AKHIRNYA SAYA UPDATE JUGA FIC INI X'D #dor
Sebenernya Chapter ini udah selesai dari jaman kapan tau. Beneran deh. Kalo gak percaya tanya aja sama si RussianSniper17 yang menjadi saksi bahwa saya sudah menulis ini sejak lama. #ditabok gara-gara kebanyakan bacotnya.
Tentang chap ini, adalah chap yang terakhir.
ENJOY THE LAST CHAPTER OF "VOODOO CHILD"!
Bagian Terakhir,
"Sinar yang Berbeda"
A VOCALOID FANFIC
"Perempuan itu pantas mati…"
Miku duduk di atas tempat tidur, mencoba membaca buku dan melupakan apa yang baru saja terjadi. Saat itu sudah larut malam, sangat larut. Angka-angka di weker alarm menunjukkan pukul 11.58 malam, tetapi dia tidak dapat tidur. Miku merasa nelangsa sejak mendengar pengakuan Kaa-san saat makan malam tadi dan dia tidak bisa menghentikan otaknya mengulang-ulang tentang apa saja yang dikatakan oleh Kaa-san. Apa yang telah diceritakan Kaa-san merupakan kejutan baginya, tapi Miku berpikir bahwa Kaa-san bercerita terlalu banyak.
Dia memutar ulang ingatannya, seperti menyetel film video dari masa lalu, dan Miku melihat masa lalunya dari sudut pandang yang berbeda. Dia mengingat ketidakcocokan yang telah terjadi diantara kedua orangtuanya, mereka sering berbantah, dan Miku menyadari kenyataan bahwa orangtuanya tak lagi bahagia untuk tinggal bersama. Miku menghela nafas. Dia menutup bukunya dan meletakkannya di atas meja samping tempat tidur. Dia menutup mata dan menyandarkan kepalanya di bantal. Jadi, Meiko sama sekali tidak bisa disalahkan, pikirnya. Bagaimanapun juga orangtuanya kemungkinan akan tetap berpisah.
Dengan demikian, mungkin saja Kaa-san benar.
Mungkin saja inilah saat yang tepat untuk menjual rumah, melupakan masa lalu dan pindah ke tempat lain. Semua hal tentang Voodoo, pikiran-pikiran untuk menyakiti Meiko bahkan membunuhnya… seperti mimpi buruk. Miku sulit mempercayai perasaannya saat itu.
Perempuan itu pantas mati, lagi-lagi desisan mengerikan itu terdengar oleh Miku. Ditolehkan kepalanya. Namun tiada siapapun di sana.
Dia pantas mati, mati… mati…
Miku sedang mengharapkan mendengar kembali suara itu. Tetapi segera dia memperhatikan ada yang berbeda dalam suara itu ; satu batas yang belum ada sebelumnya. Kepahitan dalam kata terakhir yang bergema dalam kepalanya.
Dia membuka matanya dan terpaku pada angka di weker yang berubah menjadi angka 12.00 tepat. Dia melihat pojok kamar di atas weker, di mana bayan-bayang tampak pekat. Di situ ia melihat sepasang mata kuning menyala-nyala penuh kebencian yang menatap ke arahnya. Mata itu menyala-nyala dalam kegelapan pekat yang semakin hitam. Mata si Bocah Voodoo yang berdiri di samping Keranjang Sampah.
"Tetapi mengapa?" bisik Miku. Dia bisa merasakan jantungnya berdebar-debar.
Mengapa?, tanya bocah Voodoo. Karena seharusnya dia tidak ada. Karena sekarang ini bukan yang seharusnya terjadi, bukan? Otou-san seharusnya ada di sini, bersama Kaa-san, bersama…
"Otou-san tetap tidak akan kembali," bantah Miku dengan keberanian yang entah muncul dari mana secara tiba-tiba.
"Kupikir bahkan Kaa-san juga tidak mengharapkannya kembali. Sehingga tidak ada gunanya membunuh Meiko. Masa lalu sudah berlalu."
Berlalu?, suara si Bocah Voodoo meraung marah. Suaranya nyaring dan kasar memenuhi kepala Miku, membuat nyalinya menciut.
Masa lalu tidak bisa berlalu, berlalu, berlalu…
"Bisa," bisik Miku pelan—nyaris tak terdengar, dan tiba-tiba dia merasa seolah-olah menyerah pada keadaan dan meninggalkan bocah Voodoo. "Masa lalu telah berlalu selama-lamanya…,"
Sejenak terjadi keheningan, tetapi keheningan yang penuh dengan ketegangan yang bisa mengancam nyawa kapan saja. Miku merasa keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Detak jantungnya semakin cepat karena rasa takut dan penasaran dalam waktu yang bersamaan.
Baik, namun kita tidak bisa membiarkannya begitu saja, bocah Voodoo berdesis mengerikan.
"Siapa yang kau bicarakan?" tanya Miku, namun segera dia paham, dan merasa dirinya semakin gemetaran—merasakan suatu ketakutan baru yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Membiarkannya berlalu dengan apa?"
Masa lalu adalah suatu kepalsuan, suatu kebohongan, gumam si Bocah Voodoo. Kaa-san dan Otou-san telah membohongi kita, membuat kita berpikir bahwa kita adalah keluarga yang berbahagia. Lalu mereka menghancurkan semuanya. Mereka harus membayar apa yang telah mereka lakukan dan apa yang sedang mereka lakukan kepada kita…
"Tetapi aku tidak ingin mereka membayar apapun," Miku berbisik. Namun perlahan dia merasa aneh dan sangat heran mengapa bocah Voodoo mulai menyebut 'kita' dalam kalimatnya.
TETAPI KITA HARUS!, raungan si Bocah Voodoo membuat Miku menarik diri dan mundur perlahan. Keringat dingin terus membanjiri tubuhnya. Nafasnya tersengal-sengal.
Lalu matanya membeliak kaget menemukan dirinya sedang berdiri di depan lemari pakaian. Bocah Voodoo meluncur ke arahnya hingga ia bisa melihatnya dari dekat, sangat dekat, sehingga mereka nyaris bersentuhan. Miku baru sadar bahwa dia dan si Bocah Voodoo sama bentuk dan tingginya. Ia juga lebih bisa melihat bentuk lain ; rambut, bulu mata, hidung ; bentuk mulut yang menyerupai mulut orang.
Mulut yang menyerupai mulutnya.
Nyatanya, Miku bisa melihat bahwa bocah Voodoo sangat mirip dengan dirinya yang dilihatnya setiap hari di cermin—bocah itu, merupakan bentuk Miku dalam versi aneh, hitam dan sangat amat mengerikan. Miku menahan nafas dan jantungnya nyaris berhenti berdetak. Miku baru sadar.
Yak, benar Miku, kata bocah Voodoo.
Aku adalah kamu. Dan kamu adalah aku. Dan aku sungguh tahu apa yang sebenarnya kita inginkan. Jika kita tidak bisa mengembalikan masa lalu, masa lalu yang kita pikir kita miliki… ya, kita ingin menghancurkan… menghancurkan!
Miku menghembuskan nafas, tetapi ia tidak bisa berkata apa-apa. Dia menunduk melihat tangannya, salah satu tangannya menggenggam boneka Meiko, tangan yang lain memegangi jarum.
Kita bisa mulai dengan… perempuan itu, kata bocah Voodoo.
Lalu kita bisa membuat boneka Kaa-san dan Otou-san yang juga akan kita hancurkan. Sakiti mereka, sakiti mereka, sakiti mereka ; tusuki jarum, tusuki jarum, tusuki jarum… lakukan… lakukan… LAKUKAN!
Miku merasakan tangannya yang memegang jarum bergerak di luar kemauannya ke arah boneka. Bocah Voodoo yang harus dalam bentuk awan hitam menekan di atas kepala Miku, garis tubuhnya mengabur ketika ia melayang ke arahnya, kepekatannya mencari-cari sisi gelap yang selalu ada dalam diri Miku, yang juga merupakan tempat dari mana bocah itu berasal.
Lakukan, lakukan, lakukan! Bocah Voodoo berbisik—terdengar sedikit memprovokasi. Dan jarum bergerak semakin mendekati boneka, ujungnya yang tajam berkilat-kilat.
Tidak ada yang mempedulikan kita, tidak ada!
Tetapi terdengar suara lain di kepala Miku, suara lemah yang mengatakan bahwa yang dikatakan si Bocah Voodoo tidaklah benar. Bukankah Kaa-san mengatakan bahwa ia peduli dengannya? Dan dengan beberapa cara, bukankah Otou-san juga sedang berusaha memperbaiki hubungan dengannya, meskipun dia tidak begitu berhasil melakukannya. Dan apa yang akan terjadi jika dia menyerah pada monster yang telah dilepasnya ini? Miku tahu bahwa hal ini akan berakhir. Sisi gelap dalam dirinya akan memenuhi dunianya dan dia tidak akan menemukan kebagagiaan lagi. Tidak akan pernah.
Miku akhirnya sadar bahwa kebahagiaanlah yang paling diinginkannya.
Jarum yang dipegangnya hampir menyentuh boneka. Miku menahan gerakannya, menahan sekuat tenaga, hingga tangan dan lengannya bergetar hebat dan dia tahu bahwa dia tidak bisa menahannya lebih lama. Miku mendongak dan mendapati dirinya di cermin lemari dan dia hampir kehilangan akal sehatnya begitu melihat pantulan dirinya. Dia berubah menjadi bocah Voodoo, makhluk aneh yang berasal dari semua mimpi buruknya!
"Kau tidak bisa melakukanya! Aku tidak mengizinkanmu!" Miku berbisik pada boneka Voodoo dengan suara gemetar yang hebat dan ketakutan yang luar biasa dalam hidupnya.
Sudah terlambat, bocah Voodoo balik berbisik. Tusukkan… tusukkan… tusukkan!
Tiba-tiba Miku tahu bahwa dia tidak bisa lari menahan diri. Hanya ada satu hal yang bisa menyelamatkannya.
Miku memusatkan perhatianya pada tangan yang memegang boneka, memaksa ibu jarinya bergerak menghalangi dada boneka Meiko. tetapi jarum itu semakin dekat dengan ibu jarinya dan tidak mau bergeser. Lalu tiba-tiba ibu jarinya tersentak dan tergelincir… tepat pada saat tangannya yang lain menusukkan jarum pada boneka.
Miku merasakan ujung jarum yang tajam menusuk kulitnya, merasakan rasa sakit yang sesungguhnya dan dia menjerit serta menjatuhkan boneka dan jarum dari lantai.
Sambil mengatur nafas, dia menutup matanya dan memusatkan perhatian pada sisi gelap dalam dirinya.
Dia menekan dalam-dalam sisi gelapnya ke dasar dirinya, hingga semua terkumpul di sana. Lalu dia menekan-nekannya hingga menjadi bola hitam, dan membenamkannya ke dalam, semakin dalam hingga meghilang dari permukaan. Miku mendengar teriakan, bisikan dan raungan terakhir.
TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKK…
Lalu terdengar senyap.
Miku menunggu sejenak, hampir-hampir tidak percaya bahwa dia telah berhasil.
Lantas dia menarik nafas dalam-dalam dan perlahan membuka matanya kembali.
Miku melihat ke dalam cermin lemari pakaiannya. Dia merasa lega melihat dirinya sendiri di dalam cermin, dan bukannya si makhluk kegelapan tadi ; yang dilihatnya adalah seorang gadis berambut hijau tosca yang memakai piyama, berdiri di dalam kamarnya, di mana pendar kuning keemasan lampu samping tempat tidurnya memaksa keremangan tetap tinggal di pojok-pojok kamar. Miku mendengarkan, tetapi telinganya hanya menangkap kesunyian dan bunyi nafasnya yang masih memburu.
Matanya sekilas berkilat kuning lalu memudar dan kembali menjadi warna hijau normal kembali.
Dia duduk di atas tempat tidur dan menunduk melihat ibu jarinya, dia mengamati ada titik darah kecil encer yang keluar dari dalam kulitnya. Diisapnya darah itu dengan mulutnya, rasa asin dan rasa besi terasa di lidahnya. Miku melihat titik di mana jarum ditusukkan karena ada rasa perih di situ. Dia bertanya-tanya apakah bocah Voodoo sudah lenyap selamanya dan mereka semua selamat…
Meski demikian, dia tidak lagi perlu merasa cemas. Dia tahu bahwa dia akan mampu mengatasinya seandainya kejadian tadi terulang lagi. Namun, sekarang dia merasa letih. Letih sekali. Dan dia harus beristirahat. Dia merebahkan diri di kasur, jatuh tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal.
Tahu-tahu dia sudah terbangun, sinar matahari menerobos masuk tirai jendela. Miku terbangun. Dia tidak bermimpi tentang apapun. Dia merasa baik-baik saja. Oh, bukan. Dia merasa lebih baik dari sekedar baik-baik saja—dia merasa normal, seperti dirinya yang dulu. Dia melompat bangun dari tempat tidur dan kemudian dilihatnya boneka dan jarum yang tergeletak di tempat dia menjatuhkannya semalam. Miku mengambil kedua benda itu dan menaruhnya di atas meja.
Hanya sebuah boneka usang dan sebatang jarum, pikirnya. Hanya itu.
Miku mandi dan berpakaian, pergi ke lantai bawah untuk sarapan dan dia melihat Kaa-san sudah berasa di taman, menyapu daun-daun yang berguguran. Miku menuju taman menghampiri Kaa-san. Saat itu udara dingin dan langit gelap dipenuhi awan-awan kelabu yang bergumpal-gumpal.
"Kau berseri-seri dan bangun sepagi ini di hari Sabtu," kata Kaa-san. "Apakah kau punya rencana hari ini? Kaa-san pikir kau tidak akan bertemu ayahmu hingga besok."
"Kupikir aku harus mulai memilah-milah barangku," kata Miku sambil mengangkat bahu lalu melanjutkan. "Mungkin membuang beberapa barang usang. Aku perlu untuk… jika kita jadi akan pindah."
Kaa-san terdiam sesaat. Lalu senyumnya terkembang dan mendekati Miku. Dia memegang kedua pipi anaknya dengan kedua tangannya dan mengecupnya dengan lembut, Miku lalu merasakan pelukan hangat dari Kaa-san.
Ibu dan anak itu berdiri berhadapan beberapa saat dan saling bergandengan tangan.
"Itu ide yang bagus, Sayang," kata Kaa-san akhirnya.
"Kaa-san sudah memilah-milah barang Kaa-san sendiri. Jadi Kaa-san bisa membantumu jika kau memerlukannya. Tetapi dengan satu syarat—"
"Tidak usah dikatakan," potong Miku sambil nyengir—yang sudah lama tidak ditampakannya.
"Kaa-san ingin aku memasak air 'kan?"
"Nggak sopan," kata Kaa-san sambil mengacak rambut panjang Miku. "Tapi kau benar kali ini."
Senyum Miku terkembang perlahan. Seperti matahari terbit yang menyingkap kegelapan malam.
OWARI
special thanks for :
RussianSniper17
Tanpa kamu, aku gak bakal punya motivasi dan inspirasi untuk menulis. Hontou ni suki daisuki! X'3 Tapi tetap takkan kubiarkan kau memonopoli semua fic-ku =_= #death glare #plak
Misa dan Kiya-san
Walo gak pernah log in setiap ngereview fic saya, tapi tanpa kalian saya bakalan terus-terusan jadi author abal TwT
Orzpesalius
Yang goblok sama pongo bet tapi tetep badut ngaco yang ngondek teman baik saya X'D #DOR
dan tentu saja untuk
KAMU
yang sudah membaca fic ini X'D
Last,
Review, please?
v
