Pairing : SasuFemNaru

Disclaimer : Naruto punya om Masahi Kishimoto dan terinspirasi dari First Date milik tante Miyuki Kobayashi

Warning : OOC, Gaje, Typo. Sequel dari First Date


Sankyu buat semua yang udah reviews, favorite juga follow. Dan tentu saja terima kasih banyak buat silent readers yang sudah mau membaca cerita shia *lebih bagus lagi kalau kalian juga meninggalkan reviews supaya shia tahu gimana respon juga keinginan readers semua ^w^*

^w^


Chapter 3

.

Selasa Pagi, Kediaman Uchiha

Pagi ini Sasuke bangun sedikit lebih telat dari biasanya. Ia lalu bergegas mandi dan berpakaian kemudian turun ke ruang makan untuk sarapan bersama dengan keluarganya.

"Selamat pagi, Sasuke," sapa ibunya Mikoto dengan tersenyum kemudian mengambilkan makanan untuk Sasuke.

"Selamat pagi, kaa-san," sahut Sasuke. Kemudian ia menganggukkan kepalanya ke arah ayahnya Uchiha Fugaku yang memandang Sasuke. Ayahnya memang bukan tipe yang suka banyak bicara, lagian menurutnya, isterinya tadi sudah mewakilinya untuk menyapa anaknya di pagi hari ini.

"Pagi otouto," kata Itachi.

"Pagi aniki."

"Tumben sekali kamu hari ini agak telat bangunnya Sasuke," lanjut Itachi, tapi entah kenapa saat ia melontarkan kalimat tersebut matanya seolah menunjukkan ia tahu sesuatu.

"Hn."

"Aku lihat tadi malam sudah jam 11 tapi kamu belum tidur juga, apa itu penyebabnya kamu bangun telat?" kata Itachi.

Sasuke yang menyadari kalau kakaknya 'tersayang' itu seperti sedang memikirkan sesuatu yang pasti tidak akan disukainya lantas menimpali, "Apa maksudmu aniki?"

"Ah. Bukan apa-apa. Aku hanya penasaran apa yang membuatmu masih terjaga sampai jam segitu," sahut Itachi sambil tersenyum penuh arti dan Sasuke melihat senyum itu jadi agak kesal dan menatap tajam Itachi.

Mikoto yang menyadari kalau Itachi lagi-lagi mencoba membuat ulah dengan adiknya mencoba menengahi karena ia tahu kalau Sasuke sedang dalam mood yang tidak bagus karena terlambat bangun.

"Sudah, Itachi. Sasuke tidur jam segitu pasti karena ia mengerjakan tugas sekolah atau tugas OSIS-nya," kata Mikoto.

"Oh. Tapi tadi malam kulihat ia justru sibuk memandangi ponselnya seperti sedang menunggu ponsel itu berbunyi," jawab Itachi dengan senyum* baca seringai* yang semakin lebar.

"Eh? Benarkah?" tanya Mikoto penasaran. "Mungkin Sasuke sedang menunggu telpon penting, benar kan, Sasuke?" tambahnya.

"Daripada menunggu telepon penting, mungkin lebih tepat menunggu telepon dari seseorang yang penting." Belum sempat Sasuke menjawab ibunya, lagi-lagi Itachi menyelanya berbicara lebih dulu. Bahkan nada bicaranya itu seakan sedang menggoda , salah coret kata seakan. Itachi memang sedang menggoda adiknya itu, salah satu hobi Itachi.

"Apa maksudmu baka-aniki?" kata Sasuke tajam sepaket dengan deathgalre ia kirimkan ke arah Itachi.

Itachi yang tidak terpengaruh malah dengan santainya menjawab, "Hmm, kalau aku tidak salah tebak kamu pasti sedang menunggu dari seseorang dengan ID dobe di ponselmu kan?"

Sasuke yang mendengar perkataan Itachi itu jadi tambah kesal bahkan mungkin sudah masuk tahap marah.

"Baka-aniki, berani sekali kamu mengutak-atik barang pribadiku?" geram Sasuke.

"Hmm? Jangan asal menuduh baka-otouto, aku tidak mengutak-atik barang pribadi. Aku hanya kebetulan melihat ID tersebut di ponselmu waktu ada SMS masuk. Tapi ngomong-ngomong siapa itu dobe? Nggak mungkin kan itu memang nama aslinya?"

"Hn. Bukan urusanmu, baka-aniki," sahut Sasuke kesal dan melanjutkan makannya.

"Kamu salah Sasuke. Tentu saja itu urusanku kalau adikku tersayang ini jadi senyum-senyum sendiri seperti orang bodoh hanya karena menerima SMS basa-basi seperti menanyakan 'sudah pulang?', 'sudah tidur' dan sejenisnya. Aku jadi penasaran dengan siapa si dobe itu," jelas Itachi mantap.

"Baka-aniki. Kau bilang tidak mengutak-atiknya, tapi kenapa kamu bisa tahu isi SMS-nya?" tanya Sasuke emosi dan suaranya mulai meninggi.

"Ups, kelepasan," sahut Itachi tidak merasa bersalah sama sekali dan menghirup kopinya yang sempat terabaikan.

Sasuke makin geram, "Baka-aniki!"

"Sudah, sudah. Itachi berhenti mengganggu adikmu. Dan kalian berdua berhenti saling memanggil baka. Kita saat ini sedang sarapan," sela Mikoto melihat situasi yang mulai memanas dan menatap tajam kedua putranya tersebut.

Itachi awalnya masih tetap ingin lanjut menggoda Sasuke tapi begitu menyadari tatapan yang diberikan oleh ibunya ia lalu mengurungkan niatnya dan melanjutkan menghabiskan sarapannya.

Sasuke masih menatap tajam kakaknya seolah menantang Itachi untuk melanjutkan perdebatan mereka tadi.

"Sasuke," kata Mikoto dengan senyum yang mengandung peringatan.

"Hn," kata Sasuke akhirnya setelah yakin Itachi tidak akan lanjut mengganggunya. Dan sarapan di ruang makan keluarga Uchiha berjalan tenang kembali sampai Mikoto membuka suara.

"Tapi... siapa dobe, Sasuke?" tanya Mikoto penasaran pada putra bungsunya itu. "Apa ia seorang cewek?" tambahnya.

Itachi diam-diam menyeringai. Sebenarnya inilah tujuannya mengungkit-ngungkit masalah ponsel, karena ia ingin ibunya juga penasaran dan mempertanyakannya pada Sasuke. Ia tahu kalau ibunya yang sudah bertanya pasti Sasuke mau tidak mau harus menjawab pertanyaan yang akhir-akhir ini menghinggapi pikirannya setelah melihat ke-OOC-an Sasuke yang senyum-senyum nggak jelas sejak beberapa hari yang lalu kalau menerima SMS dari ID yang bernama dobe itu. Ia penasaran siapakah orang yang di beri ID dobe oleh adiknya itu. Mengingat Sasuke bukan tipe orang yang suka mengasih nama gelar untuk ID yang ada di ponsel kecuali tentu saja untuk Itachi. Ia tahu Sasuke memberi ID baka-aniki untuk nomor ponsel Itachi di kontaknya. Jadi pastilah si dobe ini punya arti penting buat Sasuke bahkan sampai membuat OOC Sasuke, pikir Itachi. Apalagi kemungkinan besar si ID dobe ini cewek. Dan bagi Itachi informasi ini tentu saja bisa jadi bahan baru lagi untuk menggoda Sasuke.

Sementara itu Sasuke terdiam dan menghentikan aktifitas makannya waktu mendengar pertanyaan Mikoto tadi. Dalam pikirannya ia menyumpahi Itachi. Ia tahu inilah yang diinginkannya. Kakaknya itu tahu kalau ia sendiri yang menanyakannya Sasuke pasti nggak akan menjawab apa pun. Tapi kalau sudah ibunya yang bertanya tentu Sasuke nggak bisa mengelak untuk menjawabnya kan?

"Hn, aku sudah akan terlambat. Aku pergi dulu kaa-san, tou-san " kata Sasuke buru-buru bangkit dan berjalan menuju pintu depan. Tidak. Uchiha Sasuke tidak kabur. Ia hanya sedang terburu-buru karena sadar ia sudah akan terlambat pergi ke sekolah seperti perkataannya. Yah, itu yang ada dipikiran Sasuke tapi kita semua tahu kalau Uchiha Sasuke memang sedang kabur,khekeke XD.

"Ah, tunggu Sasuke. Yah dia kabur," kata Mikoto kecewa karena pertanyaannya belum terjawab. Tapi tidak apa-apa ia masih bisa mengorek informasi dari putra bungsunya itu kapan saja, itulah yang ada di pikirannya dan melanjutkan makan.

Dengan Itachi, walau ia juga agak kecewa seperti ibunya tapi ia juga tahu cepat atau lambat ia akan tahu siapa itu dobe karena ia yakin ibunya menyimpan pertanyaannya tadi dan akan menanyakannya lagi pada Sasuke nanti. Dan ia harap saat itu ia ada untuk menyaksikan usaha Sasuke untuk mengelak menjawabnya, membayangkan itu saja sudah membuatnya senang karena itu berarti ia berhasil kembali mengganggu adik tersayang itu. *Ckckck jahat amat sih kakak yang satu ini, senang saat adiknya menderita*

Ngomomg-ngomong ada satu tokoh yang kita lupakan yang sedari tadi diam saja melihat interaksi keluarganya tersebut. Siapa lagi kalau bukan Uchiha Fugaku. Yah, sepertinya yang sudah dibilang tadi ia memang tipe tidak suka banyak omong. Lagipula baginya perselisihan antara dua putranya itu adalah hal biasanya yang terjadi dan tentu ada isterinya yang akan menengahi saat situasi sudah sangat memanas, so... ia tenang-tenang saja melanjutkan sarapan sambil membaca korannya. *Ya ampun ini kepala keluarga kok kesannya cuek banget ya, segala yang berhubungan dengan rumah tangga termasuk mengendalikan anak-anaknyanya diserahkan pada isterinya, author jadi geleng-geleng kepala saja.*

.

.

.

Perjalanan ke Sekolah

Selama berjalan dari rumahnya menuju stasiun Sasuke sibuk menyumpahi kakaknya Itachi yang membuatnya jadi terjebak dengan pertanyaan ibunya yang sulit untuk dijawabnya. Sebenarnya bukan sulit, hanya saja ia bingung mau mengatakan apa. Masa ia bilang dobe itu cewek yang selama ini menyukainya dan sering menggoda juga menjahilinya sebagai bentuk aspirasi akan rasa sukanya pada Sasuke. Nggak mungkin banget kan? Apalagi mengakuinya di hadapan Itachi? Lebih baik ia nggak mengkonsumsi tomat selama sebulan dibandingkan membuat Itachi menertawakannya dan mendapat bahan baru untuk mengganggu kehidupan sehari-harinya di rumah.

Ngomong-ngomong soal si dobe jadi ingat, kemarin si dobe itu nggak ada mengirim SMS seperti biasanya. 'Apa terjadi sesuatu dengannya?' pikir Sasuke.

Yap, Sasuke kepikiran sampai membuatnya kemalaman tidur gara-gara menunggu SMS dari si dobe itu bahkan tidurnya pun nggak nyenyak gara-gara kepikiran terus. Readers pasti berpikir kenapa si Sasuke nggak SMS si dobe -atau yang kita tahu punya nama Naruto- duluan saja, jadi Sasuke nggak perlu menunggu sampai kepikiran segala dan hasilnya jadi kurang tidur gitu. Jawabannya satu, si Sasuke nggak tahu harus bilang apa di SMS, habis biasanya Naruto melulu yang kirim SMS duluan.

Hasilnya : Sasuke jadi terlambat bangun, harus menghadapi keisengan kakaknya yang berakhir pada ibunya yang juga jadi ikut penasaran. Dan itu semua membuat moodnya jadi tambah kurang baik dan dahinya jadi ada kerutannya. Tapi tentu saja itu nggak mengurangi kadar kegantengannya –kata fansnya Sasuke sih-.

.

Akhirnya Sasuke sampai juga di sekolahnya atau lebih tepatnya hampir sampai ke gerbang depan, sebenarnya ia sedikit bergegas menuju sekolahnya itu setelah turun dari kereta. Ia agak tidak sabar untuk bertemu dengan Naruto. Bukannya apa-apa ia cuma ingin memastikan si dobe itu nggak apa-apa dan tetap menyapanya seperti 'biasa'.

Saat dilihatnya gerbang sekolah yang sudah semakin dekat saat itu juga ia melihat sosok yang cukup sangat dikenalinya. Sosok cewek berambut pirang panjang yang diikat dikepang dua, tapi sosok itu tidak sedirian ia sedang berdiri berhadapan dengan seorang cowok berambut merah dan tangan mereka berpegangan. Tunggu. Mereka berpegangan tangan? Apa yang terjadi? Siapa cowok itu dan kenapa mereka berpegangan tangan? Yah, kira-kira seperti itulah pikiran yang berkecamuk di kepala Sasuke. Dan entah kenapa ia juga merasa... agak marah?

"Dobe," kata Sasuke cukup keras supaya Naruto menyadari kehadirannya.

Yang dipanggil pun menoleh dan menatap Sasuke, "Eh? Sasuke," sahutnya riang dengan tersenyum lebar seperti biasa. Dan entah karena refleks atau memang karena terbiasa Naruto pun langsung menghampiri Sasuke setengah berlari lalu memeluk Sasuke dan berteriak," Selamat pagi, Sasuke!"

Sasuke cukup kaget dengan tindakan Naruto itu terdiam sesaat, tapi saat menyadari tatapan dari sekitarnya Sasuke pun berusaha melepaskan pelukan Naruto.

"Apa yang kamu lakukan, dobe?" katanya tajam. "Cepat lepaskan aku."

Naruto yang juga akhirnya sadar kalau ia memeluk Sasuke langsung melepaskan pelukannya dan mukanya agak memerah. Ia agak malu. Lho, bukannya biasanya ia juga menyapa Sasuke dengan memeluknya. Kenapa sekarang ia malah malu? Ah benar juga, biasanya kan ia meluknya dari belakang tapi tadi ia memeluknya dari depan jadi kesannya intim gimana gitu.

"Hehehe...," Naruto hanya tertawa cengengesan sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.

"Dasar, kamu ini. Kebiasaaan bertindak sebelum berpikir," kata Sasuke yang juga mukanya sedikit memerah.

"Sori, kebiasaan sih."

"Hn," sahut Sasuke dan saat ia menatap ke depan matanya bertatapan langsung dengan mata jade milik cowok yang berambut yang menatapnya balik. Mereka salling bertatapan selama beberapa detik sebelum akhirnya cowok berambut merah -yang kita tahu tapi Sasuke belum tahu- bernama Sabaku Gaara mamalingkan wajahnya ke depan lagi kemudian berjalan menuju ke kelasnya.

Naruto yang akhirnya ingat kalau tadi ia nggak sendiri tapi bersama Gaara mencari sosok Gaara yang ternyata sudah berjalan menuju ke kelasnya duluan.

"Ah, Gaara! Tunggu aku, kita sama-sama ke kelasnya!" teriak Naruto. "Sudah, dulu ya Sasuke. Bel sudah mau berbunyi. Jaa ne," kata Naruto lagi pada Sasuke lalu bergegas mengejar Gaara.

Sasuke hanya terdiam di tempat setelah ditinggal Naruto. Ia agak kaget, soalnya biasanya ia duluan yang meninggalkan Naruto bukan sebaliknya seperti yang baru saja terjadi. Setelah beberapa saat diam ditempat akhirnya ia sadar tadi ia tidak sempat menanyakan pada Naruto perihal SMS. Hmm, tapi karena dilihatnya Naruto riang seperti biasanya sepertinya ia nggak apa-apa. Ah, kecuali kali ini ia melihat Naruto bersama dengan cowok berambut merah. 'Siapa cowok tadi? Kenapa ia pagi-pagi ia sudah bersama dengan dobe? Mereka juga tadi berpegangan tangan, apa hubungan mereka?' batin Sasuke sambil berjalan menuju kelasnya karena bel sudah berbunyi.

.

.

.

Istirahat Siang

"Lho? Hinata, mana Gaara?" tanya Naruto.

"Mungkin sudah ke kantin beli makanan. Kenapa?" sahut Hinata khawatir.

"Eh? Sudah ke kantin? Gawat! Aku harus segera menyusulnya," kata Naruto, lalu i bergegas ke luar ruang kelas sambil membawa bungkusan yang berisi bekal makanannya.

"Ah, Naru-chan! Tunggu!" teriak Hinata, tapi sayang Naruto sudah tidak kelihatan lagi waktu ia mengikuti keluar kelas.

"Hinata, mana Naruto?" tanya Kiba yang baru saja balik dari beli roti sebagai makan siangnya.

"E, eh? Sepertinya ke kantin menyususl Gaara."

"Heh?! Dia masih mau mengikuti Gaara juga?" tanya Kiba heran dengan kelakuan temannya yang satu itu.

"E, entahlah. Apa kita perlu menyusulnya?" tanya Hinata pada Kiba. Ia khawatir Naruto bakal membuat masalah dengan Gaara.

"Hmm..., nggak usah deh. Mending kita biarin saja si Naruto itu. Lagian cuma ke kantin kan?" jawab Kiba setelah berpikir sebentar. Menurutnya se-muka badaknya Naruto, nggak mungkin kan ia bakal buat masalah di tempat umum seperti kantin tempat berkumpulnya anak kelas satu, dua dan tiga bahkan guru juga kadang ada. Ya, kan? Kan?

"Sudahlah, Hinata. Nggak usah pikirkan si Naruto itu. Gimana kalau kamu makan siang bareng aku dan Shino," kata Kiba lagi sambil menunjuk ke arah Shino yang duduk di tempat duduknya dan sedang membuka bekal yang di bawanya.

"Eh? Ka, kalau Shino dan Kiba tidak keberatan," jawab Hinata malu-malu seperti biasanya.

"Tentu saja nggak. Ayo," ajak Kiba ke bangku ia dan Shino.

"Terima kasih," ucap Hinata lalu mengikuti Kiba dan duduk di bangku yang kosong dekat tempat duduk Kiba dan Shino.

.

.

.

Di kantin

Saat Naruto tiba di kantin, matanya langsung mencari Gaara dan bingo, beruntung ia menemukan Gaara yang sedang antri beli makanan.

"Gaara," panggil Naruto dan mendekat ke arahnya.

Gaara yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh dan menatap Naruto seolah berkata 'ada perlu apa lagi, cewek satu ini'. Dan Naruto yang entah sejak kapan sudah mulai mengerti arti tatapan Gaara menjawab, "Kamu nggak usah beli makanan, Kaa-san sudah menyiapkan bekal untukmu juga. Nih," kata Naruto sambil menunjukkan bekal pada Gaara.

"Ah, kalau mau pesan minuman saja. Sekalian pesankan aku, ya? Kamu kan sudah antri duluan supaya lebih cepat, hehe. Pesankan aku jus jeruk, ya? Biar aku mencari tempat duduknya," kata Naruto lagi tanpa memberikan kesempatan Gaara berkata apa-apa sambil menyerahkan uang lalu bergegas untuk mencari tempat duduk kosong.

Akhirnya setelah Gaara terdiam sebentar menatap uang yang diberikan Naruto ditangannya ia pun menghela nafas dan kembali menatap ke antrian yang sudah hampir gilirannya. 'Dasar cewek aneh,' batin Gaara.

Naruto berhasil dapat 2 tempat kosong untuknya dan Gaara lalu langsung duduk menunggu Gaara yang sedang membelikan minuman. Tidak berapa lama Gaara muncul juga membawa dua gelas minuman jus jeruk.

"Gaara! Sini, sini," teriak Naruto. Padahal Gaara emang sudah menuju ke tempatnya duduk. Setelah sampai Gaara menyerahkan jus jeruk Naruto kemudian ia duduk berhadapan dengan Naruto.

"Terima kasih, Gaara. Ini bekalnya. Kata kaa-san sebagai ucapan terima kasih jadi mulai hari ini sampai selama kita pulang pergi bareng kaa-san akan membuatkan bekal untukmu," kata Naruto sambil membukakan bekal untuk Gaara. Lalu ia pun juga membuka bekal miliknya dan mulai memakannya.

Gaara hanya menatap bekal makanan yang telah disajikan Naruto dihadapannya.

"Kenapa? Ayo dimakan. Jangan ragu-ragu. Masakan kaa-san sangat enak kok. Kalau kamu nggak menghabiskannya nanti ibuku bisa sedih," kata Naruto membujuk Gaara.

Diam.

"Hmm... apa perlu aku suapi?" ancam Naruto dan mulai mengambil lauk yang ada di bekal makanan Gaara dengan sumpitnya dan menyodorkannya pada Gaara. " Ayo buka mulutmu! Aa...," kata Naruto.

"Hentikan. Aku bisa makan sendiri," kata Gaara dengan pipinya yang sedikit memerah sambil menatap tajam Naruto. Gaara malu karena tindakan Naruto itu disaksikan oleh beberapa siswa lain yang kebetulan melihat ke arah mereka.

"Kalau begitu ayo cepat kamu makan," perintah Naruto.

Setelah diam dan hanya menatap bekal itu selama beberapa menit akhirnya Gaara mulai memakannya.

"Bagaimana? Enakkan?" tanya Naruto dengan wajah yang menanti jawaban positif.

"Hm," sahut Gaara kemudian melanjutkan untuk menghabiskan makanannya dan berusaha mengabaikan Naruto yang tersenyum senang.

Melihat Gaara yang meneruskan makannya, ia pun juga melanjutkan melahap bekalnya juga.

Tanpa Naruto dan Gaara sadari diantara beberapa pasang mata yang sempat menyaksikan 'kemesraan' mereka tadi ada sepasang mata onix yang terus menatap tajam ke arah mereka. Oho, tentu saja readers tahu kan siapa pemilik mata itu? Yap seratus buat readers, tepat sekali itu adalah Uchiha Sasuke.

.

Sasuke memang biasa makan siang di kantin, ia malas untuk membawa bekal meski ibunya telah menyiapkannya. Dan seperti biasa, ia ke kantin dengan teman-teman sekelasnya yaitu kelas 2-4. Temannya itu adalah Suigetsu yang paling akrab dengannya, Juugo yang pendiam serta Karin pacar sekaligus musuh Suigetsu. Sampai saat ini, Sasuke heran gimana dua orang ini bisa jadian padahal mereka selalu bertengkar tiap hari tiap ada kesempatan.

Yang pertama kali meyadari keberadaan Naruto awalnya adalah temannya yang bernama Suigetsu. Suigetsu merupakan salah satu teman yang lumayan akrab dengan Sasuke dan pastinya ia hampir selalu bersama-sama dengannya, termasuk saat Naruto sering menggoda dan menjahili Sasuke dulu. Ia ingat sosok Naruto karena menurutnya cewek yang satu itu berbeda dengan fans Sasuke yang biasanya suka menarik perhatian dengan bermanis-manis di depan Sasuke. Naruto malah mencoba menarik perhatian Sasuke dengan menggoda ataupun menjahilinya. Dan hebatnya lagi, Naruto ini malah nggak pernah takut dengan deathglare Uchiha yang sudah melegenda yang sering dilayangkan Sasuke kepadanya. Itu cewek malah malah nyengir-nyengir atau tersenyum lebar. Dan sepertinya Sasuke juga menyadari 'keajaiban' cewek itu sehingga akhirnya Sasuke membiarkan Naruto melakukan apa pun yang diinginkannya sebagai aspirasi perasaan sukanya pada Sasuke. Kalau cewek lain mah pasti sudah dibikin menangis dengan deathglare Uchiha Sasuke. So, tentu saja Suigetsu jadi mengingat dan mengenali sosok Naruto termasuk waktu di kantin saat ini dan tentu saja ia langsung memberitahu Sasuke mengenai keberadaannya.

"Hei, Sasuke. Bukannya itu cewek yang selalu kamu panggil dobe?" kata Suigetsu menunjuk ke arah Naruto yang sedang duduk sendiri.

"Hn," jawab Sasuke cuek dan terus melanjutkan makannya. Ia sedang tidak ingin makannya terganggu oleh kehadiran Naruto. Kalau cewek itu sadar ia juga ada di kantin pasti ia bakalan mendatanginya dan bergabung dengannya lalu mulai berceloteh tanpa henti di sampingnya. Dan maaf saja ya, Sasuke tidak ingin ketenangan makannya terganggu dan karena itu pula mereka memilih tempat yang agak di pojok yang lebih tenang.

"Oh! Siapa itu cowok cakep berambut merah yang bersamanya?" kata Karin antusias yang juga melihat ke arah ditunjuk Suigetsu. Yah, inilah Karin meski ia sudah punya pacar, matanya masih aja suka lihat cowok yang cakep. Suigetsu mah cuek saja, sudah biasa katanya. Author heran, pasangan dua ini beneran pacaran nggak sih?

Mendengar kata-kata cowok berambut merah Sasuke jadi ingat cowok yang bertatapan pagi tadi dengannya. Ia pun memalingkan kepalanya ke arah di mana Naruto dan 'cowok berambut merah' itu duduk. Dan tepat saat itulah ia melihat Naruto yang mencoba menyuapi 'cowok berambut merah' yang duduk di hadapannya.

Suigetsu bersiul lalu berkata, "Cewek itu sudah berhenti mengejarmu ya, Sasuke? Apa itu cowok barunya? Lumayan juga."

Sasuke terus menatap tajam ke arah Naruto dan 'cowok berambut merah' sedangkan Suigetsu, Karin juga Juugo yang ada di dekatnya bisa merasakan aura gelap yang berasal dari Sasuke. Dan tanpa mereka sadari mereka telah menjaga jarak dari tempat Sasuke.

Gaara si 'cowok berambut merah' merasa ada yang menatap ke arahnya mengalihkan pandangannya yang sedang menunduk fokus menghabiskan makanannya ke depan dan saat itulah matanya lagi-lagi bertemu dengan mata onix yang dilihatnya pagi tadi. Di balasnya pandangan tajam cowok itu dengan tatapan yang datar seolah tidak peduli apa yang membuat cowok tersebut menatap tajam ke arah.

Saat Gaara sibuk membalas tatapan tajam Sasuke itulah Naruto sadar kalau Gaara berhenti makan dan malah terus menatap ke depan. Karena penasaran dengan apa yang di pandang Gaara Naruto pun berbalik mengikuti arah pandangan Gaara dan di lihatnya Sasuke yang ternyata sedang menatap ke arahnya.

Dengan senang Naruto melambaikan tangannya ke arah Sasuke tapi yang disapa malah langsung membalikkan badannya lalu berdiri meninggalkan kantin diikuti teman-temannya yang sering di lihat Naruto bersama dengan Sasuke.

"Aneh, kenapa kesannya Sasuke seperti sedang marah ya?" gumam Naruto setelah melihat Sasuke keluar kantin tanpa menghiraukannya.

"Hm, aku sudah selesai makan," ucap Gaara lalu bangkit dari tempat duduknya ingin kembali ke kelas karena jam istirahat sudah mau selesai.

"Eh? Tu, tunggu sebentar," kata Naruto sambil segera memberesi sisa bekalnya dan segera menyusul Gaara.

.

.

.

Di kelas 2-4, Kelas Sasuke

'Apa-apaan si dobe itu. Bagaimana bisa ia 'bermesraan' di tempat umum seperti kantin? Apa ia memang se-dobe itu? Apa ia nggak sadar dengan tatapan di sekitarnya? Apa ia nggak sadar dengan tatapan yang kuberikan?' batin Sasuke kesal sekaligus marah. 'Dan cowok berambut merah itu, berani sekali ia balas menatapku. Apa ia nggak sadar kalau yang ditatapnya itu senior? Siapa sebenarnya cowok itu? Dan apa hubungannya cowok itu dengan si dobe?'

Saat ini Sasuke sudah berada di kelasnya dan duduk di bangkunya mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung walau pikirannya di penuhi hal lain dan tidak memperhatikan pelajaran. Teman-teman sekelasnya yang sadar dengan aura gelap ada disekitarnya menjaga jarak aman darinya. Mereka semua sepakat kalau Uchiha yang satu itu sedang kesal bahkan mungkin marah. Dan tindakan yang paling bijaksana adalah membiarkan si Uchiha sendiri.

Sasuke ingat komentar Suigetsu tentang cowok baru. 'Bukannya si dobe itu bilang kalau ia menyukaiku berkali-kali. Apa itu cuma salah satu keisengannya? Tidak. Dobe bukan tipe orang yang seperti itu. Lalu kenapa ia bersama cowok rambut merah itu. Pakai acara suap-suapan segala lagi. Apa ia sudah nggak menyukaiku lagi? Apa karena komunikasi kami yang jarang akhir-akhir ini yang membuatnya mulai menyukai cowok lain. Apa ia semudah itu menyukai seorang cowok? Sebenarnya siapa sih cowok itu?' Sepertinya Sasuke benar-benar kesal dan penasaran dengan Naruto dan 'cowok rambut merah'

'Nanti pas pulang sekolah kutanyakan langsung deh, sama si dobe itu,' tekad Sasuke toh hari ini ia sudah nggak perlu lagi tinggal di sekolah karena sebagian besar tugas OSIS-nya telah selesai lagian Naruto juga sudah sering mengajaknya pulang bareng jadi ini saat yang tepat buat memenuhi ajakan Naruto sekalian menanyakan tentang si 'cowok rambut merah'.

.

.

.

Pulang Sekolah

Sasuke saat ini sedang menunggu Naruto di depan gerbang sekolah, ia yakin Naruto belum lewat soalnya tadi setelah bel berbunyi ia langsung bergegas keluar kelas menuju gerbang sekolah. Di ceknya ponsel miliknya. Tidak ada SMS dari Naruto, padahal biasanya setelah bel pasti aada SMS Naruto yang mengajak pulang bareng. Dahi Sasuke jadi berkedut antara heran dan kesal.

Setelah beberapa saat terlihat Naruto yang berjalan keluar dari gedung sekolah menuju gerbang tempat Sasuke sedang menunggunya. Tapi sayangnya Naruto tidak sendiri di sampinnya ada si 'cowok rambut merah' yang seharian ini kalau Sasuke mengingatnya entah kenapa ia jadi kesal.

Naruto terlihat mengajak 'cowok rambut merah' itu berbicara, tapi si cowok kesannya nggak menghiraukan Naruto sehingga ia nggak melihat Sasuke yang ada di gerbang. Saat hampir dekat dengan gerbang barulah Naruto sadar kalau di situ ada Sasuke.

"Lho? Sasuke?" panggil Naruto heran sambil mendekat ke arah Sasuke.

"Sedang apa di sini? Apa hari ini kamu nggak mengerjakan tugas OSIS?"

Sasuke tidak menjawab Naruto malah sibuk menatap tajam 'cowok rambut merah' yang ikut berhenti waktu Naruto berhenti di hadapan Sasuke. 'Kenapa cowok ini ikut berhenti juga? Apa ia menunggu dobe? Kenapa ia menunggu dobe?' batin Sasuke.

Naruto yang melihat Sasuke menatap Gaara jadi sadar dan berkata, " Ah! Benar juga."

"Sasuke, kenalin ini Gaara. Teman sekelasku juga tetanggaku," kata Naruto antusias mengenalkan dua cowok yang menurut Naruto agak sejenis. Sama-sama dingin dan nggak telalu banyak bicara.

"Gaara, ini Sasuke. E, e.." Naruto bingung menjelaskan hubungannya dengan Sasuke. "Senior kita. Sasuke siswa kelas dua," lanjut Naruto.

Awalnya Gaara ingin mengacuhkan perkenalan yang dilakukan Naruto, tapi begitu melihat tatapan yang diberikan Naruto akhirnya ia berkata,

"Sabaku Gaara," katanya pada Sasuke sambil sedikit mengangguk.

"Hn. Uchiha Sasuke."

Hening.

"Ano..., apa yang Sasuke lakukan di sini?" tanya Naruto lagi mengatasi situasi yang entah kenapa tiba-tiba jadi canggung padahal kan cuma perkenalan.

"Hn, bukannya kamu mau pulang bareng? Ayo," jawab Sasuke lalu menarik tangan Naruto.

'Hiee? Sasuke memegang tanganku?!' teriak batin Naruto senang sekaligus heran. Tapi setelah beberapa langkah berjalan Naruto ingat dengan Gaara yang mestinya juga pulang bareng dengannya. Di lihatnya ke belakang dan ada Gaara yang tetap mengikutinya acuh dengan Naruto yang tiba-tiba di ajak Sasuke.

"Tu, tunggu Sasuke," kata Naruto sambil menghentikan langkahnya sehingga Sasuke juga harus berhenti dan menatap Naruto.

"Apa lagi?" tanya Sasuke semakin kesal.

Naruto yang akhirnya merasakan juga aura kekesalan Sasuke jadi agak menciut nyalinya tapi tetap ia menjawab kalau nggak takutnya si Sasuke malah tambah kesal pikirnya.

"Itu, ano... aku juga harus pulang bareng dengan Gaara."

"Hn? Apa maksudmu dobe?" tanya Sasuke dengan aura yang membuat suhu di sekitarnya jadi sedingin kutub selatan *kayak pernah ke kutub selatan aja*, Naruto yang biasanya nggak merasakannya atau hanya tidak menghiraukannya kali ini bisa merasakannya dan membuatnya sedikit takut dan bingung, kenapa Sasuke kesannya marah begitu?

"Eh? Ano, i, itu karena rumah kami yang berdekatan jadi kaa-san minta sama Gaara supaya selalu pulang pergi bareng kalau ke sekolah. Dan Gaara sudah berjanji akan melakukannya...," sahut Naruto ragu tapi lama-kelamaan akhirnya biasa lagi. " Jadi kita pulang bareng bertiga ya?" Naruto tersenyum.

Suasana jadi mencekam setelah Naruto mengucapkan itu dan saat ditatapnya wajah Sasuke, terlihat wajah Sasuke yang sepertinya sedang marah besar kalau dilihat dari dahinya yang berkerut serta mulutnya yang melengkung ke bawah ditambah lagi keheningan yang mendera tiga karakter kita ini. Naruto diam karena nggak tahu harus berkata apa, Sasuke sibuk dengan kemarahannya, sementara Gaara... eh yah tetap jadi Gaara yang biasanya cuek.

"Hn. Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Sasuke tiba-tiba dan melepaskan tangannya yang tadi masih memegang pergelangan tangan Naruto lalu berlalu dari hadapan Naruto dan Gaara.

"Eh?Eeeh?! Sasuke! Tunggu!" teriak Naruto. Tapi saat ia ingin mengejar Sasuke ada yang memegang tangannya dan menghentikannya.

"Apa sih Gaara? Aku harus mengejar Sasuke," kata Naruto kesal pada Gaara yang menghentikannya.

"Busnya sudah tiba. Apa kamu mau ketinggalan bus dan menunggu satu jam lagi?" sahut Gaara dan menunjuk ke arah bus yang diam sebentar menunggu penumpang naik.

Naruto bingung ingin mengejar Sasuke dan ketinggalan bus atau membiarkan saja Sasuke dan akan menanyakan kenapa Sasuke marah nanti. Akhirnya ia memilih pilihan yang kedua, kalau ia ketinggalan bus ia harus menunggu satu jam lagi dan otomatis ia akan pulang terlambat dan ujung-ujungnya dapat hukuman dari ibunya. Naruto pun mengikuti Gaara menaiki bus dan berjanji akan menghubungi Sasuke setelah ia sampai di rumah nanti. Dan selama perjalanan Naruto hanya diam saja sibuk memikirkan apa yang membuat Sasuke tiba-tiba marah. Sementara Gaara sibuk dengan pikirannya sendiri yanng entah apa author juga belum tahu, hehe.

TBC


Semoga chapter kali ini nggak mengecewakan

Please leave reviews

^w^