Aku kembali menuju kamarku, setelah memastikan Hinata dapat beristirahat di kamar yang disediakan untuk tamu. Langsung kuhempaskan tubuhku kedalam tempat tidur, mencari kehangatan yang sama sekali tak bisa kudapatkan disana dan dimanapun, kehangatan seorang ibu.
Aku pun terlelap dan bermimpi kembali ke sosokku saat berusia empat tahun, ayah dan ibuku berada disana dan tersenyum hangat padaku, kami berjalan bersama dengan penuh tawa dan canda. Sebuah kenangan yang indah, yang hanya akan terjadi di dalam mimpi.
_-0-_
All character's created and belong's to Masashi Kishimoto.
Storyline by Aojiru.
Genre's: Romance, Humor and Fantasy.
Warning: AU, a lil' bit OOC. Naruto POV.
Eyesight
_-0-_
o
Matahari mulai menyeruak masuk menyelimuti kamarku, membangunkanku dengan sinarnya yang terasa hangat di kulit. Aku mulai membuka mata perlahan, mengerjap-ngerjapkannya sambil menatap langit-langit dan berusaha mengembalikan kesadaran yang sempat larut sejenak terbuai oleh sang mimpi.
Pukul 6.30 pagi, masih tersisa cukup banyak waktu sebelum berangkat kesekolah. Aku mencoba meregangkan tubuhku sebelum beranjak dari tempat tidurku, tapi, ada sesuatu yang salah, tangan kananku tidak mau bergerak, seperti ada sesuatu yang menahannya.
Aku teringat akan cerita ayahku dulu, saat salah seorang pelanggannya mengeluh tidak bisa menggerakan tubuhnya tepat setelah ia terbangun dari tidur. Rupanya itu adalah ulah perbuatan roh jahat yang ingin menguasai tubuh orang tersebut.
Walaupun ayah berhasil menolong nyawanya, tapi ia tetap tak mampu menyelamatkan orang itu yang terpaksa harus berada dalam kelumpuhan disepanjang sisa hidupnya.
Apakah aku juga akan seperti itu? pikirku dengan ketakutan.
Aku masih terlalu muda untuk kehilangan salah satu tanganku, bahkan aku baru saja memutuskan untuk menjadi seorang musisi seperti Kurt Cobain, salah seorang gitaris favoritku, dan bagaimana aku bisa melaluinya hanya dengan sebuah tangan? Oh Tuhan, tolong jangan biarkan hal ini terjadi padaku.
Tuhan menjawab doaku.
Aku mendengar sebuah gumaman halus di sebelah kananku, aku sedikit kaget saat mendengarnya. Tapi kemudian aku memberanikan diri untuk menoleh, menggerakan kepalaku dengan perlahan.
Sinar mentari mendominasi sisi kanan tempat tidurku itu, tapi ada sesuatu yang lain disana, sesuatu yang sedang berbaring, sesuatu yang terlihat.. transparan, ia sedang menggulung tanganku dalam pelukannya.
"H-Hinata?" kataku dengan terkejut.
Aku memandangnya, dan ia masih terlelap dalam tidur, memeluk tangan kananku seolah tak ingin melepaskannya. Wajahnya begitu tenang dan damai dengan sebuah senyum yang mengembang dibibirnya. Entah apa yang sedang diimpikannya, tapi aku tak yakin kalau ia bisa bermimpi, sebelumnya bahkan ia berkata bahwa hantu tidak tidur, dan disinilah ia sekarang.
Aku berusaha untuk melepaskan tanganku dari pelukannya tanpa membangunkannya, namun sangat sulit, ia merangkul tanganku dengan sangat erat. Ya ampun, sentuhannya benar-benar terasa begitu nyata, seperti bukan hantu saja.
Aku bergeser sedikit mendekat, mencari celah yang mungkin bisa kumanfaatkan untuk melepas kunciannya dari lenganku. Tapi kemudian Hinata juga bergerak dan kami berdua pun malah terjatuh dari tempat tidur.
GUBRAKK
"Adududuh.." Aku mendarat dalam posisi seperti hewan berkaki empat dengan kedua lutut dan tanganku sebagai kakinya, dan itu membuat kedua lututku terasa sakit, aku mendelik berusaha menahan sakitnya. Dan saat itu aku melihat Hinata telah membuka matanya dengan sangat lebar. Ia terkejut dan wajahnya memerah.
"N-Naruto.. a-apa yang kau lakukan?" katanya gugup, semburat merah menghiasi wajah putihnya. Sekedar informasi, saat ini tubuh Hinata tepat berada dibawahku dan seolah-olah kedua tangan dan kakiku ini tengah mengapitnya agar tak bisa bergerak.
"T-tunggu dulu Hinata, i-ini ada alasannya.."
PLAKK!
_-0-_
Aku menikmati roti panggang sambil merasakan perih di pipi kananku. "Kau tak perlu menamparku sekeras itu kan, Hinata?" kataku mengeluhkan hubungan sebab-akibat yang terjadi pada pipi kananku. Padahal saat di taman semalam ia terlihat tidak keberatan.
"M-mana aku tahu! Aku tak menyangka kau akan melakukan itu saat aku sedang tertidur, padahal aku adalah seorang hantu," ujarnya dari seberang meja, sambil menikmati secangkir teh hangat yang mulai menjadi minuman favoritnya.
"Hantu atau bukan tidak jadi masalah buatku.."
"E-eh?" Hinata blushing.
"Ah! Tapi bukan itu masalahnya, sejak awal ini adalah kesalahanmu karena menyelinap seenaknya kedalam tempat tidurku, dan kau juga yang menarik tanganku sehingga menyebabkan kita berdua terjatuh," seruku menjelaskan.
Wajahnya memerah mendengar bukti-bukti kesalahan yang menjurus padanya. "M-mau bagaimana lagi, aku sudah lama tidak berhubungan dengan manusia, jadi tanpa sadar aku.."
Ia menghentikan kalimatnya. Pasti yang berikutnya terlalu memalukan untuk diucapkannya.
"Fiuh, sudahlah. Tak ada bagusnya mempermasalahkan hal yang telah lalu," kataku mencoba terdengar bijak. "Sebaiknya aku segera berangkat kesekolah, aku tak ingin terlambat."
"E-eh, s-sekolah?" ulang Hinata.
"Iya, sekolah. Memangnya kenapa?"
"Pasti tempat yang menyenangkan ya, sekolah itu," katanya sambil membayangkan sekolah dengan caranya sendiri, "kalau aku sekolah, sekarang aku kelas berapa ya?" tanyanya. Lebih terdengar seperti bertanya kepada dirinya sendiri.
"Mungkin kau akan berada di kelas sebelas, sama sepertiku," kataku menebak.
"Benarkah? Berarti kita seumuran ya?" tanyanya terdengar riang.
"Iya. Itu kalau kau meninggal belum lama ini, kalau kau meninggal sekitar lima puluh tahun yang lalu, saat ini kau mungkin sudah seperti seorang nenek-nenek," kataku sambil tertawa. Hinata hanya cemberut mendengar leluconku itu.
"Setidaknya sekarang aku tidak akan bertambah tua," katanya.
"Ya, dan kau juga bisa dengan mudah menembus tembok," kataku menambahkan.
Ia tersenyum.
"Baikalah, sudah saatnya aku berangkat," kataku sambil beranjak dari kursi, "kau jaga rumah baik-baik ya."
"E-eh? K-kupikir kau akan mengajakku?" katanya sambil berharap.
"Bukankah lebih baik kalau kau menunggu di rumah?"
Hinata terdiam, sudut matanya bergerak dengan cepat kekanan dan kekiri dengan gugup. Dan ia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tak bisa.
Aku menatapnya mencoba-coba menerka apa yang berada dalam pikirannya. "Apakah kau kesepian?" tanyaku. Secepat kilat, wajah Hinata langsung memerah bak apel California.
BLUSHH
Hinata diam tak menjawab, tapi raut wajahnya yang merona itu sudah dapat memberikan jawabannya dengan sangat jelas.
Ya ampun, dia ini manis sekali sih.
Aku mengulurkan tanganku, meraih tangannya dan menariknya. Ia terkejut dan kehilangan kesimbangan lalu terjerembab dalam pelukanku. Tingginya beberapa senti lebih pendek dariku, jadi saat itu ia hanya menelungkupkan salah satu sisi wajahnya dalam dadaku, seolah sedang mencari dan mendengarkan detak jantungku.
"Tenang saja, setelah sekolah usai, aku akan segera kembali," kataku.
Ia mengangguk.
Aku memeluknya lebih erat selama beberapa saat sebelum akhirnya mendorongnya sejauh jangkauan tanganku dengan lembut. Kedua tanganku masih menempel pada kedua bahunya. "Nah, baik-baiklah dirumah," kataku dengan lembut.
Ia masih tampak enggan untuk melepasku tapi ia berusaha untuk mengatasinya dengan baik. Aku masih menatapnya dan begitu pula sebaliknya, sampai daun pintu kembali tertutup rapat. Aku pun mulai melangkah pergi.
Oh Tuhan, apa yang sudah kulakukan, pikirku mengomentari perbutanku barusan. Dan bodohnya, aku merasa sangat senang sekarang.
_-0-_
Hari berikutnya, Sabtu pagi yang cerah. Sekolah libur dan aku punya cukup banyak waktu luang yang menanti untuk diisi, jadi pagi ini aku terbangun dengan penuh semangat. Walaupun mungkin bukan itu satu-satunya hal yang membuatku sangat antusias di pagi ini. Ya, aku akan mengajak Hinata berkeliling, bukan untuk bersenang-senang, itu kujadikan sebagai alasan kedua yang akan sangat kunanti-nantikan, tapi saat ini aku lebih memprioritaskan untuk mencari kejelasan asal-usul Hinata, aku sudah berjanji untuk membantunya, dan kuharap ini akan semudah mencari toko waralaba yang bisa kau temukan dalam radius tak lebih dari satu kilometer disekitarmu.
Aku berjalan menuju ruang tengah, disana kudapati Hinata sedang duduk dengan sangat tenang dengan kedua mata terpejam, aku menatapnya heran sambil menerka-nerka apa yang sedang dilakukannya. "Apa yang sedang kau lakukan Hinata?" tanyaku.
Sebelah matanya terbuka dan menatap kearahku, lalu kembali menutup setelahnya. "A-aku sedang mencoba, Naruto-kun," katanya, sekarang ia menambahkan kata '–kun' pada belakang namaku, buah dari menonton acara TV yang dilakukannya ketika menungguku pulang sekolah kemarin.
"Mencoba? Apa yang sedang kau coba?" tanyaku lagi, ia diam, seperti sedang berkonsentrasi. Jadi aku hanya menatapnya, menunggu arti dari kata mencoba yang diucapkannya tadi.
Tiba-tiba aku melihat ada yang aneh pada tubuhnya. Aku menatapnya lebih seksama, dan ternyata bukan tubuhnya, melainkan seragam sailornya yang perlahan mulai terlihat seperti uap yang mengepul disekitar tubuhnya, dan.. voila, seragam sailornya menghilang seketika, tergantikan dengan sebuah sweater panjang yang didominasi warna violet yang sedikit terang, lengannya berwarna putih keabu-abuan, dan celana navy dengan panjang selutut yang berwarna hampir senada dengan warna rambutnya, biru dongker.
"Wow! Apa yang baru saja kau lakukan?" kataku terkagum.
Hinata terkekeh bangga dengan aksinya, "aku pernah melakukannya dulu, ketika aku berada di halaman sebuah toko dan melihat pakaian ini, aku begitu menginginkannya, aku terus memikirkannya setiap hari dan malam, sampai akhirnya pada suatu pagi aku terbangun dengan pakaian ini membalut tubuhku."
"Itu sangat hebat!" kataku. "Bagaimana kau melakukannya?"
"Hanya perlu membayangkannya, dengan penuh konsentrasi dan sedikit keberuntungan," katanya sambil tersenyum.
"Dan, itu sangat cocok untukmu, kau jadi terlihat- cantik."
"Kuanggap itu sebagai suatu pujian."
"Memang itu maksudku.."
Wajahnya memerah. "Oh.. kalau begitu, terima kasih,"
_-0-_
Sabtu ini nuansa kota terlihat ramai, aku berpikir akan banyak menyita waktu kalau berkeliling secara acak, jadi kuputuskan untuk bergerak dalam radius yang tidak terlalu jauh. Kami berkeliling mengitari sekolah-sekolah yang memiliki kemungkinan terbesar untuk Hinata tempati, namun tak ada satupun dari sekolah-sekolah itu yang memakai seragam seperti yang Hinata kenakan.
"Fuh, belum ada titik terang nih," kataku merangkum kegiatan kami yang sudah hampir memakan waktu setengah hari itu.
Hinata melayang disebelahku setelah beberapa saat yang lalu mengeluhkan kakinya yang lelah karena terus berjalan, "kita istirahat sebentar?" ajaknya.
"Ide bagus, aku mulai merasakan urat-urat di kakiku mulai mengencang," kataku menimpali.
Kami memilih bangku yang berteduhkan oleh sebuah pohon besar dipinggir taman, agak sedikit ramai memang, karena letaknya yang tak jauh dari ruas jalan utama, banyak orang-orang dan kendaraan yang berlalu-lalang disana, hingga menimbulkan suara-suara yang sedikit mengusik telinga. Aku langsung mendudukan pantatku pada bangku kayu berwarna coklat itu, meluruskan kedua kakiku demi merilekskan urat-uratnya, kelegaan langsung terasa mengalir darinya.
"Ah~ leganya. Oh iya, kira-kira sudah berapa sekolah yang kita datangi?" tanyaku.
Hinata mengetuk-ngetuk dagunya sambil berpikir, "um.. mungkin sekitar tujuh, atau delapan," katanya menduga. Ia melayang mengitari bangku sekali kemudian duduk disebelahku lalu meregangkan tangannya ke atas sambil mendesah, "kurasa ini tidak akan mudah."
Aku mengangkat bahu, "entahlah, tapi kita tidak akan berhenti sampai disini kan?"
Ujung-ujung bibir Hinata melengkung ke atas, ia tersenyum, "tenagaku masih terlalu banyak untuk menyerah," katanya seraya menunjukan otot bisep dilengannya yang kecil.
Aku tersenyum melihat aksinya, "mungkin berikutnya kau harus menggendongku kalau begitu," godaku.
"Dan satu menit berikutnya kau akan menggendongku seharian, bagaimana?"
"Oh, kalau begitu aku pas!" kataku sambil mengangkat kedua tangan seperti orang yang menyerah saat ditodong senjata. Hinata tertawa terkekeh, dan aku pun ikut tertawa bersamanya.
Orang-orang yang berlalu-lalang mulai menatapku aneh karena hal itu. Tentu saja, mereka kan tidak dapat melihat Hinata, sementara aku terlihat seperti sedang berbincang dan tertawa seorang diri, disaat seperti ini hanya orang gila-lah yang tidak akan menganggapku gila.
Aku berdehem sedikit keras sambil merapikan kerah kemeja merk Calvin Klein yang kukenakan, dan orang-orang mulai melepaskan pandangannya dariku sambil terus berjalan, "sepertinya bukan ide yang bagus untuk berbicara lepas seperti ini," kataku berdasar pada kejadian barusan.
"Kau bisa berpura-pura sedang menelpon?" katanya sambil membuat bentuk telpon dengan jarinya dan menggoyang-goyangkannya ditelinga.
"Ow, sama sekali tak terpikirkan olehku, ide yang sangat bagus," kataku, ia tersenyum mendengarnya. "Mari kita lakukan, sambil jalan."
_-0-_
Waktu demi waktu berlalu, matahari sudah hampir terbenam dan kami masih belum mendapatkan informasi sama sekali mengenai asal-usul Hinata, rasa lelah dan letih mulai hinggap ditubuhku, entah dengan Hinata, tapi yang pasti kemampuan terbangnya sudah terlihat melambat.
"Bagaimana sekarang?"
"Sebaiknya hari ini kita cukupkan sampai disini, aku sudah lelah.." terang Hinata. Sebuah informasi baru lagi untukku, hantu bisa merasa lelah, walaupun aku tak yakin kalau Hinata bisa dijadikan patokan untuk membandingkannya dengan hantu-hantu lain mengingat tingkah laku hantunya yang sama sekali tidak mirip seperti hantu-hantu lain yang kutahu, aku bahkan sangat terkejut saat mengetahui kalau dia kebal terhadap sinar matahari.
"Ya, kita akan coba lagi besok," kataku yang dibarengi dengan rasa lelah yang menumpuk.
Kami pun memutuskan untuk pulang dan menyudahi pencarian hari ini sampai disini. Tapi saat itu, aku melihat seorang gadis dengan rambut berwarna merah jambu yang warnanya sedikit terlihat oranye karena terbias sang mentari senja, postur tubuhnya tidak lebih tinggi dariku, mungkin sama dengan Hinata, dan bola matanya yang hijau berhasil terlihat indah di wajahnya yang sedikit oval. Namun bukan itu yang membuatku tertarik padanya, lebih karena saat ini ia mengenakan seragam sailor yang tidak asing bagiku, "itu kan, seragam yang sama dengan yang dipakai Hinata," kataku bergumam.
Aku melangkah dengan cepat ke pembatas jalan. "Oi Nona!" kataku sedikit berteriak, namun tak ada respon, suasana terlalu ramai oleh hiruk pikuk orang-orang dan mobil yang berlalu lalang. Kembali aku meneriakan hal serupa namun gadis itu tetap tak merespon, ia hanya diam sambil berdiri.
Jarak kami hanya dibatasi oleh dua ruas jalan utama dan trotoar jalan yang berada disisi-sisinya, cukup mudah untuk segera tiba disana dalam sekejap, hanya saja saat ini adalah jam-jam padat dimana banyak orang dan kendaraan-kendaraan yang melaju diantara kami. Tapi tetap saja hal itu tak menghalangi niatku untuk menghampiri dan menarik informasi dari si gadis berambut pink tersebut.
"Hinata, ikut aku.." perintahku pada Hinata yang sepertinya tidak menyadari keberadaan gadis itu. Tapi ia tetap mengikuti apa yang kukatakan walau dengan sedikit bingung.
Aku segera berlari meleak-leok diantara kerumunan orang, mencari cara untuk menyeberang jalan dengan kedua mata masih terpaku menatap pada gadis tersebut. Dan tepat sebelum perempatan jalan, aku mendapati sebuah zebra-cross yang membentang menjembatani kedua jalur yang berlawanan arah tersebut. Setelah menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki selama beberapa saat dan memastikan mobil terakhir lewat, aku langsung bergegas menyeberang dan sampai dalam sekejap.
Aku kembali menoleh ke arah si gadis, ia masih terpaku berdiri disana. Namun saat itu ia tak lagi diam, wajahnya tersenyum menyapa seseorang yang sedang berjalan menghampirinya, aku tak bisa melihatnya dengan jelas karena banyak orang dewasa yang bertubuh lebih tinggi dariku berjalan disepanjang trotoar jalan ini, dan itu benar-benar menghalangi pandanganku.
Akhirnya aku menemukan celah dimana keramaian ini tampak lengang, dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu aku memposisikan tubuhku dimana aku bisa memandang mereka dengan bebas tanpa halangan.
Gadis itu sedikit mendongak saat menatap lawan bicaranya, kali ini aku dapat melihat dengan jelas kalau lawan bicaranya itu adalah seorang laki-laki, perawakannya gagah dengan kulit yang putih dan memiliki gaya rambut yang sama denganku –hanya saja miliknya sedikit lebih panjang dengan warna yang juga kuning cerah sepertiku dan hal itu benar-benar mengingatkanku pada seseorang, terlebih saat ia –entah bagaimana menyadari keberadaaanku dan menatapku dengan mata biru saphirenya yang berkilau, seketika itu juga aku langsung jatuh terduduk dengan keringat dingin yang bercucuran mengalir dari keningku, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat.
"A-ayah..?"
.
To be continue
.
a.n
gugugugu, udah mulain agak serius nih ceritanye, jadi adegan romance-nye agak dikesampingin, palingan nanti cuman nongol dikit-dikit aje..
tapi mudah-mudahan masih bisa menghibur readers sekalian.
oke, ane pamit dulu, makasih yg udah baca ama review di chapter-chapter sebelomnye..
ciao^^
