Pairing : SasuFemNaru
Disclaimer : Naruto punya om Masahi Kishimoto dan terinspirasi dari First Date milik tante Miyuki Kobayashi
Warning : OOC, Gaje, Typo. Sequel dari First Date
Sankyu buat yang udah meninggalkan reviews : DheKyu, Ciel-Kky30, sylgirl, Neerval-Li, dwidobechan, EvilmagnaeMin, NonoUnnie. Sankyu juga buat yang udah memasukkan cerita ini sebagi salah satu cerita favorit kalian, dan terima kasih juga buat yang follow. Dan tentu saja terima kasih juga buat para readers yang tetap mau membaca cerita dari author baru seperti shia.
(^w^)
Chapter 2
Seminggu sudah berlalu sejak hari tahun ajaran baru, kegiatan sekolah sudah berjalan seperti biasanya lengkap dengan tugas-tugas yang dengan senang hati diberikan para guru untuk 'memanjakan' para siswa. Begitu juga dengan kegiatan pasangan kita SasuNaru. Naruto tetap meneruskan kebiasaannya menyapa Sasuke di pagi hari dengan apa yang ia sebut 'sapaan khas Uzumaki Naruto' yang bagi Sasuke lebih kepada usaha memendekkan umur plus menulikan telinganya. Gimana nggak pendek umur coba, kalau tiap pagi ia disapa dengan cara dikageti atau diteriaki. Ditambah lagi, Naruto benar-benar menepati kata-katanya untuk akan terus memanggil Sasuke teme selama Sasuke memanggil Naruto dobe.
Naruto dan Sasuke masih tetap saling berhubungan lewat SMS tetapi akhir-akhir ini intensitasnya berkurang karena Sasuke sibuk melakukan tugasnya sebagai pengurus OSIS, sehingga kadang ia tidak sempat membalas SMS dari Naruto. Yah, tapi SMS Naruto juga bukan SMS yang penting, paling sekedar menanyakan 'Sudah pulang?' atau 'Sudah sampai di rumah?' atau 'Sudah tidur?' atau 'Sudah makan?' *cieleh non, emang kamu istri yang tinggal tugas ke luar kota apa?*
Sebenarnya yang mengherankan itu adalah kenapa si Sasuke mau saja menjawab SMS nggak penting Naruto itu kalau ia sempat ya? Tapi sudahlah, meskipun kita menanyakannya pada Sasuke palingan kita dijawab dengan 2 huruf andalannya itu atau malah dapat deathglare Uchiha gratis. Ok, back to the story. *ceh, sok inggris segala lu #diteriaki readers
Selain SMS nggak penting itu, Naruto juga sering SMS buat ngajak pulang bareng. Tapi sayangnya pemirsa lagi-lagi tanggapannya negatif, yah alasannya itu tadi, Sasuke sibuk mengerjakan tugas OSIS setelah jam sekolah usai dan sudah pasti pulangnya bakalan lebih lambat. Naruto juga nggak bisa maksa buat nungguin Sasuke yang selesainya entah kapan itu, bisa-bisa ia malah pulang kemalaman dan pasti dapat hukuman dari mamanya tersayang. Meski Naruto anak yang masuk kategori agak bandel tapi ia paling pantang deh melanggar aturan yang sudah ditetapkan mama dan papanya, terutama aturan mamanya itu. Masalahnya sih bukan apa-apa, tapi hukuman yang diberikan Kushina itu yang bikin ilfiil banget, masa kalau pulang telat Naruto bakalan dikurung di WC? Nggak elit banget kan?
Jadi deh Naruto pulang dengan wajah cemberut karena nggak bisa pulang bareng sama cowok yang disukainya aka Sasuke. Padahal para reader sekalian pulang barengnya itu cuma sampai halte bus saja yang berjarak nggak sampai 200 meter dari sekolahnya, soalnya rumah Sasuke lebih jauh dari rumah Naruto dan akan lebih cepat bagi Sasuke untuk pulang pergi sekolah dengan naik kereta. *ckckck, sungguh kasihan dikau Naruto.
Tapi namanya juga Naruto, nggak pernah lama-lama buat meratapi nasibnya ataupun bersedih hati, beberapa hari saja ia sudah kembali hepi dan riang seperti biasanya bahkan mungkin lebih. Ia memilih untuk memikirkan hal yang baik-baik saja dan mengalihkan perhatiannya supaya nggak terlalu memikirkan hubungannya dengan Sasuke.
Salah satunya adalah dengan fokus pada misi barunya saat ini. Readers sekalian penasaran kan misi apa yang sedang diemban Naruto sekarang? Baiklah...drudududrurudududu... ini dia... jeng...jeng jeng... Misi berteman dengan Sabaku Gaara!
Yup. Naruto sudah bertekad kalau ia harus bisa berteman dengan Gaara si cowok pendiam dengan aura yang mengintimidasi orang-orang sekitarnya, pengecualian untuk Naruto tentu saja yang nggak terpengaruh atau mungkin lebih tepatnya nggak merasakannya.
Awalnya sih Naruto juga cuek-cuek saja dengan cowok pendiam *menurut Naruto* satu itu. Tapi ketika ia mencoba untuk menyapa dan sekedar mengajak bicara ringan dengan Gaara sebagai sopan santun bertetangga *bangkunya yang bersebelahan maksudnya*. Tapi apa yang terjadi? Bagaikan pepatah yang berbunyi air susu dibalas air tuba, itulah yang Naruto rasakan waktu sapaannya malah dibalas dengan Gaara yang memalingkan wajahnya begitu saja. Atau bahkan kalau sedang berselisihan ia hanya melalui Naruto seolah-olah Naruto nggak ada. Gimana Naruto nggak bakalan sebal coba? Sejak itulah ia bertekad untuk membuat Gaara mengakui keberadaannya dengan cara berteman dengannya.
Hari ini juga seharian selama di sekolah tadi jika ada kesempatan ia mencoba mendekati dan berbicara dengan Gaara tapi hasilnya masih nihil. Gaara masih cuek dan nggak menganggapnya, dan ini sudah hari ke lima. Tanpa terasa sekolah sudah usai dengan hasil : misi Naruto masih belum mengalami kemajuan sedikitpun.
"Huh. Dasar si Gaara itu, kenapa sih ia nggak mau membalas sapaanku, setidaknya kalau nggak mau bicara, mengangguk kek sebagai sopan santun membalas sapaan orang. Apa ia nggak pernah diajari sopan santun?" omel Naruto sendiri yang sedang berjalan menuju halte bus.
"Hah... Apa aku menyerah saja ya?" Naruto mulai putus asa karena ini sudah hampir seminggu sejak usahanya menjalankan 'misi berteman dengan Gaara' berlangsung dan yang jadi target malah nggak bergeming sedikit pun, padahal berbagai cara sudah dilakukan Naruto, dari bermanis-manis ria sampai mengancam. Yap, reader nggak salah baca. Naruto memang sampai mengancam Gaara kalau ia nggak mau berbicara atau sekedar membalas sapaan Naruto, ia akan terus mengganggu Gaara dan mengikutinya ke mana-mana. Tanggapan Gaara? Ia melengos berjalan melewati Naruto seolah-olah nggak ada yang teriak-teriak mengancamnya. Para siswa yang jadi saksi kejadiaan itu hanya bisa sweetdrop saja dan memilih tetap berada di garis aman dengan tidak ikut campur dan melanjutkan kegiatan mereka yang sempat terhenti waktu Naruto mendeklarasikan ancamannya tadi.
Naruto benar-benar menjalankan ancamannya itu, ia mengikuti Gaara ke mana-mana bahkan hampir ia ikut masuk ke WC cowok seandainya Ino, Hinata dan Kiba nggak mencegahnya. *Ckckck, repot banget kayaknya ya jadi temennnya Naruto ini*. Gaara, orang yang diikuti malah nggak peduli. Sepertinya ia benar-benar nggak menganggap Naruto ada.*
Ahh! Mengingat kejadian itu benar-benar membuat Naruto tambah kesal saja dan kembali ia mengutuk dan menjelek-jelekkan Gaara dalam kepalanya.
Tanpa Naruto sadari saking asyiknya ia mengutuk Gaara ia sampai hampir saja ketinggalan bus, dan itu membuatnya semakin mengutuk Gaara sambil menaiki bus. Saat ia sibuk mencari tempat kosong buat duduk, matanya malah menangkap rambut berwarna merah yang nggak asing lagi, dan segera ia bergegas menuju tempat duduk yang kosong pas disamping Gaara dan mendaratkan pantatnya dengan nyaman disana.
Gaara yang awalnya melihat ke luar jendela bus yang telah melaju menuju halte selanjutnya karena merasakan ada tatapan intens yang diberikan ke arahnya memalingkan wajahnya. Dan betapa terkejutnya ia waktu yang menatapnya itu adalah sepasang mata berwarna biru langit cerah tanpa awan dan segera saat ia menatap mata tersebut, wajah si empunya mata langsung menampilkan senyum lebar.
"Sore, Gaara," ucap cewek yang di ketahuinya bernama Uzumaki Naruto. Cewek yang akhir-akhir ini selalu saja muncul di sekitarnya dan mengajaknya bicara selama dia berada di sekolah. Bahkan baru-baru ini cewek ini selalu mengikutinya ke mana-mana. Segera Gaara memalingkan wajahnya dan menatap ke luar jendela kembali.
"Hmm, tetap mau mengabaikanku ya?" ucap Naruto. "Tidak masalah, toh sudah biasa. Tapi aku nggak nyangka kalau kamu juga naik bus jalur ini, kenapa kita nggak pernah ketemu, ya?" lanjutnya lagi.
Gaara hanya diam dan tidak mempedulikan Naruto. Sebenarnya ini pertama kalinya ia pulang naik bus ini. Sebelumnya ia selalu di antar jemput oleh kakak laki-laki atau perempuannya karena ia belum terbiasa dengan jalan Konoha mengingat ia baru saja pindah dari Sunagakure. Rencananya sih, mulai hari sampai seterusnya ia akan pulang pergi naik bus, walau tadi pagi kakak perempuannya, Temari masih ngotot mengantarnya, katanya sekalian ke kampus karena hari ini ia dapat mata kuliah pagi. Ia benar-benar nggak menyangka kalau ia akan satu bus dengan gadis yang akhir-akhir ini mengganggu ketenangannya, walau di luar Gaara tidak menunjukkan kalau ia terpengaruh dengan keberadaan gadis yang bernama Naruto ini.
"Apa kamu baru saja mulai naik bus ini hari ini? Ah, benar juga kamu kan baru saja pindah dari Sunagakure, jadi pasti belum hapal jalan. Pasti sebelumnya kamu di antar jemput kan?" Naruto memulai lagi pembicaraan sepihak seperti biasanya.
Melihat nggak ada respon Naruto melanjutkan, "Nggak nyangka ternyata kamu anak manja juga, ya?"
Gaara yang mendengar ucapan Naruto barusan tadi sebenarnya agak tersinggung, tapi karena ia sudah bertekad dari awal melihat Naruto untuk mengabaikannya melanjutkan terus diam dan semakin konsentrasi melihat keluar jendela, berharap dengan begitu bisa membuat Naruto berhenti mengajaknya bicara dan juga balik mengabaikannya.
Merasa Gaara tidak ada meresponnya juga meski ia sudah sedikit menyinggung Gaara, Naruto akhirnya memilih diam karena sebenarnya hari ia merasa lebih lelah dari biasanya, mungkin karena pelajaran olahraga tadi siang. Ia mulai menyandarkan tubuhnya pada tempat duduk bus dan tanpa disadarinya ia mulai tertidur.
Sepuluh menit setelah Naruto tertidur tadi bus akhirnya berhenti dan segera Gaara bangkit, karena ini adalah tempatnya turun. Saat ia melewati Naruto tanpa sengaja ia malah membangunkannya.
"Eh?" Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya dan mulai menfokuskan pandangannya ke luar depan, dilihatnya sosok Gaara yang turun dari bus. "Heh, jadi disini toh tempatnya turun," gumam Naruto.
Saat mata Naruto fokus pada pemandangan di luar, barulah ia sadar kalau ini juga tempatnya turun, tepat saat bus mulai berjalan lagi Naruto berteriak, "Pak Supir, berhenti! Saya belum turun!"
Supir yang kaget dengan teriakan Naruto tadi refleks menginjak rem dan Naruto pun bergegas bangkit dan menuju pintu keluar sambil mengucapkan maaf dan menundukkan kepalanya berkali-kali ke arah supir juga penumpang lainnya sampai ia turun dan pintu bus tertutup.
"Fiuh. Syukur deh, nggak sempat kelewatan," ujar Naruto sambil mulai berbalik dan berjalan menuju rumahnya dan waktu itulah ia ingat Gaara juga turun ditempat yang sama, ia pun mulai mengedarkan pandangannya mencari sosok Gaara dan menemukannya di arah yang juga akan ia tuju.
"Gaara, tunggu!" teriak Naruto sambil berlari menuju Gaara yang berjalan dengan santai.
Gaara yang mendengar namanya dipanggil segera berbalik dan ia terkejut melihat Naruto yang berlari ke arahnya sambil memanggil-manggil namanya. 'Apa ia serius akan mengikutiku?' Pikir Gaara kembali ingat ancaman Naruto sebelumnya sambil melihat Naruto yang semakin mendekat.
"Aku juga ke arah situ," kata Naruto sambil menunjuk arah yang akan dituju Gaara tadi. "Kita jalan sama-sama, ya?" lanjutnya.
Gaara menatap Naruto sebentar, kemudian berbalik melanjutkan berjalan pulang menuju rumahnya.
Naruto yang menganggap diam Gaara berarti iya, langsung juga ikut berjalan di sampingnya. Selama berjalan bersama itu Naruto hanya diam saja, walau sebenarnya ia ingin menanyakan di mana rumah Gaara, tapi karena tahu pasti nggak bakalan dijawab, ia batal menanyakannya dan terus berjalan di samping Gaara menuju rumahnnya yang perlu waktu kurang lebih 15 menit berjalan dari halte bus.
Sementara dengan Gaara, walau dari luar ia terlihat tenang dan cuek saja bahkan mengabaikan Naruto tapi dalam pikirannya ia heran bagaimana bisa ia malah satu arah jalan pulang dengan orang yang paling ia nggak ingin terlibat atau berurusan. Dan sialnya lagi sudah mau sampai rumahnya tapi gadis yang bernama Uzumaki Naruto ini masih saja berjalan di sampingnya. Ia juga sebenarnya penasaran kenapa gadis yang biasanya berisik itu tiba-tiba jadi diam dan berjalan dengan tenang di sampingnya. 'Jangan-jangan gadis ini memang mengikutinya dan sedang merencanakan sesuatu?' Batin Gaara mulai parno.
Tiba-tiba Gaara berhenti dan berkata, "Apa kamu serius mengikuti bahkan sampai rumah?" tatap Gaara tajam pada Naruto. "Kau ini stalker, ya?" lanjutnya lagi dengan suara yang menusuk.
"Eh?" Naruto kaget bukan karena tuduhan Gaara tapi lebih karena Gaara membuka mulutnya dan berbicara padanya.
Beberapa saat hening, tapi setelah otak Naruto mencerna tiap kata yang dilontarkan Gaara ia akhirnya tersadar dari keterkejutannya dan langsung menjawab dengan kesal.
"Enak saja. Rumahku memang ada di sini kok. Tuh rumah bertingkat yang ada pohon sakura di halamannya," Naruto menunjuk rumahnya.
Gaara mengikuti arah yang ditunjuk Naruto kemudian balik menatap Naruto dan mengerutkan alisnya seolah berkata aku nggak percaya padamu.
Naruto yang melihatnya langsung kesal lalu tiba-tiba menarik tangan Gaara dan menyeretnya menuju ke arah rumah yang ditunjuknya. Gaara kaget dengan tindakan yang dilakukan Naruto hanya bisa mengikuti Naruto sampai memasuki rumah tersebut.
"Kaa-san! Naru pulang!" teriak Naruto dengan tangannya yang masih kekeh memegang tangan Gaara.
"Selamat datang, Naru-chan," sahut Kushina yang keluar menyambut Naruto.
"Lho? Kamu bawa pulang teman, ya? Ayo cepat suruh masuk," lanjut Kushina waktu melihat putrinya datang bersama dengan cowok yang memakai seragam SMU Naruto.
Gaara yang tadinya masih diam terkena syok karena tiba-tiba diseret seorang gadis jadi sadar. "Maaf. Saya bukan teman Naruto," ucapnya pada Kushina. Meski Gaara pendiam dan terkesan dingin dan cuek dengan sekitarnya, tapi setidaknya ia tahu harus bersopan santun dengan orang yang jauh lebih tua darinya.
"Bukan teman Naruto? Lalu siapa?" tanya Kushina bingung dan saat itulah matanya menangkap tangan Naruto dan Gaara yang berpegangan, tepatnya lagi Naruto yang memegang tangan Gaara.
"Astaga! Kamu pacarnya Naruto, ya?" jerit Kushina dan senyum pun langsung merekah di wajahnya. "Nggak nyangka akhirnya Naru-chan punya pacar juga."
Naruto dan Gaara yang mendengar kata-kata Kushina tersebut langsung pasang tampang kaget. Naruto mukanya jadi merah, sementara Gaara matanya jadi agak membuka lebar –saking kagetnya dengan komentar Kushina-.
"BUKAN!" jawab Naruto dan Gaara bersamaan. "Kaa-san, kami nggak pacaran kok."
"Eeh...? Kalau nggak pacaran kenapa kalian pegangan tangan di hadapan Kaa-san?" tanya Kushina lagi sambil menunjuk tangan Naruto yang memegang tangan Gaara.
Buru-buru Naruto dan Gaara langsung melepaskan tangan mereka yang berpegangan tersebut. Gaara lalu langsung melipat kedua tangannya di dada, sementara Naruto panik mencoba menjelaskan kepada mamanya.
"Bukan, begitu Kaa-san. Gaara teman sekelas Naru kok. Tadi ia menuduhku mengikutinya dari halte bus sampai sini, padahal kan memang arah rumah kita yang sama. Makanya Naru mencoba membuktikannya dan mengajaknya ke rumah kita," jelas Naruto.
"Heeh, benar begitu?" tanya Kushina dengan tatapan penuh selidik.
"Benar, kok! Kalau Naru bohong, Kaa-san boleh membuang persediaan ramen punya Naru!"
"Iya, iya. Kaa-san percaya. Kalau sampai kamu mempertaruhkan stok ramen makanan tersayangmu itu berarti memang benar."
Mendengar ucapan ibunya itu Naruto menghela nafas lega.
"Kalau begitu tunggu apa lagi , cepat kamu ajak teman sekelas kamu itu masuk, masa tamu dibiarkan berdiri terus, " kata Kushina. " Gaara, kan? Ayo, silahkan masuk jangan malu-malu."
Gaara yang awalnya tadi hanya diam menonton pembicaraan dua ibu anak tersebut mendengar perkataan Kushina itu ingin membantah kembali dan segera pergi dari rumah Naruto, tapi begitu melihat senyum keibuan dari Kushina ia jadi mengurungkan niatnya dan akhirnya menurut juga untuk masuk ke dalam mengikuti Kushina.
Naruto yang melihat si Gaara menurut dan mengikuti ibunya ke ruang tamu ternganga dan diam di tempatnya berdiri tadi.
"Naru-chan, ngapain kamu masih berdiri di situ. Ayo masuk dan ajak Gaara ke ruang tamu. Kaa-san ke dapus dulu menyiapkan minuman dan makanan kecil untuk Gaara."
"Tidak perlu sampai merepotkan begitu, tante"
"Tidak merepotkan, kok. Jarang-jarang Naru-chan mengajak pulang temen cowoknya, mana ganteng lagi. Es jeruk nggak masalah kan?" Kushina lalu berlalu menuju dapur.
Gaara yang di puji seperti itu oleh Kushina jadi agak malu walau nggak tampak di wajah stoicnya itu dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Ayo Gaara, kita ke ruang tamu," ajak Naruto setelah sadar dari keterngangaannya tadi. Gaara pun mengikuti Naruto yang berjalan lebih dulu.
Ruang Tamu Kediaman Uzumaki
Sampai di ruang tamu Naruto menyilahkan Gaara duduk, sementara ia sendiri juga duduk di sofa. "Maaf, ya. Jadi malah memaksamu mampir. Habis kamu sih, tadi curigaan gitu sama aku. Bahkan sampai menuduhku stalker segala lagi, " ucap Naruto.
Hening.
"Jeh, jadi kamu mau ngomong sama Kaa-san dan nggak mau ngomong sama aku," kata Naruto lagi. "Ah. Jangan-jangan kamu suka dengan wanita yang lebih tua, ya?" Naruto mulai menggoda Gaara lagi.
Hening lagi.
"Sebaiknya jangan deh. Kalau tou-san tahu kamu mengincar Kaa-san, bisa-bisa kamu dimutilasi tou-san. Biar tou-san itu terlihat orang yang tenang dan cinta damai, tapi kalau sudah menyangkut keluarganya ia bisa berubah jadi inkarnasi iblis. Apalagi tou-san sangat mencintai kaa-san. Dan kaa-san juga sangat mencintai tou-san. So, forget it. Cari wanita lebih tua yang lain saja deh," lanjut Naruto panjang lebar.
Alis Gaara jadi berkedut mendengar tuduhan nggak berdasar Naruto tersebut. Sebenarnya ia mau diam saja dan tidak menghiraukan Naruto tapi kayaknya ini cewek semakin dibiarkan bakalan semakin menjadi-jadi. Meski Naruto mungkin hanya sedang mengerjainya, tapi entah kenapa cara ia mengucapkan semua tuduhannya tadi seolah-olah itu memang fakta yang telah terbukti kepastiannya. Dan itu membuat Gaara semakin kesal.
"Berhenti bicara, stalker," kata Gaara dingin tapi matanya menatap Naruto seolah menantangnya untuk terus berbicara hal yang tidak benar itu.
"Hei! Aku kan sudah membuktikan kalau aku nggak mengikutimu, tapi memang arah jalan pulang kita sama," protes Naruto.
"Bukannya kamu di sekolah selalu mengikutiku ke mana-mana bahkan sampai ke WC. Itu bukti kalau kamu itu stalker," sahut Gaara.
"Itu dan ini nggak ada hubungannya," kata Naruto kesal.
"Ada hubungannya. Itu dan ini kamu sama-sama mengikutiku," ucap Gaara keras kepala dan dengan penuh penekanan pada kata itu dan ini.
"Bukannya aku bilang pulang tadi aku nggak mengikutimu," jerit Naruto frustrasi. "Ah! Aku tahu, sebenarnya kamu kan yang mengikuti aku," lanjut Naruto dengan perkataan yang menurut author nggak masuk akal.
'Ini cewek mulai berpikir nggak masuk akal,' pikir Gaara yang setuju dengan pendapat author.
"Kenapa jadi malah aku yang mengikutimu? Dasar cewek stalker nggak masuk akal," Gaara mulai emosi.
"Kalau kamu nggak mengikutiku lalu ngapain sekarang kamu ada di rumahku?" tantang Naruto. *Aduh Naruto bukannya tadi kamu yang menyeret Gaara ke rumah kamu sampai Gaara jadi di suruh masuk sama mama kamu. Apa kamu terkena amnesia mendadak?*
"Bukannya tadi kamu yang menyeretku kemari waktu aku ada di depan rumahku!" Gaara mulai pusing dengan cara berpikir Naruto yang ngawur dan sepertinya juga mempunyai ingatan yang sangat buruk.
"Aku... eh..., benar juga ya," Naruto mulai ingat. "Eh, tempat kita berhenti tadi rumahmu?" lanjutnya bertanya.
"Hm."
"Berarti kita bertetangga dong?!"
"Siapa yang bertetangga?" tanya Kushina yang muncul dengan membawa baki yang berisi minuman dan makanan kecil.
"Ayo Gaara silahkan dicicipi minuman dan makanannya," Kushina mempersilahkan Gaara sambil ia sendiri duduk di sofa dengan Naruto.
"Terima kasih," jawab Gaara singkat mencoba mencicipi minumannya. Sepertinya ia jadi haus gara-gara bicara dengan Naruto tadi.
"Ngomong-ngomong Gaara kita belum berkenalan dengan benar tadi. Perkenalkan tante Uzumaki Kushina, ibunya Naruto. Kalau boleh tahu siapa nama lengkapmu?" Kushina memulai percakapan dengan berkenalan lebih dulu.
"Ah. Saya Sabaku Gaara," jawab Gaara singkat.
"Sabaku? Bukannya keluarga yang baru pindah di kompleks ini juga bernama Sabaku? Jangan-jangan kamu putra keluarga tersebut, ya? Oh, ternyata kita bertetangga rupanya," sahut Kushina.
"Benar, tante. Kami mulai pindah sejak seminggu yang lalu."
"Wuah. Dan kamu juga teman sekelas Naru-chan, benar-benar kebetulan yang menyenangkan, ya? Mulai sekarang sampai seterusnya tolong titip putri tante ini, ya? Naru-chan memang anaknya agak bandel dan ceroboh juga bodoh tapi ia anak yang baik kok," kata Kushina sambil tertawa kecil.
"Aduh kaa-san bikin malu aja, deh. Kok kesannya seperti mau melepaskan anak untuk menikah," komentar Naruto dengan muka yang memerah malu juga agak sebal dibilang bandel dan ceroboh bahkan bodoh oleh mamanya sendiri. Mana dihadapan Gaara lagi.
"Lho, kenapa? Mungkin saja kan Gaara nanti jadi suami kamu di masa depan. Kaa-san setuju-setuju saja kok, soalnya kan kaa-san jadi punya menantu yang tampan seperti Gaara. Gaara mau kan jadi menantunya tante?" kata Kushina dan menghadap ke arah Gaara waktu mengucapkan kalimat pertanyaan terakhir tadi.
Gaara yang mendengar perkataan Kushina bingung harus menjawab apa dan mukanya jadi agak memerah. Ingin langsung membantah, nggak enak nanti malah bisa melukai perasaan Kushina. Jujur sebenarnya Gaara agak lemah dengan orang yang di sebut ibu karena mengingatkannya pada sosok ibunya yang telah meninggal tiga tahun yang lalu. Akhirnya Gaara hanya memlih diam dan menghabiskan minumannya lalu terus menunduk menatap gelas yang kosong tersebut.
Sementara Naruto, mukanya sudah benar-benar merah sampai ke lehernya dan malah berteriak, "Kaa-san! Berhenti bicara hal yang bikin malu seperti itu! Lagian Naru juga sudah punya orang yang disukai!"
Hening.
"Aduh, Naru-chan ini. Kok ditanggapi serius begitu. Kaa-san kan cuma bercanda, nggak perlu marah dan teriak-teriak seperti itu," komentar Kushina dengan tampang sok nggak bersalah.
"Gaara, juga. Tidak usah dianggap serius ya ucapan tante tadi. Semoga kamu nggak marah atau tersinggung," kata Kushina pada Gaara sambil tertawa ringan.
"Eh? Nggak, nggak apa-apa kok, tante," jawab Gaara.
"Kaa-san, bercandanya kelewatan," kata Naruto cemberut.
Kushina hanya tertawa melihat wajah cemberut Naruto. Kemudian ia menatap Gaara kembali dan berkata, "Sebenarnya tante memang benar-benar ingin minta tolong buat titip Naruto, setidaknya selama berangkat dan pulang sekolah. Melihat berita kejahatan yang akhir-akhir semakin meningkat, tante jadi agak khawatir dengan putri tante yang selalu pulang dan pergi sekolah sendirian. Tante takut terjadi apa-apa dengan Naru-chan. Jadi bisakah tante mohon Gaara mau pulang dan pergi sekolah sama-sama dengan Naru-chan?"
Naruto yang mendengar permohonan ibunya jadi malu dan khawatir karena ia tahu pasti Gaara bakalan menolak. Sebenarnya Naruto juga berharap Gaara mau pulang dan pergi sekolah sama-sama karena itu akan membuka peluangnya untuk bisa berteman dengan Gaara menjadi lebih besar. Selain itu Naruto juga sudah sejak lama ingin punya teman yang benar-benar satu perjalanan pulang dan pergi sekolah dengannya mengingat teman-temannya nggak ada yang satu arah dengannya. Tapi mengharapkan Gaara mau pulang pergi bareng dengannya itu mustahil, tadi saja waktu nggak sengaja tahu arah pulangnya sama, ia dituduh sebagi stalker atau penguntit. Apalagi kalau pulang dan pergi bareng tiap hari coba.
"Sudahlah kaa-san, Naru bisa jaga diri kok. Gaara juga pasti ngga..."
"Baiklah, tante," kata Gaara memotong ucapan Naruto.
"Benarkah? Wah, bagus sekali. Terima kasih banyak, ya. Tante jadi bisa tenang deh kalau begitu," kata Kushina bahagia dan tersenyum tulus pada Gaara.
Naruto hanya bisa diam ternganga –lagi- mendengar jawaban Gaara. 'Ini cowok kayaknya kok penurut banget sama kaa-san, ya?' batin Naruto.
"Ah, benar juga. Sudah saatnya untuk menyiapkan makan malam," kata Kushina tiba-tiba. "Gaara, kamu juga makan malan di sini, ya?" tawarnya.
"Nggak perlu tante. Saya juga harus segera pulang sekarang, nanti orang rumah khawatir," tolak Gaara halus sambil berdiri dari sofa dan memakai tas sekolahnya.
"Benarkah? Ya sudah, lain kali kalau begitu, ya?" tanya Kushina.
"Terima kasih. Lain kali saya pasti akan ikut makan malam," jawab Gaara.
"Baiklah. Kalau begitu biar Naru-chan yang mengantar ke depan, ya? Tante harus segera menyiapkan makanan, kalau nggak bisa bakalan keburu tou-san Naru-chan sudah pulang."
"Iya. Maaf jadi merepotkan tante dengan kedatangan saya yang tiba-tiba."
"Aduh, ini kan salahnya Naruto yang tiba-tiba menyeretmu kemari. Selamat sore Gaara, dan hati-hati di jalan," balas Kushina sambil tersenyum.
"Selamat sore tante," pamit Gaara kemudian sambil diikuti Naruto ia berjalan menuju pintu depan rumah Naruto.
Di Depan Kediaman Uzumaki
"Kamu serius mau pulang pergi bareng denganku?" tanya Naruto saat mereka ada di depan pintu.
"Bukannya aku sudah bilang iya pada ibumu?" jawab Gaara.
"Yakin nih. Bukannya selama ini kamu selalu mengabaikan atau menghindariku, kenapa tiba-tiba setelah diminta oleh ibuku kamu jadi mau saja dekat-dekat denganku?" tanya Naruto lagi.
Hening.
"Jangan-jangan kamu benar-benar suka dengan ibuku ya?" tuduh Naruto
Mendengar tuduhan itu lagi, Gaara memberikan deathglare-nya pada Naruto dan berkata, "Karena ia seorang ibu." Lalu ia segera pergi dari hadapan Naruto.
"Hah?" Naruto bingung dengan jawaban yang di berikan oleh Gaara tapi mau menanyakan lebih lanjut si pelontar jawaban sudah tidak ada lagi di hadapannya. Naruto pun hanya mengangkat bahu lalu masuk kembali ke dalam rumah. Ia ingin segera mengganti baju seragamnya dan membantu ibunya menyiapkan makan malam sebelum ayahnya pulang.
Selasa Pagi, Kediaman Uzumaki
Tepat keesokan hari setelah kejadian pertemuan GaaraNarutoKushina, saat keluarga Uzumaki sedang sibuk menghabiskan sarapannya tiba-tiba terdengan bunyi bel.
"Biar aku yang buka," kata Kushina lalu ia pergi menuju pintu depan.
Di pintu depan kediaman Uzumaki terlihat sosok cowok yang berdiri menunggu pintu dibukakan oleh pemilik rumah. Tidak berapa lama setelah ia membunyikan bel, pintu pun terbuka dan menampilkan seorang wanita berambut merah panjang setengah baya yang masih terlihat cantik.
"Gaara, Selamat pagi. Ah, kamu menjemput Naru-chan ya? Tunggu sebentar ya, tante panggilkan dulu, ia sudah hampir selesai makan kok. Apa kamu mau masuk dulu?" sapa Kushina.
"Selamat pagi juga tante. Nggak usah. Saya menunggu di luar saja," jawab Gaara.
"Baiklah. Kamu duduk saja di bangku itu dulu, tante panggilkan Naru-chan dulu ya," kata Kushina kemudian ia pergi masuk ke dalam rumah untuk memanggil putrinya. Sedangkan Gaara pun menuruti saran Kushina dan duduk di bangku yang memang di sediakan di taman depan kediaman Uzumaki.
Ruang Makan Kediaman Uzumaki
"Naru-chan, Gaara sudah datang menjemput tuh. Cepat habiskan sarapanmu," kata Kushina.
"Eh? Dia bener-bener datang?" tanya Naruto heran plus kaget.
"Apa maksudmu, Naru-chan? Kenapa kamu heran begitu? Bukannya semalam ia sudah berjanji dengan kaa-san untuk pulang pergi sekolah bareng kamu, tentu ia akan menepatinya, kan?!" jawab Kushina, heran dengan reaksi putrinya itu.
"Eh, bukan apa-apa kok. Tentu saja ia menepati janjinya, hehe," sahut Naruto grogi mencoba menutupi kenyataan kalau sebelumnya hubungan ia dan Gaara nggak terlalu baik dan terus melanjutkan makannya.
"Siapa Gaara?" tanya Minato tiba-tiba.
"Eh? Ah, benar juga. Aku lupa cerita kemarin karena terlalu sibuk menyiapkan makan malam. Sebenarnya mulai hari ini kita bisa tenang karena Naru-chan tidak akan berangkat atau pulang sekolah sendiri lagi. Tetangga baru kita yang tinggal lima rumah dari rumah kita, anaknya ternyata teman sekelas Naru-chan. Namanya Sabaku Gaara. Jadi mulai hari ini ia dan Naru-chan akan pulang pergi sekolah bersama-sama," jelas Kushina.
"Sabaku Gaara? Namanya seperti nama cowok," kata Minato.
"Ia memang cowok, Minato," sahut Kushina.
Hening sejenak.
'Ah, gawat!' pikir Kushina. Ia lupa kalau suaminya ini agak overprotektif terhadap keluarganya terutama jika menyangkut putri semata wayangnya dan cowok. 'Aku harus bergerak cepat! Selagi Minato masih diam' batin Kushina lagi.
"Naru-chan, lebih baik kamu berangkat sekarang kalau tidak kamu bisa terlambat. Ini bekalmu juga punya Gaara kamu harus menyerahkan padanya, ya? Bilang itu sebagai ucapan terima kasih dari kaa-san," kata Kushina cepat sambil menyerahkan bekal serta tas sekolah Naruto dan memandu anaknya itu keluar dari ruang makan dan menyuruhnya untuk segera berangkat.
"Ah, baiklah. Aku berangkat, kaa-san, tou-san," pamit Naruto dan bergegas ke luar rumah.
Dan saat itu lah Minato kembali dari dunianya sendiri. "Tunggu! Naru-chan! Tou-san harus bicara dengan cowok itu dulu," kata Minato dan bangkit dari tempat duduknya dan mencoba menyusul Naruto. Yap, kata kuncinya mencoba, pasalnya saat ia bangkit itu istrinya telah menghadang di depannya.
"Kushina, minggir aku harus menemui cowok tidak dikenal itu dan berbicara dengannya dulu," protes Minato yang merasa dihalang-halangi istrinya tercinta itu.
"Minato, kembali ke tempat duduk dan habiskan makananmu," kata *baca perintah* Kushina.
"Tapi aku perlu bertemu dengan cowok mencurigakan tidak dikenal bernama Garu itu dulu," kata Minato yang masih berusaha melewati istrinya.
"Dia bukan cowok mencurigakan tidak dikenal, dia tetangga kita dan namanya juga bukan Garu tapi Gaara, jadi sekarang kembali duduk dan segera habiskan makananmu lalu berangkat kerja, kalau tidak kamu akan terlambat," perintah Kushina.
"Tapi Naru-chan akan pergi bersama dengan seorang cowok, anak dari tetangga baru kita. Bagaimana aku bisa dengan tenang makan lalu berangkat kerja memikirkan kepolosan putriku yang terancam," sahut Minato frustasi.
"Kamu juga Kushina, bagaimana bisa kamu membiarkan putriku bersama dengan seorang cowok yang baru kamu kenal? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan putriku? Bagaimana kalau cowok itu memanfaatkan kepolosan Naru-chan dan malah meno... Ah! Aku bahkan tidak sanggup meneruskan apa saja yang mungkin terjadi pada putriku!" lanjut Minato semakin panik dan mengkhayal yang bukan-bukan. *Ckckck, papi Minato, papi Minato. Khayalanmu itu terlalu berlebihan deh.*
"Astaga, Minato! Naru-chan hanya berangkat dan pulang sekolah bersama dengan Gaara. Bukannya pergi melarikan diri entah ke mana. Dan Naru-chan itu putri kita, bukan hanya putrimu dan aku juga ingin putri kita baik-baik saja. Meski aku baru mengenal Gaara, tapi aku tahu dia anak yang baik. Apa kamu tidak bisa percaya dengan penilaian dari istrimu ini?" balas Kushina yang juga mulai kehabisan kesabaran menghadapi sifat ke-overprotektif-an suaminya tercinta itu.
Minato awalnya akan mendebat lagi perkataan istrinya tersebut tapi begitu menatap mata Kushina ia membatalkan niatnya dan akhirnya berkata, "Bukan aku tidak mempercayaimu, Kushina. Hanya saja, Naru-chan adalah putri kita. Putri satu-satunya aku hanya tidak ingin terjadi hal buruk yang akan menimpanya."
"Tidak akan terjadi apa-apa dengan Naru-chan. Ia akan baik-baik saja bersama Gaara," sahut Kushina. "Percayalah padaku, Gaara adalah anak laki-laki yang baik yang akan menepati janjinya padaku untuk menjaga Naru-chan dan karenanya Naru-chan akan baik-baik saja bersamanya," tambah Kushina dengan lemah lembut dan tersenyum.
Mendengar Kushina berkata seperti itu, akhirnya Minato menyerah dan kembali duduk melanjutkan makannya.
"Tapi aku masih harus bertemu dengannya nanti," kata Minato tegas.
"Aku tahu, sayang. Tapi jangan sekarang, mungkin nanti waktu makan malam, karena Gaara janji untuk ikut makan malam lain kali, tapi tidak dalam waktu dekat ini. Aku tidak ingin ia jadi ketakutan dan kabur gara-gara seorang ayah yang terlalu overprotektif dengan putrinya," jawab Kushina bercanda dan tertawa.
"Hm," balas Minato.
Dalam perjalanan menuju sekolah
"Aku nggak menyangka kalau kamu benar-benar akan pulang dan pergi bersamaku," kata Naruto tiba-tiba karena tidak tahan dengan keheningan yang terjadi sejak ia berangkat bersama dengan Gaara dari rumahnya tadi. Sekarang mereka telah ada dalam bus dan duduk bersebelahan. Awalnya Naruto pikir Gaara akan mencari tempat duduk yang jauh dari Naruto tapi nyatanya tidak dan itu yang memicu Naruto untuk mulai mengajak Gaara berbicara lagi. Tapi Naruto tidak berharap banyak kalau Gaara akan menjawabnya.
Hening.
'See?! Benarkan ia nggak bakalan menjawab,' batin Naruto.
"Bukannya sudah aku bilang, karena aku sudah menyanggupinya kepada ibumu. Apa kamu memang punya ingatan yang seburuk itu?" jawab Gaara.
'Wuih. Dia mau menjawabnya, bahkan menambahkan komentar pedas,' komentar Naruto walau diucapkannya hanya dalam hatinya saja.
"Aku ingat. Hanya saja aku nggak menyangka kamu akan menepatinya, itu saja kok," sahut Naruto. "Kamu juga bilang kamu melakukannya karena itu adalah permintaan dari seorang ibu, kan? Yah, kamu nggak bilang begitu sih tepatnya. Tapi intinya itu, kan? Kalau boleh aku bertanya ada apa kamu dan 'ibu'?" lanjut Naruto sambil menatap Gaara.
Gaara ingin mengabaikan pertanyaan itu dan tidak menjawabnya, tapi saat ditatapnya balik mata yang dari tadi menatapnya dalam entah kenapa mulutnya bergerak sendiri dan menjawab, "Karena aku sudah tidak punya ibu, ibuku telah meninggal."
Naruto yang tidak menyangka dengan jawaban Gaara yanng terkesan sangat pribadi itu, jadi salah tingkah dan ia pun memilih menundukkan kepalanya dan berkata, "Maaf. A, aku nggak bermaksud untuk..." Naruto terdiam tidak tahu harus bilang apa.
"Maafkan aku," kata Naruto sambil menundukkan kepalanya dalam setelah tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan kepada Gaara.
Gaara menatap Naruto yang masih terus menundukkan kepalanya menunggu respon darinya akhirnya berkata singkat, "Nggak apa-apa. Toh itu sudah lama berlalu." Bohong. Meskipun itu sudah lama berlalu, tapi ia masih merasakan sedih jika mengingat kematian ibunya tersebut. Karena Gaara dibandingkan dengan kakak-kakaknya ia adalah anak yang sangat dekat dan sangat menyayangi ibunya itu sehingga kepergian ibunya tiga tahun lalu membuatnya merasa sangat kehilangan dan terpuruk. Kakak-kakaknya berusaha membantunya tapi tidak terlalu banyak berpengaruh sementara ayahnya sendiri yang juga sangat mencintai ibunya sama terpuruknya seperti dirinya dan memillih menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Sampai akhirnya nenek mereka menyarankan pada ayah mereka untuk pindah dari Sunagakure ke Konoha supaya mereka tidak terlalu teringat akan kenangan-kenangan ibunya yang ada di Sunagakure. Dan di sinilah ia sekarang bersama dengan cewek keras kepala yang ngotot ingin berteman dengannya meski ia sudah berusaha mengacuhkannya.
"Nee, Gaara," panggil Naruto. "Karena kamu sudah mau bicara denganku bahkan mengatakan hal yang sangat pribadi, aku akan menganggap kita sudah berteman, karena itu kalau kamu ingin cerita apapun kamu boleh kok datang padaku. Aku pasti akan mendengarkannya dengan baik. Aku berjanji dan Uzumaki Naruto selalu menepati janjinya" kata Naruto menatap lurus mata jade Gaara dengan matanya yang berwarna biru langit yang cerah tak berawan, seolah meyakinkan kebenaran dari apa yang telah diucapkannya itu.
"Ayo berteman. Namaku Uzumaki Naruto, siapa namamu?" kata Naruto kemudian sambil mengulurkan tangannya, tapi matanya masih menatap lurus mata Gaara.
Gaara menatap mata tersebut dan entah kenapa perlahan-lahan bibirnya membentuk senyum kecil, tapi ia langsung sadar dan memalingkan wajahnya dari pandangan Naruto.
"Ah, kamu tersenyum!" kata Naruto senang. "Tadi aku lihat kamu tersenyum," katanya lagi sambil mencoba melihat wajah Gaara yang berpaling ke arah lain. "Kamu pasti senang kan karena aku mau berteman denganmu."
Gaara mendengus dan berkata, "Aku tidak tersenyum karena senang bisa berteman denganmu. Aku hanya merasa lucu, memangnya ada anak SMA yang mengajak berteman dengan cara seperti kamu tadi? Dasar kekanak-kanakan."
Naruto jadi agak kesal mendengar perkataan Gaara itu, tapi ditahannnya. Saat ini ia masih menjalankan misi mengajak Gaara berteman.
"Terserah kamu mau menganggapnya lucu atai kekanak-kanakkan. Yang pasti ayo jabat tanganku lalu sebutkan namamu," kata Naruto masih mengulurkan tangannya.
"Hm," jawab Gaara kemudian memandang ke depan. "Kita sudah sampai, ayo turun," ajaknya kemudian bangkit duluan dan menuju pintu keluar.
"Eh? Tunggu!" Naruto pun mengikuti Gaara.
Setelah turun dari bus, Naruto masih ngotot mengulurkan tangannya untuk dijabat Gaara kemudian menyebutkan namanya. Gaara mengacuhkan Naruto dan terus berjalan menuju gerbang sekolah.
"Ayolah Gaara, apa susahnya sih menjabat tanganku lalu ucapkan namamu," kata Naruto masih berusaha.
Akhirnya saat sampai di depan gerbang sekolah Naruto lalu berjalan mendahului Gaara kemudian menghalanginya.
"Kalau kamu nggak mau menjabat tanganku lalu menyebutkan namamu, aku akan bilang pada kaa-san kalau kamu nggak mau sama-sama denganku dan meninggalkanku," ancam Naruto.
Gaara berhenti dan menatap tajam Naruto.
"Kamu nggak akan berani bilang begitu," ucap Gaara sedikit dengan nada mengancam.
"Mau bertaruh?" tantang Naruto. "Dan kaa-san pasti lebih percaya padaku putrinya dibandingkan kamu anak laki-laki yang baru dikenalnya," tambahnya.
Gaara diam sejenak dan menatap Naruto lebih tajam lagi.
Naruto menatap balik Gaara berusaha membuat deathglare juga.
Mereka salling bertatapan seperti itu hingga hampir satu menit lebih, hingga akhirnya Gaara menyerah dan mengulurkan tangannya. Melihat itu wajah Naruto langsung sumringah dan langsung menjabat tangan Gaara lalu menunggu Gaara membuka mulut mengeluarkan suaranya.
"Namaku Sabaku Gaara," ucap Gaara akhirnya dengan nada seperti orang yang telah menyerah. Coret, bukan seperti tapi ia memang telah menyerah melawan Uzumaki Naruto.
"Salam kenal, Gaara. Sekarang kita benar-benar resmi berteman,"kata Naruto tersenyum dengan tangan yang masih menjabat tangan Gaara.
Tiba-tiba saat Naruto masih menikmati kesuksesan misi 'berteman dengan Gaara'-nya dengan tangan yang masih memegang tangan Gaara terdengar panggilan yang sudah tidak asing lagi dan hanya satu orang yang yang memanggilnya begitu.
"Dobe," panggil siapa lagi kalau bukan tokoh utama cowok kita yang sempat menghilang, Uchiha Sasuke.
TBC
Note : Chap kali ini kayaknya kepanjangan ya? Apa mestinya di bagi dua saja? Semoga nggak membosankan.
Btw sebelumnya aku nggak sempat menggambarkan seragam SMA Konoha yang cowok, so intinya sih seragam cowoknya pakai kemeja putih lalu dilapisi rompi lalu jas (kaya seragam cowok di manga vampire night tapi tanpa aksen garis2nya, polos saja) warnanya hijau tosca juga celana panjangnya, terakhir ditambah dengan dasi, hehe. shia suka seragam itu soalnya terkesan elit sih ^w^. Untuk warna dasi(cowok) dan pita(cewek) berwarna merah untuk kelas 1, biru malam kelas 2, dan ungu gelap untuk kelas 3. Sekedar info saja.
Please leave reviews
(^w^)
