Kali ini aku dapat melihat dengan jelas kalau lawan bicaranya itu adalah seorang laki-laki, perawakannya gagah dengan kulit yang putih dan memiliki gaya rambut yang sama denganku –hanya saja miliknya sedikit lebih panjang dengan warna yang juga kuning cerah sepertiku dan hal itu benar-benar mengingatkanku pada seseorang, terlebih saat ia –entah bagaimana menyadari keberadaaanku dan menatapku dengan mata biru saphirenya yang berkilau, seketika itu juga aku langsung jatuh terduduk dengan keringat dingin yang bercucuran mengalir deras dari keningku, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat.
"A-ayah..?"
_-0-_
All character's created and belong's to Masashi Kishimoto.
Storyline by Aojiru.
Genre's: Fantasy, Romance and Humor.
Warning: AU, a lil' bit OOC. Naruto POV.
Eyesight
_-0-_
o
Kepala dan pandanganku sedikit berputar akibat terjatuh, sulit untuk tetap fokus menatap gadis dan laki-laki yang kukejar tadi, walaupun samar-samar aku masih bisa melihat mereka yang mulai bergerak dan berbelok disudut jalan. Kucoba untuk bangkit berdiri, namun sepertinya keterkejutan itu benar-benar mempengaruhiku.
Di lain pihak, Hinata terus saja melontarkan kalimat-kalimatnya yang bernada khawatir, ia tak henti-hentinya menanyakan keberadaanku yang tiba-tiba saja jatuh tersungkur itu, "a-apa yang terjadi Naruto-kun? Kau tidak apa-apa kan? Apa kau lelah?"
"Aku tidak apa-apa, bantu aku berdiri Hinata," kataku seraya menjulurkan tangan, Hinata meraih dan menariknya dengan sekuat tenaga sampai aku kembali berpijak pada kedua kakiku. Tanpa menunggu lama, aku kembali melangkahkan kaki untuk mengejar dua sosok tadi yang kini sudah tak terlihat lagi itu. Sambil mengikuti, Hinata terus menanyakan dengan cemas perihal apa gerangan yang sedang terjadi ini, namun aku tak bisa menjawabnya, tidak sekarang, pikiranku sedang benar-benar kacau saat ini.
Bagaimanapun juga, aku harus memastikan apa yang kulihat tadi? Sosok itu.. kalau kedua mataku ini tidak menipuku, dia adalah..
Kami sampai di tikungan tempat kedua sosok itu menghilang, aku terhenti sejenak untuk mengambil nafas seraya menyebarkan pandangan ke segala arah, mencoba menemukan kemana kedua sosok itu pergi. Untunglah ini bukan jalan utama, suasananya tidak terlalu ramai seperti yang sebelumnya, jadi aku dapat dengan mudah menemukan kedua sosok itu yang tengah berjalan santai sambil berbincang-bincang, "lewat sini!" kataku memerintahkan Hinata untuk bergerak mengikuti.
Beberapa orang bergerak ke sisi jalan dengan heran dan terkejut ketika melihatku berlari berlawanan arah dengan mereka, dan itu sangat membantuku untuk bergerak lebih cepat. Sementara, kedua sosok itu masih tak menyadari keberadaanku yang tengah mengejar mereka. Tentu saja, karena kali ini aku tidak berteriak seperti ketika aku memanggil gadis itu sebelumnya, entah kenapa aku tidak melakukannya, instingku berkata kalau sebaiknya aku tidak melakukan hal itu.
Sebuah tikungan lagi, kali ini lebih kecil, dan seperti yang kuperkirakan, mereka berbelok kesana. Jarak diantara kami berdua pun semakin menyempit, dapat kuperkirakan kalau aku terus berlari seperti ini, maka aku akan bisa mengejarnya tepat ketika sampai di belokan itu.
Benar saja, hanya dalam tak lebih dari sepuluh langkah aku sudah tiba di belokan itu. Kaki kananku menumpu berat tubuhku saat aku mencoba untuk memutar arah ke kiri tempat dimana kedua sosok itu berbelok. Namun ternyata hal itu sia-sia, gang kecil yang mereka masuki itu rupanya adalah jalan buntu, dan mereka sama sekali tak berada disana, mereka menghilang. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri kalau-kalau saja mereka masuk kedalam bangunan yang berada di sebelahnya, namun tak ada pintu atau sesuatu pun disana, hanya tembok dikedua sisinya yang membentang lurus dan panjang sampai sebuah tembok lagi yang mengakhiri panjang bangunan dan menandakan ujung jalan.
Aku menghela nafas panjang dengan peluh keringat yang terus mengalir di dahiku, menatap kosong pada pemandangan bangunan yang sepi dan sama sekali tidak indah. Tak ada yang bisa kuasumsikan mengenai kejadian ini, hanya sebuah dugaan-dugaan tak masuk akal yang muncul sekejap dalam pikiranku dan terus menghilang. Aku lelah dan letih, pencarian dan pengejaran ini berakhir sia-sia.
_-0-_
Hinata hampir saja menumpahkan tehnya ketika aku berkata bahwa yang kukejar tadi adalah ayahku, meskipun tidak menutup kemungkinan kalau itu adalah orang lain yang mungkin saja hanya terlihat mirip dengannya, tapi satu hal yang pasti, yaitu seragam yang dikenakan oleh gadis yang bersamanya itu adalah seragam yang sama dengan yang dikenakan oleh Hinata.
"Lalu, bagaimana pengejarannya?" Tanya Hinata penasaran.
"Kau bersamaku tadi, dan pengejaran kita berakhir disebuah gang buntu, ingat?"
"Oh iya," katanya seraya kembali menyesap tehnya, ia terlihat menikmati, tapi tidak benar-benar menikmati. Raut wajahnya memang tampak tegang, disana juga terlihat rasa lelah yang menumpuk akibat aktifitas yang melelahkan seharian tadi. Setengah cangkir tehnya telah habis, itu adalah cangkir kedua yang diminumnya dan sepertinya ia tak berniat untuk menghabiskannya, mungkin saat ini sebuah ranjang yang hangat untuk melepas lelah akan terlihat lebih menggoda baginya daripada secangkir teh.
"Kau terlihat lelah, sebaiknya kau istirahat," kataku menyarankan.
"Tidak!" jawabnya, "aku akan mendengarkan ceritamu," sambungnya sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan berusaha untuk tetap terjaga.
"Ya, kau akan mendengarkannya, tapi tidak sekarang, lihatlah dirimu, kau sudah benar-benar kacau."
"Tapi aku harus mendengarkan-" ia menguap, kemudian semburat merah menghiasi kedua pipinya tipis.
"Tuh kan, apa kubilang."
"Ya, kau benar, sebaiknya aku istirahat sekarang," ujarnya seraya berdiri dan melangkah terhuyung-huyung, ketika tangan kanannya menyetuh kenop pintu, tangan yang satunya lagi menutup mulutnya yang kembali menguap, "selamat malam."
Aku membalasnya sambil berpikir akan lebih mudah baginya jika saja ia menembus pintu itu daripada melakukannya dengan cara manusia. "Selamat malam."
Aku menatap jam dan waktu sudah menunjukan hampir tengah malam, aku masih duduk termenung menatap secangkir cokelat panas milikku yang hanya tergeletak begitu saja di meja, sama sekali tak tersentuh, kupikir sekarang pasti rasanya sudah tidak panas lagi. Jadi aku meraihnya dan bergerak ke arah lemari pendingin, berniat untuk menyimpannya agar bisa kuhangatkan lagi nanti.
Sebuah poto berbingkai kayu berwarna hitam bergetar ketika lemari pendingin itu tertutup, sebuah poto yang merekam kenangan kami bersama, aku, ayah dan ibu. Kedua mataku terfokus pada sosok dewasa dengan rambut kuning yang menyala, matanya menyipit dengan bibir yang melengkung sempurna saat tersenyum, itu adalah ayahku. Ketika melihatnya, aku seperti sedang melihat diriku beberapa tahun yang akan datang, dan sepertinya aku memang lebih banyak menyerap gen yang dimilikinya ketimbang dari ibuku, dalam hal fisik tentunya.
Aku tersenyum menatap poto itu, menggesernya sedikit ke posisi yang seharusnya, kemudian meninggalkannya dalam gelap dan melangkah ke kamar untuk beristirahat.
_-0-_
Pagi mulai beranjak, namun matahari belum juga menunjukan sinarnya, hangatnya juga tertutup oleh awan mendung keabu-abuan di atas sana. Sudah hampir jam sembilan, aku baru saja membuka mata setelah tertidur dengan gelisah semalaman, sebenarnya aku hampir tidak bisa tidur karena terus memikirkan kejadian kemarin, dan baru bisa terpejam sekitar pukul lima pagi, rasanya hal itu membuatku mampu tidur seharian penuh disepanjang Minggu ini.
"Ah, kupikir kau masih tidur Naruto-kun, aku baru saja akan membangunkanmu," ujar Hinata yang tiba-tiba muncul setelah membuka pintu, ia berjalan menghampiriku dan meletakan secangkir kopi pada meja kecil di samping tempat tidur.
"Ya, maaf aku kesiangan, benar-benar malam yang melelahkan," kataku seraya menyibak selimut yang menutup separuh tubuhku.
TRUUKK!
Nampan yang dipegang Hinata terjatuh, aku menatapnya bergelinding beberapa saat sampai akhirnya tergeletak sempurna. Aku berpaling pada Hinata yang raut wajahnya terlihat syok, ia mundur beberapa langkah dengan gugup sampai akhirnya tubuhnya terhenti membentur tembok.
"Ada apa Hinata? Apa yang terjadi?" tanyaku panik, Hinata hanya menggeleng sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, hal itu jelas tidak menjelaskan apapun.
Dari reaksi di wajahnya, ia seperti sedang melihat sesuatu yang menakutkan, aku lantas menebarkan pandangan ke penjuru kamar sambil menerka-nerka apakah ia baru saja melihat hantu atau semacamnya, tapi aku tak menemukan apapun atau siapapun yang cukup menakutkan berada di kamar ini, hanya perabotan biasa dan beberapa poster idola, sama sekali tidak akan membuat hantu semacam Hinata ketakutan.
"Hinata! Katakan padaku apa yang terjadi? Apa yang sudah kau lihat?" desakku sambil mendorong tubuh Hinata semakin rapat ke tembok.
Ia masih bungkam, tubuhnya bergetar kuat dan aku dapat merasakan ketakutan yang mengalir deras di pundaknya, sesaat kemudian ia menepis kedua tanganku yang menahan pundaknya dan kemudian berlari ke arah pintu dengan cepat.
"KYAAAAA...!"
DUG
BRUKK
Tubuhnya terhempas ketika gagal mencoba menembus pintu, tapi dengan cekatan ia kembali berdiri lalu membuka pintu itu dengan tangannya dan berlari keluar.
Aku hanya menatapnya terperanga karena masih belum yakin dengan apa yang sedang terjadi, sampai aku merasakan sebuah sensasi dingin yang menjalar disekujur tubuhku. Aku menatap ke bawah, dan dari situ -mungkin aku menemukan alasan mengapa Hinata sampai ketakutan seperti itu. "Astaga! Bagaimana bisa aku tidur hanya dengan celana dalam?"
_-0-_
Handuk yang kukaitkan pada tengkuk leherku masih terasa lembab, aku menggunakannya untuk mengelap rambut kuningku yang masih basah sehabis mandi tadi. Sambil berjalan ke arah meja, aku menatap wajah Hinata yang merah bersemu disekitar pipi dan keningnya.
"Maaf soal yang tadi ya, hehehe," kataku seraya mengangkat cangkir kopi dan menyesapnya. Respon Hinata hanya terdiam sambil memainkan cangkir teh dihadapannya, bola matanya sesekali melirik ke arahku untuk sesaat kemudian kembali berpaling.
"Sepertinya sakit."
"Apanya?"
"Keningmu, bukankah kau tadi membentur dengan cukup keras?" kataku sambil menatap keningnya yang tertutup poni sampai sealis, bekas benturan tadi terlihat cukup jelas diantara kulitnya yang putih, "lagian, kenapa tidak menembus saja?"
"A-aku 'kan panik!" katanya berusaha berdalih, ia menggenggam cangkir teh dengan kedua tangannya dan meneguknya, dengan begitu ia berhasil menyembunyikan ekspresi di wajahnya.
"Oh! Aku tidak tahu kalau hantu juga bisa panik," godaku.
"Yah, tentu saja tidak terjadi setiap saat, terutama jika kau melihat seorang lawan jenis menahanmu ketika ia hanya dibalut dengan celana dalam," ujarnya dingin, berusaha membuatku terlihat bersalah, yang memang sebenarnya itu adalah kesalahanku –kesalahan yang tidak disengaja tentunya.
"Aku kan tidak sengaja, lagipula kau nampak menikmatinya."
"Kau bercanda! Menikmati apanya? Sedikit lebih lama disana kedua mataku pasti akan buta," ujarnya seolah-olah tubuhku ini adalah sinar-x yang dapat membutakan mata kapan saja.
"Ahahaha, terima kasih."
"Itu bukan pujian tahu!"
"Ya, aku tahu. Terima kasih!"
"Ah, terserahlah!" Ujarnya merajuk dan berpaling.
Aku menatapnya, terus menatapnya, menunggu untuk dia kembali menatap padaku yang ternyata tak kunjung dilakukannya. Saatnya mengubah topik pembicaraan.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan seharian ini?" kataku memulai, ia sedikit melirik dan tampak tertarik. Kedua matanya kini tertuju padaku dan menatap dengan dahi yang mengerut. "Kita punya waktu seharian penuh untuk dihabiskan."
"Bagaimana kalau kita piknik di taman, aku akan membuatkan bekal. Atau, kita pergi ke taman hiburan, aku melihatnya di tv kemarin dan sepertinya sangat menyenangkan untuk pergi kesana. Ah, aku juga ingin melihat toko pakaian untuk referensi baju-bajuku yang berikutnya," ujarnya penuh semangat.
"Tenang saja, tak usah tergesa-gesa, pikirkan saja dengan baik kemana kau ingin pergi."
Ia tersenyum mendengar hal itu, moodnya sudah kembali ceria seperti semula. Ini akan jadi hari yang menyenangkan. Tapi tiba-tiba saja bunyi gemercik terdengar dari luar, semakin lama semakin besar dan terdengar jelas. Rupanya hujan telah turun dan dengan cepat mengubah semua yang disentuhnya menjadi basah, dan secepat itu pula mood Hinata berubah menjadi gelap, sama gelapnya dengan awan mendung yang menitikan rintik-rintik air di atas sana. Sepanjang hari itu kami habiskan dengan hanya berdiam diri di rumah.
_-0-_
Beberapa hari kemudian, dicuaca yang sangat panas dan terik, aku baru saja pulang setelah menyelesaian kegiatan sekolah yang melelahkan. Aku sedang meletakan sepatu di rak ketika Hinata datang menghampiriku dengan wajah panik dan banyak noda berwarna merah seperti darah di sekujur tubuhnya. Ketika aku bertanya tentang noda itu, tiba-tiba saja Hinata mulai menangis sambil memperlihatkan telunjuk kirinya. Akhirnya aku sadar kalau noda merah itu memang darah.
"Huweeee...!"
Aku ingat pagi tadi telah mengajarinya cara membuat es serut dengan peralatan yang kumiliki, rupa-rupanya telunjuknya itu tergores ketika ia sedang mencoba menyerut es yang hendak dibuatkannya untukku. Dan tidak seperti halnya luka di tempat lain, sedikit saja jarimu tergores berarti kau akan mengeluarkan banyak darah, dan seperti itulah yang sedang terjadi sekarang.
Dulu ayahku selalu mengatakan padaku untuk tidak panik ketika sesuatu yang menyeramkan tiba-tiba saja muncul dihadapanku –dalam hal ini sejenis hantu atau semacamnya. Dan berkat apa yang diajarkannya padaku saat itu kini aku tak hanya bisa menerapkan hal itu dalam dunia-dunia mistis namun juga segala hal termasuk untuk kejadian-kejadian tak terduga seperti ini, beruntunglah aku karena walaupun banyak mengeluh tapi aku tetap melakukan apa yang diperintahkannya dulu.
Tapi seperti yang sama-sama kita ketahui, dunia itu penuh dengan hal-hal yang kadang sama sekali tidak bisa dicerna oleh akal sehat. Dalam hal ini, hal yang tidak bisa dicerna oleh akal sehat itu adalah Hinata yang seorang hantu terluka oleh sebuah alat pembuat es serut dan menyebabkan jari telunjuknya berdarah. Aku memang pernah melihatnya di televisi –tentang hantu-hantu yang dapat terluka, juga menyaksikannya secara langsung ketika ayahku tengah melakukan proses pemurnian. Tapi tidak seperti ini, tidak dengan peralatan es serut!
"Duh, kau ini, 'kan sudah kubilang supaya hati-hati."
"M-maaf.." kataya menyesal.
Aku segera menenangkannya dan membawakannya kotak P3K yang tersedia dan melakukan langkah-langkah pengobatan yang sesuai. Berkat ketakutannya dengan darah, proses pengobatan berjalan lebih lama dari yang seharusnya, ditambah rintihannya yang terus menerus dan menandakan aku harus meniup lukanya yang menurutnya hal itu dapat meredakan sedikit rasa sakitnya. Setelah beberpa menit, ujung jari telunjuknya terlihat seperti sebuah marshmallow yang siap dipanggang, tidak lain dan tidak bukan adalah karena balutan perban yang kelewat tebal. Ia memintanya dibuat seperti itu karena tak ingin melihat darah sedikitpun merembes dari sana.
"Fuh, kau ini.." kataku mendesah. Aku membimbingnya ke meja dan menyuruhnya duduk. "Nah, sekarang katakan padaku."
"Sudah kubilang, jariku tergores pisau kecil saat-"
"Bukan itu!" Ujarku memotong ucapannya. Aku mengambil jeda sejenak, menatap jauh kedalam sorot matanya, melihat ekspresi diwajahnya yang sedang bertanya-tanya.
"Katakan padaku Hinata, apakah kau benar-benar hantu?"
.
To be continue
.
a.n
wew, maaf lama apdetnya, karena urusan ini dan itu, serta itu dan ini, membuat fict ini agak sedikit terbengkalai..^^
silahkan di review dengan masukan-masukan atau kritik bermanfaat lainnya, dan terima kasih sudah membaca.
salam hangat
Aojiru.
