bersalah?"
"Maafkan Kaa-san, Sayang," Kaa-san berkata dengan menatap Miku. Seketika mata Miku membeliak kaget.
"Meiko bisa pergi kapan saja, namun Otou-san dan Kaa-san tetap tidak bisa bersama lagi…"
Bibir Kaa-san masih bergerak-gerak, tetapi Miku tidak mendengar sepatah katapun...
To Be Continue
Miku : Gimana hasil UTSnya, Thor?
Author : ... DIAM KAUUUU! DIAAAAAAAAAAAAAMMMMMMM! OH BUAH SIMALAKAMAAAAA~! #PLAK #sewot =..=
Miku : Hayo berapaaaa. Pasti jelek yak~ #blakblakan
Author : ... SO?! GUE HARUS TAWURAN SAMBIL BILANG "WOW" GITU? =_=
Miku : ...
Oke, setelah dialog gak jelas di atas, saya mau memberitahu readers bahwa Chap 6 adalah Chap terakhir! Jadi terima kasih kepada anda semua yang sudah membaca apalagi mereview, alerting dan bahkan fave fanfic ini~ Sumpah saya terharu loh TwT #oke lebay amat.
Minta Reviewnya boleh? QwQ #puppy eyes #tunjuk2 kotak Review di bawah.
